Click here to load reader

Skripsi made yuda asmara

  • View
    250

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

“Persembahyangan Purnama Tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem (Perspektif Tri Kerangka Dasar Agama Hindu)”

Text of Skripsi made yuda asmara

86

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Agama Hindu merupakan agama yang tertua di dunia, ajaran-ajaranya bersumber pada kitab suci Veda yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Bila seseorang secara mantap mengikuti semua ajaran agama yang bersumber pada sabda suci Tuhan Yang Maha Esa itu, maka akan diperoleh ketentraman dan kebahagiaan hidup yang sejati yang disebut Moksatam jagadhita ya ca iti dharma(Titib, 2003 :2).

Agama Hindu dikatakan agama yang luwes atau sering disebut dengan agama fleksibel. Ini dikarenakan agama Hindu khususnya di Bali menyesuikan dengan sistem desa, kala dan patra. Dalam agama Hindu banyak terdapat ajaran-ajaran yang tentunya tidak menyimpang dari kitab suci Veda. Salah satu ajaran yang terpenting dan merupakan dasar atau landasan bagi umat Hindu dalam pelaksanaan suatu aktivitas keagamaan adalah ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang berisikan tattwa, etika dan ritual. Dimana peranan ketiga hal tersebut tidak pernah lepas dalam pelaksanaan suatu kegiatan atau aktifitas agama Hindu. Seperti dalam bukunya Suhardana disebutkan : Barang siapa yang ingin mendalami dan mempelajari Agama Hindu tersebut hendaknya memahahami betul ketiga kerangka dasar Agama Hindu itu yaitu tattwa, susila dan ritual (Suhardana 2006 : 6).

Tri Kerangka Dasar Agama Hindu merupakan tiga konsep yang mendasari ajaran Agama Hindu tersebut. Tattwa, susila dan ritual atau upacara merupakan satu kesatuan yang utuh yang harus dilaksanakan secara seimbang dalam melaksanakan suatu aktivitas agama Hindu. Karena ketiga aspek ini saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kalau salah satu dari ketiga aspek tersebut tidak dilaksanakan dengan baik, maka tujuan dari agama Hindu yaitu Moksatam jagadhita ya ca iti dharma tidak akan tercapai dengan sempurna. Sehingga dalam setiap melaksanakan aktivitas agama Hindu terutama dalam hal yadnya atau persembahan suci tentu tidak pernah lepas dari konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu (Sudharta, 2007 : 5). Persembahyangan purnama tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang. Yang secara rutin dilaksanakan setiap lima belas hari sekali secara bergiliran sesuai pembagian tempek oleh masyarakat Desa Pakraman Alasngandang. Dalam pelaksanaan persembahyangan purnama tilem yang termasuk bagian dari upacara Dewa Yadnya tentunya tidak pernah lepas dari konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang menjadi landasan terpenting yaitu dalam bidang tattwa atau filosofis ketuhanan, dalam bidang susila atau etika dalam berprilaku dan dalam bidang ritual atau upacaranya.

Secara realita yang ada disekitar khususnya di Desa Pakraman Alasngandang, pelaksanaan persembahyangan purnama tilem kalau dilihat sepintas tidak diragukan lagi mengenai hal ritual atau upacaranya. Tetapi dalam hal etika dan tattwa atau filsafatnya kurang dipahami dan terkadang dikesampingkan. Sebagian besar masyarakat Desa Pakraman Alasngandang didalam melaksanakan ritual atau upacara persembahyangan purnama tilem belum memahami secara benar bagaimanakah cara beretika dengan baik dan semua hal tersebut berdasarkan tattwa yang mana. Hal inilah yang menjadi kebiasaan kurang baik oleh masyarakat Desa Pakraman Alasngandang khususnya dalam melaksanakan suatu aktivitas keagamaan.

Etika masyarakat Desa Pakraman Alasngandang dalam melaksanakan upacara persembahyangan belum sesuai dengan apa yang diharapkan sesuai dengan konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu. Seperti bagaimana sikap duduk yang benar dalam sembahyang, bagaimana etika dalam nunas tirta yang baik, bagaimana etika dalam menggunakan bija yang benar dan semua itu berdasarkan tattwa yang mana. Hal inilah yang belum dipahami dan dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat Desa Pakraman Alasngandang dalam melaksanakan upacara persembahyangan purnama tilem. Contohnya dalam muspa kramaning sembah, sikap duduk wanita ada yang menggunakan sikap silasana ada yang menggunakan sikap bajrasana, hal inilah yang perlu dibenahi supaya kebiasaan yang kurang baik tersebut tidak berlanjut pada generasi muda Hindu kedepan khususnya masyarakat Desa Pakraman Alasngandang.

