of 66 /66
STUDI AWAL : HISTOTEKNIK PERFUSI PBS- FORMALIN DAN GAMBARAN HISTOLOGI ORGAN HEPAR, PANKREAS DAN GINJAL TIKUS STRAIN SPRAGUE DAWLEY Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN Oleh : PUTRI JUNITA SARI 1112103000061 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1436 H/2015 M

STUDI AWAL : HISTOTEKNIK PERFUSI PBS FORMALIN DAN … · spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap untuk diamati dan dianalisa. 1,2,3 Perfusi

  • Author
    others

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of STUDI AWAL : HISTOTEKNIK PERFUSI PBS FORMALIN DAN … · spesimen tertentu melalui suatu rangkaian...

  • STUDI AWAL : HISTOTEKNIK PERFUSI PBS-

    FORMALIN DAN GAMBARAN HISTOLOGI ORGAN

    HEPAR, PANKREAS DAN GINJAL TIKUS STRAIN

    SPRAGUE DAWLEY

    Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

    SARJANA KEDOKTERAN

    Oleh :

    PUTRI JUNITA SARI

    1112103000061

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1436 H/2015 M

  • ii

  • iii

  • iv

  • v

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum wr.wb.

    Alhamdulilahirabbil’alamin, puji serta syukur saya panjatkan kehadirat

    Allah SWT, karena atas segala rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan

    penelitian ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan pada Nabi

    besar Muhammad SAW, yang membawa cahaya kebenaran sampai akhir zaman.

    Penelitian ini tidak dapat terlepas dari bantuan berupa masukan, kritik

    maupun saran dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan rasa terima

    kasih yang sebesar-besarnya kepada:

    1. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes selaku Dekan FKIK UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta, dr. Achmad Zaki, S.Ked, M.Epid, Sp. OT selaku

    Ketua Program Studi Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta, serta seluruh dosen Program Studi Pendidikan

    Dokter yang selalu membimbing serta memberikan ilmu kepada saya

    selama menjalani masa pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter

    FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Dr. Devy Ariany, M. Biomed dan Ibu Nurlaely Mida Rachmawati, S.Si,

    M. Biomed, DMS selaku dosen pembimbing penelitian saya, yang selalu

    membimbing, mengarahkan, dan menyemangati saya dalam

    menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Juga para dewan penguji

    3. Kedua orang tua saya yang tercinta, Bpk. Fahrizal dan Ibu Asma Amir

    yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang, memberikan doa, nasihat,

    serta semangat dalam hidup saya.

    4. Kakak saya, Nelly Asrizawati, Dede Edryan, Sry Wisdya, Tita Afrymelda

    dan adik saya, Dinda Fadillah (almh) dan Muhammad Ananda Fajar yang

    menjadi penyemangat hidup saya dan banyak membantu saya dalam

    penelitian ini

  • vi

    5. Dr. Nouval Shahab, SpU, PhD, FICS, FACS selaku penanggungjawab (PJ)

    modul riset PSPD 2012. drg. Laifa Annisa Hendarmin, PhD selaku PJ

    laboratorium Riset. Ibu Nurlaely Mida R, S. Si, M.Biomed, DMS selaku

    PJ Animal house. Ibu Endah Wulandari, M. Biomed selaku PJ

    laboratorium Biokimia. Ibu Rr. Ayu Fitri Hapsari, M. Biomed selaku PJ

    laboratorium Histologi yang telah memberikan izin atas penggunaan lab

    pada penelitian ini.

    6. Untuk teman seperjuangan penelitian, Fiizhda Baqarizky, Galang

    Prahanarendra, Abdul Rasyid, Fakhri Muhammad, Muhammad Azharan

    Alwi, Imam Kautsar, Faisal Ravif

    7. Untuk teman belajar, bermain, dan berorganisasi Binayu, Octa, Firda,

    Adlin, Ranita, Nadiyah, Putri Auliya, Ega, Reza, Nuraisah, Nafta,

    Zulfikar, Faruq, Zahro, dan Tanti

    8. Seluruh mahasiswa PSPD 2012 yang berjuang bersama meraih mimpi di

    masa depan.

    9. Laboran yang terlibat Mba Din, Ibu Ai, Ibu Lilis, Mba Suryani, Mas

    Rachmadi. Juga pada Mas Haris dan Mas Panji yang sangat membantu

    berlangsungnya penelitian ini

    Saya sangat mengharapkan kritik dan saran dalam penelitian ini agar dapat

    terus dilanjutkan dan bermanfaat untuk berbagai pihak Karena Penelitian ini

    masih jauh dari kesempurnaan, saya sangat mengharapkan kritik dan saran

    untuk perbaikan dan kelanjutan penelitian ini. Demikian laporan penelitian ini

    saya tulis, semoga dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan

    para pembaca pada umumnya.

    Ciputat, 21 Agustus 2015

    Putri Junita Sari

  • vii

    ABSTRAK

    Putri Junita Sari. Program Studi Pendidikan Dokter. Studi Awal :

    Histoteknik Perfusi PBS-Formalin dan Gambaran Histologi Organ Hepar,

    Pankreas dan Ginjal Tikus Sprague Dawley. 2015.

    Histoteknik adalah metode atau cara untuk membuat sajian histologi dari

    spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap

    untuk diamati dan dianalisa.1,2,3

    Perfusi adalah metode pada histoteknik untuk

    mendapatkan proses fiksasi ke dalam jaringan dengan waktu yang relatif cepat,

    sehingga gambaran histologi yang diperoleh mewakili keadaan sesaat sebelum

    kematian. Metode ini membutuhkan peran pembuluh darah yang akan

    menyalurkan dan memberikan akses ke setiap jaringan dalam waktu yang cepat.3,4

    Phosphate Buffered Saline (PBS) adalah larutan fisiologis yang bersifat isotonik

    dan tidak beracun terhadap sel serta bertujuan untuk menjaga kadar pH dan

    mempertahankan osmolaritas sel.5 Formalin yang dilarutkan dalam PBS atau biasa

    disebut PBS-Formalin merupakan larutan yang direkomendasikan sebagai pilihan

    agen fiksasi yang terbaik.6 PBS-Formalin paling sering digunakan sebagai agen

    fiksatif karena sifatnya sebagai agen yang fleksibel. Selain itu, dengan larutan

    fiksatif PBS-Formalin ini dapat menjadikan organ yang akan diteliti menjadi lebih

    lama dapat disimpannya dan proses autolisisnya sangat minimal.11

    Kata kunci: Perfusi, PBS-Formalin, hepar, ginjal, pankreas.

    Putri Junita Sari. Medical Education Study Program. Preliminary Study :

    Perfusion Histotechnique PBS-Formaline and Histological Overview of

    Liver, Renal, and Pancreas Sprague Dawley Rats. 2015.

    Histotechnique is a method or a way to make a particular histology

    specimen through a series of processes to be a specimen that is ready to be

    observed and analyzed.1,2,3

    Perfusion is a method of fixation that put the fixatives

    into the tissue so that the fixation process relatively fast and uniformly preserve

    tissue in a life like-state. This method through the circulatory system of that the

    chemical can quickly reach every corner of the organism using the natural

    vascular network.3,4

    Phosphate Buffered Saline (PBS) is a physiological solution

    that is isotonic and non-toxic to cells and aims to keep the normal pH and

    maintain cell osmolarity.5 Formalin dissolved in PBS or so-called PBS-Formalin

    is a solution that is recommended as the best option fixation agent.6 PBS-formalin

    is most used as a fixative agent because the nature of flexible agent. Other than

    that, PBS-formaline fixatives can make the organ more sustainable for saved and

    minimalize the autolysis process.11

    Keywords : perfusion, PBS-Formalin, liver, kidney, pancreas.

  • viii

    DAFTAR ISI

    LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................

    LEMBAR PERSETUJUAN ...........................................................................

    LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................

    KATA PENGANTAR .....................................................................................

    ABSTRAK ........................................................................................................

    DAFTAR ISI ....................................................................................................

    DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

    DAFTAR TABEL ...........................................................................................

    DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................

    BAB 1 PENDAHULUAN

    1.1 Latar belakang .................................................................................. 1.2 Rumusan masalah ............................................................................. 1.3 Tujuan penelitian ..............................................................................

    1.3.1 Tujuan Umum ........................................................................

    1.3.2 Tujuan Khusus .......................................................................

    1.4 Manfaat penelitian ............................................................................ 1.4.1 Bagi peneliti ............................................................................ 1.4.2 Bagi institusi ...........................................................................

    BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Landasan Teori ................................................................................. 2.1.1 Histoteknik .............................................................................. 2.1.2 Teknik Nekropsi ..................................................................... 2.1.3 Metode Perfusi .......................................................................

    2.1.2.1. Langkah-Langkah Metode Perfusi .............................

    2.1.4 Perfusi PBS-Formalin .............................................................. 2.1.5 Pengolahan Pembuatan Blok ...................................................

    2.1.4.1. Fiksasi .........................................................................

    2.1.4.2. Dehidrasi ....................................................................

    2.1.4.3. Penjernihan (clearing) ................................................

    2.1.4.4. Penanaman (embedding) ............................................

    2.1.4.5. Pembuatan Blocking....................................................

    2.1.4.6. Pemotongan Organ .....................................................

    2.1.6 Pewarnaan HE.......................................................................... 2.1.7 Histologi Organ .......................................................................

    2.1.6.1. Nukleus........................................................................

    2.1.6.2.Sitoplasma ...................................................................

    2.1.6.3.Hepar ...........................................................................

    2.1.6.4.Ginjal ...........................................................................

    2.1.6.5.Pankreas .......................................................................

    2.2 Kerangka Teori ................................................................................. 2.3 Kerangka Konsep ..............................................................................

    Ii

    iii

    iv

    v

    vii

    viii

    x

    xii

    xiii

    1

    2

    3

    3

    3

    3

    3

    3

    4

    4

    5

    5

    6

    10

    11

    11

    12

    12

    13

    13

    13

    15

    15

    15

    16

    16

    17

    18

    20

    21

  • ix

    2.4 Definisi Operasional ......................................................................... BAB 3 METODE PENELITIAN

    1.1 Desain Penelitian .............................................................................. 1.2 Waktu dan Tempat Penelitian ...........................................................

