Proposal KP Pemetaan Geokimia (Contoh)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Setiap peng-kopian wajib menyertai atau menuliskan sumber.

Text of Proposal KP Pemetaan Geokimia (Contoh)

  • PROPOSAL KERJA PRAKTEK

    Oleh :

    Zaenal Fanani

    NIM. 111.070.155

    JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

    FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

    UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

    YOGYAKARTA

    2011

    METODE STREAM SEDIMENTS DALAM PEMETAAN GEOKIMIA REGIONAL DAERAH KEBUMEN, JAWA TENGAH

    INDONESIA

  • HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL KERJA PRAKTEK

    Metode Stream Sediments Dalam

    Pemetaan Geokimia Regional

    Daerah Kebumen, Jawa Tengah.

    Proposal ini diajukan untuk dapat melaksanakan Kerja Prakek sebagai syarat

    akademik bagi mahasiswa strata 1 di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi

    Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, tahun akademik

    2010/2011.

    Diajukan Oleh :

    Nama : Zaenal Fanani

    No. Mhs : 111.070.155

    Yogyakarta, 25 Mei 2010

    Menyetujui,

    Ketua Jurusan Teknik Geologi Pembimbing I

    Ir. Sugeng Raharjo, M.T. Ir. Sugeng Raharjo, M.T.

    NIP : 030.217.238 NIP : 030.217.238

  • I. PENDAHULUAN

    I.1. Latar Belakang

    Penyelidikan geokimia (sedimen sungai 80#) regional sistematik dilakukan

    untuk penyediaan bankdata atau basisdata geokimia, guna melengkapi data dan

    informasi Sistem Informasi Sumber Daya Mineral Indonesia.

    Penyelidikan tersebut sifatnya berlanjut lembar demi lembar peta diseluruh

    Indonesia secara bersistem. Hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi

    sebagai acuan awal dalam eksplorasi mineral, tataguna lahan seperti pemukimam,

    pertanian, perkebunan dan peternakan. Bahkan diharapakan sebagai penunjang

    pengelolaan masalah lingkungan (khususnya sebagai pemantau pencemaran

    lingkungan), konservasi dan bidang kesehatan. Sehingga nantinya dapat dipakai

    dalam perencanaan tata ruang pembangunan suatu daerah.

    Dalam melakukan pemetaan geokimia, banyak metode yang bias digunakan,

    dan salah satunya adalah Stream Sediments. Stream Sediments. Stream Sediments

    adalah suatu teknik yang digunakan dalam eksplorasi geokimia dan analisis, di mana

    mengukur unsur-unsur semimobile dan mobile dari sedimen sungai atau aliran air,

    meskipun dalam kondisi tertentu elemen yang sangat mobile (contoh: molibdenum)

    dapat digunakan. Anomali sedimen tidak selalu disertai dengan anomali di dalam air,

    mungkin ada variasi musiman dalam komposisi air sungai, oleh karena itu lebih

    mudah untuk mengumpulkan, membawa, dan menyimpan sampel sedimen dari pada

    sampel air. Anomali dapat terjadi dalam sedimen aktif, di gosong sungai dan di

    dataran banjir, sehingga sampling dari banyak tempat dapat memberikan hasil yang

    memuaskan.

    Dalam melakukan kegiatan pemetaan, terdapat suatu standar operasional kerja

    yang di harus dijalankan dengan baik guna untuk menghasilakan data yang maksimal

    dan tertata rapi. Adapun hal-hal yang harus di perhatikan yaitu meliputi dari lokasi

    pengambilan data, proses pengambilan, serta reparasi sampel sehingga data lapangan

    yang di dapat memiliki nilai koreksi yang kecil. Karena beberapa sifat dari unsur-

    unsur geokimia pada suatu batuan atau sedimen dapat rusak apabila proses dan

    reparasi sampel tidak sesuai dengan prosedur.

  • I .2. Perumusan Masalah .

