Trauma Oral Dan Maksila

  • View
    34

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Trauma Oral dan Maksila Referat

Text of Trauma Oral Dan Maksila

Trauma Oral dan MaksilofasialKetan P. Parekh dan Cecil S. Ash

Tujuan

1. Tinjauan patofisiologi dari trauma maksilofasial.

2. Diskusi pertimbangan pembedahan untuk pasien dengan trauma fasialis, termasuk fraktur tulang maksilla dan mandibula, orbita, laserasi wajah, serta fraktur mid fasialis (Fraktur Lefort).

3. Tinjauan keterlibatan infeksi kepala dan leher, termasuk angina Ludwig.

PENDAHULUANDokter bedah mulut dan maksilofasial (OMS = oral and maksilofacial surgeon) adalah spesialisasi bedah dari profesi kedokteran gigi. Keahlian bedah dan pemahaman menyeluruh tentang estetika dan fungsi anatomis menjadi syarat bagi mereka untuk mendiagnosa, menangani, dan mengelola kondisi, defek, cedera, dan aspek estetika dari jaringan keras dan lunak rongga mulut dan maksilofasial.

Sebagai seorang ahli bedah mulut dan maksilofasial, sejumlah pelatihan kedokteran gigi dan medis di lingkungan rumah sakit sangat diperlukan untuk menangani dan memperbaiki cedera pada wajah. Dokter bedah mulut dan maksilofasial memiliki keahlian dalam menangani trauma fasialis, termasuk fraktur tulang maksilla dan mandibula, orbita serta manajemen kosmetik pada cedera fasialis. Wewenang seorang OMS juga meluas hingga rekonstruksi kompleks maksilofasial dan kraniofasial.

Hal yang penting dari pelatihan OMS adalah dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan tingkat lanjut serta metode kontrol nyeri yang kompleks, termasuk sedasi intravena (IV) dan anestesi umum rawat jalan. Seorang residen bedah mulut dan maksilofasial menjalani 6 bulan pengalaman anestesi umum di ruang operasi bersama dokter ahli anestesi medis. Selain itu, OMS mendapatkan pelatihan dan pengalaman yang luas dalam hal perawatan awal dan definitif pasien trauma, manajemen infeksi odontogenik kepala dan leher yang luas, manajemen lesi patologis oral (seperti kista dan tumor rahang), diagnosis dan pengelolaan abnormalitas dentofasial (kongenital, developmental, atau akuisita), bedah maksilofasial pra prostetis kompleks (termasuk penggunaan implan gigi), rekonstruksi dengan bone graft pada bagian rahang yang hilang, dan pengelolaan nyeri pada wajah dan gangguan artikulasio temporomandibular.

Cedera pada wajah memberikan pengaruh emosional, serta trauma fisik yang besar kepada pasien. Ilmu dan seni dalam menangani cedera ini membutuhkan pelatihan khusus yang melibatkan pengalaman langsung / hands on dan pemahaman tentang bagaimana perawatan yang diberikan akan mempengaruhi fungsi dan penampilan jangka panjang bagi pasien. Ada beberapa kemungkinan penyebab trauma fasialis. Kecelakaan lalu lintas, terjatuh, cedera akibat olahraga, kekerasan fisik, dan yang berhubungan dengan pekerjaan adalah penyebab trauma fasialis yang paling sering. Jenis cedera fasialis dapat berariasi dari cedera gigi hingga cedera kulit dan tulang wajah yang sangat parah (lihat Gambar 27.1 - 27.7). Biasanya, cedera fasialis diklasifikasikan sebagai cedera jaringan lunak sederhana atau kompleks (kulit dan gusi), cedera tulang (fraktur), atau cedera pada daerah khusus (seperti mata, saraf, atau kelenjar ludah).

