Proposal Tiva

  • View
    13

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sd

Text of Proposal Tiva

BAB 1PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya meningkatkan dan mempertahankan perilaku pasien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi. Sistem pasien/klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas (Stuart, 2007).Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung, seperti pada masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan bermacam gejala dan disebabkan berbagai hal. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda. Banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan hal yang berbeda dan kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dalam menyeleseaikan masalah juga bervariasi (Keliat, 2005).Gangguan kesehatan jiwa lebih dari 90% pasien dengan skizofrenia mengalami halusinasi. Meskipun bentuk halusinasinya bervariasi, tetapi sebagian besar pasien dengan skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa mengalami halusinasi pendengaran. Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu 1

tetapi tidak ada rangsangan yang menimbulkannya (tidak ada objeknya). Halusinasi muncul sebagai suatu proses panjang yang berkaitan dengan kepribadian seseorang. Karena itu, halusinasi dipengaruhi oleh pengalaman psikologis seseorang (Baihaqi, 2007).Hampir 450 juta orang di dunia menderita gangguan mental, dan sepertiganya tinggal di negara berkembang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012, sebanyak 8 dari 10 penderita gangguan mental itu tidak mendapatkan perawatan (Anna, 2012).Hasil Survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang belum lama ini dilaksanakan pada 02 Desember 2013, mengungkap prevalensi gangguan jiwa di Indonesia sekitar 1,7 per mil. Bila dilihat menurut provinsi, prevalensi gangguan jiwa berat paling tinggi ternyata terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hasil Riskesdas tahun 2013 tersebut menunjukkan, sekitar 3 dari setiap 1.000 orang penduduk DIY mengalami gangguan jiwa berat (Endang, 2013)Hasil survei awal yang diperoleh dari sumber Rumah Sakit Jiwa Medan Tahun 2014, pasien halusinasi mengalami peningkatan sebanyak 1398 orang dengan rata-rata 280 penderita per bulannya dengan jumlah perawat keseluruhan rawat jalan adalah 122 orang (Data Medikal Record Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara). Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata ada oleh klien. Banyak macam jenis halusinasi yang ditemui yaitu halusinasi pendengaran, halusinasi penglihatan, halusinasi penghidu, halusinasi pengecap serta halusinasi peraba (Ibrahim, 2011).Stuart & Laraia (2005), menyatakan bahwa pasien dengan diagnosis medis skizofrenia sebanyak 20% mengalamai halusinasi pendengaran dan penglihatan secara bersamaan, 70% mengalami halusinasi pendengaran, 20% mengalami halusinasi penglihatan, dan 10% mengalami halusinasi lainnya. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jenis halusinasi yang paling banyak diderita oleh pasien dengan skizofrenia adalah pendengaran.Kambuh merupakan keadaan klien dimana muncul gejala yang sama seperti sebelumnya dan mengakibatkan klien harus dirawat kembali (Andri, 2008). Menurut Stuart & Sundeen (2007) salah satu faktor predisposisi kekambuhan penyakit Skizofrenia mengalami halusinasi adalah lingkungan yang berupa suasana rumah yang tidak nyaman, kurangnya dukungan sosial maupun dukungan keluargaPasien yang sering mengalami kambuh biasanya kembali dirawat di rumah sakit karena keluarga tidak dapat mengatasi klien. Namun jika klien datang berobat dalam tahun pertama setelah serangan pertama, maka kira-kira sepertiga dari mereka akan sembuh sama sekali (full remission or recovery), sepertiga yang lain dapat dikembalikan ke masyarakat walaupun masih terdapat cacat sedikit dan mereka masih harus sering periksa dan diobati selanjutnya (social recovery), sisanya biasanya mereka tidak dapat berfungsi di masyarakat dan mereka menuju kemunduran mental (Maramis, 2009).Di antara penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor keluarga dan klien itu sendiri. Keluarga adalah support system terdekat dan 24 jam bersama-sama dengan klien (Yosep, 2009)Keluarga memiliki fungsi strategis dalam menurunkan angka kekambuhan, meningkatkan kemandirian dan taraf hidupnya serta pasien dapat beradaptasi kembali pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Dukungan keluarga yang dimiliki oleh prnderita dapat mencegah berkembangnya masalah yang lebih lanjut akibat tekanan yang dihadapi. Seseorang dengan dukungan keluarga yang tinggi akan lebih berhasil menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan yang tidak memiliki dukungan (Prinda, 2010)Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada 10 keluarga yang mengantar pasien berobat karena kambuh kembali di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara, hanya empat keluarga yang melakukan pengawasan dan pemberian minum obat sementara keluarga yang lainnya tidak memberikan secara langsung dengan alasan sibuk bekerja dan tidak ada yang mengurus klien di rumah. Dari 10 keluarga yang diwawancara, dua diantaranya mempunyai hubungan yang tidak baik dengan klien karena klien dianggap sebagai pembuat masalah dan sering berbuat ulah di lingkungannya. Berdasarkan uraian di atas maka saya tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan pada Pasien Halusinasi di Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara.1.2 Rumusan MasalahApakah ada hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien halusinasi di unit rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan 2014.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan UmumUntuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien halusinasi di unit rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan 2014.1.3.2 Tujaun Khususa. Mengindentifikasi dukungan keluarga pada pasien halusinasi di unit rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan 2014.b. Mengidentifikasi kekambuhan pada pasien halusinasi di unit rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan 2014.c. Menegtahui hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien halusinasi di unit rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan 2014.1.4 HipotesaAda hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien halusinasi di unit rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.

1.5 Manfaat Penelitian1.5.1 Bagi Pendidikan KeperawatanHasil penelitian ini dapat di jadikan masukan dalam kurikulum keperawatan jiwa dan menjadi refrensi yang dapat dilakukan peneliti selanjutnya.1.5.2 Bagi Pelayanan Keperawatan Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan kepada rumah sakit jiwa daerah sumatera utara serta sebagai penuntun bagi perawat jiwa dalam melanjutkan praktek asuhan keperawatan.1.5.3 Bagi Penelitian Keperawatan Dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian yang lebih lanjut dalam lingkup yang sama.

7

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Konsep Halusinasi Pendengaran2.1.1 DefenisiHalusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang berbicara (Herman, 2011).Menurut Varcarolis dalam (Yosep, 2009), Halusinasi dapat didefenisikan sebagai terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus. Tipe halusinasi yang paling sering adalah halusinasi pendengaran (Auditory hearing voices or sounds), penglihatan (Visual seeing persons or things), penciuman (Olfactory smelling odors), dan pengecapan (Gustatory experiencing tastes).

8

2.1.2 Faktor-faktor Penyebab HalusinasiMenurut Yosep (2009) mengemukakan faktor penyebab halusinasi yaitu: a. Faktor Predisposisi1. Faktor Perkembangan Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.2. Faktor SosiokulturalSeseorang yang merasa tidak diterimalingkungannya sejak bayi (unwanted child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.3. Faktor Biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan di hasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dymetytranferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan acetylcholin dan dopamin.

4. Faktor Psikologis Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus kedalam penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya,. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.5. Faktor Genetik dan Pola AsuhPenelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang di asuh oloeh orangtua skizofrenia, cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.b. Faktor Presipitasi1. PerilakuRespon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut rawlins dan heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seseorang individu sebagai makhluk yang di bangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga dapat di lihat dar