BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1.1 Daya Tarik Unsur daya tarik terdiri dari 6 sub unsur. Keenam sub unsur

  • View
    222

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1.1 Daya Tarik Unsur daya tarik terdiri dari 6 sub unsur. Keenam sub...

31

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Obyek Daya Tarik Wisata Suaka Alam Merapi

Obyek daya tarik wisata (ODTW) Suaka Alam Merapi dibagi menjadi dua

cluster, yaitu obyek di dalam kawasan dan obyek di luar kawasan (Gambar 4).

Sembilan obyek yang berada di dalam kawasan, yaitu Pesangrahan Bung Hatta

(PBH), Parak Batuang (PB), Shelter Paninjauan (SP), Terowongan Pakis (TP),

Cadas (C), Tugu Abel Tasman (TAT), Kawah Merapi (KM), Puncak Merpati

(PM) dan Taman Edelweis (TE). Lima obyek yang berada di luar kawasan, yaitu

nagari tenunan/ukiran Pandai Sikek, komplek makam Haji Miskin, komplek

makam dan mesjid Tuanku Pamansingan, air terjun Lembah Anai dan kawasan

pertanian Koto Baru. Selain obyek-obyek tersebut, juga terdapat berbagai atraksi

budaya, seperti randai dan adu kerbau, serta makanan tradisional bika.

Gambar 4 Denah obyek Suaka Alam Merapi dan nagari sekitarnya.

Sembilan obyek yang berada di dalam kawasan Suaka Alam Merapi (Jalur

Koto Baru) akan dianalisis dengan menggunakan tabel kriteria penilaian dan

pengembangan obyek daya tarik wisata oleh Ditjen PHKA (2003) yang telah

dimodifikasi. Unsur yang dinilai meliputi unsur daya tarik dan unsur kadar

hubungan (aksesibilitas).

32

5.1.1 Daya Tarik

Unsur daya tarik terdiri dari 6 sub unsur. Keenam sub unsur tersebut

adalah keunikan sumberdaya alam, banyaknya jenis sumberdaya alam yang

menonjol, kepekaan sumberdaya alam, variasi kegiatan wisata, kebersihan lokasi

dan keamanan kawasan.

5.1.1.1 Keunikan Sumberdaya Alam Lima obyek yang memiliki nilai tertinggi (20), yaitu Pesangrahan Bung

Hatta, Shelter Paninjauan, Cadas, Puncak Merpati dan Taman Edelweis.

Kelimanya masing-masing mempunyai tiga jenis sumberdaya alam yang

menonjol, secara umum keunikan sumberdaya alam yang dapat dinikmati di

lokasi obyek adalah pemandangan alam (Tabel 16).

Tabel 16 Penilaian keunikan sumberdaya alam No Obyek Keunikan Sumberdaya Alam Nilai 1.

Pesangrahan Bung Hatta a) Sumber air panas b) Peninggalan sejarah: bekas bangunan

Pesangrahan Bung hatta c) Flora: Pinus (Pinus merkusii)

20

2. Parak Batuang a) Flora: hutan bambu 10 3. Shelter Paninjauan a) Pemandangan alam

b) Fauna: burung Sepah (suku Caepephagidae) dan Kelasi

c) Air: Mata ai r Barakaik

20

4. Terowongan Pakis a) Flora: pakis dan lumut b) Gua tanah berbentuk terowongan

15

5. Cadas a) Pemandangan alam b) Flora: Cantigi c) Batuan gunung berapi

20

6. Tugu Abel Tasman a) Tugu: Abel Tasman, seorang pendaki yang meninggal di Gunung Merapi.

10

7. Kawah Merapi a) Kawah: 7 buah kawah Merapi (Verkeed, Bungsu, Tuo, Bungo, a, b dan c)

b) Batuan gunung berapi

15

8. Puncak Merpati a) Puncak tertinggi Gunung Merapi: puncak Merpati

b) Pemandangan alam c) Batuan gunung berapi

20

9. Taman Edelweis a) Flora: bunga Edelweis (Anaphalis javanica)

b) Pemandangan alam c) Peninggalan sejarah: bekas makam

Tungku Tigo Sajarangan

20

33

Gambar 5 Pesangrahan Bung Hatta.

