PETA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .Tarian Tradisional : Tari Gambir Anom, Tari Serimpi, Tari Merak,

  • View
    256

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PETA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .Tarian Tradisional : Tari Gambir Anom, Tari Serimpi, Tari Merak,

389 Kepariwisataan : Daerah Istimewa Yogyakarta

PETA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

390 Kepariwisataan : Daerah Istimewa Yogyakarta

A. UMUM 1. Dasar Hukum

Daerah Istimewa Yogyakarta berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 1950 tertanggal 4 Maret 1950.

2. Lambang Provinsi Lambang Daerah Istimewa Yogyakarta atau sering disebut golong-gilig adalah lambang berbentuk bulat (golong) dan silinder (gilig) yang terdiri dari lukisan bintang, padi dan kapas, tugu bersayap, lingkaran merah yang mengelilingi lingkaran putih, dan ompak bertatakan teratai.

Gambar bintang pada lambang ini memiliki makna Ketuhanan Yang Maha Esa. Padi dan kapas sebagai simbol kesejahteraan. Tugu bersayap sebagai simbol perikemanusiaan, sayap bagian dalam berjumlah 9 tertuju pada Hamengkubuwono IX dan bagian luar berjumlah 8 tertuju pada Paku Alam VII memiliki makna kepemimpinan. Lingkaran merah putih untuk simbol kebangsaan. Ompak dengan tatakan bunga teratai

sebagai simbol kerakyatan

3. Letak Geografis dan Batas Wilayah Letak geografis Daerah Istimewa Yogyakarta pada 715- 815 Lintang Selatan dan garis 1105- 1104 Bujur Timur, dengan batas wilayah: Sebelah Barat Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Sebelah Barat Laut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Sebelah Timur Laut Kabupaten Klaten, Jawa Tengah Sebelah Timur Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Sebelah Selatan Samudera Indonesia. Luas Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta 3.185,80 km2 terdiri atas Kota Yogyakarta 32,50 km2 , Kabupaten Sleman 574,82 km2 , Kabupaten Bantul 506,85 km2 ,Kabupaten Kulon Progo 586,27 km2,Kabupaten Gunung Kidul 1485,36 km2. (Sumber : http://gudeg.net/id/directory/55/119/Pemerintah-Daerah-Propinsi-DIY.html).

4. Pemerintahan Sebagai Daerah Otonom, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-Undang Nomor: 3 Tahun 1950 jo Nomor : 19 tahuin 1950 terbagi dalam 5 Daerah Tingkat II yang terdiri satu daerah Kota Madya dan empat Kabupaten masing-masing : a. Kota Madya Yogyakarta, terdiri dari 14 Kecamatan dan 45 Kelurahan. b. Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman, terdiri dari 17 Kecamatan dan 86 Desa. c. Kabupaten Daerah Tingkat II Bantul, terdiri dari 17 Kecamatan dan 75 Desa. d. Kabupaten Daerah Tingkat II Kulonprogo, terdiri dari 12 Kecamatan dan 75 Desa. e. Kabupaten Daerah Tingkat II Gunung Kidul, terdiri dari 18 Kecamatan dan 144 Desa. (sumber : http://gudeg.net/id/directory/55/119/Pemerintah-Daerah-Propinsi-DIY.html).

5. Komposisi Penganut Agama

Agama Islam (91,4%), Katolik (5,4%), Protestan (2,9%), Lain-lain (0,3%)

6. Bahasa dan Suku Bangsa Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari antar warga adalah bahasa jawa dan bahasa indonesia. Sementara itu suku yang mendiami wilayah DIY adalah suku jawa (97%), suku sunda (1%), dan suku lain.

7. Budaya

a. Lagu Daerah : Suwe ora jamu, Pitik Tukunt, Sinom b. Tarian Tradisional : Tari Gambir Anom, Tari Serimpi, Tari Merak, Tari

Bondan. c. Senjata Tradisional : keris

http://gudeg.net/id/directory/55/119/Pemerintah-Daerah-Propinsi-DIY.htmlhttp://gudeg.net/id/directory/55/119/Pemerintah-Daerah-Propinsi-DIY.html

391 Kepariwisataan : Daerah Istimewa Yogyakarta

d. Rumah Tradisional : Joglo e. Seni Musik Tradisional : Gamelan Jawa f. Makanan khas daerah : Gudeg, Bakpia, Geplak

8. Bandara : Adi Sucipto

9. Perguruan Tinggi : UGM, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

10. Industri dan Pertambangan :

Industri berskala besar, sedang dan kecil yang ada di DIY merupakan salah satu sektor yang ikut menopang perekonomian daerah ini. Pada tahun 1997 tercatat ada 362 unit industri, di mana yang terbanyak adalah industri tekstil, pakaian jadi dan kulit, yakni 103 unit atau 28,45%. Jumlah industri berikut tenaga kerjanya di DIY tahun 1997 adalah sebagai berikut: industri makanan, minuman, dan tembakau 67 unit (5.678 orang); industri tekstil, pakaian jadi dan kulit 103 unit (16.031 orang); industri kayu dan barang-barang dari kayu 52 unit (2.730 orang); industri kertas dan barang-barang dari kertas 21 unit (1.950 orang); industri kimia dan barang-barang dari kimia 25 unit (1.766 orang); industri barang galian 46 unit (2.777 orang); industri barang-barang dari logam 28 unit (3.636 orang); dan industri lainnya 20 unit (1.247 orang). Dalam hal penyerapan tenaga kerja, sektor industri mempunyai peran yang signifikan, yakni mampu menyerap 35.815 orang. Industri yang sekarang berkembang pesat di Yogyakarta antara lain industri kecil dan industri rumah tangga (home industry) seperti pembuatan batik, kaos, pakaian jadi, mebel, kerajinan kulit, perak, tanah liat/keramik, kertas daur ulang, anyaman bambu, pakaian jadi, cerutu, dan makanan/ minuman. Di sektor pertambangan, DIY memiliki beberapa bahan tambang/galian seperti batu kapur, kalsit, andesit, pasir koral, dan gips. Kaolin dan pasir kwarsa banyak terdapat di Kab. Gunungkidul, dan Kulonprogo. Tetapi sayangnya datanya tidak tersedia dalam buku BPS tahun 1998. (sumber : http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3501&Itemid=1527).