    1.2.1 Waktu Penelitian ................................................................. 1.2.2 Tempat Penelitian ................................................................

    1.3 Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................ 1.4 Cara Kerja Penelitian .......................................................................

    1.4.1 Alat dan Bahan Penelitian ....................................................... 1.4.2 Adaptasi Hewan Coba ............................................................. 1.4.3 Tahapan Nekropsi (Perfusi)...................................................... 1.4.4 Tahapan Pemrosesan Jaringan .................................................

    3.4.4.1. Dehidrasi ....................................................................

    3.4.4.2. Clearing ......................................................................

    3.4.4.3. Embedding...................................................................

    3.4.4.4. Blocking.......................................................................

    1.4.5 Pemotongan Jaringan .............................................................. 1.4.6 Tahapan Pewarnaan HE .......................................................... 1.4.7 Foto Jaringan ...........................................................................

    1.5 Alur Penelitian …………….............................................................

    BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Teknik Perfusi ................................................................................... 4.2 Hepar ................................................................................................. 4.3 Ginjal ................................................................................................ 4.4 Pankreas ...........................................................................................

    BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Simpulan ............................................................................................

    5.2 Saran ..................................................................................................

    DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

    LAMPIRAN .....................................................................................................

    22

    23

    23

    23

    23

    23

    23

    23

    24

    25

    25

    25

    26

    26

    25

    27

    27

    29

    29

    30

    32

    33

    34

    37

    37

    39

    42

  • x

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Peralatan perfusi dengan komponen berlabel dan persiapan

    perfusi I ..............................................................................................................

    Gambar 2.2 Persiapan perfusi II dan peralatan perfusi untuk mengalirkan

    dapar ..................................................................................................................

    Gambar 2.3 Preparasi hewan coba ....................................................................

    Gambar 2.4 Preparasi perfusi pada hewan coba ................................................

    Gambar 2.5 Pengaturan alat dan hewan coba pada proses perfusi dengan

    dapar ..................................................................................................................

    Gambar 2.6 Pengaturan alat dan hewan coba pada proses perfusi dengan

    larutan fiksatif ....................................................................................................

    Gambar 2.7. Gambaran histologis hepar normal ...............................................

    Gambar 2.8. Gambaran histologis ginjal normal .............................................

    Gambar 2.9. Gambaran histologis ginjal tikus normal ......................................

    Gambar 4.1.a Alat perfusi .................................................................................

    Gambar 4.1.b Pengaturan sudut pada perfusi ...................................................

    Gambar 4.1.c Tanda perfusi sudah optimal .......................................................

    Gambar 4.1.d Perfusi selesai .................................................................. Gambar 4.1.a Hepar perfusi PBS-Formalin A 20x ...........................................

    Gambar 4.2.b Hepar perfusi PBS-Formalin A 40x (insert: hepatosit) ..............

    Gambar 4.3.a Ginjal perfusi PBS-Formalin C 20x ...........................................

    Gambar 4.3.b Ginjal perfusi PBS-Formalin C 40x (insert: glomerulus) ..........

    Gambar 4.3.c Ginjal perfusi PBS-Formalin C 40x (insert: tubulus) .................

    Gambar 4.4.a Pankreas perfusi PBS-Formalin A 20x .......................................

    Gambar 4.4.b Pankreas perfusi PBS-Formalin A 40x (insert: Langerhans) .....

    Gambar 4.4.c Pankreas perfusi PBS-Formalin A 40x (insert : asinus) ............

    Gambar 6.1 Surat Keterangan Tikus Sehat ......................................................

    Gambar 6.2 Sampel Penelitian ..........................................................................

    Gambar 6.3 Anastesi Hewan Coba ....................................................................

    Gambar 6.4 Proses Nekropsi .............................................................................

    Gambar 6.5 Proses Perfusi ................................................................................

    Gambar 6.6 Proses Dehidrasi ............................................................................

    Gambar 6.7 Proses clearing ..............................................................................

    Gambar 6.8 Proses Embedding .........................................................................

    Gambar 6.9 Proses Blocking .............................................................................

    Gambar 6.10 Blok PBS-Formalin .....................................................................

    Gambar 6.11 Pemotongan Jaringan ...................................................................

    Gambar 6.12 Set Pewarnaan Hematoksilin Eosin .............................................

    Gambar 6.13.a Hepar PBS-F A 20x ..................................................................

    Gambar 6.1.3.b Hepar PBS-F B 20x .................................................................

    Gambar 6.1.3.c. Hepar PBS-F A 40x ................................................................

    Gambar 6.13.d. Hepar PBS-F B 40x .................................................................

    Gambar 6.14.a Ginjal PBS-F A 20x .................................................................

    Gambar 6.14.b Ginjal PBS-F B20x ...................................................................

    Gambar 6.14.c Ginjal PBS-F C 20x ..................................................................

    Gambar 6.14.d Ginjal PBS-F A 40x (insert: glomerulus) ................................

    Gambar 6.14.e Ginjal PBS-F B 40x (insert: glomerulus) .................................

    7

    7

    8

    8

    9

    10

    17

    18

    19

    31

    31

    31

    31

    33

    33

    33

    34

    34

    35

    35

    35

    42

    43

    43

    43

    43

    44

    44

    44

    44

    44

    44

    45

    46

    46

    46

    46

    47

    47

    47

    47

    47

  • xi

    Gambar 6.14.f Ginjal PBS-F C 40x (insert: glomerulus) .................................

    Gambar 6.14.g Ginjal PBS-F A 40x (insert: tubulus) .......................................

    Gambar 6.14.h Ginjal PBS-F B 40x (insert: tubulus) .......................................

    Gambar 6.14.i Ginjal PBS-F C 40x (insert: tubulus) ........................................

    Gambar 6.15.a Pankreas PBS-F A 20x .............................................................

    Gambar 6.15.b Pankreas PBS-F B 20x .............................................................

    Gambar 6.15.c Pankreas PBS-F C 20x ..............................................................

    Gambar 6.15.d Pankreas PBS-F D 20x ............................................................

    Gambar 6.1.5.e Pankreas PBS-F E 20x .............................................................

    Gambar 6.15.f Pankreas PBS-F F 20x ..............................................................

    Gambar 6.15.g Pankreas PBS-F G 20x .............................................................

    Gambar 6.15.h Pankreas PBS-F H 20x .............................................................

    Gambar 6.15.i Pankreas PBS-F A 40x (insert: Langerhans) ............................

    Gambar 6.15.j Pankreas PBS-F B 40x (insert: Langerhans dan asinus) ...........

    Gambar 6.15.k Pankreas PBS-F C 40x (insert: Langerhans) ...........................

    Gambar 6.15.l Pankreas PBS-F D 40x (insert: Langerhans) ...........................

    Gambar 6.15.m Pankreas PBS-F E 40x (insert: Langerhans) ...........................

    Gambar 6.15.n Pankreas PBS-F F 40x (insert: Langerhans) ............................

    Gambar 6.15.o Pankreas PBS-F G 40x (insert: Langerhans dan asinus) ..........

    Gambar 6.15.p Pankreas PBS-F H 40x (insert: Langerhans) ...........................

    Gambar 6.15.q Pankreas PBS-F A 40x (insert: asinus) ....................................

    Gambar 6.15.r Pankreas PBS-F C 40x (insert: asinus) .....................................

    Gambar 6.15.s Pankreas PBS-F D 40x (insert: asinus) ....................................

    Gambar 6.15.t Pankreas PBS-F E 40x (insert: asinus) .....................................

    Gambar 6.15.u Pankreas PBS-F F 40x (insert: asinus) .....................................

    Gambar 6.15.v Pankreas PBS-F H 40x (insert: asinus) ....................................

    47

    48

    48

    48

    49

    49

    49

    49

    49

    49

    49

    49

    50

    50

    50

    50

    50

    50

    51

    51

    51

    51

    51

    51

    52

    52

  • xii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 4.1. Daftar preparat jaringan yang diperfusi dengan PBS-Formalin .......

    32

  • xiii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Surat Keterangan Tikus Sehat ........................................................

    Lampiran 2 Gambar Proses Penelitan ...............................................................

    Lampiran 3 Gambar Preparat ............................................................................

    Lampiran 4 Riwayat Penulis .............................................................................

    42

    43

    46

    53

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Histoteknik adalah metode atau cara untuk membuat sajian histologi dari

    spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap

    untuk diamati dan dianalisa. Sajian histologi yang baik dapat digunakan untuk riset,

    guna mempelajari perubahan jaringan dan organ tubuh hewan coba yang mendapat

    perlakuan tertentu atau mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jaringan atau

    organ tubuh tertentu.1,2,3

    Teknik perfusi adalah kombinasi antara teknik euthanasia dan fiksasi. Hewan

    coba yang telah di euthanasia, akan dialirkan cairan melalui sirkulasi darah. Tindakan

    ini bertujuan agar proses fiksasi terhadap organ berlangsung lebih cepat. Dasar dari

    teknik ini yaitu menunda proses autolisis pada jaringan secepat mungkin.3,4

    Keuntungan dari teknik perfusi ini yaitu cairan perfusi dapat dengan cepat mencapai

    setiap sudut jaringan, sehingga jaringan yang dihasilkan kurang lebih sama dengan

    saat hewan dalam keadaan hidup.4 Cairan perfusi yang digunakan pada penelitian ini

    adalah Phosphate Buffered Saline (PBS)-Formalin. PBS adalah larutan fisiologis

    yang bersifat isotonik dan tidak beracun terhadap sel serta bertujuan untuk menjaga

    kadar pH dan mempertahankan osmolaritas sel.5 Formalin yang dilarutkan dalam

    PBS atau biasa disebut PBS-Formalin merupakan larutan yang direkomendasikan

    sebagai pilihan agen fiksasi yang terbaik.6

    Institusi pendidikan kedokteran seharusnya mempunyai laboratorium yang

    terakreditasi untuk menunjang pembelajaran dan penelitian setiap mahasiswanya.

    Faktor yang dapat mempengaruhi dan menentukan validitas suatu penelitian dari

    laboratorium yaitu kelengkapan dari peralatannya, kemampuan dan pengalaman dari

    operator atau analisanya, petunjuk analisis baku atau SOP yang digunakan, serta

    kemampuan mengontrol mutu dan pengendalian mutu terhadap pekerjaan dan hasil

  • 2

    analisisnya.7

    Studi awal adalah penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi

    gambaran hasil dan dapat mengevaluasi hasil tersebut sehingga nantinya dapat

    dijadikan bahan acuan penelitian selanjutnya.8

    Laboratorium Animal House di

    Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak berdirinya tahun 2005

    belum mempunyai SOP yang baku mengenai histoteknik khususnya metode perfusi.

    Maka dari itu, tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data dalam penyusunan SOP

    baku histoteknik yang dapat diterapkan di laboratorium Animal House dan Histologi

    kampus FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    1.2 Rumusan Masalah

    1. Bagaimanakah teknik perfusi pada tikus di laboratorium Animal House

    kampus FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

    2. Bagaimana gambaran histologi organ hepar, pankreas dan ginjal tikus yang

    diperfusi dengan PBS-Formalin?

    1.3 Tujuan Penelitian

    1.3.1 Tujuan Umum

    Mendapatkan data untuk menyusun SOP baku histoteknik yang dapat

    diterapkan di laboratorium Animal House dan Histologi kampus FKIK UIN

    Syarif Hidayatullah Jakarta

    1.3.2 Tujuan Khusus

    Mengetahui gambaran histologi organ hepar, ginjal dan pankreas tikus yang

    diperfusi dengan PBS-Formalin

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Bagi Peneliti

    1. Untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan keterampilan dalam bidang

    histoteknik.

  • 3

    2. Sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran di

    Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta

    1.4.2 Bagi Institusi

    1. Untuk menjadi bahan acuan pembuatan SOP histoteknik di Fakultas

    Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sehingga

    dapat menjadi rujukan bagi peneliti lain

    2. Untuk menjadi bahan acuan untuk penyusunan anggaran pembelian alat

    perfusi dengan tujuan dapat menunjang penelitian khususnya tentang

    metode perfusi di laboratorium di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

    Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    3. Untuk menambah referensi penelitian di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

    Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sehingga dapat digunakan

    untuk penelitian yang lebih dalam oleh peneliti lain.

    4. Untuk meningkatkan kualitas laboratorium Fakultas Kedokteran dan Ilmu

    Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah, khususnya laboratorium Histologi-

    Patologi Anatomi.

  • 4

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Landasan Teori

    2.1.1 Histoteknik

    Histoteknik adalah metode atau cara untuk membuat sajian histologi dari

    spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap

    untuk diamati dan dianalisa. Sajian histologi yang baik dapat digunakan untuk riset,

    guna mempelajari perubahan jaringan dan organ tubuh hewan coba yang mendapat

    perlakuan tertentu atau mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jaringan atau

    organ tubuh tertentu.1,2,3

    Histoteknik terdiri dari beberapa tahapan proses yang dimulai dari isolasi

    jaringan dan diakhiri dengan pewarnaan. Salah satu teknik dalam melakukan isolasi

    jaringan adalah perfusi.1,3

    Selanjutnya dilakukan fiksasi, dimana proses ini bertujuan

    agar organ yang telah dipisahkan dari tubuh hewan coba tidak rusak. Kemudian

    dilanjutkan dengan proses dehidrasi. Proses ini bertujuan untuk mengeluarkan seluruh

    cairan yang terdapat dalam jaringan yang telah difiksasi sehingga dapat diisi dengan

    parafin atau zat lain untuk membuat blok preparat. Kemudian dilanjutkan dengan

    proses penjernihan (clearing) yang bertujuan untuk mengeluarkan alkohol dari

    jaringan dan menggantikannya dengan suatu larutan yang dapat berikatan dengan

    parafin. Selanjutnya dilakukan pembenaman (embedding) yang bertujuan untuk

    mengeluarkan cairan pembening (clearing agent) dari jaringan dan diganti dengan

    parafin. Selanjutnya blocking, dimana proses ini akan dilakukan menggunakan

    parafin yang dicampurkan dengan organ yang telah mengalami proses diatas. Setelah

    itu dilakukan pemotongan dan proses pewarnaan. Proses pewarnaan ini menggunakan

    zat warna Hematoxylin dan Eosin. Pada hasil pewarnaan akan terlihat sitoplasma dan

    inti sel pada setiap potongan organ.1,2,3

  • 5

    2.1.2 Teknik Nekropsi

    Nekropsi adalah teknik yang digunakan untuk mengetahui penyebab kematian

    pada umumnya. Nekropsi ini selain untuk menentukan penyebab suatu kematian,

    dapat digunakan juga untuk mengetahui pengaruh suatu penelitian yang dilakukan

    terhadap organ hewan coba. Prosedur nekropsi cukup rumit dan membutuhkan teknik

    yang tidak mudah dalam pelaksanannya. Nekropsi dilakukan segera setelah kematian

    hewan coba agar mencegah terjadinya degenerasi jaringan setelah kematian. Proses

    autolisis sel terjadi sesaat setelah kematian. Pertama terjadi pada sel epitel saluran

    cerna, dan sumsum tulang belakang. Kemudian dilanjutkan dengan organ hati, limpa,

    dan ginjal. Proses ini dipengaruhi juga oleh suhu lingkungan. Semakin tinggi

    suhunya, semakin mudah suatu organ berdegenerasi.3

    2.1.2. Metode Perfusi

    Perfusi adalah metode pada histoteknik untuk mengalirkan cairan fiksasi ke

    dalam jaringan dengan waktu yang relatif cepat, sehingga gambaran histologi yang

    diperoleh mewakili keadaan sesaat sebelum kematian. Metode ini membutuhkan

    peran pembuluh darah yang akan menyalurkan dan memberikan akses ke setiap

    jaringan dalam waktu yang cepat. Sel akan memulai proses autolisis segera setelah

    proses anoksia (kekurangan oksigen) terjadi. Jadi, semakin cepat larutan fiksatif

    sampai ke setiap sel, maka proses autolisis pun semakin cepat berhenti.4,9

    Metode perfusi sudah banyak dilakukan di berbagai laboratorium riset. Darah

    akan dikeluarkan dan dikuras dengan cara menyuntikkan larutan garam fisiologis

    yang dilanjutkan dengan larutan fiksatif. Biasanya larutan yang dipakai adalah

    formalin. Cara memasukkan larutan pada metode ini ada 2 macam yaitu, metode

    gravitasi dan pompa peristaltik. Metode gravitasi menggunakan bantuan gaya

    gravitasi sehingga metode ini paling mudah dilakukan. Namun, hasil yang didapatkan

    tidak begitu optimal. Karena apabila ada sel darah yang menyumbat suatu pembuluh

    darah kapiler, maka larutan fiksatif tidak dapat sampai pada daerah tersebut secara

    bersamaan sehingga tujuan keseragaman hasil akan sulit didapatkan. Sedangkan

  • 6

    metode pompa peristaltik yaitu proses mendorong cairannya menggunakan bantuan

    pompa peristaltik. Dengan menggunakan metode ini hasil yang didapat akan lebih

    maksimal dan keseragaman hasil akan lebih optimal.4,9

    Salah satu kelemahan metode perfusi adalah jaringan yang lunak akan

    menyusut setelah dilakukan perfusi. Untuk mencegah hal tersebut perlu dijaga

    perbandingan jumlah cairan di dalam dan di luar sel. Setiap sel memiliki pompa ion

    pada permukaannya, umumnya berupa pompa natrium. Secara kontinu natrium akan

    masuk ke dalam sel, dan dipompa keluar agar perbandingan 10:1 antara jumlah di

    luar dan di dalam sel tetap terjaga. Segala faktor yang dapat mengganggu

    metabolisme energi sel, contohnya pada perlakuan perfusi ini, dapat menyebabkan

    rusaknya pompa ion. Akibatnya, sodium, air, dan cairan ekstraselular akan masuk ke

    dalam sel hingga keseimbangan konsentrasi zat-zat tersebut di luar dan di dalam sel

    tercapai. Hal tersebut menyebabkan sel membengkak dan menutup ruang ekstra

    selular. Pada akhir perfusi, permeabilitas membran akan meningkat dan cairan akan

    keluar dari sel menuju ke pembuluh darah. Selain itu, ruang ekstraseluler tidak

    memompa ulang dan organ akan kolaps kedalam seluruhnya, sehingga pengkerutan

    jaringan dapat dihindarkan.4,9

    Larutan perfusi dialirkan dengan kecepatan 20-25 ml/menit untuk tikus

    dewasa. Teknik perfusi juga menggunakan tekanan awal 80 mmHg dan

    dipertahankan sampai larutan perfusi selesai. Selain itu, tekanan dapat ditingkatkan

    maksimal sampai 130 mmHg.4,10

    Selama perfusi, kecepatan dan tekanan yang

    dianjurkan harus dipertahankan agar mencegah kerusakan pada organ yang telah

    dilakukan perfusi sehingga hasil gambaran yang didapat tidak sesuai dengan yang

    diharapkan.11

    2.1.2.1. Langkah-Langkah Metode Perfusi

    Siapkan perlengkapan perfusi dan berikan label pada komponen-

    komponennya.

  • 7

    Gambar 2.1. Peralatan perfusi dengan komponen berlabel dan persiapan perfusi I

    (sumber : Fixation and Fixatives : Popular Fixative Solutions, 2012)4

    Selanjutnya, persiapkan perlengkapan perfusi. Mulai dengan fixative line.

    Siram lubang pipa yang berisi gelembung udara dan isi dengan dapar dengan cara

    memasukkan dapar melalui syringe. Tutup katup pada pipa bagian akhir. Letakkan

    fixative line ke dalam botol fiksatif tanpa dikenalkan oleh gelembung udara.

    Gambar 2.2. Persiapan perfusi II dan peralatan perfusi untuk mengalirkan dapar

    (sumber : Fixation and Fixatives : Popular Fixative Solutions, 2012) 4

    Persiapan perlengkapan perfusi II. Buka katup pada awal percabangan, yaitu

    katup dapar (warna biru) agar cairan dapat mengalir. Siram pipa dengan gelembung

    udara dengan dapar yang dimasukkan melalui syringe. Tutup katup pada akhir pipa.

    Letakkan pipa pada botol dapar. Tes tekanan untuk memastikan sistem tertutup secara

  • 8

    sempurna dengan memompa bulb manometer dan melihat pengukurnya.

