Syamsu Bahar dan Bachtar Bakrie: Pemanfaatan Limbah ... bptp/buletin limbah...tidak terjual sehingga…

  • Published on
    11-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

1Buletin Pertanian Perkotaan Volume 5 Nomor 2, 2015

Pemanfaatan Limbah Sayuran Pasar untuk Pakan Kelinci dan Teknik Pengembangbiakannya serta Pengolahan Urin/Feses Kelinci Sebagai Pupuk

Organik di DKI Jakarta

Syamsu Bahar dan Bachtar BakrieBalai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta

Jalan Ragunan No. 30. Pasarminggu Jakarta 12540Telepon : (021) 78839949; Fax.: (021) 7815020;

Email : syamsubahar@yahoo.com

ABSTRAK

Budidaya kelinci dapat dilakukan di wilayah perkotaan seperti di kota Jakarta. Melalui beternak kelinci dapat dihasilkan hewan hias dan hewan pedaging. Sumber pakan dapat berupa pakan pabrikan berupa pellet dan pakan hijauan berupa limbah sayuran yang diperoleh di pasar-pasar tradisional karena banyak limbah sayuran yang masih layak dijadikan pakan untuk kelinci. Limbah sayuran tersebut adalah merupakan bagian dari sayuran yang sudah tidak digunakan atau tidak terjual sehingga akan dibuang. Teknik pengembangbiakan kelinci dapat diatur dengan kelahiran yang terencana. Masa kehamilan kelinci berlangsung selama 28 - 35 hari, sehingga kelahiran untuk kelinci terjadi sekitar hari ke 31. Kelinci induk dapat dikawinkan kembali 2 minggu setelah melahirkan, sehingga dalam satu tahun dapat melahirkan 6 kali. Kotoran kelinci berupa urin dan feces dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang potensial khususnya untuk tanaman hortikultura. Pupuk organik mempunyai sifat yang dapat memperbaiki

tanah secara langsung.

Kata kunci : Limbah sayuran, Kelinci, Pupuk organik

ABSTRACT

Rabbits farm can be done in urban areas such as in the Jakarta city. Through rabbits farm can be produced ornamental animals and meat animal. Rabbit feed source can be either in the pellet feed manufacturers or forage in the vegetable waste obtained in traditional markets because many vegetable waste are still worth being fed to rabbits. The vegetable waste is part of the vegetables that have not been used or sold so that is discarded. Rabbit

breeding techniques can be set with a planned birth. Rabbit gestation period lasts for 28-35 days, so birth to rabbits happens around day 31 and that rabbits can be mated back 2 weeks after giving birth, so that in one year can give birth to 6 times. Rabbit droppings in the form of urine and feces can be used as a potential source of organic fertilizer, especially for horticultural crops. Organic fertilizers have properties that can improve the nature and function of soil physical and soil biological functions directly.

Keywords: Waste vegetable, Rabbit, Organic fertilizers

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi pertanian, sosial budaya masyarakat, serta fasilitas sa-rana dan prasarana di Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya telah mendorong usaha perta-nian yang dapat menunjang pembangunan di wilayah ini menuju kota industri, pariwisata, perdagangan dan jasa. Dalam bidang pari-wisata dan lingkungan, sektor pertanian mem-punyai peran penting dengan potensi yang dimiliki, tidak saja dapat bermanfaat sebagai sumber penghasilan keluarga, sumber olahan pangan untuk mencukupi kebutuhan keluar-ga, namun apabila dikelola dengan baik dan diberi sentuhan artistik dapat dijual sebagai obyek wisata agro.

Kelinci semula hewan liar yang dijinakkan tujuan untuk keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan percobaan. Jenis New Zealand White, Vlaams dan Californian sangat baik untuk produksi daging, sedangkan Angora, Lion dan Rex diminati sebagai

Syamsu Bahar dan Bachtar Bakrie: Pemanfaatan Limbah Sayuran Pasar untuk Pakan Kelinci

2 Buletin Pertanian Perkotaan Volume 5 Nomor 2, 2015

hewan hias dan untuk penghasil kulit/lbulu (Anonim, 2000 dan 2011). Budidaya kelinci dapat dilakukan di wilayah perkotaan seperti di kota Jakarta melalui beternak kelinci dapat dihasilkan hewan hias, berupa kelinci yang berumur muda atau hewan pedaging yang dipotong pada saat kelinci berumur sekitar empat bulan. Sumber pakan dapat berupa pakan pabrikan antara lain berupa pellet (Gambar 1a) dan limbah sayuran yang diperoleh di pasar-pasar tradisional karena banyak limbah sayuran yang masih layak dijadikan pakan untuk kelinci. Limbah sayuran tersebut adalah merupakan bagian dari sayuran yang sudah tidak digunakan, tidak terjual sehingga siap dibuang (Gambar 1b).

Dalam keadaan liar kelinci mengkonsumsi rumput-rumputan dan berbagai tanaman liar serta semak. Kulit kayu dan batang pohon juga dikonsumsi apabila hijauan tersebut tidak mencukupi kebutuhan. Makanan kelinci yang baik adalah yang terdiri dari sayuran hijau, biji-bijian dan makanan penguat (konsentrat). Makanan hijauan yang diberikan antara lain semacam rumput lapangan, limbah sayuran seperti kangkung, selada air, daun bunga kol, daun wortel, wortel, dan lain-lain. Sayuran hijau yang akan diberikan pada kelinci ini harus dilayukan dan jangan dalam keadaan segar. Proses pelayuan selain untuk mempertinggi kadar serat kasar, juga untuk menghilangkan getah atau racun yang dapat menimbulkan kejang-kejang atau kembung (bloat) dan mencret (enteritis). Biji-

bijian bisa berupa jagung yang digiling halus hanya untuk campuran konsentrat, polard (kulit gandum), dedak halus dan ampas tahu.

Adapun pemberian pakan limbah sayuran pasar, terlebih dahulu harus dipilah-pilah yang dapat dijadikan sebagai pakan yang masih layak dan tidak tercemar, karena kelinci merupakan hewan yang mudah terserang diare. Limbah sayuran apabila digunakan sebagai bahan baku pakan memiliki beberapa keuntungan yaitu memiliki nilai ekonomis karena dapat menghasilkan berbagai produk pakan yang berguna dan harganya yang murah, mudah didapat dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Selain itu dengan memanfaatkan limbah sayuran dapat mengurangi masalah pencemaran lingkungan akibat sampah. Disamping keuntungan/kelebihan-kelebihan tersebut, limbah sayuran juga memiliki kerugian/kelemahan-kelemahan diantaranya adalah mudah busuk, voluminus (bulky ) dan ketersediaannya tidak tetap.

JENIS LIMBAH SAYURAN

Ada beberapa jenis limbah sayuran yang dapat digunakan sebagai pakan diantaranya adalah daun kembang kol, sisa wortel dan putren (pucuk jagung muda) (Gambar 2) dengan komposisi gizi yang cukup baik (Tabel 1), sedangkan bayam, kangkung, caisim, kubis, kulit kecambah kacang hijau dan daun singkong juga dapat dijadikan pakan kelinci,

aGambar 1. (a) Pakan pabrikan (pellet) (b) Limbah sayuran pasar untuk pakan kelinci

b

Syamsu Bahar dan Bachtar Bakrie: Pemanfaatan Limbah Sayuran Pasar untuk Pakan Kelinci

3Buletin Pertanian Perkotaan Volume 5 Nomor 2, 2015

namun perlu diperhatikan adalah dipilih bahan-bahan yang kurang mengandung gas karena kelinci sangat peka terhadap kembung.

PEMBERIAN PAKAN KELINCI

Pemeliharaan kelinci secara intensif tidak hanya diberikan pakan hijauan berupa limbah sayuran dan rumput-rumputan sebagai pakan pokok (Gambar 3), tetapi konsentrat dan biji-bijian diberikan sebagai pakan tambahan atau pakan penguat. Pakan hijauan dapat diberikan sekitar 40% dan sisanya 60% adalah pemberian konsentrat untuk memacu pertumbuhan kelinci muda, sedangkan untuk kelinci dewasa porsi pemberian hijauan lebih banyak dan pemberian konsentratnya dapat dikurangi. Penerapan tatalaksana pemberian pakan secara keseluruhan yang meliputi pemilihan jenis bahan pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan pengaturan pola pemberian pakan secara tepat sangat menuntut kesungguhan peternak dalam melaksanakannya.