    Permasalahan yang dijumpai dalam rencana penelitian ini adalah:

    1. Bagaimana cara penentuan lokasi sampling yang dapat mencakup target area.

    2. Bagaimana proses pengambilan data di lapangan.

    3. Bagaimana proses reparasi data lapangan untuk studi lebih lanjut, yaitu analisa

    laboratorium.

    1.3 Maksud Dan Tujuan

    Maksud pemetaan geologi ini adalah untuk memenuhi persyaratan akademis

    sebagai syarat akhir bagi mahasiswa di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi

    Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

    Tujuan kerja praktek dalam pemetaan geokimia antara lain memberikan

    wawasan baru terhadap mahasiswa bagaimana cara membuat suatu peta geokimia

    dengan menggunakan metode Stream Sediments, serta bagaimana tahapan-tahapan

    yang harus dilakuakan dari pekerjaan lapangan hingga reparasi sampel.

    I.5 Manfaat Penulisan

    Keilmuan

    Manfaat penulisan ini di bidang keilmuan adalah memberikan wawasan

    mengenai konsep pemetaan geokimia yang mana di mulai dari tahap awal hingga

    proses reparasi.

    Perusahaan

    Manfaat penulisan ini untuk perusahaan bisa dijadikan pedoman acuan standar

    operasional kerja dalam melakukan pemetaan geokimia regional.

    Institusi

    Manfaat penulisan ini bagi institusi khususnya Jurusan Teknik Geologi UPN

    Veteran Yogyakarta adalah dapat menjadi sumber referensi bagi pihak

    akademik yang ingin melakukan riset lanjutan mengenai pemetaan geokimia

    beserta kegunaanya segai acuan eksplorasi mineral, tataguna lahan, kondisi kimia

    suatu daerah, dan lain sebagainya.

  • I .6. Hasil Yang Diharapkan

    Dengan melakukan kerja praktek ini yang berjudul Metode Stream

    Sediments Dalam Pemetaan Geokimia Regional Daerah Kebumen, Jawa Tengah diharapkan mahasiswa mampu melakukan pemetaan geokimia regional suatu daerah

    dengan menggunakan metode stream sediments, serta tata kerja yang baik dan benar

    sesuai dengan standar operational kerja yang selazimnya.

  • II. METODOLOGI

    Adapun tahapan penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut

    II.1. Tahapan Kajian Pustaka

    II.2.1. Studi Literatur

    Studi literatur beberapa peneliti terdahulu merupakan salah satu tahapan yang

    penting dalam pengumpulan data. Dengan studi literature , bisa mengetahui gambaran

    awal mengenai daerah penelitian dan bisa memunculkan asumsi asumsi atau

    hipotesa awal mengenai studi penelitian.

    Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data - data sekunder dari literatur

    dan para peneliti terdahulu yang meliputi pembatasan masalah dan penarikan hipotesa

    bagi penelitian ini maupun pembuatan proposal. Dalam usaha untuk memecahkan

    permasalahan diperlukan metode metode pendekatan, dimana langkah awal yang

    harus dilakukan dengan mempelajari bahan bahan atau literatur yang berhubungan,

    baik langsung atau tidak langsung mengenai proses pengerjaan kerja praktek. Kajian

    pustaka ini bertujuan untuk mengetahui dasar dan metode penggunaan stream

    sediments serta konsep mengenai proses sedimentasi dan menguasai kondisi daerah

    telitian dengan mengetahui kondisi secara regional daerah tersebut dengan

    menggunakan pedoman berdasarkan geologi dan stratigrafi regional.

    II.2. Peta Dasar

  • Peta dasar merupakan pedoman atau acuan awal dalam tahapan intrepetasi

    keadaan geologi, tatanan kependudukan, serta akses jalan selama pengambilan data

    sampel.