    Perlengkapan siap untuk melakukan prosedur fiksasi

    Gambar 2.3. Preparasi hewan coba (sumber : Fixation and Fixatives : Popular

    Fixative Solutions, 2012) 4

    Insisi pada lateral melewati integument dan dinding abdomen, dilanjutkan

    insisi pada diafragma dan potong daerah tersebut untuk mengekspos jantung.

    Kemudian buat potongan paralel pada kedua sisi tulang iga (costae) hingga tulang

    scapulae.

    Gambar 2.4. Preparasi perfusi pada hewan coba (sumber : Fixation and Fixatives :

    Popular Fixative Solutions, 2012) 4

  • 9

    Klem ujung sternum dengan hemostat dan letakkan hemostat di atas kepala

    tikus. Letakkan jarum perfusi melalui potongan ventrikel menuju aorta asendens

    kemudian amankan jarum perfusi dengan 1 set hemostat untuk klem jantung. 1 set

    hemostat yang lain dapat digunakan untuk klem aorta, yaitu kira-kira pada ujung

    jarum untuk mencegah kebocoran. Selanjutnya gunakan gunting iris untuk membuat

    insisi kecil pada akhir posterior ventrikel kiri.

    Gambar 2.5. Pengaturan alat dan hewan coba pada proses perfusi dengan dapar

    (sumber : Fixation and Fixatives : Popular Fixative Solutions, 2012) 4

    Pompa manometer untuk membuat tekanan pada garis (alur). Kemudian buka

    katupnya dan sambungkan dengan jarum yang sudah dimasukkan ke dalam jantung

    tikus. Pastikan tidak ada gelembung udara di dalam saluran tersebut. Pompa dengan

    tekanan 80 mmHg dan jaga tekanan hingga infus dapar selesai.

  • 10

    Gambar 2.6. Pengaturan alat dan hewan coba pada proses perfusi dengan larutan

    fiksatif (sumber : Fixation and Fixatives : Popular Fixative Solutions,

    2012) 4

    Ketika dapar akan selesai (200 ml), ganti alur katup dapar sehingga cairan

    fiksatif dapat masuk. Tekanan dapat ditingkatkan hingga 130 mmHg.

    2.1.3. Perfusi PBS-Formalin

    PBS (Phosphate Buffer Saline) adalah larutan fisiologis yang bisa digunakan

    dalam prosedur immune-histokimia. Larutan ini bersifat isotonik dan tidak beracun

    terhadap sel serta bertujuan untuk menjaga kadar pH dan mempertahankan

    osmolaritas sel.5 Saat ini, PBS sudah banyak digunakan sebagai

    1. Immunoassays

    2. Prosedur immune-histokimia

    3. Prosedur mikrobiologi

    4. Prosedur kultur jaringan dan sel

    5. Pengenceran suatu sampel5

    Jika suatu sel difiksasi menggunakan larutan yang hipertonik maka sel

    tersebut akan mudah menyusut, sebaliknya apabila sel difiksasi menggunakan larutan

    yang hipotonik maka sel tersebut akan membengkak. Maka dari itu, dianjurkan

    menggunakan larutan isotonik seperti PBS sebagai larutan fiksasi yang baik.5

  • 11

    Formalin merupakan larutan fiksatif, dimana larutan ini digunakan pada

    proses fiksasi jaringan. Tetapi pada proses perfusi juga dapat digunakan larutan

    formalin yang dikombinasikan dengan PBS, dengan tujuan mendapatkan hasil yang

    lebih baik. Formalin yang dilarutkan dalam PBS atau bisa disebut PBS-Formalin

    merupakan larutan yang direkomendasikan sebagai pilihan agen fiksatif yang

    terbaik.6 Larutan fiksatif saat ini sedang dikembangkan yang sifat racunnya sangat

    minimal. PBS-Formalin paling sering digunakan sebagai agen fiksatif karena sifatnya

    sebagai agen yang fleksibel. Selain itu, dengan larutan fiksatif PBS-Formalin ini

    dapat menjadikan organ yang akan diteliti menjadi lebih lama dapat disimpannya dan

    proses autolisisnya sangat minimal.11

    2.1.4. Pengolahan Pembuatan Blok

    Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah metode parafin yaitu

    metode yang paling sering digunakan. Keuntungan menggunakan metode ini yaitu

    pertama, irisan dapat lebih tipis dibandingkan menggunakan metode lainnya yaitu

    dapat mencapai ketebalan rata-rata 6 mikrometer. Kedua, irisan yang sifatnya seri

    dapat dengan mudah dikerjakan. Ketiga, proses pengerjaannya lebih cepat

    dibandingkan dengan metode seloidin (mikrotom beku). Selain keuntungan tentu ada

    kerugian dari metode ini yaitu jaringannya akan menjadi keras, mengerut dan mudah

    patah serta untuk jaringan yang besar akan sulit dikerjakan dan enzim-enzim akan

    larut pada metode ini.1,2

    Proses pengolahan pembuatan blok ini dimulai dari fiksasi, pencucian

    (washing), dehidrasi, perjernihan (clearing), infiltrasi parafin, penanaman

    (embedding), penyayatan (section), penempelan (affiksing), deparafinisasi, pewarnaan

    (staining), penutupan (mounting), dan labeling.1,2

    2.1.4.1. Fiksasi

    Fiksasi merupakan suatu usaha untuk mempertahankan komponen-komponen

    sel atau jaringan agar tidak mengalami perubahan dan tidak mudah rusak. Proses

  • 12

    fiksasi ini dharapkan setiap molekul pada jaringan yang hidup tetap berada pada

    tempatnya dan tidak ada molekul baru yang timbul. Pada prosesnya ini tentu tidak

    akan berjalan dengan sempurna, apabila timbul molekul asing baru pada jaringannya

    disebut artefak. 1,2

    2.1.4.2. Dehidrasi

    Dehidrasi merupakan metode yang digunakan untuk mengeluarkan seluruh

    cairan yang terdapat dalam jaringan setelah dilakukan proses fiksasi sehingga

    nantinya dapat diisi dengan parafin untuk membuat blok preparat. Proses dehidrasi ini

    menggunakan alkohol bertingkat. Mulai dari alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 95%,

    dan alkohol absolut. Prosesnya, suatu jaringan akan dicelupkan dimasing-masing

    alkohol dengan kisaran waktu tertentu sampai prosesnya berakhir. 1,2

    2.1.4.3. Penjernihan (clearing)

    Penjernihan adalah metode yang digunakan mengeluarkan alkohol dari

    jaringan dan menggantikannya dengan suatu larutan yang berikatan dengan parafin.

    Pada proses clearing ini sangat krusial karena apabila di jaringan masih tersisa

    alkohol walaupun sedikit, parafin tidak akan bisa masuk kedalam jaringan. Sehingga

    jaringan nantinya tidak akan sempurna dalam pembuatan bloking, pemotongan, dan

    pewarnaan. Proses clearing ini menggunakan bermacam-macam zat penjernih yaitu

    xylol atau xylene dan toluol atau toluene yang memiliki kelebihan dan kekurangannya

    masing-masing. Xylol atau xylene kelebihannya yaitu prosesnya cepat dan harganya

    tidak terlalu mahal. Kekurangannya yaitu jaringan yang dapat dipindahkan hanya dari

    alkohol absolut, dan jaringan yang dijernihkan dengan xylene tidak begitu jelas

    menjadi transparan, sehingga tidak diketahui proses ini berjalan sempurna atau tidak.

    1,2

    Toluol atau toluene kelebihannya yaitu sudah banyak dipergunakan oleh

    kebanyakan laboratorium, harganya murah, mudah didapat, dan jaringan yang

    penjernihannya sempurna akan terlihat jelas transparan. Tetapi apabila jaringan tidak

  • 13

    terlihat transparan berarti proses dehidrasi yang sebelumnya belum sempurna.

    Kekurangannya yaitu jaringan hanya bisa dipindahkan dari alkohol absolut apabila

    jaringan terlalu lama di toluol akan menyebabkan kerasnya jaringan sehingga sukar

    untuk dipotong menggunakan mikrotom. 1,2

    2.1.4.4. Penanaman (embedding)

    Penanaman (embedding) merupakan proses untuk mengeluarkan cairan

    pembening dari jaringan dan digantikan dengan parafin. Jaringan ini harus terbebas

    dari cairan pembening karena nantinya akan mengkristal dan sewaktu dipotong

    jaringan akan mudah robek. Berdasarkan metode prosesnya yaitu jaringan akan di

    dibenamkan di larutan parafin selama 3x dan dalam jangka waktu tertentu sambil

    dipanaskan agar parafinnya tidak membeku. Keuntungan menggunakan parafin

    dengan titik lebur rendah yaitu jaringannya tidak mudah menjadi rapuh. Sedangkan

    keuntungan memakai paraplast yaitu sifat parafinnya sangat elastis sehingga tidak

    mudah robek atau rusak ketika dipotong. 1,2

    2.1.4.5. Pembuatan blocking

    Pembuatan blocking merupakan proses pembuatan preparat agar dapat

    dipotong menggunakan mikrotom. Proses ini menggunakan parafin sebagai alat

    menempelkan jaringannya agar mudah dipotong. Prosesnya yaitu dengan menyiapkan

    tempat blokingnya, dan menuangkan parafin dilanjutkan dengan memasukan organ

    ke dalam parafin yang sudah disediakan. Selanjutnya setelah blok parafin kering dan

    sudah beku dapat dikeluarkan dari tempat blocking dan dapat dilanjutkan ke proses

    selanjutnya. 1,2

    Blok parafin yang sudah beku dan akan dipotong harus diberi label atau

    disebut affiksing, metode ini bertujuan agar diketahui organ yang akan dipotong

    nanti. Pengecoran (blocking) adalah proses pembuatan blok preparat agar dapat

    dipotong dengan mikrotom. 1,2

    2.1.4.6. Pemotongan Organ

  • 14

    Pemotongan organ dilakukan menggunakan alat khusus dengan pisau yang sangat

    tipis dan tajam yang disebut mikrotom. Mikrotom adalah alat yang dapat mengiris

    potongan blok dengan sangat tipis dan sesuai dengan ukuran ketebalan yang kita

    inginkan.12

    Terdapat berbagai jenis mikrotom yaitu :

    1. Hand Microtome

    Merupakan jenis mikrotom yang sangat simpel dan biasanya digunakan untuk

    memotong tumbuhan dan jaringan hewan, tetapi mikrotom jenis ini sangat

    terbatas kemampuannya untuk memotong jaringan setipis mungkin.

    2. Rocking microtome

    Mikrotom jenis ini merupakan jenis yang hanya bisa memotong jaringan yang

    lembut dan tingkat kesulitannya rendah. untuk jaringan yang lebih sulit

    contohnya jaringan yang tingkat kekakuannya tinggi dapat menggunakan jenis

    rotary microtome atau base sledge microtome dibandingkan dengan rocking

    microtome.

    3. Rotary microtome

    Mikrotom jenis ini memiliki banyak keuntungan dan jenis yang paling cocok

    dengan metode blok parafin. Mikrotom ini juga dapat memotong jaringan

    yang sangat besar dan tingkat kesulitan yang besar. Dengan metode ini, blok

    dapat dipotong hingga ketebalan 0,5 sampai 2 mikrometer.

    4. Freezing microtome

    Metode ini memiliki banyak keuntungan yaitu diantaranya prosesnya cepat,

    jaringan yang mengkerut lebih sedikit dibandingkan dengan metode parafin

    serta hampir semua metode pewarnaan dapat dilakukan menggunakan metode

    ini. Selain keuntungan ada juga keburukannya yaitu irisan yang tipis dan

    irisan yang seri sulit untuk diperoleh.

    5. Base sledge microtome

    Mikrotom jenis ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan. Karena

    mikrotom jenis ini dapat memotong berbagai jenis, ukuran, dan tingkat

  • 15

    kekerasan suatu jaringan. Mikrotom jenis ini cara pengoperasiannya secara

    hidrolik sehingga memudahkan pemotongan dan dapat memotong bahan yang

    sangat keras sekalipun.12

    2.1.5. Pewarnaan HE

    Pewarnaan adalah teknik untuk memberikan warna pada komponen selular

    dengan tujuan dapat membedakan antar sel tersebut. Warna adalah persepsi dari mata

    yang dapat dibedakan berdasarkan panjang gelombang. Teknik pewarnaan ini

    membantu dalam menghasilkan kontras dimana setiap warna memiliki afinitasnya

    masing-masing. Contohnya pewarnaan sel, yaitu nukleus memiliki afinitas tinggi

    terhadap pewarnaan hematoksilin. Sedangkan sitoplasma memiliki afinitas tinggi

    terhadap pewarnaan eosin.13

    Pewarnaan dengan menggunakan hematoksilin dan eosin memang metode

    yang paling banyak digunakan dalam pembuatan preparat histologis. Pewarnaan ini

    terdiri dari 2 jenis zat warna, yaitu hematoksilin yang fungsinya untuk mewarnai inti

    sel menjadi biru. Sedangkan eosin fungsinya untuk mewarnai sitoplasma menjadi

    merah.12

    Hematoksilin merupakan zat warna alami yang dapat mengikat inti sel dengan

    ikatan yang lemah. Ikatan yang lemah ini dapat berubah apabila ditambahkan dengan

    senyawa lain. Selain itu, hematoksilin harus dioksidasi terlebih dahulu menjadi

    hematein agar dapat dijadikan sebagai pewarna inti sel. Eosin merupakan zat warna

    yang fungsinya untuk mewarnai sitoplasma. eosin akan memberikan beberapa

    corakan pada jaringan. Berbagai corakan pada jaringan ini dapat bertambah bila

    pewarnaan yang digunakan lebih dari satu.12

    2.1.6. Histologi Organ

    2.1.6.1. Nukleus

  • 16

    Nukleus atau inti sel adalah bagian terbesar dari sel, bentuknya bisa bulat atau

    lonjong dan terdiri dari atas 3 komponen yaitu selaput inti, kromatin, dan nukleolus.

    Selaput inti merupakan bagian yang mengelilingi inti yang merupakan bagian dari

    retikulum endoplasma. Kromatin adalah material kromosom yang terdiri atas pilinan

    untaian DNA yang terikat protein. Sedangkan nukleolus atau anak inti merupakan

    struktur yang sangat basofilik yang aktif mengadakan sintesis protein. Komponen

    nukleus ini akan terwarnai ungu atau biru tua bila diwarnai menggunakan pewarnaan

    hematoksilin.14,15

    2.1.6.2. Sitoplasma

    Sitoplasma merupakan bagian sel yang tersusun atas membran sel yaitu

    sebagai lapisan terluar, badan inklusi sitoplasma yang umumnya merupakan

    timbunan lipid, karbohidrat atau pigmen, dan sitosol yaitu bagian sitoplasma yang

    didalamnya terdiri atas struktur metabolik aktif contohnya organel. Dan komponen

    sitoplasma ini akan terwarnai merah muda bila diwarnai menggunakan pewarnaan

    eosin. 14,15

    2.1.6.3. Hepar

    Hepar merupakan organ primer untuk detoksikasi dam pembuangan bahan tak

    berguna oleh tubuh. Secara histologi, hepar terdiri atas lobus-lobus yang dibatasi oleh

    fissura yang dalam dan septa jaringan ikat yang dikenal dengan kapsula Glisson.16

    Setiap lobus terdiri dari lobulus-lobulus yang merupakan dasar unit fungsional hati.

    Lobulus terdiri atas sel parenkim yang dikenal sebagai hepatosit dan sinusoid-

    sinusoid yang merupakan pembuluh yang berjalan radier dari vena porta dan bersatu

    menjadi vena sentralis pada bagian tengah lobulus. Di daerah antar lobulus-lobulus

    dapat ditemukan portal triad yang terdiri dari arteri hepatica, vena porta, dan duktus

    biliaris.15

  • 20

    2.2. Kerangka Teori

  • 21

    2.3. Kerangka Konsep

    Keterangan :

    = dilakukan penelitian

  • 22

    2.4. Definisi Operasional

    No. Variabel Definisi

    operasional

    Alat ukur Cara pengukuran Skala pengukuran

    1. Preparat hepar

    a) Gambaran khas organ

    b) Ukuran sel c) Bentuk sel d) Nukleus e) Sitoplasma

    Sajian

    histologi

    berupa organ

    hepar tikus

    yang

    dipotong

    dengan

    mikrotom

    ukuran 6µm

    Mikroskop

    Olympus

    BX41

    Dengan pengaturan

    skala dan perbesaran

    pada mikroskop

    a) Perbesaran 20x

    b) Perbesaran 40x

    c) Perbesaran 40x

    d) Perbesaran 40x

    e) Perbesaran 40x

    a) SS : dapat

    diidentifikasi

    gambaran khas

    organ

    b) N : normal dan

    dapat diidentifikasi

    c) N : normal dan

    dapat diidentifikasi

    d) BU : bulat dan

    berwarna ungu

    e) MM : berwarna

    merah muda

    2. Preparat ginjal

    a) Gambaran khas organ

    b) Ukuran sel c) Bentuk sel d) Nukleus e) Sitoplasma

    Sajian

    histologi

    berupa organ

    ginjal tikus

    yang

    dipotong

    dengan

    mikrotom

    ukuran 6µm

    Mikroskop

    Olympus

    BX41

    Dengan pengaturan

    skala dan perbesaran

    pada mikroskop

    a) Perbesaran 20x

    b) Perbesaran 40x

    c) Perbesaran 40x

    d) Perbesaran 40x

    e) Perbesaran 40x

    a) SS : dapat

    diidentifikasi

    gambaran khas

    organ

    b) N : normal dan

    dapat diidentifikasi

    c) N : normal dan

    dapat diidentifikasi

    d) BU : bulat dan

    berwarna ungu

    e) MM : berwarna

    merah muda

    3. Preparat pankreas a) Gambaran

    khas organ

    b) Ukuran sel c) Bentuk sel d) Nukleus e) Sitoplasma

    Sajian

    histologi

    berupa organ

    pankreas

    tikus yang

    dipotong

    dengan

    mikrotom

    ukuran 6µm

    Mikroskop

    Olympus

    BX41

    Dengan pengaturan

    skala dan perbesaran

    pada mikroskop

    a) Perbesaran 20x

    b) Perbesaran 40x

    c) Perbesaran 40x

    d) Perbesaran 40x

    e) Perbesaran 40x

    a) SS : dapat

    diidentifikasi

    gambaran khas

    organ

    b) N : normal dan

    dapat diidentifikasi

    c) N : normal dan

    dapat diidentifikasi

    d) BU : bulat dan

    berwarna ungu

    e) MM : berwarna

    merah muda

  • 23

    BAB 3

    METODE PENELITIAN

    3.1. Desain Penelitian

    Desain penelitian yang digunakan adalah desain deskriptif.

    3.2. Waktu dan Tempat Penelitian

    3.2.1. Waktu Penelitian

    Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Agustus 2014.

    3.2.2. Tempat Penelitian

    Penelitian dilakukan di Laboratorium Animal House, Laboratorium

    Biokimia, Laboratorium Biologi, Laboratorium Farmakologi, dan

    Laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Jl.

    Kertamukti No. 05, Pisangan Ciputat 15419, Tangerang Selatan.

    3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

    Hewan coba yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus jantan

    strain Sprague-dawley umur 80 hari dengan berat badan 200 gram. Hewan

    coba tersebut diperoleh dari Departemen Patologi Institut Pertanian Bogor

    (IPB) (Lampiran 1).22

    Pada penelitian ini menggunakan organ hepar, pankreas, dan ginjal

    sebagai sampel.

    3.4. Cara Kerja Penelitian

    3.4.1. Alat dan Bahan Penelitian

    a. Tahap Nekropsi

    Kapas, minor set surgeon, Zipline plastic bag, papan potong, dan eter untuk

    anastesi.

  • 24

    b. Tahap Perfusi dan Fiksasi

    Alat perfusi menggunakan set infus dengan ukuran jarum 23G, PBS

    (Phosphate Buffer Saline) dan Formalin.

    c. Tahap Dehidrasi

    Gelas ukur 1000 ml dan 500 ml, Beaker glass 1000 ml dan 250 ml, corong

    kaca, aquades, alkohol absolut CH3CH2OH Mallinckrodt Chemicals, dan

    alkohol 95%.

    d. Tahap Paraffinisasi

    Incubator dan Paraplast Leica Microsystem.

    e. Tahap Clearing dan Embedding

    Hotplate stirer (sRS 710 HA), vials stopper tools neck.

    f. Tahap Blocking

    Cetakan blocking dan Spiritus

    g. Tahap Pemotongan

    Bunsen, mikrotom geser, korek api gas, waterbath, kulkas, beaker glass 200

    ml, putih telur, gliserin, dan es batu.

    h. Tahap Pewarnaan

    Object glass, cover glass, staining jar, mikroskop shimadzu T025A, spatula

    kaca, timer, Hematoksilin, eosin, xylol, canada balsam, aquadest, H2SO4,

    alkohol absolut CH3CH2OH, alkohol 95%.

    i. Tahap Foto Jaringan

    Kotak preparat, kamera preparat, komputer lab, DVD foto, mikroskop

    Olympus BX41.

    j. Tahap keseluruhan

    Tissue, tissue berpori.

    3.4.2. Adaptasi Hewan Coba1,2

    Setelah hewan coba tiba di laboratorium animal house, hewan coba diberikan

    makan dan minum ad libitum dan ditempatkan dalam kandang yang berisi 3 ekor.

    Kemudian diamati perilakunya serta diadaptasi selama 14 hari.18

  • 25

    3.4.3. Tahapan Nekropsi (Perfusi) 1,2,4

    Siapkan alat dan bahan. Lakukan anastesi menggunakan eter. Keberhasilan

    anastesi dicek dengan memberikan rangsang nyeri pada kaki atau ekor tikus. Tikus

    diletakkan pada papan nekropsi dan dilakukan pembedahan pada bagian

    abdominothorakal. Setelah alat perfusi terpasang, suntikan jarum perfusi di bagian

    vena kava inferior dan potong vena kava inferior di bagian belakang jarum dengan

    hati-hati. Larutan perfusi formalin 10% dalam PBS (PBS-Formalin), dialirkan dengan

    kecepatan 20 ml/menit dan tekanan yang diperoleh dari ketinggian permukaan larutan

    terhadap vena kava inferior sekitar 72,5 cm. Perhatikan hingga pembuluh darah arteri

    dan vena intercostalis serta hepar menjadi pucat yang menandakan proses perfusi

    sudah selesai. Lakukan nekropsi organ-organ yang dibutuhkan (hepar, pankreas,

    ginjal). Organ dipotong dengan ketebalan 0,5 cm dan direndam kedalam larutan

    formalin 10%.

    3.4.4. Tahapan Pemrosesan Jaringan1,2

    3.4.4.1. Dehidrasi1,2

    Proses dehidrasi menggunakan alkohol dengan variasi konsentrasi

    50%, 70%, 80%, 90%. Pengenceran alkohol dilakukan dengan cara

    penghitungan sebagai berikut:

    1. Pengenceran alkohol 50% = 500 ml alkohol 95% + 450 ml aquades

    2. Pengenceran alkohol 70% = 700 ml alkohol 95% + 250 ml aquades

    3. Pengenceran alkohol 80% = 800 ml alkohol 95% + 150 ml aquades

    4. Pengenceran alkohol 90% = 900 ml alkohol 95% + 50 ml aquades

    Setiap konsentrasi larutan alkohol tersebut dimasukkan pada 3 buah pot

    plastik, masing-masing setinggi 2/3 pot plastik. Setiap pot dengan konsentrasi

    alkohol yang sama diberi label I, II, III untuk menandakan urutan proses

    dehidrasi.

  • 26

    Tahap dehidrasi dimulai dengan memasukkan potongan hepar, ginjal dan

    pankreas ke dalam pot plastik berlabel I, II, lalu III. Potongan organ direndam

    selama 15 menit secara berurutan ke dalam larutan alkohol 50%, 70%, 80%,

    90% dan 95%.

    3.4.4.2. Clearing1,2

    Tahapan Clearing bertujuan untuk mengeluarkan alkohol dari jaringan,

    karena alkohol dan paraffin tidak dapat menyatu, sehingga larutan yang akan

    dimasukkan ke dalam jaringan dapat berikatan dengan parafin. Pada tahapan

    ini digunakan larutan toluol:alkohol (1:1) dan toluol murni.

    Pertama, potongan organ dimasukan ke dalam larutan toluol:alkohol

    (1:1) dan direndam selama 25 menit. Kemudian potongan organ tersebut

    dipindahkan dan direndam kedalam toluol murni selama 60 menit hingga

    menjadi bening. Perendaman dalam toluol murni diperpanjang sampai

    potongan menjadi bening. Waktu perendaman dalam toluol murni paling lama

    selama 120 menit, karena akan menyebabkan pengerasan pada jaringan

    sehingga sulit untuk dilakukan pemotongan.

    3.4.4.3. Embedding1,2

    Tahap embedding bertujuan untuk mengeluarkan cairan pada saat

    proses clearing dan menggantinya dengan paraffin karena cairan saat proses

    clearing dapat mengkristal di dalam jaringan dan menyebabkan jaringan

    mudah robek saat tahap pemotongan.

    Pertama, buat larutan toluol : paraffin (50 ml : 50 ml). Kemudian

    bungkus organ menggunakan tissue berpori lalu rendam dalam larutan

    tersebut dan diamkan pada suhu ruangan selama 24 jam. Setelah itu cairkan

    paraffin dengan suhu diantara 56-62oC dan diberi label I, II, III dan IV.

    Masukkan potongan organ ke dalam larutan paraffin secara berurutan,

    masing-masingnya selama 15 menit.

  • 27

    3.4.4.4. Blocking1,2

    Tahapan ini merupakan proses pembuatan blok preparat agar organ

    dapat dipotong dengan mikrotom. Cairkan paraffin lalu tuangkan sedikit ke

    dalam cetakan blok. Masukan potongan organ secara perlahan dan kemudian

    tuangkan kembali paraffin hingga merendam organ.

    3.4.5. Pemotongan Jaringan1,2

    Pemotongan jaringan dilakukan dengan menggunakan mikrotom.

    Pertama, rekatkan blok paraffin diatas blok kayu dengan cara memanaskan salah

    satu sisi blok paraffin hingga sedikit mencair kemudian langsung tempelkan.

    Letakan blok paraffin dan balok kayu tersebut pada holder (pemegang) di

    mikrotom dan kencangkan. Lakukan pemotongan jaringan ini dengan ketebalan

    6 µm. Jika diperlukan sudut kemiringan pisau mikrotom diatur pada sudut 20-

    30o.

    Hasil potongan blok paraffin kemudian di rendam dalam waterbath

    dengan suhu air 37-40o C hingga potongan organ terlihat merengang. Kemudian

    oleskan putih telur yang dicampur dengan gliserin pada kaca objek secara tipis

    dan merata. Lalu ambil potongan tersebut menggunakan kaca objek ke dalam

    waterbath. Letakan kaca objek tersebut pada hotplate dengan suhu 40-45oC

    hingga kering. Setelah kering dan potongan melekat dengan kuat pada kaca

    objek, angkat dari hotplate dan potongan siap untuk diwarnai.

    3.4.6. Tahapan Pewarnaan HE1,2

    Sebelum memulai proses pewarnaan masukkan xylol, alkohol dengan

    konsentrasi 70%, 80%, 90%, alkohol absolut, alkohol asam, hematoksilin, eosin

    dan aquades ke dalam staining jar dengan volume ¾ bagian.

    Masukkan dan rendam cawan yang berisi preparat kedalam staining

    jar yang berisi xylol selama 10 menit sebanyak 2 kali. Lalu pindahkan dan

    rendam cawan ke dalam staining jar berisi alkohol absolut selama 5 menit

  • 28

    sebanyak 2 kali. Pindahkan dan rendam cawan ke dalam staining jar berisi

    alkohol konsentrasi 90% selama 1 menit.

    Pindahkan dan rendam cawan ke dalam staining jar berisi alkohol

    konsentrasi 80% selama 1 menit. Pindahkan dan rendam cawan ke dalam

    staining jar berisi alkohol konsentrasi 70% selama 1 menit. Pindahkan dan

    rendam cawan ke dalam staining jar berisi aquades selama 4 menit. Pindahkan

    cawan tersebut dan rendam ke dalam staining jar yang berisi Hematoksilin

    dengan durasi hepar 4 menit; ginjal 2 menit; pankreas 1 menit. Selama durasi

    itu dilakukan pengamatan dibawah mikroskop untuk menghindari terjadinya

    overstainning hematoksilin. Lakukan perendaman cawan di dalam staining jar

    berisi aquades sebanyak 3 kali dengan durasi 1 menit. Pindahkan dan rendam

    cawan ke dalam staining jar berisi alkohol asam selama 30 detik.

    Kemudian pindahkan dan rendam cawan kedalam staining jar yang

    sudah dialiri air mengalir selama 1 menit. Pindahkan dan rendam cawan ke

    dalam staining jar berisi Eosin selama 1 menit. Selama durasi itu dilakukan

    pengamatan dibawah mikroskop untuk menghindari terjadinya overstainning

    eosin.

    Lakukan pemindahan dan perendaman cawan di dalam staining jar

    berisi aquades sebanyak 3 kali dengan durasi 1 menit. Pindahkan secara

    berurutan dan rendam cawan ke dalam staining jar yang berisi alkohol dengan

    konsetrasi meningkat dari 70% sampai alkohol absolut selama 1 menit dan xylol

    sebanyak 2 kali 3 menit.

    Teteskan dan ratakan canada balsam secukupnya di atas preparat dan

    ditutup dengan cover glass. Amati di bawah mikroskop dan jangan biarkan ada

    gelembung udara pada preparat. Berikan nama organ/kode organ serta tanggal

    pembuatan. Tunggu hingga kering. Preparat siap disimpan.

  • 29

    3.4.7. Foto Jaringan1,2

    Preparat diamati dan difoto dengan menggunakan mikroskop Olympus BX41 dan software Olympus DP2-BSW yang dimulai dari perbesaran 4x, 10x, 20x, dan 40x.

