of 69 /69
x ABSTRAK Penelitian ini menganalisis wacana resistensi perempuan Batak yang direpresentasikan oleh film Demi Ucok yang menentang adanya dominasi- dominasi sistem patrilineal dalam etnis Batak. Penelitian ini menggunakan analisis wacana (discourse analysis) berperspektif kritis yang meliputi teks, discourse practice (pelibat teks) dan sociocultural practice sebagai bahan analisis. Pisau analisis tersebut digunakan peneliti untuk mengungkap bagaimana resistensi perempuan Batak tersebut diwacanakan sekaligus melihat dominasi-dominasi yang diwacanakan dalam film sehingga menyebabkan munculnya wacana resistensi tersebut. Untuk dapat menjelaskan bagaimana wacana dominasi dan resistensi perempuan Batak diartikulasikan dalam film, peneliti mengaitkan dengan wacana- wacana lain yang saling berkorelasi dengan penelitian. Wacana kekuasaan (power), konsep mayoritas dan minoritas, stereotipe hingga mengaitkan dengan identitas etnis khususnya kaitannya dengan sikap etnosentrisme etnis Batak. Selain itu, dalam menganalisis peneliti memandang melalui kacamata feminisme untuk membongkar dominasi-dominasi yang diwacanakan dan kacamata postfeminisme dalam melihat bentuk resistensinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa teks kultural yang direproduksi film Demi Ucok ternyata memperlihatkan adanya bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan kaum perempuan. Tiap kaum perempuan memiliki bentuk-bentuk resistensi yang beragam seperti halnya yang dibicarakan dalam perspektif post- feminisme. Namun, ternyata resistensi perempuan tersebut tidak dapat lepas dari peran laki-laki. Dalam hal ini, resistensi kaum perempuan tersebut justru menguatkan dominasi sistem patrilineal tersebut. Sehingga sebenarnya wacana resistensi perempuan Batak terhadap sistem patrilineal ini masih dilematis karena resistensi perempuan sebenarnya hanya mengukuhkan sistem patrilineal itu sendiri. Kata kunci: perempuan Batak, film, dominasi, resistensi, analisis wacana, etnis Batak. ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK Riste Isabella

ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

x

ABSTRAK

Penelitian ini menganalisis wacana resistensi perempuan Batak yang

direpresentasikan oleh film Demi Ucok yang menentang adanya dominasi-

dominasi sistem patrilineal dalam etnis Batak. Penelitian ini menggunakan

analisis wacana (discourse analysis) berperspektif kritis yang meliputi teks,

discourse practice (pelibat teks) dan sociocultural practice sebagai bahan analisis.

Pisau analisis tersebut digunakan peneliti untuk mengungkap bagaimana resistensi

perempuan Batak tersebut diwacanakan sekaligus melihat dominasi-dominasi

yang diwacanakan dalam film sehingga menyebabkan munculnya wacana

resistensi tersebut.

Untuk dapat menjelaskan bagaimana wacana dominasi dan resistensi

perempuan Batak diartikulasikan dalam film, peneliti mengaitkan dengan wacana-

wacana lain yang saling berkorelasi dengan penelitian. Wacana kekuasaan

(power), konsep mayoritas dan minoritas, stereotipe hingga mengaitkan dengan

identitas etnis khususnya kaitannya dengan sikap etnosentrisme etnis Batak.

Selain itu, dalam menganalisis peneliti memandang melalui kacamata feminisme

untuk membongkar dominasi-dominasi yang diwacanakan dan kacamata

postfeminisme dalam melihat bentuk resistensinya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa teks kultural yang direproduksi film

Demi Ucok ternyata memperlihatkan adanya bentuk-bentuk resistensi yang

dilakukan kaum perempuan. Tiap kaum perempuan memiliki bentuk-bentuk

resistensi yang beragam seperti halnya yang dibicarakan dalam perspektif post-

feminisme. Namun, ternyata resistensi perempuan tersebut tidak dapat lepas dari

peran laki-laki. Dalam hal ini, resistensi kaum perempuan tersebut justru

menguatkan dominasi sistem patrilineal tersebut. Sehingga sebenarnya wacana

resistensi perempuan Batak terhadap sistem patrilineal ini masih dilematis karena

resistensi perempuan sebenarnya hanya mengukuhkan sistem patrilineal itu

sendiri.

Kata kunci: perempuan Batak, film, dominasi, resistensi, analisis wacana,

etnis Batak.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 2: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

xi

ABSTRACT

This research analyzes Batak’s female resistence discourse which is

represented by movie “Demi Ucok” which is against domination of patrilineal

system in Batak ethnic.This research uses critical perspective discourse analysis

which includes discourse, discourse practice, and sociocultural practice as

materials analysis.The researcher uses those methods to reveal the Batak's female

resistence is discoursed and to see the dominations, which is discoursed in the

movie, which is giving rise to the resistence discourse.

The researcher connects to the other discoures which corelates each other

with the research to explain the domination discourse and resistence of Batak's

women in the movie. Power discourse, majority and minority concept, stereotype,

up to ethnic identities, specifically those connection with the Batak ethnic

ethnocentrism attitude.Moreover, the researcher uses 2 methods of analyzation,

feminism perspective to reveal the dominations and post-feminism perspective to

know the resistence's form.

This research indicates that cultural text which is reproduced by movie

Demi Ucok shows many resistence forms which is done by the women. Every

female has different resistence forms which is informed at post-feminism

perspective.Truthfully, the female resistence can't be separated from males's role.

On the contrary, female resistence even strengthen the domination of patrilineal

system.So that the actual Batak's female resistence discourse towards the

patrilineal is still dilematic, because it is just strengthened the patrilineal system.

Keywords: Batak’s female, movie, domination, resistence, discourse analysis,

Batak ethnic.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 3: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-41

peneliti semakin diperjelas melalui arti tersebut, ditambah dengan adanya

pelabelan harga yang diberikan pada kedua anjing peliharaan tersebut.

Manohara bernilai Rp 1.200.000 sedangkan Bobot bernilai jauh di

bawah harga Manohara yaitu senilai Rp 40.000. Ditambah lagi, Bobot

menggunakan baju persib (tim sepak bola Bandung) yang bernilai Rp

70.000. Baju persib tersebut memiliki harga yang lebih tinggi dibanding

Bobot sendiri. Dapat diartikan Manohara memiliki harga yang jauh lebih

tinggi dibandingkan Bobot. Dalam dimensi tekstual, apabila dihubungkan

dengan konteks perkawinan, pesan yang hendak disampaikan disini ialah

perkawinan satu suku memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan

perkawinan beda suku.

Gambar 3. 10 Mak Gondut Dan Kedua

Anjing Peliharaannya Dalam Nilai Harga

Masing-Masing

Dari pelabelan nilai yang cukup jauh tersebut, peneliti juga menemukan

adanya penggolongan ke dalam kelas yang berbeda antara yang keturunan

murni dan keturunan campuran. Adanya anggapan bahwa keturunan yang

memiliki ras yang sama dianggap keturunan baik memperjelas bahwa

harkat atau martabat seseorang bergantung juga dari latar belakang ia

berasal. Burhanuddin (2008, hal.192) memperkuat interpretasi peneliti

dengan mengemukakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 4: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-42

adanya prasangka dan diskriminasi yang terjadi pada kelompok mayoritas

(dominan) dengan minoritas ialah etnosentrisme itu sendiri.

Produsen teks (Mak Gondut) merupakan perempuan Batak yang

juga merupakan keturunan murni Batak. Dalam perkawinannya pun, ia

berhasil menikah dengan laki-laki satu suku. Disini peneliti

menginterpretasi bahwa Mak Gondut hendak memberikan pesan bahwa ia

merupakan salah seorang perempuan yang mahal (memiliki nilai tinggi)

karena melalui perkawinan satu suku dan memiliki keturunan murni Batak

(Gloria). Perilaku ini sebenarnya ialah untuk mengokohkan sistem

patrilineal itu sendiri bahwa kenyataanya kaum Batak memiliki

keunggulan yang memandang bahwa kaum Batak seharusnya memilih

untuk menikah dengan kaum Batak lainnya untuk memperoleh

peningkatkan harkat (kenaikan harga kalau dalam perumpamaan tersebut)

dibandingkan kaum lain sehingga masyarakat Batak seharusnya memiliki

sikap etnosentrisme tersebut.

Scene tersebut seakan menjelaskan mengenai komentar-komentar

dari orang-orang mengenai perkawinan (dalam scene sebelumnya) dimana

nikah seharusnya pilihan dan ibadah sehingga adat seharusnya tidak

membatasi seseorang memilih untuk menikah dengan kaum Batak atau

tidak. Peneliti menginterpretasi bahwa scene Mak Gondut ini menutup

dengan jawaban tegas mengenai pertanyaan pada scene sebelumnya

“mengapa kawin dengan Batak?”. Hal ini karena Mak Gondut melihat

bahwa kaum Batak merupakan kaum yang unggul dilihat dari pandangan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 5: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-43

mengenai ras murni yang dianggap lebih mahal dibandingkan ras

campuran.

Gambar 3. 11 Glo Bersama Dengan Tompul

Di Rumah Niki

Scene ini ketika Tompul, laki-laki Batak yang dijodohkan dengan

Gloria, bimbang untuk memilih mengikuti kata hatinya atau mengikuti

permintaan orang tuanya yang menginginkan untuk menikah dengan

perempuan Batak. Ia merasa berat hati untuk menikah dengan perempuan

Batak karena Tompul sudah terlanjur mencintai seorang perempuan asal

Padang. Hubungan mereka kandas karena orang tua Tompul tidak

mengizinkannya. Tompul telah berjanji untuk menikah dengan perempuan

Batak sebelum sesaat setelah ibunya meninggal. Namun kemudian Gloria

berusaha menyadarkan Tompul untuk mengikuti kata hatinya, yaitu

dengan mempertahankan hubungannya dengan perempua Padang tersebut.

Tompul kemudian merenung. Tak lama kemudian, Glo mengatakan seperti

dibawah ini:

“Udah, lagian kalo elo kawin sama gue elo harus bayar

sinamot 2 juta perkilo.

Ya kan? Kalau ama orang padang, elo yang dibayar.”

Scene ini menggunakan close-up shot dimana produsen teks sendiri

sebenarnya hendak menunjukkan eskpresi Glo ketika mengatakan hal

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 6: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-44

tersebut. Scene ini menunjukkan penekanan ekspresi dimana Glo seakan

mengajari (menuntun) Tompul. Ekspresi Tompul yang tersenyum dan

menundukkan sedikit kepalanya tanpa melihat ke arah Glo sementara Glo

memfokuskan matanya melihat Tompul dengan seakan hendak

menampilkan adanya posisi “pengajar” sedang bercengkraman dengan

“yang didik”. “Pengajar” disini diartikan peneliti sebagai seseorang yang

dianggap benar sedangkan “yang didik” dianggap tidak mengerti apa-apa

dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan

bahwa pernyataan Glo merupakan kebenaran dimana perempuan Batak

memiliki keistimewaan melalui sinamot yang lebih tinggi dibandingkan

perempuan Padang. Sikap etnosentrisme ini sudah dimunculkan melalui

non verbal yang ditunjukkan tersebut.

Sinamot adalah harga yang harus dibayar oleh pihak laki-laki

kepada perempuan ketika hendak menikahi perempuan tersebut. Sinamot

disini memiliki arti serupa dengan ‘mahar’. Melalui kutipan diatas, peneliti

menginterpretasikan bahwa perempuan Batak dianggap lebih mahal

dibandingkan perempuan Padang. Hal itu karena perempuan bernilai lebih

dari 2 juta, dibandingkan perempuan padang yang justru membayar

kepada pihak laki-laki yang melamarnya (tidak memiliki harga).

Sebagaimana yang dikatakan Liliweri (2003, hal. 15), konsep etnosentris

ini mewakili semangat dan ideologi untuk menyatakan bahwa

kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain.

Kalimat tersebut diucapkan Gloria karena lawan bicara juga merupakan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 7: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-45

kaum yang sama dengannya (sama-sama Batak) sehingga Gloria tidak

sungkan atau takut menyinggung ketika mengucapkan kalimat tersebut.

Burhanuddin (2008, hal.192) juga mengemukakan bahwa

etnosentrisme bersifat arbiter, artinya etnis manapun bisa bersikap

etnosentris karena persoalannya hanya pada mayoritas dan minoritas.

Dalam kondisi sosial seperti ini, etnis yang minoritas selalu menjadi

bulan-bulanan etnosentrisme dari etnis mayoritas. Hal ini karena mereka

(etnis minoritas) tidak memiliki kekuatan apa-apa. Selain itu disisi lain,

kelompok mayoritas selalu merasa lebih unggul (superior) dari kelompok

minoritas. Kritik Gloria terhadap perilaku Tompul yang malah mengikuti

kemauan orang tua menikah dengan kaum sendiri (suku Batak) justru

menampilkan wacana kecintaan pada suku sendiri (suku Batak).

Penguatan etnosentrisme terekspresi melalui bahasa yang digunakan,

walau dalam hal ini sebenarnya Gloria dalam posisi menentang

perkawinan satu suku tersebut. Hal ini diinterpretasi peneliti sebagai

bagian dari bentuk sikap etnosentrisme tersebut dimana sikap tersebut

diwujudkan dengan mengaburkan identitas lain, dalam hal ini etnis

Padang, dengan cara membandingkan kaum Batak dengan kaum padang

itu sendiri. Menariknya, perempuan bahkan menjadi objek yang

dibanding-bandingkan. Perempuan ikut sebagai korban dalam pengaburan

identitas kaum lainnya yang tujuannya sebenarnya untuk mengukuhkan

identitas kaum Batak itu sendiri.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 8: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-46

Etnosentrisme membawa pengabdian individu ke titik ekstrim

dimana individu tersebut tidak dapat mempercayai bahwa budaya lain

yang terkait perilaku, norma-norma, cara berpikir, dan cara-cara menjadi

sebagai baik atau layak bagi individu tersebut (Priandono, 2014, hal. 201).

Sebagaimana kutipan dibawah ini:

“Jadi harimau itu sekarang sudah menjelajah jakarta

untuk menaklukan lebih banyak lagi Batak-Batak

cantik.”

Kutipan tersebut merupakan scene dimana terjadi percakapan antara opung

dengan Gloria, sesaat setelah Gloria hendak mengucapkan salam pamit

untuk bekerja. Harimau disini yang dimaksudkan ialah Acun, teman

Gloria yang sedang menunggu Gloria saat itu, yang merupakan peranakan

Cina. Arti harimau disini diinterpretasikan oleh penulis sebagai binatang

buas yang menangkap mangsanya dengan gigi tajam dan tubuh yang kuat.

Batak-Batak cantik diinterpretasikan sebagai mangsa dari daripada

harimau tersebut. Sehingga, pernyataan Opung ini menyiratkan tanda

peringatan kepada Batak-Batak cantik tersebut agar waspada terhadap

harimau tersebut. Hati-hati disini bila dikaitkan dengan konteks

perkawinan dapat bermakna hati-hati agar tidak jatuh cinta (menaruh rasa)

kepada lawan jenis yang tidak satu suku (berbeda suku).

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 9: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-47

Gambar 3. 12 Glo Bersama Opung Sedang

Ngobrol

Opung merupakan salah seorang perempuan Batak yang pada akhirnya

mengambil pilihan untuk menikah dan melahirkan serta mengasuh anak.

Pilihan itu diambil opung dengan konsekuensi menguburkan impiannya

menjadi seorang opera Batak.

“Lagi mencari Batak-Batak cantik. Nyari aku dong

pung? Bukan kau, mamak kau.”

Sebagaimana diungkapkan dalam kutipan diatas, tersirat bahwa

Batak cantik yang dimaksud oleh Opung ialah bukan Gloria, melainkan

mama Gloria yang tidak lain dan tidak bukan ialah Mak Gondut. Peneliti

melihat bahwa pesan peringatan itu ditujukan khusus kepada siapa saja

yang termasuk dalam kategori Batak cantik. Gloria yang juga merupakan

perempuan Batak bahkan bukan termasuk dalam kategori Batak cantik

seperti yang diungkap Opung. Hal ini berarti tidak semua perempuan

Batak disebut atau termasuk dalam kategori Batak cantik.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 10: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-48

Gambar 3. 13 Gloria Heran Dengan

Jawaban Opung Tentang Konsep Batak

Cantik

Lantas yang membedakan Gloria dengan Mak Gondut sebenarnya

hanya kepada prinsip atau pola pikir. Gloria dengan mindset mengejar dan

meraih mimpi sedangkan Mak Gondut yang memilih untuk menikah dan

berperan sebagai ibu rumah tangga. Apabila dihubungkan, maka peneliti

menginterpretasikan bahwa yang termasuk dalam Batak cantik ialah

perempuan Batak yang menikah dan melahirkan anak. Maka, pesan

peringatan tersebut dimaknai sebagai pesan agar perempuan Batak (yang

memilih menikah dan melahirkan anak) dapat lebih waspada terhadap

daya tarik laki-laki suku lain. Ini yang disebut peneliti dengan

pengesklusifan suatu kaum, dalam hal ini kaum Batak itu sendiri.

Perempuan lagi lagi menjadi objek untuk dapat menjelaskan ekslusivitas

kelompok tertentu (pemisahan kelompok satu dengan lainnya). Dikatakan

bahwa perempuan Batak seharusnya masuk dalam “Perempuan Batak

Cantik” dan “Perempuan Batak Cantik” harus berhati-hati dengan kaum

lainnya. Ini semua hanya untuk memberikan jarak dimana kaum Batak

berbeda dengan kaum lainnya sehingga etnosentrisme itu wajar bagi kaum

Batak.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 11: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-49

3.2 Resistensi Perempuan Batak dalam Film Demi Ucok

Sistem patrilineal yang terus mengakar dan cenderung mendominasi

sehingga mendiskreditkan perempuan mengakibatkan perempuan semakin kritis

dan berhati-hati mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sistem patrilineal itu

sendiri termasuk kehati-hatian memasuki institusi perkawinan. Ketidakadilan

gender yang seringkali terjadi ketika perempuan memasuki tahap perkawinan

ialah kekerasan. Telah cukup banyak kasus yang berkaitan dengan bentuk

kekerasan yang dialami oleh perempuan dalam keluarga. Kekerasan berupa fisik

maupun dominasi laki-laki dalam menentukan peran perempuan itu sendiri.

Anggapan mengenai perempuan yang hanya memiliki peran dalam ranah

domestik dan tidak memiliki kemampuan untuk memasuki ranah publik juga salah

satunya. Pertentangan atau konflik seperti hal itu seringkali kemudian

menimbulkan kekerasann fisik. Maka tak asing lagi bila mendengar istilah

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Dalam hal ini terjadi ketidakdilan

gender dimana tidak adanya kesetaran antara perempuan dan laki-laki. Hal ini

cenderung dikarenakan:

3. perempuan tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki

4. perempuan tidak diberi penghargaan yang sama dengan laki-laki

Bahwa masih cukup banyak kelompok masyarakat yang menggunakan

pola pemikiran tradisional-patriarkhi dimana perempuan sesuai dengan

kodratnya yaitu mengurus ranah domestik, bukan ranah publik seperti laki-laki.

Padahal gender dan kodrat adalah dua aspek berbeda dan seharusnya tidak

disamakan. Karena kodrat menyangkut kondisi biologis, sedangkan gender bukan.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 12: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-50

Seperti halnya, seorang perempuan yang seharusnya pintar masak, karena itu

adalah kodratnya. Asumsi itu tidaklah benar karena tidak ada unsur biologis yang

berkaitan dengan hal masak-memasak dalam diri seorang perempuan, begitu pula

dengan laki-laki. Maka, sewajarnya kegiatan memasak ini dapat dilakukan oleh

kedua sepasang suami istri, mereka dapat saling bertukar peran sehingga relasi

gender terjalin dengan baik.

Ketiadaan bertukar peran yang seharusnya dilakukan inilah yang

seringkali membawa perempuan pada posisi inferior, dimana perempuan berada

pada kondisi yang tersubordinasi oleh laki-laki. Kedudukan kepala keluarga

biasanya diberikan kepada laki-laki. Kuasa tersebut menyebabkan laki-laki

menjadi kaum superior dalam keluarga. Laki-laki dapat mengatur seisi keluarga,

termasuk sosok yang menjadi pendampingnya (istri). Perempuan diletakan dalam

posisi pendamping suami, dalam hal ini saja sudah nampak jelas bentuk

subordinasi terhadap perempuan pada kedudukan perempuan dalam institusi

keluarga.

Hal-hal semacam itulah yang kemudian menimbulkan perlawanan atau

resistensi perempuan itu sendiri. Namun, perlawanan tidak serta merta

menghasilkan suatu wacana alternatif yang radikal. Seringkali ada pandangan

bahwa perlawanan didasarkan atas struktur yang ganda seringkali bersifat

kontradiktif, tidak selalu mudah dipilah karena bersifat tidak lengkap, tidak

selesai, ambigu, dan seringkali berkompromi dengan aparatus yang ingin

dibongkar (Lo and Gilbert dalam Susanto, 2008, hal 25). Walau resistensi

seringkali bersifat radikal, terlihat secara fisik namun resistensi tidaklah harus

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 13: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-51

muncul dalam cara-cara yang baku. Resistensi dapat terbuka, implisir, segera atau

tertunda. Maka, peneliti tertarik untuk mengelompokkan bentuk perlawanan yang

dilakukan oleh kaum-kaum perempuan yang ada dalam film Demi Ucok, seperti

dibawah ini:

3.2.1 Perempuan sebagai Pemimpi

Perempuan dapat melakukan resistensi dalam berbagai bentuk.

Resistensi atau perlawanan yang dilakukan dapat melalui kekerasan,

seperti balas memukul, mencakar, menampar, dsb. Namun juga ada

perlawanan yang hanya sebatas melawan secara verbal dengan kata-kata

kasar dan suara dengan intonasi tinggi. Tidak hanya itu, perlawanan juga

dapat dilakukan dengan diam membisu ketika diperlakukan tidak

berkenan, dalam hal ini perempuan hanya menerima saja (Irianto dkk,

2006, hal.59). Begitu juga halnya dengan wujud perlawanan dalam film

Demi Ucok yang beragam. Sebagaimana komentar Sammaria mengenai

resistensi yang dimunculkan dalam film:

Sammaria (sutradara): Saya selalu suka semua film

perlawanan karena membuat dunia menjadi lebih

dinamis.

Sammaria tidak menafik bahwa resistensi merupakan bagian dari

kehidupan itu sendiri. Kehidupan sebagaimana kita ketahui dinamis

(berubah-berubah) membuka peluang besar muncul resistensi-resistensi

tersebut, baik dari perempuan bahkan laki-laki. Semua itu merupakan satu

kesatuan yang menjadi bukti nyata tentang kedinamisan kehidupan. Film

sebagai perantara atau media agar tiap manusia dapat menyadari akan hal

itu. Film membantu manusia untuk mengilahmi arti kedinamisan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 14: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-52

kehidupan, dimana resistensi juga menjadi bagian dari kehidupan yang

dinamis tersebut.

Perempuan sebagai seorang pemimpi adalah konsep yang paling

sering ditampilkan dalam film ini. Konsep ini beberapa kali ditampilkan

dalam beberapa scene dengan tokoh dan sudut pandang yang berbeda pula.

Seperti halnya scene dibawah ini:

“Once upon a time di kampung Angrum

hiduplah seorang pemimpi yang pengen

jadi artis.”

Gambar 3. 14 Halaman Pertama (Hal.1)

Cerita Glo tentang Perempuan Pemimpi

“Dia pergi ke ibu kota mengejar

mimpinya.”

Gambar 3. 15 Hal. 2 Cerita Perempuan

Pemimpi

“Si pemimpi bertemu seorang Batak

ganteng dan dijanjikan hidup happily

ever after.”

Gambar 3. 16 Hal. 3 Cerita Perempuan

Pemimpi

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 15: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-53

“Seseram-seramnya ibu kota, lebih seram

mimpi sendiri. Si pemimpi takut gagal.”

Gambar 3. 17 Hal. 4 Cerita Perempuan

Pemimpi

“Dia memilih get married, forget her

dream, and live boringly ever after.”

Gambar 3. 18 Hal. 5 Cerita Perempuan

Pemimpi

Kisah ini diceritakan oleh Glo sebagai awalan atau pembuka film Demi

Ucok. Kisah yang menceritakan seorang perempuan yang senang

bermimpi namun nampak menyesal karena tidak melanjutkan meraih

mimpinya sebagai seorang artis. Keputusannya menikah membuatnya

kemudian meninggalkan mimpinya dan menguburnya dalam-dalam.

Dalam hal ini, secara implisit kisah yang diceritakan oleh Glo hendak

membuat pernyataan tegas bahwa institusi perkawinan sebagai

penghambat perempuan untuk mengembangkan diri. Perkawinan dianggap

tidak dapat membantu perempuan untuk mengeluarkan potensi diri yang

dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Perkawinan dianggap mengikat

(Sutardi, 2007 hal.83), membatasi serta mengekang perempuan

berekspresi. Sebagaimana dikatakan Suhelmi (2007, hal.40) bahwa melalui

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 16: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-54

lembaga perkawinan, perempuan terinstitusionalisasi secara sosial sebagai

pekerja rumah tangga.

Kalimat akhir yang mengatakan “get married, forget her dream,

and live boringly ever after” secara eksplisit memperlihatkan kondisi serta

posisi setelah perempuan memiliki unit sistem baru, yaitu keluarga.

Bagaimana perempuan sesungguhnya dalam keluarga berkaitan pula

dengan peran yang dilakukan sebagai istri. Pengambilalihan kekuasaan

yang seharusnya dimiliki keduanya, saat ini hanya dimiliki laki-laki yang

mendapat kedudukan atau posisi baru selain jadi suami, yaitu sebagai

kepala rumah tangga. Pembagian peran tidak lagi rata dan adil seperti yang

dibayangkan. Plato (dalam Suhelmi, 2007, hal.40) juga melihat bahwa

lembaga perkawinan telah menciptakan ketidaksamaan antara laki-laki dan

perempuan. Perempuan tidak memiliki kekuatan, ia hanya makhluk

inferior bagi suaminya. Pada akhirnya, perempuan “terpaksa”

meninggalkan atau melupakan mimpinya.

Konsep mimpi bagi perempuan sebagai sebuah titik cerah yang

dapat mengatasi kekelaman nasib perempuan ketika mengambil keputusan

memasuki perkawinan. Bagi Glo, perkawinan bukanlah satu-satunya

tujuan hidup atau mimpi perempuan. Masih ada beragam tujuan atau

mimpi yang dapat dicapai oleh kaum perempuan. Inilah bentuk resistensi

perempuan yang secara implisit hendak disampaikan dalam kisah seorang

pemimpi yang diceritakan Glo, dimana Glo dapat menentang, melawan

atau melakukan resistensi terhadap kuatnya sistem patrilineal perkawinan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 17: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-55

Batak ialah dengan mewujudkan mimpi tersebut. Dengan mengusung

konsep perempuan sebagai pemimpi, sebenarnya terselip harapan untuk

dapat meresisten atau melawan dominasi laki-laki dalam sistem patrilineal

Batak dalam perkawinan. Salah satunya ialah mengambil peran (bekerja)

dalam ranah publik. Konsep yang dimaksudkan ialah perempuan juga

dapat bekerja layaknya laki-laki lakukan dan itu bukan hanya sekedar

mimpi belaka. Perempuan tidak hanya bisa mengonsep mimpinya tetapi

melaksanakan atau mewujudkan mimpinya. Sebagaimana diungkapkan

oleh sutradara:

Sammaria (sutradara): film sebaiknya memberikan

harapan.