B. OBYEK WISATA 1. Wisata Alam

a. Gunung Merapi

Gunung Merapi (2911 meter di atas permukaan laut) merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang masih aktif. Gunung ini terletak kira-kira 30 km di sebelah utara Kota Yogyakarta dan termasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Gunung Merapi bertalian erat dengan mitos, kepercayaan, dan filosofi masyarakat Jawa, terutama masyarakat sekitar gunung tersebut. Hal ini digambarkan dengan garis

imajiner yang menghubungkan antara Gunung Merapi dengan Laut Selatan (Samudera Indonesia) dengan Kota Yogyakarta sebagai titik pusat. Garis imajiner tersebut mempunyai dua aspek filosofis, yaitu jagat alit dan jagat ageng. Jagat alit merupakan proses perjalanan kehidupan manusia sejak lahir hingga menghadap Yang Maha Kuasa. Tugu Yogyakarta merupakan titik di mana manusia dapat menyatu dengan Tuhan tatkala ia mampu menempuh kehidupan dengan benar dan lurus. Planologi Kota

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3501&Itemid=1527http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3501&Itemid=1527

392 Kepariwisataan : Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta menggambarkan makna dari filosofi tersebut melalui jalan yang membujur dari selatan ke utara. Namun, perjalanan kehidupan manusia tak lepas dari godaan kekuasaan dan kemewahan. Godaan kekuasaan digambarkan melalui kompleks Kepatihan, sedangkan godaan harta tergambar lewat pasar Beringharjo yang berada di sisi jalan antara Keraton dan Tugu Yogyakarta. Jagat Ageng bermakna seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan mementingkan hati nurani ketimbang nafsu kekuasaan. Pemimpin harus melandaskan kepemimpinannya dengan berdasarkan keyakinan kepada Tuhan. Artinya, tindakan memimpin mestilah berdasar pada apa yang diperbolehkan/diperintahkan dan dilarang oleh Tuhan. Oleh karena itu, makna dari garis imajiner tersebut adalah bahwa manusia dapat berada dekat dan menyatu dengan Tuhannya ketika ia sudah dapat memaknai hakikat hidup yang sebenarnya serta berperilaku sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Tuhan.

Kondisi Puncak Garuda tahun 2008

Sumber: Mujibur Rohman Gunung Merapi juga diliputi mitos sebagai kerajaan makhluk halus. Masyarakat percaya bahwa Gunung Merapi dijaga oleh Kiai Sapujagad, patih Kesultanan Mataram Islam pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, yaitu Sultan Mataram Islam yang pertama. Namun, makhluk halus yang menghuni Merapi bukanlah makhluk yang jahat asalkan manusia senantiasa biasa menjaga dan menghargai Merapi sebagai entitas kehidupan. Atas dasar mitos tersebut, masyarakat di sekitar Gunung Merapi melakukan berbagai upacara, misalnya Upacara Labuhan yang diadakan setiap tahun oleh Keraton Yogyakarta, kegiatan sedekah gunung, selamatan, dan lain sebagainya. Di luar makna filosofis yang menghubungkan keberadaan Gunung Merapi, Laut Selatan, dan Keraton Yogyakarta, Gunung Merapi merupakan fenomena alam yang memiliki keistimewaan tersendiri. Hingga saat ini, Gunung Merapi masih menjadi salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Sejak meletus pada tahun 1548, Gunung Merapi sudah meletus 68 kali. Aktivitas letusan kecil Merapi terjadi setiap 2-3 tahun dan letusan besar terjadi sekitar 10-15 tahun sekali terakhir pada tahun 2006. Letusan besar Gunung Merapi terjadi pada tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 inilah yang diklaim sebagai penyebab perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur. Sementara itu, letusan yang terjadi pada tahun 1930 menelan korban 1.369 jiwa. Aktivitas letusan yang sering terjadi mengakibatkan ketinggian dan bentuk puncak Merapi senantiasa berubah dari waktu ke waktu.

393 Kepariwisataan : Daerah Istimewa Yogyakarta

Pasar Bubrah, pos terakhir sebelum puncak Sumber: Mujibur Rohman

Mendaki Merapi menjadi tantangan tersendiri bagi Anda yang suka melakukan petualangan. Jalan setapak untuk mendaki Merapi tidak seperti laiknya jalur pendakian. Kadang-kadang jalan ini lebih menyerupai parit dari puncak gunung. Begitu pula medan sepanjang pendakian: berbatu, terjal, dan mudah longsor. Mendekati Puncak Garuda, para pendaki harus ekstra hati-hati dan tepat dalam mengambil keputusan karena tak jarang bebatuan yang diinjak justru longsor yang bisa berakibat fatal. Gunung Merapi menawarkan berbagai obyek wisata yang menarik. Di lereng selatan ada obyek wisata Kinahrejo yang sekaligus menjadi jalur pendakian dari sisi selatan. Di sini Anda dapat menikmati pemandangan alam yang indah atau berkunjung ke Tuk Pitu (tujuh mata Air). Atau Anda juga dapat bertem