Socialmedia influence by: Yuda Mahendra Asmara

  • View
    266

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of Socialmedia influence by: Yuda Mahendra Asmara

PowerPoint Presentation

SOCIAL MEDIA SOSIALPRENEURforINSTANT INFLUENCE@yudasmaraBy:

Wirausaha sosial, atau sering disebut Social Entreprenur menjadi fenomena sangat menarik saat ini. Dibandingkan dengan kewirausahaan tradisional yang fokus terhadap keuntungan materi dan kepuasan pelanggan semata, social entrepreneur memiliki peran sosial yang sangat signifikan terasa dalam kehidupan sosial masyarakat.Dalam kewirausahaan sosial terdapat beberapa hal yang menjadi pegangan bisnisnya, yaitu: misi sosial, misi apa yang ia bawa seiring bisnis yang dijalankan; produk atau servis yang ditukar, bentuk usaha yang dijalankan; dan keuntungan yang diperoleh, pemanfaatan keuntungan yang tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi semata.Seorang social entrepreneur melihat masalah sekitar sebagai peluang untuk bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, tujuan kewirausahaan sosial bukanlah untuk menjadi kaya. Sejatinya, social entrepreneurship adalah untuk melatih kepedulian terhadap sesama.

Rhenald Kasali, Ketua Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI) mengatakan bahwa banyak orang bicara tentang wirausaha, namun mereka belum tentu paham mengenai wirausaha. Saat ini banyak mentor bisnis yang mengajarkan kewirausahaan tentang bagaimana cara cepat menjadi kaya."Dalam kewirausahaan sosial, tidak hanya orang kaya yang bisa berbagi. Disini, orang miskin pun bisa berbagi." ujarnya. J

adi, jika ingin menjadi seorang Social Entrepreneur, pastikanlah bahwa kaya secara materi bukanlah tujuan utama Anda, melainkan tercapainya peningkatan kesejahteraan sesam

1

Yuda Mahendra Asmara People Development Specialist Trainer PresentasiKita.comCEO ClickWebhost.coIT-DesignerAdvisor for Program Socialpreneurship Lenteraindonesia NET.- @Bukuntukpapua Volunteer

E-Mail : yudasmara11@gmail.comHP : 081211300400BB : 76910C86Socmed : tweet @yudasmara / IG @mahendrasmara

Konsepsocial entrepreneurshipdikenalkan oleh Robert Owen yaitu pendiri koperasi pertama dan Florence pendiri sekolah perawat pertama beberapa ratus tahun lalu

Social Entrepreneur Concept

Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank salah satusocial Entrepreneur yg mampu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya menghasilkan kesejahteraan dalam konteks sosial, namun juga mampu mendatangkan keuntungan finansial

Pada Awalnya Konsep social entrepreneurshiptidak menekankan pada usaha untuk menghasilkan laba atau non-profit dimana inti pemberdayaan masyarakat bersifat sukarela,misalnya panti asuhan.

Hingga akhirnya Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh sekaligus berhasil meraih Nobel Perdamaian pada tahun 2006, sebagai salah satusocial entrepreneurmampu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat kurang mampu tidak hanya menghasilkan kesejahteraan dalam konteks sosial, namun juga mampu mendatangkan keuntungan finansial. Contoh konkretnya adalah 6 juta wanita terserap sebagai tenaga kerja dimana beralih dari pengemis menjadi pelaku UMKM.3

Social Entrepreneur VS Commercial Enterpreneur Commercial Entrepreneur mengukur keberhasilan lewat kinerja keuangan dan profit dari produk/jasa yang dihasilkan

Social Entreprenur keberhasilannya diukur lewat profit dari produk/jasa yang dihasilkan dan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan dalam melakukan perubahan sosial ke arah positif

Kewirausahaan sosial sangat berbeda dengan kewirausahaan yang sering kita jumpai, yaitu commercial entrepreneurship. Kecenderungan dari commercial entrepreneurship ialah mengukur keberhasilan lewat kinerja keuangan dan materi-materi tertentu, sedangkan CPerbedaan lainnya terletak pada mekanisme kerja yang digunakan. Pada commercial entrepreneurship, mekanisme kerjanya adalah berusaha untuk memahami pasar agar dapat menghasilkan produk dan jasa sekaligus profit bagi sang pengusaha. Sedangkan mekanisme pada kewirausahaan sosial adalah memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung agar berkesempatan mencapai tingkat kesejahteraan.

Adapun konsep awal dari kewirausahaan sosial lebih diarahkan pada pemberdayaan dalam bidang kemasyarakatan yang bersifat voluntary (sukarela). Prakteknya seringkali dilakukan dalam bentuk lembaga-lembaga sosial, seperti yayasan, panti asuhan, donasi pendidikan atau paguyuban lainnya. Sehingga, kewirausahaan sosial tidak menekankan pada usaha untuk menghasilkan profit melainkan nirlaba. Apabila ada profit, bukan menjadi tujuan utama dari kewirausahaan sosial, karena utamanya ialah pemberdayaan untuk kepentingan sosial.

social entrepreneurship merupakan bentuk dari community development yang fokus pada sosial-ekonomi. Dibagi menjadi dua, yaitu memiliki keuntungan dimana keuntungan tersebut yang digunakan untuk community development dan tidak memiliki keuntungan dimana produknya yang digunakan untukcommunity development. Dalam kerangka ini, social entrepreneurship merupakan bagian dari bisnis dan bisnis seolah tidak akan berjalan tanpa profit. Contoh dari social entrepreneurshipyang menghasilkan keuntungan adalah The Loving Company (TLC). Karyawan TLC diberikan gaji dimana setelah penghasilan atau keuntungan perusahaan dikurangi dengan gaji karyawan dan modal operasional usaha maka sisanya digunakan penuh untukcommunity development.4

Bentuk Riil Social Entrepreneur

Dan masih banyak yang lainnya.....

