Terapi Aktivitas Bermain RSUD Wahidin Mojkrto

  • Published on
    06-Nov-2015

  • View
    6

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jhwhdsu

Transcript

10

satuan acara bermaindengan terapi bermain puzzle anak prasekolahdi ruang kertawijaya RSUD Dr WAHIDIN SUDIROHUSODO MOJOKERTO

Oleh :KELOMPOK 3

PROGRAM STUDI PROFESI NERSSEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYAGAMA HUSADAMALANG2015

Terapi Aktivitas Bermain (TAB)

SATUAN PEMBELAJARAN

Mata Ajar: Keperawatan AnakSub.Topik: Terapi Bermain Pada Anak SakitSasaran: Anak Prasekolah Di Ruang Kertawijaya Hari/Tanggal: Sabtu, 16 Mei 2016Waktu: Pukul 10:00-10:45 WIBPermainan: Susun Puzzle

A. Alasan dilakukan terapi bermainPada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan depat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan.Oleh karena itu, dalam melakukan permainan, anak lebih bebas, spontan, dan menunjukkan otonomi baik dalam memilih mainan maupun dalam aktivitas bermainnya. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Oleh karena itu seringkali mainannya dibongkar-pasang, bahkan dirusaknya. Untuk itu harus diperhatikan keamanan dan keselamatan anak dengan caratidak memberikan alat permainan yang tajam dan menimbulkan perlukaan. Selama dirumah sakit anak belum pernah dilakukan terapi bermain. Dapat disimpulkan bahwa anak mengalami kecemasan akibat hospitalisasi.

B. Tujuan1. Tujuan UmumSetelah mendapatkan terapi bermain selama 20 menitdiharapkan anak dapat berkembang secara optimal sesuai tahap perkembangan walaupun dalam kondisi sakit.2. Tujuan KhususSetelah dilakukan terapi bermain selam20menit anak mampu: Bersosialisasi dengan perawat baru Menunjukkan ekspresi non verbal dengan tertawa, tersenyum dan saling bercanda.C. Metode dan Media1. Metode Bermain bersama Mendengarkan tanggapan anak/Tanya jawab2. Media Puzzle HadiahD. Kegiatan1. PengorganisasianPemimpin bermain: Rika Heridayana, S.KepPemimpin bermain bertugas untuk memimpin jalannya acara terapi bermain dari awal hingga berakhirnya terapi. Pemimpin bermain juga harus membuat suasana bermain agar lebih tenang dan kondusif.2. Fasilitator: Faris Aditiya Permana, S.Kep Angela Merici Yuliani Meo, S.Kep Izzatun Fauziah Tamrin, S.KepFasilitator bertugas sebagai pemandu dan memotivasi anak agar dapat kooperatif dalam permainan yang akan dilakukan.3. Observer: Kiki Wulandari, S.Kep Hely Sriyani, S.Kep Muhamad Rassidin, S.KepObserver bertugas mengawasi dan menilai kemampuan masing-masing anak selama dilakukan terapi bermain.

E. Kegiatan bermainNoURAIANKegiatan perawatKegiatan klien dan keluarga

1Pembukaan(5 menit)a. Salam pembukaanb. Perkenalanc. Mengkomunikasikan tujuand. Menjelaskan aturan permainan

a. Memperhatikan dan meresponb. Memperhatikanc. Memperhatikand. Memperhatikan

2Kegiatan bermain (15 menit)a. Bermainperkenalanb. Meminta respon dan tanggapan anakc. Memberikan reinfocement positif jika anak bisa mengikuti permainan

a. Klien Kooperatifb. Anak tampak senang dan mencoba bermain dengan perawatc. Memberikan pujian pada anak

3Evaluasi (15 menit)a. Mengakhiri permainanb. Melakukan evaluasi

a. Memperhatikanb. Menanggapi

F. Evaluasi Yang dilakukan oleh Pemimpin :Eksplorasi perasaan anak setelah mengikuti terapi bermain Yang dilakukan oleh Observer: Masalah yang muncul selama bermain Partisipasi anak Kemampuan anak dalam melaksanakan permainan YangdilakukanFasilitator Hambatan saat pelaksanaan saat proses terapi bermain Kesulitan dalam mengatur anak saat proses terapi bermain

Lampiran materi:

TERAPI BERMAIN MENYUSUN PAZEL DENGANKONSEP TUMBUH KEMBANGANAKA. Pengertian PerkembanganPerkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 1998).MenurutJoyce Engel (1999), yang dikatakan anak usia pra sekolah adalah anak-anak yang berusia berkisar 3-6 tahun. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk mengukur tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu.a. Aspek fisikb. Aspek motorikc. Aspek bahasad. Aspek kognitife. Aspek sosialisasiBermain dengan cara menyusun pazel pada dasarnya tidak hanya membantu mengembangkan kemampuan motorik anak saja tetapi juga berperan penting dalam proses pengembangan kognitif klien dan emosional klien, serta membantu klien untuk menggunakan kemampuan bahasanya dengan bertanya sehingga klien akan terbiasa dengan proses sosialisasi dengan orang, lingkungan dan kondisi disekitarnya. Ketika anak sudah mampu bermain menyusun pazel secara lancar maka dia sudah siap untuk meningkatkan kemampuannya ke tingkat yang lebih lanjut seperti bersosialisasi dengan orang lain seperti mengenalkan diriB. Stimulasi Perkembangan Anak Usia 4-5 TahunStimulasi yang diperlukan anak usia 3-5 tahun adalah :a. Gerakan kasar, dilakukan dengan memberi kesempatan anak melakukan permainan yang melakukan ketangkasan dan kelincahan.b. Gerakan halus, dirangsang misalnya dengan membantu anak belajar menggambar.c. Bicara bahasa dan kecerdasan, misalnya dengan membantu anak mengerti satu separuh dengan cara membagikan kue.d. Bergaul dan mandiri, dengan melatih anak untuk mandiri, misalnya bermain ke tetangga (Suherman, 2000).

C. Tes Skrining Perkembangan Menurut Denver (DDST)DDST (Denver Developmental Screening Test) adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan DDST secara efektif 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambangan perkembangan (Soetjiningsih, 1998).Frankenburg dkk (1981) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu:Personal Sosial(kepribadian/ tingkah laku sosial) yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya;Gerakan Motorik Halusyaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang sesuatu benda;Bahasaadalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan; Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor) adalah aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

D. Factor Penyebab Ketidakmampuan Menyusun PuzzleMenurut Immanuel, ketidakmampuan melakukan tugas perkembangan tertentu,sepertibergerak, tumbuh, bicara, ataupun kecakapan motorik tertentu seperti menyusun, merangkai ataupun memposisikan benda, dapat menghambat berkembangnya keterampilan berikutnya. Diwaspadai kemungkinan mengalami keterlambatan.Factor penyebabnya yaitu:1. Karena kurang dirangsang atau kurang latihanAnak dengan usia 3-5 tahun perlu dilatih rangsangan motorik halus dan kasarnya dengan memberinya stimulus pendukung. Umumnya, anak usia ini berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan sebab-akibat, sehingga ingin mencoba memadukan satu benda dengan benda lain.

2. Ada gangguan pada mataPandangan yang tidak jelas pada anak membuatnya enggan melakukan kegiatan yang menggunakan benda-benda kecil. Anda perlu memeriksakannya ke dokter sebelum hal ini berlangsung lama.3. Ada gangguan pada saraf atau retardasi mentalGangguan ini dapat diwaspadai dari kemampuan meraba. Bila Anda mendapati si kecil Anda mengalami kelainan pada keterampilan meraba, Anda perlu waspada. Segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan.

E. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi PerkembanganFaktor instrinsik sangat dominan dalam mempengaruhi tingkat kegagalan berkembang terutama berkaitan dengan terjadinya penyakit pada anak, yaitu:a. Kelainankromosom(misalnya sindromaDowndan sindromaTurner)b. Kelainan padasistem endokrin, misalnya kekurangan hormontiroid, kekuranganhormon pertumbuhanatau kekurangan hormon lainnyac. Kerusakan otak atau sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan kesulitan dalam pemberian makanan pada bayi dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhand. Kelainan pada sistem jantung dan pernafasan yang bisa menyebabkan gangguan mekanisme penghantaran oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuhe. Anemiaatau penyakit darah lainnyaf. Kelainan pada sistem pencernaan yang bisa menyebabkanmalabsorbsiatau hilangnyaenzimpencernaan sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.

F. Dampak Hospitalisasi Terhadap Anaka. Separation ansietyb. Tergantung pada orang tuac. Stress bila berpisah dengan orang yang berartid. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatise. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan dengan orang lain dan menyukai lingkungan

G. Manfaat Terapi Bermaina. Terapi bermain menyusun balok dapat merangsang keterampilan proses berfikir dan motorik anakb. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawatc. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anakd. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih tegang dan nyeri

EVALUASI HASIL SETELAH DILAKUKAN TERAPI BERMAINSetelah dilakukan terapi bermain di temukan bahwa :1. Usia anak kurang mencukupi dikarenakan pasien yang opname di ruang Kertawijaya RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan2. Partisipasi anak ada yang kurang optimal mungkin diarenakan kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan / karena masih merasa takut melihat banyak perawat3. Anak mengalami kesulitan saat memasang gambar dikarenakan hanya menngunakan satu tangan

Referensi :Immanuel, R. (2006).Permainan Edukatif dalam Perkembangan Logic-Smart Anak. Terdapat pada:http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01fd/325abfcd.dir/doc.pdf.Diakses pada 25 Desember 2013.

Kaplan H.I, Sadock. B.J Grebb J.A. 2000.Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku, Psikiatri. Klinis, Alih Bahasa : Kusuma W,edisi Wiguna .

Veltman M,W Browne K.D. 2000.An Evaluation of Favorite Kind of Day Drawing from Psychially Maltreated Children. Child Abuse and Neglect.

Whaley L.F, Wong D.L. 2001.Nursing Care of infants and children in-ed. St Louis : Mosby year book

Terapi Bermain Di Ruang Kertawijaya.Kelompok 3 Profesi Ners WGH