15
Laporan Refleksi Kasus 1. Rangkuman Kasus Identitas Pasien Nama : Fahri Usia : 3 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Wonosobo Anamnesis Seorang anak laki-laki datang ke Rumah Sakit diantar oleh ibunya karena terdapat benjolan di kantong pelir sejak ± 2 bulan SMRS. Anak tidak muntah, BAK (+) kuning jernih, BAB (+) normal. Anak tidak rewel, nafsu makan baik. Riwayat penyakit dahulu, demam lama (-). Riwayat penyakit keluarga, dalam keluarga tidak ada yang mengalami gejala yang sama. Riwayat masa kanak-kanak, OS lahir cukup bulan di bidan, berat lahir 3 kg. Imunisasi lengkap. Pemeriksaan Fisik Nadi : 110 kali/menit RR : 20 kali/menit Suhu : 36,7°C Kesadaran : CM 1

Resus Hidrocele fix.doc

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Resus Hidrocele fix.doc

Citation preview

Laporan Refleksi Kasus

Rangkuman KasusIdentitas PasienNama: FahriUsia: 3 tahunJenis Kelamin: Laki-lakiAlamat: Wonosobo

AnamnesisSeorang anak laki-laki datang ke Rumah Sakit diantar oleh ibunya karena terdapat benjolan di kantong pelir sejak 2 bulan SMRS. Anak tidak muntah, BAK (+) kuning jernih, BAB (+) normal. Anak tidak rewel, nafsu makan baik.Riwayat penyakit dahulu, demam lama (-).Riwayat penyakit keluarga, dalam keluarga tidak ada yang mengalami gejala yang sama.Riwayat masa kanak-kanak, OS lahir cukup bulan di bidan, berat lahir 3 kg. Imunisasi lengkap.

Pemeriksaan FisikNadi: 110 kali/menitRR: 20 kali/menitSuhu: 36,7CKesadaran: CMKU: SedangStatus Gizi: CukupPernapasan: RegulerKepala: Mesocephal, CA (-/-), SI (-/-)Leher: JVP tidak meningkat, pembesaran kelenjar getah bening tidak ada

Thorax: Simetris, retraksi (-) Taktil fremitus sama kedua lapang paru Perkusi suara sonor Cor: bunyi jantung 1 dan 2 murni, irama reguler Pulmo : suara dasar vesiculer, suara tambahan (-)Abdomen: Datar, tidak ada tanda inflamasi, darm contour (-), darm steifung(-) Bising usus (+) normal Perkusi suara timpani Nyeri tekan (-) regio epigastrik, hepatomegaly (-), splenomegaly (-)Ekstremitas: Akral hangat, udem (-)Status Lokalis: Inspeksi : Tampak benjolan pada scrotum kiri ukuran + 3 cm, tak tampak tanda inflamasi, sausage sign (-).Palpasi : Benjolan di scrotum kiri ukuran + 3 cm, konsistensi lunak, batas tidak jelas, testis tidak teraba, nyeri (-), transiluminasi (+)Diagnosis: Hidrocele Testis

Perasaan Terhadap PengalamanHidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis, sehingga menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebabnya karena gangguan dalam pembentukan alat genitalia external, yaitu kegagalan penutupan saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan peritoneum mengalir melalui saluran yang terbuka tersebut dan terperangkap di dalam skrotum sehingga skrotum membengkak.1Sekitar 10% bayi baru lahir mengalami hidrokel, dan umumnya akan hilang sendiri dalam tahun pertama kehidupan. Biasanya tidak terasa nyeri dan jarang membahayakan sehingga tidak membutuhkan pengobatan segera. Pada bayi hidrokel dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia kehamilan 28 minggu, testis turun dari rongga perut bayi kedalam skrotum, dimana setiap testis ada kantong yang mengikutinya sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis tersebut. Pada orang dewasa, hidrokel bisa berasal dari proses radang atau cedera pada skrotum. Radang yang terjadi bisa berupa epididimitis (radang epididimis) atau orchitis (radang testis).1

Evaluasi1) Definisi hidrocele testis?2) Etiologi hidrocele testis?3) Apa saja klasifikasi hidrocele testis?4) Bagaimana patofisiologi hidrocele testis?5) Bagaimana penegakan diagnosis hidrocele testis?6) Manajemen terapi hidrocele testis?