Gambar 6 Shelter Paninjauan.

Gambar 7 Cadas.

Gambar 8 Tugu Abel Tasman.

Gambar 9 Kawah Merapi.

Gambar 10 Puncak Merpati.

Gambar 11 Taman Edelweis (Sumber: Mapala UNAND).

34

Gambar 12 Parak Batuang.

Gambar 13 Terowongan Pakis.

5.1.1.2 Sumberdaya Alam yang Menonjol Sumberdaya alam yang menonjol adalah obyek-obyek yang mudah dilihat

oleh pengunjung karena jumlahnya banyak. Terdapat dua obyek yang memiliki

nilai tertinggi (20), yaitu Shelter Paninjauan dan Cadas. Keduanya sama-sama

memiliki tiga jenis sumberdaya alam yang menonjol.

Pesangrahan Bung Hatta, Parak Batuang, Tugu Abel Tasman, Puncak

Merpati dan Taman Edelweis sama-sama hanya memiliki satu jenis sumberdaya

alam yang menonjol sehingga diberi nilai 10. Pesangrahan Bung Hatta memiliki

sumber air panas, Parak Batuang memiliki hutan bambu, Tugu Abel Tasman dan

Puncak Merpati memiliki pemandangan alam, sedangkan Taman Edelweis

memiliki flora (Edelweis). Terowongan Pakis dan Kawah Merapi masing-

masingnya memiliki dua jenis sumberdaya alam yang menonjol sehingga nilainya

15.

Tabel 17 Penilaian banyaknya jenis sumberdaya alam yang menonjol No Obyek Banyaknya jenis sumberdaya alam yang menonjol Nilai 1.

Pesangrahan Bung Hatta

Air: sumber air panas 10

2. Parak Batuang Flora: Bambu 10 3. Shelter Paninjauan Pemandangan alam, fauna: burung dan Kelasi, flora:

pohon Shorea sp. 20

4. Terowongan Pakis Flora : Pakis, air : sumber mata air 15 5. Cadas Pemandangan alam, batuan gunung berapi, flora: Cantigi

gunung (Vaccinium sp.) 20

6. Tugu Abel Tasman Pemandangan alam 10 7. Kawah Merapi Kawah, batuan gunung berapi 15 8. Puncak Merpati Pemandangan alam 10 9. Taman Edelweis Flora: bunga Edelweis 10

35

5.1.1.3 Kepekaan Sumberdaya Alam Kepekaan sumberdaya alam meliputi nilai sejarah/mitos, nilai

pengetahuan, nilai keindahan dan nilai pengobatan (Tabel 18). Seluruh obyek

umumnya memiliki nilai sejarah/mitos. Hal ini disebabkan karena kesembilan

obyek tersebut merupakan bagian dari kesatuan Gunung Merapi yang bernilai

sejarah tinggi bagi masyarakat Minangkabau. Obyek yang memiliki nilai

kepekaan tertinggi adalah Pesangrahan Bung Hatta, Parak Batuang, Cadas, Kawah

Merapi, Puncak Merpati dan Taman Edelweis. Ketiganya memiliki tiga nilai

kepekaan, sehingga masing-masingnya bernilai 20. Tugu Abel Tasman memiliki

dua nilai kepekaan sehingga diberi nilai 15, sedangkan Shelter Paninjauan dan

Terowongan Pakis memperoleh nilai terendah (10) karena masing-masingnya

hanya memiliki satu nilai kepekaan.

