URGENSI NIKAH ENDOGAMI DI KALANGAN PESANTREN ini ialah kesukuan, yakni suku Madura. Nikah kekerabatan

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of URGENSI NIKAH ENDOGAMI DI KALANGAN PESANTREN ini ialah kesukuan, yakni suku Madura. Nikah...

  • i

    URGENSI NIKAH ENDOGAMI DI KALANGAN PESANTREN

    PERSPEKTIF PENGASUH PONDOK PESANTREN DI MALANG RAYA

    SKRIPSI

    oleh

    Ni’mah Fikriyah Harfi

    NIM 14210012

    JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYYAH

    FAKULTAS SYARIAH

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

    2018

  • ii

    ii

  • iii

    iii

  • iv

    iv

  • v

    MOTTO

    َل َع َوَج ا َه ْ ي َل ِإ وا ُن ُك ْس َت ِل ا ًج ْزَوا َأ ْم ُك ِس ُف ْ ن َأ ْن ِم ْم ُك َل َق َل َخ ْن َأ ِه ِت ا َي آ ْن َوِم

    ُرونَ كَّ َف َ ت َ ي ْوٍم َق ِل ٍت ا َي ََل َك ِل ذََٰ ي ِف نَّ ِإ ۚ ًة َم َوَرْح ًة َودَّ َم ْم ُك َن ْ ي َ ب

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan

    untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa

    kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

    (QS. Ar-Rum: 21)

  • vi

    KATA PENGANTAR

    بسم اهلل الّرمحن الّرحیم Alhamdulillahi Robbil „aalamiin, tiada syukur kecuali kepada Allah

    SWT., dengan rahmat serta pertolongan-Nya, akhirnya penulisan skripsi yang

    berjudul “Urgensi Nikah Endogami di Kalangan Pesantren Perspektif

    Pengasuh Pondok Pesantren di Malang Raya” dapat diselesaikan. Shalawat

    serta salam kita haturkan kepada Nabi kita, Muhammad SAW.,yang telah

    mengajarkan arti kerja keras dan kesabaran dalam kehidupan. Ia insan yang selalu

    menjadi panutan umat Islam seluruh dunia, semoga kita termasuk orang-orang

    yang mendapatkan syafa‟at di surga-Nya kelak, Aamiin.

    Dengan segala daya dan upaya serta bantuan dari berbagai pihak,

    bimbingan dan pengarahan dari para „Aalim dalam proses penulisan skripsi ini,

    maka dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih

    yang tak terkira kepada:

    1. Prof. Dr. Abdul Haris M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri

    Maulana Malik Ibrahim Malang.

    2. Bapak Dr. Saifullah, S.H, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Syariah

    Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

    3. Dr. Sudirman, MA., selaku ketua jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah

    Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

    Malang.

    4. Dr. Hj. Tutik Hamidah, M.Ag., selaku dosen pembimbing penulis.

    Terimakasih tak terkira karena telah meluangkan waktu di tengah padatnya

  • vii

    jadwal sehari-hari di kampus. Terimakasih atas bimbingan, arahan dan

    motivasi dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

    5. Dr. H. Sa‟ad Ibrahim, MA., selaku dosen wali penulis selama menempuh

    kuliah di fakultas syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik

    Ibrahim Malang. Terima kasih penulis haturkan, karena telah memberikan

    bimbingan, saran, serta motivasi selama menempuh perkuliahan.

    6. Segenap dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik

    Ibrahim Malang yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih

    penulis haturkan, karena telah mendidik, membimbing, dan mengamalkan

    ilmunya dengan ikhlas.

    7. Staf serta karyawan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana

    Malik Ibrahim Malang yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu.

    8. Terimakasih sebesar-besarnya atas partisipasinya dalam penelitian ini

    kepada pengasuh pondok pesantren Raudlatul Ulum 1 dan 2 Gondanglegi,

    pondok pesantren Al-Bukhori (PPRU V) Gondanglegi, pondok pesantren

    Al-Khoirot Pagelaran Gondanglegi, dan pondok pesantren Salafiyah

    Safi‟iyah Nurul Huda Mergosono Kota Malang.

    9. Terimakasih tak terhingga kepada orang tua tercinta, Bapak M. Harun

    Zain dan Ibu Alfiyati dan juga kepada saudara-saudara saya yang juga di

    tanah rantau, tanpa doa dan dukungan kalian, tidak mungkin skripsi ini

    dapat terselesaikan dengan baik.

    10. Special thanks to sahabat-sahabatku, Saro, Riha, Puspa, Ria, dan teman-

    teman lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu, telah rela menjadi

  • viii

    viii

  • ix

    PEDOMAN TRANSLITERASI

    A. Umum

    Transliterasi adalah pemindah alihan tulisan Arab ke dalam tulisan

    Indonesia (Latin), bukan terjemah bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

    termasuk dalam kategoriini ialah nama Arab dari bangsa Araba, sedangkan nama

    Arab dari bangsa Arab ditulis sebagaimana ejaan bahasa nasionalnya, atau

    sebagaimana yang tertulis dalam buku yang menjadi rujukan. Penulisan judul

    buku dalam footnote maupun daftar pustaka, tetap menggunakan ketentuan

    transliterasi.

    Banyak pilihan dan ketentuan transliterasi yang dapat digunakan dalam

    penulisan karya ilmiah, baik yang standar internasional, nasional maupun

    ketentuan yang khusus digunakan penerbit tertentu. Transliterasi yang digunakan

    Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

    menggunakan EYD plus, yaitu transliterasi yang didasarkan atas Surat Keputusan

    Bersama (SKB) Menteri Agama Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,

    22 Januari 1998, No. 159/1987 dan 0543.b/U/1987, sebagaimana tertera dalam

    buku Pedoman Transliterasi bahasa Arab (A Guidge Arabic Transliteration), INIS

    Fellow 1992.

  • x

    B. Konsonan

    dl = ض tidak dilambangkan = ا th = ط b = ب dh = ظ t = ت (koma menghadap ke atas) „ = ع tsa = ث gh = غ j = ج f = ؼ h = ح q = ؽ kh = خ k = ؾ d = د l = ؿ dz = ذ m = ـ r = ر n = ف z = ز w = ك s = س h = ق sy = ش y = ي sh = ص

    Hamzah (ء) yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletak

    diawal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan,

    namun apabila terletak di tengah atau akhir kata, maka dilambangkan dengan

    tanda koma di atas (ʼ), berbalik dengan koma („) untuk pengganti lambing "ع" .

    C. Vokal, Panjang dan Diftong

    Setiap penulisan Bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vocal fathah

    ditulis dengan “a” , kasrah dengan “I”, dlommah dengan “u”, sedangkan panjang

    masing-masing ditulis dengan cara berikut :

  • xi

    xi

    Vokal (a) panjang = â misalnya menjadi qâla قال

    Vokal (i) panjang = ȋ misalnya قيل menjadi qȋla

    Vokal (u) panjang = û misalnya menjadi dûna دون

    Khususnya untuk bacaan ya‟ nisbat, maka tidak boleh digantikan dengan

    “i”, melainkan tetap ditulis dengan “iy” agar dapat menggambarkan ya‟ nisbat

    diakhirnya. Begitu juga untuk suara diftong, wasu dan ya‟ setelah fathah ditulis

    dengan “aw” dan “ay”. Perhatikan contoh berikut :

    Diftong (aw) = و misalnya menjadi qawlun قىل

    Diftong (ay) = ي misalnya menjadi khayrun خيز

    D. Ta’marbûthah )ة(

    Ta‟ marbûthah (ة( ditransliterasikan dengan “t” jika berada di tengah

    kalimat, tetapi ta‟ marbûthah tersebut berada di akhir kalimat, maka

    ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya الزسلة للمذريسة menjadi

    al-risala li-mudarrisah, atau apabila berada di tengah-tengah kalimat yang terdiri

    dari susunan mudlaf dan mudlaf ilayh, maka ditransliterasikan dengan

    menggunakan “t” yang disambungkan dengan kalimat berikut, misalnya في رحمة

    .menjadi fi rahmatillâh هللا

  • xii

    xii

    E. Kata Sandang dan Lafdh al-Jalâlah

    Kata sandang berupa “al” )ال( dalam lafadh jalâlah yang berada di

    tengah-tengah kalimat yang disandarkan (idhafah) maka dihilangkan. Perhatikan

    contoh-contoh berikut :

    1. Al-Imâm al-Bukhâriy mengatakan………………………

    2. Al-Bukhâriy dalam muqaddimah kitabnya menjelaskan …………..

    3. Masyâ‟Allah kânâ wa mâlam yasyâ lam yakun

    4. Billâh „azza wa jalla

    F. Hamzah

    Hamzah ditransliterasikan dengan apostrof. Namun itu hanya berlaku

    bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila terletak di awal kata,

    hamzah tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.

    Contoh : شيء - syai‟un أمزت - umirtu

    الىىن - an-nau‟un جأخذون -ta‟khudzûna

    G. Penulisan Kata

    Pada dasarnya setiap kata, baik fi‟il (kata kerja), isim atau huruf, ditulis

    terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah

    lazim dirangkaikan dengan kata lain, karena ada huruf Arab atau harakat yang

  • xiii

    xiii

    dihilangkan, maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan

    juga dengan kata lain yang mengikutinya.

    Contoh : وإن هللا لهى خيز الزاسقيه - wa innalillâha lahuwa khairar-râziqȋn.

    Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal,