Status Psikiatri

  • View
    29

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jiwa

Text of Status Psikiatri

Status Psikiatri

Status PsikiatriLydia MargarethaIdentitas Nama (inisial): Tn. HSTempat dan tanggal lahir: Garut, 10 Januari 1968 Jenis Kelamin: Laki-lakiSuku Bangsa: SundaAgama: IslamPendidikan : S1 EkonomiPekerjaan: Tidak BekerjaStatus Perkawinan: Belum MenikahAlamat: Perum. Jaya Asri blok D60 RT. 001/ 012. Kelurahan Desa Jayawaras, Kecamatan Tarogung Kidul, Kab. Garut

Riwayat PsikiatriAutoanamnesa: 16 Juli 2014 pada pukul 12.3017 Juli 2014 pada pukul 11.00Alloanamnesis: 17 Juli 2014 pada pukul 14.30Ny. S, Bibi kandung pasien dari ibu, bibi yang paling dekat dengan pasien, pasien sering ke rumah bibinya untuk makan dan bibinya juga sering ke rumah pasien untuk menengok keluarga pasien.

Keluhan utamaPasien mengamuk di rumah (agresivitas motorik), bicara sendiri (autistik), memukul ibunya (agresivitas motorik), sulit tidur (insomnia), dan tidak mandi selama 1 minggu (abulia).

Riwayat gangguan sekarangDua tahun SMRS, keluarga pasien mengatakan bahwa mulai terjadi perubahan sikap pada pasien. Pasien menjadi mudah tersinggung (irritable) dan suka marah-marah (agresivitas verbal). Pasien merasa adiknya dan keponakannya sering membicarakan dirinya dan menganggap dirinya mengatakan hal bohong (waham curiga). Bahkan, pasien melampiaskan amarahnya dengan memukul ibunya (agresivitas motorik). Akhirnya, bibi kandung pasien memutuskan untuk membawa pasien ke pengobatan alternatif INABA. Pasien melakukan rawat jalan selama 1 tahun di tempat tersebut.

Bibi kandung pasien mengatakan bahwa gejala pasien tidak mengalami perubahan. Bahkan, gejala pasien semakin memberat. Dalam 3 bulan SMRS, pasien mulai sering membicarakan berbagai ide mengenai menggambar desain pesawat terbang untuk pergi ke bulan (flight of idea). Pasien merasa harus segera menyelesaikan pekerjaan menggambarnya karena dibutuhkan oleh negara (waham kebesaran).

Dua minggu SMRS, pasien menjadi semakin mudah tersinggung (irritable). Pasien merasa adik dan keponakannya tidak percaya mengenai ide-ide dan pekerjaannya (waham curiga). Bibi pasien mengatakan bahwa pasien kembali memukul ibunya dan juga melempari genteng tetangga (agresivitas motorik). Pasien menjadi sulit tidur (insomnia) dan tidak mau mandi selama satu minggu (abulia). Pasien juga sering bicara sendiri, dan terkadang disisipkan dengan kata-kata berbahasa inggris (autistik). Akhirnya, bibi pasien memutuskan untuk membawa pasien ke RSJ Cimahi.

Riwayat gangguan sebelumnyaRiwayat PsikiatriPada tahun 2011, ayah pasien meninggal dunia karena sakit. Pasien sangat sedih akan hal tersebut, tetapi bibi pasien mengatakan tidak terjadi perubahan sikap yang signifikan setelah kepergian ayahnya. Pasien berlaku sewajarnya, sedih dan murung. Tetapi, setelah beberapa bulan kepergian ayahnya, pasien mulai suka mengamuk di rumah (agresivitas motorik). Pasien tidak lagi melaksanakan sholat tepat waktu karena tidak ada lagi yang mengingatkannya. Bibi pasien mengatakan bahwa pasien sangat dekat dengan ayahnya, ayah pasienlah yang selama ini mendukung setiap karya gambar yang pasien buat dan senantiasa membimbing pasien untuk sholat tepat waktu. Bibi pasien mengatakan, dahulu pasien sering ikut ayahnya pergi bekerja di Bank BPR. Seharusnya, pasien yang akan menggantikan pekerjaan ayahnya kelak, begitulah rencana ayah pasien setelah putranya lulus kuliahSemenjak ayah pasien sebagai pencari nafkah meninggal, maka keluarga pasien menumpang ke rumah bibinya untuk makan. Keluarga pasien tidak memiliki penghasilan sendiri, mereka dibantu biaya oleh keluarga terdekat mereka. Pasien yang adalah pengangguran, saat itu tidak dapat mencari penghasilan tambahan. Bibi pasien mengatakan bahwa pasien memiliki hobby menggambar dan gambarnya sangat bagus, seringkali pasien mendapat pujian dari ayahnya. Semenjak ayahnya meninggal, pasien tetap sering menggambar, terutama pesawat terbang dan pasien mengatakan gambarnya ini akan dibawa pegawai ayahnya dan diberikan pada pemerintah sebagai desain pesawat pertama untuk ke bulan (waham kebesaran). Pasien sering membicarakan ide cepat berpindah ke ide lainnya mengenai desain pesawatnya yang harus segera diselesaikan sebagai pekerjaannya (flight of idea).

Pasien pertama kali dibawa berobat ke pengobatan alternatif pada tahun 2012. Bibi pasien merasa ada perubahan sikap yang semakin terlihat terjadi pada pasien. Pasien menjadi mudah tersinggung (irritable) dan suka marah-marah (agresivitas verbal). Hal ini tidak sesuai dengan sikap pasien yang biasanya penurut, pendiam, dan tidak mudah marah. Bahkan pasien menjadi sering mengamuk dan memukul ibunya (agresivitas motorik).

Selain itu, pasien menjadi lebih sering bertengkar dengan adiknya. Adik pasien, berinisial Tn. I seorang yang tempramen dan tidak bisa diatur. Tn. I ialah anak yang pemberontak, ia sudah 2 kali bercerai dan memiliki empat anak yang tinggal bersama pasien serta ibunya. Tn. I seorang pengangguran dan sering menjual perabotan rumah untuk kepentingannya. Dahulu pasien seringkali menasihati adiknya tersebut dan terkesan lebih banyak mengalah pada adiknya. Pasien pun dengan baik hati selalu mengantarkan keponakannya untuk ke sekolah. Pasien mengatakan sebenernya sangat jengkel pada adiknya dan bahkan sudah tidak mau lagi mengingat-ingat akan adiknya. Pasien merasa adiknya itu sering membicarakan dirinya dan menghina dirinya, bahkan tidak pernah percaya dengan apapun yang dikatakan olehnya (waham curiga). Selama di rumah, pasien mengatakan tidak seorangpun ada yang mempercayainya, bahkan pasien merasa keponakannya juga membicarakan dan menghina setiap ide-idenya (waham curiga).

Dua minggu SMRS, pasien semakin menunjukkan gejala yang berat. Pasien sulit tidur (insomnia), dan jika ditanya mengapa, pasien hanya mengatakan bahwa ia sedang memikirkan pekerjaan menggambarnya yang harus segera diselesaikan untuk pemerintah (waham kebesaran). Pasien menjadi kacau dan sering bicara sendiri (autistik). Bibi pasien juga mengatakan pasien jadi mudah tersinggung (irritable), bahkan tak segan untuk memukul ibunya dan melempari genteng tetangga (agresivitas motorik). Akhirnya, bibi pasien memutuskan untuk membawa pasien ke RSJ Cimahi.

Riwayat gangguan medikRiwayat epilepsi, hipertensi, dan diabetes disangkal. Pasien pernah mengalami kecelakaan mobil pada tahun 2005. Tetapi terdapatnya trauma kepala, pingsan, dan kejang disangkal.Pasien mengalami gatal-gatal sejak satu bulan SMRS. Selain pasien, dua keponakannya juga ada yang mengalami keluhan yang sama. Gatal-gatal dirasakan pasien pada tangan dan kaki, terutama pada sela-sela jarinya.

