21
MODUL 2,3 SKILL LAB (KETERAMPILAN KLINIS ) OFTALMOLOGI BLOK 19 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

SKILL LAB V

  • Upload
    noxum

  • View
    84

  • Download
    2

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: SKILL LAB V

MODUL 2,3SKILL LAB (KETERAMPILAN KLINIS )

OFTALMOLOGI

BLOK 19 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2014

Page 2: SKILL LAB V

SKILL LAB V

Penilaian Eksternal (SEGMEN ANTERIOR).1. Inspeksi Kelopak Mata.

Kelopak mata normal, dimulai dari rima orbita hingga margo palpebra. Fissura palpebra:celah yang membentuk kedua palpebra superior dan inferior

Nilai Normal :Fissura Horizontal 30 mmFissura Vertikal 9 -11 mm, Di lateral berakhir kantus lateral runcingDi medial berakhir kantus medial rounded

Teknik Pemeriksaan:1. Letakkan mistar ukur dari margin palpebra superior dan inferior tepat di tengah pupil pada posisi primer

untuk menilai Fissura Palpebra Vertikal. 2. Letakkan mistar ukur dari kantus medial dan lateral untuk menghitung fissura palpebra Horizontal.3. Lakukan prosedur yang sama pada mata sebelahnya,dan bandingkan hasilnya, catat hasil pengukurannya.

INSPEKSI KELOPAK MATA DENGAN EVERSI KELOPAK ATAS (Kompetensi 4A).Teknik melakukan eversi kelopak mata.

1. Pasien dalam posisi duduk, diperintahkan untuk melihat ke bawah dengan mengunakan cotton bud, palpebra superior ditekan kebawah hingga konjungtiva tarsal superior terlihat.

2. Tujuan dari eversi kelopak mata adalah untuk melihat konjungtiva tarsal superior, apakah adakah benda asing, papil, folikel, laserasi dll.

Teknik eversi kelopak mata atas.

Page 3: SKILL LAB V

Inspeksi Bulu Mata (Kompetensi 4A).Teknik Pemeriksaan

1. Pasien dalam posisi primer dengan mengunakan pen light dan loupe dilihat arah bulu mata saat membuka dan menutup mata. Apakah ada trichiasis, distrikhiasis. Madarosis, atau eye lashes abberant, krusta, sekret.

2. Catat hasil temuan pada lembaran pemeriksaan.

Inspeksi Konjungtiva (Kompetensi 4A). Teknik Pemeriksaan 1. Pasien dalam posisi duduk palpebra inferior dibuka dengan menarik kelopak mata hingga terlihat

forniks (pertemuan konjungtiva bulbi dan tarsal).2. Dilihat gambaran konjungtiva normal, ataukah ada kelainan (Injeksi konjungtiva, corpus alienum, dll).3. Hal yang sama dilakukan pada kelopak mata bagian atas.

Inspeksi Sclera (Kompetensi 4A).Sklera adalah bagian putih bola mata yang bersama-sama dengan korna merupakan pembungkus dan pelindung isi bola mata. Sklera berjalan dari papil nerve optik sampai kornea. Teknik pemeriksaan 1. Pasien dalam posisi duduk dengan pen light dan loupe dilihat warna sklera apakah ada

perdarahan, injeksi dll.2. Perhatikan bentuk apakah adakah benjolan atau pembuluh darah yang meradang.3. Pasien disuruh melihat kearah 6 cardinal apakah ada nyeri saat penderita

mengerakkan bola mata, dicatat hasil pemeriksaannya.

Inspeksi orifisium punctum lakrimalis (kompetensi 4A). Punctum lakrimalis terletak didaerah medial palpebra superior dan inferior lebih kurang 5 mm dari kantus medial dengan diameter puncta 0,3mm. Dengan mengunakan loupe dan pen light diamati posisi punctum apakah ada muara/ tidak tertutup.apakah ada sekret yang keluar, warna sekret, konsistensi

Panah punctum lakrimal.