Disini, kata “harapan“ yang sebenarnya hendak ditekankan oleh

Sammaria. Film sebagai medium dimana istilah “harapan” hendak

diwacanakan sebagai salah satu bentuk resistensi perempuan dalam konsep

perempuan pemimpi. Bahwa resistensi tidak berarti dalam bentuk

kekerasan atau dengan bentuk anarkis, mimpi dapat menjadi bentuk

resistensi baru yang dapat digunakan perempuan dalam mewacanakan

harapan yang dimiliki oleh setiap manusia, terutama perempuan itu

sendiri.

Dalam kisah perempuan pemimpi diatas, mimpi disimbolkan

dengan pekerjaan dalam ranah publik yaitu penghibur (artis). Artis

merupakan salah satu pekerjaan yang berhubungan dengan publik atau

orang banyak, karena salah satu peran artis ialah menghibur publik

(entertain people). Berbeda halnya dengan ranah domestik, dimana peran

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 18: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-56

yang dijalankan ialah mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan rumah

tangga seperti merawat anak, memasak, dsb. Perempuan yang bekerja

sebagai seorang artis (penghibur) kerap kali dikaitkan dengan isu-isu

sensualitas/erotisme (Munti, 2005, hal. 118). Perempuan sebagai artis

dimaknai konotasi, seperti misalnya mengumbar dan mempertunjukkan

auratnya.

Masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya, terdapat kalimat

dalam kisah perempuan pemimpi itu yang mengatakan seperti ini:

“Seseram-seramnya ibu kota, lebih seram mimpi sendiri.

Si pemimpi takut gagal.”

Mimpi disimbolkan dalam bentuk yang menyeramkan, bahkan lebih

menyeramkan dari ibukota. Mimpi memiliki pengertian yang berbeda-

beda. Novel karya Lan (2006) mengisahkan kehidupan manusia yang

penuh dengan uang, seks, sekaligus cinta dan kebersamaan melihat mimpi

sebagai tanda dimana kehidupan itu ada, Maka seperti inilah kutipan

dalam novel tersebut:

Aku butuh mimpi. Aku butuh hidup. Aku butuh asa. Ku

butuh cinta. Aku butuh mimpi yang hidup tentang asaan

cinta. Karena mimpi, hidup itu ada (Lan, 2006, hal.271).

Mimpi diartikan sebagai sebuah pengharapan dimana kehidupan manusia

sebenarnya menggantungkan diri pada mimpi. Hidup tak memiliki kaki

kokoh untuk dapat berdiri apabila mimpi tidak dapat menyokongnya. Itu

sebabnya, perempuan akan terus hidup bila memiliki mimpi, atau

sebaliknya. Mimpi hadir dari alam pikir manusia, sehingga orang yang

terbaik yang mampu menyikap tabirnya ialah diri sendiri. Perempuan yang

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 19: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-57

dapat memahami mimpi, berarti mampu memahami diri sendiri (Dee dkk,

2005, hal.1). Mimpi memiliki berbagai tafsir dan cenderung memiliki

makna pribadi berdasarkan pengalaman, keyakinan agama, tradisi budaya

setempat dan kehidupan masyarakat kini. Dominasi laki-laki dalam sistem

patrilinealnya yang diwujudkan dalam sosok Mak Gondut dengan

ambisinya mengawinkan Glo dengan laki-laki Batak disadari oleh Glo

sebagai kenyataan yang tak terelakkan. Sehingga muncul konsep kisah

perempuan pemimpi yang disampaikan Glo sebagai bentuk resistensinya

atas kenyataan tersebut.

Masih dalam konteks mimpi, ketika seseorang dalam keadaan

penuh kita memandang segala permasalahan dari sudut pandang praktis

dan harafiah, namun pada saat tidur dan bermimpi, masalah yang sama

akan dilihat secara intuitif dan simbolis (Dee dkk, 2005, hal.2). Hal inilah

yang dimaksud dengan “melihat” kehidupan dari dalam diri. Glo “melihat”

kehidupan dari dalam dirinya bahwa perempuan bukanlah mahluk yang

tanpa pilihan. Perempuan memiliki berbagai pilihan untuk “melihat”

kehidupannya. Bagi Glo, kehidupannya ialah menjadi sutradara

profesional. Perempuan memiliki kesempatan memiliki kehidupan bekerja

dalam ranah publik, tidak melulu dalam ranah domestik seperti stereotipe-

stereotipe yang ada. Sekali lagi, Glo memaknai konsep mimpi seperti

kutipan perbincangan dibawah ini:

“Masa sih dia ga gay? Kata emak gue sih dia mau ama

gue. Terus kenapa elo ga mau?Gue itu mau bikin film.”

“Mau buktiin ke emak gue, kalo gue bisa hidup dari

mimpi gue. Ga cari aman kayak dia, kawin.”

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 20: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-58

Kutipan dialog tersebut ketika Glo sedang berbincang dengan Niki

mengenai Tampubolon, laki-laki yang dijodohkan-jodohkan oleh Mak

Gondut kepada Glo. Semalam sebelumnya, Glo mengalami perdebatan

yang panjang dengan Mak Gondut tentang laki-laki yang seringkali

dijodohkan Mak Gondut. Karena kesal, Glo kemudian kabur dari rumah.

Ia kemudian menginap dirumah Niki. Dalam perbincangannya, Glo

sempat menyelipkan perkataan “Ga cari aman kayak dia, kawin”.

Dibalik mimpi tersimpan makna simbolis yang mana mengandung

pesan agar kita tidak “melarikan diri” dari kenyataan (Dee dkk, 2005,

hal.9). Perempuan yang memutuskan untuk berhenti berimpi (memilih

opsi kawin) ialah perempuan yang memilih bermain aman atau dapat

disebut “melarikan diri”. Kenyataannya bahwa meraih mimpi memerlukan

upaya serta usaha dalam perwujudannya, atau tidak mudah seperti

membalikkan telapak tangan. Penerimaan perempuan dalam ranah publik

tak sebaik penerimaan terhadap laki-laki, bahkan dalam segi upah yang

diperoleh, perempuan memperoleh upah yang lebih sedikit bila

dibandingkan laki-laki (Sunarto, 2009, hal.41). Perempuan belum

mendapat pengakuan akan potensi yang dimiliknya. Pandangan ini

merujuk pada isu perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, yang

menempatkan biologis laki-laki sebagai yang utama atau superior daripada

yang lainnya sehingga berimbas pada masalah gender (Munti, 2005,

hal.168). Hal itu dianggap sebagai ketimpangan gender. Sementara itu,

sebagian besar perempuan memilih kawin untuk mendapatkan jaminan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 21: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-59

keamanan keuangan sama seperti mereka mendambakan cinta dan

persahabatan (Then, 2008, hal.68). Sehingga perkawinan seakan

memberikan alternatif pilihan untuk melarikan diri dengan cara aman dari

persaingan yang begitu ketat melawan dominasi laki-laki yang besar

dalam ranah publik.

Konsep perempuan pemimpi juga disampaikan oleh tokoh lain,

Mak Gondut, dalam menunjukan makna secara implisit mengenai

perempuan serta mimpi-mimpinya. Kutipan kisah tersebut ialah seperti

dibawah ini:

“Once upon a time di kampung Angrum

hiduplah seorang pemimpi yang pengen

jadi artis.”

Gambar 3.19 Halaman Pertama (Hal.1)

Cerita Mak Gondut

“Dia pergi ke ibu kota mengejar

mimpinya.”

Gambar 3. 20 Hal. 2 Cerita Mak Gondut

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 22: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-60

“Untung mamanya selalu mendoakan

anaknya yang sok tau ini.”

Gambar 3. 21 Hal. 3 Cerita Mak Gondut

“Si pemimpi menikah sementara adik-

adiknya sibuk mengejar karir”

Gambar 3. 22 Hal. 4 Cerita Mak Gondut

“Akhirnya si adik-adik berhenti nya juga

bekerja. Sementara di pemimpi hidup

happily ever after.”

Gambar 3. 23 Hal. 5 Cerita Mak Gondut

Mak Gondut menceritakan kisah mengenai seorang perempuan pemimpi

yang memilih untuk berhenti mengejar mimpinya kemudian menikah.

Walau awalnya perempuan tersebut sempat memilih pergi ke ibu kota

hanya untuk mengejar mimpi, namun karena doa ibunya maka ia

kemudian berubah pikiran. Ia memutuskan untuk berhenti bermimpi dan

menikah sementara adik-adiknya masih tetap bermimpi. Keputusannya

menikah menjadi keputusan yang tepat karena disamping hidupnya

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 23: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-61

bahagia setelah menikah, adik-adiknya pun akhirnya berhenti bermimpi

seperti yang ia lakukan dulu. Menurut kisah tersebut, pekerjaan

diinterpretasi peneliti sebagai pembuang waktu, karena pekerjaan tidak

memberikan atau tidak mengarahkan pada titik kebahagiaan. Disamping

itu, keluarga (khususnya orang tua) memiliki pengaruh yang besar dalam

menentukan perilaku anaknya.

Institusi perkawinan membuka kesempatan pada perempuan untuk

mencapai kebahagiaan. Makna bahagia disini disandingkan dengan kata-

kata “ever after” dimana berarti kebahagiaan yang didapat tidak

sementara, melainkan berkelanjutan. Perempuan tidak seharusnya bersusah

payah mencapai mimpinya. Perempuan tidak seharusnya bekerja dalam

ranah publik. Menilik tahun 1950-an, perkawinan merupakan satu-satunya

tujuan untuk mencapai standar hidup yang layak (Then, 2008, hal. 68).

Mimpi yang sesungguhnya diinginkan perempuan ialah kebahagiaan yang

berkelanjutan, yaitu ketika ia berhasil memasuki institusi perkawinan itu

sendiri. Institusi perkawinan memberikan perlindungan pada setiap hak-

hak perempuan (Burhanudin, 2002, hal.168). Relasi perkawinan

memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi kedua belah pihak dalam

mencapai kebahagiaan. Institusi perkawinan menciptakan keluarga dimana

keluarga merupakan unit terkecil masyarakat.

Dalam kehidupan keluarga, peran perempuan sebagai istri dan ibu

sangat strategis. Perempuan akan sedapat mungkin menjaga nama baik

keluarga serta suami. Perempuan bahkan menjadi pasrah, takut serta malu

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 24: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-62

apabila kejadian atau peristiwa yang menimpa dirinya (yang masih dalam

lingkup keluarga) diketahui orang lain. Rasa malu ini muncul karena ada

anggapan dalam masyarakat bahwa perempuan yang mengalami hal

tersebut dari laki-laki sebagian besar disebabkan karena kecerobohan atau

perbuatan perempuan sendiri yang tidak berkenan di hati laki-laki.

Pembiaran (lumping it) terjadi karena bermacam-macam alasan.

Perempuan yang merasa bahwa hal tersebut juga bagian dari kesalahan

yang dilakukannya, ketergantungan yang besar terhadap laki-laki, dsb.

Keenganan atau pembiaran tersebut akan terus menjadi silence violence

(Irianto dkk, 2006, hal, 69).

Itu sebabnya, perlu pertimbangan yang disandarkan pada akal sehat

dan pikiran rasional mengenai untung ruginya mengingat ada kendala dan

hambatan dalam praktiknya memasuki institusi perkawinan itu sendiri

(Munti, 2005, hal.173). Untuk itu, bahkan ada kiat-kiat yang harus

disiapkan sebelum memutuskan membentuk suatu sistem baru yang

disebut dengan keluarga. Misalnya, selain aspek emosional, ada

kesepakatan mengenai jangka waktu hidup bersama, kepemilikan atas

barang dan perlunya mengkomunikasikan segala sesuatu, termasuk

masalah kehadiran anak.

Di sini nilai-nilai otonomi individu, kesetaraan dan rasionalitas,

serta pentingnya kesepakatan keduanya yang tidak merugikan satu sama

lain, komunikasi dan komitmen yang menjadi landasan kehidupan

inidividu di era ini, menggantikan nilai-nilai lama menyangkut moralitas.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 25: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-63

Gambaran sosok Glo dalam hal ini memperlihatkan betapa individu-

individu di era globalisasi ini semakin refleksif dan semakin terlepas dari

cengkeraman tradisi.

“Ga mau. Glo ga mau hidup Glo sia-sia, Glo mau kejar

mimpi!”

Berkali-kali kalimat seperti kutipan diatas diucapkan oleh Glo. Kata sia-sia

dipertegas oleh Glo ketika ia sedang berdebat dengan Mak Gondut. Sia sia

ditujukan kepada perempuan yang kemudian mengambil keputusan untuk

menikah dan meninggalkan keinginannya untuk mengejar mimpinya.

Dengan tegasnya Glo memperlihatkan bahwa perempuan dapat melepas

cengkraman tradisi etnis Batak yang begitu kuat dengan sistem

patrilinealnya dengan mempertahankan konsep perempuan sebagai

pemimpi. Mimpi menjadi bentuk resistensi itu sendiri, ketika Glo berusaha

dengan keras dan begitu ambisius untuk mengejar mimpi tersebut.

“Yang dipersatukan Tuhan bisa dipisahkan pengadilan

negeri, kenapa kita harus kawin?”

Kutipan ini menjadi penanda bahwa ternyata ada pula proses

seleksi terhadap nilai-nilai baru yang diwacanakan. Dimana dalam hal ini,

Glo melihat pengadilan negeri mengambil bagian atau peran pada institusi

perkawinan. Menurut Munti (2005, hal. 174) dalam proses tersebut

terdapat dua bentuk sikap yang ditunjukkan. Pertama, merumuskan cara

hidup baru dengan mengambil bagian tertentu dari budaya global, sambil

tetap mempertahankan tradisi meski dengan substansi yang terus dikritisi.

