of 27 /27
14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rasa Percaya Diri 1. Pengertian Rasa Percaya Diri Rasa percaya diri yang baru dan sehat dikembangkan dari dalam kepribadian individu itu sendiri. Rasa percaya diri bukan dengan mengkompensasi kelemahan kepada kelebihan, namun bagaimana individu tersebut mampu menerima dirinya apa adanya, mampu mengerti seperti apa dirinya dan pada akhirnya akan percaya bahwa dirinya mampu melakukan berbagai hal dengan baik (Lauster, 1994). Rasa percaya diri adalah keyakinan pada kemampuan-kemampuan sendiri, keyakinan pada adanya suatu maksud di dalam kehidupan, dan kepercayaan bahwa dengan akal budi mereka akan mampu melaksanakan apa yang mereka inginkan, rencanakan dan harapkan (Davies, 2004). Rasa percaya diri merupakan keberanian menghadapi tantangan karena memberi suatu kesadaran bahwa belajar dari pengalaman jauh lebih penting daripada keberhasilan atau kegagalan. Rasa percaya diri penting untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, seperti halnya ketika bergabung dengan suatu masyarakat yang didalamnya terlibat di dalam suatu aktivitas atau kegiatan, rasa percaya diri meningkatkan keefektifan dalam aktivitas atau kegiatan (Hakim, 2005).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rasa Percaya Diri 1. Pengertian ... fileTerbentuknya percaya diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan suatu

Embed Size (px)

Citation preview

  14 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rasa Percaya Diri

1. Pengertian Rasa Percaya Diri

Rasa percaya diri yang baru dan sehat dikembangkan dari dalam

kepribadian individu itu sendiri. Rasa percaya diri bukan dengan

mengkompensasi kelemahan kepada kelebihan, namun bagaimana

individu tersebut mampu menerima dirinya apa adanya, mampu mengerti

seperti apa dirinya dan pada akhirnya akan percaya bahwa dirinya mampu

melakukan berbagai hal dengan baik (Lauster, 1994).

Rasa percaya diri adalah keyakinan pada kemampuan-kemampuan

sendiri, keyakinan pada adanya suatu maksud di dalam kehidupan, dan

kepercayaan bahwa dengan akal budi mereka akan mampu melaksanakan

apa yang mereka inginkan, rencanakan dan harapkan (Davies, 2004).

Rasa percaya diri merupakan keberanian menghadapi tantangan

karena memberi suatu kesadaran bahwa belajar dari pengalaman jauh

lebih penting daripada keberhasilan atau kegagalan. Rasa percaya diri

penting untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, seperti halnya ketika

bergabung dengan suatu masyarakat yang didalamnya terlibat di dalam

suatu aktivitas atau kegiatan, rasa percaya diri meningkatkan keefektifan

dalam aktivitas atau kegiatan (Hakim, 2005).

15  

Rasa percaya diri merupakan sikap mental individu dalam menilai

diri maupun objek sekitar sehingga individu tersebut memiliki keyakinan

akan kemampuan diri dalam melakukan sesuatu sesuai kemampuan

(Ghufron, 2011).

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan

diri adalah keyakinan pada kemampuan-kemampuan sendiri, keberanian

untuk menghadapi tantangan karena memberi suatu kesadaran bahwa

belajar dari pengalaman jauh lebih penting daripada keberhasilan atau

kegagalan, suatu layanan terhadap diri sendiri sehingga individu mampu

menangani segala situasi dengan tenang, dan kepercayaan bahwa dengan

akal budi akan mampu melaksanakan apa yang diinginkan, rencanakan

dan harapkan.

2. Ciri-ciri Individu yang Memiliki Rasa Percaya Diri

Ciri-ciri individu yang memiliki rasa percaya diri (Hakim, 2005),

yaitu:

a. Bersikap tenang dalam mengerjakan sesuatu

b. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai

c. Mampu menetralisir ketegangan yang muncul dalam situasi tertentu

d. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi

e. Memiliki kondisi mental dan fisik yang menunjang penampilan

f. Memiliki kecerdasan yang cukup

16  

g. Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup

h. Memiliki keahlian dan ketrampilan lain yang menunjang kehidupan

i. Memiliki kemampuan bersosialisasi

j. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik

k. Memiliki pengalaman hidup yang menempa mental dan ketahanan di

berbagai situasi

l. Bersikap positif dalam menghadapi masalah

Menurut Lie (dalam Mutmainah, 2012) percaya diri pada anak

mempunyai ciri sebagai berikut:

a. Yakin pada diri sendiri

b. Tidak bergantung pada orang lain

c. Merasa dirinya berharga

d. Tidak menyombongkan diri

e. Memiliki keberanian untuk bertindak.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ciri anak yang

memiliki rasa percaya diri yaitu yakin pada diri sendiri, tidak bergantung

pada orang lain, merasa dirinya berharga, tidak menyombongkan diri,

memiliki keberanian untuk bertindak, mempunyai potensi dan kemampuan

yang memadai, menetralisir ketegangan yang muncul dalam situasi

tertentu, kemampuan bersosialisasi, dan bersikap positif dalam

menghadapi masalah.

17  

3. Aspek-aspek Rasa Percaya Diri

Menurut Lauster (dalam Ghufron, 2011) anak yang memiliki rasa

percaya diri positif adalah:

a. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif anak tentang

dirinya bahwa anak mengerti sungguh-sungguh akan apa yang

dilakukannya.

b. Optimis yaitu sikap positif anak yang selalu berpandangan baik dalam

menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya.

c. Obyektif yaitu anak yang percaya diri memandang permasalahan atau

sesuatu sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut

kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.

d. Bertanggung jawab yaitu kesediaan anak untuk menanggung segala

sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.

e. Rasional yaitu analisa terhadap sesuatu masalah, sesuatu hal, sesuatu

kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh

akal dan sesuai dengan kenyataan.

Menurut Kumara (dalam Isaningrum, 2007) individu yang

memiliki rasa percaya diri merasa yakin akan kemampuan dirinya,

sehingga bisa menyelesaikan masalahnya karena tahu apa yang

dibutuhkan dalam hidupnya, serta mempunyai sikap positif yang didasari

keyakinan akan kemampuannya. Individu tersebut bertanggung jawab

18  

akan keputusannya yang telah diambil serta mampu menatap fakta dan

realita secara obyektif yang didasari keterampilan.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa individu yang

memiliki rasa percaya diri yaitu diantaranya memiliki rasa keyakinan

akan kemampuan diri, optimis, obyektif, bertanggung jawab serta

memiliki pemikiran rasional.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rasa Percaya Diri

Rasa percaya diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang

dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal

(Ghufron, 2011):

a. Faktor internal, meliputi:

1. Konsep diri

Terbentuknya percaya diri pada seseorang diawali dengan

perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan suatu

kelompok. Menurut Centi (1995), konsep diri merupakan gagasan

tentang dirinya sendiri. Individu yang mempunyai rasa rendah diri

biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya individu yang

mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif.

2. Harga diri

Harga diri yaitu penilaian yang dilakukan terhadap diri

sendiri. Individu yang memiliki harga diri tinggi akan menilai

19  

pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta mudah

mengadakan hubungan dengan individu lain.

Individu yang mempunyai harga diri tinggi cenderung melihat

dirinya sebagai individu yang berhasil percaya bahwa usahanya

mudah menerima orang lain sebagaimana menerima dirinya

sendiri. Akan tetapi individu yang mempuyai harga diri rendah

bersifat tergantung, kurang percaya diri dan biasanya terbentur

pada kesulitan sosial serta pesimis dalam pergaulan.

3. Kondisi fisik

Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada rasa percaya

diri. Anthony (1992) mengatakan penampilan fisik merupakan

penyebab utama rendahnya harga diri dan percaya diri seseorang.

Lauster (1997) juga berpendapat bahwa ketidakmampuan fisik

dapat menyebabkan rasa rendah diri yang kentara.

4. Pengalaman hidup

Lauster (1997) mengatakan bahwa kepercayaan diri diperoleh

dari pengalaman yang mengecewakan adalah paling sering

menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri. Apalagi jika pada

dasarnya individu memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang

dan kurang perhatian.

b. Faktor eksternal meliputi:

20  

1. Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi percaya diri individu. Anthony

(1992) lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan

yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah

kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang

pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan

tidak perlu bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan

mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan

kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.

2. Pekerjaan

Bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian

serta rasa percaya diri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rasa

percaya diri dapat muncul dengan melakukan pekerjaan, selain

materi yang diperoleh. Kepuasan dan rasa bangga di dapat karena

mampu mengembangkan kemampuan diri.

3. Lingkungan

Lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga, sekolah,

dan masyarakat. Dukungan yang baik yang diterima dari

lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling

berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya

diri yang tinggi. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat

21  

semakin bisa memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat,

maka semakin lancar harga diri berkembang (Centi, 1995).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua

faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada individu, yaitu faktor

internal dan eksternal. Faktor internal meliputi konsep diri, harga diri dan

keadaan fisik. Faktor eksternal meliputi pendidikan, pekerjaan, lingkungan

dan pengalaman hidup. Attachment ibu-anak termasuk pada faktor

eksternal, yaitu lingkungan keluarga.

B. Attachment Ibu-Anak

1. Pengertian Attachment

Attachment merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang

dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai

arti khusus dalam kehidupannya, biasanya adalah orang tua. Bowlby

(dalam Desmita, 2010) menyatakan bahwa hubungan ini akan bertahan

cukup lama dalam rentang kehidupan manusia. Pengertian ini sejalan

dengan apa yang dikemukakan Ainsworth mengenai attachment.

Ainsworth (dalam Desmita, 2011) mengatakan bahwa attachment adalah

ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang

bersifat spesifik, mengikat mereka dalam suatu kedekatan yang bersifat

kekal sepanjang waktu.

22  

Ainsworth menjelaskan bahwa hubungan attachment pada ibu

sebagai salah satu hal penting dalam pembentukan hubungan dengan

orang lain sepanjang kehidupan. Ia menyebutkan hal ini sebagai

affectional bonds. Affectional bonds yaitu ikatan yang secara relatif kekal

dimana pasangan merupakan individu yang unik dan tidak dapat

tergantikan oleh orang lain. Hubungan ini ditandai dengan adanya

kebutuhan untuk mempertahankan kedekatan, distress yang tidak dapat

dipahami saat perpisahan, senang atau gembira saat bertemu, dan sedih

saat kehilangan. Ikatan ibu-anak, ayah-anak, pasangan seksual, dan

hubungan saudara kandung dan teman dekat adalah contoh affectional

bonds (dalam Desmita, 2010).

Attachment merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah

laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara

hubungan tersebut. Cicirelli (dalam Desmita, 2010) mendefinisikan

attachment sebagai suatu ikatan emosional antara dua orang; yang pada

dasarnya untuk diidentifikasi, mencintai, dan memiliki hasrat dengan

orang lain, dan merepresentasikan keadaan internal individu.

Tidak semua hubungan yang bersifat emosional atau afektif dapat

disebut attachment. Adapun ciri afektif yang menunjukkan attachment

adalah: hubungan bertahan cukup lama, ikatan tetap ada walaupun figur

lekat tidak tampak dalam jangkauan mata anak, bahkan jika figur

23  

digantikan oleh orang lain, dan kelekatan dengan figur lekat akan

menimbulkan rasa aman (Ainsworth dalam Desmita, 2010).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan

bahwa yang dimaksud dengan attachment adalah suatu hubungan

emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan

individu lainnya yang mempunyai arti khusus, dalam hal ini biasanya

hubungan ditujukan pada ibu atau pengasuhnya. Hubungan dapat bertahan

cukup lama, timbal balik, dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat

tidak tampak dalam pandangan anak.

2. Proses Attachment Ibu-Anak

Interaksi yang intens antara ibu dan anak biasanya dimulai saat

proses pemberian ASI (Air Susu Ibu). Melalui proses pemberian ASI

diharapkan akan berkembang attachment karena dalam proses ini terjadi

kontak fisik yang disertai upaya untuk membangun hubungan psikologis

antara ibu dan anak.

Berdasarkan kualitas hubungan anak dengan ibu, maka anak akan

mengembangkan konstruksi mental atau internal working model

mengenai diri (self) dan orang lain (others) yang akan menjadi prototip

dalam hubungan sosial. Bowlby (dalam Desmita, 2011) menyatakan

bahwa tidak ada orang di usia berapapun secara sempurna bebas dari

24  

ketergantungan dengan orang lain secara nyata dan bahwa sistem

attachment akan tetap aktif dalam seluruh rentang kehidupan.

Mc Cartney & Dearing (dalam Desmita, 2011) menyatakan bahwa

pengalaman awal akan menggiring dan menentukan perilaku dan

perasaan melalui internal working model. Adapun penjelasan mengenai

konsep ini adalah, internal, karena disimpan dalam pikiran, working

karena membimbing persepsi dan perilaku, dan model karena

mencerminkan representasi kognitif dari pengalaman dalam membina

hubungan. Anak akan menyimpan pengetahuannya mengenai suatu

hubungan, khususnya pengetahuan mengenai keamanan dan bahaya.

Model ini selanjutnya akan menggiring mereka dalam interaksi di masa

yang akan datang. Interaksi interpersonal dihasilkan dan diinterpretasikan

berdasarkan gambaran mental yang dimiliki seorang anak.

Konsep working model selanjutnya dikembangkan oleh Collins dan

Read (dalam Ervika, 2005) yang terdiri dari empat komponen yang saling

berhubungan, yaitu;

a. Memori tentang kelekatan yang dihubungkan dengan pengalaman

b. Kepercayaan, sikap, dan harapan mengenai diri dan orang lain yang

dihubungkan dengan attachment

c. Attachment dihubungkan dengan tujuan dan kebutuhan (goal and

needs)

25  

d. Strategi dan rencana yang diasosiasikan dengan pencapaian tujuan

attachment.

Model ini diasumsikan bekerja di luar pengalaman sadar (Mc

Cartney & Dearing dalam Desmita, 2011). Pengetahuan anak

didapatkannya dari interaksi dengan ibu. Anak yang memiliki orang tua

yang mencintai dan dapat memenuhi kebutuhannya akan

mengembangkan model hubungan yang positif yang didasarkan pada rasa

percaya (trust). Selanjutnya secara simultan anak akan mengembangkan

model yang paralel dalam dirinya. Anak dengan orang tua yang mencintai

akan memandang dirinya berharga. Model ini selanjutnya akan

digeneralisasikan anak dari orang tua pada orang lain. Sebaliknya anak

yang memiliki ibu yang tidak menyenangkan akan mengembangkan

kecurigaan (mistrust) dan tumbuh sebagai anak yang pencemas dan

kurang mampu menjalin hubungan sosial.

Menurut Bowlby (dalam Desmita, 2011) internal working model

dan figur lekat saling melengkapi serta saling menggambarkan dua sisi

hubungan tersebut. Anak yang diasuh dengan kehangatan, sensitifitas,

dan responsifitas akan mengembangkan internal working model yang

positif pada orang tua dan diri sendiri. Internal working model merupakan

hasil interpretasi pengalaman secara terus-menerus dan interaksinya

dengan figur lekat.

26  

Ada dua faktor yang dapat meningkatkan kestabilan internal

working model, yaitu :

a. Familiar, yaitu pola interaksi yang berulang, cenderung akan menjadi

kebiasaan yang terjadi secara otomatis

b. Dyadic Pattern, merupakan pola yang timbal balik dan cenderung

akan mengubah pola individual karena harapan yang timbal balik

memerintahkan masing-masing pasangan untuk mengartikan perilaku

pihak lainnya.

Bowlby juga menjelaskan pentingnya perbedaan individu dalam

keberfungsian sistem attachment bergantung pada availability,

responsiveness, dan supportiveness dari figur lekat pada waktu yang

dibutuhkan. Interaksi dengan figur lekat yang available dan

responsiveness dapat memudahkan sistem attachment berfungsi optimal

dan mengembangkan perasaan bahwa dunia pada dasarnya merupakan

tempat yang aman, figur lekat pada umumnya membantu dan berguna

saat dibutuhkan, dan memungkinkan menjelajahi lingkungan dan

menjalin hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, jika figur lekat tidak

dipercaya available dan suportif, rasa aman menjadi tidak diperoleh.

Individu mengalami keraguan dengan self efficacy dan tujuan orang lain.

Working model diri dan orang lain dilihat oleh Bowlby sebagai

faktor penyebab utama kelancaran antara pengalaman attachment awal

dengan kognitif, perasaan, dan perilaku dalam hubungan selanjutnya.

27  

Memberi sebuah pola yang hampir konsisten dari interaksi dengan figur

attachment selama masa kanak-kanak dan remaja, sebagian besar

representatif atau bentuk dasar working models dari interaksi ini

mengeras dan menjadi bagian pengetahuan individu yang harus diikuti

kemudian. Seperti skema mental lainnya, sebagian besar working model

yang diperoleh secara kronis menjadi inti dari karakteristik kepribadian,

cenderung diaplikasikan dalam situasi dan hubungan baru, dan

mempengaruhi fungsi sistem attachment pada umumnya dan rangkaian

interaksi sosial serta close relationship berikutnya.