Inspeksi Palpasi limfonodus pre-aurikular (Kompetensi 4A) Kelenjar limponodulus pre aurikular penting untuk diperiksa pada keadaan infeksi seperti

konjungtivitis karena virus biasanya terjadi pembesaran, selain dari itu pada jika ada tumor/ keganasan pada

Page 4: SKILL LAB V

regio orbita wajib di periksa untuk menentukan apakah KGB membesar dan berhubungan dengan tumor/ keganasan.Teknik pemeriksaanDiregio aurikula, dipalpasi permukaan kulit apakah ada penonjolan/ tidak.

Teknik Palpasi Kelenjar limfe kepala dan leher

SKILL LAB VI.Penilaian Posisi MataPenilaian posisi dengan corneal refleks images Kompetensi (4A).

TujuanPemeriksaan ini dilakukan untuk menilai derajat pengguliran bola mata abnormal dengan melihat refleks sinar pada kornea.

DasarBila terdapat fiksasi sentral pada satu mata maka refleks sinar yang diberikan pada kornea mata lainnya dapat menentukan derajat deviasi mata secara kasar.

AlatSentolop

Teknik Sentolop disinarkan setinggi mata pasien, sebagai sinar fiksasi Sentolop terletak 30 cm dari pasien Refleks sinar pada mata fiksasi diletakkan di tengah pupil Dilihat letak refleks sinar pada kornea mata yang lain

Page 5: SKILL LAB V

Nilai Pada keadaan normal refleks kornea ini sedikit ke nasal dari pusat kornea. Refleks cahaya pada mata

yang berdeviasi bila: lebih dekat pertengahan pupil, berarti deviasi 5-6 derajat, sedang bila pada tepi pupil, berarti deviasi 12-15 derajat (20 prisma dioptri).

Bila refleks sinar pada kornea terletak antara pinggir pupil dan limbus, berarti deviasi 25 derajat, dan bila pada pinggir limbus berarti deviasi 45-60 derajat

Umumnya: pergeseran sinar dari tengah pupil 1 (satu) milimeter atau sama dengan deviasi 7 derajat (15 prisma dioptri)

CatatanPemeriksaan ini tidak teliti. Pada mata normal refleks sinar pada kedua kornea terletak di sentral. Letak sinar bila diluar berarti esodeviasi, bila didalam berarti eksodeviasi. Pemeriksaan ini sangat berguna terutama untuk pasien yang tidak kooperatif atau fiksasi kurang.

Penilaian posisi dengan cover uncover test (kompetensi 4A)TujuanPemeriksaan ini untuk mengetahui adanya fusi dan foria

DasarHeteroforia merupakan deviasi laten. Bila pada heteroforia fusi kedua mata diganggu deviasi laten akan terlihat.

Alat Kartu Snellen Okluder

Page 6: SKILL LAB V

Teknik Bila pasien memakai kacamata maka kacamata tersebut dipasang Fiksasi pasien:

- diperiksa dalam kedudukan mata posisi primer- benda yang dilihat 1 garis lebih besar daripada tajam penglihatan terburuk- dapat dipergunakan nonakomodatif target (sinar)

Mata ditutup bergantian dengan okluder dari mata kanan ke kiri dan sebaliknya Dilihat kedudukan mata dibawah okluder atau saat okluder dipindah pada mata yang lain

Nilai Bila mata di belakang okluder bergerak ke luar, ke dalam, ke atas, atau ke bawah menunjukkan adanya

heteroforia Bila mata segera sesudah okluder dibuka mencoba berfiksasi sehingga terlihat pergerakan ke luar, ke

dalam, ke atas atau ke bawah, hal ini berarti ada foria Derajat foria dapat diukur dengan meletakkan prisma sehingga tidak terjadi pergerakan mata pada saat

mata dibuka

CatatanPemeriksaan dilakukan untuk jarak 30 cm dan 6 meter.

Uji cover uncover test dengan jarak 33 cm.Pemeriksaan Gerakan Bola Mata (Kompetensi 4A).

Page 7: SKILL LAB V

Tujuan Tes untuk memeriksa fungsi gerak otot penggerak mata.

