Status BST )

  • View
    224

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

vgcghfgh

Text of Status BST )

REFERAT THTKANKER LARING

DISUSUN OLEH :

DINIESKA INDIASTRI1102011081

PRESEPTOR dr. H. W. Gunawan Kurnaedi, Sp. THT-KLdr. Elananda Mahendrajaya, Sp.THT-KL

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSU Dr. SLAMET GARUT

PERIODE 11 MEI 2015 12 JUNI 2015

20

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.Puji dan syukur senantiasa penulis haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman. Karena atas rahmat dan ridha-Nya, penulis dapat menyelesaikan referat ini dengan judul KANKER LARING yang disusun dalam rangka memenuhi persyaratan kepaniteraan di bagian THT RSU dr. Slamet Garut. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:1. dr. H. W. Gunawan Kurnaedi, SpTHT-KL selaku kepala SMF dan konsulen THT RSU dr. Slamet Garut yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmu kepada penyusun.1. dr. Elananda Mahendrajaya, SpTHT-KL selaku Konsulen THT RSU dr. Slamet Garut yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmu kepada penyusun.1. dr. Arroyan W, SpTHT dosen Ilmu Kedokteran THT FK Universitas YARSI yang telah memberi bimbingan serta pengajaran kepada penyusun selama ini.1. Para perawat di poliklinik THT yang telah banyak membantu penyusun dalam kegiatan klinik sehari-hari.1. Orang tua dan keluarga yang tidak pernah berhenti memberi kasih sayang, mendoakan dan memberi dukungan kepada penyusun. 1. Teman-teman sejawat yang telah banyak memberikan inspirasi dan dukungannya.Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik serta saran. Semoga dengan adanya referat ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi semua pihak.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Garut, Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HalamanKATAPENGANTAR............................................................................................1DAFTARISI...........................................................................................................3BABIPENDAHULUAN.......................................................................................4BABIIANATOMI DAN FISIOLOGI LARING...............................................62.1. Anatomi.............................................................................................................62.2 Fisiologi............................................................................................................15BAB III KANKER LARING .............................................................................173.1. Definisi................................................................................................173.2. Etiologi dan Klasifikasi ......................................................................173.3. Patofisiologi .......................................................................................193.4. Manifestasi Klinis .............................................................................213.5. Diagnosis.............................................................................................223.6. Penatalaksanaan .................................................................................263.7. Komplikasi..........................................................................................283.8. Diagnosis Banding..............................................................................293.9. Pencegahan..........................................................................................293.10. Prognosis...........................................................................................30BAB IV KESIMPULAN .....................................................................................31DAFTARPUSTAKA..........................................................................................32

BAB IPENDAHULUAN

Kanker laring merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada daerah kepala dan leher, sekitar 20% dari semua kasus. Di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta kanker laring menempati urutan ketiga setelah kanker nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal, dari seluruh keganasan di daerah leher dan kepala. Dampak pada kesehatan masyarakat di dunia jauh lebih besar, berada pada urutan keempat belas dari semua kanker yang terjadi pada laki-laki dan menempati urutan kedua dari kanker yang terjadi pada daerah kepala dan leher.Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminum alkohol merupakan kelompok orang-orang dengan resiko tinggi terhadap karsinoma laring. Penelitian epidemiologik menggambarkan beberapa hal yang diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat ialah rokok, alkohol dan terpajan oleh sinar radioaktif. Pengumpulan data yang dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa karsinoma laring jarang ditemukan pada orang yang tidak merokok, sedangkan resiko untuk mendapatkan karsinoma laring naik, sesuasi dengan kenaikan jumlah rokok yang dihisap.Kini, perbandingan kasus karsinoma laring yang terjadi pada laki-laki dan perempuan adalah 5 : 1, karena meningkatnya kebiasaan merokok pada perempuan walaupun masih lebih sering terjadi pada laki-laki. Terbanyak pada usia 56-69 tahun dengan kebiasaan merokok didapatkan pada 73,94%.Laring dibagi menjadi laring supraglotik (di atas pita suara), daerah glotik (pita suara asli), daerah subglotik (di bawah batas pita suara asli) dan daerah transglotik. Tumor glotis merupakan keganasan yang paling sering terjadi.Kanker laring bermanifestasi secara klinis sebagai suara serak menetap, yang merupakan gejala paling dini tumor pita suara. Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak tumor. Letak tumor di dalam laring memiliki dampak yang besar oada prognosis. Secara umum, penatalaksanaan tumor ganas laring adalah dengan pembedahan, radiasi, sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung stadium penyakit dan keadaan umum penderita. Yang terpenting dalam penatalaksaan kanker laring ialah diagnosis dini dan pengobatan/tindakan yang tepat dan kuratif, karena tumornya masih terisolasi, dan dapat diangkat secara radikal. Tujuan utama ialah mengeluarkan bagian laring yang terkena tumor dengan memperhatikan fungsi respirasi, fonasi serta fungsi sfingetr laring.

BAB IIANATOMI DAN FISIOLOGI LARING

2.1. ANATOMILaring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Laring adalah organ yang berperan sebagai sphincter pelindung pada sistem respirasi dan berperan dalam pembentukan suara. Terletak setinggi vertebrae cervicalis 4,5, dan 6, di bawah lidah dan tulang os hioid (batas dagu dan leher), di bagian depan terdapat otot-otot dan bagian lateral ditutupi oleh kelenjar tiroid. Batas atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid.

Gambar 1. Kartilago Penyusun Laring

Struktur kerangka laring terdiri dari satu tulang, yaitu os hiod, dan beberapa kartilago yang dihubungkan oleh membran dan ligamentum serta digerakkan oleh otot-otot laring. Di sebelah superior terdapat os hioideum, struktur berbentuk U dan dapat dipalpasi di leher depan dan lewat mulut pada dinding faring lateral. Meluas dari masing-masing sisi bagian tengah os atau korpus hiodeum adalah suatu prosesus panjang dan pendek yang mengarah ke posterior dan suatu prosesus pendek yang mengarah ke superior. Tendon dan otot-otot lidah, mandibula dan kranium, melekat pada permukaan superior korpus dan kedua prosesus. Saat menelan, kontraksi otot-otot ini mengangkat laring. Namun bila laring dalam keadaan stabil, maka otot-otot tersebut akan membuka mulut dan ikut berperan dalam gerakan lidah. Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea. Di bawah os hioideum dan menggantung pada ligamentum tirohioideum adalah dua alae atau sayap kartilago tiroidea. Pada tepi posterior masing-masing alae, terdapat kornu superior dan inferior. Artikulasio kornu inferius dengan kartilago krikoidea, memungkinkan sedikit pergeseran atau gerakan antara kartilago tiroidea dan krikoidea.Kartilago krikoidea yang juga mudah teraba di bawah kulit, melekat pada kartilago tiroidea lewat ligamentum krikotiroideum. Tidak seperti struktur penyokong lainnya dari jalan pernapasan, kartilago krikoidea berbentuk lingkaran penuh dan tak mampu mengembang. Permukaan posterior atau lamina krikoidea cukup lebar, sehingga kartilago ini tampak seperti signet ring. Di sebelah inferior, kartilago trakealis pertama melekat pada krikoid lewat ligamentum interkartilaginosa.Pada permukaan superior lamina terletak pasangan kartilago aritenoidea, masing-masing berbentuk seperti piramid bersisi tiga. Basis piramidalis berartikulasi dengan krikoid pada artikulasio krikoaritenoidea, sehingga dapat terjadi gerakan meluncur dari medial ke lateral dan rotasi. Tiap kartilago aritenoidea mempunyai dua prosesus, prosesus vokalis anterior dan prosesus muskularis laterlaris. Ligamentum vokalis meluas ke anterior dari masing-masing prosesus vokalis dan berinsersi ke dalam kartilago tiroidea di garis tengah. Prosesus vokalis membentuk dua perlima bagian belakang dari korda vokalis, sementara ligamentum vokalis membentuk bagian membranosa atau bagian pita suara yang dapat bergetar. Ujung bebas dan permukaan superior korda vokalis suara membentuk glotis. Bagian laring di atasnya disebut supraglotis dan di bawahnya subglotis. Terdapat dua pasang kartilago kecil dalam laring yang tidak memiliki fungsi. Kartilago kornikulata terletak dalam jaringan di atas menutupi aritenoid. Di sebelah lateralnya, y