Berdasarkan uraian tersebut, proses attachment ibu-anak dimulai

semenjak ibu memberikan ASI kepada anak dan menurut Bowlby (dalam

Desmita, 2011) attachment akan tetap aktif dalam seluruh rentang

kehidupan. Anak dengan orang tua yang mencintai akan memandang

dirinya berharga. Model ini selanjutnya akan digeneralisasikan anak dari

orang tua pada orang lain. Sebaliknya anak yang memiliki ibu yang tidak

menyenangkan akan mengembangkan kecurigaan (mistrust) dan tumbuh

sebagai anak yang pencemas dan kurang mampu menjalin hubungan

sosial.

3. Ciri-ciri Attachment Ibu-Anak

Ciri attachment ibu-anak yang baik (secure attachment) (Ainswoth

dalam Desmita, 2011) yaitu:

28  

a. Anak menggunakan ibu sebagai landasan utama mencari keamanan

b. Ibu dan anak merasa sedih bila berpisah

c. Meski berpisah, namun anak yakin jika ibu akan kembali

d. Merasa bahagia bila bertemu kembali

e. Apabila merasa takut, anak akan mencari perlindungan pada ibu dan

ibu akan bersikap melindungi.

Berdasarkan aspek attachment ibu-anak dari Bowlby, ciri-ciri

attachment ibu-anak yang baik (secure attachment) (dalam Desmita,

2011) yaitu:

1. Mau melakukan kontak mata, melihat ke arah ibu dengan tatapan

lembut

2. Tidak mudah menangis jika menghadapi masalah

3. Nyaman jika berada di dekat ibu

4. Tidak malu untuk memeluk atau mencium ibu

5. Sering melakukan sentuhan kepada ibu (memijat ibu, mengelus

punggung atau pundak ibu)

6. Membantu ibu, memberi perhatian kepada ibu

7. Anak dan ibu saling bertukar pikiran atau berdiskusi, bercerita

pengalaman sehari-hari

8. Anak bersikap dewasa atau bijaksana

9. Ibu memberi perhatian dan juga motivasi

10. Ada rasa rindu jika cukup lama tidak bertemu

29  

11. Ada rasa bahagia dan gembira jika bertemu

12. Ibu memberikan perlindungan pada anak

Dari uraian di atas maka ciri dari attachment ibu-anak yang baik

yaitu anak menggunakan ibu sebagai landasan utama mencari keamanan,

ibu dan anak merasa sedih bila berpisah, meski berpisah namun anak

yakin jika ibu akan kembali, merasa bahagia bila bertemu kembali,

apabila merasa takut anak akan mencari perlindungan pada ibu dan ibu

akan bersikap melindungi, melihat ke arah ibu dengan tatapan lembut,

tidak mudah menangis jika menghadapi masalah, tidak segan memeluk

atau mencium, ibu dan anak saling merawat, berdiskusi, anak mampu

bersikap tanggung jawab, dan ibu memberi motivasi positif pada anak.

4. Aspek-aspek Attachment Ibu-Anak

Menurut Cassidy (dalam Ervika, 2005), Bowlby membedakan tiga

aspek attachment menjadi:

a. Attachment Behavior

Attachment behavior atau perilaku attachment adalah tindakan

untuk meningkatkan kedekatan pada figur lekat. Anak akan membuat

kontak mata, menangis, atau membuat gesture (sikap tubuh) sebagai

cara untuk mendekati orang tua mereka.

30  

b. Attachment Bond

Attachment bond merupakan suatu ikatan afeksi; ikatan ini bukan

diantara dua orang, namun suatu ikatan yang dimiliki seorang individu

terhadap individu lainnya yang dirasa lebih kuat dan bijaksana.

Individu dapat melekat pada seseorang yang tidak terikat dengannya.

Affectional bonds yaitu ikatan yang secara relative kekal dimana

pasangan merupakan seseorang yang unik dan tidak dapat tergantikan

oleh orang lain.