DasarOtot rektus superior berfungsi untuk elevasi, intorsi dan adduksi, dan tes kemampuan elevasi dilakukan pada kedudukan mata abduksi. Otot oblik superior berfungsi untuk depresi, intorsi dan abduksi, dan tes kemampuan depresi dilakukan pada kedudukan mata adduksi. Otot oblik inferior untuk elevasi, ekstorsi dan abduksi, dan tes kemampuan elevasi dilakukan pada kedudukan mata adduksi. Otot rektus medius untuk adduksi dan otot rektus lateral untuk abduksi

Alat Obyek (jari)

Teknik Dilihat kemampuan pergerakan otot pada posisi yang dibuat untuk mendapatkan nilai kemampuan

pergerakan otot, dengan menyuruh pasien mengikuti gerakan jari

Six Cardinal gerakan bola mata.Nilai

Bila ternyata otot tertentu tidak mampu mengikuti gerakan jari maka mungkin terdapat parese otot tersebut.

SKILL LAB VII.PUPIL.

Page 8: SKILL LAB V

Inspeksi Pupil (kompetensi 4A).TujuanPemeriksaan ini dilakukan untuk melihat refleks miosis pupil akibat suatu penyinaran pada mata, baik reaksi penyinaran langsung pada mata yang bersangkutan atau refleks tidak langsung pada mata yang lainnya.

Teknik inspeksi pupil.DasarAda suatu lingkaran refleks sinar dengan motorik pupil, yang langsung mengenai mata yang disinari yang disebut refleks langsung (direk).Refleks tidak langsung (indirek = konsensual) terjadi bila mata sebelah dari pada mata yang disinari memberikan refleks atau reaksi.Mata normal akan memberikan ambang dan intensitas lampu kedua refleks sama.Bila sinar dinaikkan perlahan-lahan maka reaksi akan terjadi sampai ambang rangsang.

Refleks sinar langsung terhadap cahaya dan konvergensi (kompetensi 4A)Teknik

Mata disinari Dilihat keadaan pupil pada mata yang disinari apakah terjadi miosis (mengecil) pada saat penyinaran

Nilai Ada periode laten 0.2 detik sesudah rangsangan. Sesudah pupil berkonstraksi kuat akan disusul dilatasi

ringan terutama bila penyinaran tidak keras. Bila terjadi hal ini disebut refleks pupil langsung (+) Pada refleks langsung + atau normal berarti visus ada dan motorik saraf ke III berfungsi baik

Refleks sinar konsensualMata disinari dengan diusahakan sinar tidak masuk pada mata yang lain. Dilihat keadaan pupil mata yang tidak disinari apakah terjadi miosis (mengecil) pada saat penyinaran mata sebelahnya.

Nilai Terdapat periode laten seperti pada mata yang disinari langsung. Keras kontraksi pupil sama dengan

mata yang disinari langsung. Bila terjadi refleks miosis disebut refleks pupil tidak langsung (+). Pada keadaan dinilai fungsi saraf motorik ke III untuk membuat konstriksi atau miosis dari mata yang

tidak disinar.

Page 9: SKILL LAB V

Catatan Refleks langsung terganggu bila saraf optik sakit (atrofi, papilitis, neuritis) atau ada kerusakan saraf

okulomotor mata yang disinari Refleks tidak langsung terganggu bila pada saraf mata yang disinari ada kelainan atau terdapat

kerusakan saraf okulomotor mata yang sedang diperiksa refleks konsensual.Kedua pupil pada keadaan normal mempunyai ukuran yang sama, bulat, dan bereaksi terhadap sinar dan saat berakomodasi atau melihat dekat.

Uji refleks pupil dan interpretasi hasil .Refleks pupilDiperiksa di kamar gelap.Refleks pupil dapat dilihat dengan oftalmoskop direk pada jarak 1-2 kaki.

Refleks pupil normal berwarna merah Refleks pupil abnormal berwarna putih yang disebut sebagai leukokoria Perlu dirujuk untuk kemungkinan:

- retinoblastoma- kekeruhan kornea- endoftalmitis- kekeruhan badan kaca

SKILL LAB VIII. MEDIA

Page 10: SKILL LAB V

Inspeksi Media refraksi dengan transilluminasi (pen light) kompetensi 4A.Teknik pemeriksaan

Pemeriksa mengunakan pen light dan loupe, posisi pemderita dalam keadaan duduk diberi cahaya dari arah

depan diamati gambaran umum dari kornea, bilik mata depan, iris, pupil dan lensa apakah ada kekeruhan,

darah, hipopion, iridoplegia, sinekia, iriodialisis, dll. Dicatat hasilnya dalam lembaran penilaian.

Tes uji Sensibilitas (sensitivitas) Kornea( Kompetensi 4A)TujuanTes untuk pemeriksaan fungsi saraf trigeminus yang memberikan sensibilitas kornea.

DasarMata akan terkedip bila terkena sinar kuat, benda yang mendekati mata terlalu cepat, mendengar suara keras, adanya rabaan pada kornea, konjungtiva, sehingga dibedakan refleks taktil, optik dan pendengaran. Refleks tatktil kornea didapatkan melalui serabut aferen saraf trigeminus dan serabut eferen saraf fasial. Terdapat hubungan dengan korteks yang berupa rasa sakit.

AlatKapas

Teknik pasien diminta melihat ke sisi yang berlawanan dari bagian kornea yang akan dites. Pemeriksaan menahan kelopak mata pasien yang terbuka dengan jari telunjuk dan ibu jari Dari sisi lain (untuk mencegah terlihat) kapas digeser sejajar dengan permukaan iris menuju kornea

yang akan diperiksa Diusahakan datang/ mendekatnya kapas tidak disadari pasien Kapas ditempel pada permukaan kornea.

Dilihat: terjadinya refleks mengedip perasaan tidak enak oleh pasien, yang dinyatakan dengan perasaan sakit timbulnya lakrimasi.

Nilai apabila terjadi refleks kedip berarti sensibilitas kornea baik dan fungsi trigeminus normal refleks kedip menurun pada keratitis atau ulkus herpes seimpleks dan infeksi herpes zooster

Page 11: SKILL LAB V

Teknik

Teknik uji sensibilitas

CatatanAdalah penting diketahui (karakteristik) hilangnya atau berkurangnya reflaks kedip yang dapat berarti adanya tumor pada sudut serebolopontin. Hal ini adalah penting karena refleks kornea hilang sebelum gejala kelainan gangguan saraf trigeminus terlihat.

Inspeksi bayangan iris – SHADOW TEST (kompetensi 4A)

TujuanPemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui derajat kekeruhan lensa

DasarMakin sedikit lensa keruh pada bagian posterior maka makin besar bayangan iris pada lensa yang keruh tersebut sedang makin tebal kekeruhan lensa makin kecil bayangan iris pada lensa yang keruh

Alat Lampu sentolop Loupe

Teknik Sentolop disinarkan pada pupil dengan membuat sudut 45 derajat dengan dataran iris Dengan Loupe dilihat bayangan iris pada lensa yang keruh

Nilai

Page 12: SKILL LAB V

Bila bayangan iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh terhadap pupil berarti lensa belum keruh seluruhnya (belum sampai ke depan), ini terjadi pada katarak imatur, keadaan ini disebut shadow test (+)

Apabila bayangan iris pada lensa kecil dan dekat terhadap pupil berarti lensa sudah keruh seluruhnya (sampai pada kapsul anterior) terdapat pada katarak matur (shadow test (-))

Bila katarak hipermatur, lensa sudah keruh seluruhnya, mengecil serta terletak jauh di belakang pupil, sehingga bayangan iris pada lensa besar dan keadaan ini disebut pseudopositif

Contoh :Shadow test +, katarak immatur.

SKILL LAB IX

Funduskopi untuk melihat fundus refleks dan pembuluh darah, papil, dan makula (Kompetensi 4A).