Kelinci muda membutuhkan gizi cukup banyak untuk pertumbuhannya, terutama kebutuhan gizi terbanyak yaitu

pada saat menyusui, dengan jumlah gizi yang dibutuhkan hampir lima kali lipat. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pemberian konsentrat diberikan pada pagi hari sekitar jam 08:00 setelah pembersihan kandang dan pemberian 1/3 bagian hijauan diberikan pada siang hari sekitar jam 13:00, kemudian 2/3 bagian hijauan diberikan pada sore hari sekitar jam 18:00. Mengingat kelinci termasuk binatang malam (nocturnal), sehingga aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada malam hari, maka pemberian volume pakan sebaiknya terbanyak pada sore hari sampai malam hari.

Menurut Raharjo (2012) bahwa kelinci adalah ternak yang mengkonsumsi pakan berupa hijauan dan dapat tumbuh serta berkembangbiak cukup cepat. Memelihara 20 ekor induk dan 3 ekor pejantan, dibutuhkan rataan pakan hijauan sebanyak 20 kg ditambah dengan sedikit ampas tahu atau dedak (sekitar 1,5 kg/per hari) dan sedikit vitamin/mineral premix.

PENGEMBANGBIAKAN

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengembangbiakan, yaitu :

1. Pemilihan bibit Bila usaha peternakan bertujuan

untuk daging dipilih jenis kelinci yang berbobot badan besar dengan tipe perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu memilih kelinci bibit yang mempunyai potensi pertumbuhan bulu

harus memiliki fertilitas tinggi, tidak nervous, telinga panjang, tidak cacat, mata

Gambar 2. Pakan Limbah sayuran (wortel, putren, daun kembang kol)

Tabel 1. Hasil analisa proksimat nilai gizi limbah sayuran dan pellet

Keterangan: SK = Serat kasar, GE = Energi, Ca = Calcium, P = PhosphorSumber : Bahar, S (2015)

Syamsu Bahar dan Bachtar Bakrie: Pemanfaatan Limbah Sayuran Pasar untuk Pakan Kelinci

4 Buletin Pertanian Perkotaan Volume 5 Nomor 2, 2015

bersih, bulu halus dan rata, hidung kering, kakinya kuat dan tidak bengkok dan kaki depan sama panjang dengan jarak kaki belakang serta dada lebar, bentuk bulat, padat dan ramping.

Khusus untuk calon induk dapat dipilih kelinci yang tulang pinggang lebar yang menandakan dapat beranak banyak dan berumur dewasa kelamin betina/jantan 6 bulan berat badan dewasa kelamin betina : 2,5 3,6 kg jantan 2,4 3,4 kg. Berasal dari tetua induk dengan litter size minimal 4 ekor. Kelinci dengan masa produksi panjang dapat berkembang biak antara 2,5 3 tahun dan frekuensi beranak minimal pertahun 4 kali.

Pejantan yang baik adalah yang memiliki kantong kemih cukup besar hingga menggelantung ke bawah, Ekor lurus dengan punggung, Seleksi untuk meningkatkan mutu.

2. Seleksi indukProduktivitas kelinci sangat

tergantung pada pengelolaan. Salah satu unsur yang sangat mendukung pengelolaan adalah seleksi. Seleksi dilakukan secara ketat dan terus menerus berdasarkan sifat

daya produksi dan nilai ekonomis. Seleksi bibit berdasarkan ras sangat penting, terutama untuk menentukan tujuan peternakan yang terarah.

ternyata menolak, tidak mau dikawini, kemungkinan besar si betina telah hamil. Meneliti perkembangan perut setelah dua minggu kawin. Bagian perut diraba dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari, pelan-pelan ke belakang. Kalau terdapat tunas sebesar kelereng, berarti kelinci telah hamil.

3. Selama hamilKelinci hamil memerlukan

perawatan yang lebih baik daripada biasanya. Perawatan yang dilakukan antara lain meningkatkan jumlah pakan yang diberikan, menjaga air minum jangan sampai kurang, menjaga ketenangan suasana kandang, menjaga sanitasi kandang dan lingkungan lebih baik.

Selain itu mutu gizi juga ditingkatkan dengan memberikan konsentrat sebagai makanan tambahan. Pakan induk hamil, membutuhkan kadar protein 16-20 %, lemak 3-3,5 %, serat kasar 14-20 % dan mineral 4,5-6,5 %.

4. MelahirkanPerkembangan kelinci dapat diatur

dengan kelahiran terencana. Kelahiran untuk kelinci terjadi 31-32 hari sesudah saat perkawinan yang berhasil, karena kehamilan kelinci berlangsung selama 28 35 hari.