Tabel 18 Penilaian kepekaan sumberdaya alam No Obyek Kepekaan Sumberdaya Alam Nilai 1. Pesangrahan Bung Hatta Nilai sejarah/mitos, pengetahuan dan pengobatan 20 2. Parak Batuang Nilai sejarah/mitos, pengetahuan dan pengobatan 20 3. Shelter Paninjauan Nilai keindahan 10 4. Terowongan Pakis Nilai keindahan 10 5. Cadas Nilai sejarah / mitos, keindahan dan pengetahuan 20 6. Tugu Abel Tasman Nilai sejarah / mitos, pengetahuan 15 7. Kawah Merapi Nilai sejarah / mitos, pengetahuan dan keindahan 20 8. Puncak Merpati Nilai sejarah / mitos, keindahan dan pengetahuan 20 9. Taman Edelweis Nilai sejarah / mitos, keindahan dan pengetahuan 20

1) Nilai sejarah/mitos Keberadaan Gunung Merapi sangat kental karena mempunyai nilai historis

bagi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Menurut sejarahnya, nenek

moyang orang Minangkabau berasal dari lereng Gunung Merapi, hal ini ditandai

dengan terdapatnya Nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar. Nagari

Pariangan merupakan cikal bakal dari lahirnya sistem pemerintahan masyarakat

berbasis nagari di Sumatera Barat.

Catatan sejarah Minangkabau menyebutkan bahwa Nagari Pariangan

adalah nagari asal suku Minangkabau. Tambo (Catatan sejarah Minangkabau)

menyatakan bahwa nenek moyang orang Minangkabau adalah keturunan Iskandar

Zulkarnain, yaitu dari salah seorang puteranya yang bernama Sutan Maharajo

Dirajo. Sutan Maharajo Dirajo melakukan rute pelayaran sampai akhirnya beliau

terdampar disebuah puncak gunung yang belakangan dikenal dengan sebutan

Gunung Merapi. Terkait dengan hal ini, falsafah adat Minangkabau:

36

Dek lamo bakalamoan, nampaklah gosong dari lauik yang sagadang talua itiak

sadang dilamun-lamun ombak

(artinya: setelah lama berlayar, terlihat pulau yang sangat kecil kira-kira sebesar

telur itik, yang kelihatan hanya timbul tenggelam sesuai dengan naik turunnya

ombak). Pulau yang kecil itu adalah puncak Gunung Merapi.

Sutan Maharajo Dirajo dan pengikutnya di kapal adalah cikal bakal nenek

moyang orang Minangkabau. Pada lereng Gunung Merapi bagian tenggara

tersebut Sutan Maharajo Dirajo membangun Nagari Pariangan (sekitar tahun 1119

M). Berkaitan dengan hal ini, masyarakat Minangkabau memiliki pantun adat

yang berbunyi:

Darimano asa titik palito (Darimana asal titik pelita)

Dibaliak telong nan batali (Dari balik telong yang bertali)

Darimano asa niniak moyang kito (Darimana asal nenek moyang kita)

Dari lereang Gunuang Marapi (Dari lereng Gunung Merapi)

Anai-anai tabang ka rimbo (Anai-anai terbang ke hutan)

Tibo di rimbo mamakan padi (Sampai di hutan memakan padi)

Darimano datang nenek moyang kito (Darimana nenek moyang kita)

Dari puncak Gunuang Marapi (Dari puncak Gunung Merapi)

Obyek berikutnya yang memiliki nilai sejarah yang penting adalah

Pesangrahan Bung Hatta yang dahulunya bernama Amore Nature. Pada tahun

1822, tempat ini digunakan oleh pemerintahan Hindia Belanda sebagai tempat

peristirahatan tentara Belanda yang bermarkas di Benteng Fort de Kock, Bukit

Tinggi. Pada tahun 1942, tempat ini diambil alih oleh pemerintahan Jepang

dengan fungsi yang sama, yaitu sebagai tempat peristirahatan tentara Jepang.

Hingga saat kemerdekaan Indonesia (1945) Pesangrahan diambil alih oleh Tentara

Keamanan Rakyat (TKR) di bawah naungan Batalyon Marapi. Berikutnya saat

terjadi Agresi Militer Belanda II di Indonesia, Pesangrahan digunakan oleh Bung

Hatta dan pejuang-pejuang Indonesia unt