Click here to load reader

stabilisasi menggunakan pasak bambu

  • View
    16

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

stabilisasi mekanis

Text of stabilisasi menggunakan pasak bambu

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangDalam suatu proyek, masalah tanah merupakan sesuatu yang mutlak perlu diperhatikan oleh para ahli di bidang Teknik Sipil. Sebelum melaksanakan suatu proyek, yang harus diketahui adalah karakteristik tanah seperti apa yang akan ditemui di lapangan nanti. Ini diperlukan untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus diambil sebelum pelaksanaan konstruksi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.Tanah lempung ekspansif tersusun dari mineral lempung yang mempunyai sifat kembang susut yang besar apabila terjadi perubahan kadar air. Hal ini dikarenakan tanah ekspansif mengandung jenis-jenis material tertentu yang mengakibatkan tanah ekspansif mempunyai luas permukaan cukup besar dan sangat mudah menyerap air dalam jumlah besar.Seperti yang dijelaskan diatas apabila suatu konstruksi bangunan dibangun diatas tanah ekspansif, maka kemungkinan akan terjadi berbagai macam kerusakan kerusakan dikemudian hari, salah satunya yaitu retakan-retakan pada perkerasan jalan dan jembatan. Di Provinsi NTB sendiri, khususnya di Pulau Lombok Kabupaten Lombok Tengah, tepatnya di Desa Tanak Awu, Kecamatan Penujak merupakan daerah yang tanahnya tergolong tanah lempung yang bersifat ekspansif.Secara umum teknik perbaikan tanah dapat dilakukan dengan dua metode utama yaitu secara mekanis dan kimia. Perbaikan secara kimia biasanya menggunakan bahan tambah seperti kapur, semen, atau bahan kimia lainnya. Perbaikan tanah secara mekanis biasanya dilakukan dengan cara penggantian tanah, pemadatan tanah, atau memberikan perkuatan pada tanah. Sejalan dengan permasalahan lingkungan, perlu diperhatikan tentang pemanfaatan bahan buangan untuk tujuan perbaikan tanah (Edil dan Benson, 1998). Metode yang sudah sering dilakukan adalah memberikan penambahan material-material kimia ataupun bahan lain yang berupa serat ( fiber ) ataupun lembaran-lembaran. Penggunaan fiber pada tanah lempung lebih banyak diteliti, hasil penelitian menunjukkan bahwa fiber dalam tanah mampu meningkatkan kekuatan tanah walaupun tidak terlalu besar. Adi (1999) melakukan studi perkuatan tanah dengan menggunakan elemen jaring. Hasilnya elemen-elemen jaring tersebut mampu meningkatkan kekuatan tanah, menaikkan regangan runtuh dan menaikkan daktilitas tanah. Perilaku kohesif pada komposit tanah pasir dengan elemen jaringan bisa diidentifikasi, namun untuk aplikasinya perlu pertimbangan yang lebih teliti.Pada penelitian ini, peneliti menggunakan sabut kelapa sebagai bahan campuran pada tanah lempung yang akan diteliti. Sabut kelapa merupakan bahan berserat dengan ketebalan sekitar 5 cm dan merupakan bagian terluar dari buah kelapa. Sabut kelapa memiliki sifat mudah menyerap dan menyimpan air, juga memiliki pori-pori yang memudahkan pertukaran udara dan masuknya sinar matahari. Kandungan Trichoderma molds-nya, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah. Dengan demikian, serat sabut kelapa dapat menjaga tanah tetap gembur dan subur. Pemanfaatan sabut kelapa di Pulau Lombok sendiri banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga dan kerajinan tangan. Dari uraian di atas, perlu dianalisa pengaruh penambahan serat sabut kelapa sebagai campuran untuk mengetahui kuat geser dan kuat tekan bebas tanah. Untuk itu maka akan dilakukan penelitian tentang Pengaruh Limbah Serat Sabut Kelapa Terhadap Kuat Geser Dan Kuat Tekan Bebas Tanah Lempung Ekspansif Tanak Awu Lombok Tengah.

1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka dapat diambil rumusan masalah yang mendasari dilakukannya penelitian ini antara lain :1. Bagaimana pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap nilai kuat geser tanah lempung ekspansif?2. Bagaimana pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap nilai kuat tekan bebas tanah lempung ekspansif?3. Berapakah prosentase penambahan serat sabut kelapa yang efektif sebagai bahan perkuatan tanah lempung ekspansif?

1.3 Tujuan PenelitianTujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut :1. Untuk mengetahui pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap kuat geser tanah lempung.2. Untuk mengetahui pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap nilai kuat tekan bebas tanah lempung.3. Untuk mengetahui prosentase serat sabut kelapa yang efektif sebagai bahan perkuatan tanah lempung ekspansif.

1.4 Batasan MasalahHal-hal yang menjadi batasan masalah pada penelitian ini antara lain sebagai berikut:1. Penelitian dilakukan pada tanah lempung dengan kondisi terganggu (disturb sample).2. Sampel tanah diambil dari Desa Tanak Awu, Kecamatan Penujak Kabupaten Lombok Tengah.3. Penelitian ini hanya mencari pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap parameter kuat geser dan kuat tekan bebas.4. Penambahan kadar serat 0,5%, 1,0%, 1,5 dan 2,0% terhadap berat kering udara dengan panjang serat 1 cm.5. Beban yang digunakan untuk pengujian kuat geser sebesar 2 kg, 4 kg, 6 kg dan 8 kg.6. Sabut kelapa yang digunakan diperoleh dari daerah daerah sekitar pantai Kabupaten Lombok Barat.7. Pengujian yang dilakukan yaitu:a. Uji kadar air mengikuti ASTM D-2216b. Uji specific gravity mengikuti ASTM D-854c. Uji batas Atterberg meliputi pengujian batas cair (ASTM D 4318-95a) dan batas plastis (ASTM D 4318-95a)d. Uji analisa saringan dan hydrometer mengikuti ASTM D-421-85e. Uji pemadatan mengikuti ASTM D-1883f. Uji kuat tekan bebas mengikuti ASTM D-2166g. Uji geser langsung (direct shear) mengikuti ASTM D-308