Kelinci tipe sedang (bobot dewasa 4 kg) mulai dikembangbiakkan setelah berumur 6-7 bulan. Lama mengandung

Gambar 5. Pemberian hijauan limbah sayuran pada kelinci

Seleksi dikerjakan dengan menyisihkan anak kelinci cacat dan lambat pertumbuhannya, dan menyingkirkan kelinci menjelang dewasa yang sifatnya kurang baik, terutama yang disiapkan sebagai calon induk. Seleksi juga dilakukan dengan memasukkan kembali kelinci betina kedalam kandang pejantan yang pernah mengawininya. Kalau

Syamsu Bahar dan Bachtar Bakrie: Pemanfaatan Limbah Sayuran Pasar untuk Pakan Kelinci

5Buletin Pertanian Perkotaan Volume 5 Nomor 2, 2015

sekitar 31 hari. Lama induk mengasuh anak 51 hari. Berdasarkan data itu kelinci dapat diprogramkan melahirkan anak empat kali dalam setahun. Program kelahiran diatur berpangkal pada kapan induk dikawinkan lagi setelah melahirkan. Anak kelinci yang telah mencapai umur 28 hari dapat disapih dengan memindahkan ke kandang pembesaran.

PEMANFAATAN URIN KELINCI SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR

Kotoran kelinci (urin dan feces) dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang potensial untuk tanaman hortikultura (Sajimin, et. al. 2005; Sajimin et. al., 2006; Anonim, 2010), sedangkan pupuk an-organik tidak mempunyai sifat yang dapat

fungsi biologi tanah secara langsung (Hong, 1991; Karama et al., 1991). Penggunaan pupuk organik kelinci menunjukkan peningkatan produksi sebesar 2,1% untuk jagung sayur, 11,8% untuk kubis, 12,5% untuk buncis,

22,7% untuk kacang merah dan 5,5,% untuk kentang (Noor et al., 1996).

Berikut penjabaran cara pengolahan urin kelinci: Dari 1 kelinci dewasa mengeluarkan urin

100 cc/hari, jika memelihara 10 kelinci dewasa maka diperoleh 1000 cc (1 liter) urine per hari.

Dalam 10 hari di peroleh 10 liter urin yang siap diolah yaitu urin ditambahkan probiotik 0,5% per liter urin (50 cc per 10 liter urin), kemudian tambahkan larutan gula pekat 1% per liter urin (100 cc larutan per 10 liter urin).

Cairan urin, probiotik dan gula diaduk rata dan difermentasikan selama 21 hari, atau sampai bau amoniaknya hilang maka sudah dapat digunakan untuk tanaman.

Penggunaannya diencerkan dengan air perbandingan 1 bagian urin : 5 bagian air, disemprotkan ke tanaman atau disiramkan ke tanah.

PEMANFAATAN FESES KELINCI SEBAGAI PUPUK ORGANIK PADAT

Gambar 4. Pupuk cair urin kelinci dalam kemasan

Dari 1 kelinci dewasa mengeluarkan feses 200 g/hari, jika memelihara 10 kelinci dewasa maka akan diperoleh 2000 g (2 kg) feses per hari.

Dalam 10 hari di peroleh 20 kg feses yang siap diolah yaitu feses ditambahkan probiotik 1%, ditambahkan Kapur 5 % dan Sekam 10 %, kemudian difermentasikan selama 21 hari, atau hingga tidak lagi menimbulkan panas maka sudah dapat digunakan untuk tanaman.

Penggunaannya di campurkan ke tanah bersamaan saat pengolahan tanah dengan perbandingan 1 kg feses untuk lahan 1 m persegi.

Gambar 5. Pupuk padat feses kelinci dalam kemasan

Syamsu Bahar dan Bachtar Bakrie: Pemanfaatan Limbah Sayuran Pasar untuk Pakan Kelinci

6 Buletin Pertanian Perkotaan Volume 5 Nomor 2, 2015

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pengaruh Berbagai Aktivator terhadap C/N Rasio Kompos Kotoran Kelinci. Tesis Jurusan Produksi Ternak - Fakultas Teknologi Pertanian dan Peternakan Universitas Semarang.

Anonim. 2011. Cara Budidaya Kelinci dan Keuntungannya. http://budidayanews.blogspot.com/2011/08/keuntungan-budidaya-kelinci.html

Bahar, S. 2015. Kajian pemanfaatan limbah sayuran untuk pakan kelinci di DKI Jakarta. Laporan Hasil Pengkajian 2015. BPTP Jakarta.

Hong, G....

Recommended

View more >