CEDERA DENTOALVEOLAR

Cedera yang terbatas pada gigi cukup sering terjadi dan mungkin memerlukan sejumlah keahlian spesialis gigi. OMS biasanya terlibat dalam menangani fraktur tulang penyokong atau reimplantasi gigi yang telah bergeser atau "terlepas." Jenis cedera ini dapat dirawat dengan salah satu dari sejumlah bentuk perawatan "splinting" (menstabilkan gigi dengan kawat atau mengikat sejumlah gigi). Jika gigi terlepas, maka harus ditempatkan dalam air garam, susu, atau cairan Hank bila tersedia. Semakin cepat gigi dimasukkan kembali ke dalam soket gigi, maka prognosis semakin baik. Trauma dentoalveolar dapat diklasifikasikan ke dalam kategori yang didasarkan pada protokol penanganan. Kategori ini meliputi avulsi gigi, luksasi dan ekstrusi gigi, fraktur enamel dan mahkota gigi, intrusi gigi, konkusi dan subluksasi gigi, fraktur akar gigi, dan fraktur tulang alveolar. Cedera pada gigi dan prosesus alveolaris harus dipertimbangkan sebagai suatu kondisi darurat, karena outcome yang baik bergantung pada penanganan yang cepat untuk cedera. Oleh karena itu, pasien harus memeriksakan diri ke dokter gigi atau OMS sesegera mungkin. Sangat penting bahwa setiap gigi pasien sebelum kecelakaan harus dicatat. Jika selama pemeriksaan klinis, gigi atau mahkota gigi dinyatakan hilang dan riwayat pasien tidak menunjukkan hilangnya gigi tersebut, maka diperlukan pemeriksaan radiologi pada jaringan lunak rongga mulut dan dada serta daerah perut untuk menyingkirkan bahwa bagian gigi yang hilang tersebut menempati jaringan atau rongga tubuh lainnya.

Gambar 27.1. Laserasi wajah full thickness pada duktus glandula parotis. Perhatikan kesulitan dalam mengidentifikasi duktus pada laserasi tersebut.

Cedera pada gigi anak-anak dapat menimbulkan stress bagi pasien dan orang tua mereka. Periode puncak untuk trauma pada gigi primer adalah usia 18 sampai 40 bulan, karena pada usia ini adalah waktu peningkatan mobilitas untuk balita yang relatif tidak terkoordinasi. Cedera pada gigi primer biasanya karena terjatuh dan tabrakan saat anak belajar berjalan dan berlari. Trauma gigi juga dapat diakibatkan oleh perkelahian, penganiayaan anak, atau penyebab lainnya. Penanganan yang tepat sangat penting untuk kesehatan jangka panjang dari suatu cedera gigi. Mendapatkan perawatan gigi dalam waktu 30 menit dapat membuat perbedaan antara menyelamatkan atau kehilangan gigi anak.

Gambar 27.2. Propofol digunakan untuk mengidentifikasi duktus setelah kanulasi lewat mulut.

Setelah gigi permanen tumbuh, anak laki-laki usia sekolah dapat mengalami trauma rongga mulut hampir dua kali lebih sering dibanding anak perempuan usia sekolah. Kecelakaan akibat olahraga dan perkelahian adalah penyebab paling sering dari trauma gigi pada remaja. Dens insisivus sentral atas (maksiler) adalah gigi yang paling sering mengalami cedera. Gigi maksiler yang menonjol lebih dari 4 mm, dua sampai tiga kali lebih mungkin untuk mengalami trauma gigi dibandingkan dengan gigi dengan aligment yang normal.Salah satu penyebab keluhan paling sering terhadap anestesi adalah trauma gigi selama intubasi. Warner dkk. [26] menemukan bahwa frekuensi kontak gigi dengan Macintosh blade biasa meningkat secara signifikan dengan peningkatan skor klasifikasi untuk Mallampati, subluksasi mandibula, pergerakan kepala dan gerakan, interincisor gap, dan kondisi gigi atas. Trauma gigi selama intubasi memerlukan suatu konsultasi gigi langsung untuk evaluasi dan penanganan. Kemungkinan risiko trauma gigi harus didiskusikan dengan pasien. Konsultasi dokter gigi juga dapat dilakukan sebelum intubasi pada ruang praoperasi. Tujuan penanganan cedera dentoalveolar adalah mendapatkan kembali bentuk dan fungsi aparatus mastikasi / pengunyahan yang normal serta estetika.