“Mi, harusnya tuh semua orang tu kayak inang uda.

Keliling dunia dulu, nyobain semuanya dulu, baru

terakhir nentuin pilihan.”

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 26: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-64

Sikap yang ditampilkan melalui kutipan diatas ini misalnya,

ditunjukkan oleh beberapa perempuan yang menikmati kehidupan mereka

sebagai lajang, meski mereka tetap mempertahankan idealisasi

perkawinan. Ada konsep atau rumusan cara hidup yang berbeda yang

menjadi pemandu dalam menjalankan kehidupan, disamping tidak ada

elakan mengenai konsep perkawinan tersebut dalam etnis Batak. Kutipan

tersebut merupakan perkataan Glo yang secara eksplisit mengiyakan

perilaku Tante Nora (namboru Glo).

Namboru memiliki pilihan untuk menikmati kehidupannya, dengan

meraih mimpinya terlebih dahulu melalui keliling dunia.

Gambar 3. 24 Tante Nora (Namboru Glo)

Namboru hingga saat ini belum memiliki pasangan karena obsesinya

mencapai impian-impiannya untuk dapat berkeliling dunia. Ia memilih

untuk menomorduakan masalah perkawinan karena prioritasnya untuk

bekerja dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya perilaku ini merupakan

salah satu bentuk resistensinya terhadap keterbatasan perempuan untuk

harus memenuhi tuntutan budaya mengenai perkawinan dan sistem

patrilineal budaya Batak. Hal ini dapat terlihat dari kutipan sebagai

berikut:

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 27: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-65

“Siapa bilang harus, nikah itu pilihan tau.”

Baginya nikah merupakan pilihan. Perempuan tidak harus mencapai titik

memiliki pasangan, memasuki perkawinan dan memiliki keturunan.

Kalimat ini diucapkan olehnya ketika Glo bertanya tentang konsep

perkawinan. Namboru tidak beda jauh dengan Glo, kaum perempuan yang

tidak menyukai kekangan atas batas-batas yang dimiliki perempuan.

Perkawinan berpotensi besar untuk mengekang kebebasan perempuan.

Perkawinan melahirkan bentuk-bentuk dominasi melalui sistem patrilineal

yang dipegang teguh etnis Batak sehingga yang menjadi korban hanya

perempuan. Seperti halnya pendapat yang dikemukakan Munti (2005,

hal.174) mengenai perempuan lajang kosmopolit:

Sebagai lajang kosmopolit, mereka mengidentikkan diri

mereka dengan nilai-nilai yang membentuk hasrat

terhadap kehidupan lajang, yakni gambaran (prototip)

tentang perempuan yang cerdas dan berkualitas,

memiliki wawasan luas, bebas dan mandiri, sukses juga

aktif, memiliki karir yang cemerlang dibidangnya, serta

memiliki komunikasi dan relasi yang luas dengan

banyak orang. Di atas semua itu, kehidupan lajang

dikaitkan dengan hasrat menikmati hidup sepuas-

puasnya tanpa beban, sekaligus memiliki kemampuan

dalam mewujudkan keinginan-keinginannya, sebagai

individu yang bebas dan percaya diri (Munti, 2005, hal.

174).

Mimpi menciptakan nilai-nilai yang membentuk hasrat terhadap

kehidupan lajang. Namboru menjadi individu yang bebas dan percaya diri

dalam mengembangkan diri melalui karir dan prestasi dalam berkarir. Itu

lah yang hendak pula ditunjukkan Glo dengan sifat ambisiusnya membuat

film keduanya, sekaligus menjadi bentuk resistensi Glo terhadap

dominasi laki-laki. Perempuan tidak lagi diciptakan untuk mengurusi

rumah tangga dan berbakti di dalam keluarga di bawah kekuasaan laki-

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 28: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-66

laki. Bahkan pekerjaan tidak lagi dipandang oleh perempuan sebagai

usaha sampingan dari pekerjaan utama di rumah yang mensyaratkan

kepatuhan menaat aturan-aturan, yang berada dalam kendali laki-laki (Al-

Sa’dawi, 2000, hal.52).

Bentuk resistensi Glo ini didorong pula pada kepercayaannya

terhadap idolanya. Mengutip perkataan Qasrina Umi, seorang sutradara

inspiratif yang diidolakannya, mengenai kehidupan:

“Kata Qasrina Umi live by your passion, and the whole

world will conspire to help you”

Bahwa kehidupan seharusnya dijalani dengan apa yang diinginkan oleh

manusia itu sendiri, khususnya perempuan. Kata “passion’ disini dapat

berarti keinginan besar yang seringkali disebut juga dengan nafsu.

Perempuan memiliki kemampuan untuk mencapai mimpi-mimpinya.

Perempuan memilki nafsu yang sebenarnya mampu mencapai mimpi-

mimpi tersebut.

“Elo itu cuman mau menyenangkan orang tua elu, emak

elu. Kalau kita menyenangkan orang lain terus, kapan

kita happy? Kita harus menyenangkan diri kita. Live by

your passion.”

Maka seperti kutipan percakapan diatas, Glo memperlihatkan

bahwa sebenarnya cengkraman tradisi perkawinan bahkan sistem

patrilineal itu dapat dilepas melalui bentuk resistensi atau perlawanan.

Caranya ialah dengan menjalankan kehidupan dengan berpedoman pada

keinginan diri sendiri. Dengan menikmati kehidupan lajang, Glo lebih

memiliki otonomi atas dirinya, dan pada gilirannya mampu mengambil

jarak dengan harapan dan tuntutan budaya (khususnya orang tua, dalam

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 29: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-67

hal ini Mak Gondut) terhadap peran perempuan di dalam perkawinan yang

diidealisasikan.

Sammaria (sutradara): Saya percaya kita tidak bisa

mengubah orang lain. Yang bisa diubah hanya diri

sendiri. Jadi jikalau memang ada nilai-nilai suatu

kelompok tidak sesuai dengan hati nurani kitaa,

sebaiknya kita yang mencari kelompok lain yang sesuai

dengan nilai yang kita yakini.

Pada kutipan pernyataan sutradara sekaligus penulis skenario film

Demi Ucok ini nampak jelas adanya pengakuan mengenai perbedaan

ideologi-ideologi antara kaum tidak dapat terelakkan, dimana ideologi

tersebut menjadi dasar pendiri kaum tersebut sehingga sulit untuk

mengubah bahkan menghilangkan ideologi tersebut. Yang dapat dilakukan

ialah mengubah diri sendiri. Kalimat “mencari kelompok lain yang sesuai

dengan nilai yang kita yakini” merupakan salah satu bentuk resistensi atau

perlawanan yang seharusnya dilakuakan perempuan menghadapi dominasi

sistem patrilineal. Solusi terbaik yang ditawarkan oleh produsen teks ini

ialah perempuan Batak memiliki kesempatan untuk meristensi atau

melawan dengan mencari kelompok lain yang sesuai dengann nilai yang

diyakini, dimana hal ini mengungkapkan adanya nilai yang tidak sesuai

dalam konsep perkawinan etnis Batak yang diakui oleh sutradara.

Itulah mengapa dalam film, secara jelas dan cenderung berulang

(meski tidak dengan kalimat yang benar-benar sama) kalimat seperti

dibawah ini:

“Gue ga mau jadi emak gue”

Kalimat tak ingin menjadi Mak Gondut, tak ingin kawin dan kalimat

negasi lainnya seakan menegaskan adanya ketidaksesuaian yang dialami

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 30: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-68

dan dirasakan oleh perempuan Batak terhadap sisten patrilineal yang

disodorkan oleh etnis Batak. Perempuan Batak seakan terbatas atau

terkungkung dalam sistem patrilineal itu sendiri.

Meski tak sepenuhnya terbebas, Glo menyikap perkawinan secara

berbeda. Misalnya, terhadap status perkawinan sebagai satu-satunya tujuan

yang dikejar, Glo tidak memenuhi tuntutan orang tuanya apabila tidak

bersesuaian dengan keinginannya. Bagi Glo, perkawinan bukanlah

keinginannya walaupun seringkali hal tersebut malah menjadi dambaan

sebagian besar perempuan. Maka kutipan diatas merupakan bentuk

resistensi langsung yang dilakukan oleh Glo terhadap tekanan dan

dominasi sistem patrilineal yang telah mendarah daging di dalam Mak

Gondut.

Kuatnya pengaruh orang tua dan budaya pada etnis dapat

mengubah perilaku perilaku anak. Pengaruh tersebut bisa berupa tekanan

dan dominasi seperti halnya pada kondisi Glo ditengah kuatnya tekanan

dari Mak Gondut untuk menyuruhnya kawin dengan laki-laki Batak.

Tekanan bisa berupa harapan yang tinggi pada anak, menuntut prestasi

yang tinggi pada anak, ikut campur berlebihan terhadap tujuan yang akan

dicapai anak, dsb (Fahmi, 2010, hal.222). Ekspektasi yang tinggi Mak

Gondut terhadap Glo untuk segera kawin dan memberikan keturunan

menyebabkan adanya perubahan perilaku, yaitu dengan perlawanan atau

resistensi itu sendiri. Kondisi ini berusaha digambarkan oleh sepasang

penulis kabat-Zinn (Fahmi, 2010, hal.222) seperti ini:

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 31: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-69

Di antara orang tua dan anak terjadi penumpangan yang

tak kentara-sepenuhnya di luar kesadaran dan niat orang

tua- di mana anak belajar menyimak kebutuhan

emosional orang tuanya, sering terjadi tanpa

pembicaraan. Bukannya orang tua yang bersikap penuh

empati dan bela rasa, malah anak yang mengambil peran

itu dan diharapkan berempati terhadap perasaan,

masalah, dan tekanan orang tua... berbagai perasaan,

kebutuhan, dan hasrat anak jadi terkubur.

Inilah mengapa muncul kutipan dialog dalam scene seperti

dibawah ini:

“Tiap hari nonton aja kau, ga kerjanya kau?”

“Ini kan kerja mi.”

“Sambil kau jual lah Doketr Clear itu, kan lumayan

dapat lima juta sebulan. Atau ikut mami lah ke partai,

nanti kau dapat demo satu juta sebulan kalau kau masuk

DPR.”

“Hidup dicela-cela, mati masuk neraka.”

“Mami masuk neraka? Glo, ada yang mau kubilang

sama kau glo. Kata dokter, umur mama ini tinggal

sebulan lagi.”

“Dokter mana? Dokter Clear bukan. Kawin lah kau Glo.

“Ya cariin lah.”

“Hah? Mau model apa ama kau.”

“Apa aja, asal emaknya ga ada. Satu aja susah apalagi

dua.”

Kutipan percakapan ini terjadi ketika Glo resmi berhenti dari pekerjaannya

menjadi dosen. Semenjak keluar dari tempat kerjaanya, aktivitas Glo

setiap hari hanya menonton film di kamarnya. Mak Gondut akhirnya

memuali percakapan tersebut dengan menawarkan untuk ikut bekerja

dengannya menjadi MLM atau politisi. Mak Dalam percakapan tersebut

Mak Gondut juga tak lupa mengingatkan Glo untuk kawin dengan

mengancam mengenai umurnya yang tak lama lagi. Jawaban Glo hanya

“ya cariin lah”, semacam sebuah isyarat atas kelelahan Glo dan keputusaan

dalam menghadapi tekanan yang terus-menerus diberikan Mak Gondut.

Ditambah lagi dengan jawaban Glo dalam kutipan kalimat paling terakhir

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 32: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-70

ketika Mak Gondut hendak menanyakan ciri laki-laki yang diidamkan oleh

Glo :

“Apa aja, asal emaknya ga ada. Satu aja susah apalagi dua.”

Kalimat tersebut seakan memperjelas peran Glo (sebagai kaum minoritas)

yang tengah menghadapi Mak Gondut yang mana merupakan kaum

mayoritas. Kelompok yang “menguasai” akan menghegemoni kelompok

‘subordinat” dengan menggunakan kekuasaannya (Lembaga Untuk

Transformasi Sosial Indonesia, 2005, hal.122).

Gambar 3. 25 Mak Gondut Tampak Bahagia

Melihat Glo Bersedia Kawin

Bukannya Mak Gondut yang bersikap penuh empati dan bela rasa, tetapi

Glo yang mengambil peran itu dan diharapkan berempati terhadap

perasaan, masalah, dan tekanan sehingga berbagai perasaan, kebutuhan,

dan hasrat jadi terkubur. Resistensi Glo pun kembali diperlihatkan lagi

dalam kutipan dialog dibawah ini:

“Kalau elo kangen, samperin dong.”

“Gue cuma ngecek doang, doi uda mati atau belum.”

“Hush.”

“Kan lumayan uangnya, bisa dipakai buat gue bikin

film.”

“Ingat surga dibawah telapak kaki ibu.”

“Hah, jangan lupa elo ingation gue ama obat jamur kalo

gitu sebelum gue mati.”

“Entar kalo uda ga ada baru nyari-nyari.”

“Susah tau punya emak. Elo enak ga punya emak.”

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 33: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-71

Perbedaan ideologi antara Mak Gondut dan Glo menyebabkan Glo

akhirnya meninggalkan rumah dan tinggal di rumah Niki. Pada suatu saat,

Niki memergoki Glo memantau Mak Gondut yang tengah berolahraga

dirumahnya, kebetulan rumah Niki dan Glo tidak begitu jauh. Tindakan

Glo untuk meninggalkan rumah sebagai perlawanan Glo melihat Mak

Gondut yang kian menekan untuk kawin dengan laki-laki Batak. Bagi Glo,

perkawinan tidak lagi menjadi target utama pembuktian keberhasilan

perempuan, sebagaimana disosialisasikan selama ini, bahwa “perempuan

belum dikatakan sempurna dan berhasil jika belum menikah” (menjadi

ibu) (Munti, 2005, hal. 175). Glo akan kawin bila merasa telah

menemukan jodoh atau orang yang tepat. Di sini, kebutuhan bukan terletak

pada status perkawinan itu sendiri melainkan pada kehadiran pasangan

hidup, soulmate.