    II.2. Tahapan Kegiatan Lapangan

    Berupa pengambilan data lapangan dengan menggunakan peta skala 1 : 500

    yang bertujuan memperoleh data primer (endapan sungai aktif) yang dijumpai selama

    di lapangan. Secara detil, pengambilan data lapangan meliputi:

    1. Sampel pasir #80.

    2. Sampel pasir #40.

    3. Sampel raw materials

    4. Sampel outcrop dan rock fragmen apabila terdapat mineralisasi.

    5. Data keterangan geologi dan unsur kimia (ph) lokasi pengamatan.

    II.3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data

    Pada tahapan ini, peneliti telah melakukan pengolahan dan analisis data yang

    diimplikasikan dalam kegiatan membuat database sampel yang tersusun rapi,

    pembuatan laporan kegiatan lapangan, dan melakukan reparasi data sampel sebelum

    di masukan ke laboratorium.

    II.4. Tahap Penyusunan Laporan

    Dalam Penyusunan laporan, peneliti akan merangkum seluruh kegiatan yang

    dilakukan selama studi berlangsung sampai dengan mencapai sebuah sintesa yang

    merupakan kesimpulan akhir dari studi yang dilakukan yaitu mengenai metode

    stream sediments dalam pembuatan peta geokimia.

  • III. DASAR TEORI

    III.1. Peta Geokimia

    Sebuah peta geokimia menyediakan penting dan mendasar informasi untuk

    eksplorasi mineral dan penilaian lingkungan di permukaan bumi (Webb dkk, 1978;.

    Weaver et al, 1983;. Fauth et al,. 1985; Blviken, et al, 1986;. Thalmann et al, 1988.;

    Reimann dkk, 1998;. Gustavsson et al, 2001). Pengendali utama faktor konsentrasi

    masing masing elemen memiliki hubungan erat dengan keadaan geologi, sumber

    daya mineral dan peta penggunaan lahan (Ohta et al, 2004a, 2004b;. 2005a, 2005b;

    Ujiie-Mikoshiba et al., 2006).

    Uji statistik signifikan secara objektif dan kuantitatif menginterpretasikan peta

    geokimia. Ohta et al. (2005a) mengidentifikasi kontaminasi P, Cu, Zn, As, Mo, Cd,

    Sn, Sb, Hg, Pb dan Bi. Sedimen dikumpulkan dari dengan perkotaan dengan

    menerapkan uji statistik untuk data geokimia. Namun, elemen terjadi di sedimen

    dalam bentuk berbagai fisikokimia: pertukaran ion ion, teradsorpsi, karbonat, Fe-Mn

    oksida, sulfida, organik penting, kisi mineral dan bentuk lain (misalnya Tessier dkk,

    1979.). Oleh karena itu, komposisi massal sedimen sungai tidak cukup untuk

    menjelaskan mobilitas logam, yang penting untuk menilai potensi bahaya logam

    berat. Jika spesiasi geokimia peta siap, kita akan mengeksplorasi kejadian mineral dan

    lebih langsung menjelaskan potensi bahaya unsur-unsur beracun.

    III.2. Stream Sedimen

    Survei geokimia sedimen multielement regional menggunakan stream

    sediment, merupakan hal yang penting dalam eksplorasi mineral. Survei tersebut tidak

    hanya menghasilkan signifikansi data ekonomi, tetapi juga telah menyediakan

    banyak informasi menarik yang lebih mendasar. Jadi, sampling stream sediment lebih

    disukai untuk mempresentasikan kondisi batuan dan tanah yang berada atau di lewati

    sungai. Stream sediment umumnya terdiri dari produk pelapukan batuan yang masuk

    ke sungai. Dalam Intrepetasi terhadap isi elemen kecil dalam sedimen sungai ini harus

    memperhitungkan bahwa faktanya data yang sering terkait dengan jumlah populasi

    geokimia, merupakan hasil dari fitur geologi atau geokimia yang berkembang di

    lingkungan.

    Sebagai isi elemen kecil dari sampel sedimen sungai disebabkan oleh fitur

    batuan dasar, mineralisasi atau lingkungan sekunder, dan sering terlihat bahwa banyak

  • sampel endapan sungai menampilkan pola serupa, yang menunjukkan pengulangan

    informasi atau data, Garrett dan Nichol (1969).