Riwayat psikoaktifRiwayat penggunaan alkohol, obat-obatan terlarang, dan merokok disangkal.

Riwayat gangguan sebelumnya201220132014Keterangan :Tahun 2012 : Pasien berusia 42 tahun. Menurut bibi pasien, pasien mulai menunjukkan adanya perubahan tingkah laku. Pasien yang biasanya penurut, pendiam, dan tidak mudah marah menjadi cepat tersinggung (irritable) dan sering mengamuk (agresivitas motorik). Pasien di bawa ke pengobatan alternatif INABA dan menjalani rawat jalan selama 1 tahun.Tahun 2013 : Setelah satu tahun menjalani pengobatan rawat jalan tersebut, bibi pasien mengatakan tidak terjadi perubahan pada diri pasien. Bahkan, pasien menjadi lebih kacau dan suka bicara sendiri (autistik).Tahun 2014 : Keadaan pasien tampak semakin meburuk, pasien semakin sering marah-marah (agresivitas verbal) dan mengamuk (agresivitas motorik). Selain itu, pasien juga melempari genteng tetangga (agresivitas motorik) dan tidak mau mandi (abulia). Pasien sulit untuk tidur (insomnia) dan sering melampiaskan kemarahannya dengan memukul ibunya (agresivitas motorik).

Riwayat perkembangan fisikPasien lahir normal di RSU Garut, cukup bulan dan tidak ada trauma lahir dan cacat bawaan, serta pasien langsung menangis setelah lahir. Menurut bibi pasien, tidak ada keterlambatan dalam pertumbuhan fisik pasien. Pasien merupakan anak pertama dari 2 bersaudara laki-laki. Pasien merupakan anak yang diharapkan oleh keluarga, terutama sebagai putra sulung yang akan meneruskan pekerjaan ayahnya.

Riwayat perkembangan kepribadianMasa Kanak-kanak:Pasien merupakan anak sulung dan terpaut 2 tahun dari adiknya. Selama masa kanak-kanaknya pasien merupakan anak yang pendiam dan jarang bermain dengan teman-teman seusianya. Pasien lebih senang menyendiri dan jarang berkomunikasi dengan keluarga. Pasien merupakan anak yang pendiam, tidak pernah menceritakan kondisi mapun perasaannya pada orang-orang disekitarnya. Ayah pasien sangat menyayangi pasien, dan pasien lebih akrab dengan ayahnya. Pasien merupakan anak yang penurut terhadap orang tua, pasien tidak pernah memberontak dengan ayah dan ibunya. Prestasi pasien selama duduk di bangku SD baik terutama dalam bidang matematika dan menggambar. Selama di sekolah dan di rumah, pasien jarang memiliki teman dekat, pasien cenderung pendiam.

Masa RemajaSetelah tamat SD pasien melanjutkan pendidikannya ke bangku SMP dan SMA. Pasien mulai memiliki teman dekat, tetapi hanya beberapa orang saja. Pasien mengatakan jarang menceritakan masalah atau kegiatannya pada teman-temannya. Pasien juga jarang pergi rekreasi dengan teman-temannya. Pasien hanya ikut kegiatan ekstrakulikuler pramuka. Disana pasien mulai memiliki teman dekat perempuan, tetapi pasien mengatakan hanya sebagai teman biasa dan tidak ada yang serius.

Masa DewasaPasien melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia fakultas MIPA jurusan Fisika. Pasien juga sering mengikuti kegiatan di kampusnya. Tetapi, suatu ketika, pasien harus mengikuti pelatihan dari kampusnya ke Kalimantan. Tetapi, ibu pasien melarang pasien untuk ikut. Akhirnya, ayah pasien mengatakan pada pasien untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Garut agar lebih dekat dengan seluruh keluarga dan ayah pasien dapat membimbing pasien untuk meneruskan pekerjaannya. Pasien menuruti saran ayahnya dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Garut. Selama pasien