Tattwa merupakan inti dari ajaran agama Hindu yang belum dipahami secara benar oleh masyarakat Desa Pakraman Alasngandang terutama pada pelaksanaan persembahyangan purnama tilem tersebut. Seperti tattwa atau filosofis dalam sarana upakara dupa, bunga, kuwangen, canang dan lain sebagainya belum diketahui oleh sebagian besar masyarakat Desa Pakraman Alasngandang. Masih banyak tattwa dan etika serta upacaranya yang perlu dipahami dan dilaksanakan sesuai dengan konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu.

Tri Kerangka Dasar Agama Hindu sebagai pedoman dasar dalam melaksanakan aktivitas keagamaan khususnya dalam persembahyangan purnama tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang, supaya tujuan agama Hindu dapat tercapai dengan benar. Sehingga dari latar belakang ini peneliti tertarik untuk menjadikan suatu obyek penelitian menjadi sebuah karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Peneliti ingin mengetahui penerapan ajaran tattwa, etika serta upacaranya dalam persembahyangan purnama tilem di Desa Pakraman Alasngandang. Yang kemudian peneliti mengangkat judul Persembahyangan Purnama Tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem (Perspektif Tri Kerangka Dasar Agama Hindu).

1.2 Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang yang dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :1. Bagaimanakah Persembahyangan Purnama Tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang dalam Perspektif Tri Kerangka Dasar Agama Hindu?2. Nilai-Nilai Pendidikan apakah yang terdapat dalam Persembahyangan Purnama Tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang?1.3 Tujuan PenelitianPenelitian yang berbentuk ilmiah sudah tentu dilandasi dengan tujuan yang ingin dicapai, sebab berhasil tidaknya suatu penelitian ditentukan oleh jelas tidaknya tujuan itu sendiri. Tujuan merupakan syarat yang mutlak yang harus ada dalam penelitian. Penelitian yang baik adalah penelitian yang tidak saja berhasil mengungkapkan masalah dan mencari solusi atau pemecahan dari permasalahan tersebut, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hasil dari penelitian ini memiliki daya efektif untuk mencapai sasaran dan tujuan. Setiap kegiatan yang dilakukan dibuat suatu perencanaan yang matang, sehingga dalam pelaksanaannya dapat meminimalkan hambatan yang akan ditemui serta hasil yang akan dicapai sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Demikian pula dengan penelitian ini sudah tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dari penelitian ini meliputi dua tujuan pokok, yaitu tujuan yang bersifat umum dan tujuan yang bersifat khusus. 1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum, penelitian ini bertujuan sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan jenjang starata satu (S1) pada Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, secara umum penelitian ini juga bertujuan sebagai pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan sumbangan pemikiran serta memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan tentang tattwa, etika dan ritual dalam Persembahyangan Purnama Tilem, sehingga dapat dijadikan pedoman dan landasan dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis baik lahir maupun bathin.1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan secara khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut :

1 Untuk mengetahui persembahyangan purnama tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang dalam perspektif Tri Kerangka Dasar Agama Hindu.2 Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam Persembahyangan Purnama Tilem di Pura Kahyangan Tiga Desa Pakraman Alasngandang.

1.4 Manfaat PenelitianManfaat penelitian adalah nilai guna dari kegiatan penelitian. Setiap penulisan karya ilmiah atau penelitian sudah tentu memiliki manfaat atau guna yang ingin dicapai berupa hasil yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan saat ini maupun yang akan datang. Melalui pelaksanaan penelitian ini diharapkan hasilnya dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :1.4.1 Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan menambah bahan pustaka mengenai persembahyangan purnama tilem yang berdasarkan tattwa, etika dan ritual yang dirangkum dalam ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya tentang ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu.1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan maamfaat praktis sebagai berikut :

1. Mendapatkan pengetahuan yang lebih tentang tattwa, etika, dan ritual dalam ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu khususnya bagi masyarakat Desa Pakraman Alasngandang.

2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pengetahuan bagi yang ingin lebih mendalami ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu.3. Bagi masyarakat, dapat digunakan sebagai bahan acuan dan pertimbangan dalam melaksanakan persembahyangan purnama tilem dengan tatwa, etika dan ritual yang baik dan benar.BAB II

KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN KONSEP DAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan langkah awal bagi peneliti dalam mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan subyek penelitian yang akan dilaksanakan. Dalam suatu karya ilmiah, penggunaan kajian pustaka sangat penting dalam mendukung, mengungkapkan, serta menghasilkan suatu karya ilmiah yang berbobot. Dalam kajian pustaka ini, peneliti mencari sumber data kepustakaan sebagai pendukung khasanah pengetahuan, pustaka pembanding, serta menunjukkan

Search related