Hubungan ini ditandai dengan adanya kebutuhan untuk

mempertahankan kedekatan, distress yang tidak dapat dipahami saat

perpisahan, senang atau gembira saat bertemu, dan sedih saat

kehilangan. Ikatan ibu-anak, ayah-anak, pasangan seksual, dan

hubungan saudara kandung serta teman dekat adalah contoh affectional

bonds. Hubungan ini digerakkan oleh sistem perilaku tambahan,

seperti reproduktif, ibuan, dan sociable system (Ainsworth, Greenberg,

& Marvin dalam Ervika, 2005).

c. Attachment Behavioral System

Attachment behavioral system merupakan suatu rangkaian

perilaku khusus yang digunakan individu. Bowlby melihat bahwa

attachment berakar dalam sebuah sistem yang disebut dengan

attachment behavioral system yang ia yakini berkembang secara

universal di semua spesies. Tujuan attachment system adalah untuk

31  

mencapai kedekatan antara orang tua dan anak, meningkatkan

perlindungan dan kelangsungan hidupnya. Bowlby berpendapat bahwa

attachment behavioral system memberikan sebuah fungsi evolusioner

karena dapat menyarankan perlindungan anak yang bergantung pada

orang dewasa demi keselamatan. Jika attachment behavior berwujud

perilaku tunggal atau berupa gerak-gerik tubuh, namun attachment

behavioral system berupa rangkaian perilaku yang dilakukan ibu dan

anak sehingga menyebabkan anak merasa aman dan memiliki secure

attachment, rasa aman dan nyaman itu membuat anak

mengembangkan perilaku untuk belajar dan beradaptasi dengan

lingkungannya tidak hanya lingkungan keluarga.

Bowlby juga menyatakan bahwa terdapat dua behavioral system

lainnya yang berinteraksi dengan attachment behavioral system. Pertama

adalah exploratory behavioral system yang meningkatkan kelangsungan

hidup karena rasa ingin tahu membantu anak untuk belajar dan beradaptasi

pada lingkungan anak. Sistem ini mengurangi perilaku attachment. Kedua,

fear behavioral system menunjukkan keamanan dan sebagai hasilnya,

membentuk sistem attachment.

Cassidy menjelaskan beberapa hal mengenai teori attachment yaitu:

a. Affectional bond hanya mengutamakan hubungan orang tua dan anak.

b. Anak akan mendemonstrasikan perilaku attachment dengan seorang

yang tidak berada dalam attachment bond.

32  

c. Anak mengalami multiple attachment tapi kualitas affectional bond

berbeda di masing-masing hubungan. Kualitas ikatan (bond)

dipengaruhi oleh jumlah interaksi, kualitas pemberian kasih sayang,

dan emosional yang ditanamkan oleh ibu.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek

dari attachment yaitu attachment behavior, attachment bond, dan

attachment behavioral system.

C. Anak Usia Sekolah

Masa perkembangan anak-anak dimulai sejak usia 2 tahun sampai saat

anak matang secara seksual yakni sekitar usia 11 tahun untuk perempuan dan

12 tahun untuk laki-laki, di mana pada usia ini terjadi perubahan yang

signifikan baik secara fisik maupun psikologis. Masa anak-anak dibagi

menjadi dua yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak pertengahan juga

akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun hingga 6 tahun,

dan masa anak-anak pertengahan hingga akhir dari usia 6 tahun hingga saat

anak matang secara seksual (Hurlock, 1980).

Usia anak-anak pertengahan hingga akhir juga disebut sebagai usia

sekolah atau elementary school years. Permulaan pada fase ini adalah saat

anak memasuki kelas satu sekolah dasar. Bagi sebagian besar anak, hal ini

merupakan suatu perubahan besar dalam pola kehidupan anak (Irwanto, dkk.

1997).

33  

Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak, bagi sebagian besar anak,

terdapat perubahan besar dalam pola kehidupan. Hal ini dikarenakan pada

masa tersebut, mereka juga memasuki masa sekolah dan hal ini adalah

peristiwa penting yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap,

nilai, dan perilaku. Pada masa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak

dibanding panjang badannya. Kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada

dan panggul lebih besar (Santrock, 2002)

Dengan terus berkembangnya kekuatan badan dan bertambahnya berat

badan anak, maka selama masa pertengahan dan akhir anak perkembangan

motorik menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi. Anak-anak terlihat lebih

cepat dalam berlari dan melompat, anak pun mampu menjaga keseimbangan

tubuhnya.Untuk memperhalus keterampilan motorik, anak-anak terus

melakukan berbagai aktivitas fisik. Aktivitas tersebut terkadang bersifat

informal (Desmita, 2010).