TujuanUntuk melihat dan menilai kelainan dan keadaan pada fundus okuli

Dasar Cahaya yang dimasukkan ke dalam fundus akan memberikan refleks fundus. Gambaran fundus mata akan terlihat bila fundus diberi sinar.

Alat 1. Oftalmoskop 2. Obat melebarkan pupil: Tropicamide 0,5%-1%Perhatian:Sebaiknya sebelum melebarkan pupil diukur dulu tekanan bola mata. Sebaiknya oftalmoskop dilakukan dengan pupil dilebarkan kecuali bila:

Bilik mata yang dangkal Dengan tanda pupil setelah trauma kepala Implan fiksasi pada iris Pasien pulang mengendarai kendaraan sendiri Pasien menderita glaukoma sudut sempit

Page 13: SKILL LAB V

TeknikDiperiksa di kamar gelap :

Memeriksa mata kanan pasien dengan mata kanan pemeriksa, mata kiri diperiksa dengan mata kiri, kecuali bila memeriksa pasien dalam keadaan tidur dapat dilakukan dari atas

Mula-mula diputar roda lensa oftalmoskop sehingga menunjukkan angka + 12.00 Dioptri Oftalmoskop diletakkan 10 cm dari mata pasien. Pada saat ini fokus terletak pada kornea atau pada

lensa mata Bila ada kekeruhan pada kornea atau lensa mata akan terlihat bayangan yang hitam pada dasar yang

jingga Selanjutnya oftalmoskop lebih didekatkan pada mata pasien dan roda lensa oftalmoskop diputar

sehingga roda lensa menunjukkan angka mendekati nol Sinar difokuskan pada papil saraf optik Diperhatikan warna, tepi, dan pembuluh darah yang keluar dari papil saraf optik Mata pasien diminta melihat sumber cahaya oftalmoskop yang dipegang pemeriksa, dan pemeriksa

dapat melihat keadaan makula lutea pasien Dilakukan pemeriksaan pada seluruh bagian retina

Teknik pemeriksaan Funduskopi normal

NILAIDapat dilihat keadaan normal dan patologik pada fundus mata kelainan yang dapat dilihat.

SKILL LAB X

Tekanan intra Okular, Digital Palpasi (Kompetensi 4A).

DasarMerupakan pengukuran tekanan bola mata dengan jari pemeriksa.

AlatJari telunjuk kedua tangan

Teknik Mata ditutup

Page 14: SKILL LAB V

Pandangan kedua mata menghadap kebawah Jari-jari lainnya bersandar pada dahi dan pipi pasien Kedua jari telunjuk menekan bola mata pada bagian belakang kornea bergantian (alternate) Satu telunjuk mengimbangi tekanan saat telunjuk lainnya menekan bola mata.

Nilai Didapat kesan berapa ringannya bola mata dapat ditekan Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat dicatat, mata N+1, N+2, N+3 atau N-

1, N-2, N-3 yang menyatakan tekanan lebih tinggi atau lebih rendah daripada normal. Tekanan dapat dibandingkan dengan tahanan bagian lentur telapak tangan dengan tahanan tekanan bola

mata bagian superior. Bila tekanan lebih tinggi dapat dicurigai adanya glaukoma.

CatatanCara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea irregular dan infeksi kornea. Cara pemeriksaan ini memerlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat faktor subyektif.Ingat refleks okulo kardiak. Bila bola mata ditekan akan terjadi penurunan pulsa nadi. Kadang-kadang penekanan yang menimbulkan refleks ini dipergunakan untuk membuat nadi berkurang (bradikardia) pada takikardia supraventikular. Menurunkan nadi juga bermanfaat untuk mengurangi sakit angina.

Tekanan Intra Okular, pengukuran indentasi tonometri (tonometri schiotz) Kompetensi 4A.

