Manjemen kualitas air

  • View
    20.694

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Bagaimana memahami perubahan lingkungan beberapa parameter di dalam media budidaya

Text of Manjemen kualitas air

  • 1. Manajemen Kualitas Air pada Kegiatan Perikanan BudidayaNana S.S. Udi Putra, M.Si MANAJEMEN KUALITAS AIR DALAM KEGIATANPERIKANAN BUDIDYA Disampaikan dalam Apresiasi Pengembangan Kapasitas Laboratorium (16 - 18 Maret 2011 di Hotel Ammans Ambon Manise, Ambon) Diselenggarakan oleh :Direktur Kesehatan Ikan dan LingkunganDirektorat Jenderal Perikanan Budidaya NANA S.S. UDI PUTRA, S.Hut. M.SiEmail : nana_ssup@yahoo.comDEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANANDIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYABALAI BUDIDAYA AIR PAYAU TAKALAR2011Aresiasi Pengembangan Kapasitas Laboratorium1Di Hotel Ammans Ambon Manise, Ambon 16-18 Maret 2011

2. Manajemen Kualitas Air pada Kegiatan Perikanan BudidayaNana S.S. Udi Putra, M.SiMANAJEMEN KUALITAS AIR PADA KEGIATANPERIKANAN BUDIDYA Oleh : Nana S.S. Udi Putra, S.Hut. M.Si Staf Balai Budidaya Air Payau TakalarA. PENDAHULUANKetersediaan makanan dalam sebuah rantai makanan menjadi sangatpenting bagi kelompok yang ada di atasnya. Keberadaan makanan danterciptanya rantai makanan yang baik menjadi hal yang sangat vital. Kondisiyang baik tersebut sangat dibutuhkan oleh organisme hidup didalamnya.Kondisi lingkungan yang baik didukung oleh berbagai factor seperti fisika-kimiadan biologiairsertafaktor-faktor eksternal yang sangatmempengaruhinya.Sehingga kenapa kualitas air itu penting? Karena air adalah lingkungantempat dimana organisme air hidup. Air merupakan media akhir danmerupakan hasil interaksi dari berbagai faktor dan menghasilkan suatukondisi lingkungan yang cocok/tidak cocok bagi kehidupan ikan. Ingat bahwabadan dan insang ikan terus berinteraksi dengan air atau dengan apapunyang terlarut dan tersuspensi di dalamnya. Sehinga kualitas air akan secaralangsung mepengaruhi kesehatan dan pertumbuhan ikan. Kualitas air yangjelek akan menimbulkan stress, penyakit, dan pada akhirnya menimbulkankematian ikan/udang.Pengendalian kondisi lingkungan budidaya agar tetap stabil danoptimal bagi organisme perairan termasuk ikan sebagai hewan budidayamanjadi sangat perlu dilakukan. Sehingga secara khusus pengolahan dan airsebagai tempat budidaya perlu dilakukan.Air yang digunakan untuk keperluan budidaya perikanan tidak sekedarair (H2O), karena air mengandung banyak ion, ion-ion unsur yang kemudianmembentuk suatu kondisi tertentu yang kemudian dikenal dengan kualitas air.Faktor-faktor penentu seperti konsentrasi ion inorganik terlarut, gas terlarut,padatan tersuspensi, senyawa organik terlarut, dan mikroorganisma akanAresiasi Pengembangan Kapasitas Laboratorium2Di Hotel Ammans Ambon Manise, Ambon 16-18 Maret 2011 3. Manajemen Kualitas Air pada Kegiatan Perikanan BudidayaNana S.S. Udi Putra, M.Simenentukan apakah lingkang tersebut cocok untuk kegiatan budidaya. Jadikualitas air yang baik adalah air yang cocok untuk kegiatan budidaya dimanajenis komoditasbudidaya bisahidup dan tumbuh dengan normal.Ketersediaan air yang baik penting di dalam budidaya perikanan, air yangbagus memiliki karakteristik lingkungan spesifik untuk mikroorganisma yang dibudidayakan.Kualitas air tidak terbatas pada karakteristik air, tapi lebih dinamisyakni merupakan hasil dari proses faktor-faktor lingkungan dan proses biologi.Oleh karena itu untuk menghasilkan kualitas air yang baik maka perlu dakegiatan monitoring yang rutin. Kebutuhan kualitas air tiap spesies berbeda-beda bahkan dalam setiap tahap perubahan dalam satu siklus hidup dalamsatu spesies. Sehingga kondisi air media harus diuji terlebih dahulu sebelummembuat keputusan dam mengambil tindakan selanjutnya. Oleh karena itusetiap pembudidaya harus memahami hal-hal penting yang perlu mendapatperhatian ketika akan dan sedang melakukan budidaya.Faktor-faktor penting kaualitas air yang perlu mendapat perhatiandiantaranya adalah suhu air, salinitas, oksigen terlarut, pH, alkalinitas,ammonia, nitrit, nitrat, asam sulfida, karbondioksida, dan besi. Faktor-faktortersebut dalam suatu tempat terus mengalami perubahan dinamis karenaadanya faktor di luar dan di dalam sistem yang kemudian salingmempengaruhi antar faktor tersebut. Perubahan lingkungan secara kimia danfisika yang terjadi secara alamiah dan akibat ulah manusia yang terjadi dilingkungan perairan. Faktor-faktor penting bagi kehidupan ikan/udangdiantaranya adalah :1. Suhu airIkan adalah binatang yang bersifat poikilothermik, suhu badannyasama atau suhunya akan kurang atau lebih 0.5 oC dari suhu air dimana iatempati. Sehingga metaboliknya berkorelasi dengan suhu air. Itulah sebabnyasuhu akan mengontrol laju metabolik dan tingkat kelarutan gas (Malone &Burden,1988; Svobodova,atal,1993). Metabolik ikan akanberkurang/berhenti ketika suhu tidak optimum atau perubahannya terlaluAresiasi Pengembangan Kapasitas Laboratorium 3Di Hotel Ammans Ambon Manise, Ambon 16-18 Maret 2011 4. Manajemen Kualitas Air pada Kegiatan Perikanan BudidayaNana S.S. Udi Putra, M.Siekstrim. Jika suhu air meningkat maka jumlah kandungan oksigen menurundan semakin parah ketika konsumsi oksigen oleh ikan, kepiting, udang danorganisme di dalam air meningkat. Oksigen yang berkurang berdampak pada aktivitas ikan berkurangatau berhenti karena nafsu makannya berhenti. Makanan akan tersisa danberdampak pada meningkatnya akumulasi ammoniak di air. Suhu jugaberpengaruh terhadap munculnya serangan penyakit dan jumlah ikan yangterkena penyakit. Secara umum imun sistem dari ikan akan optimum padasuhu 15 oC (Svobodova, at al, 1993). Tingkat toleransi ikan terhadap perubahan suhu lingkungan sangattergantung pada jenisnya (0 oC di musim dingin dan menjadi 20-30 oC dimusim panas). Ikan akan stress bila terjadi perubahan suhu yang tiba-tibadan dengan fluktuasi yang tinggi (suhu lebih dingin atau hangat 12 oC). Dibawah kondisi tesebut ikan akan mati. Untuk anak-anak ikan fluktuasi suhuharus lebih rendah dari 1.3-3.0 oC. Bila pemberian makan terus dilakukan,sementara nafsu makan terhenti, ammoniak akan meningkat dan berakibatpada tingginya ammoniak di dalam serum darah, menurunnya metabolismemenurunkan proses difusi ammonia dari insang. Bila terus berlanjut ikan akanmati (Svobodova, at al, 1993). Suhu yang optimal untuk kepiting rajungan molting ada pada suhu 25oC. Apabila suhu lebih rendah dari 25 oC proses molting akan lebih lambat,sebaliknya bila suhu lebih tinggi maka molting akan cepat terjadi namun yangsukses molting sangat sedikit (Malone & Burden, 1988; Hochheimer, 1988).Rang hidup optimal untuk kepiting rajungan ada pada kisaran 21-27 oC(Hochheimer, 1988). Untuk jenis ikan dan udang hidup normal pada rangsuhu 28 32 oC, dengan fluktuasi suhu harian 4 oC. Udang akan drop ketikasuhu air berada di bawah 15 oC. Yang perlu mendapat perhatian adalah kegiatan budidaya yangdilakukan di tambak atau di bak-bak pemeliharaan. Maka yang perlumendapat perhatian adalah kedalaman dan volume air. Permasalahanmuncul ketika kedalaman tambak kurang dari 80 cm, volume air di tambakAresiasi Pengembangan Kapasitas Laboratorium 4Di Hotel Ammans Ambon Manise, Ambon 16-18 Maret 2011 5. Manajemen Kualitas Air pada Kegiatan Perikanan BudidayaNana S.S. Udi Putra, M.Sisedikit sehingga suhu air akan lebih tinggi dibanding suhu air tambak yanglebih dalam dan volume lebih besar. Disamping itu, ketika plankton tidaktumbuh dengan baik, cahaya matahari akan masuk ke dalam air tanpa adapenghalang, akibatnya akan meningkatkan suhu air.2. PH airNilai pH (Power of Hydrogen) adalah nilai dari hasil pengukuran ionhidrogen (H+)di dalam air. Air dengan kandungan ion H+ banyak akan bersifatasam, dan sebaliknya akan bersifat basa (Alkali). Kondisi pH optimal untukikan ada pada rang 6.5-8.5. Nilai pH di atas 9.2 atau kurang dari 4.8 bisamembunuh ikan dan pH di atas 10.8 dan kurang dari 5.0 akan berakibat fatalbagi ikan-ikan jenis tilapia. Air dengan pH rendah terjadi di daerah tanah yangbergambut. Nilai pH yang tinggi terjadi di perairan dengan kandungan algatinggi, dimana proses photosinthesis membutuhkan banyak CO2. pH akanmeningkat hingga 9.0-10.0 atau lebih tinggi jika bikarbonat di serap dari air(Svobodova, at al, 1993). Untuk melawan kondisi pH yang rendah atau tinggiikan akan memproduksi lendir di kulitnya dan di bagian dalam insang. NilaipH juga mempunyai pengaruh yang signifikan pada kandungan ammonia,H2S, HCN, dan logam berat pada ikan. Pada pH rendah akan meningkatkanpotensi untuk kelarutan logam berat (Malone & Burden, 1988). Peningkatannilai pH hingga 1 angka akan meningkatkan nilai konsentrasi ammonia didalam air hingga 10 kali lipat dari semula.Secara umum air laut relatif lebih alkalin (basa) sekitar 8.0 dan airpayau relatif kurang dari 8.0. Akan tetapi organisme air laut relatif mampuberadaptasi dengan rang pH yang lebar. Seperti kepiting tidak sensitifterhadap perubahan pH antara 6.5 8.0 (Malone & Burden, 1988). Justrupertumbuhannya baik pada pH 6.5-8.5 (Schheimer, 1988) Pemurnian air danrespirasi organisme air cenderung menurunkan nilai pH hingga kurang dari 8pada air laut. Pada pH lebih tinggi dari 8 akan meningkatkan akumulasiunionisasi ammonia (NH3) di dalam air yang dapat berdampak pada prosesmolting kepiting, sebaliknya bila pH kurang dari 7 akan menghambat prosesnitrifikasi tapi meningkatkan kelarutan logam berat (Malone & Burden, 1988).Aresiasi Pengembangan Kapasitas Laboratorium 5Di Hotel Ammans Ambon Manise, Ambon 16-18 Maret 2011 6. Manajemen Kualitas Air pada Kegiatan Perikanan BudidayaNana S.S. Udi Putra, M.SiSecara lengkap hubungan nilai pH dengan kondisi perairan disajikan padaTabel 8.Udang toleran terhadap pH antara 7.0 9.0. Nilai pH asam kurang dari6.5 dan pH lebih dari 10 berbahaya bagi insang udang dan pertumbuhanterhambat (Van Wyk & Scarpa, 1999). Nilai pH yang optimal bagi kehidupanudang ada pada rang 7.2 7.8., karena pada pH tersebut proses nitrifikasibakteri yang efektif. Pada kondisi pH kurang dari 7.8 nitrogen dalam bentukunionisasi ammonia sekitar 5% dari total ammonia, sebaliknya pada pH 9,jumlah unionisasi amonia mencapai 50% dari total ammonia (Van Wyk &Scarpa, 1999).Stabilisasi pH dipengaruhi oleh aktivitas respiras