Analisisa. Definisi hidrocele testisHidrocele ialah terakumulasi atau terkumpulnya cairan dalam tunika vaginalis (dalam area scrotum, sekitar testis) atau kantong yang berisi cairan sepanjang spermatic cord dalam scrotum. Nama lain dari hydrocele ialah patent procesus vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. Pada hidrocele terjadi penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan visceralis tunika vaginalis testis.1

b. EtiologiHidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritoneum ke prosesus vaginalis atau belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. Pada bayi laki-laki hidrokel dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia kehamilan 28 minggu ,testis turun dari rongga perut bayi kedalam skrotum, dimana setiap testis ada kantong yang mengikutinya sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis tersebut. Hidrocele (patent procesus vaginalis) ditemukan 80-90% pada bayi laki-laki saat lahir. Frekuensi ini menurun sampai usia 2 tahun menjadi 25-40%.1,2,3Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Pada hidocele primer tidak ditemukan kelainan atau penyakit dari testis. Hidrocele primer bisa unilateral ataupun bilateral. Beberapa tipe pada hidrocele primer antra lain hidrocoele kongenital, hydrocoele of the cord, hydrocoele of the canal of Nuck.1,2,3,4Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan yang menyebabkan terkumpulnya cairan dalam tunika vaginalis antara lain ialah respon dari suatu penyakit, seperti tumor testis, infeksi (epididymidis, tuberkulosis, mumps), torsi testis, torsi hydatid dari Morgagni. Hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam.1,2,3

c. KlasifikasiMenurut letak kantong hidrokel terhadap testis, maka hidrokel dibagi menjadi2,3,4 : 1) Hidrokel testisKantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari. 2) Hidrokel funikuliKantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada diluar kantong hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.3) Hidrokel Komunikan Terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah pada saat anak menangis. Pada palpasi kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen.

d. PatofisiologiNormalnya, testis pada fetus laki-laki pindah dari rongga abdomen ke scrotum sebelum lahir. Testis turun diiringi dengan turunnya peritoneum dalam rongga abdomen sehingga membungkus testis dan epididymidis dan terjadi hubungan antara rongga abdomen dengan tunika vaginalis oleh processus tunika vaginalis.4,5 Procesus vaginalis normalnya akan menutup (obliterasi) pada usia gestasi 32 minggu dan cairan yang ada ditunika vaginalis diabsorpsi. Processus vaginalis yang tidak menutup akan menyebabkan tunika vaginalis terisi oleh cairan peritoneum dan terjadilah hydrocele (jika defek dari prosecus vaginalis besar dapat menyebabkan usus masuk sehingga menyebabkan hernia). Procesus vaginalis dapat juga menutup sampai dengan usia 1-2 tahun.5,6,7Hidrokel adalah pengumpulan cairan pada sebagian prosesus vaginalis yang masih terbuka. Kantong hidrokel dapat berhubungan melalui saluran mikroskopis dengan rongga peritoneum dan berbentuk katup. Dengan demikian cairan dari rongga peritoneum dapat masuk ke dalam kantong hidrokel dan sukar kembali ke rongga peritoneum. Pada kehidupan fetal, prosesus vaginalis dapat berbentuk kantong yang mencapai scrotum. Ujung bawah kantong ini mengelilingi testis dan disebut tunika vaginalis. Apabila terjadi atrofi pada ujung proksimal dan tengah sehingga bagian distal yang mengelilingi testis tetap terbuka, maka terjadi hidrokeltestikularis.5,6Hidrokel dapat ditemukan dimana saja sepanjang funikulus spermatikus, juga dapat ditemukan di sekitar testis yang terdapat dalam rongga perut pada undensensus testis. Hidrokel infantilis biasanya akan menghilang dalam tahun pertama, umumnya tidak memerlukan pengobatan, jika secara klinis tidak disertai hernia inguinalis. Hidrokel testis dapat meluas ke atas atau berupa beberapa kantong yang saling berhubungan sepanjang processus vaginalis peritonei. Hidrokel akan tampak lebih besar dan kencang pada sore hari karena banyak cairan yang masuk dalam kantong sewaktu anak dalam posisi tegak, tapi kemudian akan mengecil pada posisi tidur. Hydrocele dapat juga terjadi akibat dari inflamasi atau trauma dari testis, epididymidis atau oleh obstruksi cairan ataupun darah dalam spermatic cord. Hal ini biasanya terjadi pada pria dewasa.5,6,7

e. Diagnosis1) Anamnesis Pada anamnesis keluhan utama pasien adalah adanya benjolan di kantong skortum yang tidak nyeri. Pembesaran pada daerah scrotum dapat unilateral maupun bilateral, seperti balon yang berisi air (water-filled ballon), pembesaran ini dapat berkurang jika tidur dan dapat membesar dalam posisi tegak (pada communicating hydrocele). Biasanya pasien mengeluh benjolan yang berat dan besar di daerah skortum. Tergantung pada jenis dari hidrokel biasanya benjolan tersebut berubah ukuran atau volume sesuai waktu tertentu. Pada hidrokel testis besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Pada hidrokel funikulus kantong hidrokel besarnya tidak berubah sepanjang hari. Pada hidrokel komunikan, kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yang bertambah besar pada saat anak menangis. Pada riwayat penyakit dahulu, hidrokel testis biasa disebabkan oleh penyakit seperti infeksi atau riwayat trauma pada testis. 1,5,6,7,8

Gambar 1. Alur penegakan diagnosis benjolan pada scrotum

2) Pemeriksaan FisikPada inspeksi Skrotum akan tampak lebih besar dari yang lain. Palpasi pada skrotum yang hidrokel terasa ada fluktuasi, dan relatif kenyal atau lunak tergantung pada tegangan di dalam hidrokel, permukaan biasanya halus. Palpasi hidrokel seperti balon yang berisi air. Bila jumlah cairan minimum, testis relatif mudah diraba. Sedangkan bila cairan yang terkumpul banyak, testis akan sulit diraba. Juga penting dilakukan palpasi korda spermatikus di atas insersi tunika vaginalis. Pembengkakan kistik karena hernia atau hidrokel atau padat karena tumor. Normalnya korda spermatikus tidak terdapat penonjolan, yang membedakannya dengan hernia skrotalis yang kadang-kadang transiluminasinya juga positif. Pada Auskultasi dilakukan untuk mengetahui adanya bising usus untuk menyingkirkan adanya hernia.1,5,6,7,8Langkah diagnostik yang paling penting adalah transiluminasi massa hidrokel dengan cahaya di dalam ruang gelap. Hidrokel berisi cairan jernih, straw-colored dan mentransiluminasi (meneruskan) berkas cahaya. Kegagalan transiluminasi dapat terjadi akibat penebalan tunika vaginalis karena infeksi kronik atau massa di skrotum tersebut bukan hidrokel. Hidrokel biasanya menutupi seluruh bagian dari testis, jika hidrokel muncul antar 18 35 tahun harus dilakukan aspirasi. Massa kistik yang terpisah dan berada di pool atas testis dicurigai spermatokel. Pada aspirasi akan didapatkan cairan kuning dari massa skortum. Berbeda dengan spermatokel, akan didapatkan cairan berwarna putih, opalescent dan mengandung spermatozoa.1,5,6,7,8