DasarTonometer schiotz merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya.Benda yang ditaruh pada bola mata (kornea) akan menekan bola mata ke dalam dan mendapat perlawanan tekanan dari dalam melalui kornea. Keseimbangan tekanan tergantung pada beban tonometer.Tonometer Schiotz merupakan tonometer indentasi lebih dalam bila tekanan mata lebih rendah dibanding mata dengan tekanan tinggi.Pada tonometer Schiotz bila tekanan rendah atau bola mata empuk makes beban akan dapat mengindentasi lebih dalam dibanding bila tekanan bola mata tinggi atau bola mata keras.

Tujuan Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer

Alat1. Obat tetes anestesi lokal (tetrakain). 2. Tonometer Schiotz.

Teknik Pasien diminta melonggarkan pakaian termasuk dasi yang dipakai. Pasien diminta tidur terlentang di tempat tidur. Mata ditetes tetrakain. Ditunggu sampai pasien tidak merasa pedas.

Page 15: SKILL LAB V

Kelopak mata pasien dibuka dengan telunjuk clan ibu jari (jangan tertekan bola mata pasien). Pasien diminta meletakkan ibu jari tangannya di depan matanya atau pasien melihat ke langit-langit

ruangan pemeriksaan. Telapak tonometer Schiots diletakkan pada permukaan kornea. Setelah telapak tonometer menunjukkan angka yang tetap, dibaca nilai tekanan pada skala busur Schiotz

yang berantara 0 - 15.

NilaiPembacaan skala dikonversi pada tabel untuk mengetahui bola mata dalam milimeter air raksa. Pada tekanan lebih tinggi 20 mmHg dicurigai adanya glaukoma. Bila tekanan lebih daripada 25 mmHg pasien menderita glaukoma.

Teknik pengukuran TIO dengan Schiotz. Tonometri schiotz

CatatanTonometer harus dibersihkan atau disterilisasi setiap sebelum pemakaian paling sedikit dengan alkohol untuk mencegah penularan infeksi.Tonometer Schiotz tidak dapat dipercaya pada miopia dan penyakit timid dibanding dengan memakai tonometer aplanasi, karena terdapatnya pengaruh kekakuan sklera pada pemeriksaan dengan tonometer Schiotz.Tonometer Schiotz merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan beban yang dapat bergerak beban pada sumbunya.

Page 16: SKILL LAB V

Umrechnungstabelle 1955Calibration Scale Hach Friedenwald, Kronfeld, Ballintine and Trotter

Gebrauchsanweisung auf der Ruckseite

.,/

Zeiger- Augendruck Pressure . mm HgAusschlag Scale Tonometerstiftewicht Plunger Load

Reading 5.5 GM. 7.5 GM 10.00 GM. 15.00 GM.0.0 41.5 59.1 81.7 127.50.5 37.8 54.2 75.1 117.91.0 34.5 49.8 69.3 109.31.5 31.6 45.8 64.0 101.42.0 29.0 42.1 59.1 94.3

2.5 26.6 38.8 547 88.03.0 24.4 35.8 50.6 81.83.5 22.4 33.0 46.9 76.24.0 20.6 30.4 43.4 71.04.5 18.9 2&0 40.2 66.25.0 17.3 25.8 37.2 61.85.5 15.9 23.8 34.4 57.66.0 14.6 21.9 31.8 53.66.5 13.4 20.1 29.4 49.97.0 12.2 18.5 27.2 46.57.5 11.2 17.0 25.1 43.28.0 10.2 15.6 23.1 40.28.5 9.4 14.3 21.3 38.19.0 8.5 13.1 19.6 34.69.5 7.8 12.0 18.0 32.0

10.0 7.1 10.9 16.5 29.610.5 6.5 10.0 15.1 27.411.0 5.9 9.0 13.8 25.311.5 5.3 8.3 12.6 23.312.0 4.9 7.5 11.5 21.412.5 4.4 6.8 10.5 19.713.0 4.0 6.2 9.5 18.113.5 5.6 8.6 16.514.0 5.0 7.8 15.114.5 4.5 7.1 13.715.0 4.0 6.4 12.615.5 5.8 11.416.0 5.2 10.416.5 4.7 9.417.0 4.2 8.517.5 7.718.0 6.918.5 6.219.0 5.619.5 4.920.0 4.5