    3.5. Alur Penelitian

  • 30

    BAB 4

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Teknik Perfusi

    Alat dan bahan yang digunakan di laboratorium Animal House untuk

    metode perfusi adalah set infus dengan ukuran jarum 23G, penyangga set infus

    dengan ketinggian 72,5 cm, PBS (Phosphate Buffer Saline) dan Formalin

    (Gambar 4.1.a). Alat yang seharusnya digunakan berdasarkan teori adalah alat

    perfusi yang dilengkapi dengan pengukur tekanan dan kecepatan. Kecepatan

    normalnya biasanya 20-25 ml/menit, sedangkan tekanan yang dibutuhkan diawal

    adalah 80 mmHg, nantinya akan bertahap meningkat hingga maksimal 130

    mmHg. Tujuan dari pengaturan tekanan dan kecepatan tersebut adalah agar hasil

    organ tikus yang diperfusi dapat maksimal dan keseragaman hasil dapat tercapai.

    Pada penelitian kali ini menggunakan peralatan yang berbeda dengan teori.

    Karena faktor dari keterbatasan penyediaan alat tetapi tetap dengan fungsi yang

    sama. Kecepatan dan tekanan aliran larutan perfusi pada set infus tidak dapat

    diatur agar tetap konstan, sehingga hasil yang didapat pada beberapa organ tidak

    maksimal dan kurang memuaskan.4,9,19

    Persiapan pertama yang dilakukan yaitu mempersiapkan alat yang

    dibutuhkan untuk melakukan perfusi. Sebelum melakukan perfusi, tikus terlebih

    dulu dianastesi. Setelah itu persiapan infus set dengan jarum yang sudah

    terpasang. Sebelum jarum ditusukkan ke pembuluh darah, selang infus dipastikan

    sudah diisi dengan larutan PBS-Formalin dan juga dipastikan tidak ada

    gelembung udara didalam selang untuk keberhasilan perfusi. Pada penelitian ini

    saat pengerjaan pertama, menggunakan jarum ukuran besar dan disuntikkan

    melalui ventrikel kiri, namun hal tersebut merusak dan merobek pembuluh darah

    dijantung dan proses perfusi gagal berjalan. Kemudian jarum diganti dengan

    ukuran yang lebih kecil yaitu ukuran 23G dan dimasukkan melalui vena kava

    inferior pada jantung (Gambar 4.1.b). Selain itu, keterampilan teknik penusukkan

    jarum dan pengaliran cairan perfusi juga harus terlatih dan cepat. Karena

    berpengaruh pada keberhasilan perfusi. 4,9,19

  • 31

    Gambar 4.1.a Alat perfusi Gambar 4.1.b Pengaturan sudut pada perfusi

    Gambar 4.1.c Tanda perfusi sudah optimal Gambar 4.1.d Perfusi selesai

    Selanjutnya setelah jarum ditusukkan dan dalam posisi yang benar, buka

    infus set dengan kecepatan tetes maksimal dan biarkan cairan PBS-Formalin

    mengalir ke pembuluh darah tikus. Lamanya perfusi pada tikus dewasa berkisar

    antara 30-60 menit. Selain itu dapat juga dilihat berdasarkan penampakan organ

    hepar yang mulai terlihat bersih dan semakin pucat (Gambar 4.1.c). Selain itu

    dapat dilihat juga dari pembuluh darah intercostalis tikus yang semakin lama

    semakin pucat. Ini merupakan indikator perfusi yang baik. Setelah perfusi selesai

  • 32

    dikerjakan, maka proses pengambilan organ dapat segera dilakukan (Gambar

    4.1.d). 4,9,19

    Berikut hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu daftar preparat

    jaringan yang diperfusi PBS-Formalin. (Lampiran 3)

    Tabel 4.1. Daftar preparat jaringan yang diperfusi dengan PBS-Formalin

    No. Kode

    Organ

    Gambaran

    khas organ

    Ukuran

    Sel

    Bentuk

    Sel Nukleus Sitoplasma

    1. Hepar A SS N N BU MM

    2. Hepar B SS N N BU MM

    3. Ginjal A SS N N BU MM

    4. Ginjal B SS N N BU MM

    5. Ginjal C SS N N BU MM

    6. Pankreas A SS N N BU MM

    7. Pankreas B (-) (-) (-) BU MM

    8. Pankreas C (-) (-) (-) BU MM

    9. Pankreas D (-) N N BU MM

    10. Pankreas E SS N N BU MM

    11. Pankreas F SS (-) (-) BU MM

    12. Pankreas G (-) (-) (-) BU MM

    13. Pankreas H SS N N BU MM

    Keterangan :14,15,16,17

    SS : dapat diidentifikasi gambaran khas organ

    N : normal dan dapat diidentifikasi

    BU : bulat dan berwarna ungu

    MM : berwarna merah muda

    (-) : tidak sesuai teori

    4.2. Hepar

    Pada hepar perfusi PBS-Formalin (Gambar 4.2.a) terlihat hubungan atau

    taut antar sel renggang, bentuk sel polihedral, batas antar sel jelas, sitoplasma

    berwarna dominan berwarna merah muda tetapi terdapat sebaran warna ungu pada

    sitoplasma, nukleus berbentuk bulat dan berwarna ungu.

  • 33

    (a) (b)

    Gambar 4.2. Hepar tikus (a) Perfusi PBS-Formalin A perbesaran 20x; (b) Perfusi PBS-

    Formalin A perbesaran 40x (insert: hepatosit).

    Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Suprianto (2014)

    dimana didapatkan hasil yang baik pada hepar yang diperfusi PBS-Formalin.20

    Hal tersebut dapat diakibatkan oleh faktor teknik perfusi. Pada penelitian ini

    teknik perfusi dilakukan dengan kecepatan 20 ml/menit dan dengan tekanan

    yang tidak dapat dibuat konstan. Kecepatan diperoleh dengan ketinggian

    permukaan larutan terhadap vena kava inferior sekitar 72,5 cm. Kemungkinan

    cairan perfusi dengan kecepatan dan tekanan tinggi merusak tautan antar sel

    sehingga hasil pada preparat jaringan tampak renggang. 4,9,19,21

    4.3. Ginjal

    Pada ginjal perfusi PBS-Formalin (Gambar 4.3.a) gambaran glomerulus

    dapat dikenali namun tubulus ginjal dominan sulit dikenali, tubulus ginjal pada

    perfusi PBS-Formalin tidak begitu jelas dan terlihat renggang.

    (a)

  • 34

    (b) (c)

    Gambar 4.3. Ginjal tikus (a.) Perfusi PBS-Formalin C perbesaran 20x; (b.) Perfusi

    PBS-Formalin C perbesaran 40x (insert: glomerulus); (c.) Perfusi PBS-Formalin C

    perbesaran 40x (insert: tubulus)

    Bentuk glomerulus pada preparat tampak baik. Sel endotel glomerulus

    dapat dikenali dan ruang kapsula Bowman masih dalam kondisi baik (Gambar

    4.3.b insert). Gambaran pada sel epitel tubulus ginjal yang diperfusi PBS-

    Formalin tersusun tidak teratur (Gambar 4.3.c insert). Kondisi tersebut disebabkan

    oleh teknik perfusi. Yaitu pengaruh kecepatan dan tekanan perfusi yang tinggi

    dapat merusak jaringan dengan mekanisme jejas sel. Ketika sel mendapatkan

    tekanan tinggi pada perfusi, akan muncul respon adaptasi yang menghasilkan

    perubahan pada gambaran, jumlah, maupun ukuran pada sel. Sehingga didapatkan

    gambaran sel epitel tubulus yang tidak tersusun teratur pada ginjal perfusi PBS-

    Formalin (Gambar 4.3.c). 4,9,19,21

    4.4. Pankreas

    Pada pankreas perfusi PBS-Formalin sulit dibedakan gambaran pulau

    Langerhans dan bagian eksokrinnya (Gambar 4.4.a). Kondisi tersebut disebabkan

    karena faktor teknik perfusi. Kemungkinan cairan perfusi dengan kecepatan dan

    tekanan tinggi merusak tautan antar sel sehingga hasil pada preparat jaringan

    pankreas PBS-Formalin lebih renggang.22

    Selain itu, pada pankreas PBS-Formalin

    didapatkan jaringan yang bertumpuk-tumpuk sehingga terlihat sebagai keadaan

    overstain hematoksilin. Keadaan tersebut disebabkan karena pada proses

  • 35

    pembuatan blok kemungkinan ada tahapan yang dikerjakan kurang maksimal. Hal

    tersebut dikarenakan konsistensi organ pankreas lebih lunak dibandingkan organ

    hepar dan ginjal sehingga pada tahapan dehidrasi atau clearing organ pankreas

    menjadi keras dan sulit untuk dipotong dan menghasilkan gambaran preparat yang

    bertumpuk-tumpuk. 4,9,19,21

    (a)

    (b) (c)

    Gambar 4.4. Pankreas tikus (a.) Perfusi PBS-Formalin A perbesaran 20x; (b.)

    Perfusi PBS-Formalin A perbesaran 40x (insert: pulau Langerhans); (c.) Perfusi PBS-

    Formalin A perbesaran 40x (insert: asinus)

    Pada pankreas yang diperfusi PBS-Formalin (Gambar 4.4.b insert) sel-sel

    pada pulau Langerhans terlihat jelas, sitoplasma berwarna merah muda dan

    nukleus tampak berwarna ungu dan berbentuk bulat, tetapi hubungan antar sel

    pada pulau Langerhans terlihat renggang. Pada pankreas perfusi PBS-Formalin

    (Gambar 4.4.c insert) bagian eksokrin tidak terlihat inti sel pada asinus tetapi

    batas antar asinus tegas sehingga sitoplasma dan nukleus tidak dapat

  • 36

    dideskripsikan. Keadaan tersebut dapat diakibatkan oleh faktor teknik perfusi.

    Pada penelitian ini teknik perfusi dilakukan dengan kecepatan 20 ml/menit dan

    dengan tekanan yang tidak dapat diukur. Kemungkinan cairan perfusi dengan

    kecepatan dan tekanan tinggi merusak tautan antar sel sehingga hasil pada

    preparat jaringan tampak renggang.22

    Hasil penelitian ini sesuai dengan yang

    dilakukan oleh Fu Tian Du dkk (2012), yaitu gambaran ruang antara lobus

    interstisial bagian eksokrin pankreas tampak melebar, terlepas, dan membengkak

    (edema). 4,9,19,21

    Pada organ pankreas yang di perfusi dengan PBS-Formalin dilakukan

    pengulangan pembuatan preparat sebanyak 8x. hal tersebut dikarenakan tidak

    didapatkannya gambaran sel yang jelas serta potongan organ yang tidak tersebar

    dengan baik. Dan hasil yang didapat dari ke-8 pengulangan tersebut menghasilkan

    hasil yang sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa organ pankreas telah

    mengalami perubahan akibat proses perfusi PBS-Formalin yang telah dijelaskan

    prosesnya diatas.