Meski Glo tidak kunjung menggenapi keinginan Mak Gondut,

dominasi masih terlihat jelas melalui sikap dan perilaku Glo yang terkesan

resisten namun tetap tunduk pada beberapa budaya etnis Batak. Seperti

halnya mengenai keperawanan. Bagi Niki, menjadi perawan atau tidak

adalah pilihan dan hak pribadi yang harus dihormati. Meski Niki

memaknai keperawanan dengan cara baru, yakni menempatkannya sebagai

pilihan, namun ketika diminta untuk memilih bagi niki, sikap yang dipilih

ialah untuk mempertahankan keperawanan sampai menikah kelak. Begitu

pula dengan Glo. Ini berarti, cara pandang baru yang mengoreksi mitos

keperawanan tersebut tidak sampai mempengaruhi pilihan Glo untuk

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 34: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-72

berani mengambil resiko keluar dari kungkungan tradisi, yang

menempatkan keperawanan sebagai sesuatu yang berharga dan penting

untuk dipertahankan hingga “dipersembahkan” khusus bagi suaminya

kelak. Entah karena keperawanan identik dengan kesucian dan

menyangkut harga diri seorang perempuan, sehingga memotivasi mereka

untuk mempertahankannya.

Pada penghujung film, konsep perempuan sebagai pemimpi juga

ditampilkan melalui film kedua Glo sendiri, dimana tokoh utamanya

diperankan sendiri oleh Mak Gondut. Berikut kutipan cerita yang

disampaikan oleh Glo mengenai film keduanya:

“Seorang wanna be bermimpi jadi artis. Kemudian

ketemu cowok, lalu menikah dan melupakan mimpinya.

Uda tua, masih gelisah. Akhirnya nyari-nyari kesibukan.

Arisan diberbagai tempat, rapat di tiga partai, pagelaran

wayang. tapi ga ada yang peduli. Akibat ga mengejar

mimpi dimasa muda.”

Resistensi Glo melalui konsep perempuan pemimpi diwujudkan dalam

bentuk film keduanya. Film diciptakan sebagai subjek, mengkonstruk

realitas yang ada, kemudian diproyeksikannya kedalam layar. Sedangkan

realitas hanyalah objek. Seturut pendapat Karl Heider mengenai film

bahwa “film hanya refleksi pasif dari budaya (bukan pembentuk

budaya)”(Heider, 1991). Film kedua Glo merupakan hasil konstruksi

realitas, dimana realitas ini mengenai perempuan yang terkekang oleh

perkawinan. Hal tersebut yang dirasakan oleh Glo sebagai perempuan

minoritas yang berusaha meresistensi atau melawan dominasi laki-laki

pada sistem patrilineal melalui filmnya tersebut. Ashadi Siregar (dalam

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 35: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-73

Nugroho, G 20005) mendefinisikan film sebagai teks kultural yang

menawarkan suatu nilai alternatif di antara dominasi tersebut. film

merupakan teks-struktur linguistik yang kompleks dan kode-kode visual

yang disusun untuk memproduksi makna-makna khusus (Gamble, S

2010).

Namun, seperti halnya kutipan percakapan dibawah ini:

“Jadi sekarang ceritanya ganti lagi nih.”

“Ini beda skrip, buat produser yang lain. Gue disuruh

bikin skrip yang Indonesia banget.”

“Indonesia banget kok, bencong sih.”

“Film Indonesia itu harus ada banci, hantu ama susu.

Udah deh bikin aja, biar dia seneng.”

Kutipan percakapan ini saat Glo sedang menyelesaikan naskah film untuk

diberikan kepada kliennya. Film telah menjadi lahan industri strategis

bagi para pembuat film. Sebagaimana dikutip oleh Said mengenai

produksi film bahwa:

“Pembuatan film kita pada umumnya tidak mempunyai

kesadaran lingkungan, geografis, maupun sosial,

sehingga mereka tidak pernah membuat film tentang

lingkungannya yang Indonesia, karena itu film mereka

bukan film Indonesia. Film-film mereka cuma rekaan

dangkal dari impian dan obsesi mereka yang ditopang

oleh semangat dagang yang berlebihan” (dikutip dalam

Said 1991b: 193).

Film telah menjadi ‘bisnis pertunjukan’ (Denis McQuail, 2011, hal.35)

dimana value atau pesan inti seringkali menjadi terabaikan karena

mendahulukan profit film. bahwa Film-film saat ini “masih digerogoti

penyakit deintelektualisasi” (Darmawan, 2007). Film hanya berfokus pada

keuntungan saja sehingga hanya melihat permintaan pasar. Permintaan

pasar terhadap film biasanya merujuk pada tema-tema seks, horor bahkan

ada yang mengkombinasikan keduanya ini hanya untuk meraup

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 36: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-74

keuntungan yang besar. Esensi film dinomorduakan. Ada suatu perubahan

dari pembuat film (film-maker) yang bermula menawarkan gagasan atau

ide lalu berubah karena berorientasi pada keuntungan saja. Sehingga ide

cerita hendak disampaikan seringkali terabaikan.

Dikatakan

3.2.2 Negosiasi Peran Perempuan dalam Ranah Domestik dan Publik

Melihat film secara keseluruhan serta memaknai resistensi lebih

dalam, sosok Mak Gondut hadir sebagai kaum perempuan yang

menguatkan dominasi laki-laki melalui perkawinan, dimana Glo, anaknya

sendiri, sebagai objek yang terdominasi. Kesetiaannya pada suaminya

menghegemoni Mak Gondut untuk melanggengkan sistem patrilineal.

Namun peneliti melihat bahwa tidak semua bentuk perilaku Mak Gondut

merupakan hasil kepatuhannya atas dominasi laki laki tersebut. Dalam

kepatuhan tersebut resistensi sebenarnya telah hadir secara implisit untuk

menunjukkan bentuk penolakan secara terselubung terhadap dominasi

sistem patrilineal yang berlaku.

Mak Gondut mendapatkan dua posisi atau kedudukan jika dilihat

dari sudut pandang yang berbeda. Pertama, sebagai seorang istri dimana

suami yang mendominasi sehingga istri menjadi kaum minoritas dalam hal

ini. Kedua, sebagai ibu dimana anak (Glo) memiliki kedudukan sebagai

kaum minoritas sementara ibu memiliki kemampuan mendominasi

anaknya. Posisi yang berlainan ini menjadikan Mak Gondut menunjukkan

resistensi “tidak pada tempatnya”. Maksudnya ialah resistensi yang

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 37: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-75

dilakukan terhadap dominasi kaum laki-laki, yakni suaminya sendiri,

mendorong Mak Gondut untuk melakukan resistensi (dalam hal ini

pembalasan) melalui bentuk-bentuk dominasi yang dilakukannya pada

kaum minoritas (kaum dibawahnya), dalam hal ini Glo (anaknya sendiri).

Hal ini bisa dilihat dalam kutipan dibawah ini:

“Mi, harusnya tuh semua orang tu kayak inang uda.

Keliling dunia dulu, nyobain semuanya dulu, baru

terakhir nentuin pilihan.”

“Tapi kawin dulu lah kau, baru kau kejar mimpi-

mimpimu.”

“Ah mami habis kawin juga ga bikin film kok.”

“Kalau mami mau, bisa mami bikin. Bikinlah kau dulu.

Kucarikan pun nanti kau 1 M tapi kawin dulu lah kau.”

“Ga mau. Glo ga mau hidup Glo sia-sia, Glo mau kejar

mimpi.”

“Egois kali kau itu, hidup itu untuk sesama baru berarti,

heh!”

Kutipan tersebut merupakan kutipan dialog antara Mak Gondut dan

Glo. Pada waktu itu, namboru (tante Glo) memutuskan akan pergi ke

Kutub Utara untuk mengejar mimpinya yaitu keliling dunia. Mak Gondut

tidak menyetujuinya, ia menyarankan agar namboru memikirkan pasangan

lalu kawin dan punya keturunan sebagai prioritas utama karena hingga saat

itu namboru belum juga kawin apalagi memperoleh keturunan, bahkan

masa pacaran belum juga dirasakan dalam usianya yang sudah tak lagi

muda. Disini, Glo kemudian membantah kalimat Mak Gondut dengan

mengatakan keputusan namboru adalah keputusan yang tepat, karena

perempuan seharusnya mengejar cita-citanya terlebih dahulu baru

kemudian memilih untuk kawin. Sedang Mak Gondut tidak menyetujui

hal tersebut. Perdebatan sengit tersebut dianggap menarik oleh peneliti

khususnya pada kutipan kalimat ini:

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 38: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-76

“Tapi kawin dulu lah kau, baru kau kejar mimpi-

mimpimu.”

“Ah mami habis kawin juga ga bikin film kok.”

“Kalau mami mau, bisa mami bikin. Bikinlah kau dulu.

Kucarikan pun nanti kau 1 M tapi kawin dulu lah kau.”

Peneliti menginterpretasi bahwa ada sebuah bentuk pembelaan dari Mak

Gondut mengenai keputusannya untuk memilih kawin dan tidak mengejar

cita-citanya membuat film atau menjadi artis terkenal. Walau begitu,

ekspresi Mak Gondut dalam bentuk visual pada film tidak dapat menipu

dimana ada bentuk penyesalan yang tersembunyi dalam pembelaannya.

Ekspresi Mak Gondut berubah, dari yang melotot dengan intonasi kuat,

sampai kepala menunduk seakan “malu” dengan intonasi yang mulai

mengecil ketika Glo mulai membahas mimpi Mak Gondut yang tak

kunjung direalisasikannya.

Gambar 3. 26 Mak Gondut Saat Meminta Glo

Untuk Kawin

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 39: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-77

Gambar 3. 27 Mak Gondut Saat Menjawab

Glo Mengenai Mimpinya Yang Tak Kunjung

Tercapai

Yang menarik, pada percakapan tersebut pengambilan gambar

dibuat close up, sehingga ekspresi atau mimik wajah Mak Gondut dapat

terlihat sangat jelas. Pengambilan gambar seperti ini biasanya digunakan

untuk memperlihatkan ekspresi dari tokoh atau benda yang hendak dilihat

secara lebih jelas dan fokus. Hal ini dilakukan bukan tanpa maksud,

peneliti melihat ada bentuk kesengajaan untuk dapat melihat detail

ekspresi tokoh-tokoh yang sedang berbicara dalam scene tersebut,

khususnya ekspresi penyesalan Mak Gondut meski dalam verbal Mak

Gondut seakan melakukan pembelaan diri. Sebenarnya poinnya tidak

hanya itu, tetapi juga pada percakapan setelahnya:

“Ga mau. Glo ga mau hidup Glo sia-sia, Glo mau kejar

mimpi.”

“Egois kali kau itu, hidup itu untuk sesama baru berarti,

heh!”

Ketika itu, Glo mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak mau kawin

karena dianggap sebagai hal yang sia-sia. Ia memilih untuk tetap mengejar

mimpinya. Mengetahui hal itu, Mak Gondut kemudian membalas dengan

intonasi yang lebih kuat dibanding sebelumnya dengan mengatakan Glo

sebagai manusia egois yang tidak memikirkan orang lain.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 40: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-78

Gambar 3. 28 Mak Gondut Melotot Dan

Mengigit Bibirnya Seperti Dongkol (Kesal)

Dengan Perkataan Glo

Mendengar jawaban Glo yang tak sesuai keinginan, Mak Gondut

kemudian menjawab dengan kembali menaikkan kepala (setelag

sebelumnya menunduk) sebagai bentuk kekesalannya. Disinilah bentuk

resistensi sekaligus dominasi yang dilakukan Mak Gondut baik sebagai

kaum minoritas (dari keputusannya memilih kawin) dan kaum mayoritas

(ambisinya mengawinkan anaknya).

Ibu (Mak Gondut) memiliki kuasa atas kontrol keuangan keluarga,

apalagi setelah melihat suami (ayah Glo) telah meninggal sehingga kuasa

melimpah pada sang istri. Ia memiliki peranan yang besar dan kuasa

dalam mengurus kebutuhan rumah tangga. Hal ini karena perempuan

dianggap memiliki keahilan bekerja dalam ranah domestik. Segala urusan

rumah tangga baik memasak, mencuci, mengantur keuangan keluarga

merupakan tanggung jawab perempuan sehingga disinilah bentuk

resistensi yang dilakukan perempuan (istri) terhadap dominasi kaum laki-

laki. Secara implisit terlihat kombinasi verbal dan non verbal (produksi

teks tersebut) bahwa adanya bentuk pembalasan Mak Gondut pada

ketidakberdayaannya dulu saat memilih menikah dan tidak mengejar

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 41: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-79

mimpi melalui bentuk ancamannya pada Glo dengan syarat tidak akan

membiayai Glo dalam proses produksi filmnya apabila tidak melakukan

hal yang sama dengan yang ia lakukan, yaitu kawin. Pembalasan ini

menjadi bentuk resistensi itu sendiri yang ditunjukan pada segmentasi

yang berbeda, bukan pada pelaku yang memicu Mak Gondut meresistensi

tetapi pada objek lain yang menjadi kaum tertindas. Menariknya, kaum

perempuan lagi yang menjadi kaum minoritas turunan atas dominasi awal

dimana lagi-lagi kaum laki-laki yang menjadi biang keladi.

Resistensi Mak Gondut tidak dilampiskan dan bahkan tidak

berdampak pada kaum yang mendominasi. Ia menunjukkan pada kaum

lain dimana ia memiliki kuasa pada ranah domestiknya yang dapat

mengontrol bahkan menindas kaum dibawahnya. Pelampiasan ini

ditunjukkan juga dalam scene ini:

“Pake kartu kredit mami aja Glo. Kan ada kau pegang

kartu tambahan. Que-que”

Ini merupakan salah satu perkataan Mak Gondut yang cukup menunjukkan

kuasa perempuan (ibu) atas kaum tertentu (dalam hal ini Glo, anaknya).