1.5 Manfaat PenelitianAdapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Hasil dari penelitian ini diharapkan peneliti dapat mengetahui pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap parameter kuat geser dan kuat tekan bebas tanah lempung ekspansif 2. Sebagai bahan masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pemanfaatan bahan-bahan lainnnya sebagai bahan perkuatan tanah.

BAB IIDASAR TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka2.1.1 Karakteristik Tanah Lempung Tanak Awu Tanah lempung di desa Tanak Awu yang ada diareal Bandara Internasional Lombok, merupakan tanah lempung ekspansif yang memiliki kembang susut tinggi. Berdasarkan hasil penelitian analisa ekspansifitas tanah lempung Bandara Internasional Lombok dan bentonit menggunakan alat oedometer oleh Nisak ( 2010 ). Dalam penelitiannya menunjukan bahwa rata-rata potensi pengembangan dan tekanan pengembangan tanah lempung di area Bandara Internasional Lombok ( BIL ), pada kadar air rata-rata (w) 51,39% berturut-turut sebesar 14,35% dan 320 kPa.Yuliani ( 2008 ), dalam penelitian identifikasi potensi dan tekanan pengembangan tanah lempung ekspansif BIL dengan alat oedometer diperoleh hasil bahwa jenis tanah lempung yang terkandung merupakan lempung hitam bersifat kohesif. Pada batas cair ( LL ) tertinggi sebesar 173,10% dan komposisi lempung sebesar 52,37% terjadi potensi pengembangan yang tinggi yaitu 22,72% dan tekanan pengembangan sebesar 425 kPa, sedangkan dengan batas cair ( LL ) terendah sebesar 117,31% dan komposisi lempung terendah yaitu 41,28% didapatkan potensi pengembangan sebesar 12,15% dan tekanan pengembangan sebesar 160 kPa.2.1.2 Hasil - hasil Penelitian Terdahulu Lempung merupakan salah satu jenis tanah berbutir halus ukuran koloidal terbentuk dari mineral-mineral ekspansif. Lempung ini mempunyai sifat yang khas yaitu kandungan mineral ekspansif mempunyai kapasitas pertukaran ion yang tinggi mengakibatkan lempung akan memiliki potensi kembang susut tinggi apabila teriadi perubahan pada kadar airnya (Fathani dan Adi, 1999). Tanah jenis ini juga bersifat kohesif dan plastis.Menurut David dan Komomik (1969 dalam Sulistyowati, 2004). Sebagian besar mekanisme penyusutan (shrinkage) pada tanah diakibatkan oleh peristiwa kapiler. Pada musim kemarau terjadinya pengeringan dan pengurangan kadar air akan diikuti dengan kenaikan tegangan efektif yang menyebabkan volume tanah menyusut. Pengembangan (swelling) dapat disebabkan oleh : mekanisme fisika-kimia tanah yaitu masuknya air diantara partikel-partikel lempung akan menyebabkan membesarnya jarak antar unit dasar dan mengakibatkan kenaikan volume tanah. Secara mekanis pengembangan disebabkan karena kebalikan dari peristiwa kapiler bila kadar air dalam tanah naik dan tanah menjadi jenuh, maka tegangan kapiler mengecil dan tegangan air pori sama dengan tegangan hidrostatis biasa dengan sendirinya tegangan efektif menurun dan tanah cenderung untuk mengembang.Suryolelono (1999) dalam penelitiannya menyimpulkan, penambahan 10% kapur dan 10% abu sekam padi dari berat kering tanah mampu meningkatkan kuat dukung tanah. Diketahui pula bahwa kandungan silika pada abu sekam padi sebesar 86,9%-97,3% berpengaruh besar terhadap proses stabilisasi.Hosiya dan Mandal (1984), dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan menambah 0,5% berat bubuk logam kedalam tanah lempung akan menaikkan nilai kohesi tanah tersebut kurang lebih sebesar 15%. Sedangkan kuat tekan bebas tanah lempung tersebut meningkat kurang lebih 17% dibanding dengan kuat tekan bebas tanah asli.Hatmoko (2003) melaporkan bahwa penambahan abu ampas tebu dapat menurunkan indeks plastisitas, meningkatkan kepadatan, dan meningkatkan nilai CBR tanah lempung. Kadar optimum abu ampas tebu terhadap tanah dalam keadaan kering sebesar 12,5%. Pada kadar abu ampas tebu tersebut, kenaikan nilai CBR cukup signifikan, namun demikian kenaikan kuat tekan bebasnya tidak cukup berarti.Wulla (2002), dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan adanya penambahan limbah kemas (gabus, kertas, semen, dan karet ban sepeda) pada tanah lempung dapat meningkatkan sudut geser dalam dari tanah lempung. Dimana material tambahan yang paling bagus adalah gabus. Ukuran butiran suatu material tanah berpengaruh terhadap kuat geser tanah, dan semakin besar beban (gaya geser) yang diberikan maka semakin besar pula geser yang terjadi.Ramadhani (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan penambahan serat sabut kelapa dengan persentase

Search related