Refarat Euthanasia

Embed Size (px)

DESCRIPTION

euthanasia

Text of Refarat Euthanasia

EUTHANASIA

I. Pendahuluan

Euthanasia berasal dari kata Yunani Euthanathos. Eu berarti baik, tanpa penderitaan, sedangkan tanathos berarti mati. Dengan demikian euthanasia dapat diartikan mati dengan baik tanpa penderitaan.Sedangkan menurut Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia, euthanasia dapat di artikan dalam tiga hal, yaitu :

a. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan.

b. Waktu hidup akan berakhir, penderitaan pasien diperingan dengan memberi obat penenang.

c. Mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. 1,2

Dalam lafal sumpah dokter yang disusun oleh Hipocrates (400-300 SM). Masalah ini telah ditulis dan diingatkan. Sampai kini tetap saja persoalan yang timbul berkaitan dengan masalah ini tidak dapat diatasi atau diselesaikan dengan baik, atau didapatnya kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Di satu pihak tindakan euthanasia pada beberapa kasus dan keadaan memang diperlukan, sementara di lain pihak tindakan ini tidak dapat diterima, bertentangan dengan hukum, moral dan agama. Mengenai masalah euthanasia bila ditarik ke belakang boleh dikatakan masalahnya sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang tak tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan merana dan sekarat. Dalam situasi demikian, tidak jarang pasien memohon agar dibebaskan dari penderitaan ini dan tidak ingin diperpanjang hidupnya lagi atau dilain keadaan pada pasien yang sudah tidak sabar, keluarga orang sakit juga tidak tega melihat pasien yang penuh penderitaan menjelang ajalnya dan minta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. Dari sinilah istilah euthanasia muncul, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan, atau mati secara baik (mati enak). Masalah ini makin sering dibicarakan dan menarik banyak perhatian karena semakin banyak kasus yang dihadapi kalangan kedokteran dan masyarakat terutama setelah ditemukannya tindakan di dalam dunia pengobatan dengan mempergunakan teknologi canggih dalam mengatasi keadaan-keadaan gawat dan mengancam kelangsungan hidup. Banyak kasus-kasusj di pusat pelayanan kesehatan terutama di bagian gawat darurat dan di bagian unit perawatan intensif yang pada masa lalu sudah merupakan kasus yang tidak dapat dibantu lagi. Dengan demikian, pada kasus-kasus tertentu tetap saja muncul persoalan dasar kembali, yaitu dilema meneruskan atau tidak tindakan medis yang memperpanjang kehidupan. Apa yang harus dilakukan dokter menghadapi korban yang telah mati otak atau mati batang otak ini, karena belum ada kasus yang dapat keluar dari keadaan ini, sebab kerusakan jaringan otak sudah irreversible. Atau pada kasus kanker stadium terminal dengan penderitaan sakit yang hebat, sementara obat untuk itu belum ada. Begitu juga pada pasien gagal ginjal kronis yang memerlukan pencucian darah, sementara dana untuk tindakan ini ditanggung passien/keluarga dan lain-lain. Sesuai dengan makin meningkatnya kesadaran akan hak untuk menentukan nasib sendiri (self determination) dibanyak negara mulai timbul gerakan dan penghargaan atas seseorang untuk mengakhiri hidup. Aturan hukum mengenai masalah ini berbeda-beda di tiap negara dan seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya maupun ketersediaan perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, euthanasia dianggap legal, sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum.1,3,4

Negara Indonesia sebagai negara berkembang tidak dapat menghindari adanya kemajuan dan perkembangan di bidang kedokteran khusunya di bidang teknologi pada umumnya. Dengan perkembangan suatu diagnosa suatu penyakit dapat lebih sempurna dilakukan dan pengobatan penyakitpun dapat berlangsung dengan cepat. Dengan peralatan, rasa sakit seorang pasien diharapkan dapat diperingan agar kehidungan harapan agar dokter diberikan kesempatan untunk mengobati pasien sebagai upaya bagi si pasien untuk sembuh menjadi lebih besar, namun ada kalanya menimbulkna kesulitan bagi seorang dokter itu sendiri seperti penggunaan alat respirator yang dipasang untuk menolong pasien, dimana jantung pasien berdenyut namaun otaknya tidak berfungsi dengan baik. pan seseorang dapat diperpanjang dalam jangka waktu tertentu menguunakan respirator. Perkembangan teknologi dibidang medis ini dengan baik. 5,6