Menurut teori kognitif Piaget (dalam Desmita, 2010), pemikiran anak-

anak usia sekolah dasar disebut pemikiran operasional konkrit. Menurut

Paget, operasi adalah hubungan-hubungan logis diantara skema-skema atau

konsep-konsep. Sedangkan operasi konkrit adalah aktivitas mental yang

difokuskan pada objek dan peristiwa nyata yang dapat diukur.

Pada masa stadium belajar tersebut, maka dunia sekolah mempunyai

pengaruh penting bagi perkembangan selama masa pertengahan dan akhir

anak-anak. Anak-anak menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah

34  

sebagai anggota suatu masyarakat kecil yang harus mengerjakan sejumlah

tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang menegaskan juga membatasi

perilaku, perasaan, dan sikap anak-anak tersebut (Santrock, 2002).

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa anak usia sekolah

merupakan anak pada fase tengah hingga akhir anak-anak atau disebut juga

elementary school years yang dimulai dari usia 6 tahun hingga memasuki

masa pubertas, pada perempuan yaitu usia 11 tahun dan laki-laki 12 tahun.

D. Asma

1. Pengertian Asma

Penyakit asma berasal dari kata asthma yang diambil dari bahasa

Yunani yang memiliki arti sulit bernafas. Penyakit asma dikenal karena

adanya gejala sesak nafas, batuk dan disebabkan oleh penyempitan saluran

nafas. Asma adalah gangguan inflamasi kronis pada jalan nafas tempat

banyak sel (sel mast, eosinofil, dan limfosit T) memegang peranan. Pada

anak yang rentan, inflamasi menyebabkan episode mengi kekambuhan,

sesak nafas, dada sesak dan batuk, terutama pada malam hari atau pagi hari

(Mansjoer, dkk. 2000).

Asma pada anak adalah gangguan pernafasan yang disertai berbagai

gejala hambatan aliran udara dalam saluran nafas paru berupa tarikan nafas

pendek dan serangan batuk berulang. Asma merupakan penyakit keturunan

yang penyebabnya masih belum jelas. Asma didefenisikan sebagai

35  

penyakit obstruk jalan nafas yang reversibel yang ditandai oleh serangan

batuk, mengi dan dispnea pada individu dengan jalan napas hiperaktif

(Mansjoer, dkk. 2000).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa asma adalah

gangguan pernafasan yang disertai berbagai gejala hambatan aliran udara

dalam saluran nafas paru berupa tarikan nafas pendek, dan serangan batuk

berulang.

2. Faktor Pemicu Asma

Macam faktor pemicu asma (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1985), yaitu:

a. Alergi

b. Infeksi

c. Iritan

d. Cuaca

e. Kegiatan jasmani

f. Infeksi saluran nafas bagian atas

g. Psikologis

Salah satu dari faktor pemicu asma adalah faktor psikologis. Faktor

psikologis merupakan pencetus yang tidak boleh diabaikan dan sangat

kompleks. Tidak adanya perhatian atau tidak mau mengakui persoalan

yang berhubungan dengan asma pada anak tersebut akan memperlambat

36  

bahkan menggagalkan usaha pencegahan. Tetapi sebaliknya, terlalu takut

dengan serangan asma dapat memperberat atau mempermudah terjadinya

serangan asma. Pembatasan aktivitas anak, seringnya anak tidak masuk

sekolah, rasa khawatir keluarga akan berpengaruh kepada psikologis anak

penderita asma yang pada akhirnya juga berpengaruh pada penyakit asma

tersebut (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia, 1985).

Penyebab penyakit asma belum jelas. Diduga, ada beberapa faktor

pencetus (Mansjoer, dkk. 2000), yaitu:

a. Faktor Ekstrinsik, terdiri dari reaksi antigen antibodi dan alergen debu,

serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang.

b. Faktor Interistik, yang meliputi:

1. Infeksi berupa virus influenza, pneumonia, mycoplasma

2. Fisik (cuaca dingin, perubahan temperatur)

3. Iritan kimia, polusi udara

4. Emosional termasuk rasa takut, cemas dan tegang dan aktivitas

yang berlebihan juga dapat menjadi faktor.

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa faktor

pencetus asma dibagi menjadi 2 yaitu faktor ekstrinsik berupa reaksi

antigen antibodi, alergen debu, serbuk-serbuk, dan bulu binatang.