Gambar 27.3. Trauma jaringan lunak wajah bagian bawah setelah luka tembak.

Gambar 27,4. Setelah trakeostomi dan refleksi flap, tampak trauma jaringan lunak, jaringan keras, dan dentoalveolar yang luas.

Gambar 27.5. Cedera scalp degloving kompleks pada pengendara motor yang tidak menggunakan helm.

Gambar 27,6. Tissue realigned, dan rotational flaps.

Gambar 27,7. Rekonstruksi Primer pada laserasi scalp.

FRAKTUR TULANG MANDIBULA KlasifikasiSejarah fraktur tulang mandibula telah dicatat pada tahun 1600 SM dalam papirus Edwin Smith yang dikenal sebagai dokumen dunia medis awal. Bahkan kutipan Hippocrates saat menjelaskan tentang pemakaian perban fraktur sebagai alat stabilisasi dicatat pada tahun 400 SM. Saat ini, prinsip imobilisasi yang pertama kali digunakan oleh Hippocrates digabungkan dengan reduksi terbuka dan fiksasi internal yang lebih modern untuk menangani berbagai fraktur tulang mandibula. Saat ini, fraktur tulang mandibula masih menyajikan masalah yang sangat unik untuk seorang OMS (Gambar 27.8).

Mandibula adalah tulang wajah kedua yang paling sering mengalami fraktur setelah tulang hidung. Pada fraktur tulang ini, bagian angulus adalah lokasi fraktur yang paling sering terjadi, diikuti oleh korpus, kondilus, simfisis, ramus, koronoidalis, dan alveolus. Rasio fraktur tulang mandibula terhadap fraktur tulang zygomatikus serta tulang maksilla dilaporkan sebesar 6: 2:1. Pada suatu makalah yang ditulis oleh Ellis [8] dari 4.711 pasien yang dirawat akibat dengan fraktur fasialis, 45 persen diantaranya mengalami fraktur tulang mandibula. Dia menemukan bahwa kekerasan fisik adalah mekanisme yang paling umum, diikuti oleh kecelakaan lalu lintas, terjatuh, dan kecelakaan akibat olahraga. Laki-laki tiga sampai enam kali lebih mungkin untuk mengalami fraktur tulang mandibula daripada perempuan. Empat puluh sampai enam puluh persen dari fraktur mandibula berhubungan dengan cedera lainnya. Sepuluh persen diantaranya bersifat letal. Cedera yang paling sering dikaitkan diantaranya adalah dada, dan cedera servikal (C-spine) yang terkait dengan 2,59 persen dari fraktur tulang mandibula. Meskipun insiden cedera servikal yang berhubungan dengan fraktur tulang mandibula cukup rendah, namun lolosnya cedera ini dari pengamatan dapat merugikan. Fraktur kondiloideus yang dapat menyertai dapat mengalami pergeseran ke arah superior dengan herniasi fragmen tulang melalui atap fossa glenoideus ke dasar fossa kranialis media, yang dapat dikaitkan dengan kebocoran dura.

Gambar 27.8. Lokasi fraktur mandibula. (dimodifikasi dari: Dolan KD, Jacoby CG, Smoker WR. The radiology of facial fractures. Radiographics 1984;4:575-663).

Fraktur tulang mandibula biasanya terjadi pada dua atau lebih lokasi karena bentuk tulang U yang unik. Dalam menangani fraktur tulang mandibula, aturan yang digunakan adalah dugaan adanya fraktur kedua sampai dibuktikan sebaliknya. Fraktur dapat terjadi pada lokasi terpisah dari lokasi trauma langsung. Fraktur tulang mandibula sering diklasifikasikan menja