Kuasa yang sebelumnya tidak dimiliki oleh istri, kemudian dilimpahkan

pada istri semenjak kepergiaan suami. Resistensi yang dilakukan dengan

perilaku “meniru” kekuasaan yang dahulu sempat mendominasinya.

Pelampisan tidak berhenti begitu saja, adanya pengulangan bentuk

pelampiasan seperti halnya kutipan dialog dibawah ini:

“Mami aja kawin. Bukannya jadi artis. Cari aman.”

“Banyak kali cakap kau. Tak bisanya kau nyari duit.”

“Siapa bilang Glo ga bisa nyari duit?”

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 42: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-80

“Tinggal pun masih sama mami. Makan sama mami.

Kartu kredit masih tambahan, Que-que.”

Kutipan tersebut lagi-lagi saat Mak Gondut dan Glo sedang

berdebat panjang mengenai konsep perkawinan, dimana Mak Gondut

begitu keras memaksa Glo untuk menikah sementara Glo pun keras

menolak kemauan ibunya tersebut. Pemaksaan Mak Gondut mengawinkan

Glo dalam hal ini dapat dilihat sebagai bentuk resistensi yang

dilampiaskan oleh Mak Gondut pada kaum diluar yang mendominasinya.

Seperti halnya kisah yang diceritakan Mak Gondut yang merupakan

cerminan kisahnya dulu sewaktu muda.

“Once upon a time dikampung Angrum, hiduplah

seorang pemimpi yang pengen jadi artis. Dia pergi ke

Ibu kota mengejar mimpinya. Untung mamanya selalu

mendoakan anaknya yang sok tau ini. Akhinya, si

pemimpi menikah sementara adik-adiknya sibuk

mengejar karir. Akhirnya si adik-adik berhentinya juga

bekerja. Sementara di pemimpi hidup happily ever after.

Dikatakan bahwa Opung (Ibunya Mak Gondut, Opung dalam

bahasa Indonesia berarti kakek/nenek) mendoakan anaknya (Mak Gondut)

agar menikah. Sebenarnya mendoakan disini masih mengacu pada salah

satu bentuk dominasi yaitu dimana orang tua dapat mempengaruhi

perilaku anaknya. Pihak yang terdominasi disini ialah Mak Gondut (anak).

Inilah yang kemudian dilakukan oleh Mak Gondut (perwakilan orang tua)

terhadap Glo (anak) yang sebenarnya merupakan wujud dari resistensi itu

sendiri dimana perkawinan tersebutlah yang menyebabkan Mak Gondut

akhirnya menggugurkan mimpinya menjadi seorang artis. Pelampisan ini

dilimpahkan pada anaknya sebagai bentuk pembalasan terhadap

ketidakberdayaannya dulu dalam dominasi orang tua yang

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 43: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-81

menginginkannya kawin dan memperoleh anak. Resistensi ini pun

dilakukan dengan dorongan sifat ambisius Mak Gondut yang semata-mata

agar dapat melanggengkan tujuannya mengawinkan Glo. Seperti halnya

kutipan dibawah ini:

“Bereng jo. Anon dikuhara ni lesbi.tambal maon rupa

mulih (Lihatlah! Nanti disangka orang dia lesbi.

Tambah susah kujodohkan).”

“Tutup aja kartu kreditnya, Nanti balik sendiri dia

kerumah.”

Resistensi ini diwujudkannya Mak Gondut dengan pembalasan

pada Glo, salah satunya melalui penutupan kartu kredit Glo. Hal tersebut

dilakukan Mak Gondut setelah mendengar saran dari namboru agar

kemudian Glo kemudian kembali ke rumah. Glo pada waktu itu memilih

kabur dari rumah karena tidak kuat dengan sikap Mak Gondut yang selalu

beradu mulut dengannya mengenai konsep perkawinan dan mimpi.

Dikatakan Moore (dalam Irianto, 2003, hal. 83) bahwa bagi orang miskin

dan lemah, mengetahui kapan saatnya untuk mengalah adalah suatu bagian

integral dari mengetahui bagaimana dan kapan saatnya untuk melawan.

Mak Gondut memilih mengalah terhadap dominasi yang dirasakannya

ketika itu sehingga akhirnya ia memutuskan menikah. Namun dalam

kutipan Irianto tersebut terdapat kata integral, dalam kamus Bahasa

Indonesia berarti: (1) mengenai keseluruhannya/meliputi seluruh bagian

yang perlu untuk menjadikan lengkap, utuh, bulat dan sempurna; (2) tidak

terpisahkan/terpadu. Ini berarti dalam perilaku mengalah tersebut

sebenarnya juga terdapat bentuk perlawanan, sehingga sulit untuk

dipisahkan karena merupakan kesatuan/utuh. Irianto memberi contoh

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 44: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-82

bentuk perlawanan perempuan dalam keluarga (terhadap suami) yaitu

misalnya penolakan untuk memasak, berhubungan seksual, meninggalkan

pekerjaan rumah tangga dan pertanian (kegiatan produksi lainnya), dan

menyebarkan gosip tentang pasangan mereka. Dalam film ini, Mak

Gondut melakukan bentuk perlawanan dengan membuat anaknya

melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan.

Resistensi perempuan ini juga diwujudkan pula oleh Mak Gondut

dalam menentukan pilihan pekerjaan yang hendak dilakukan. Menariknya

dalam sub bab ini ialah bahwa resistensi menyebabkan perempuan dapat

menegosiasikan perannya yang distereotipekan dalam ranah domestik

menjadi suatu kebebasan untuk memilih peran dalam ranah publik. Istri

memiliki kuasa atas dirinya sendiri bahkan ia dapat menguasai

(mengatur/mengontrol) perilaku orang lain, dalam hal ini biasanya anak.

Melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Mak Gondut sangat jelas

ditampilkan tidak adanya kegiatan yang merujuk pada ranah domestik.

Resistensi ini ditunjukan melalui perilaku Mak Gondut yang tidak benar-

benar menjadi istri tersubordinasi suami, ia dapat dengan bebas memilih

aktivitas yang ia lakukan bahkan sampai pada ranah publik. Kegiatan Mak

Gondut antara lain:

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 45: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-83

Gambar 3. 29 Segelintir aktivitas Mak

Gondut

Gambar 3. 30 Mak Gondut Sebagai Pelaku

Sosial

Gambar 3. 31 Kegiatan Mak Gondut Sebagai Politisi

Perkawinan tidak melulu melihat perempuan yang terperangkap dalam

kotak dominasi laki-laki. Yang menarik disini ialah ketika peneliti tidak

menemukan adanya kegiatan dalam ranah domestik yang sifatnya

memaksa yang seharusnya dilakukan oleh istri sebagai bentuk dominasi

suami, seperti misalnya menyapu, memasak, dsb. Mak Gondut malah

melakukan pekerjaan seperti mengikuti arisan/pesta, melakukan kegiatan

sosial, mengikuti kegiatan partai sebagai politisi dan berjualan. Ada

sebuah bentuk negosiasi peran perempuan (istri) untuk keluar dari

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 46: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-84

kekangan stereotipe dimana perempuan seharusnya berperan hanya dalam

ranah domestik.

Sebagaimana yang dikatakan oleh James Scott mengenai apa yang

disebutnya sebagai ‘everyday forms’ of women’s resistance (bentuk

perlawanan sehari-hari) berdasarkan kajiannya di kalangan para petani.

Bahwa penolakan yang dilakukan para petani dalam menghadapi

ambiguitas dan kontradiksi dalam hukum negara sehingga menyebabkan

tidak efektifnya perubahan hukum negara menciptakan kesetaran antara

perempuan dan laki-laki. Menjadi penyebab perempuan pada akhirnya

melakukan penolakan dengan caranya sendiri.

“Such forms of resistance required little or no-coordination

or planning; they can be classed as a type of self-help; and

they avoid any direct questioning of the authority or the

norms of dominant/elite groups (Scott dalam Irianto, 2003,

hal.2)

Scott memaparkan bahwa penolakan perempuan petani berupa

penyimpangan kolektif yang seketika dan berciri “senjata biasa” dari

kelompok-kelompok yang relatif tidak berdaya, dengan cara seperti

keterlambatan, pembakaran dengan sengaja, sabotase, pencopetan, gosip

dan sebagainya. Bahwa tidak perlu meromantisir “senjata kaum lemah”,

tetapi yang sama pentingnya adalah bahwa mereka tidak boleh diabaikan.

Perlawanan yang dilakukan perempuan tidak merupakan konfontasi

langsung, karena perempuan memahami lemahnya kedudukan mereka,

dan segan terlibat dalam konfrontasi terbuka ketika keadaan sudah

menjadi genting. Kepasrahan seperti halnya perlawanan harus dipandang

sebagai sebuah strategi, bagian dari satu proses tawar-menawar yang tidak

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 47: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

III-85

mempunyai awal dan akhir. Sementara, sifat eksploitatif masih tetap

berlangsung dari hubungan-hubungan kelas tersebut. Dalam hal ini,

kepasrahan untuk kawin yang telah dilakukan oleh Mak Gondut

merupakan sebuah strategi yang mana merupakan bentuk strategi untuk

dapat melakukan resistensi dalam bentuk lain, yaitu negosiasi peran yang

dilakukan Mak Gondut sebagai istri yang tidak benar-benar bekerja dalam

ranah domestik tetapi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dalam ranah

publik seperti kaum laki-laki.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 48: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

IV-1

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Wacana resistensi perempuan Batak dalam film bertemakan etnis Batak

memang masih dilematis. Hal ini karena budaya patriarki yang masih

dominan secara jelas nampak dalam film tersebut. Film digunakan sebagai

instrumen untuk mengambarkan atau menampilkan dominasi atas

kedudukan perempuan yang masih tersubrodinasi oleh kaum laki-laki walau

kenyataanya perempuan telah menjadi tokoh sentral maupun sebagian besar

peran didomminasi oleh kaum perempuan dalam film. Hal ini dilihat

melalui dominasi dalam sistem patrilineal dimana adanya struktur yang

menyebabkan kondisi dominasi kaum laki-laki tersebut semakin kuat.

Bahkan kuasa author atau produsen teks (sutradara) yang juga merupakan

bagian dari kaum perempuan itu sendiri pun tidak mampu meruntuhkan

tekanan dominasi sistem tersebut untuk mengukuhkan resistensi kaum

perempuan itu sendiri. Adanya suatu penguasaan wacana laki-laki yang

menghegemoni kaum perempuan ini kenyataannya menyebabkan

munculnya kaum perempuan yang justru melanggengkan sistem tersebut.

Penguasaan wacana yang dilakukan oleh kaum laki-laki (suami Mak

Gondut) menyebabkan Mak Gondut bersiteguh untuk tetap terus hidup dan

melawan kematian untuk mewujudkan tujuannya tersebut. Kematian tidak

lagi didefinisikan sebagai takdir apabila hal tersebut menghambat proses

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 49: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

IV-2

pelanggengan sistem patrilineal. Selain itu, struktur dalam sistem tersebut

juga melahirkan konsep mayoritas dan minoritas dimana laki-laki mendapat

kesempatan menjadi kaum mayoritas sementara perempuan mendapatkan

bagian sisa (minoritas). Perempuan yang turut melanggengkan sistem

patrilineal masuk dalam kelompok mayoritas karena berperan sebagai

perantara dalam pembentukan wacana dominasi kaum laki-laki. Stereotipe

juga menandai dominasi kaum laki-laki Batak dimana dalam stereotipe

tersebut perempuan dikategorikan atau dikelompokkan kedalam kaum

perempuan Batak ideal (yang pantas) dan sebaliknya. Dikatakan sebagai

perempuan Batak ideal ketika perempuan tersebut berhasil memasuki

institusi perkawinan dan memiliki keturunan. Stereotipe ini juga

menyebabkan sikap etnosentrisme muncul, seperti munculnya pembedaan

antara kaum perempuan Batak dengan identitas perempuan lainnya dan

perbedaan laki-laki Batak dengan identitas laki-laki lainnya. Hal-hal seperti

inilah yang kemudian memunculkan wacana mengenai resistensi yang

dilakukan oleh perempuan sebagai pihak yang paling sering (cenderung)

terdominasi.

Resistensi muncul sebagai respon atau tanggapan akan ketidaksesuaian

atas perilaku kaum tertentu yang memisahkan diri (memberi jarak) dengan

melibatkan aspek-aspek tertentu seperti kekuasaan (power), kontrol, dsb.

Namun, resistensi perempuan beragam, baik kaum perempuan satu dengan

kaum perempuan lainnya memiliki bentuk resistensi yang berbeda-beda.

Resistensi yang nampak diwujudkan dalam bentuk keteguhan dan kegigihan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 50: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

IV-3

memaknai konsep mimpi dimana sistem patrineal diasumsikan sebagai

penghambat mewujudkan konsep mimpi tersebut. Selain itu resistensi juga

dilakukan dengan mendiamkan dominasi tersebut diawal dan kemudian

membentuk strategi baru untuk mewujudkan bentuk resistensinya, seperti:

mendobrak stereotipe mengenai istri yang hanya bekerja di ranah domestik.

Perbedaan ini membenarkan kaum postfeminisme yang melihat

perempuan dalam narasi-narasi kecil dimana dominasi kaum perempuan

tersebut tergantung pada cara pandang perempuan memandang apakah

perilaku-perilaku yang diterimanya tersebut dianggap sebagai bentuk

dominasi atau malah sebaliknya. Perbedaan tersebut diartikulasikan oleh

produsen teks (sutradara) dalam film sebagai bagian dari pengalamannya

sebagai perempuan yang resisten terhadap dominasi struktur tersebut.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa memang resistensi-resistensi yang

ditampilkan masih tidak dapat lepas dari dominasi-dominasi kaum laki-laki

pada sistem patrilineal konsep perkawinan. Hal ini karena kenyataanya tiap

perempuan memiliki keberagaman usia, gender role (peran gender) serta

pengalaman yang berbeda antar satu sama lain yang memungkin adanya

keberagaman perlakuaan atau respon terhadap dominasi tersebut.

2. Saran

Peneliti sulit mendapatkan data yg mendalam berkaitan dengan film

Batak atau film dengan setting Batak serta penjelasan mendalam dan

terperinci mengenai konsep etnisitas, khususnya dalam etnis Batak. Maka

dari itu, peneliti menyarankan adanya penelitian lebih lanjut oleh peneliti

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 51: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

IV-4

selanjutnya yang mengaitkan penelitian dengan audience untuk melihat

pemaknaan audience tentang identitas etnis Batak yang diwacanakan

dalam film-film Indonesia. Terakhir, disarankan kepada peneliti

selanjutnya untuk memperkirakan waktu penelitian dengan baik agar

mendapat dukungan materi serta referensi yang lebih banyak sehingga

memungkinkan hasil analisis yang diperoleh lebih mendalam.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 52: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Al-Sa’dawi, N 2000, Perempuan, agama dan moralitas: antara nalar feminis &

islam revivalis, Gelora Aksara Pratama.

Barker, C 2013, Cultural studies: teori dan praktik, Kreasi Wacana, Yogyakarta

Burhanudin, J 2002, Ulama perempuan indonesia, Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

Chandler, D 1994, Semiotics for Beginner. Paradigms and Syntagms.

Dee, N 2005, Memahami mimpi, LkiS Pelangi Aksara Yogyakarta, Yogyakarta.

Dhakidae, D 2003, Cendekiawan dan kekuasaan dalam negara orde baru,

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

El Fadi, K M A 2001, Atas nama Tuhan, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta.

Eriyanto, 2001, Analisis wacana, Lkis Pelangi Aksara, Yogyakarta.

Fahmi, A B 2010, Menit untuk anakku, Elex Media Komputindo, Jakarta.

Fan Lan, 2006, Perempuan kembang jepun, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Fiske, J 1987, Teknology culture: popular pleasure and politics, Routledge, New

York.

Handayani,C S, Novianto, A, 2004, Kuasa wanita jawa, Lkis Pelangi Aksara,

Yogyakarta.

Haryatmoko, J 2010, Dominasi penuh muslihat: akar kekerasan dan diskriminasi,

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Irianto, S 2003, Perempuan di antara berbagai pilihan hukum: studi mengenai

strategi perempuan Batak Toba untuk mendapatkan akses kepada harta

waris melalui proses penyelesaian sengketa, Yayasan Obor Indonesia,

Jakarta.

Irianto, S. 2006, Perempuan dan hukum: menuju hukum yang berperspektif

kesetaraan dan keadilan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Irianto dkk, 2006, Perempuan di persidangan: pemantauan peradilan berperspektif

perempuan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 53: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Kaplan, E (ed.) 2000, Feminism & film, Oxford University Press, Great Britain.

Kriyantono, R 2006, Teknik praktis riset komunikasi: disertai contoh praktis riset

media, public relations, advertising, komunikasi organisasi, komunikasi

pemasaran, Kencana, Jakarta.

Kuntjara, E, 2003, Gender, bahasa, dan kekuasaan, BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Lembaga Untuk Transformasi Sosial Indonesia, 2005, Wacana, Yayasan Obor

Indonesia, Jakarta.

Liliweri, A 2005, Prasangka & konflik: komunikasi lintas budaya masyarakat

multikultur, LkiS Pelangi Aksara, Yogyakarta.

McLuhan, M 1967, Understanding media-the extension of man, Random House,

New York.

McQuail, D 2011, Teori komunikasi masa McQuail 1 ed 6, Penerbit Salemba

Humanika, Jakarta.

Munawar, B Rachman, 1996, Rekonstruksi fiqh perempuan dalam peradaban

masyarakat modern, Ababil, Yogyakarta.

Munti, R B 2005, Demokrasi keintiman: seksualitas di era global, LkiS Pelangi

Aksara, Yogyakarta

Murniati, A N P 2004, Getar gender [perempuan indonesia dalam perspektif

agama, budaya dan keluarga], IndonesiaTera, Magelang.

Mustafid, F (ed.) 2004, Masyarakat dan hukum adat Batak toba, Lkis Pelangi

Aksara, Yogyakarta.

Nanda, S Warms, R 2013, Cultural Anthropology.

Nurudin, 2007, Pengantar komunikasi massa, Rajawali Pers, Jakarta.

Simanjuntak, B A 2006, Struktur sosial dan sistem politik Batak toba hingga

1945:suatu pendekatan antropologi budaya dan politik, Yayasan Obor

Indonesia, Jakarta.

Sadli, S 2010, Berbeda tetapi setara: pemikiran tentang kajian perempuan,

Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Stokes, J 2006, How to do media and cultural studies: panduan untuk

melaksanakan penelitian dalam kajian media dan budaya, Bentang Pustaka,

Yogyakarta.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 54: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Suhelmi, A 2007, Pemikiran politik barat: kajian sejarah perkembangan pemikiran

negara, masyarakat dan kekuasaan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sukri, SS 2001, Perempun seksualitas dalam tradisi jawa, Gama Media,

Yogyakarta.

Sunarto, 2009, Televisi, kekerasan, dan perempuan, Penerbut Buku Kompas,

Jakarta.

Supriatno, 2009, Merentang sejarah, memaknai kemandirian menjadi gereja bagi

sesama, BPK Gunung Mulia.

Susanto, B 2008, Membaca postkolonialitas (di) indonesia, Kanisius,

Yogyakarta.

Sutardi, T 2007, Antroplogi mengungkap keragaman budaya untuk kelas xii

sekolah menengah atas/madrasah aliyah program bahasa, Grafindo Pratama,

Bandung.

Then, D 2008, Kisah-kisah perempuan yang bertahan dalam perkawinan, BPK

Gunung Mulia, Jakarta

Tinambunan, D Toruan, R, 2010, Orang Batak kasar?:membangun citra &

karakter: gunakan 7 falsafah Batak merestorasi jati diri, hubungan seks,

sosial, budaya, demokrasi, bisnis, dan melibas dosa, korupsi & mafia

hukum, Elex Media Komputindo, Jakarta.

Vergouwen, J C 2004, Masyarakat dan hukum adat Batak toba, LkiS Pelangi

Aksara, Yogyakarta.

Jurnal, Laporan Penelitian/Skripsi/Thesis

Astuti, AP 2013, ‘Representasi perempuan dalam film 7 hati 7 cinta 7 wanita

karya Robby Ertanto studi analisis semiotik, Skripsi, Universitas Islam

Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dianingtyas, EA 2010, ‘Representasi perempuan jawa dalam film r.a.kartini’,

Skripsi, Universitas Diponegoro.

Gamble, S 2010, ‘Feminisme dan film’, Pengantar Memahami Feminisme &

Postfeminisme, Vol. 1, 117-130.

Janji joni 2005, videorecording, Kalyana Shira Films, Jakarta.

Loetoeng kasaroeng 1926, videorecording, NV Java Film Company, Bandung.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 55: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Prayogo, WA 2009, ‘Kebijakan Pemerintah Orde Baru Terhadap Perfilman

Indonesia Tahun 1966-1980’, Skripsi, Universitas Indonesia.

Siburian, R 2008, ‘Kearifan Ekologi dalam Budaya Batak sebagai Upaya

Mencegah Bencana Alam’, Masyarakat Indonesia : Majalah Ilmu-Ilmu

Sosial Indonesia, Vol.34, Hal.63-86.

Website

Efendi, Y 2010, Marga: keluarga dan keekrabatan dalam pengetahuan orang

Batak toba, sumatera utara. Diakses pada 2 Mei 2012 dari

melayuonline.co/ind/culture/dig/2598/marga-keluarga-dan-kekerabatan-

dalam-pengetahuan-orang-Batak-toba-sumatera-utara

Film Indonesia, 2012, Sinopsis Di Timur Matahari. Diakses 29 November 2014

dari http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-d015-12-622431_di-timur-

matahari#.VHoBHdKsWSo

Film Indonesia, 2004, Sinopsis Gie. Diakses 29 November 2014 dari

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-g003-04-

997552_gie#.VHoG9NKsWSo

Film Indonesia, 2012, Sinopsis Merantau. Diakses 29 November 2014 dari

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-m008-09-952589_merantau

Film Indonesia, 2013, Sinopsis Mursala. Diakses 29 November 2014 dari

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-m007-13-

321287_mursala#.VHoH6dKsWSo

Film Indonesia, 2010, Sinopsis Rokkap. Diakses 29 November 2014 dari

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-r013-10-208721_rokkap-

rongkap#.VHoIE9KsWSo

Film Indonesia, 1973, Sinopsis Bulan di Atas Kuburan. Diakses 29 November

2014 dari http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-b018-73-839339_bulan-

di-atas-kuburan#.VHoI7tKsWSo

Film Indonesia, 1984, Sinopsis Secangkir Kopi Pahit. Diakses 29 November 2014

dari http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-s018-84-157965_secangkir-

kopi-pahit#.VHoI3NKsWSo

Film Indonesia, 1986, Sinopsis Naga Bonar. Diakses 29 November 2014 dari

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-n009-86-195721_naga-

bonar#.VHoI29KsWSo

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 56: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Film Indonesia, 1963, Sinopsis A Sing Sing So. Diakses 29 November 2014 dari

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-a011-63-062041_a-sing-sing-

so#.VHoJd9KsWSo

Mahasiswa Batak, Daftar Film Bertemakan Batak. Diakses 28 November 2014

dari http://www.mahasiswaBatak.com/2013/08/daftar-film-bertemakan-

Batak-bagian-1.html

Gerakan Indonesia Baru, 2009. Diakses 18 Mei 2014 dari

http://gerakanindonesiabaru.blogspot.com/2009/02/diskriminasi-terhadap-

etnis-tionghoa.html

Kebudayaan Indonesia.Diakses pada 2 Mei 2014 dari

kebudayaanindonesia.net/id/culture/942/sistem-kekerabatan-suku-Batak

Silaban, C 2007, Peranan perempuan dalam adat dan budaya Batak

diseminarkan. Diakses 28 April 2014 dari

http://www.silaban.net/2007/10/10/peranan-perempuan-dalam-adat-dan-

budaya-Batak-diseminarkan/

Salim, E Y dkk, 2012, Potret indonesia-tionghoa: ambiguitas di tengah era

kebebasan. Diakses pada 17 Mei 2014 dari

http://www.indonesiamedia.com/2012/12/22/potret-indonesia-tionghoa-

ambiguitas-di-tengah-era-kebebasan/

Silaban, C 2007, Ende siboru tombaga i. Diakses 28 April 2014 dari

http://www.silaban.net/2007/10/04/ende-siboru-tombaga-i/

Sidabutar, Y 2012, Legenda sigale-gale.Diakses 29 April 2014 dari

http://sidabutar.info/2012/04/26/legenda-sigale-gale/

Zakky, A, Nasionalisme dan etnis cina dalam film gie. Diakses 29 November

2014 dari http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/300

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 57: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Transkrip Wawancara via Email (4 November 2014)

Narasumber : Sammaria Simanjuntak (Sutradara Film Demi Ucok)

1. Apa sebenarnya ide dasar (tema) dari film Demi Ucok?

Kasih Ibu

2. Apa yang mendasari pembuatan film Demi Ucok? Adakah

permasalahan khusus yang menjadi alasan untuk memproduksi film

tsb, misal pengalaman pribadi?

Saya resign dari pekerjaan saya sebagai arsitek karena yakin kunci sukses

hidup adalah ‘live by your passion’. Saya belajar film dari membaca

blog seorang sutradara Malaysia bernama Yasmin Ahmad. Suatu hari dia

bertanya dalam blognya, apa kunci sukses hidup? Ternyata jawaban dia

sangat sederhana yaitu, ‘Be nice to your parent’. Saat itu saya sulit sekali

akur dengan mama saya yang pola pikirnya sangat berbeda dengan saya.

3. Mengapa membuat film yang membahas etnis? Mengapa condong

memperlihatkan etnis?

Tidak disengaja. Saya rasa kalau mau membuat karakter film di

Indonesia yang multikultur ini sedikit banyak pasti akan membahas etnis.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 58: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

4. Mengapa menggunakan etnis Batak? Mengapa tidak etnis lain?

Apakah karena film Batak tidak begitu banyak beredar atau adakah

alasan lain?

Karena saya orang Batak

5. Mengapa yang ditampilkan dalam film hanya ada suku Batak, cina,

dan padang?

Niki campuran Batak Sunda. Settingnya sendiri Bandung. Tidak

dimaksudkan untuk hanya ada karkater ini. Kebetulan saja.

6. Mengapa judulnya Demi Ucok? Mengapa tidak Demi Butet

(perempuan)?

Draft 1 film Demi Ucok ini awalnya tentang Gloria yang mencari jodoh

(Ucok). Seiring berjalannya waktu, skenarionya berubah jadi lebih

berfokus pada hubungan Glo dan mamanya. Tapi judulnya tidak ikut

berubah

7. Mengapa perempuan tokoh utamanya? Mengapa bukan laki-laki?

Karena saya perempuan. Namanya juga film curhat.

8. Mengapa tokoh lawannya perempuan (Glo) adalah perempuan (Mak

Gondut)?

Karena yang pengen main film mama saya, bukan papa saya.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 59: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

9. Mengapa tidak ada tokoh laki-laki (Bapak Glo)? (diceritakan bahwa

bapak Glo sudah meninggal)

Semakin sedikit karakter, semakin mudah dan murah untuk produksi.

Lagipula, stake Glo akan lebih tinggi jika ayahnya sudah tidak ada.

Sehingga tidak ada safety net kalau dia dan mamanya bermasalah.

10. Mengapa ada tokoh perempuan (Mak Gondut) yang kuat dengan

sifat etnosentrisnya (bangga pada suku Batak)? Apa yang hendak

disampaikan?

Karena memang banyak tokoh seperti itu.

11. Mengapa bukan laki-laki (Bapak Glo) yang kuat dengan sifat

etnosentrinya?

Mungkin banyak juga karakter laki-laki yang kuat etnosentrisnya. Hanya

tidak diceritakan dalam film ini.

12. Apa maksud yang hendak disampaikan dari pernyataan Mak

Gondut tentang perempuan Batak yang harus menikah dengan

orang Batak, punya anak Batak, dan punya menantu Batak?

(disampaikan diawal film)

Karena ada karakter yang seperti itu cara pikirnya.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 60: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

13. Apakah Glo tidak mau menikah dengan laki-laki Batak ataukah Glo

hanya tidak mau menikah dulu sebelum meraih mimpi? Apakah

setelah meraih mimpi Glo akan menikah?

Di film ini, itu menjadi tidak penting lagi buat saya. Yang hendak

diceritakan adalah perbedaan cara pikir ibu dan anak, dan bagaimana cara

mereka menjembatani perbedaan itu.

14. Sebenarnya Glo mau atau tidak kah menikah dengan laki-laki

Batak?

Sudah tidak penting lagi untuk film ini.

15. Siapa BK Marpaung? Punya hubungan apa dengan Glo dan Mak

Gondut sampai- sampai mau memberikan uang 1M?

BK Marpaung mewakili mafia-mafia Batak kaya raya yang sekarang

banyak di penjara tapi tetap menjalankan bisnis dengan tenang. 1 M buat

mereka bukan uang besar.

Hubungannya saudara. Saudaranya tidak dijelaskan sedekat apa, karena

bagi orang Batak tidak ada saudara jauh. Semua saudara.

16. Sebenarnya apa pekerjaan utama Mak Gondut? (Dari sekian

banyak kerja yang dilakukan Mak Gondut)

Ibu rumah tangga. Uang sehari-hari ya dari bunga deposito atau tanah.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 61: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

17. Pekerjaan Acun sebelum jadi penyanyi apa? (peneliti tidak dapat

mendengar dengan jelas ketika menonton film tersebut)

Pekerja kantoran di sebuah multinational company yang menjual sabun.

18. Dikatakan dalam film bahwa Niki berasal dari keluarga campuran

Batak. Marga apa menikah dengan suku apa? (belum dijelaskan

secara jelas didalam film tersebut)

Batak Sunda. Marganya memang tidak dijelaskan.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 62: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Transkrip Wawancara via Email (17 November 2014)

Narasumber : Sammaria Simanjuntak (Sutradara Film Demi Ucok)

1. Apakah dominasi patrilineal dalam budaya Batak masih ada hingga

saat ini? Mengapa?

Masih ada. Mungkin karena banyak wanita Batak belum bisa independen

dalam berbagai hal, sehingga dominasi sulit dihilangkan.

2. Bagaimana tanggapannya melihat fenomena bahwa masih ada

perempuan Batak yang diharuskan menikah dengan laki-laki Batak

oleh orang tua sendiri?

Saya percaya setiap manusia bertanggung jawab terhadap kehidupan dan

kebahagiannnya masing-masing, sehingga setiap bentuk pemaksaan

sebenarnya melanggar hak asasi manusia.

3. Bagaimana tanggapannya mengenai perempuan yang menikah dan

menjadi ibu rumah tangga? Apa dapat disebut bentuk diskriminasi

terhadap perempuan?

Tidak selama itu adalah pilihannya sendiri.

4. Bagaimana seharusnya perempuan ketika diposisikan sebagai istri?

Saya percaya manusia diciptakan setara. Apapun posisinya. Jadi istri

seharusnya setara dengan suami.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 63: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

5. Bagaimana perilaku perempuan seharusnya dalam menanggapi

dominasi-dominasi yang hingga saat ini masih diberlakukan, salah

satunya oleh kaum Batak?

Saya percaya kita tidak bisa mengubah orang lain. Yang bisa diubah

hanya diri sendiri. Jadi jikalau memang ada nilai-nilai suatu kelompok

tidak sesuai dengan hati nurani kitaa, sebaiknya kita yang mencari

kelompok lain yang sesuai dengan nilai yang kita yakini.

6. Bagaimana tanggapannya mengenai perempuan yang menolak

menikah ?

Semua manusia berhak menentukan jalan kehidupan dan kebahagiaannya

masing-masing.

7. Sebagai perempuan, apakah patriarki masih harus dilanggengkan

atau dilenyapkan? Mengapa?

Sebagai manusia yang kebetulan perempuan, saya yakin kita harus

menemukan kebahagiaan pribadi dan tidak berusaha melawan nilai yang

dianut orang lain, termasuk patriarki.

8. Bagaimana tanggapannya melihat perkembangan film Indonesia saat

ini?

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 64: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

Sedih karena film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sebenarnya tidak hanya film. Hampir semua produk Indonesia belum

menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

9. Bagaimana tanggapannya mengenai film-film yang masih

menyudutkan atau mendiskrimasikan perempuan?

Sebaiknya ditonton setelah semua film bagus di dunia ini sudah kita

tonton. Karena film bagus banyak sekali, saya tidak pernah ingin

membuang waktu menonton film-film yang menyudutkan perempuan

hanya karena dia perempuan.

10. Sudah banyak pula film yang memunculkan bentuk perlawanan

perempuan, bagaimana tanggapannya?

Saya selalu suka semua film perlawanan karena membuat dunia menjadi

lebih dinamis.

11. Lalu, bagaimana seharusnya peran film sebagai salah satu media

massa?

Film sebaiknya memberikan harapan.

12. Satu pertanyaan terakhir, sebenarnya film Demi Ucok ini bercerita

tentang perjuangan perempuan Batak kah atau bukan?

Iya, lebih tepatnya perjuangan seorang perempuan Batak.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 65: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 66: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 67: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM

PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA

SAMMARIA SIMANJUNTAK

Oleh : Riste Isabella (071115023) - A

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini berfokus pada wacana resistensi perempuan Batak yang

direpresentasikan oleh film Demi Ucok ditengah dominasi kaum laki-laki yang

mengukuhkan sistem patrilineal budaya Batak. Penelitian ini menggunakan

analisis wacana berperspektif kritis milik Fairclough yang meliputi teks, discourse

practice (pelibat teks) dan sociocultural practic. Peneliti mengaitkan penelitian

dengan wacana-wacana seperti: kekuasaan (power), konsep mayoritas dan

minoritas, stereotipe hingga identitas etnis termasuk sikap etnosentrisme etnis

Batak. Peneliti menggunakan kacamata feminisme untuk membongkar dominasi-

dominasi, dan kacamata postfeminisme untuk menganalisis resistensinya.

Berdasarkan analisis, peneliti menemukan bahwa teks kultural yang direproduksi

ternyata memperlihatkan adanya bentuk-bentuk resistensi yang mana tiap kaum

perempuan memiliki bentuk-bentuk resistensi yang berbeda-beda. Namun,

resistensi tersebut tidak dapat lepas dari peran laki-laki dimana resistensi tersebut

justru menguatkan dominasi sistem patrilineal tersebut.

Kata kunci: Perempuan Batak, Film, Dominasi dan Resistensi, Analisis

Wacana, Etnis Batak.

PENDAHULUAN

Penelitian ini menganalisis resistensi perempuan Batak terhadap dominasi

sistem patrilineal budaya Batak. Peneliti tertarik karena film tersebut

menampilkan perlawanan atau resistensi kaum perempuan Batak terhadap

kekuatan dominasi sistem patrilineal dalam konsep perkawinan etnis Batak yang

justru diperkuat kaum perempuan Batak lainnya. Menariknya, kaum laki-laki

tidak nampak begitu jelas menguasai wacana sistem patrilineal dalam film. Hal ini

karena sebagian besar tokoh dalam film diperankan oleh kaum perempuan. Dalam

Film Demi Ucok, perempuan menjadi tokoh sentral dimana kecenderungan film,

temasuk film bertemakan etnis Batak, menggunakan kaum laki-laki sebagai tokoh

sentral. Inilah yang menjadi titik tolak penelitian ini. Peneliti hendak melihat

bagaimana resistensi diwacanakan ditengah tekanan dominasi kaum laki-laki

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 68: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

melalui sistem patrilinealnya dalam film tersebut. Penelitian ini akan berusaha

mengungkap fenomena yang hendak diwacanakan dalam film.

Sistem patrilineal etnis Batak terus mengakar hingga saat ini, hal itu

ditunjukkan dalam berbagai ritual yang hingga saat ini masih terus dijalankan

seperti: dalam perkawinan terdapat 9 (sembilan) ritual yang dijalankan, dalam

memasuki rumah baru, upacara kematian, dsb. Sistem patrilineal tersebut masih

dipegang erat oleh masyarakat Batak untuk menentukan kelompok kekerabatan

masyarakat Batak. Artinya, memiliki anak laki-laki dianggap sebagai sebuah

peningkatan harkat serta martabat keluarga bagi adat Batak. Latar belakang

patung ukir Sigale-gale juga menggambarkan bahwa betapa berharganya anak

laki-laki bagi keluarga dalam adat Batak.

Posisi perempuan dalam suku Batak tidak jauh berbeda dengan kedudukan

perempuan dalam kebudayaan tradisional Jawa. Perempuan disebut sebagai kanca

wingking yang berarti anggota keluarga yang “hanya” mengurusi urusan belakang

sehingga tidak boleh tampil didepan (Munawar, B Rachman, 1996). Ada pula

gambaran ideal perempuan Jawa yang diharuskan memiliki sifat gemi, ati-ati

nastiti. Sifat ini merupakan bentuk dari bakti istri pada suami (Sukri, SS 2001).

Salah satu media yang cukup efektif untuk menunjukkan resistensi

perempuan ialah film. Selain sifatnya menghibur, film mudah diterima oleh

masyarakat karena dapat mengungkapkan realitas yang kemudian diproyeksikan

kedalam layar. Film dapat menjadi produk propaganda yang disengaja maupun

hasil fantasi bawah sadar. Secara tidak sadar, film secara terus menerus

menghegemoni masyarakat. Dalam film, perempuan seringkali dijadikan sebagai

alat untuk memenuhi kesenangan laki-laki. Perempuan diperankan sebagai

pendamping laki-laki misal seperti kekasih, tunangan, atau istri. Perempuan hanya

menjadi kaum pendukung dalam film, tidak seperti laki-laki. Laki-laki menjadi

hero bagi kaum perempuan.

Film Demi Ucok merupakan film karya Sammaria Simanjuntak yang

berkisah tentang seorang perempuan Batak ambisius. Perempuan ini bernama

Glori Sinaga atau Glo (diperankan oleh Geraldine Sianturi). Ia tidak ingin seperti

ibunya yang menikah kemudian melupakan mimpinya karena harus menjalankan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella

Page 69: ABSTRAK - repository.unair.ac.idrepository.unair.ac.id/17887/14/RISTE ISABELLA ABSTRAK.pdf · dan sebaiknya mendengarkan “pengajar”. Secara implisit menjelaskan bahwa pernyataan

hidup rutin selamanya. Ibunya, Mak Gondut bersikeras mencarikan anaknya

“Ucok” disisa hidupnya karena ia telah divonis sakit dan umurnya tinggal setahun.

“Ucok” yang dimaksud ialah sosok laki laki Batak idaman untuk Glo. Namun Glo

bersikeras untuk tidak menikah dulu, ia hendak mengejar mimpinya untuk

membuat film keduanya. Film ini mengungkapkan bahwa sistem patrilineal masih

eksis dalam budaya Batak. Kekuatan sistem patrilineal tersebut dibentuk oleh Mak

Gondut yang termasuk dalam kaum perempuan Batak juga.

Menariknya, dalam film ini, perlawanan yang dilakukan oleh perempuan

dalam cerita film ini bukan untuk menghadapi kaum laki-laki, melainkan melawan

kaum perempuan yang justru mendukung sistem patrilineal yang berlaku tersebut.

Perlawanan kaum perempuan melawan kaum sejenisnya ini menjadi keunikan

dalam film ini yang membedakannya dengan film-film lainnya. Perempuan dalam

film ini juga tidak digambarkan memiliki bentuk fisik yang ideal seperti yang

ditampilkan pada film. Mulai dari bentuk tubuh, sifat dan perilaku yang cenderung

maskulin dan memiliki keterkaitan dengan penggambaran perempuan Batak

dalam film. Dimana perempuan Batak digambarkan memiliki karakteristik yang

dominan dan melawan.

PEMBAHASAN

Demi Ucok memang tidak memperlihatkan secara gamblang adanya

hubungan kekuasaan yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Hal itu karena

tokoh utama dan lawan main adalah perempuan. Bahkan peran pendukung

kebanyakan perempuan dalam film ini. Namun, sadar atau tidak, dominasi kerap

terjadi demi memperkuat sistem patrilineal tersebut. Dominasi ini kerap dilakukan

oleh kaum perempuan itu sendiri demi memperkuat sistem patrilineal yang ada.

Dalam film, ditunjukkan adanya perbedaan ideologi atau pandangan antar

perempuan mengenai konsep perkawinan, dimana sistem patrilineal turut campur

didalamnya. Gloria (Glo) dan Mak Gondut (mama Glo) adalah kaum perempuan

yang memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep perkawinan tersebut.

Mak Gondut, sebagai kaum perempuan yang masih patriarkis mendukung adanya

ketimpangan tersebut.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

Skripsi RESISTENSI PEREMPUAN BATAK TERHADAP DOMINASI SISTEM PATRILINEAL BUDAYA BATAK PADA FILM DEMI UCOK KARYA SAMMARIA SIMANJUNTAK

Riste Isabella