    III.1. Geologi Regional

    III.3.1 Fisiografi Pulau Jawa

    Pembagian Zona Fisiografi Jawa yang dibuat oleh Van Bemmelen (1949)

    (Gambar 3.1), pada dasarnya juga mencerminkan aspek struktur dan stratigrafinya

    (tektonostratigrafi). Berdasarkan aspek struktur dan stratigrafi, Smyth et al. (2005)

    membagi Jawa bagian timur menjadi empat zona tektonostratigrafi, dari selatan ke

    utara: (1) Zona Pegunungan Selatan (Southern Mountain Zone), (2) Busur Volkanik

    masa kini (Present-day Volcanic Arc), (3) Zona Kendeng (Kendeng Zone), dan (4)

    Zona Rembang (Rembang Zone) (Gambar 3.2). Pembagian ini menganggap

    Pegunungan Serayu Selatan (South Serayu Mountain) (Van Bemmelen, 1949) sebagai

    bagian dari Zona Pegunungan Selatan, sedangkan Zona Randublatung (Van

    Bemmelen, 1949) sebagai bagian dari Zona Rembang. Stratigrafi Zona Pegunungan

    Selatan, Zona Kendeng, dan Zona Rembang, telah banyak dikaji oleh para peneliti

    terdahulu (Sartono, 1964; De Genevraye dan Samuel, 1972; Baumann et al.,1972;

    Asikin, 1974; Sumarso dan Ismoyowati, 1975; Nahrowi et al, 1978; Sujanto dan

    Sumantri, 1977; Pringgoprawiro, 1983; Pertamina-Robertson Research, 1986; Phillips

    et al., 1991; Bransden dan Matthews, 1992; Samodra et al., 1993; Rahardjo et al.,

    1995; Smyth et al., 2005. Rangkuman ini dibuat dengan maksud agar diperoleh

    gambaran secara lebih menyeluruh tentang stratigrafi wilayah Jawa bagian timur

    terutama meliputi tiga dari empat zona di atas, yakni Zona Pegunungan Selatan, Zona

    Kendeng, dan Zona Rembang. Stratigrafi Busur Volkanik masa kini tidak dibahas

    karena hampir seluruhnya terdiri dari endapan Kuarter.

  • Gambar 3.1 Zona-zona Fisiografi Jawa

    Sumber : Van Bemmelen, (1949).

    III.3.2 Stratigrafi Mandala Serayu Selatan

    Dalam pembahasan stratigrafi regional pada umumnya dikaitkan dengan

    pembagian fisiografis dari daerah tersebut. Daerah telitian terletak pada jalur

    Pegunungan Selatan Jawa Tengah yang menurut Van Bemmelen (1949), termasuk ke

    dalam zona fisiografi Pegunungan Serayu Selatan. Posisi Zona Pegunungan Serayu

    Selatan pada sistem konvergensi antara Lempeng Hindia - Australia dengan tepi

    Benua Asia selama Zaman Tersier adalah merupakan wilayah Retro Arc Fold Thrust

    Belt, posisi ini sama dengan Zone Kendeng (Pringgoprawiro, 1976), dan Zone Bogor

    (Martodjojo, 1985). Perkembangan tektonik dan cekungan pengendapan di daerah ini

    diduga sangat erat hubungannya dengan pertumbukan antara Lempeng Benua Asia

    Tenggara dan Lempeng Hindia - Australia tersebut sejak Kapur Akhir atau Tersier

    Awal.

    Batuan tertua di daerah ini berumur Pra-Tersier, karena strukturnya yang

    sangat rumit, berbagai cara yang lazim tidak dapat membantu sepenuhnya dalam

    penyusunan urutan batuan Pra Tersier tersebut. Satuan litostratigrafi yang tersingkap

    dari tua ke muda di daerah Pengunungan Serayu Selatan diuraikan berikut ini :

    3.2.1 Batuan Pra Tersier

    Merupakan batuan tertua yang tersingkap di Zone Pegunungan Serayu Selatan

    mempunyai umur Kapur Tengah-Paleosen (Asikin, 1974).

  • Kelompok batuan ini disimpulkan sebagai kompleks melange yang terdiri dari

    graywacke, skiss, lava basalt berstruktur bantal, gabro, batugamping merah, rijang,

    lempung hitam yang bersifat serpihan. Semuanya merupakan campuran yang bersifat

    tektonik.

    3.2.2 Formasi KarangsambungTerdiri dari batulempung bersisik, dengan bongkahan batugamping,

    konglomerat, batupasir, batulempung dan basal. Singkapan batuan ini terdapat di

    daerah Karangsambung, terutama sepanjang Kali Welaran dan Kali Luk Ulo,

    menempati Antiklin Karangsambung, dan meluas kearah barat sampai Desa Prapatan

    sekitar 8 Km di utara Karanganyar. Satuan ini membentuk daerah perbukitan

    bergelombang yang berlereng landai.

    Nama formasi ini pertama kali diajukan oleh Sukendar Asikin (1974) dengan

    lokasi tipe di Desa Karangsambung, sekitar 14 Km di utara Kebumen. Nama

    sebelumnya adalah Formasi Eosen (Harloff, 1933). Ketebalannya diperkirakan

    1350 m (Sukendar Asikin, 1974). Umur formasi ini adalah Eosen Tengah sampai

    Oligosen. Safarudin (1982) menafsirkan lingkungan pengendapan formasi ini adalah

    laut dalam atau batial, hal ini ditunjang oleh adanya fosil bentos Uvigerina sp. dan

    Gyroidina soldanii (DORBIG-NY).Hubungan tidak selaras dengan batuan Pra-

    Tersier.

    Formasi Karangsambung ini merupakan kumpulan endapan olistostrom yang

    terjadi akibat pelongsoran karena gaya berat dibawah permukaan laut, yang

    melibatkan sedimen yang belum mampat, dan berlangsung pada lereng parit dibawah

    pengaruh pengendapan turbidit. Sedimen ini kemungkinan merupakan sediment

    pond dan diendapkan diatas bancuh dari melange tektonik (Komplek Luk Ulo).

    3.2.3 Formasi Totogan.Tersusun atas masa dasar batulempung bersisik, dengan komponen breksi,

    batupasir, batugamping dan basal. Satuan ini tersingkap di daerah utara Lembar

    Kebumen, di sekitar Komplek Luk Ulo, di timur dan selatan Karangsambung.

    Tebalnya melebihi 150 meter dan menipis kearah Selatan. Formasi ini selaras diatas

    Formasi Karangsambung, batas dengan Komplek Luk Ulo berupa sentuhan sesar.

  • Nama formasi ini pertama kali diusulkan oleh Sukendar Asikin (1974) dengan lokasi

    tipe di sekitar Desa Totogan, lebih kurang 17 Km di utara Kebumen.

    Umur formasi ini Oligosen Akhir - Miosen Awal. Formasi Totogan dapat

    disebandingkan dengan batuan sedimen (Tems) berumur Eosen Miosen di Lembar

    Banjarnegara dan Pekalongan (Condon dkk., 1975). Safarudin (1982) menafsirkan

    lingkungan pengendapan formasi ini batial atas, hal ini ditunjang oleh adanya bentos

    Uvigerina sp. dan Gyroidina sp.

    3.2.4 Formasi Waturanda

    Tersusun atas litologi breksi dan graywacke dengan sisipan batulempung di

    bagian atas, dan terdapat Anggota Tuf yang terletak di bagian bawah Formasi ini.

    Satuan ini tersebar di bagian utara Lembar kebumen, dan selalu membentuk

    morfologi tinggi, dengan puncaknya G. Watutumpang, G. Tugel, G. Paras, G. Prahu

    dan G. Kutapekalongan. Umur formasi ini hanya dapat ditentukan secara tidak

    langsung (Raharjo dkk., 1977), Anggota tuff Formasi Waturanda yang pada umumnya

    terletak di bagian bawah Formasi Waturanda dapat disebandingkan dengan Formasi

    Andesit (Tmon) yang berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal di Lembar

    Yogyakarta.

    Berdasarkan pada kedudukan stratigrafi satuan batupasir terhadap satuan-

    satuan di atas dan di bawahnya maka ditafsirkan umur satuan ini adalah Miosen Awal,

    karena Formasi Penosogan yang menindihnya berumur Miosen Tengah, dengan

    lingkungan pengendapan laut dalam. Dari struktur sedimennya dapat disimpulkan,

    paling tidak sebagian formasi ini diendapkan oleh arus turbidit dan merupakan

    endapan turbidit proksimal.

    Nama formasi ini pertama kali diajukan oleh Matasak (1973) dengan lokasi tipe di

    Bukit Waturanda (lebih kurang 11 Km di utara Kebumen). Nama sebelumnya ialah

    Eerste Breccie Horizont (Harloff, 1933).

    3.2.5 Formasi Penosogan

    Tersusun atas perselingan batupasir, batulempung, tuff, napal dan kalkarenit.

    Ciri khas dari Formasi Penosogan adalah adanya perulangan batupasir dengan

    batulempung pada bagian bawah (bagian tertua pada Formasi Penosogan). Umur

    Formasi Penosogan berdasarkan fosil Foraminifera yang dijumpai, ditafsirkan

  • berumur Miosen Tengah. Formasi ini menindih selaras Formasi Waturanda,

    sedangkan lingkungan pengendapannya diduga batial atas.

    Satuan ini tersingkap antara lain di sekitar Alian dan Penosogan, di bagian barat

    Lembar menyempit, kearah timurlaut tertutup oleh endapan gunungapi muda.

    Ketebalan terukur di daerah Alian adalah 1146 meter (Iskandar, 1974), dan di daerah

    Penosogan 950,5 meter (Hehanusa, 1973). Nama formasi ini pertama kali diusulkan

    oleh Hehanusa (1973) dengan lokasi tipe di Desa Penosogan (lebih kurang 8 Km di

    utara Kebumen). Nama sebelumnya adalah Tweede Mergeltuf horizont (Harloff,

    1933) atau Second Marl Tuff Formation (Marks, 1957).

    3.2.6 Formasi Halang

    Penyebaran formasi ini tersebar di bagian tengah Lembar, membentang dari

    barat sampai ke timur, menempati daerah perbukitan. Tebalnya dari 400 meter sampai

    melebihi 700 meter. Litologi penyusun terdiri dari batupasir gampingan, batupasir

    kerikilan, batupasir tufaan, napal, napal tufaan, batulempung, batulempung napalan

    breksi dan sisipan kalkarenit. Satuan litostratigrafi formasi ini mempunyai stratotipe

    batuan di daerah Geger Halang, Kuningan, Jawa Barat. Sedangkan di Sub Cekungan

    Kebumen terdapat beberapa kelompok batuan dengan ciri litologi mirip dengan Geger

    Halang.

    Umur Formasi Halang adalah Miosen Tengah sampai Pliosen Awal N15 N18).

    Berdasarkan temuan foraminifera bentos, antara lain Gyroidina sp. dan Eponides sp.,

    lingkungan pengendapan Formasi Halang adalah batial atas dengan kedalaman antara

    200 500 meter (Safarudin, 1982). Simandjuntak drr. (1982) berpendapat, bahwa

    lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal dan terbuka (neritik).

