UJIAN STASE JIWA

  • View
    233

  • Download
    17

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mmm

Text of UJIAN STASE JIWA

UJIAN STASE JIWA

Departemen kedokteran jiwaPENGUJI DR. Dr. H. IWAN ARIJANTO, Sp.KJ, M.Kes PRESENTATORRIZKY AFTOR, S.Ked UJIAN KASUS KEPANITERAAN KLINIK SENIOR STASE JIWAF.20.1 SKIZOFRENIA HEBERFRENIKDATA PASIEN:

Nama Pasien: Asep RizalUmur: 25 tahunNama Kecil: AsepJenis Kelamin: Laki-lakiAlamat RT/RW : 05/02- Kp/Desa : GegempalanKecamatan : Cikoneng- Kab/Kodya : CiamisAgama : IslamStatus Marital: Belum MenikahPendidikan: SDPekerjaan: Terapis Pijat Refleksi Panggilan

Penanggung Jawab Pasien :Nama: OmanHubungan: AyahAlamat RT/RW : 05/02- Kp/Desa : GegempalanKecamatan : Cikoneng- Kab/Kodya : CiamisKeterangan diperoleh dari:Nama: OmanHubungan: AyahAlamat RT/RW : 05/02- Kp/Desa : GegempalanKecamatan : Cikoneng- Kab/Kodya : CiamisKebenaran Anamnesa: Dapat dipercaya

A. Keluhan Utama:Pasien sering bicara dan tertawa sendiriB. Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak dua bulan yang lalu pasien sering terlihat mengurung diri di kamar (solitary) namun terlihat terjaga hingga larut malam, sekalipun keluar hanya mondar-mandir berjalan tanpa tujuan (aimless). Pasien tampak tidak ada minat untuk beraktivitas seperti membantu orang tua dan kerja sebagai pemijat refleksi panggilan di kampungnya, namun masih sadar terhadap kebutuhan primer seperti makan, sholat, dan mandi. Pada saat pasien diajak untuk berinteraksi terkadang pembicaraan pasien tidak menentu (rambling) juga inkoheren dan kadang juga membicarakan topik yang sama berputar-putar secara terus-menerus (circumtancialism) dengan kata-kata yang sama (reiterated phrases). Pasien sering menceritakan kesedihannya ditinggal ibu kandung meninggal 6 tahun yang lalu (faktor predisposisi) namun dengan ekspresi yang berlawanan (inappropiate) diselingi oleh cekikikan (giggling).

Pasien sering terlihat menyapukan tangan ke badannya hal itu diakuinya karena merasa ada kotoran di badannya (halusinasi viceral). Pasien mengaku merasa ada yang menyadap pikirannya (thought withdrawal). Pasien pernah merasa ada yang memberi mukjizat namun hal tersebut masih bisa dibantahkan karena pasien lebih percaya kalo mukjizat hanya diberikan kepada para rasul (preokupasi).

Akhir-akhir ini keluarga pasien ditimpa banyak musibah dan mengalami banyak masalah, sebelum ibunya meninggal 6 tahun yang lalu usaha ayah pasien yang bekerja sebagai pemborong pembangunan rumah di kampung dan mengurus sawah orang lain sudah terhenti, selain itu adik-adik pasien yang mulai bersekolah dan membutuhkan biaya yang lebih membuat keadaan yang semakin sulit, dan yang terakhir adiknya kecelakan 2 bulan yang lalu harus mendapatkan perawatan di rumah sakit yang hingga sekarang belum sehat sepenuhnya. (faktor predisposisi)

Ayah pasien bercerita, pasien mengalami perilaku tersebut setelah meminta diberikan modal untuk membuka tempat pijat refleksi sendiri di daerah Tasikmalaya, namun ayah pasien tidak menyanggupinya karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan (faktor presipitasi)

C . Riwayat Penyakit Dahulu:Riwayat Gangguan Psikiatri SebelumnyaPasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya.

Riwayat Gangguan MedisPada saat pasien berusia 3 tahun, pasien mengalami demam tinggi yang lama dan baru diobati setelah 3 minggu kemudian karena pasien hanya tinggal bersama ibunya di kampung sedangkan ayahnya berada di Bekasi, hingga akhirnya pasien mengalami gangguan penglihatan sehingga dokter mendiagnosa katarak dan dioperasi oleh dokter spesialis mata di Tasikmalaya namun penglihatan pasien tidak kembali normal sepenuhnya, mata pasien tampak juling (strabismus) dan bergerak tak terkendali (nystagmus). Riwayat Gangguan Zat Psikoaktif dan Penggunaan AlkoholPasien tidak ada riwayat menggunakan zat-zat psikoaktif dan alkohol.

D. Riwayat Keluarga:Tidak ada keluhan yang sama di keluarga.

E. Riwayat Hidup Penderita:Riwayat Perkembangan KepribadianMasa Prenatal dan PerinatalPasien lahir normal dibantu oleh dukun/paraji di rumah. Pada saat hamil usia ibunya 24 tahun, tidak pernah terganggu kesehatannya dan ibu pasien tidak merokok dan meminum alkohol. Tidak ditemukan kelainan dan cacat bawaan. Pasien tidak mendapatkan imunisasi setelah kelahirannya. Pasien mendapatkan ASI ekslusif sampai umur 2 tahun. Pasien juga disusui langsung dari puting ibu, pasien lebih sering ditidurkan saat disusui ibunya (kegagalan fase oral, faktor predisposisi).

Masa kanak awal (usia 0-3 tahun)Pasien tumbuh dan berkembang di perkampungan jauh dari fasilitas kesehatan. Pasien hanya tinggal bersama ibu, nenek dan kakeknya. Pada usia 3 tahun pasien mengalami demam tinggi dan baru dibawa ke dokter 3 minggu kemudian, pasien mengalami gangguan penglihatan dan dioperasi oleh dokter spesialis mata di Tasikmalaya. (kegagalan fase anal, faktor predisposisi)Masa kanak pertengahan (usia 3-7 tahun)Pasien tumbuh dan berkembang bersama ibu dan ayahnya yang memutuskan tidak kembali ke kota serta memilih bekerja serabutan di kampung. Pasien mengalami kecacatan di matanya, namun pasien bisa beradaptasi dengan gangguan penglihatannya. Pasien mulai belajar mengaji pada usia 5 tahun di mesjid dekat rumahnya dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Ibu pasien hamil dan melahirkan anak keduanya pada saat pasien berusia 6 tahun.

Masa kanak akhir dan remajaPasien masuk sekolah formal pada usia 7 tahun di SDN 1 Gegempalan, pasien kurang bisa beradaptasi dengan teman-teman barunya karena merasa minder dengan kecacatan matanya, pasien tidak memiliki banyak teman baru dan lebih sering bersosialisasi dengan teman lamanya di pengajian (inferiority). (kegagalan fase latensi, faktor predisposisi)

Riwayat pendidikanPasien menamatkan sekolah dasarnya dan tidak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya disebabkan oleh keadaan penglihatan pasien yang semakin menurun serta keadaan ekonomi yang kurang baik. Akhirnya pasien memilih ikut belajar di pondok pesantren di bandung bersama guru ngajinya dari kampung sampai usia 18 tahun (faktor predisposisi)Riwayat PekerjaanPasien pernah diajari cara pijat refleksi oleh teman sekampungnya yang sudah lama di kota bekerja sebagai terapis pijat refleksi di mal-mal, dan pasien ikut bekerja bersama temannya. Namun pasien pulang karena ibunya meninggal dan tidak melanjutkan pekerjaannya. (faktor predisposisi)

Riwayat perkawinanBelum menikahAktifitas sosial Pasien memiliki sedikit teman karena merasa memiliki kekurangan pada matanya (faktor predisposisi).Riwayat pelanggaran hukumPasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum.

Situasi kehidupan sekarangPasien tinggal bersama ibu tiri, ayah, dan saudaranya. Ibu kandung pasien meninggal 6 tahun yang lalu dan ayahnya sudah menikah lagi, ibu tirinya tidak membawa anaknya karena sudah berkeluarga semua. Pasien tinggal di rumah sederhana dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. (faktor predisposisi)

Riwayat di keluargaPasien anak pertama dari 4 bersaudara dengan jarak kelahiran rata-rata 5 tahun dengan saudaranya. Saudara kedua tamat sekolah SMK berusia 19 tahun, saudari ketiga berusia 14 tahun dan mau masuk SMA, saudari keempat berusia 9 tahun sekolah SD.

GENOGRAM: LAKI-LAKI

: PEREMPUAN

: PASIENF. KEPRIBADIAN SEBELUM SAKIT

Pasien dikenal sebagai anak yang pendiam, penurut, rajin beribadah, serta dan tidak banyak keinginan yang berlebihan. Namun pasien tidak memiliki banyak teman, menghindari aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang, lebih memilih bersosialisasi dengan orang yang sudah mengetahui kekurangannya dan dikenalnya sejak lama. Pasien merasa minder dengan kekurangannya, pasien merasa takut untuk bersaing dan tidak mampu menerima kritikan orang lain (gangguan kepribadian cemas menghindar).

Pasien lebih sering memendam keinginan ataupun masalah daripada mengungkapkannya (mekanisme pertahanan jiwa : represi), jika pasien mengalami kegagalan pasien sering mengobati perasaannya dengan cara mencari-cari faktor lain yang mempengaruhi kegagalannya (mekanisme pertahanan jiwa : rasionalisasi), menurut ayahnya pasien juga pernah memiliki pacar namun pasien mengaku memutuskannya karena kasihan dengan pacarnya yang malu pada keluarganya karena berpacaran dengan pasien, namun jika ditanya masalah itu pasien selalu mengelak dan sudah melupakannya (mekanisme pertahanan jiwa : isolasi)

G. STATUS FISIK

Tanda Vital Tensi : 110/80 mmhgNadi: 80 kali/menitRR : 18 kali/menitSuhu : 36,0CKeadaan Gizi: BaikKeadaan Fisik LainKepalaBentuk: NormochepaliRambut: HitamMata: Sklera ikterik (-), Konjungtiva anemis (-), Strabismus esotropia (+), dan nystagmus manifest (+). Telinga : Nyeri tekan auricular (-/-), massa (-)Hidung : Septum deviasi (-)Mulut: Tidak ada kelainan, letak uvula medial, pembesaran tonsil (T1/T1) (-)

LeherJVP: Tidak meningkatTiroid: Tidak membesarKGB: Tidak teraba

ThoraxDada (anterior)

Inspeksi: Massa (-), bentuk dan gerak simetris, retraksi intercostalis (-)Palpasi: Masa (-), nyeri tekan (-), ICS tidak melebar, Vokal Fremitus Normal (dextra = sinistra)Perkusi: Sonor diseluruh lapang paru (dextra = sinistra)Auskultasi: Vokal Breath Sound normal (dextra = sinistra), Ronki (-/-), Wheezing (-/-).Jantung Inspeksi: Tidak tampak iktus cordisPalpasi: Tidak teraba iktus cordisPerkusi: Batas jantung kanan: linea sternalis dextraBatas jantung kiri: ICS 4 linea midclavicula sinistraAuskultasi : Bunyi jantung murni dan regular, gallop (-)

AbdomenInspeksi: Datar, tidak tampak benjolanPalpasi : Lembut, datar, nyeri tekan (-), distensi otot perut / defans muscular (-), hepar tidak teraba, lien tidak terabaPerkusi: Tympani seluruh lapang perut, pekak samping (-)Auskultasi : Bising usus normal

GenitaliaTidak dilakukan pemeriksaan

EkstremitasDalam batas normalH. STATUS NEUROLOGISRefleks Fisiologis: Dalam batas normalRefleks Patologis: Tidak ada