Referat Bedah Orthopaedi Jadii (1)

  • View
    63

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

aaaaaaaaaa

Text of Referat Bedah Orthopaedi Jadii (1)

REFERAT BEDAH ORTHOPAEDI

TUMOR TULANG

Pembimbing :

dr. Bambang ATK, Sp. OT

Disusun Oleh:

Saidatun Nisa

G1A212116Rahajeng Puspitaningrum

G1A212117Ida Ayu Diani P.S

1210221010PENDIDIKAN PROFESI KEDOKTERAN

SMF ILMU BEDAH

RSUD PROF. DR MARGONO SOEKARJO

PURWOKERTO2013LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan dan disetujui Referat Bedah Orthopedi dengan judul :

Tumor Tulang

Disusun Oleh :

Saidatun Nisa

G1A212116

Rahajeng Puspitaningrum

G1A212117

Ida Ayu Diani P.S

1210221010

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat ujian kepaniteraan klinik di bagian

Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Margono Soekarjo

Disetujui dan disahkan

Pada tanggal

Mei 2013

Mengetahui,

Pembimbing

dr. Bambang A.T.K, Sp.OT

NIP.196407081990031010

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif dimana sel sel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. Insiden tumor tulang bila dibandingkan dengan tumor jaringan lebih jarang. Tumor dapat bersifat jinak dan ganas. Dikatakan ganas bila tumor memounyai kemampuan untuk mengadakan metastase ketempat lain. Tumor tulang primer nerupakan tumor yang berasal dari sel yang membentuk jaringan tulang sendiri, sedangkan tumor tulang sekunder merupakan anak sebar tumor ganas organ bukan tulang ke tulang.

Berdasrkan penilaian klinis, radiologis dan histologist yang cermat dari masin masing tumo tulang, maka dapat ditentukan staging tumor tersebut. Dengan menetapkan staging tumor tulang, maka dapat ditetapkan terapi yang tepat, memperkirakan prognosis, kemungkinan ada tidaknya rekurensi local atau metastatis dikemudian hari. B. Tujuan

Tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk memperoleh pengetahuan mengenai definisi tumor, klasifikasi tumor, gejala dan tanda, prosedur diagnostik tumor, proses penyembuhan tumor, penatalaksanaan tumor, dan komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh tumor. C. Manfaat

Manfaat penyusunan laporan ini adalah untuk menambah kepustakaan mengenai tumor bagi bagian bedah orthopaedi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. BAB II

PEMBAHASAN

1. TUMORA. Klasifikasi Tumor

Sebagian besar klasifikasi pada tumor tulang, didasarkan pada jaringan dominan dalam berbagai lesi (Tabel 9.1). Hal ini sangat membantu dalam pengumpulan dan pembandingan data, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan kembali:

1. Jaringan yang merusak adalah bukan jaringan sebenarnya

2. Tidak terdapat sifat patologis atau hubungan klinis antara kondisi dalam berbagai kategori khusus3. Tidak ada hubungan antara lesi benigna dan maligna dengan elemen-elemen jaringan sama (seperti osteoma dan osteosarkoma)4. Beberapa tumor diberi nama sebagai entitas tunggal (seperti osteosarkoma) terdiri dari beberapa lesi dengan pola perilaku yang berbeda. Lebih jauh lagi, yang paling umum dalam tumor maligna adalah tumor tulang (seperti tumor metastasis dan myolema).

B. Presentasi klinis Sejarah

Sejarah sering menghasilkan sebuah pembatalan dalam perawatan. Usia menjadi sebuah petunjuk yang berguna. Banyak lesi benigna yang terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja, tetapi juga dapat terjadi beberapa tumor maligna utama, seperti tumor Ewing dan osteosarkoma. Chondrosarcoma dan fibrosarcoma terjadi pada orang yang lebih tua (selama dekade ke empat dan ke enam), dan myeloma, hal yang paling banyak terjadi dari semua tumor tulang yang membahayakan, dan jarang terlihat sebelum dekade ke 6. Pada pasien dengan usia lebih dari 70 tahun, metastasis adalah hal yang paling umum terjadi dari semua tumor yang ada.

Tabel 9.1 Sebuah klasifikasi pada tumor tulang yang jarang terjadiJenis sel Benign Malignant

Tulang

Cartilage

Jaringan serat

Marrow

Tidak diketahuiOsteoid osteoma

Chondroma

Osteochondroma

Fibroma

Haemangioma

Sel tumor besar Osteosarcoma

Osteosarcoma

Chondrosarcoma

Angiosarcpma

Sel tunmor besar Malignant

Keluhan pasien secara keseluruhan dapat bersifat asimptomatik sampai terjadi ketidaknormalan yang ditemukan dalam sinar X ray. Hal ini seperti pada lesi benigna; (seperti non-ossifying fibroma) yang banyak terjadi pada anak-anak dan jarang terjadi pada usia setelah 30 tahun. Tumor yang ganas dapat tidak mengalami perkembangan yang cepat, jika terdapat pada tempat yang tidak mungkin melakukan perkembangan (seperti pada tumor ringan panggul).

Rasa sakit adalah keluhan utama yang sering muncul dan memberikan sedikit indikasi secara alami pada lesi; bagaimanapun, sakit yang terus berkembang dan terjadi adalah sebuah gejala yang menakutkan untuk pasien. Hal ini disebabkan oleh perkembangan yang cepat dengan perluasan disekitar jaringan, perdarahan sentral atau degenerasi dalam tumor. Bagaimanapun, sebuah lesion yang kecil bisa sangat memicu rasa sakit jika itu terjadi dalam tulang yang tebal (seperti pada osteoid osteoma).

Swelling/pembengkakan, atau gumpalan, merupakan suatu tanda. Pasien mencari opini dokter ketika sudah sangat terasa sakit atau berlanjut terus tumbuh.

Sejarah trauma, sering terjadi tidak dapat dihilangkan secara signifikan, apakah luka menunjukan sebuah perubahan patologis atau memunculkan perhatian ini masih merupakan hal yang belum bisa terjawab sampai sekarang.

Gejala-gejala neurologis (mati rasa atau kesemutan) dapat disebabkan oleh tekanan atau perluasan pada sebuah saraf perifer. Disfungsi yang terus terjadi memberikan invasi dengan sebuah tumor agresif.

Patah atau retak pada keadaan patologis mungkin merupakan gejala klinis pertama. Kecurigaan muncul jika luka ringan; pada orang tua, dimana tulang mereka biasanya patah atau retak pada corticocancellous juction, patah pada mid-shaft harus dianggap sebagai kondisi patologis. Pengujian

Jika disana terdapat sebuah gumpalan atau pembengkakan, dimanakah ia muncul? Apakah ia memiliki ciri-ciri sendiri atau sudah jelas? Apakah ia keras atau lembut, atau pulsatil? Dan apakah ia lebih lembut? Pembengkakan kadang-kadang menyebar, dan secara keseluruhan terjadi pada kulit dan terjadi peradangan; itu dapat menjadi dan sulit untuk membedakan sebuah tumor dari infeksi atau hematoma.

Jika tumor dekat dengan persendian mungkin menjadi effusion dan/atau keterbatasan pada pergerakan. Lesi pada tulang belakang, apakah benigna atau maligna, sering menyebabkan kekakuan pada punggung belakang dan kekejangan otot atau skoliosis yang meyakitkan.

Pengujian akan memfokuskan pada bagian symptomatik, tetapi itu harus memasukan juga pada area saluran lymphatik dan sering pada pinggul, perut, dada dan tulang belakang.

C. IMAGING/PENGGAMBARAN SINAR X Sinar x masih paling berguna pada semua teknik-teknik penggambaran. Disana mungkin terdapat sebuah ketidak normalan yang jelas dalam tulang, peningkatan pertebalan pada cortical, discrete lump, kista atau sakit yang merusak. Dimanakah lesi: dalam tulang, metaphysis atau diaphysis? Apakah terpisah atau terdapat lesi ganda? Apakah marjin dalam keadan baik atau sakit? Apakah disana terdapat tanda-tanda pada kerusakan cortical?

Perlu diingat bahwa lesion kista adalah bukan merupakan holow cavity/ruang; berbagai material radiolucent (seperti firboma atau sebuah chondroma) mungkin terlihat seperti sebuah kista. Jika batasan pada kista adalah hal tersebut kemungkinan benign; jika itu menyebar menjelaskan sebuah tumor ganas. Klasifikasi stippled didalam sebuah area kista adalah karakteristik pada tumor cartilage/tulang muda.

Pertanyaan ketika melihat pada sebuah sinar x (Watt, 1985)Apakah itu lesi soliter atau multiple?

Jenis tulang apa yang dilibatkan?

Dimanakah lesi dalam tulang?

Apakah marjin pada lesi dalam keadaan baik atau tidak untuk dijelaskan?

Apakah terdapat kerusakan cortical?

Apakah disana terdapat sebuah reaksi pada tulang?

Apakah terdapat pusat pengapuran?

Lihat secara hati-hati pada permukaan tulang: terjadi pembentukan tulang baru periosteal dan perluasan pada tumor ke dalam jaringan lunak adalah merupakan perubahan malignant.

Lihat juga pada jaringan lunak: apakah muscle plane terdistorsi oleh pembengkakan? Apakah disana terdapat pengklasifikasian?

Sinar x itu sendiri jarang bergantung pada sebuah diagnosis definitive. Dengan beberapa pengecualian yang terjadi, yang mana tampilan adalah pathognomic, (seperti osteochondroma, non-ossifying fibroma, osteoid osteoma), penelitian lebih jauh akan diperlukan. Jika bentuk-bentuk lain pada penggambaran direncanakan (scan tulang, computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging [MRI], mereka harus dilakukan sebelum melakukan sebuah biopsi yang mana itu mungkin mengurangi tampilan.

Pengggambaran yang lain

Scanning Radionuclide dengan 99mTc-HDP menunjukan perubahan reaktif bukan spesifik dalam tulang; ini akan sangat membantu untuk mengungkapkan tumor kecil (seperti sebuah osteoid osteoma) yang tidak ditunjukan secara jelas dengan sinar x. Skeletal scintigraphy juga akan sangat membantu untuk pendeteksian skip lesion atau silent seondary deposit.

CT memperluas tingkat diagnosis sinar x; itu merupakan metode yang luar biasa untuk menunjukan cortical erosion atau fracture; itu menunjukan lebih banyak secara akurat baik pada intra-osseous dan ekstra osseous pada tumor dan hubungan pada struktur disekitarnya. Itu juga memunculkan terduga lesion dalam tempat yang tidak dapat diakses, s