of 27/27
HUBUNGAN PANJANG ANTRIAN KENDARAAN TERHADAP BERHENTINYA ANGKUTAN UMUM 1.1 Umum Dalam masa pembangunan sekarang ini, prasarana jalan merupakan salah satu faktor yang samgat mempengaruhi atau sangat penting sebagai penghubung antara suatu daerah ke daerah lain. Pertumbuhan penduduk serta laju pembangunan yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan prasarana jalan juga ikut meningkat.Dengan adanya prasarana jalan yang baik akan mempermudah pergerakan atau kegiatan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang di tuju. Sifat dan perilaku lalu lintas khususnya di kota, sangat bergantung dari sistim pelayanan transportasi, tata ruang kota, dan hasil interaksi antar guna lahan (product land use) yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang ditentukan oleh besaran pembangkit distribusi lalu lintasnya. Distribusi dapat diatur, tetapi dapat juga simpang siur apabila laju pertubuhan setiap persil land use (traffic zone) tidak terkontrol atau terkendali. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan berbagai jenis dan ukuran kendaraan sebagai salah satu sarana transportasi darat, tampa diimbangi prasarana jalan yang memadai akan menyebabkan semakin padatnya jalan raya dan dapat menyebabkan persoalan lalu lintas yang rumit. Kemacetan lalulintas (congestion) di jalan terjadi karena ruas jalan tersebut sudah mulai tidak mampu menerima atau melewatkan luapan arus kendaraan yang datang secara lancar. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh hambatan atau gangguan samping (side friction) yang tinggi, sehingga mengakibatkan penyempitan ruas jalan (bottleneck), seperti: parkir di badan jalan (on road parking), berjualan/pasar di trotoar dan badan jalan, pangkalan beca dan angkot, kegiatan sosial yang menggunakan badan jalan (pesta atau kematian) danpedestrian (berjalan di badan jalan dan menyeberang

Tugas Pak Amz

  • View
    8

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Tugas Pak Amz

HUBUNGAN PANJANG ANTRIAN KENDARAAN TERHADAP BERHENTINYA ANGKUTAN UMUM1.1UmumDalam masa pembangunan sekarang ini, prasarana jalan merupakan salah satu faktor yang samgat mempengaruhi atau sangat penting sebagai penghubung antara suatu daerah ke daerah lain. Pertumbuhan penduduk serta laju pembangunan yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan prasarana jalan juga ikut meningkat.Dengan adanya prasarana jalan yang baik akan mempermudah pergerakan atau kegiatan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang di tuju.Sifat dan perilaku lalu lintas khususnya di kota, sangat bergantung dari sistim pelayanan transportasi, tata ruang kota, dan hasil interaksi antar guna lahan (product land use) yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang ditentukan oleh besaran pembangkit distribusi lalu lintasnya. Distribusi dapat diatur, tetapi dapat juga simpang siur apabila laju pertubuhan setiappersil land use(traffic zone) tidak terkontrol atau terkendali. Sejalan dengan meningkatnyakebutuhan berbagai jenis dan ukuran kendaraan sebagai salah satu sarana transportasi darat, tampa diimbangi prasarana jalan yang memadai akan menyebabkan semakin padatnya jalan raya dan dapat menyebabkan persoalan lalu lintas yang rumit.Kemacetan lalulintas (congestion) di jalan terjadi karena ruas jalan tersebut sudah mulai tidak mampu menerima atau melewatkan luapan arus kendaraan yang datang secara lancar. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh hambatan atau gangguan samping (side friction) yang tinggi, sehingga mengakibatkan penyempitan ruas jalan (bottleneck), seperti: parkir di badan jalan (on roadparking), berjualan/pasar di trotoar dan badan jalan, pangkalan beca dan angkot, kegiatan sosial yang menggunakan badan jalan (pesta atau kematian) danpedestrian(berjalan di badan jalan dan menyeberang jalan). Selain itu, kemacetan juga sering terjadi akibat manajemen persimpangan (dengan atau tanpa lampu) yang kurang tepat, ditambah lagi tingginya aksesibilitas ke guna lahan (land use) di sekitar sisi jalan tersebut.

1.2Latar Belakang PermasalahanMasalah yang dihadapi di kota-kota besar, khususnya di kota Medan, bukan hanya masalah kekurangan lahan dan masalah sosial yang bermacam-macam bentuknya, tetapi juga masalah transportasi.Adapun gangguan lalu lintas di kota-kota besar seperti medan,pada umumnya disebabkan karena angkutan umum yang berhenti dan parkir di sembarang tempat.hal ini terjadi disebabkan oleh adanya pemberhentian-pemberhentian yang tidak diatur secara seksama oleh pihak yang berwenang (kecuali pemberhentian bis kota).sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan, pelanggaran lalu lintas, bahkandapat menimbulkan kecelakaan.Kemacetan atau tundaan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas yang cukup berbahaya juga sering terjadi akibat perilaku angkutan umum kota (angkot) yang sering nyelonong dan tiba-tiba berhenti di badan jalan untuk menaikkan/menurunkan penumpang dengan alasan kejar setoran. Jadi dengan demikian, kemacetan lalu lintas perkotaan terjadi bukan saja karena rasio perkembangan prasarana jalan dengan pertambahan sarana (kendaraan) yang tidak seimbang serta tingkat disiplin pengendara yang sangat rendah.

Dengan demikian, kemacetan lalu lintas perkotaan tidak pantas hanya merupakan bahan obrolan masyarakat saja, melainkan sudah harus menjadi perhatian yang serius bagi semua lapisan masyarakat pengguna jalan, khususnya bagi pembuat kebijakan (Pemko dan DPRD), pengawas hukum (Polisi, DLLAJ), peneliti atau perencana transportasi dan pengembangan wilayah kota.

1.3Tujuan, Maksud, dan Manfaat PenelitianTujuan penelitian, meliputi : Mengevaluasi pengaruh waktu berhentinya angkutan umum yang mengakibatkan antrian pada kendaraan lain. Mengevaluasi pengaruh lebar efektif jalan dan volume kendaraan yang lewat terhadap panjang antrian yang disebabkan oleh berhentinya angkutan umum

Maksud penelitian, meliputi : Menganalisa karakteristik hubungan panjang antrian terhadap volume kendaraan yang lewat, waktu henti angkutan umum, lebar efektif jalan.Manfaat penelitian : Menentukan batasan waktu henti angkutan umum sehinnga antrian kendaraan di belakangnya tidak terlalu panjang. Menentukan lebar efektif jalan untuk mengurangi panjang antrian.

1.4Pembatasan masalahKarena kompleksnya permasalahan kemacetan dan jumlah antrian maka peneliti mengadakan pembatasan masalah yaitu : Hubungan antara masing-masing variabel (volume, waktu henti, dan lebar efektif jalan), diangap linear. Perhitunganmasing-masing Variabel dan Analisa Regresi dilakukan dengan program Microsoft Excel. Jumlah sampel yang diambil dalam hal ini sebanyak 20 kendaraan (angkutan umum) yang berhenti untuk setiap ruas jalannya. Jenis angkutan yang diamati adalah bis dan angkutan kota (angkot). Kemacetan Total pada jam sibuk (peak hour) tidak menjadi bahan analisa peneliti. Pengamatan volume kendaraan yang lewat dilakukan pada kendaraan bermotor saja. Survey dilakukan pada ruas Jalan :1.Jalan Jamin Ginting (di sumber Kampus USU)2.Jalan Iskandar Muda (depan plaza Ramayana)3.Jalan Sisingamangaraja (depan terminal Amplas)4.Jalan Prof H. M. Yamin ( depan Aksara plaza )5.Jalan Aksara (samping Aksara Plaza )

1.5MetodologiData yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa data primer dandata sekunder. Data primer yaitu adalah data yang diambil dilapangan, sedangkan data sekunder adalah data berupa peta jaringan jalan kota Medan.Metode yang digunakan dalam pengambilan data primer adalah sebagai berikut : Mempersiapkan formulir data yang akan mempermudah pelaksanaan survey dilapangan. Yang isinya berupa data volume, data waktu henti, data lebar efektif jalan, data panjang antrian. Pelaksanaan survey dilapangan yang melibatkan 3 orang pembantu peneliti.

2.3Variabel yang ditinjau dalam menentukan panjang antrian2.3.1Volume lalu lintasVolume atau kadang disebut arus rata-rata (flow rate) didefenisikan sebagai jumlah kendaraan yang melewati satu titik pengamatan di suatu jalur jalan dengan arah tertentu selama interval waktu tertentu. Baik arus rata-rata maupun volume disini mengunakan interval waktu satu jam. Jenis kendaraan yang akan ditinjau dibagi menurut pembagian kendaraan MKJI (Manual Kapasitas Jalan Indonesia):Kendaraan Berat(HV)Terdiri dari :mobil penumpang, pick up mobil hantaran, sedan, jeep, dan lain-lain ( 5 Ton).Kendaraan Ringan(LV)Terdiri dari bus, truk, traktor, semi trailler,trailler (5 Ton).Sepeda Motor(MC)Kendaraan Tidak Bermotor(UMC)Terdiri dari becak, sepeda, dan lain-lain.Satuan yang digunakan adalah SMP (SatuanMobil Penumpang)

Tabel 2 : Angka perbandingan SMP menurut MKJI, 1997

Jenis KendaraanNilai smp

Kendaraan Berat (HV)1.3

Kendaraan Ringan (LV)1

Sepeda Bermotor (MC)0.2

Sumber : MKJI, 1997

2.3.2Lebar Efektif JalanLebar jalan adalah lebar perkerasan total (bisa termasuk bahu jalan)yang digunakan sebagai prasarana kendaraan bermotor sebagai tempat untuk berlalu lintas.Sedangkan yang dimaksud dengan lebar efektif jalan adalah lebar jalan yang dapat dilewati kendaraan secara efektif . Dengan kata lain lebar efektif adalah lebar jalan dikurangi dengan bagian jalan yang digunakan oleh angkutan umum untuk berhenti.

2.3.3Waktu HentiWaktu Henti didefenisikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh angkutan umum untuk berhenti pada suatu titik pengamatan tertentu, dengan satuan waktu adalah detik.

2.4Analisis Regresi linearRegresi linear digunakan untuk analisis dua (atau lebih) variabel numerik. Analisis regresi digunakan untuk membahas prediksi (peramalan) dalam suatu model yang terdapat variabel dependent (Y) dan varibel independent (X).Regresi sederhana mempunnyai satu dependent (Y) dan satu independent (X), sedangkan regresi berganda mempunyai satu variabel dependent dan lebih satu variabel independent.

2.5.1 Regresi sederhana (Simple Regression)Teknik ini dapat digunakan untuk menghasilkan hubungan dalam bentuk numerik,dan untuk melihat bagaimana dua variabel saling berkaitanPersamaan regresi sederhana :Y = a + bX.. (1)Dimana :Y = variabel dependentX = variabel independenta dan b =konstanDimana a dan b diperoleh dengan formula:b = (2)

a = Y- bX.... (3)

2.5.2Regresi Berganda(Multiple Regression)Disini dijumpai lebih dari satu variabel bebas yang mempengaruhi variabel tidak bebas.Persamaan regresi berganda :Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3.+bnXn.. (4)Dimana:Y = variabel dependentX = variabel independentb0, b1, b2, b3 =konstan

Persamaan regresi dengan 2 variabel XY = bo + b1X1 + b2X2Untuk menyelesaikan 3 persamaan dengan 3 bilangan anu diselesaikan dengan metode matriks := b0n+ b1+ b2= b0+ b1+ b2= b0+b1+b2

Persamaan regresi dengan 3 variabel XY = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3Untuk menyelesaikan 4 persamaan dengan 4 bilangan anu diselesaikan dengan metode matriks := b0n+ b1+ b2+ b3= b0+ b1+ b2+ b3= b0+b1+b2+b3=b0+b1+b2+b3Dari persamaan 1, 2, 3, diatas dengan metode eliminasi atau matriks dapat diperoleh harga b0, b1, b2, b3. Persamaan Regresi dengan 4 variabel XY = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4Untuk menyelesaikan 5 persamaan dengan 5 bilangan anu diselesaikan dengan metode matriks := b0n+ b1+ b2+ b3+b4= b0+ b1+ b2+ b3+b4= b0+b1+b2+b3+b4=b0+b1+b2+b3+b4=bo+b1+b2+b3+b4

Dari persamaan 1, 2, 3, diatas dengan metode eliminasi atau matriks dapat diperoleh harga b0, b1, b2, b3, b4.

2.6 Sidik Ragam Regresi atau analisa VariansIni adalah pengujian keterandalan model dengan mengunakan sidik ragam regresi pada dasarnya merupakan pengujian terhadap nilai-nilai koefisien regresi.Apakah nilai koefisien regresi dari model menduga tersebut dapat diandalkan untuk meramalkan besarnya hasil (nilai Y) ataukah tidak? Terdapat dua kemungkinan dari hasil pengujian ini, yaitu nilai koefisien regresi tidak dapat diandalkan (1=b=0)dan koefisien regresi dapat diandalkan (10).oleh karenanya hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini dirumuskan sebagai berikut :Ho : 1= 0 lawan H1 : 1 0Keterandalan model ini akan diketahui dari hasil keputusan pengujian hipotesis tersebut. Ditolak atau diterima, dengan mengunakan uji F apabila Ho diterima dan H1diterima maka berarti 1tidak sama dengan nol dan model dapat diandalkan. Bila Ho ditolak dan H1diterimamaka berarti 1 tidak sama dengan nol dan model dapat diandalkan .Cara pengujian adalah dengan menggunakan rumus-rumus yang disusun dalam suatu tabel untuk mempermudah cara pengerjaannya dan cara membacanya seperti disajikan ditabel 3 ini :Tabel 3Sidik Ragam RegresiSumber KeragamandbJKKTFhitungRegresip 1JKRKTRSisan pJKSKTSTotaln 1

Keterangann = total sampelp =jumlah variabelJKT (Jumlah Kuadrat Total)JKR (Jumlah kuadrat Regresi)JKS (Jumlah Kuadrat Sisa)KTR (Jumlah Tengah Regresi)KTS (Jumlah Tengah Sisa)

Rumus - rumusJKT =-(8)JKR = b1(-) ..... ....(9)JKR = JKT-JKR = (-) { b1(-)} (10)JKS = JKT - JKRKTR =(11)KTS =..(12)

2.7Kriteria StatistikUntuk memperoleh hasil regresi yang terbaik maka harus memenuhi kriteria sebagai berikut:Uji R(Koofisien Determinasi)R==.. ..(13)Dimana :JKR = jumlah kuadrat regresiJKT = jumlah kuadrat totalNilaiRini mempunyai range antara 0 sampai 1 atau (0 R 1).semakin besar R(mendekati satu) semakin baik hasi regresi itu,semakin mendekati nol maka variabel independent secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel dependent.Uji FUji F ini dlakukan unttuk melihat pengaruh variabel independent secara keseluruhan terhadap variabel dependent.Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel.Nilai F hitung diperoleh dengan rumus :F =:=(14)Dimana : n = jumlah sampelp =jumlah variabelKTR = kuadrat tengah regresiKTS = kuadrat tengah sisaJika nilai Fhitung Ftabel maka Ho diterima dan H1ditolak.Jika nilai Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak danH1diterimaUji tUji t dilaksanakan untuk melihat signifikan dari pengaruh independent secara individu terhadap variabel dependent dengan menganggap variabel lain bersifat konstan. Uji ini dilaksanakan dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel.Jika nilai t hitung t tabel maka Ho diterima dan H1ditolak.Jika nilai t hitung > t tabel maka Ho ditolak danH1diterimat- hitung di hitung dengan mengunakan formula:t =...(15)diamana :b = koefisien variabelse = standard error

2.8 Pengujian HipotesisMenguji ada tidaknya hubungan linear antara variabel independent terhadap variabel dependent, perlu derumuskan terlebih dahulu karena ini merupakan bagian yang terpenting dalam analisis regresi dalam analisi regresi.Adapun hipotesisnya adalah sebagai berikut :H0 : b = 0 (tidak ada hubungan linier antara variabel independent dan variabel dependent)H1 : b 0 (ada hubungan linier antara variabel inependent dan variabel dependentDimana :H0 = Data yang diharapkan untuk di tolakH1 = Data yang diharapkan untuk diterimaUji ini diakaitkan dengan uji nyata dari garis regresi yang diperoleh dari prediksi nilai pengamatan variabel dependent.Selain uji diatas , kita masih menguji nilai koefisien b hasil dari prediksi nilai yang kita peroleh dari sampel,adapun hipotesisnya adalah sebagai berikut:H0 : b = 0 (koefisien regresi tidak signifikan)H1 : b 0 (koefisien regresi signifikan)2.9 KorelasiKorelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif, midalnya kita mempunyai dua variabel , variabel Y dan X kita ingin menguji apakah hubungannya berbanding lurus atau terbalik atau bahkan tidak mempunyai hubungan sama sekali.Dibawah ini akan diberikan suatu grafik yang menunjukan apakah antara dua variabel itu berhubungan atau tidak

(a)(b)

(c)(d)Gambar 2:Grafik hubungan dua variabelDari grafik diatas dapat disimpulkan :Grafik (a) dan (b) adalah grafik yang menyatakan hubungan antara 2variabel.Grafik (c) dan (d) adalah grafik yang menyatakan tidak ada hubungan antara 2 buah variabel yang bersifat linier.2.9.1 Koefisien Korelasi.Ukuran yang biasa digunakan untuk mengukur hubungan kekuatan adalah koefisien korelasi Pearson atau biasa disebutMetodePearson Product Moment, yang disimbolkan dengan huruf r.Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut:

r =

Harga absolut dari r menunjukan kekuatan hubungan linier. Harga korelasi berada pada interval -1 r 1. Tanda dan + menunjukan arah hubungannya. Tanda + adalah perubahan pada satu variabel akan diikuti perubahan variabel yang lain dengan arah yang sama, misalnya : satu variabel mengalami kenaikan akan diikuti kenaikan variabel lain, begitu juga sebaliknya.

Tanda adalah perubahan pada satu variabel akan diikuti perubahan variabel yang lain dengan arah yang berlawanan, misalnya : satu variabel mengalami kenaikan akan diikuti penurunan variabel yang lain, begitu juga sebaliknya.

Korelasi nol adalah kenaikan nilai variabel yang satu kadang-kadang disertai penurunan variabel yang lain, atau kadang-kadang diikuti kenaikan variabel yang lain, arah hubungannya tidak teratur, kadang-kadang dengan arah yang sama, kadang-kadang belawanan (tidak ada hubungan yang linier)Pejelasannya dengan grafik dibawah ini :

Korelasi +1Korelasi -1

Korelasi nol

Gambar 3:Grafik ukuran korelasi

2.9.2Interpretasi Korelasi.Untuk mejelaskan tentang nilai korelasi +1 maupun -1 dapat dijelaskan menurut pendapat Young (1982), ukuran korelasi adalah sebagai berikut:0.70 2.00 (baik plus atau minus menunjukkan adanya derajat asosiasi yang tinggi.0.40 0.70 (baik plus atau minus) menunjukkan hubungan yang subtansial.0.20 - < 0.40 (baik plus maupun minus) artinya adakorelasi yang rendah