Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus

  • View
    337

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Memuat cerita dari 'lapangan' yang ditulis langsung oleh para penggiat konservasi di negeri ini....

Text of Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus

KKBHL - PHKA

KKBHL - PHKA

geliat kepemimpinan kaum muda di kawasan konservasi

KKBHL - PHKA

Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam - Kementerian Kehutanan 2012

Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus geliat kepemimpinan kaum muda di kawasan konservasiPenulis: Adhie Masturiatna Ahmad Munawir Ahtu Trihangga Bobby Nopandry Deddy Asriyadi Ecky Saputra Fifin Nopiansyah Hari Kushardanto Isep Mukti Wiharja Keleng Ukur Rendra Regen Rais Suer Suryadi Sulistriantoro Supriyanto Susi Sumaryati Swiss Winnasis Ujang Wisnu Barata Wahyu Murdyatmaka Yusuf Syaefuddin

Editor: Wiratno Nurman Hakim

KKBHL - PHKAPerpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan ISBN: 978-602-19319-9-8

Desain Sampul Depan: Bisro Syabani

Diterbitkan oleh: Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam - Kementerian Kehutanan dengan pendanaan dari DIPA 029 TA 2012

Kata Pengantar

KKBHL - PHKAdari lapangan ini dapat diterbitkan. Sebuah upaya untuk mendokumentasi berbagai pengalaman dari lapangan, dalam bentuk buku dan kemudian dapatlah disebarkan kepada seluruh staf Ditjen PHKA, khususnya yang tersebar di 77 Unit Pelaksana Teknis di seluruh Indonesia. Seluruh artikel dituliskan berdasarkan pengalaman lapangan yang dialami sendiri oleh para penulisnya. Banyak hal yang dapat dipetik, mulai dari upaya melakukan reformasi sistem kerja di TN Siberut agar menjadi lebih terencana dan dan melibatkan orangorang lapangan, upaya penerapan resort based management (RBM) di TN Alas Purwo, dinamika membangun kekompakan dan spirit kerja PEH di TN Baluran dan TN Karimunjawa, menjawab berbagai tantangan untuk menyelesaikan okupasi lahan di SM Dolok Surungan, SM Cikepuh dan TN Bukit Barisan Selatan, upaya

P

uji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, bahwa dengan ridhoNya, buku yang berupa kumpulan pengalaman

iii

menggenjot PNBP di TN Bantimurung Bulusaraung atau suka duka para interpreter di TN Gunung Rinjani. Ada 11 artikel ditambah artikel dari Hari Kushardanto, Manajer Program RARE Campaign, tentang leadership konservasi, serta artikel telahaan hukum tentang keberhasilan dan kegagalan penanganan kasus-kasus tindak pidana kehutanan dari Suer Suryadi, praktisi hukum sekaligus konservasi.. Proses editing buku ini sedapat mungkin tidak merubah tidak merubah style dari masing-masing penulis. Pada beberapa artikel terkesan santai, mengalir, dengan gaya bertutur yang sangat cair diselingi dialog-dialog kocak tentang banyak hal yang mereka alami di lapangan. Editor buku hanya melakukan perbaikan salah ketik, merapikan kejernihan ungkapan dalam kalimat-kalimat yang kadang terlalu panjang. Tidak lebih dari itu. Maka, pembaca akan menemukan gaya penulisan yang beragam, sangat menarik, dan

KKBHL - PHKAtentu saja unik. Buku ini menjadi buku yang pertama yang mengungkapan kegelisahan, perjuangan kaum muda konservasi alam Indonesia, yang sebagian besar adalah staf dari lapangan. Semoga, kehadiran buku ini menambah dan dapat memompakan semangat para staf di lapangan, untuk membuat jurnal harian, yang ternyata sangat bermanfaat di kemudian hari. Selamat membaca dan mengambil pelajaran darinya.

DIREKTUR,

Bambang Dahono Adji

iv

Ucapan Terima Kasih

KKBHL - PHKAseluruh tanah air. Proses panjang untuk mendapatkan artikel dari lapangan. Semula kami Tim Editor pesimis, apakah bisa mendapatkan cerita yang menarik dari pengalaman pribadi staf UPT Ditjen PHKA, baik yang bekerja di Balai Taman Nasional maupun di Balai Konservasi Sumberdaya Alam. Namun, kekawatiran tersebut lenyap seiring dengan masuknya beberapa artikel, yang ternyata sangat menarik. Dituliskan dengan gaya anak muda; santai, mengalir, penuh dengan ekpresi pribadi yang memancarkan energi positif tentang optimisme. Nurman Hakim yang memainkan peran sebagai penghubung antara teman-teman di lapangan dengan saya, saat itu sebagai Kasubdit Pemolaan dan Pengembangan (Agustus 2007-2010). Kekuatan network Nurman Hakim-lah yang memungkinkan kita dapat nyaman membangun komunikasi, melalui jejaring sosial dan email.

B

erkat rahmat Allah SWT., maka kumpulan pengalaman dari lapangan ini dapat hadir di hadapan pembaca di

v

Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada Bapak Ir.Darori, MM Dirjen PHKA, Bapak Ir.Sonny Partono, MMDirektur KKBHL, dan Bapak Ir. Bambang Dahono Adji, sebagai Direktur KKBHL yang baru, Dr.Ir.Bambang Novianto Wawandono, Msi-Direktur KKH. Pak Gatot Subiantoro-Kasubdit Pemolaan dan Pengembangan beserta timnya; Toni Anwar, Toto Indraswanto, Ecky Saputra, Erna, Juju, Eru, Nining. Ratna Hendratmoko, Agus Sartono, dan Tim DIPA Direktorat KKBHL. Mereka yang dikenang oleh para penulis karena kepemimpinannya, yaitu Pak Hartono di TN Alas Purwo, Pak Gunung Nababan di TN Karimunjawa, Pak Darsono di TN Bantimurung Bulusaraung dan Pak Kuspriyadi di TN Baluran termasuk Pak Yusuf Sabarno yang menjadi koordinator PEH-nya. Mereka secara tidak langsung telah mewariskan semangat kerja lapangan kepada para

KKBHL - PHKAstafnya dan akhirnya mampu mendorong melakukan perubahan menuju perbaikan performa organisasi maupun penguasaan lapangan. Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada Mas Hari Kushardanto, Rully Prayoga, Putu, Galuh dan Tim RARE lainnya yang telah memberikan kesempatan beberapa staf UPT untuk belajar dan mempraktikkan metode kampanye konservasi, yang terbukti memberikan manfaat nyata di lapangan seperti di SM Dolok Surungan, TN Karimunjawa, dan masih banyak kawasan konservasi lainnya yang sentuh dengan RARE. Penghargaan disampaikan kepada rekan Suer Suryadi, yang telah bersedia menyumbangkan tulisannya yang semoga dapat memberikan inspirasi dan menajdi motivasi penggerak perubahan di lapangan.

vi

Spirit kaum muda tercermin dari seluruh artikel yang dirangkai dalam buku ini. Energi positif meruap di segala penjuru kesadaran kita setelah menikmati seluruh artikel tersebut. Temuan ini memberikan semangat kepada kita, bahwa generasi muda konservasi Indonesia sebenarnya masih ada. Ruang ekspresi itu telah diwadahi selama 3 tahun penerbitan buku-buku di Direktorat KKHBL. Dokumentasi adalah salah satu dari 4 tradisi yang berhasil digali oleh Pak Pandji Yudistira, dan dikristalkan oleh Pak Agus Mulyana-Peneliti CIFOR. Pak Pandji berhasil menuliskan sejarah konservasi alam Indonesia, dan peran Dr. S.H. Koorders, salah satu dari tokoh di awal sejarah konservasi modern di Indonesia. Keempat tradisi tersebut adalah : (1) ke lapangan (2) riset, (3) dokumentasi dan (4) jejaring kerja. Keempat tradisi ini telah lahir kembali, dengan bukti terbitnya buku cerita perjuangan kaum muda dari lapangan

KKBHL - PHKA Editor

ini. Selamat membaca.

vii

KKBHL - PHKA

Kepemimpinan Kaum Muda Konservasi

KKBHL - PHKAmemutuskan membiayai 9 judul buku pada Tahun Anggaran 2012, digagas sebuah buku yang berisi kumpulan cerita pengalaman mereka. kami meyakini bahwa catatan-catatan yang dibuat oleh para staf yang bekerja di lapangan amat berharga dan menjadi pembelajaran, bahkan menginspirasi staf lainnya. Hingga Agustus 2012, telah terkumpul 14 naskah. Empat belas tulisan dalam buku ini ibarat penggalan kisah yang dibawa oleh masingmasing anak sungai. Masih ada ratusan bahkan ribuan anak sungai yang lain yang belum sempat dipotret dari mereka yang hiruk pikuk bekerja dalam kesunyian. Mereka yang terus mengalirkan airnya ke sungai besar bernama gerakan konservasi. Gagasan buku ini sederhana saja: saling menginspirasi dan saling berbagi energi positif. Membaca buku ini adalah dari lapangan, yang dituliskan oleh staf lapangan berdasarkan

K

etika Subdit Pemolaan dan Pengembangan, Dit Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Ditjen PHKA,

ix

menikmati rangkaian pengalaman yang seringkali tidak terduga. Setting, pilihan tema, dan cara menuturkannya, kami merasakan getaran yang kuat. Aroma optimisme, pencarian identitas diri atau kelompok, spirit perjuangan, bahkan kegeraman menguak kental. Inisiatif melakukan terobosan, pantang menyerah melawan beragam tingkat kesulitan, keterbatasan, dan ketidakmenentuan atau lemahnya kapasitas kepemimpinan. Dari keempat belas artikel, satu artikel ditulis oleh perempuan. Susi Sumaryati adalah PEH TN Karimunjawa yang mampu menggambarkan dinamika kerja penuh optimisme di antara PEH di Karimunjawa di bawah kepemimpinan Pak Gunung Nababan. Pemikiran dan kerja konservasi Pak Gunung menjadi pokok bahasan pada artikel Hari Kushardanto. Ia menjadi salah satu tokoh penting konservasi Indonesia modern, setelah Pak Hartono dari Alas

KKBHL - PHKAPurwo, yang banyak disebut dalam artikel Wahyu Murdiyatmaka. Pak Gunung dan Pak Hartono menjadi model leadership bagi para generasi muda konservasi Indonesia. Mereka membangun sistem kelola kawasan, tanpa bantuan dari lembaga donor manapun. Tiga tahun dan sistem itu mampu menghujam tajam ke bumi kedua taman nasional itu. 2 artikel ditulis oleh mitra Ditjen PHKA. Hari Kushardanto, manajer RARE Indonesia, yang diminta secara khusus untuk menuliskan tentang kepemimpinan konservasi. Topik yang langka namun sangat relevan saat ini dan ke depan. Artikel lain disiapkan oleh Suer Suryadi. Dia aktif bekerja untuk konservasi sejak di Conservation International Indonesia (Papua Programme), di UNESCO (TN Gunung Leuser). Akhirnya, ia yang semula berlatar belakang pasca sarjana bidang biologi menjadi sarjana hukum dan beberapa tahun terakhir ini membantu beberapa UPT untuk mendampingi dan melakukan telahaan hukum kasus-kasus x

tindak pidana kehutanan. Ia adalah seorang biolog, atau praktisi konservasi yang ahli hukum Suasana kebatinan seperti itulah yang merebak kuat pada seluruh tulisan. Tulisan yang tidak berasal dari aktifitas berfikir semata melai