Alkisah ada seorang wanita kaya raya dan berhati mulia, hartanya yang melimpah tak membuat ia sombong dan lupa diri. Dari hasil usahanya dalam bidang tekstil dan peternakan ia mampu memberdayaan ribuan orang. Terhitung bidang-bidang usaha lainpun muncul sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar, dari mulai produksi pakaian, aneka asesoris, jilbab hingga pakan ternak untuk mensuplai makanan teknaknya dan tumbuh usaha aneka olahan ternak.

Niat tulusnya dalam membuka lapangan pekerjaan dan mensuport para dhuafa untuk memiliki usaha berbuah manis, dengan system bagi hasil memberikan keberkahan dan kebaikan yang melimpah pada semua usahanya. Masyarakat sekitar yang dulunya lebih banyak mengemis dan bermaksiat kini sedikit demi sedikit teratasi dengan kiprahnya membuka lembaga sosial yang memberikan bimbingan agar masyarakat bisa hidup mandiri dan lebih bermartabat. Sedikit banyak kebiasaan buruk berjudi dan pencurian di masyarakat mulai ditinggalkan.

Dalam keseharian aktivitasnya. Ia menyempatkan silaturahmi keberbagai tetangga dan aktif diberbagai organisasi bak lebah ia selalu memberi manfaat dan kebaikan. Ia lupakan keuntungan uang sebagai tujuan, ia telah dinikmati dalam segala bentuk kegiatan sosial dari berbagai aspek program. Kenikmatan dalam kegiatan sosialnya inilah yang ia katakan sebagai investasi dunia akherat dan jika diakumulasikan dengan rupiah jumlahnya tak terhingga. Dalam kisah lain, diera zaman serba modern seperti sekarang ini banyak tumbuhnya para pengusaha-pengusaha yang motivasinya meng-kayakan diri sendiri, segala bentuk dilakukan dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya dan memburuhkan pekerja dengan upah minim yang membuat para buruhbeku tak bisa berkembang. Selain itu timbul dampak sosial seperti tidak mengindahkan limbah yang dihasilkan dapat merugikan warga sekitar. Dari berbagai kisah diatas tadi kita dapat menyimpulkan kegiatan bisnis manakah yang lebih barakah ?

Banyak sekali bentuk riil Social-Entrepreneur yang bisa dilakukan di tingkatan praktis. Ada seorang Sarjana Ekonomi yang demi kemajuan desanya rela menjadi seorang peternak puyuh. Ada seorang Sarjana Teknik rela menjadi seorang pengepul sampah di sebuah TPA. Seorang Social-Entrepreneur tidak harus seorang yang berpendidikan tinggi. Ada seorang tamatan SMP membuka usaha penghancur batu kali dan memperkerjakan orang-orang miskin di desanya. Ada seorang tamatan SMA yang membuka usaha mie ayam keliling yang memperkerjakan pemuda-pemuda di sekitarnya. Ada seorang tamatan pondok pesantren yang membuka usaha penyembelihan sapi dan memperkerjakan banyak pemuda di desanya. Ada banyak sekali contohnya, tinggal kreativitas kita saja untuk berkreasi serta tekad kita untuk memulai usaha dan memperkerjakan banyak orang di usaha kita.

5

Menjadi Social EntrepreneurPada prinsipnya, seorang Social Entrepreneur dituntut memiliki dua kompetensi inti agar mampu menjadi motor penggerak Bisnis :

Menjadi seorang Social-Entrepreneur tidak harus berhenti bekerja sebagai karyawan. Kita bisa saja tetap bekerja sebagai karyawan dan menyisihkan sebagian uang kita untuk usaha kecil-kecilan dan memperkerjakan orang lain. Ini bukti bahwa Social-Entrepreneurship lebih bermakna community development daripada sekedar carity atau philantrophy biasa

Pertama : Kreatifitas, yaitu kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan mencari tahu cara-cara baru dalam melihat suatu permasalahan serta peluang-peluang yang muncul di masyarakat

Kedua : inovasi, yaitu kemampuan untuk menerapkan solusi yang kreatif terhadap suatu permasalahan berikut memanfaatkan kesempatan yang ada. Maka, seorang wirausahawan sosial harus menjadi inovator, bukan follower. Bahkan tidak hanya berhenti sampai pada proses penciptaan atau penemuan ide, tetapi melanjutkannya dengan merealisasikannya ke dalam bentuk inovasi.

6

Menjadi Social Entrepreneur

Menjadi seorang Social-Entrepreneur tidak harus berhenti bekerja sebagai karyawan. Kita bisa saja tetap bekerja sebagai karyawan dan menyisihkan sebagian uang kita untuk usaha kecil-kecilan dan memperkerjakan orang lain. Ini bukti bahwa Social-Entrepreneurship lebih bermakna community development daripada sekedar carity atau philantrophy biasa

Pertama : Kreatifitas, yaitu kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan mencari tahu cara-cara baru dalam melihat suatu permasalahan serta peluang-peluang yang muncul di masyarakat

Kedua : inovasi, yaitu kemampuan