    3.2.7 Formasi Peniron

    Peneliti terdahulu menamakan sebagai Horizon Breksi III. Formasi Peniron

    menindih selaras di atas Formasi Halang dan merupakan sedimen turbidit termuda

    yang diendapkan di Zona Pegunungan Serayu Selatan. Litologinya terdiri dari breksi

    aneka bahan (polimik) dengan komponen andesit, batulempung, batupasir dengan

    masa dasar batupasir sisipan tufa, batupasir, napal dan batulempung.

    3.2.8 Batuan Vulkanik Muda

  • Mempunyai hubungan yang tidak selaras dengan semua batuan yang lebih tua

    di bawahnya. Litologi terdiri dari breksi dengan sisipan batupasir tufan, dengan

    komponen andesit dan batupasir yang merupakan aliran lahar pada lingkungan darat.

    Berdasar pada ukuran komponen yang membesar ke utara, menunjukkan arah sumber

    materal berada di utara yaitu Gunung Sumbing.

    AGE LITHOSTRATIGRAPHIC UNITQuarternary Serayu breccia Alluvium

    Pliocene Peniron Formation

    Late Halang Formation

    Middle Breccia MemberPanosogan Formation

    Early Waturanda Formation

    Oligicene Totogan Formation

    Eocene Karangsambung Formation

    Pre-Tertiary Melange JatisamitMelange Seboro

    Gambar 3.2 Stratigrafi Zona Pegunungan Serayu Selatan (Lembar Kebumen).

    Sumber : Sukendar Asikin, (1987).

    Unconformity

    Unconformity

    MIOCENE

  • Gambar 3.3 Rangkuman skematis stratigrafi wilayah Jawa Tengah

    III.3.1 Struktur Geologi

    Daerah penelitian sangat menarik dilakukan studi struktur geologi karena

    daerah ini termasuk ke dalam jalur Pegununungan Serayu Selatan (Van Bemmelen,

    1949), dimana pembentukan struktur geologi yang nampak pada daerah telitian

    sekarang, disebabkan oleh aktifnya kembali sesar-sesar tua pada dasar cekungan

    (sesar basement / dip seated fault) sebagai akibat tektonik pada kala Plio-Plistosen,

    sehingga membentuk struktur-struktur geologi yang ada seperti yang dijumpai

    sekarang.

    Secara regional aktivitas tektonik yang terjadi di Pulau Jawa mengakibatkan

    berkembangnya struktur geologi yang bervariasi. Pola struktur yang terbentuk

    merupakan cerminan dari pola tegasan suatu gaya dominan dari proses tektonik

    dengan variasi arah tertentu. Secara umum pola tegasan yang terbentuk berupa kekar,

    sesar dan lipatan dengan skala yang bervariasi dari skala regional hingga skala yang

    terkecil.

    Secara regional tegasan utama berarah utara-selatan, sehinggga pembentukan

    lipatan yang mempunyai sumbu hampir tegak lurus dengan tegasan utama

    mengakibatkan pembentukan sesar-sesar naik dan sesar-sesar naik tersebut dipotong

    oleh sesar mendatar yang berarah hampir utara-selatan.

  • Pembentukan dan perkembangan rangkaian Pegunungan Serayu Selatan

    dipengaruhi dan ditentukan oleh sifat-sifat gerak dan pertemuan lempeng Hindia

    Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Eurasia (Sukendar Asikin, 1974 ).

    Pertemuan kedua lempeng yang bersifat tumbukan tersebut membentuk sistem busur

    kepulauan yang disebut Sunda Arc System (Sukendar Asikin, dkk., dalam PIT IAGI

    XVI, 1987) (Gambar 3.5).

    Gambar 3.4 Regim tektonik tumbukan (convergen) antara lempeng Benua Asia

    dengan lempeng samudra Hindia Australia

    Berdasarkan hasil penafsiran terhadap foto citra ERTS (M. Untung dan Y.

    Sato, 1978) dan anomali gaya berat (M. Untung dan G. Wiriosudarmo, 1975),

    menunjukkan adanya sesar-sesar dan kelurusan-kelurusan dari pola struktur yang

    umumnya berarah Baratdaya Timurlaut, Baratlaut Tenggara, dengan sumbu

    lipatan yang pada umumnya berarah Barat Timur pada daerah Jawa Tengah

    (Gambar 3.4). Menurut Sukendar Asikin (1974), secara umum struktur Pegunungan

    Serayu Selatan terdiri dari lipatan-lipatan dengan sumbu berarah Barat Timur,

    disertai sesar naik, sesar normal dan sesar mendatar. Pada umumnya struktur tersebut

    dijumpai pada batuan yang berumur Kapur hingga Pliosen.

  • Gambar 3.5 Struktur utama Pulau Jawa dan kinematiknya.

    Sumber : Satyana, (2007).

  • Gambar 3.7 Pola umum struktur permukaan Jawa.

    Sumber : Angelier dan Mechler, (1977).

  • IV. WAKTU PELAKSANAAN

    Adapun waktu pelaksanaan peneltian ini adalah sebagai berikut baik dari tahapan

    persiapan sampai penyelesaian adalah (Tabel 1.1) :

    Tabel 1.1 Tabulasi Waktu Pelaksanaan

    Kegiatan

    1-10

    Juli

    2011

    11-12

    Juli

    2011

    1 10

    Juli

    2011

    17-19

    Juii

    2011

    20-26

    Juli

    2011

    27 29

    Juli

    2011

    30- 31

    Juli

    2011

    Pembuatan

    Proposal

    Pengurusan

    PerizinanStudi PustakaPengumpulan

    Data

    Pengolahan

    dan

    Analisa Data

    Pembuatan

    Laporan

    Presentasi

    and Evaluasi

    V.PEMBIMBING

    Untuk pembimbing merupakan staff pengajar pada Jurusan Teknik Geologi,

    Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

    VI.PENUTUP

    Kesempatan yang diberikan pada mahasiswa dalam melakukan kerja praktek ini

    akan dapat membuka wawasan mahasiswa pada bidang dasar pemetaan geokimia

    yang bisa dimanfaatkan dalam dunia kerja/industri nantinya dengan tidak melepaskan

    unsure scientist/akademiknya. Dan dalam kesempatan ini mahasiswa akan

    memanfaatkanya semaksimal mungkin, serta hasil dari kerja praktik ini akan dibuat

  • dalam bentuk laporan dan akan dipresentasikan di perusahan terkait dan juga di

    universitas (jurusan).

    VII.LAMPIRAN

    Bersama ini , juga saya lampirkan beberapa dokumen antara lain :.

    Surat Pengantar Kerja Praktek dari Jurusan Teknik Geologi, Fakultas

    Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Naisonal Veteran

    Yogyakarta.

    Transkrip IPK sementara

    Daftar Riwayat Hidup (Curiculum Vitae)

    Fotocopy Kartu Tanda Penduduk ( KTP )

    Photograph 3x 4 dan 4 x 6

  • IX.Daftar Pustaka

    Garrett R. and Nichol I., 1969. Factor analysis in the interpretation of regional geochemical stream sediment data. Q.Colo.Sch.Mine, 64, pp. 245-264.

    Morsy M., 1981a. Selection of size fractions. Bull. Fac. Sc., Alex.Univ., 21(3), pp. 5-14.

    Morsy M., 1981b. Selective extraction techniques in geochemical exploration. Bull. Fac. Sc., Alex. Univ., 21 (3), pp. 15-36.

    Morsy M. and Hassan F, 1982. Geochemical study on soil and stream sediments. Bull. Fac. Sc., Alex. Univ., 31p.

    Morsy M., 1993. An example of application of factor analysis on geochemical stream sediment survey. Mathematical Geology, Vol. 25, No.7, pp. 833-850.

    Morsy M., 1997. Tin-rare metal mineralization near Mersa Alam. Proc.30th Intl Geol.Congr., Vol.19,pp. 225-239.

    I.1. Latar Belakang V.PEMBIMBINGVI.PENUTUPVII.LAMPIRAN