Selain kasus di atas banyak lagi masalah yang dihadapi dokter dalam mengobati pasien, seperti halnya pasien yang tidak mungkin lagi diharapkan sembuh atau hidup sehat karena belum ditemukan obatnya, sehingga pasien merasakan sakit yang terus menerus, dalam hal ini apakah dokter harus menghilangkan nyawa pasien atau euthanasia dengan teknik yang ada atau membiarkan pasien begitu saja atau menyuruh pulang kembali bersama keluarganya. Menyadari hal itu kewajiban dokter adalah menghormati dan melindungi setiap insan dengan menjalankan tugasnya semata-mata untuk menyembuhkan dan mengurangi penderitaan pasien dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan berdasarkan sumpah jabatan dan kode etik kedokteran.2,5,6

BAB II

Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang medik, kehidupan seseorang pasien bisa diperpanjang dan hal ini seringkali membuat para dokter dihadapkan pada sebuah dilema untuk memberikan bantuan tersebut apa tidak dan jika sudah terlanjur diberikan bolehkah untuk dihentikan. Berdasarkan pada cara terjadinya, ilmu pengetahuan membedakan kematian dalam tiga jenis :5

a. Orthonasia, yaiutu kematian yang terjadi karena prosese alamiah

b. Dysthanasia, yaitu kemtian yang terjadi secara tidak wajar

c. Euthanasia, yaitu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.

Pengertian euthanasia adalah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa mengurangi rasa sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif, dan biasanya tindakan ini dilakukan oleh kalangan medis. 5

Konsep euthansia dalam Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai kematian yang lembut dan nyaman, dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh penderitaan dan tak tersembuhkan. Sedangkan dalam kamus kedokteran Dorland euthanasia mengandung dua pengertian. Pertama, suatu kematian yang mudah atau tanpa rasa sakit. Kedua, pembunuhan dengan kemurahan hati, pengakhiran kehidupan seseorang yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan secara hati-hati dan disengaja. 5

Dewasa ini orang menilai euthansia terarah pada campur tangan ilmu kedokteran yang meringankan penderitaan orang sakit atau orang yang berada di sakaratul maut. Kadang-kadang proses meringankan penderitaan ini disertai dengan bahaya mengakhiri hidup sebelum waktunya. Dalam arti yang lebih sempit, euthanasia dipahami sebagai mercy killing, membunuh karena belas kasihan, entah untuk mengurangi penderitaan, entah terhadap anak cacat, orang sakit jiwa, atau orang sakit tak tersembuhkan. Tindakan itu dilakukan agar janganlah hidup yang dianggap tidak bahagia itu diperpanjang dan menjadi beban bagi keluarga serta masyarakat. 3

Akhir-akhir ini banyak terdengar sebutan lain lagi: assisted suicide atau bunuh diri yang dibantu dokter. Maksudnya adalah dokter membantu pasien terminal untuk membunuh dirinya jika ia memilih mengakhiri penderitaannya. Hal ini biasanya dilakukan dengan menulis resep untuk obat yang mematikan dalam dosis besar. Perbedaan dengan euthanasia adalah bahwa pasien terminal membunuh dirinya sendiri, ia tidak dibunuh oleh dokternya. Karena alasan itu, secara psikologis, bunuh diri dengan bantuan seperti itu barangkali tidak membebani hati nurani profesi medis daripada euthanasia langsung, tetapi secara etis tidak ada banyak perbedaan.5

II. Jenis-jenis Euthanasia

1. Berdasarkan cara pelaksanaannya, euthanasia dapat dibedakan dalam :1,3,7

a. Euthanasia Aktif

Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara medik melalui intervensi aktif oleh seorang dokter dengan tujuan untuk mengakhiri manusia. Euthanasia aktif dibagi menjadi euthanasia aktif langsung dan tidak langsung. Euthanasia aktif langsung adalah dilakukannya tindakan medik secara terarah yang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek hidup pasien. Jenis euthanasia ini dikenal juga sebagai mercy killing. Euthanasia aktif tidak langsung adalah dimana dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien, namun mengetahui adanya resiko tersebut dapat memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.

b. Euthanasia Pasif

Euthanasia pasif, artinya memutuskan untuk tidak mengambil tindakan atau tidak melakukan terapi. Dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup kepada pasien. Misalnya, terapi dihentikan atau tidak dilanjutkan karena tidak ada biaya, tidak ada alat ataupun terapi tidak berguna lagi. Pokoknya menghentikan terapi yang telah dimulai dan sedang berlangsung.c. auto-euthanasia, artinya pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan ia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dari penolakan tersebut ia membuat sebuah codicil (pertanyaan tertulis tangan). Auto-euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan.

2. Berdasarkan permintaan, euthanasia dibedakan atas :1,3,7

a. Euthanasia voluntir atau euthanasia sukarela

Euthanasia voluntir adalah euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien

sendiri dan dilakukan secara sadar.

b. Euthanasia involuntir

Euthanasia involuntir adalah euthanasia yang dilakukan tanpa permintaan atau persetujuan dari pasien, melainkan dilakukan atas permintaan keluarga pa