Sedangkan faktor intrinsik berupa infeksi, disik, iritasi kimia, polusi udara,

dan faktor psikologis.

37  

E. Hubungan Attachment Ibu-Anak dengan Rasa Percaya Diri

Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak yaitu usia 6-11 tahun

merupakan masa dimana anak memasuki masa pertengahan dan akhir anak-

anak. Menurut Erik Erikson, anak-anak akan mulai mengarahkan energi pada

penguasaan pengetahuan dan ketrampilan intelektual. Namun, yang berbahaya

pada tahap ini dan harus diperhatikan adalah perasaan tidak berkompeten dan

tidak produktif apabila pengarahan energi tersebut terhambat (Santrock,

2002). Seperti pada anak yang mengidap asma, individu cenderung memiliki

keraguan untuk bisa mengaktualisasikan diri, ada kekhawatiran pada

kambuhnya penyakit asma, apakah mereka mampu untuk beraktivitas tanpa

perlu khawatir, dan tanpa harus didampingi orang dewasa. Melihat tugas

perkembangan anak-anak usia sekolah, saat harus mereka aktif dalam

kegiatan di sekolah namun terhambat oleh penyakit asma tersebut sehingga

dapat timbul perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif lalu berpengaruh

pada rasa percaya diri.

Namun ada kondisi dimana anak yang menderita asma tetap memiliki

rasa percaya diri. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya

adalah lingkungan keluarga. Dukungan yang baik yang diterima dari

lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling berinteraksi dengan

baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi (Centi, 1995).

Lebih khusus diketahui bahwa attachment ibu-anak sangat berpengaruh

sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi rasa percaya diri pada anak. Ibu

38  

sebagai pengasuh utama anak memegang peranan penting dalam penentuan

status kelekatan anak, apakah anak akan membentuk kelekatan aman atau

sebaliknya. Status kelekatan ini berhubungan dengan gangguan kelekatan dan

perkembangan anak di masa selanjutnya.

F. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Berpikir

Anak Usia Sekolah Penderita Asma

Faktor Penyebab Rasa Percaya Diri

Percaya Diri

Faktor Internal: - Konsep diri - Harga diri - Kondisi fisik - Pengalaman

Faktor Eksternal: - Pendidikan - Pekerjaan - Keluarga - Lingkungan

masyarakat

Attachment ibu-anak

Tinggi Rendah Rendah Tinggi

39  

Asma pada anak adalah gangguan pernafasan yang disertai berbagai

gejala hambatan aliran udara dalam saluran nafas paru berupa tarikan nafas

pendek dan serangan batuk berulang. Asma merupakan penyakit keturunan

yang penyebabnya masih belum jelas. Macam pemicu asma adalah alergi,

infeksi, iritan, cuaca, kegiatan jasmani, infeksi saluran pernafasan atas, dan

psikologi. Penyakit asma dapat timbul sewaktu-waktu dan di manapun. Hal

ini tentu menganggu aktifitas dan keseharian pada anak usia sekolah, di mana

pada usia sekolah mereka memiliki banyak kegiatan baik fisik maupun

kognisi, dan penyakit asma tersebut dapat berpengaruh pada kepercayaan diri

anak tersebut.

Faktor penyebab rasa percaya diri dibagi menjadi dua, yaitu faktor

eksternal dan faktor internal. Faktor internal yaitu konsep diri, harga diri,

kondisi fisik, dan pengalaman, sedangkan faktor eksternal yaitu pendidikan,

pekerjaan, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dimana faktor-faktor

tersebut akan mempengaruhi tingkat percaya diri pada anak.

Dari faktor eksternal yang berpengaruh pada rasa percaya diri terdapat

faktor keluarga. Dari faktor keluarga, diketahui salah satu hal yang terdapat

dalam keluarga adalah adanya attachment atau kelekatan antara ibu dengan

anak. Attachment ibu-anak merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang

dikembangkan anak melalui interaksinya dengan ibu yang notabene adalah orang

yang paling penting dan dekat dalam kehidupan anak. Maka dari pemaparan tersebut,

dapat diketahui apabila secure attachment ibu-anak tinggi maka rasa percaya akan

40  

tinggi, begitu pula sebaliknya jika secure attachment ibu-anak rendah maka rasa

percaya diri juga akan rendah.

G. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah:

“Ada hubungan antara attachment ibu-anak dengan rasa percaya diri pada

anak usia sekolah penderita asma di Purwokerto”.