3) Pemeriksaan Penunjang Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan membantu melihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel atau spermatokel), vena abnormal (varikokel), dan kemungkinan adanya tumor.1,5,6,7,8

f. Manajemen TerapiHydrocele biasanya tidak berbahaya, pasien biasanya diterapi karena perasaan tidak nyaman akibat penbengkakan yang terjadi, rasa malu, atau jika terjadi gangguan aliran darah. Hydrocele pada anak kecil, karena patent procesus vaginalis ditangani dengan operasi setelah usia diatas 1 tahun karena sampai berumur 1 tahun diharapkan cairan dapat.3,5,7,8 Medikasi dengan menyuntikkan obat seperti tetracycine, sodium tetradecyl sulfate atau urea untuk menutup prosesus vaginalis yang terbuka (biasanya dilakukan setelah dilakukan aspirasi). Hal ini dapat mencegah terjadinya re-akumulasi dairan. Komplikasi yang dapat terjadi setelah aspirasi dan skelosing yaitu infeksi, fibrosis, nyeri ringan sampai berat pada daerah scrotum namun dapat juga terjadi hydrocele rekurens.3,6,7,8Hydrocelectomy dilakukan terutama untuk yang true hydrocele. Ini adalah operasi minor dimana dilakukan insisi pada scrotum ataupun abdomen bawah. Komplikasi yang dapat terjadi myaitu hematom, infeksi, injuri pada jaringan maupun struktur scrotum. Terapi dapat juga dengan aspirasi yaitu mengeluarkan cairan dari scrotum dengan jarum. Aspirasi dapat menyebabkan infeksi. Aspirasi terutama untuk pasien yang mempunyai resiko tinggi atau tidak memungkinkan untuk di operasi. Aspirasi adalah kontraindikasi jika dicurigai tumor karena dengan aspirasi justru memudahkan terjadinya penyebaran dari sel malignan.3,7,8

Kesimpulan1) Hidrokel Testis adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan visceralis tunika vaginalis yang sebagian besar kasus ditemukan pada anak-anak usia 0-12 bulan dan jarang pada dewasa. 2) Mekanisme terjadinya hidrokel testis pada anak yaitu belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis dan belum sempurnanya sistem limfatik dalam reabsorbsi, sedangkan pada dewasa disebabkan oleh factor idiopatik dan adanya kelainan pada testis atau epididimis.3) Diagnosis Hidrokel Testis ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang berupa USG. 4) Penatalaksanaan Hidrokel Testis terbagi menjadi observasi untuk anak usia 0-12 bulan, aspirasi dan tindakan operatif yang ditinjau dari factor usia dan risiko terjadinya rekurensi. 5) Hidrokel testis dapat menimbulkan komplikasi berupa kompresi peredaran darah testis, atrofi testis, perdarahan, dan sekunder infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

1.R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. 2004. Dinding Perut, Hernia, Retroperitoneum dan Omentum. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi I. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

2.Halimun. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. 2005. Kelainan Bawaan di Daerah Inguinal. Staf Pengajar Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.

3.H G, Burhitt & O.R.G. 2003. Quick. Essential Surgery . Edisi III. Hal 348-356

4.Michael M. Henry & Jeremy N. T. Thompson. 2005. Clinical Surgery. Edisi II.

5.Sabiston. 1995. Buku Ajar Bedah. Cetakan II. Penerbit EGC : Jakarta. Hal 238-252

6. Priya R, Madhavi P, Chitra V, Janio S. 2008. The Inguinal Canal : Anatomy and Imaging Features of Common and Uncommon Masses. Radiographics. 28:819835.

7. Siewert B, Raptopoulos V. CT of the acute abdomen : findings and impact on diagnosis and treatment. AJR Am J Roentgenol 163:13171324.

8. Van Veen RN, van Wessem KJ, Halm JA, et al. 2007. Patent processus vaginalis in the adult as a risk factor for the occurrence of indirect inguinal hernia. Surg Endosc. 21:202205.

2