  • 37

    BAB 5

    SIMPULAN DAN SARAN

    5.1. Simpulan

    Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan :

    1. Perfusi PBS-Formalin tidak memberikan gambaran yang baik pada organ

    hepar, pankreas, dan ginjal dikarenakan pengaturan tekanan dan kecepatan

    yang tidak optimal untuk melakukan perfusi sehingga data yang digunakan

    pada penelitian ini tidak dapat digunakan sebagai data dalam pembuatan SOP

    baku histoteknik di laboratorium Animal House dan laboratorium Histologi

    kampus FKIK UIN Syarif Hidyatullah

    2. Organ hepar, ginjal dan pankreas yang diperfusi PBS-Formalin menunjukkan

    gambaran histologi yang kurang baik. Walaupun gambaran khas masing-

    masing organ, nukleus dan sitoplasma dapat diidentifikasi dengan baik. Akan

    tetapi, hubungan atau taut antar sel terlihat renggang akibat dari kurang

    optimalnya pengaturan kecepatan dan tekanan pada proses perfusi

    berlangsung.

    5.2. Saran

    Untuk penelitian ini :

    1. Pengadaan alat perfusi yang sesuai dengan standar penelitian harus segera

    dlakukan.

    2. Setelah pengadaan alat terpenuhi, dilakukan uji coba sehingga dapat

    menghasilkan SOP yang dapat diaplikasikan pada laboratorium Animal House

    dan laboratorium Histologi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Untuk penelitian selanjutnya agar dapat selalu mendokumentasikan setiap

    tahapan dan perlakuan, supaya penyusunan pembahasan sesuai dengan apa

    yang telah dilakukan.

  • 38

    4. Untuk penelitian selanjutnya harus mempunyai hewan kontrol yang sesuai

    dengan rumus yang berlaku.

    5. Dalam pengukuran melihat beberapa lapang pandang untuk menilai preparat.

  • 39

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Jusuf, Ahmad Aulia. Histoteknik Dasar. Bagian Histologi Fakultas

    Kedokteran Universitas Indonesia. 2009

    2. Suntoro, Handari. Metode Pewarnaan : Histologi dan Histokimia. Bagian

    Anatomi dan Mikroteknik Hewan Fakultas Biologi UGM. Jakarta : Penerbit

    Bhiratara Karya Aksara. 1983

    3. Hedrich, Hans. The Laboratory Mouse. Amsterdam, Netherlands : Elsevier.

    2004

    4. Gage, Gregory J. Klipke, Daryl R. et al. Whole Animal Perfusion Fixations

    for Rodents. Pubmed. 2012 (65)

    5. Medicago, AB. Smartbuffers Phosphate Buffered Saline (PBS) pH 7,4 and

    7,2. 2011

    6. Buchwalow, Igor B. Bocker, Werner. Immuno-histochemistry. Basic and

    Methods. Springer Heidelberg Dordrecht London New York. 2010

    7. Kardono. Persyaratan Laboratorium Lingkungan dan Kondisinya di

    Indonesia. Vol 2 hal 109-120. Peneliti di Pusat Teknologi Lingkungan Badan

    Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2008

    8. Harvey, Lee. Analytic Quality Glossary. Quality Research International. Updated 12 July, 2014. Available from URL :

    http://www.qualityresearchinternational.com/glossary/preliminarystudy.htm

    Accessed September 5, 2015

    9. Cunningham, Miles. Scouten, Charles W. et al. Sacrifice Perfusion in Animal

    Research. Leica Biosystems, Wetzlar, Germany. McLEan Hospital of Harvard

    University, Belmont, MA, USA. 2012

    10. Tremblay, Marie-Eve et al. Preparation of Mouse Brain Tissue for

    Immunoelectron Microscopy. Journal of Visualized Experiments : JoVE.

    2010.

    http://www.qualityresearchinternational.com/glossary/preliminarystudy.htm

  • 40

    11. Rolls, Geoffrey. Fixation and Fixatives : Popular Fixative Solutions. Leica

    Biosystems, Wetzlar, Germany. 2012

    12. Steven, Leary et al. AVMA Guidelines for the Euthanasia of Animals: 2013

    Edition. Schaumburg : American Veterinary Medical Association. 2013

    13. Waheed, Usman. Histotechniques Laboratory Techniques in Histopathology :

    a Handbook for Medical Technologist. LAP LAMBERT Academic

    Publishing. 2012

    14. Mescher, Anthony L. Histologi Dasar Junqueira Teks dan Atlas. Edisi 12.

    Penerbit Buku Kedokteran : EGC. Jakarta. 2012

    15. Johnson, Kurt E. Quick Review Histologi dan Biologi Sel. Binarupa Aksara

    Publisher. 2011

    16. Gartner, Leslie P. Hiatt, James L. Strum, Judy M.. Biologi Sel dan Histologi.

    Ed. 6. Binarupa Aksara Publisher. 2012

    17. Conti, Claudio J; et al. Atlas of Laboratory Mouse Histology. Texas : The

    University of Texas M. D. Anderson Cancer Center. 2004

    18. Askary, Fadel. Efek Pemberian Ekstrak Nigella sativa Terhadap Kadar

    Glukosa Darah dan Trigliserida Pada Tikus Diabetes Mellitus yang Diinduksi

    Streptozotocin. Laporan Penelitian FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2014

    19. Anonim. Perfusion Systems : Harvard Apparatus Isolated Heart Perfusion

    Apparatus. 2012 BS4: 50-2864

    20. Suprianto, Abang. Perbandingan Efek Fiksasi Formalin Metode Intravital

    dengan Metode Konvensional pada Kualitas Gambaran Histologis Hepar

    Tikus. Universitas Tanjungpura Pontianak. 2014

    21. Kumar V, Cotran RS, Robbin SL. Buku Ajar Patologi Edisi ke-7. Vol 1.

    Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007.

  • 41

    22. Tian Du, Fu et al. A Modified Perfusion Method to Improve the Quality of

    Procured Donor Pancreas in Rats. Gastroenterology Research. 2012. 5(6):

    227-231

  • 42

    LAMPIRAN

    Lampiran 1

    Surat Keterangan Tikus Sehat

    Gambar 6.1 Surat Keterangan Tikus Sehat

  • 43

    Lampiran 2

    Gambar proses penelitian

    Gambar 6.2 Sampel

    Penelitian

    Gambar 6.3 Anastesi

    Hewan Coba

    Gambar 6.4 Proses

    Nekropsi

    Gambar 6.5 Proses

    Perfusi

  • 44

    Gambar 6.6 Proses

    Dehidrasi

    Gambar 6.7 Proses

    clearing

    Gambar 6.8 Proses

    Embedding

    Gambar 6.9 Proses

    Blocking

    Gambar 6.10 Blok

    PBS-Formalin

    Gambar 6.11

    Pemotongan Jaringan

  • 45

    Gambar 6.12 Set

    Pewarnaan Hematoksilin

    Eosin

  • 46

    Lampiran 3

    Gambar hasil preparat

    (a) (b)

    (c) (d)

    Gambar 6.13 a. Hepar PBS-F A 20x; b. Hepar PBS-F B 20x; c. Hepar PBS-F A 40x;

    d. Hepar PBS-F B 40x

  • 47

    (a) (b)

    (c) (d)

    (e) (f)

  • 48

    (g) (h)

    (i)

    Gambar 6.14 a. Ginjal PBS-F A 20x; b. Ginjal PBS-F B20x; c. Ginjal PBS-F C

    20x; d. Ginjal PBS-F A 40x (insert: glomerulus); e. Ginjal PBS-F B 40x (insert:

    glomerulus); f. Ginjal PBS-F C 40x (insert: glomerulus); g. Ginjal PBS-F A 40x (insert:

    tubulus); h. Ginjal PBS-F B 40x (insert: tubulus); i. Ginjal PBS-F C 40x (insert: tubulus)

  • 49

    (a) (b)

    (c) (d)

    (e) (f)

    (g) (h)

  • 50

    (i) (j)

    (k) (l)

    (m) (n)

  • 51

    (o) (p)

    (q) (r)

    (s) (t)

  • 52

    (u) (v)

    Gambar 6.15 a. Pankreas PBS-F A 20x; b. Pankreas PBS-F B 20x; c. Pankreas PBS-

    F C 20x; d. Pankreas PBS-F D 20x; e. Pankreas PBS-F E 20x; f. Pankreas PBS-F F

    20x; g. Pankreas PBS-F G 20x; h. Pankreas PBS-F H 20x; i. Pankreas PBS-F A 40x

    (insert: Langerhans); j. Pankreas PBS-F B 40x (insert: Langerhans dan asinus); k.

    Pankreas PBS-F C 40x (insert: Langerhans); l. Pankreas PBS-F D 40x (insert:

    Langerhans); m. Pankreas PBS-F E 40x (insert: Langerhans); n. Pankreas PBS-F F 40x

    (insert: Langerhans); o. Pankreas PBS-F G 40x (insert: Langerhans dan asinus); p.

    Pankreas PBS-F H 40x (insert: Langerhans); q. Pankreas PBS-F A 40x (insert: asinus);

    r. Pankreas PBS-F C 40x (insert: asinus); s. Pankreas PBS-F D 40x (insert: asinus); t.

    Pankreas PBS-F E 40x (insert: asinus); u. Pankreas PBS-F F 40x (insert: asinus); v.

    Pankreas PBS-F H 40x (insert: asinus)

  • 53

    Lampiran 4

    Riwayat Penulis

    Identitas

    Nama : Putri Junita Sari

    Jenis Kelamin : Perempuan

    Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 14 Juni 1993

    Agama : Islam

    Alamat : Komp. Paspampres Jl. Kemuning No.9 Kotabatu

    Bogor 16610

    e-Mail : [email protected]

    Riwayat Pendidikan

    1999-2000 : RA Insan Takwa Bogor

    2000-2005 : MI Insan Takwa Bogor

    2005-2008 : SMPN 7 Bogor

    2008-2011 : SMAN 4 Bogor

    2012 - sekarang : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta