85
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN BENTUK LAHAN DI WILAYAH BANDUNG UTARA DAN KAJIAN RESIKO BENCANA ALAM VULKANIK DWI SHANTY APRILIANI GUNADI A24104077 PROGRAM STUDI ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

  • Upload
    ngoque

  • View
    227

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN

BENTUK LAHAN DI WILAYAH BANDUNG UTARA DAN KAJIAN

RESIKO BENCANA ALAM VULKANIK

DWI SHANTY APRILIANI GUNADI

A24104077

PROGRAM STUDI ILMU TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

Page 2: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

SUMMARY

DWI SHANTY APRILIANI GUNADI. The Analysis and Influence of The Region on

Landuse and Landforms at Northern Bandung Area and Study of Volcanic Disasters and

Risks. (supervised by BOEDI TJAHJONO and KHURSATUL MUNIBAH).

Northern Bandung area is an area that rapidly changes into recreation area, mainly

recreation about Mt. Tangkuban Perahu. With the increasing number of tourists that visits the

area, will give effect on the rapid changes of landuse and it’s dynamics on civilians fulfilling

their social-economic needs.

Mt. Tangkuban Perahu is considered as an active volcano, but rapid changes of

landuse near the volcano keeps increasing. Thus, evaluating and studying about landuse

changes will be interesting, mainly done by connecting with geomorphology conditions of the

area, and Volcanic Disasters and risks.

The purposes of this research are (1) to identify and map land cover/land use from 2

different years using Satellite Image SPOT 1987 and Landsat ETM+ 2005 (2) Analyze the

influence and connection between land cover/landuse with landforms (3) Analyze and map

volcanic disasters and risks within the research area.

Based on the results of analysis, landuse used for settlements and vegetable ranches

are 2 landuses that is dominantly increasing within the area. Vegetable ranches are mainly

spread in many landforms, but settlements are mainly spread in only 2 landforms (Lacustrine

Lands, and Plateau Ignimbritic).This was caused because of the two landforms that is mainly

flat in morphologic conditions.Settlements have a morphologic limitation that is, can only be

built on flat topographies.

Kecamatan Cimenyan has the lowest rate of volcanic disasters and volcanic disaster

risks that will threaten the area. On the contrary, Kecamatan Parongpong has the highest rate

of volcanic disasters and volcanic disaster risks that will threaten the area. Thus, Landuse

Planning that concentrates also on mitigation/prevention of volcanic disasters mainly in these

2 areas are needed to prevent further damage effects in the future.

Page 3: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

RINGKASAN

DWI SHANTY APRILIANI GUNADI. Analisis Hubungan Antara Penggunaan Lahan dan

Bentuk Lahan di Wilayah Bandung Utara dan Kajian Resiko Bencana Alam Vulkanik.

(dibawah bimbingan BOEDI TJAHJONO dan KHURSATUL MUNIBAH)

Wilayah Bandung bagian utara merupakan wilayah yang saat sekarang berubah

menjadi daerah wisata, khususnya wisata gunungapi Tangkuban Perahu. Dengan besarnya

arus wisatawan menuju ke daerah ini, maka secara langsung akan berpengaruh terhadap

penggunaan lahan yang cenderung terus berubah sesuai dengan dinamika masyarakat dalam

memenuhi kebutuhan sosial-ekonominya.

Mengingat bahwa gunungapi Tangkuban Perahu termasuk gunungapi aktif, sedangkan

perubahan penggunaan lahan terus berlanjut di daerah sekitar gunungapi tersebut, maka

melakukan studi tentang perubahan penggunaan lahan menjadi sangat menarik dilakukan

terutama dikaitkan dengan kondisi geomorfologi dan ancaman bahaya vulkanik.

Tujuan penelitian ini mencakup (1) identifikasi dan pemetaan penutupan/penggunaan

lahan pada 2 (dua) titik tahun yang berbeda dengan menggunakan Citra SPOT 1987 dan Citra

Landsat ETM+ (2) melakukan analisis hubungan antara penutupan/penggunaan lahan dengan

bentuklahan (3) Melakukan analisis dan pemetaan resiko bencana alam yang terdapat di

daerah penelitian.

Berdasarkan hasil analisis, penggunaan lahan permukiman dan tegalan merupakan 2

jenis penggunaan lahan yang paling besar mengalami pertambahan luas. Penggunaan lahan

tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling tersebar di berbagai bentuklahan,

sedangkan penggunaan lahan permukiman paling banyak tersebar pada 2 jenis bentuk lahan,

yaitu dataran lakustrin dan plateau ignimbritik. Hal ini dikarenakan pada kedua bentuklahan

tersebut memiliki kemiringan lereng yang relatif datar yang sesuai untuk permukiman. Faktor

morfologi bentuklahan terutama lereng, merupakan faktor pembatas utama untuk

perkembangan areal permukiman.

Page 4: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki

tingkat bahaya vulkanik dan tingkat resiko vulkanik yang paling rendah, sebaliknya

Kecamatan Parongpong memiliki ancaman tingkat bahaya dan tingkat resiko vulkanik paling

tinggi. Hal ini menyebabkan perlu adanya penataan ruang yang memperhatikan mitigasi

bencana terutama di kedua kecamatan tersebut agar tidak terjadi bencana yang sangat besar

dikemudian hari.

Page 5: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN

BENTUK LAHAN DI WILAYAH BANDUNG UTARA DAN KAJIAN

RESIKO BENCANA ALAM VULKANIK

OLEH:

DWI SHANTY APRILIANI GUNADI

A24104077

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada

Program Studi Ilmu Tanah,

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI ILMU TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

Page 6: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Analisis Hubungan Antara Penggunaan Lahan dan Bentuklahan

di Wilayah Bandung Utara dan Kajian Resiko Bencana Alam

Vulkanik

Nama Mahasiswa : Dwi Shanty Apriliani Gunadi

Nomor Pokok : A24104077

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Boedi Tjahjono, DEA Dr. Khursatul Munibah, M.Sc.

NIP. 131 846 877 NIP. 131 918 502

Mengetahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr.

NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus :

Page 7: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 4 April 1986 sebagai

anak kedua dari pasangan Dr.Ir.Bambang Gunadi M.Sc dan Nunung

Sumiarsih.

Penulis memulai pendidikan formal TK di Tadika Puri Bandung pada

tahun 1990-1991 lalu melanjutkan sekolah ke SD Kresna Bandung

dari kelas 1-2 SD dan sempat mengikuti pendidikan setara SD kelas

2-6 di South Knoll Elementary ( kelas 2-4), Oakwood Middle School

(kelas 5), dan Willow Branch Intermediate (kelas 6). Serta pendidikan setara SLTP di College

Station Junior High School pada tahun 1993-1999 di Amerika Serikat. Lalu meneruskan

SLTP kelas 2 di SLTP Cendrawasih II Tangerang kemudian kelas 3 di SLTP Negeri 1 Bogor.

Kemudian pada tahun 2001-2004 penulis meneruskan SLTA di SMU Negeri 7 Bogor. Tahun

2004, penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui Seleksi

Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis sempat menjadi asisten mata kuliah

Geomorfologi dan Analisis Lanskap dan Pengantar Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial

(PJIC), Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB pada tahun

2008.

Page 8: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, nikmat, dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini merupakan hasil penelitian sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Pertanian dari Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah mengenai Analisis Hubungan Antara

Penggunaan Lahan dan Bentuk Lahan di Wilayah Bandung Utara dan Kajian Resiko

Bencana Alam Vulkanik.

Selama melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak

bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Boedi Tjahjono, DEA sebagai pembimbing skripsi yang senantiasa

dengan sabar dan menyemangati memberikan arahan, bimbingan, saran, dan

motivasi sejak penelitian sampai akhir penulisan skripsi ini.

2. Ibu Dr. Khursatul Munibah, M.Sc. sebagai pembimbing skripsi yang telah

memberikan motivasi, arahan, serta saran dalam langkah-langkah skripsi selama

penulisan skripsi ini.

3. Bapak Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.Sc. sebagai pembimbing akademik juga

sebagai penguji dalam sidang skripsi ini yang telah memberikan bentuk dorongan,

arahan, serta pembelajaran selama bimbingannya kepada penulis.

4. Bapak Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc. yang telah memberikan bentuk dorongan,

arahan, dan semangat selama bimbingannya kepada penulis.

5. Staf Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi, Jurusan Tanah atas bantuan

dan informasi yang diberikan selama penelitian.

6. Bapak Dr. Ir. Bambang Gunadi, M.Sc. (daddy), Nunung Sumiarsih (mommy), drh.

Tanti Mulianti Gunadi, DVM (mba Tanti) , dan Trianto Adiputro Gunadi (otoy)

Page 9: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

atas segala doa, dorongan, dukungan, dan semangat, yang tiada henti selama

penulis menyelesaikan pendidikannya di IPB.

7. Keluarga Syarief Hidayat, BSc. dan keluarga R. Andi Rismansyah atas segala

dukungan, semangat, yang penuh dengan kesabaran sehingga penulis dapat

menyelesaikan pendidikan di IPB serta penulisan skripsi ini.

8. Keluarga besar R. Ahmadi dan keluarga besar R.E. Soelaeman Prawirasapoetra,

atas segala semangat, dukungan, dan doa kepada penulis.

9. Teman-teman satu laboratorium di Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial

(Alwan, Elissa, Nana, dan Nika) atas kekompakkan, dukungan, dan bantuannya.

Juga Mba Reni, Mba Ana, dan Mba Juju atas segala bantuannya dalam

penyelesaian skripsi ini.

10. Fremy, Meilina, dan Marni (my sisters!), Ronni dan Bachtiar (My brothers!) yang

telah memberikan dukungan dan persahabatan yang kuat hingga sekarang dan

seterusnya. Serta rekan-rekan SOILERS 41 (PATAK 41) atas kekompakkan dan

kerjasama yang akan selalu terkenang. VIVA SOIL! Juga temen-temen KKP ‘

NAMBO GENK’ atas kenangan-kenangan yang indah selama 2 bulan di desa

Sukajaya, Bogor.

11. Teman-teman dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang

membutuhkan, meskipun masih banyak hal-hal yang perlu dikaji lebih dalam. Untuk itu saran

dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.

Bogor, Februari 2009

Penulis

Page 10: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL v

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vii

I. PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Perumusan Masalah 2

1.3. Tujuan Penelitian 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 3

2.1. Penginderaan Jauh 3

2.1.1 Satelit SPOT 5

2.1.2. Satelit Landsat 5

2.2. Analisis Citra Digital 7

2.3. Interpretasi Visual 8

2.4. Pemilihan Saluran Kombinasi Multispektral 10

2.5. Fusi Citra 11

2.6. Penajaman Multispasial 12

2.7. Penutup/Penggunaan Lahan 12

2.8. Bentuklahan 12

2.9. Jenis-jenis Bentuklahan Berdasarkan Morfogenesis 13

2.10. Gunungapi Tangkuban Perahu 14

2.11. Kegiatan Gunung Tangkuban Perahu 14

III. BAHAN DAN METODE 18

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian 18

3.2. Bahan dan Alat Penelitian 18

3.3. Metode Penelitian 18

3.3.1. Persiapan 18

3.3.2. Pengumpulan Data 18

3.3.3. Pengolahan Data 19

Page 11: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

3.3.4. Analisis Data 21

3.3.5. Penyajian Hasil 23

IV. LOKASI PENELITIAN 25

4.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 25

4.2. Gambaran Umum Kabupaten Bandung 26

4.2.1. Gambaran Umum Kecamatan Lembang 26

4.2.2. Gambaran Umum Kecamatan Parongpong 27

4.2.3. Gambaran Umum Kecamatan Cisarua 28

4.2.4. Gambaran Umum Kecamatan Cimenyan 29

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 31

5.1. Pemilihan Saluran Kombinasi Multispektral 31

5.2. Karakteristik Penutup/Penggunaan Lahan Pada Citra 32

5.3. Penyebaran Penggunaan Lahan Tahun 1987 di Wilayah Studi 37

5.4. Penyebaran Penggunaan Lahan Tahun 2005 Verifikasi 2008 di Wilayah

Studi 38

5.5. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1987-2008 43

5.6. Kondisi Geomorfologi Daerah Penelitian 46

5.6.1. Morfologi 46

5.6.2. Morfogenesis 47

5.6.3. Morfokronologi 49

5.6.4. Batuan 49

5.7. Bentuklahan di Daerah Penelitian 51

5.8. Hubungan Bentuklahan dan Penggunaan Lahan 56

5.9. Bahaya dan Tingkat Bahaya Vulkanik 56

5.10. Resiko Bencana Vulkanik 61

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 67

6.1.Kesimpulan 67

6.2. Saran 68

VII. DAFTAR PUSTAKA 69

LAMPIRAN 72

Page 12: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

DAFTAR TABEL

No. Halaman

2.1. Saluran Citra dari Sensor Enhanced Thematic Mapper Plus (Landsat 7)

Serta Kegunaanya 6

2.2. Saluran Citra Dari Citr SPOT-1 7

2.3. Ikhtisar Letusan Gunung Tangkuban Perahu Yang Nyata 13

2.4. Sejarah Keaktifan Gunung Tangkuban Perahu 16

5.1. Nilai OIF Setiap Kombinasi Pada Citra Landsat ETM+ 2005 32

5.2. Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan dari Citra SPOT 1987 dan Luasannya 37

5.3. Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan dari Citra Landsat ETM+ 2005 Revisi 2008

dan Luasannya 43

5.4. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1987-2008 44

5.5. Sebaran Penggunaan Lahan Tahun 1987-2008 44

5.6. Jenis Bentuklahan Wilayah Penelitian 51

5.7. Hubungan Bentuklahan dan Penggunaan Lahan Tahun 2008 58

5.8. Nilai (scoring) Tingkat Bahaya Vulkanik 60

5.9. Tingkat Bahaya Bencana Vulkanik 60

5.10. Nilai (scoring) Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan 62

5.11. Kelas Kisaran Nilai Resiko dan Tingkat Resiko Bencana 63

5.12. Tingkat Resiko Bencana Vulkanik 63

Page 13: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

2.1. Sistem Penginderaan Jauh 4

2.2. G. Tangkuban Perahu Dilihat Dari Sisi Selatan (Cihideung, Parongpong) 14

3.1. Diagram Alir Tahapan Penelitian 24

4.1. Peta Lokasi Wilayah Penelitian 25

5.1. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Hutan Pada Citra dan di Lapangan 33

5.2. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Badan Air Pada Citra 33

5.3. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Perkebunan

Pada Citra dan di Lapangan 34

5.4. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Tegalan

Pada Citra dan di Lapangan 35

5.5. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Permukiman

Pada Citra dan di Lapangan 36

5.6. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Sawah Pada Citra 36

5.7. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Kawah Pada Citra 37

5.8. Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan dari Citra SPOT 1987 dan Luasannya 38

5.9. Citra Landsat Yang Digunakan Untuk Klasifikasi 39

5.10. Citra SPOT Yang Digunakan Untuk Klasifikasi 40

5.11. Sebaran Penggunaan Lahan Tahun 1987 Dari Citra SPOT 41

5.12. Sebaran Penggunaan Lahan Tahun 2008 Dari Citra Landsat 42

5.13. Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan dari Citra Landsat 2008 dan Luasannya 43

5.14. Contoh Gambar Penggunaan Lahan di Lapang 45

5.15. Peta Kelas Lereng Daerah Penelitian 48

5.16. Peta Geologi Daerah Penelitian 50

5.17. Peta Bentuklahan Daerah Penelitian 55

5.18. Peta Bahaya Bencana Daerah Penelitian 59

5.19. Jumlah Persen Tingkat Bahaya Bencana Vulkanik Setiap Kecamatan 60

5.20. Jumlah Persen Tingkat Resiko Bencana Vulkanik 63

5.21. Peta Tingkat Bahaya Vulkanik Daerah Penelitian 64

5.22. Peta Tingkat Resiko Bencana Vulkanik Daerah Penelitian 65

Page 14: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Gambar Lampiran 1: Contoh Gambar Morfogenesis 72

1. Bentuklahan Vulkanik Aktif (Gunungapi Tangkuban Perahu) 72

2. Bentuklahan Vulkanik Denudasional ( Gunung Burangrang) 72

3. Bentuklahan Tektonik (Patahan Lembang) 73

4. Bentuklahan Denudasional (Longsor Lahan) 73

Tabel Lampiran 1 : Kemiringan Lereng Setiap Kecamatan 74

Page 15: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Penggunaan lahan adalah setiap intervensi manusia terhadap lahan dalam memenuhi

kebutuhan hidupnya baik materi maupun spiritual (Arsyad, 1989). Penggunaan lahan

merupakan salah satu sumberdaya lahan yang cepat mengalami perubahan (dinamis).

Perubahan penggunaan lahan selain dipengaruhi oleh aktifitas manusia juga dipengaruhi sifat

fisik wilayah.

Wilayah Kabupaten Bandung bagian Utara merupakan wilayah yang paling dekat

dengan gunungapi Tangkuban Perahu yang merupakan gunungapi aktif (active volcano). Hal

ini dapat dilihat dari adanya rangkaian kegiatan aktifitas gunung ini seperti hujan abu tipis

pada tahun 1969, erupsi lumpur di Kawah Ratu pada tahun 1971, bahkan terjadi gejala

kenaikan aktifitas gunung pada tahun 2002 dan 2005. Dengan adanya aktifitas gunungapi juga

adanya sejarah letusan Gunungapi Sunda dan adanya patahan tektonik yang membentang

sepanjang Barat hingga Timur wilayah penelitian mengakibatkan terbentuknya banyak variasi

bentuklahan (landform) berkaitan dengan aktifitas-aktifitas tersebut. Vulkanisme berasal dari

adanya gaya yang bersifat endogenetik di alam dan sebagai hasil dari perubahan fisik maupun

kimia yang terjadi di bagian dalam bumi. Dengan adanya berbagai variasi bentuklahan yang

ada pada wilayah ini, banyak berpengaruh terhadap jenis penggunaan lahannya. Hal ini tentu

berkaitan dengan faktor proses geomorfik yang berlangsung di atas bentuklahan selain

dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti batuan induk wilayah, morfologi/topografi, serta

kondisi iklim yang ada di daerah penelitian.

Kegiatan gunungapi selain mempengaruhi topografi wilayah secara nyata, juga dapat

mengancam penduduk di sekitarnya dari bahaya erupsi gunungapi. Erupsi gunungapi tidak

dapat diprediksi kapan akan berlangsung, oleh karena itu mengantisipasi akan terjadinya

bencana tersebut menjadi sangat penting. Perencanaan tata ruang atau penggunaan lahan

wilayah di sekitar gunungapi aktif merupakan salah satu bentuk program mitigasi bencana.

1.2. Perumusan Masalah

Wilayah Bandung bagian Utara merupakan wilayah yang saat sekarang berkembang

menjadi daerah wisata, khususnya wisata gunungapi Tangkuban Perahu. Daya tarik wisata ini

Page 16: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

cukup besar karena wisatawan dapat dengan mudah mengunjungi puncak gunung Tangkuban

Perahu dengan kendaraan roda empat untuk melihat kawah kembar gunungapi tersebut Kawah

Upas dan Kawah Ratu atau hanya menikmati pemandangan pegunungan yang indah di

wilayah Lembang dan sekitarnya. Dengan besarnya arus wisatawan menuju ke daerah ini,

maka secara langsung akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan yang cenderung terus

berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam kehidupannya yang sesuai dinamika

sosial-ekonomi di sekitarnya.

Mengingat bahwa wilayah di sekitar Gunungapi Tangkuban Perahu termasuk ke dalam

daerah bahaya letusan vulkanik, sedangkan penggunaan lahannya terus mengalami perubahan,

maka melakukan studi tentang perubahan penggunaan lahan menjadi sangat menarik

dilakukan terutama dikaitkan dengan kondisi geomorfologi dan ancaman bahaya vulkanik.

1.3. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan latar belakang dan perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan

dari penelitian ini adalah:

1. Identifikasi dan pemetaan penutupan/penggunaan lahan pada 2 (dua) titik tahun yang

berbeda dengan menggunakan Citra SPOT (1987) dan Landsat ETM+ (2005).

2. Melakukan analisis hubungan antara penutupan/penggunaan lahan dengan bentuklahan.

3. Melakukan analisis dan pemetaan resiko bencana alam vulkanik yang terdapat di daerah

penelitian.

Page 17: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penginderaan Jauh (inderaja)

Penginderaan jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi

tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu

alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan

Kiefer, 1990).

Pengumpulan data penginderaan jauh dilakukan dengan menggunakan alat pengindera

atau alat pengumpul data yang disebut sensor. Sensor dipasang pada wahana (platform) dan

letaknya jauh dari obyek yang diindera. Tenaga elektromagnetik yang dipancarkan atau

dipantulkan oleh obyek akan ditangkap oleh sensor, sehingga dapat menghasilkan citra yang

sesuai dengan wujud aslinya. Setiap sensor mempunyai kepekaan spektral yang terbatas, tidak

ada satu sensorpun yang peka terhadap seluruh panjang gelombang elektromagnetik. Sensor

juga terbatas kemampuannya untuk mengindera obyek kecil. Batas kemampuan untuk

memisahkan setiap obyek dinamakan resolusi. Resolusi suatu sensor merupakan indikator

tentang kemampuan sensor atau kualitas sensor dalam merekam obyek. Di dalam citra,

resolusi merupakan parameter limit atau daya pisah obyek yang masih dapat dibedakan. Tiga

resolusi yang biasa digunakan sebagai parameter kemampuan sensor yaitu, resolusi spasial,

resolusi spektral, dan resolusi radiometric (Purwadhi, 2001).

Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga, baik secara alamiah maupun

buatan. Tenaga ini mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke

sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari obyek yang dipancarkan ke sensor.Sumber tenaga

alamiah yang baik adalah matahari.

Page 18: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 2.1. Sistem Penginderaan Jauh.

Jumlah tenaga matahari yang mencapai bumi dipengaruhi oleh waktu ( jam, musim) , lokasi,

dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima pada siang hari lebih banyak bila

dibandingkan dengan sore hari. Jumlah tenaga matahari yang diterima dipengaruhi oleh

kedudukan matahari terhadap tempat di bumi yang sesuai dengan perubahan musim juga oleh

letak tempat di permukaan bumi. Jumlah tenaga yang dapat mencapai bumi disajikan dalam

formula:

� � ����� ��

E = Tenaga yang mencapai bumi, f = fungsi, w = waktu (jam/musim pemotretan),

l = letak, c = kondisi cuaca.

Tenaga yang diterima oleh sensor dapat berupa tenaga pantulan maupun tenaga

pancaran yang berasal dari obyek di permukaan bumi. Semakin banyak tenaga yang diterima

oleh sensor akan semakin cerah wujud obyeknya pada citra (Sutanto, 1986).

Hasil perolehan tenaga yang diterima oleh sensor menghasilkan citra yang

menampilkan gambar keadaan wilayah yang diterima oleh sensor pada saat itu. Citra

kemudian dilakukan analisis dan interpretasi agar kemudian menghasilkan data informasi

seperti peta dan statistik untuk aplikasi yang menunjang untuk informasi lainnya.

Page 19: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

2.1.1. Satelit SPOT

Menurut Curran (1985, dalam Sutanto, 1987) ‘Le Systeme Probatoire d I’Observation

de la Terre’ atau disebut SPOT adalah suatu system satelit Perancis yang merupakan satelit

sumberdaya bumi pertama yang diluncurkan oleh Eropa pada tahun 1985. Nama tersebut

kurang lebih berarti Sistem Percobaan Pengamatan Bumi. SPOT dikelola oleh Centre

National d’Etudes Spatiales (CNES) atau Pusat Nasional Studi Antariksa Perancis yang

bekerja sama dengan Belgia dan Swedia. Seri SPOT dirancang untuk beroperasi hingga

dasawarsa 1990-an. SPOT-1 baru diluncurkan dengan berhasil pada tanggal 27 Februari1986,

dan mengorbit hampir poler, sinkron matahari, dengan ketinggian orbit 832 km. SPOT-1 ini

mempunyai frekuensi perekaman ulang atau resolusi temporal 26 hari, dilengkapi dengan dua

penyiam bentuk sapu, dua pita perekam, dan perlengkapan telemetri untuk mengirimkan data

ke stasiun penerima data di bumi (Purwadhi, 2001). Resolusi spasial citra SPOT-1 adalah 20

m x 20 m untuk band multispektral dan 10 m x 10 m untuk band pankromatik. Saluran

spectral masing-masing disajikan pada tabel 2.2 (www.spotimage.com).

2.1.2. Satelit Landsat

Landsat (Land Satellite) 1 merupakan satelit sumberdaya bumi pertama yang pada

awalnya bernama ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite-1) yang diluncurkan pada

tanggal 23 Juli 1972. Hingga kini, Landsat telah memiliki 7 seri yang diberi kode Landsat 1,

Landsat 2, Landsat 3, dan seterusnya.

Landsat merupakan satelit sistem pasif, yaitu satelit yang menggunakan sumber tenaga

alamiah berupa tenaga elektromagnetik ialah paket elektrisitas dan magnetisme yang bergerak

dengan kecepatan sinar pada frekuensi dan panjang gelombang tertentu, dengan sejumlah

tenaga tertentu (Chanlett, 1974 dalam Sutanto, 1986). Tenaga ini tidak tampak oleh mata. Ia

hanya tampak bila berinteraksi dengan benda-benda di atmosfer maupun di permukaan bumi.

Matahari memancarkan tenaga elektromagnetik ke segala arah, sebagian di antaranya

mencapai bumi (Sabin, Jr., 1978 dalam Sutanto, 1986). Landsat memiliki frekuensi

perekaman atau resolusi temporal 16 hari, dengan resolusi radiometrik yang mencakup 8 bit.

Landsat mencakup 7 band multispektral yang memiliki resolusi spasial sebesar 30 x 30 m dan

band pankromatik 15 x 15 m (Samsuri, 2004).

Page 20: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 2.1: Saluran citra dari sensor Enhanced Thematic Mapper Plus (Landsat 7) Serta kegunaan utamanya.

Saluran Kisaran Panjang Gelombang

Kegunaan Utama

1 0.45 – 0.52

Gelombang biru

Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan, tanah, dan vegetasi. Pembedaan vegetasi dan lahan.

2 0.52 – 0.60

Gelombang hijau

Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada saluran hijau yang terletak diantara dua saluran penyerapan. Pengamatan ini dimaksudkan untuk membedakan jenis vegetasi dan untuk membedakan tanaman sehat dan tidak sehat.

3 0.63 – 0.69

Gelombang merah

Saluran terpenting untuk membedakan jenis vegetasi. Saluran ini terletak pada salah satu daerah penyerapan klorofil dan memudahkan pembedaan antara lahan terbuka terhadap lahan bervegetasi.

4 0.76 – 0.90

Gelombang inframerah dekat

Saluran yang peka terhadap biomassa vegetasi. Juga untuk identifikasi jenis tanaman, memudahkan pembedaan tanah dan tanaman serta air.

5 1.55 – 1.75

Gelombang inframerah pendek

Saluran penting untuk penentuan jenis tanaman, kandungan air tanaman, kondisi kelembaban tanah.

6 10.40 – 12.50termal

Gelombang inframerah

Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi, pemisahan kelembaban tanah, dan sejumlah gejala lain yang berhubungan dengan panas.

7 2.085 – 2.35

Inframerah pendek Untuk membedakan formasi batuan dan untuk pemetaan hidrotermal

8 0.50 – 0.90 Saluran ini digunakan untuk meningkatkan resolusi spasial.

Pankromatik

Sumber: Lillesand dan Kiefer (1990, dalam Zakiah, 2007). Tabel 2.2 : Saluran citra dari citra SPOT-1

Mode Band Spektral (mikro

meter) Resolusi

XS Multispektral XS1 0,50 - 0,59 20 m

XS Multispektral XS2 0,61 - 0,68 20 m

XS Multispektral XS3 0,79 - 0,89 20 m

Panchromatique PAN 0,51 0,73 10 m

Sumber : SPOT Asia, 2006.

Page 21: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

2.2. Analisis Citra Digital

Citra digital merupakan citra yang elemen-elemenya dinyatakan dengan suatu besaran

numerik yang membentuk suatu array. Elemen citra ini disebut sebagai piksel (picture

element) yang merupakan bagian terkecil dari gambar citra yang mengandung informasi

(Murni, 1992).

Analisis citra digital (Image Processing) adalah proses analisis gambar, dimana bentuk

masukannya adalah suatu gambar atau suatu berkas citra digital dan bentuk keluarannya

adalah suatu deskripsi. Murni (1992) menjelaskan kelebihan dari analisis citra digital sebagai

berikut:

- Pengolahan data dalam jumlah besar dapat dilakukan lebih cepat dan konsisten;

- Dapat melakukan suatu analisis numerik dengan cepat dan konsisten;

- Menghasilkan informasi terkuantifikasi;

- Memudahkan integrasi informasi-informasi kuantitatif lainnya.

- Mampu menganalisis seluruh derajat kecerahan citra secara kuantitatif;

- Mampu menganalisis informasi spektral secara kuantitatif.

2.3. Interpretasi Visual

Interpretasi visual merupakan pembuatan atau mengkaji foto udara dan/atau citra

dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut

(Estes dan Simonett, 1975 dalam Sutanto, 1986).

Di dalam interpretasi citra, penafsir citra mengkaji citra dan berupaya melalui proses

penalaran untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan menilai arti obyek citra tersebut, dengan

kata lain penafsir citra berupaya untuk mengenali obyek yang tergambar pada citra dan

menterjemahkannya ke dalam disiplin ilmu tertentu seperti geologi, geografi, dan lainnya.

Di dalam pengenalan obyek yang tergambar pada citra diperlukan tiga rangkaian

kegiatan yaitu identifikasi, delimitasi, delineasi :

1. Identifikasi merupakan upaya mencirikan obyek yang telah terdeteksi dengan

menggunakan keterangan yang cukup (Sutanto, 1987).

2. Delimitasi merupakan proses pemisahan yang mengawali delineasi yaitu tahap

memisahkan sebaran antar kelas yang satu dengan kelas yang lainnya (Wiradisastra,

1978).

Page 22: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

3. Delineasi merupakan suatu bagian dari proses pembuatan peta, yaitu kegiatan yang

berhubungan dengan menarik batas antar satuan-satuan peta (Wiradisastra, 1978).

Hasil interpretasi citra sangat tergantung kepada penafsiran citra beserta tingkat

referensinya. Tingkat referensi ialah keluasan dan kedalaman penafsiran citra. Ada tiga

tingkat referensi yaitu tingkat referensi umum, lokal dan khusus. Tingkat referensi umum

yaitu pengetahuan umum penafsiran citra tentang gejala dan proses yang diinterpretasi.

Tingkat referensi khusus ialah pengetahuan yang mendalam tentang proses dan gejala yang

diinterpretasikan.

Sutanto, (1986) menunjukkan sembilan buah kunci unsur interpretasi citra secara visual yaitu:

1. Rona dan warna : Rona (tone/color tone/ grey tone) ialah tingkat kegelapan pada

citra. Rona pada foto pankromatik merupakan atribut bagi obyek yang berinteraksi

dengan seluruh spektrum tampak yang sering disebut sinar putih. Jadi rona merupakan

tingkatan dari hitam ke putih atau sebaliknya. Warna ialah wujud yang tampak oleh

mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak.

2. Bentuk : Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memeriksa konfigurasi atau

kerangka suatu obyek. Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak obyek

yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja.

3. Ukuran : Ukuran ialah atribut obyek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi,

lereng, dan volume. Karena ukuran obyek pada citra merupakan fungsi skala, maka

dalam memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu diingat

skalanya.

4. Tekstur : Tekstur ialah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan Kiefer,

1979) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan

secara individual ( Estes dan Simonett, 1975).

5. Pola : Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek

bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah.

6. Bayangan : Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di

daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada umumnya

tidak tampak sama sekali atau kadang-kadang tampak samar. Meskipun demikian,

bayangan sering merupakan kunci pengenalan yang penting bagi beberapa obyek yang

justru lebih tampak dari bayangannya.

Page 23: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

7. Situs : Bersama-sama dengan asosiasi, situs dikelompokkan ke dalam kerumitan yang

lebih tinggi. Situs diartikan dengan berbagai makna oleh berbagai pakar, salah satunya

adalah bahwa situs merupakan letak suatu obyek terhadap obyek lain disekitarnya

(Estes dan Simonett, 1975). Di dalam pengertian ini, Monkhouse (1974) menyebutnya

situasi, seperti misalnya letak kota (fisik) terhadap wilayah kota (administratif), atau

letak suatu bangunan terhadap persil tanahnya.

8. Asosiasi : Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antar obyek yang satu dengan

obyek yang lain. Karena adanya keterkaitan ini maka terlihatnya suatu obyek pada

citra sering merupakan petunjuk bagi adanya obyek lain.

9. Konvergensi bukti : Di dalam mengenali obyek pada foto udara atau pada citra

lainnya, dianjurkan untuk tidak hanya menggunakan satu unsur interpretasi citra.

Sebaliknya digunakan unsur interpretasi citra sebanyak mungkin. Semakin ditambah

jumlah unsur interpretasi citra yang digunakan, semakin menciut lingkupnya ke arah

titik simpul tertentu. Inilah yang dimaksud dengan konvergensi bukti (converging

evidence).

2.4. Pemilihan Saluran Kombinasi Multispektral

Menampilkan citra komposit dapat dilakukan dengan memilih kombinasi 3 saluran

yang dimasukkan ke dalam layer, yaitu merah, hijau, dan biru (Red Green Blue/RGB). Ketiga

layer ini merupakan warna dasar bagi pembentukan warna yang dapat dilihat di layar monitor.

Pemilihan jenis band menjadi pertimbangan dalam penggunaan data Landsat ETM+ yang

memiliki sistem sensor spektral. (Noviar 2004 dalam Zakiah 2007).

Masing-masing band pada Landsat 7 mempunyai informasi spektral dan kegunaan

yang berbeda seperti yang tercantum pada Tabel di bawah ini. Perbedaan ini dapat

dimanfaatkan untuk membedakan antara obyek yang satu terhadap obyek yang lain.

Putra (2003) menyatakan, berkaitan dengan reflektansi (sifat pantulan) obyek dan

karakteristik kanal yang dimiliki oleh Landsat ETM+, kombinasi optimum untuk

menampilkan citra komposit warna adalah dengan menggunakan 3 band yang terdiri atas satu

sinar tampak (band 1, 2, atau 3), satu band dari inframerah dekat (band 4), dan satu band dari

inframerah pendek (band 5 atau 7). Kombinasi ini cukup ideal karena menggunakan kanal-

kanal yang korelasi antar salurannya rendah dan simpangan baku nilai digital pixel (Digital

Page 24: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Number/DN) yang bersangkutan besar sehingga memberikan keterpisahan yang baik pada

saat klasifikasi.

Metode kuantitatif untuk memaksimalkan informasi 3 band komposit disebut Optimum

Index Factor (OIF) yang dikembangkan oleh Chavez et al. 1982 (dalam Wilkey and Finn,

1996). Metode ini digunakan untuk menentukan kombinasi band yang dapat menyajikan

informasi lebih banyak. OIF mampu mengurutkan kombinasi 3 kanal berdasarkan total

simpangan baku dan koefisien korelasi dari 3 saluran tersebut agar citra yang di-display

menyajikan informasi sebanyak mungkin. Semakin tinggi nilai OIF, maka semakin tinggi

pula variasi informasi yang disajikan. Secara matematis, OIF dihitung sebagai berikut:

�� � �

������������������������������

Dimana Si, Sj, dan Sk adalah simpangan baku band ke i, j, dan k, sedangkan rij, rik, dan

rjk adalah koefisien korelsi antar band.

2.5. Fusi Citra

Fusi citra merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk mengintegrasikan data

spasial sehingga informasi spasial dan spektral dari setiap data tersebut digabungkan untuk

menghasilkan data baru yang lebih baik (Jurio dan Van Zuidam, 1998 dalam Tejo, 2003). Ada

tiga metode yang dapat digunakan untuk fusi citra (resolution merge), yaitu Principal

Components Merge; Multiplicative; dan Brovey Transform.

Principal Components Merge merupakan metode penggabungan 2 citra yang memiliki

resolusi spasial yang berbeda dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal

Components Analysis/PCA). Karson (1982 dalam Putra, 2003) menyatakan bahwa tujuan

dilakukannya analisis komponen utama adalah untuk memperoleh peubah baru (komponen

utama) yang tidak saling berkorelasi tetapi menyimpan informasi yang terkandung pada

peubah asal.

Multiplicative merupakan suatu teknik fusi yang digunakan untuk meningkatkan

intensitas citra sehingga kenampakan kultural di permukaan bumi dipertegas pada citra

tersebut. (Zakiah, 2007).

Page 25: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Brovey Transform merupakan suatu teknik fusi yang telah dikembangkan untuk

meningkatkan kontras secara visual pada citra. Oleh sebab itu, metode ini tidak cocok bagi

mereka yang ingin tetap mempertahankan nilai radiometer yang asli. Berbeda dengan kedua

metode diatas, dalam metoe ini 3 band telah ditentukan terlebih dahulu untuk dimasukkan ke

dalam perhitungan matematis. (Zakiah, 2007).

2.6. Penajaman Multispasial

Penajaman multispasial merupakan satu atau banyak operasi yang dapat digunakan

untuk memproses gambar secara digital agar dapat membantu dalam interpretasi secara visual

atau mengekstrak informasi kuantitatif yang penting bagi pengguna.

Filtering merupakan salah satu dari proses penajaman citra yang bertujuan untuk

meratakan distorsi (smooth noise), enhance edges, juga menonjolkan (highlight) fitur-fitur

linear atau spasial dalam citra (ER Mapper, 2006).

2.7. Penutup/Penggunaan Lahan

Istilah penutup lahan berkaitan dengan jenis kenampakan yang ada di permukaan

bumi, sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan

tersebut. Informasi tentang penutup lahan pada umumnya dapat dikenali dengan mudah pada

citra penginderaan jauh. Untuk menafsir penggunaan lahan pada citra penginderaan jauh

didasarkan pada informasi penutup lahannya. Karena informasi penggunaan lahan pada citra

penginderaan jauh didasarkan pada informasi penutup lahannya. (Fakultas Geografi UGM –

Bakosurtanal, 2000). Contoh penutup/penggunaan lahan adalah hutan, semak belukar,

persawahan, permukiman, dan sebagainya.

2.8. Bentuklahan

Istilah bentuklahan memiliki berbagai arti tergantung dari sudut pandang disiplin ilmu

tertentu. Ahli geologi mendefinisikan bentuklahan dalam arti sifat-sifat permukaan yang

memberikan fakta mengenai struktur geologi dan corak-corak kerak bumi. Ahli kehutanan

mengartikan bentuklahan sebagai petunjuk penting baik mengenai sifat-sifat fisik dan kimia

tanah maupun arti yang dapat tampak dari suatu corak permukaan bumi atau kombinasinya.

Page 26: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Ahli tanah menekankan bentuklahan untuk pengenalan bahan induk tanah, tekstur tanah,

potensi kesuburan, kelembaban tanah, drainase tanah, dan tingkat kepekaan terhadap erosi.

2.9. Jenis-jenis Bentuklahan Berdasarkan Morfogenesis

Jenis-jenis bentuklahan menurut morfogenesisnya dapat dibagi menjadi 11 macam, yaitu

(Demek, 1972):

1) Bentuklahan asal proses tektonik : Bentuklahan yang terbentuk akibat dari adanya

proses endogenetik (tenaga/gerakan dari dalam bumi). Contoh bentuklahan asal

proses tektonik antara lain adalah patahan.

2) Bentuklahan asal proses magmatik : Bentuklahan yang terbentuk akibat terjadinya

proses endogenetik dan aktifitas hidro-thermal. Contoh bentuklahan asal proses

magmatik adalah gunungapi.

3) Bentuklahan asal proses fluvial : Bentuklahan yang terbentuk akibat adanya aktifitas

aliran air.

4) Bentuklahan Marin : Bentuklahan sekitar laut dan danau. Pembentukannya tidak

hanya pada pengaruh dari gelombang air laut tapi juga aktifitas fluvial dan eolian.

5) Bentuklahan Aeolin : Bentuklahan yang terjadi akibat angin yang mengikis batuan-

batuan dan memindahkan hasil kikisan ke area lain. Contoh bentuklahan ini adalah

sand dunes.

6) Bentuklahan Glasial : Bentuklahan yang terbentuk sebagai akibat dari aktifitas

gunung atau es kontinental.

7) Bentuklahan Lakustrin : Bentuklahan yang terbentuk akibat adanya genangan tubuh

air seperti danau.

8) Bentuklahan Denudasional : Bentuklahan yang mengalami proses erosi sehingga

terjadi degradasi.

9) Bentuklahan Biologik : Bentuklahan yang terbentuk akibat proses biologis dan

organisme.

10) Bentuklahan Pelarutan/Karst : Bentuklahan yang terbentuk akibat adanya proses

pelarutan oleh air. Salah satu contoh bentuklahan ini adalah terbentuknya sinkhole

pada dataran karst.

11) Antropogenik : Bentuklahan yang terbentuk akibat adanya perubahan aktivitas

manusia.

Page 27: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

2.10. Gunungapi Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu merupakan Gunungapi Strato dengan tipe kawah kembar

yang terletak pada posisi 6o46’ LS – 107o36’ BT, Kabupaten Bandung Barat Kecamatan

Lembang. Gunung ini muncul sebagai fase paling muda dari komplek gunungapi Sunda,

sebelah Utara Bandung, setelah ini runtuh dan mengalami sesar. Gunung ini memiliki dua

kawah utama yaitu Kawah Upas dan Kawah Ratu dan kelompok kawah parasiter yaitu Kawah

Jurig, Kawah Siluman, Kawah Jarian, Kawah Domas, dan Kawah Badak.

Gambar 2.2. G. Tangkuban Perahu di lihat dari sisi Selatan (Cihideung, Parongpong).

2.11. Kegiatan Gunungapi Tangkubanparahu

Gunungapi Tangkuban Perahu adalah gunungapi baru yang muncul dan membangun diri

di bagian sebelah Timur Kaldera Sunda.

Riwayat letusan Gunungapi Tangkuban Perahu dapat dibagi menjadi 3 perioda

berdasarkan coraknya yakni:

A. Fase eksplosifa (ledakan)

Selama fase ini bahan lepas segala ukuran bertubi-tubi dilontarkan, menutupi

gunungapi sekelilingnya dan dihanyutkan sebagai lahar.

B. Fase efusiva

Fase ini menghasilkan aliran lava yang bersusunan andesit olivin augit basaltik.

Puncak G. Tangkuban Perahu

Page 28: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

C. Fase pembentukan Gunung Tangkuban Perahu yang sekarang.

(Van Bemmelen 1934 dalam Kusumadinata, 1979)

Letusan Gunungapi Tangkuban Perahu selama ini pada umumnya kecil, dapat dibahas

oleh para ahli Belanda Junghuhn, Verbeek-Fennema dan Stehn. Sedangkan gas lemas yang

mengandung H2S, CO2 dan CO yang muncul di beberapa tempat sekitar puncak. Sejarah

aktifitas Gunungapi Tangkuban Perahu secara singkat disajikan pada tabel 2.2. Menurut

Kusumadinata, 1972 Letusan Gunungapi Tangkuban Perahu dewasa ini tergolong perioda C,

atau letusan esplosifa yang relatif kecil dan aliran lava tidak terjadi dan letusan kecil terjadi

tahun 1952.

Diperkirakan bahwa jangka waktu istirahat antara dua letusan yang besar dari Gunungapi

Tangkuban Perahu adalah antara 30-75 tahun sekali. Hal ini dapat dilihat dari ikhtisar letusan

Gunung Tangkuban Perahu yang nyata (Tabel 2.1).

Tabel 2.3. Ikhtisar Letusan Gunungapi Tangkuban Perahu Yang Nyata (Reskowirogo,1990)

TAHUN KETERANGAN

1829-

1846 Istirahat 17 tahun, kenaikkan kegiatan 1842.

1846-

1896

Istirahat selama 50 tahun, kenaikkan kegiatan tercatat selama 1862, 1864, 1888,

1891, 1892, dan 1895.

1896-

1900 Istirahat selama 4 tahun, kenaikkan kegiatan tercatat dalam 1908 dan 1909.

1900-

1952

Istirahat 52 tahun, kenaikkan kegiatan tercatat dalam 1913, 1920, 1926, 1929, dan

1935.

(?) Istirahat (?) tahun. Kenaikkan kegiatan atau letusan kecil tercatat dalam 1957,

1960, 1961, 1965, 1967, 1969, 1971, 1984, 1986, 2002, dan 2005.

Page 29: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 2.4. Sejarah Keaktifan Gunung Tangkuban Perahu

TAHUN KETERANGAN

1829

Antara 4-7 April, terus-menerus selama 3 hari 3 malam terjadi letusan abu dan

batu di Kawahratu dan Domas (Junghuhn, 1853). Neumann van Padang (1951,

p.81) menulis bahwa letusannya bersifat esplosi normal dan hanya terjadi di

Kawahratu.

1846 Erupsi dalam Kawahratu

1862 Kenaikkan kegiatan dalam Kawahratu dan Kawahupas

1887 Kenaikkan kegiatan dalam Kawahratu dan Kawahupas

1888 Kenaikkan kegiatan dalam Kawahratu dan Kawahupas

1910 Letusan dalam Kawahratu menghasilkan abu dan skorea

1929

Pada 20 Mei terjadi letusan lumpur dalam Kawahecoma (Natuurk. Tjidschr. Nedrl.

Ind. 1930), semprotannya mencapai ketinggian 10 m. Neumann van Padang

(1951, p.81) lagi mencantumkannya sebagai letusan phreatik.

1935

Kenaikan Kegiatan dalam Kawahratu. Terjadi sebuah celah di dasar Kawahratu,

sebelah Baratlaut Kawahecoma, selebar 1m dan sepanjang lk 50 m. Pada 27 April

muncu beberapa fumarola baru di sebelah Utara dalam Kawahbadak.

(Mandrapport Vulkanol. Onderz., April 1935)

1946-

1947

Kenaikkan kegiatan dalam Kawahratu, awan uap mencapai ketinggian lk 100 m.

Desember-Januari.

1950 Kenaikkan kegiatan (?)

1952

Kegiatan dalam Kawahratu. Pada 22 April tampak bara api pada kelompok

fumarola. Pada 9 Mei Kawahecoma giat, pada 11 Mei tampak awan hitam

mengepul setinggi lk 25 m. Hujan abu tipis sebelah Barat kawah (Suryo, 1952).

1957 Dalam Januari terjadi lubang letusan baru dalam Kawahbaru.

1952

Kegiatan dalam Kawahratu. Pada 22 April tampak bara api pada kelompok

fumarola. Pada 9 Mei Kawahecoma giat, pada 11 Mei tampak awan hitam

mengepul setinggi lk 25 m. Hujan abu tipis sebelah Barat kawah (Suryo, 1952).

1957 Dalam Januari terjadi lubang letusan baru dalam Kawahbaru.

1960 Kenaikkan kegiatan dalam Kawahratu, peluasan tembusan fumarola. Lahirnya

Lubangletusan 1 Mei.

1961 16 Juli, 1 Agustus.

1965 Februari, Maret, Oktober.

1967 April

1969 Kenaikkan kegiatan dalam Kawahratu. Hujan abu tipis mencapai perkebunan the

di sebelah Utara gunung. Mutu daun the karenanya turun.

Page 30: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 2.4. Lanjutan.

1971 Erupsi lumpur pada Kawahratu

1984 Kenaikkan kegempaan

1986 Kenaikan suhu solfatara pada Kawahratu

2002 Peningkatan kegempaan pada bulan Agustus-September

2005 Peningkatan kegempaan 13-15 April

Page 31: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian dilakukan dalam rentang waktu Juli-September 2008, sedangkan

lokasi penelitian meliputi empat kecamatan yaitu Kecamatan Lembang, Kecamatan

Cimenyan, Kecamatan Parompong dan Kecamatan Cisarua. Keempat kecamatan ini

merupakan wilayah yang paling dekat dengan Gunung Tangkuban Perahu yang termasuk

dalam wilayah Kabupaten Bandung (Kecamatan Cimenyan) dan Kabupaten Bandung Barat

3.2. Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan adalah Citra SPOT tahun 1987 dan Citra Landsat ETM+ tahun

2005. Peta Rupabumi skala 1:25000 Lembar Bandung, Lembar Cimahi, Lembar Lembang,

Lembar Ujungberung, Lembar Padalarang, Lembar Wanayasa, Peta Geologi Lembar Bandung

skala 1:100.000, Peta Bahaya bencana wilayah lokasi, GPS, dan camera digital.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari 5 tahap, yaitu (1) Persiapan, (2) Pengumpulan Data, (3)

Pengolahan Data, (4) Analisis Data, dan (5) Penyajian Hasil. Adapun diagram alir penelitian

disajikan pada Gambar 3.1.

Persiapan meliputi studi pustaka dan penentuan lokasi penelitian. Studi pustaka

dilakukan untuk mempelajari sumber-sumber yang mendukung pelaksanaan penelitian.

Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan sebagai wilayah yang banyak

memiliki perubahan penggunaan lahan serta wilayah yang dekat dengan gunung berapi

(Tangkuban Perahu).

Pengumpulan data dikelompokkan menjadi dua tahap yaitu di laboratorium dan di

lapangan. Pengumpulan data di laboratorium di antaranya meliputi interpretasi citra,

pembuatan peta kelas lereng digital menurut sistem klasifikasi U.S. Soil Survey Manual, ,

digitasi peta geologi, geomorfologi, dan bahaya vulkanik lembar Bandung. Interpretasi citra

digital untuk penutup/penggunaan lahan dari citra satelit. Sementara pengumpulan data di

lapang meliputi pengamatan dan pengecekan hasil interpretasi penutup/penggunaan lahan

1987 dan 2005 dengan kenyataan di lapangan serta melakukan wawancara dengan penduduk

Page 32: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

setempat mengenai penutup/penggunaan lahan saat sekarang dan di masa lalu. Masing-masing

titik wilayah dilakukan pengambilan gambar untuk dapat di sajikan dalam penyajian

hasil/laporan.

Pengolahan Data dilakukan dengan 3 tahap antara lain registrasi, fusi, dan

pemroresan citra digital.

Registrasi diawali dengan melakukan registrasi citra SPOT secara image to image

registration. Proses ini dilakukan dengan menggunakan software ERDAS IMAGINE 9.1

dimana citra SPOT dikoreksi dengan mengacu kepada citra Landsat ETM+ yang telah

terkoreksi. Hasil koreksi kemudian diperiksa tingkat kesalahannya melalui RMS error. Nilai

RMS error merupakan nilai tingkat koreksi geometri secara keseluruhan dimana rumusnya

adalah:

��������� � ����� � � ! �"� � "

x’,y’ = koordinat titik yang dianggap benar

x,y = koordinat titik hasil hitungan

(Sumber: Harintaka dan Kartini, 2001.)

Nilai RMS error sebaiknya <1, hal ini agar kesalahan titik dalam koreksi adalah tidak

lebih dari satu piksel. Bila lebih dari satu piksel, maka koreksi harus diulang kembali. Nilai

RMS error pada koreksi geometri citra SPOT adalah 0.95.

Fusi Dikarenaka Citra Landsat ETM+ dan citra SPOT memiliki resolusi yang berbeda,

maka citra Landsat dilakukan proses fusi citra melalui transformasi Brovey (Brovey

Transformation) dengan menggunakan software ERMapper 6.4. Sebelum melakukan fusi,

agar dapat menentukan kombinasi band yang terbaik, maka dilakukan pemilihan kombinasi

band multispektral dengan menggunakan rumus OIF. Nilai Standard Deviasi dan Korelasi

dapat ditentukan melalui software ER Mapper 6.4, dan nilai-nilai tersebut kemudian di

masukkan dalam perhitungan dengan menggunakan Microsoft Office Excel 2007.

Hasil yang didapat adalah bahwa kombinasi yang terbaik untuk citra Landsat adalah

kombinasi band 2-4-5.Fusi citra bertujuan untuk meningkatkan resolusi, karena citra SPOT

mempunyai resolusi spasial 20 m, sedangkan citra Landsat mempunyai resolusi spasial 30 m.

Dengan fusi citra Landsat dengan band pankromatiknya (resolusi spasial band 8 = 30 m) maka

resolusi citra Landsat yang dipakai menjadi 15 m. Proses fusi dilakukan dengan metode

Page 33: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Brovey dimana kombinasi band yang akan dipakai ditentukan dan digabungkan terlebih

dahulu (pada citra Landsat ini saya gabungkan band 2-4-5 terlebih dahulu). Lalu hasil

penggabungan 3 band tersebut di fusikan dengan band pankromatiknya (band 8).

Setelah melakukan registrasi citra SPOT dan fusi band pankromatik citra Landsat, maka

masing-masing citra dilakukan proses filtering yang bertujuan untuk meratakan distorsi

(smooth noise), enhance edges, juga menonjolkan (highlight) fitur-fitur linear atau spasial

dalam citra (ER Mapper, 2006).

Pemroresan Citra Digital Setelah proses filtering, maka proses klasifikasi siap untuk

dilakukan. Proses klasifikasi ini dilakukan dengan menggunakan software ERDAS IMAGINE

9.1.

Penggunaan lahan di wilayah studi dilakukan berdasarkngan hasil klasifikasi

terbimbing (supervised) pada Citra SPOT (1987) dan Citra Landsat ETM + (2005). Dalam

penelitian ini software yang digunakan untuk proses klasifikasi adalah ERDAS IMAGINE

9.1. Proses klasifikasi penggunaan lahan pada masing-masing citra dilakukan dengan

mengambil 10 contoh wilayah (polygon) untuk setiap jenis kelas penggunaan lahan (training

area).

Setelah menentukan polygon-polygon yang mewakili setiap training area, maka

dilakukan proses klasifikasi terbimbing (supervised classification) dengan menggunakan

parametric rule, parallelepiped. Setelah proses klasifikasi, ditentukan juga nilai akurasi

klasifikasi (accuracy assesment). Nilai akurasi pada hasil klasifikasi ditentukan berdasarkan

nilai Kappa, dimana semakin rendah nilai kappa maka semakin besar eror yang terjadi dalam

pemilihan polygon untuk training area. Nilai akurasi yang kurang dari 60 % (<60%) berarti

eror dalam klasifikasi adalah terlalu banyak sehingga perlu diulang. Nilai akurasi pada hasil

klasifikasi dengan masing-masing penentuan titik akurasi secara random dan jumlah poin 50

adalah 88% untuk citra Landsat, dan untuk citra SPOT 96%, sehingga tidak perlu dilakukan

pengulangan.

Agar dapat mempermudah dalam klasifikasi, hasil klasifikasi kemudian dilakukan post

classification dimana distorsi piksel-piksel disatukan dengan metode recode, clump, dan

eliminate. Clump adalah menggabungkan piksel-piksel yang sama menjadi satu kesatuan dan

eliminate adalah membuang piksel-piksel yang terlalu kecil hingga membaur kepada piksel

Page 34: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

disekelilingnya yang memiliki kesatuan yang lebih besar. Minimal piksel yang dapat

tergabung dalam eliminate adalah 10 piksel.

Analisis Data. Tahap ini meliputi analisis perubahan penutup/penggunaan lahan,

analisis kemiringan lereng setiap bentuklahan, analisis hubungan peggunaan lahan dengan

bentuklahan, analisis tingkat resiko bahaya bencana vulkanik , dan analisis tingkat resiko

bencana vulkanik di dareah penelitian.

Analisis perubahan penutup/penggunaan lahan dilakukan setelah melalui proses

klasifikasi dengan menggunakan software Erdas Imagine 9.1. Setelah dilakukan proses

klasifikasi masing-masing gambar kemudian dirubah ke dalam bentuk vector (shp) melalui

software Arcview GIS 3.3. Dengan menggunakan fitur xtools dari software Arcview tersebut,

maka luasan masing-masing penggunaan lahan baik dari tahun 1987 dan 2005 yang di revisi

menjadi tahun 2008 yang kemudian disebut peta penggunaan lahan tahun 2008 dapat

ditentukan. Kemudian masing-masing hasil vektor baik pada tahun 1987 dan 2008 kemudian

di overlay sehingga dapat menentukan adanya perubahan penggunaan lahan dari tahun 1987

hingga 2008. Data disajikan dalam luasan hektar, dan diolah menjadi bentuk tabel

menggunakan microsoft excel melalui fitur pivot table.

Analisis kemiringan lereng setiap bentuklahan diawali dengan merubah peta

bentuklahan (landform) analog menjadi bentuk vektor melalui Arcview. Hal ini dilakukan

melalui digitasi on screen. Kemudian membuat peta kelas lereng wilayah penelitian melalui

digitasi kontur dari peta Rupabumi Indonesia. Hasil digitasi kontur kemudian dibuat peta

DEM dan kemudian dibuat peta kelas lereng melalui fitur model builder yang ada pada

software Arcview. Kelas lereng wilayah penelitian adalah berdasarkan ketentuan dari US Soil

Survey.

Hasil digitasi dari peta bentuklahan dan kelas kemiringan lereng kemudian di overlay.

Luasan masing-masing bentuklahan juga luasan dari kelas kemiringan lereng ditentukan

melalui fitur xtools yang kemudian diolah menjadi bentuk tabel melalui pivot table di

microsoft excel. Data tabel memperlihatkan luasan bentuklahan yang paling dominan (dalam

bentuk hektar) yang ada pada kemiringan lereng tertentu, sehinnga dapat menentukan berapa

kelas lereng yang paling dominan ada pada setiap bentuklahan di wilayah penelitian.

Page 35: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Analisis hubungan penggunaan lahan dengan bentuklahan. Analisis ini dilakukan

melalui tumpang tindih antara peta bentuklahan dengan peta penutup/penggunaan lahan.

Tumpang tindih antara peta bentuklahan dengan peta penutup/penggunaan lahan dilakukan

untuk mendapat informasi hubungan antara faktor fisik wilayah yang berpengaruh terhadap

penutup/penggunaan lahan. Faktor fisik wilayah meliputi morfologi, morfogenesis,

morfokronologi, dan batuan yang kesemuanya merupakan parameter dari landform. Peta

penggunaan lahan yag digunakan adalah peta penggunaan lahan tahun 2008. Luasan masing-

masing bentuklahan dan penggunaan lahan ditentukan melalui fitur xtools dan disajikan dalam

bentuk tabel melaui pivot table pada microsoft excel. Tabel ini menyajikan luasan penggunaan

lahan yang paling dominan pada masing-masing bentuklahan, sehingga dapat ditentukan

bentuklahan yang paling dominan digunakan untuk penggunaan lahan tertentu, terutama untuk

jenis penggunaan lahan yang paling pesat perkembangannya di wilayah penelitian.

Analisis tingkat resiko bahaya bencana vulkanik diawali dengan mempersiapkan

peta tingkat bahaya bencana vulkanik analog menjadi dalam bentuk vektor melalui digitasi on

screen pada software Arc View. Kemudian dilakukan skoring dari peta tersebut. Dikarenakan

jenis bahaya vulkanik yang mengancam bersifat menumpuk atau serentak pada kenyataanya

dilapang, maka faktor skoring ditentukan berdasarkan banyaknya jumlah jenis bahaya yang

mengancam pada wilayah tertentu di wilayah penelitian. Dimana wilayah penelitian yang

paling banyak terancam oleh jenis bahaya penelitian menjadi wilayah yang paling bahaya

tingkat resikonya, sedangkan yang paling sedikit adalah yang paling rendah tingkat resiko

bahaya bencana vulkanik.

Analisis tingkat resiko bencana vulkanik di daerah penelitian. Analisis ini dilakukan

melalui perkalian nilai skoring tingkat resiko bahaya bencana vulkanik dengan nilai skoring

penggunaan lahan. Hasil perolehan skoring yang telah dikalikan kemudian dibagi melalui 30

interval sehingga menghasilkan 5 kelas. Skoring penggunaan lahan dilakukan dengan

pemberian nilai tertinggi untuk jenis penggunaan lahan yang paling banyak menyangkut jiwa

selanjutnya melaui nilai ekonomi pada jenis penggunaan lahan yang ada.

Penyajian Hasil adalah penyajian secara tertulis tentang hasil klasifikasi dan analisis

dan penyajiannya dalam bentuk peta-peta sehingga terbentuk sebuah laporan yang disajikan

dalam bentuk skripsi. Rangkaian metode penelitian ini disajikan secara diagrametis dalam

diagram alir seperti pada Gambar 3.1.

Page 36: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 3.1. Diagram Alir Tahapan Penelitian

Post Classification

Citra

Landsat ETM+ 2005

Multispektral Pankromatik SPOT 1987

Registrasi

Fusi Brovey

Pemroresan Citra Digital

Penggunaan Lahan 1987

Penggunaan Lahan 2005 Tentatif

Analisis Di Lapang

Penggunaan Lahan 2005 Rev. 2008

Penggunaan Lahan 1987

Tumpang Tindih

Analisis Perubahan

Penggunaan Lahan

Tumpang Tindih

Peta Bahaya Analog

Digitasi

Peta Bahaya Bentuk Digital

Skoring

Peta Tingkat

Bahaya Bencana

Hubungan Antara Penggunaan Lahan dengan

Bentuklahan

Bentuklahan Analog

Digitasi

Peta RBI

Digitasi Kontur

DEM

Bentuk Digital

Peta Bentuklahan

Kelas Lereng

Skoring

Peta Tingkat Resiko

Vulkanik

Page 37: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

IV. LOKASI PENELITIAN

4.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian terdiri dari sebagian wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten

Bandung Barat. Batas wilayah penelitian yang digunakan adalah pada tingkat administrasi

kecamatan yang tercakup dalam Peta Rupa Bumi Indonesia pada skala 1:25.000. Daerah

penelitian terletak diantara daerah-daerah administrasi lain, yaitu sebelah Utara berbatasan

dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta, di sebelah Barat berbatasan dengan

Kecamatan Padalarang, dan Kecamatan Cikalong Wetan, di sebelah Timur berbatasan dengan

Kecamatan Cilengkrang dan Kabupaten Sumedang, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan

Kecamatan Ngamprah, dan Kota Bandung (Gambar 4.1).

Gambar 4.1. Peta Lokasi Wilayah Penelitian

4.2. Gambaran Umum Kabupaten Bandung

Kabupaten Bandung memiliki luas wilayah 3.073,70 km2 dan terletak antara 60,41’ -

70,19’ LS dan 1070,22’ - 1080,5’ BT. Kabupaten Bandung berbatasan dengan Kabupaten

Page 38: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Purwakarta dan Kabupaten Subang disebelah Utara, Kabupaten Cianjur disebelah Barat,

Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut disebelah Timur, dan Kabupaten Garut dan

Kabupaten Cianjur disebelah Selatan, dan Kota Bandung dan Kota Cimahi di bagian Tengah.

Pada tahun 2006, kabupaten yang mempunyai kepadatan penduduk berkisar di atas

2.000 jiwa/km2 sebanyak 19 kecamatan yaitu : Cicalengka, Rancaekek, Majalaya,

Solokanjeruk, Ciparay, Baleendah, Banjaran, Cangkuang, Pameungpeuk, Katapang, Soreang,

Cihampelas, Margaasih, Margahayu, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Cileunyi, Ngamprah, dan

Padalarang. Dengan 3 Kecamatan yang memiliki kepadatan tertinggi yaitu Margaasih (6.648

jiwa/km2), Dayeuhkolot (10.255 jiwa/km2), dan Margahayu (10.861 jiwa/km2). (BPS

Kabupaten Bandung, 2007).

4.2.1. Gambaran Umum Kecamatan Lembang

Kecamatan Lembang memiliki luas wilayah 982.654 km2 dan terletak berbatasan

dengan Kabupaten Subang di bagianUtara, Kecamatan Parongpong di sebelah Barat,

Kabupaten Sumedang di bagian Timur, dan Kecamatan Cimenyan di sebelah Selatan.

Kecamatan ini mempunyai topografi dataran hingga dataran bergelombang dengan

kemiringan lereng dominan 22-55% dan elevasi antara 1.200 m sampai dengan 1.475 m dari

permukaan laut.

Pada tahun 2006, Kecamatan Lembang memiliki 16 desa dan tidak memiliki

kelurahan. Jumlah penduduk Kecamatan Lembang adalah 161.205 jiwa dengan jumlah

penduduk laki-laki 83.219 jiwa dan perempuan 77.906 jiwa. Kepadatan penduduk di

Kecamatan Lembang adalah 1.641 jiwa/km2. Kelompok umur produktif di kecamatan ini

antara lain, 46.833 jiwa untuk penduduk yang berusia 0 – 14 tahun, 107.198 jiwa untuk

penduduk yang berusia 15 – 64 tahun, dan 7.172 untuk penduduk yang berusia diatas 65

tahun.

Hingga tahun 2006, beberapa komoditas pertanian yang dapat dihasilkan di

Kecamatan Lembang antara lain Padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang

merah, bawang daun, bawang merah, kubis, tomat, cabe besar, kentang, kacang panjang,

buncis, dan labu siam. Di antara komoditi-komoditi tersebut, tanaman kubis adalah tanaman

yang paling menghasilkan yang ditanam di atas lahan dengan luas tanah sekitar 255 Ha dan

rata-rata produksi adalah 375 Kw/Ha.

Page 39: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Selain menghasilkan dalam bidang pertanian, Kecamatan Lembang dapat

menghasilkan produksi daging, susu, dan telur. Pada tahun 2006, jumlah hasil produksi antara

lain 1,831,148 kg daging, 35.022.111 kg susu, dan 127.902 kg telur. Jumlah hewan ternak

besar di Kecamatan Lembang antara lain untuk sapi perah 17.164 dengan 2.405 ekor jantan

dan 14.759 ekor betina. Dan untuk sapi potong 296 ekor dengan 147 ekor jantan dan 149 ekor

betina. Sedangkan jumlah hewan ternak kecil di Kecamatan Lembang adalah jenis hewan

ayam buras 145.351 ekor dengan 56.642 ekor jantan dan 88.704 ekor betina (BPS Kabupaten

Bandung, 2007).

4.2.2. Gambaran Umum Kecamatan Parongpong

Kecamatan Parongpong memiliki luas wilayah 433.938 km2 dan terletak berbatasan

dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta di sebelah Utara, Kecamatan Cisarua di

sebelah Barat, Kecamatan Lembang di sebelah Timur, dan Kota Bandung di sebelah Selatan.

Kecamatan ini mempunyai topografi dataran hingga dataran bergelombang dengan

kemiringan lereng dominan 6-13% dan elevasi antara 1.100 m sampai dengan 1.700 m dari

permukaan laut.

Pada tahun 2006, Kecamatan Parongpong memiliki 7 desa dan tidak ada kelurahan.

Jumlah penduduk Kecamatan Parongpong adalah 84.608 jiwa dengan jumlah penduduk laki-

laki adalah sebesar 43.660 jiwa dan perempuan sebesar 40.948 jiwa. Kepadatan penduduk di

kecamatan ini adalah 1,716 jiwa/km2. Kelompok umur produktif di kecamatan ini antara lain

adalah 25.546 jiwa untuk penduduk yang berusia 0 – 14 tahun, 55.790 jiwa untuk penduduk

yang berusia 15 – 64 tahun, dan 3.272 jiwa untuk penduduk yang berusia di atas 65 tahun.

Hingga tahun 2006, beberapa komoditas pertanian yang dapat dihasilkan di kecamatan

ini antara lain adalah padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, bawang daun, kubis, tomat, cabe

besar, sawi, kacang panjang, buncis, terung, bayam, labu siam, dan wortel. Diantara komoditi-

komoditi tersebut, tanaman labu siam merupakan tanaman yang paling menghasilkan produksi

terbesar dengan luas tanam 21 Ha, luas panen 16 Ha, produksi 209.570 Kw, dan rata-rata

produksi adalah 13.098 Kw/Ha.

Selain menghasilkan dalam bidang pertanian, Kecamatan Parongpong dapat

menghasilkan produksi daging, susu, dan telur. Pada tahun 2006, jumlah hasil produksi antara

lain 384.496 kg daging, 11.214.163 kg susu, dan 82.558 kg telur. Jumlah hewan ternak besar

Page 40: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

adalah untuk sapi perah 5.246 dengan 656 jantan dan 4.590 betina. Sedangkan jumlah hewan

ternak kecil adalah jenis hewan ayam buras 118.215 ekor dengan 33.629 ekor jantan dan

84.586 ekor betina (BPS Kabupaten Bandung, 2007).

4.2.3. Gambaran Umum Kecamatan Cisarua

Kecamatan Cisarua memiliki luas wilayah 553.641 km2 dan terletak berbatasan

dengan Kabupaten Purwakarta di sebelah Utara, Kecamatan Cikalong Wetan dan Kecamatan

Padalarang di sebelah Barat, Kecamatan Parongpong di sebelah Timur, Kota Bandung dan

Kecamatan Ngamprah di sebelah Selatan. Kecamatan ini mempunyai topografi dataran hingga

bergelombang dengan kemiringan lereng dominan 6-13% dan elevasi antara 1.000 m sampai

dengan 1.900 m dari permukaan laut.

Pada tahun 2006, Kecamatan Cisarua memiliki 8 desa dan tidak ada kelurahan. Jumlah

penduduk Kecamatan Cisarua adalah 62.212 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki adalah

sebesar 30.900 jiwa dan perempuan sebesar 31.312 jiwa. Kepadatan penduduk di kecamatan

ini adalah 1.124 jiwa/km2. Kelompok umur produktif di kecamatan ini antara lain adalah

15.038 jiwa untuk penduduk yang berusia 0 – 14 tahun, 42.642 jiwa untuk penduduk yang

berusia 15 – 64 tahun, dan 4.532 jiwa untuk penduduk yang berusia di atas 65 tahun.

Hingga tahun 2006, beberapa komoditas pertanian yang dapat dihasilkan di kecamatan

ini antara lain adalah padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, bawang daun,

kubis, tomat, cabe besar, sawi, kacang panjang, buncis, bayam, dan wortel. Diantara

komoditi-komoditi tersebut, tanaman tomat merupakan tanaman yang paling menghasilkan

produksi terbesar dengan luas tanam 56 Ha, luas panen 56 Ha, produksi 21.870 Kw, dan rata-

rata produksi adalah 390,54 Kw/Ha.

Selain menghasilkan dalam bidang pertanian, Kecamatan Cisarua dapat menghasilkan

produksi daging, susu, dan telur. Pada tahun 2006, jumlah hasil produksi antara lain 371.469

kg daging, 12.537.238 kg susu, dan 45.714 kg telur. Jumlah hewan ternak besar adalah untuk

sapi perah 6.187 ekor dengan 972 ekor jantan dan 5.215 ekor betina. Sedangkan jumlah

hewan ternak kecil adalah jenis hewan ayam buras 55.142 ekor dengan 19.521 ekor jantan dan

35.621 ekor betina (BPS Kabupaten Bandung, 2007).

Page 41: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

4.2.4. Gambaran Umum Kecamatan Cimenyan

Kecamatan Cimenyan mulai tahun 2008 mulai masuk kedalam Kabupaten Bandung

Barat. Kecamatan ini memiliki luas wilayah 528.712 km2 dan terletak berbatasan dengan

Kecamatan Lembang di sebelah Utara, Kecamatan Parongpong di sebelah Barat, Kecamatan

Cilengkrang dibagian Timur, dan Kota Bandung di sebelah Selatan. Kecamatan ini

mempunyai topografi bergelombang dengan kemiringan lereng dominan 22-55% dan elevasi

antara 812 m sampai dengan 1.550 m dari permukaan laut.

Pada tahun 2006, Kecamatan Cimenyan memiliki 7 desa dan 2 kelurahan. Jumlah

penduduk Kecamatan Cimenyan adalah 90.708 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 47.968

jiwa dan perempuan 42.740 jiwa. Kepadatan penduduk di Kecamatan ini adalah 1.716

jiwa/km2. Kelompok umur produktif di kecamatan ini antara lain adalah 22.132 jiwa untuk

penduduk yang berusia 0 – 14 tahun, 61.932 jiwa untuk penduduk yang berusia 15 – 64 tahun,

dan 6.644 jiwa untuk penduduk yang berusia diatas 65 tahun.

Hingga tahun 2006, beberapa komoditas pertanian yang dapat dihasilkan antara lain

padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang merah, bawang daun, bawang

merah, kubis, tomat, cabe besar, dan kentang. Diantara komoditi- komoditi tersebut, tanaman

kubis merupakan tanaman yang paling menghasilkan produksi terbanyak dengan luas tanam

yang digunakan adalah 138 Ha, Luas panen 245 Ha, produksi yang dihasilkan sebesar 72.479

Kw, dan rata-rata produksi adalah sebesar 296 Kw/Ha.

Selain menghasilkan dalam bidang pertanian, Kecamatan Cimenyan dapat

menghasilkan produksi daging dan telur. Pada tahun 2006, jumlah hasil produksi antara lain

7.081.998 kg daging dan 248.231 kg telur. Jumlah hewan ternak besar di Kecamatan

Cimenyan adalah untuk sapi potong 1.521 ekor dengan 621 ekor jantan dan 900 ekor betina.

Sedangkan jumlah hewan ternak kecil di Kecamatan Cimenyan antara lain untuk jenis hewan

ayam buras 56.008 ekor dengan 18.992 ekor jantan dan 37.016 ekor betina. Dan untuk ayam

petelur 23.022 ekor dengan 23.022 ekor betina (BPS Kabupaten Bandung, 2007).

.

Page 42: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pemilihan Saluran Kombinasi Multispektral

Pada penelitian ini dilakukan proses fusi terlebih dahulu terhadap citra Landsat ETM+

tahun 2005, hal ini dikarenakan resolusi citra Landsat (30 m) adalah lebih rendah di

bandingkan dengan resolusi citra SPOT (20 m), sehingga perlu dilakukan fusi. Pemilihan fusi

yang dilakukan untuk penelitian adalah dengan menggunakan metode Brovey (Brovey

Transformation) dimana pada metode ini, ditentukan terlebih dahulu kombinasi band yang

akan di pakai sebelum di lakukan fusi. Untuk menentukan kombinasi yang terbaik, ditentukan

berdasarkan nilai OIF.

Nilai OIF merupakan suatu metode kuantitatif memaksimalkan nilai kombinasi yang

terbaik untuk proses klasifikasi citra. Nilai OIF ditentukan dengan membagi antara nilai

standard deviasi dan nilai korelasi masing-masing citra pada setiap kombinasi yang ada

(rumus OIF pada Tinjauan Pustaka sub bab 2.4). Nilai standard deviasi dan nilai korelasi

dapat ditentukan melalui ER Mapper yaitu dengan mengkalkulasi nilai statistik citra. Hasil

nilai kalkulasi menampilkan nilai standard deviasi dan nilai korelasi pada setiap band yang

ada di citra. Dengan menggunakan rumus OIF, maka hasilnya adalah sebagai berikut (Tabel

5.1.)

Berdasarkan Tabel 5.1, dapat dilihat hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai OIF

yang tertinggi adalah pada kombinasi 123. Namun Kombinasi band 123 dan kombinasi lain

yang menggunakan band 1 tidak digunakan. Hal ini disebabkan band 1 memiliki kisaran

panjang gelombang yang kecil sehingga hamburannya tinggi. Maka meskipun nilai OIF

tinggi, tapi hasilnya akan tampak baur. Untuk itu, digunakan kombinasi band dengan nilai

OIF tertinggi selain dengan menggunakan band 1, pada hasil saya didapatkan kombinasi band

245 yang terbaik, dan kombinasi tersebut adalah yang digunakan untuk proses fusi.

Page 43: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 5.1. Nilai OIF setiap kombinasi pada Citra Landsat ETM+ 2005

Kombinasi jum std korelasi OIF

123 110,14 2,86 38,51

124 108,73 2,334 46,585

125 112,32 2,451 45,827

127 100,14 2,605 38,44

128 103,88 2,664 38,992

134 108,01 2,259 47,814

135 111,61 2,41 46,309

137 99,417 2,586 38,444

138 103,16 2,593 39,783

145 110,2 2,255 48,867

147 98,007 2,224 44,068

148 101,75 2,361 43,095

157 101,6 2,406 42,228

158 105,34 2,412 43,674

178 93,153 2,47 37,714

234 99,655 2,405 41,437

235 103,25 2,569 40,19

237 91,06 2,739 33,246

238 94,801 2,719 34,866

245 101,84 2,446 41,635

5.2. Karakteristik Penutupan Lahan/Penggunaan Lahan Pada Citra

Penggunaan Lahan yang didapatkan pada penelitian ini meliputi 7 kelas penggunaan

lahan antara lain (1) Badan air, (2) Hutan, (3) Perkebunan, (4) Tegalan, (5) Kawah, (6)

Permukiman, dan (7) Sawah. Masing-masing karakteristik pada masing-masing citra memiliki

kenampakan yang berbeda pada citra SPOT dan Landsat. (Gambar 5.1. dan Gambar 5.2).

Adapun karakteristik jenis penggunaan lahan pada masing-masing citra disajikan sebagai

berikut :

Hutan, kenampakan hutan di Citra SPOT berwarna biru sedangkan di citra Landsat

berwarna hijau gelap, dengan tekstur lebih kasar. Penutupan/Penggunaan Lahan dominan di

bagian Utara daerah penelitian dengan topografi berbukit. Hal ini dapat dilihat pada citra

pankromatik dimana kenampakan topografi terlihat secara lebih tegas. Berdasarkan

Page 44: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

pengecekan lapang, kawasan hutan didominasi oleh tanaman pinus. Adapun contoh

kenampakan di citra disajikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.1. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Hutan Pada Citra dan di Lapangan.

Badan air , kemanpakan badan air di citra SPOT berwarna gelap menyerupai

bayangan sedangkan di citra Landsat berwarna biru gelap. Badan air yang paling tampak pada

citra adalah di bagian Utara citra khususnya di danau Situ Lembang. Contoh kenampakan di

citra dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.2. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Badan Air Pada Citra.

Citra Landsat Band 542

Page 45: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Perkebunan, kenampakan perkebunan di citra SPOT berwarna biru cerah sedangkan

pada citra Landsat berwarna hijau cerah dengan tekstur halus. Perkebunan memiliki topografi

yang relatif berbukit. Perkebunan pada wilayah penelitian terletak di bagian Utara penelitian.

Berdasarkan hasil pengecekan di lapang, perkebunan didominasi oleh tanaman teh.

Kenampakan di Lapang (PTPN.Pangheotan)

Gambar 5.3. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Perkebunan Pada Citra dan di Lapangan.

Tegalan, kenampakan tegalan di citra SPOT dan citra Landsat memiliki karakteristik

yang sama dengan penutupan/penggunaan lahan perkebunan, namun dari asosiasinya tegalan

terletak di antara/relatif dekat dengan permukiman. Tegalan menempati topografi yang datar

hingga berbukit. Berdasarkan hasil pengecekan lapang, tanaman tegalan didominasi oleh

tanaman sayuran seperti kol, tomat, cabai, dan lejet. Adapun contoh kenampakan di citra

disajikan pada gambar di bawah ini.

Page 46: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.4. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Tegalan Pada Citra dan di Lapangan.

Permukiman, kenampakan permukiman di citra SPOT berwarna kuning cerah

sedangkan pada citra Landsat berwarna pink kemerahan. Penutupan/penggunaan lahan

permukiman menempati topografi yang datar. Pola permukiman cenderung mengelompok dan

berada pada wilayah yang datar, dominan pada bagian lereng tengah wilayah penelitian. Hasil

pengecekan lapang menunjukkan bahwa bangunan yang termasuk dalam kategori

permukiman adalah kompleks perumahan, rumah toko, dan tempat penginapan. Adapun

contoh kenampakan pada citra disajikan pada gambar dibawah ini.

Citra Landsat Band 542

Page 47: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.5. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Permukiman Pada Citra dan di Lapangan.

Sawah, kenampakan sawah di citra SPOT berwarna lebih cerah daripada tegalan dan

memiliki pola berpetak-petak (apabila di zoom-in) sedangkan pada citra Landsat berwarna

biru muda dan umumnya pada lembah-lembah bekas sungai. Hal ini juga dipastikan dengan

mencocokkan melalui data penggunaan lahan pada peta Rupabumi Indonesia tahun 2001.

Contoh kenampakan pada citra disajikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.6. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Sawah Pada Citra.

Citra Landsat Band 542

Page 48: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Kawah, kenampakan kawah di citra SPOT berwarna kuning menyerupai permukiman

sedangkan pada citra Landsat berwarna ungu. Kawah ini terletak di bagian Utara wilayah

penelitian dan merupakan kawah dari G. Tangkuban Perahu. Contoh kenampakan pada citra

disajikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.7. Kenampakan Penutupan/Penggunaan Lahan Kawah Pada Citra.

Hasil citra Landsat dan citra SPOT yang digunakan untuk proses klasifikasi dapat

dilihat pada Gambar 5.9 dan 5.10.

5.3. Penyebaran Penggunaan Lahan Tahun 1987 di Wilayah Studi

Penggunaan lahan 1987 diperoleh dari pemroresan citra digital citra SPOT 1987

dengan nilai kappa 96%. Hal ini berarti nilai akurasi hasil klasifikasi adalah bagus. Adapun

penyebaran penggunaan lahan tahun 1987 disajikan pada Gambar 5.11, sedangkan penyebaran

luas penggunaan lahan disajikan pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.8.

Tabel 5.2. Jenis Penutupan.Penggunaan Lahan dari Citra SPOT 1987 dan Luasannya

Penggunaan Lahan Luas (Ha) Luas (%)

Air 57.15 0.23

Hutan 9073.04 36.96

Lahan Terbuka/Kawah 30.39 0.12

Perkebunan 145.26 0.59

Permukiman 2115.12 8.62

Sawah 5938.09 24.19

Tegalan 7187.30 29.28

Jumlah 24546.36 100

Page 49: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.8. Jenis Penutupan/Penggunaan lahan dari Citra SPOT 1987 dan luasannya.

Berdasarkan pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.8 tampak bahwa hutan mendominasi

daerah penelitian seluas 9.073,04 Ha (36,96%). Luas penggunaan lahan hutan ini diikuti oleh

penggunaan lahan tegalan, sawah, dan permukiman masing

8,62%. Adapun grafik masing

5.4. Penyebaran Penggunaan Lahan Tahun

Studi

Penyebaran luas penutup/penggunaan lahan di daerah penelitian yang dihasilkan dari

citra Landsat tahun 2005 revisi 2008 disajikan pada Gambar 5.12.

klasifikasi penutup/penggunaan lahan dari citra Landsat tahun 2005 dan hasil cek lapangan

pada tahun 2008 (selanjutnya disebut penutup/penggunaan lahan 2008) terlihat bahwa

penutup/penggunaan lahan tegalan menempati luas yang paling besar, yaitu 12

49,98% dari luas total wilayah penelitian (Tabel 5.3

Jenis penggunaan lahan yang mendekati luas tegalan adalah penggunaan lahan hutan, seluas

(32.68%) disusul berturut-turut permukiman (15,14%), sawah (0,

tubuh air (0,16%), dan lahan terbuka/kawah (0,

0

2000

4000

6000

8000

10000

(Ha)

. Jenis Penutupan/Penggunaan lahan dari Citra SPOT 1987 danluasannya.

Berdasarkan pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.8 tampak bahwa hutan mendominasi

daerah penelitian seluas 9.073,04 Ha (36,96%). Luas penggunaan lahan hutan ini diikuti oleh

penggunaan lahan tegalan, sawah, dan permukiman masing-masing 29,28%, 24,19%,

8,62%. Adapun grafik masing-masing penggunaan lahan disajikan pada Gambar 5.8.

Penggunaan Lahan Tahun 2005 verifikasi 2008 di Wilayah

Penyebaran luas penutup/penggunaan lahan di daerah penelitian yang dihasilkan dari

citra Landsat tahun 2005 revisi 2008 disajikan pada Gambar 5.12. Berdasarkan hasil

klasifikasi penutup/penggunaan lahan dari citra Landsat tahun 2005 dan hasil cek lapangan

pada tahun 2008 (selanjutnya disebut penutup/penggunaan lahan 2008) terlihat bahwa

penutup/penggunaan lahan tegalan menempati luas yang paling besar, yaitu 12

al wilayah penelitian (Tabel 5.3).

Jenis penggunaan lahan yang mendekati luas tegalan adalah penggunaan lahan hutan, seluas

turut permukiman (15,14%), sawah (0,97%), perkebunan (0.95%),

6%), dan lahan terbuka/kawah (0,11%).

. Jenis Penutupan/Penggunaan lahan dari Citra SPOT 1987 dan

Berdasarkan pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.8 tampak bahwa hutan mendominasi

daerah penelitian seluas 9.073,04 Ha (36,96%). Luas penggunaan lahan hutan ini diikuti oleh

masing 29,28%, 24,19%, dan

masing penggunaan lahan disajikan pada Gambar 5.8.

2008 di Wilayah

Penyebaran luas penutup/penggunaan lahan di daerah penelitian yang dihasilkan dari

Berdasarkan hasil

klasifikasi penutup/penggunaan lahan dari citra Landsat tahun 2005 dan hasil cek lapangan

pada tahun 2008 (selanjutnya disebut penutup/penggunaan lahan 2008) terlihat bahwa jenis

penutup/penggunaan lahan tegalan menempati luas yang paling besar, yaitu 12.268,16 Ha atau

Jenis penggunaan lahan yang mendekati luas tegalan adalah penggunaan lahan hutan, seluas

erkebunan (0.95%),

Page 50: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

. Gambar 5.9. : Citra Landsat Yang Digunakan Untuk Klasifikasi Setelah Melalui Proses Fusi

dan Filtering.

Page 51: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.10. : Citra SPOT Yang Digunakan Untuk Klasifikasi.

Page 52: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.11. Contoh Penggunaan Lahan dan tampak pada Citra SPOT band 123

Page 53: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.12. Contoh Penggunaan Lahan dan tampak pada Citra Landsat ETM+ band 542

Page 54: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Berdasarkan Tabel 5.3 dan Gambar 5.13, penggunaan lahan untuk pertanian.(sawah dan

tegalan) masih dominan di daerah penelitian (sekitar 50%), namun mengalami penurunan

seluas 619.67 Ha atau 2.52%.

Tabel 5.3. Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan dari Ci

Penggunaan Lahan

Air

Hutan

Lahan Terbuka/Kawah

Perkebunan

Permukiman

Sawah

Tegalan

Jumlah

Gambar 5.13. Jenis Penutupan/Penggunaan lahan dari Citra LANDSAT ETM 2008 dan luasannya.

5.5. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1987

Berdasarkan Tabel 5.4, di antara 6 jenis penggunaan lahan yang ada, penggunaan lahan

sawah memiliki persentase perubahan penggunaan lahan yang paling ti

sebesar 23,22% (5.700,53 Ha).

mengalami pertambahan luas berturut

(5.080,86 Ha).

0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

14000

(Ha)

Berdasarkan Tabel 5.3 dan Gambar 5.13, penggunaan lahan untuk pertanian.(sawah dan

tegalan) masih dominan di daerah penelitian (sekitar 50%), namun mengalami penurunan

seluas 619.67 Ha atau 2.52%.

Tabel 5.3. Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan dari Citra Landsat ETM+ 2008 dan luasannya

Penggunaan Lahan Luas (Ha) Luas(%)

39,91

8.021,48

30,39

232,3

3.716,57

237,56

12.268,16

24.546,36

. Jenis Penutupan/Penggunaan lahan dari Citra LANDSAT ETMdan luasannya.

Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1987-2008

, di antara 6 jenis penggunaan lahan yang ada, penggunaan lahan

sawah memiliki persentase perubahan penggunaan lahan yang paling tinggi yaitu menurun

53 Ha). Sebaliknya penggunaan lahan permukiman dan tegalan

mengalami pertambahan luas berturut-turut sebesar 6,52 % (1.601,45 Ha) dan 20,70%

Berdasarkan Tabel 5.3 dan Gambar 5.13, penggunaan lahan untuk pertanian.(sawah dan

tegalan) masih dominan di daerah penelitian (sekitar 50%), namun mengalami penurunan

tra Landsat ETM+ 2008 dan luasannya

0,16

32,68

0,11

0,95

15,14

0,97

49,98

100

. Jenis Penutupan/Penggunaan lahan dari Citra LANDSAT ETM+

, di antara 6 jenis penggunaan lahan yang ada, penggunaan lahan

nggi yaitu menurun

Sebaliknya penggunaan lahan permukiman dan tegalan

turut sebesar 6,52 % (1.601,45 Ha) dan 20,70%

Page 55: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 5. 4. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1987-2008

Jenis Penggunaan

Lahan

1987 2008 Presentase

Perubahan Luas (Ha) Luas(%) Luas(Ha) Luas(%)

Air 57,15 0,23 39,91 0,16 -0,07%

Hutan 9.073,04 36,96 8.021,48 32,68 -4,28%

Kawah 30,39 0,12 30,39 0,11 Tetap

Perkebunan 145,26 0,59 232,30 0,95 0,35%

Permukiman 2.115,12 8,62 3.716,57 15,14 6,52%

Sawah 5.938,09 24,19 237,56 0,97 -23,22%

Tegalan 7.187,30 29,28 12.268,16 49,98 + 20,70%

Total 24.546,36 100 24.546,36 100

Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk setempat dan hasil analisis spasial,

terlihat bahwa pola perubahan penggunaan lahan di daerah penelitian bersifat bertahap, yaitu

penggunaan lahan sawah berubah menjadi tegalan, lalu tegalan berubah menjadi permukiman.

Sedangkan untuk penggunaan lahan hutan umumnya berubah menjadi tegalan. Perubahan

penggunaan lahan ini dapat pula disimak dari Tabel 5.5.

Tabel 5.5. Sebaran Penggunaan Lahan Tahun 1987-2008

(Angka cetak tebal = Total Luas Tahun 1987)

Berdasarkan Tabel 5.5 terlihat bahwa penyusutan penggunaan lahan sawah sebagian

besar berubah menjadi lahan tegalan (sebesar 3.796,47 Ha) dan ini seiring waktu akan

berubah lagi menjadi permukiman (sebesar 1.376,81 Ha). Hal ini dapat di lihat berdasarkan

hasil pengecekan lapang juga melalui wawancara dengan penduduk dimana banyak terbentuk

Penggunaan Lahan Tahun

1987

Penutupan Penggunaan Lahan Tahun 2008

Air Hutan Kawah Kebun

Permukima

n Sawah Tegalan

Air 57,15 -2,87 * * +2,89 -0,65 +8,96

Hutan -5,58

9.073,0

4 * +85,15 +209,25 -571,56

+1.302,2

9

Kawah * * 30,39 * * * *

Perkebunan * -50,85 * 145,26 +16,30 -0,04 +2,31

Permukiman -2,69 -100,23 * * 2.115,12 -1.376,81 +0,42

Sawah -0,61 -272,93 * +0,03 +1.372,59 5.983,09

+3.779,3

5

Tegalan -8,36 -624,68 * +1,86 +0,42 -3.796,47 7.187,30

TOTAL LUAS TAHUN 2008

(Ha) 39,91

8.021,4

8 30,39 232,30 3.716,57 237,56

12.268,1

6

Page 56: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

komplek perumahan baru yang dibangun di atas lahan yang dahulu merupakan tegalan. Selain

itu, daerah penelitian secara dominan menghasilkan tanaman-tanaman hortikultura seperti kol,

cabai, tomat, waluh, dan tanaman hias. Tanaman sayuran dapat menghasilkan 10 ton per hari,

sedangkan tanaman hias dapat dijual dengan harga 10.000-100.000 per satuan pot bunga yang

tergantung pada jenis tanamannya. Adapun contoh gambar di lapang disajikan di bawah ini.

Rumah Komplek Perumahan Pasir Tegalan Yang Ditanami Tanaman Tomat Kemiri Garden di Lembang di Desa Karyawangi

Rumah Semai Bibit Tanaman Hias

Di Desa Karyawangi

Gambar 5.14. Contoh Gambar Penggunaan Lahan di Lapang

5.6. Kondisi Geomorfologi Daerah Penelitian

Kondisi geomorfologi daerah penelitian berkaitan erat dengan sejarah geologi yang

berkembang di wilayah tersebut dimana proses vulkanisme mendominasi kenampakan

geomorfologi di daerah penelitian. Aspek-aspek geomorfologi yang diuraikan mencakup

morfologi, morfogenesis, morfokronologi, dan batuan.

Page 57: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

5.6.1. Morfologi

Sekurangnya morfografi daerah penelitian terdiri atas dataran, perbukitan,

pegunungan, dan lembah, sedangkan gambaran morfometri daerah penelitian disajikan dalam

bentuk peta lereng (Gambar 5.15) yang dapat dibedakan menjadi datar (0-2%), landai (2-6%),

agak miring (6-13%), miring (13-22%), sangat miring (22-55%), dan curam (>55%).

Berdasarkan Gambar 5.15, terlihat bahwa kelas kemiringan lereng yang dominan adalah

22-55% (sangat miring). Penyebaran kelas kemiringan lereng ini terutama berada di bagian

Utara daerah penelitian yang mempunyai ketinggian di atas 1.200 m dari permukaan laut dan

di bagian tenggara daerah penelitian yang dibatasi oleh patahan Lembang di bagian Utaranya

(daerah yang berwarna merah tua). Hal ini menunjukkan bahwa proses patahan dan

pengangkatan blok Selatan patahan menyumbang terhadap besarnya kemiringan lereng di

wilayah ini yang mempunyai ketinggian antara 700-1.400 m.

Morfologi dataran di daerah penelitian terletak di bagian tengah dan berbentuk

memanjang arah Timur-Barat (Daerah yang berwarna kuning-biru-hijau). Dataran ini terletak

di sebelah Utara patahan Lembang. Hal ini menunjukkan patahan yang mengalami penurunan

dan kemudian terisi oleh bahan-bahan piroklastik letusan G. Tangkuban Perahu. Menurut

Tjahjono (1998) wilayah ini terisi oleh endapan abu-batuapung (ignimbrite) dari hasil letusan

Gunungapi Sunda-Tangkuban Perahu dari beberapa periode letusan plinian, yaitu sekitar 100

ribu, 50 ribu, dan 35 ribu tahun yang lalu.

Morfologi perbukitan yang tampak di daerah penelitian adalah Gunung Putri yang

merupakan kerucut parasit G. Sunda yang saat sekarang sudah tidak aktif lagi. Selain itu

beberapa perbukitan kecil tampak berada di atas patahan Lembang seperti G. Batu dan yang

lainnya.

Morfologi pegunungan di daerah penelitian membujur dari Barat ke Timur di sepanjang

bagian Utara daerah penelitian. Morfologi ini merupakan bagian dari tubuh kompleks

gunungapi Sunda (Sunda Complex) yang terletak di bagian Utara Bandung (Van Bemmelen,

1949).

Morfologi lembah merupakan salah satu penciri bentuklahan yang berkembang di daerah

penelitian. Bentuklahan ini merupakan hasil proses erosi vertikal yang berkembang pada

sungai-sungai di daerah penelitian yang mengalir ke arah Selatan. Berhubung material batuan

Page 58: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

yang mengisi lembah-lembah sungai tersebut terdiri dari bahan ignimbrite maka hasil proses

erosi tersebut membentuk tebing-tebing lembah-lembah yang curam.

5.6.2. Morfogenesis

Morfogenesis bentuklahan di daerah penelitian didominasi oleh proses Vulkanik. Hal

ini sangat wajar disebabkan daerah penelitian merupakan bagian dari kompleks Gunungapi

Sunda. Namun demikian beberapa bentuklahan dari morfogenesis yang berbeda juga muncul,

seperti tebing patahan (fault scarp) yang dihasilkan oleh proses tektonik, dan dataran

Lakustrine yang dihasilkan dari proses genangan air (danau). Dataran ini terletak tepat di

bagian Utara patahan Lembang, yang mengindikasikan bahwa terbentuknya danau

diakibatkan oleh terbendungnya sungai yang berasal dari kompleks gunungapi Sunda oleh

adanya proses patahan yang menghasilkan tebing patahan Lembang. Danau tersebut saat

sekarang telah mengering dan menyisakan suatu dataran lakustrin (Tjahjono, 1998). Hal ini

dapat dilihat pada Gambar 5.17.

Page 59: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.15. Peta Kelas Lereng Daerah Penelitian

G. Tangkuban Perahu

G. Burangrang

G. Putri

G. Batu

Sumber Peta : (Tjahjono, 1998)

Page 60: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

5.6.3. Morfokronologi

Berdasarkan Peta Geologi, daerah penelitian (Gambar 5.16) seluruh bentuklahan di

daerah penelitian terbentuk pada zaman quarter (Quarternary), sedangkan Kerucut Vulkanik

Aktif Tangkuban Perahu terbentuk pada zaman Pleistosen-Halosen. Kerucut tersebut

terbentuk setelah terjadinya Kaldera Gunung Sunda pada zaman Pleistosen dan berkembang

hingga sekarang.

5.6.4. Batuan

Berdasarkan pada Peta Geologi pada Gambar 5.16. Jenis batuan induk pada wilayah

penelitian dapat dibedakan menjadi 6 formasi, yang diberi kode Qob, Qvu, Qyd, Qyl, Qyt,

dan Qyu. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Qob (Hasil gunungapi yang lebih tua)

Breksi dan lahar dan pasir tufa berlapis-lapis dengan kemiringan yang kecil.

2. Qvu (Hasil gunungapi yang lebih tua)

Breksi gunungapi, lahar, dan lava berselang-seling.

3. Qyd (Tufa pasir) Tufa pasir coklat sangat sarang, mengandung kristal-kristal hornblende

yang kasar, lapisan lapilli, breksi, dan lahar lapuk kemerah-merahan.

4. Qyl (Hasil gunungapi tua, lava)

Lava menunjukkan kekar lempeng dan kekar tiang. Susunannya basal dan sebagian telah

terpropilitisasikan.

5. Qyt (Tufa berbatu apung)

Pasir tufaan, lapilli, bom-bom, lava berongga dan kepingan-kepingan andesit-basal padat

yang bersudut dengan banyak bongkah-bongkah dan pecahan batuapung. Berasal dari

G.Tangkuban Perahu.

6. Qyu (Hasil gunungapi tua tak teruraikan)

Pasir tufaan, lapilli, breksi, lava, aglomerat. Sebagian berasal dari G. Tangkuban Perahu

dan sebagian dari G. Tampomas.

Page 61: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.16. Peta Geologi Daerah Penelitian

Sumber Peta : Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (1973)

Page 62: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

5.7. Bentuklahan Di Daerah Penelitian

Berdasarkan kondisi geomorfologi tersebut, daerah penelitian dibagi dalam beberapa

jenis bentuklahan yang selengkapnya disajikan pada Gambar 5.17 sedangkan luasannya

disajikan pada Tabel 5.6. Dari tabel tersebut terlihat bahwa bentuklahan Lereng Tengah

Kompleks Sunda merupakan bentuklahan terluas di daerah penelitian, yaitu 211,64 Ha

(45,12%).

Tabel 5.6. Jenis Bentuklahan Wilayah Penelitian

Jenis Bentuklahan di

Wilayah Penelitian Luas(Ha) Luas(%)

Danau 47,82 0,19

Dataran Dasar Kaldera 222,08 0,90

Dataran Laharik 192,49 0,78

Dataran Lakustrin 166,23 0,68

Dinding Kaldera

Gunung Sunda 186,23 0,76

Kerucut Lava

Denudasional 457.49 1,86

Kerucut Vulkanik

Denudasional 4.000,83 16,30

Kerucut Vulkanik

Gunung Tangkuban

Perahu 1.267,27 5,16

Lembah Ignimbritik

Denudasional 3.526,83 14,37

Lereng Talus Tebing

Kaldera 211,64 0,86

Lereng Tengah

Kompleks Sunda 11.076,49 45,12

Longsor Lahan 100,27 0,41

Plateau Ignimbritik 3.002,79 12,23

Tebing Patahan

Lembang 87,90 0,36

Grand Total 2.4546,36 100,00

Bentuklahan di wilayah penelitian terdiri dari 13 jenis seperti yang tersaji pada Gambar

5.17. Karakteristik singkat dari masing-masing bentuklahan diuraikan sebagai berikut

(Tjahjono, 1998) :

Page 63: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Dataran Dasar Kaldera. Bentuklahan ini terletak di sekitar lereng kaki kerucut vulkanik

Tangkuban Perahu yang mempunyai morfologi dataran atau mempunyai kelas lereng 0-2 %.

Bentuklahan ini merupakan endapan piroklastik yang tersusun atas bahan abu-batuapung

(ignimbrite) hasil letusan Gunungapi Sunda yang terperangkap di dalam kaldera Sunda. G.

Tangkuban Perahu sendiri lahir di dalam kaldera Sunda dan menempati sisi Timur, sehingga

pada sisi Barat dan Selatan masih menyisakan dasar dari kaldera yang dikelilingi oleh tebing

kaldera yang curam dan berbentuk melingkar di sisi Utara.

Dataran Laharik. Bentuklahan ini terletak di sekitar lereng kaki kerucut vulkanik

Tangkuban Perahu bagian Utara. Mempunyai bentuk seperti kipas dan di lapangan terdiri atas

bongkahan-bongkahan batuan vulkanik. Bentuklahan ini memiliki topografi yang relatif datar

dengan kemiringan lereng 6 – 13%. Dataran ini merupakan dataran hasil dari endapan laharik

dari G. Tangkuban Perahu.

Dataran Lakustrin. Dataran ini terletak di bagian tengah daerah penelitian. Dataran ini

memiliki topografi relatif datar dengan kemiringan lereng pada kelas kemiringan 6 – 13%.

Dataran ini merupakan dataran hasil pengendapan genangan air danau pada masa lampau yang

terbentuk karena tertahannya aliran air sungai diakibatkan oleh terbentuknya tebing patahan

Lembang. Seiring dengan waktu, air mencapai suatu celah dan membentuk aliran baru

sehingga air danau tersebut menyurut dan meninggalkan dasar danau yang berbentuk dataran.

Dinding Kaldera G.Sunda. Bentuklahan ini terdapat di bagian Utara wilayah penelitian,

memiliki topografi berbukit dan curam dan memiliki kelas kemiringan lereng 22 – 55%.

Bentuklahan ini merupakan bagian dari kaldera G. Sunda yang runtuh dan berbentuk dinding

yang melingkar, namun dinding di bagian Selatan dan Timur terkubur oleh endapan

ignimbritik.

Kerucut Lava Denudasional. Bentuklahan ini terletak di sepanjang patahan Lembang

yang merupakan bekas kerucut lava parasit dari G.Sunda yang terbentuk melalui celah

(lineament) Lembang pada saat patahan belum terjadi. Pada saat patahan tersebut terbentuk

maka sebagian dari tubuh kerucut lava tersebut terangkat dan sebagian yang lain turun. Yang

terakhir ini akhirnya terkubur oleh endapan ignimbrite. Gunung Batu di Lembang merupakan

contoh dari bentuklahan ini yang memiliki topografi yang berbukit dengan kemiringan lereng

dominan 22 – 55%.

Page 64: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Kerucut Vulkanik Denudasional. Bentuklahan ini terletak di sepanjang bagian Utara

wilayah penelitian, di sebelah Selatan Dataran Dasar Kaldera hingga di ujung Timur.

Bentuklahan ini merupakan bagian dari kerucut G.Sunda dan gunungapi-gunungapi lain di

Kompleks Sunda. Bentuklahan ini memiliki topografi yang berbukit dengan kemiringan

lereng dominan 22-55% dan tersusun oleh perselingan batuan lava dan piroklastik.

Kerucut Vulkanik G. Tangkuban Perahu. Bentuklahan ini terletak di bagian Utara

wilayah penelitian dan merupakan bagian dari kerucut G. Tangkuban Perahu. Gunungapi ini

merupakan gunungapi yang terbentuk di dalam kaldera G.Sunda yang dekat dengan dinding

bagian Timur. Topografi bentuklahan ini berbukit dengan kemiringan lereng yang relatif

curam antara 22 – 55%. G. Tangkuban Perahu merupakan gunungapi strato-volkano yang

berstatus aktif hingga saat ini.

Lembah Ignimbritik Denudasional. Lembah ini berada pada bagian tengah dan bagian

Selatan wilayah penelitian. Lembah-lembah ignimbritik merupakan lembah-lembah hasil erosi

dari sungai-sungai yang mengalir ke arah Selatan. Berhubungan endapan yang dikikis

merupakan endapan ignimbritik atau mengandung batu apung maka dinding-dinding lembah

tersebut tersusun dari endapan ignimbrite. Dinding-dinding lembah memiliki kemiringan

lereng yang relatif curam yaitu 22 -55%.

Lereng Talus Tebing Kaldera. Bentuklahan ini terletak di bawah tebing kaldera. Lereng

ini terbentuk oleh proses pengendapan hasil erosi dan jatuhan (fall) yang terjadi dari dinding

kaldera. Kemiringan lereng dataran ini cukup tinggi yaitu ada pada kemiringan lereng 22 – 55

%. Pada bentuklahan ini banyak ditemui bongkah-bongkah batuan dan kerikil.

Lereng Tengah Komplek Sunda. Bentuklahan ini berada di bagian Selatan Kerucut

Vulkanik Denudasional yang memiliki topografi relatif berbukit dengan kemiringan lereng

dominan 22 – 55 %. Lereng ini sebenarnya merupakan bagian dari lereng G.Sunda dan

gunungapi-gunungapi lainnya di dalam Kompleks Sunda, yang terpatahkan dan terangkat oleh

proses tektonik yang melahirkan patahan Lembang. Bentuklahan ini juga tersusun oleh batuan

lava dan piroklastik yang telah lapuk menjadi tanah.

Longsor Lahan. Bentuklahan ini ada pada bagian Utara wilayah penelitian pada sisi

bagian Barat Kerucut Vulkanik Tangkuban Perahu. Bentuklahan ini memiliki topografi yang

relatif datar dan pada kemiringan lereng 6 – 13%. Bentuklahan ini merupakan hasil endapan

Page 65: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

dari longsor yang terjadi dari bagian-bagian kerucut vulkanik G.Tangkuban Perahu. Pada

bentuklahan ini di temukan banyak bongkahan-bongkahan batuan lava.

Plateau Ignimbritik. Dataran ini terletak di bagian tengah wilayah penelitian yang

memiliki kemiringan lereng relatif datar yaitu antara 0 – 2%, 2 – 6% dan 6 – 13%. Dataran ini

merupakan hasil dari endapan aliran piroklastik ignimbritik dari letusan G.Sunda yang

terperangkap di dalam blok patahan Lembang yang turun. Oleh karena itu bentuklahan ini

mempunyai topografi yang relatif datar.

Tebing Patahan Lembang. Tebing ini terbentang memanjang di bagian tengah wilayah

penelitian yang memiliki kemiringan lereng yang curam yaitu >55%. Tebing patahan di

daerah Timur adalah yang paling menonjol dikarenakan mempunyai ketinggian lebih dari 100

m dibandingkan dengan tebing yang berada di bagian Barat. Berhubung bentuklahan ini

terlihat vertikal, maka pada peta hanya terbentuk garis atau polygon yang sempit memanjang.

Tebing ini tersusun atas batu lava dan endapan piroklastik.

Page 66: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.17. Peta Bentuklahan Daerah Penelitian

Sumber Peta : (Tjahjono, 1998)

Page 67: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

5.8. Hubungan Bentuklahan dan Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan merupakan hasil aktifitas manusia di atas bentuklahan, oleh sebab itu

hubungan antara keduanya cukup bervariasi tergantung pada kondisi sosial budaya

masyarakat dan geomorfologi wilayahnya.

Berdasarkan hasil Tabel 5.7, penggunaan lahan tegalan merupakan penggunaan lahan

yang paling banyak tersebar di berbagai bentuklahan, yaitu lebih dari 45% menempati

bentuklahan plateau ignimbritik, lereng tengah kompleks Sunda, lereng talus tebing kaldera,

lembah ignimbritik denudasional, dataran lakustrin, dan dataran

dasar kaldera. Adapun penggunaan lahan permukiman paling banyak menempati bentuklahan

plateau ignimbritik dan dataran lakustrin, yaitu menempati lebih dari 25% dari luas masing-

masing bentuklahan tersebut.

Hal ini disebabkan penggunaan lahan tegalan tidak mempunyai kendala morfologi

bentuklahan (pada berbagai kemiringan lereng), sedangkan permukiman mempunyai kendala

morfologi yaitu hanya pada morfologi yang datar.

5.9. Bahaya dan Tingkat Bahaya Vulkanik

Pada daerah penelitian terdapat 7 jenis bahaya vulkanik yang mengancam dan dapat

menimpa di dalam wilayah penelitian, yaitu bahaya gelombang piroklastik, bahaya jatuhan

piroklastik, bahaya jatuhan batu apung, bahaya aliran lahar, bahaya aliran lava, dan bahaya

aliran piroklastik (Tjahjono, 1998). Wilayah yang terancam oleh bahaya vulkanik tersebut

disajikan pada Gambar 5.18.

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Bahaya Gelombang Piroklastik

Bahaya aliran turbulen suspensi campuran gas dan padatan yang bergerak di atas

permukaan tanah yang dikaitkan dengan kecepatan tinggi oleh pelepasan gas yang mendadak

yang tidak terlalu mengikuti topografi sebagaimana aliran piroklastik.

2. Bahaya Jatuhan Piroklastik

Bahaya tephra yang dilontarkan pada sudut tinggi dan diendapkan setelah jauh melewati

atmosfer.

Page 68: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

TABEL 5.7.

Tabel 5.7. Hubungan Bentuklahan dan Penggunaan Lahan Tahun 2008

HUBUNGAN BENTUKLAHAN DAN PENGGUNAAN LAHAN TAHUN 2008 (%)

Jen

is P

enggunaan

Lahan 2

008

Danau

DD

KA

L

D.L

HR

D.L

AK

Di.K

AL

SU

N

K.L

VD

N

K.V

DN

K.V

TP

LB

.IG

NM

DN

LR

GTL

UST

BK

AL

LT

TG

HK

MSU

N

AIR 0.38 17.1 0.05

HTN 80.99 4.82 76.38 1.02 98.04 37.6 65.97 83.43 18.06 27.65 22.21

KWH 2.35

KBN 46.97 0.02 18.12 0.01 14.38 13.43 9.62 12.65 19.41 10.91

PRMKMN 2.28 26.86 8.52 2.5 0.34 22.8 0.279 17.23

SWH 0.03 0.52 1.8

TGLN 18.63 45.93 6.5 54 1.95 18.07 4.26 45.97 52.67 47.81

Keterangan : DDKAL = DATARAN DASAR KALDERA K.LVDN = KERUCUT LAVA DENUDASIONAL LRGTLSTBGKAL = LERENG TALUS TEBING KALDERA D.LHR = DATARAN LAHARIK K.VDN = KERUCUT VULKANIK DENUDASIONAL LONGLHN = LONGSOR LAHAN D.LAK = DATARAN LAKUSTRIN K.VTP = KERUCUT VULKANIK TANGKUBAN PERAHU PLTIGNM = PLATEAU IGNIMBRITIK D.KALSUN = DINDING KALDERA G. SUNDA LB.IGNMDN = LEMBAH IGNIMBRITIK DENUDASIONAL TBPTHLMB = TEBING PATAHAN LEMBANG

Page 69: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

3. Bahaya Aliran Piroklastik

Bahaya kepingan padat, dengan/ tanpa partikel yang mencair, tersuspensi dalam gas yang

panas dan mengembang didorong oleh gaya gravitasi bergerak/ mengalir secara turbulen di

atas permukaan tanah.

4. Bahaya Aliran Lahar

Aliran bahan rombakan dari gunungapi yang heterogen bercampur dengan air pada suhu

lebih rendah dari titik didih, mungkin dibentuk selama letusan atau proses setelahnya karena

lereng yang tidak stabil.

5. Bahaya Aliran Lava

Bahaya ini berupa aliran batuan cair pijar yang keluar dari sumber vulkanik dan menuruni

lereng melalui lembah yang ada.

6. Bahaya Jatuhan Batu Apung

Bahaya ini berupa jatuhan gelas felsic sangat berongga dengan komposisi menengah

sampai silika, yang berhubungan dengan letusan eksplosif magma kental yang kaya akan gas.

(letusan Plinian).

(Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir, 2008) dengan modifikasi.

Agar dapat melihat tingkat bahaya vulkanik yang menimpa daerah penelitian, maka

dilakukan pemberian nilai (scoring) yang ditentukan berdasarkan jumlah jenis bahaya yang

menimpa suatu area tertentu di wilayah penelitian dimana tingkat tertinggi merupakan area

yang paling banyak diancam oleh proses vulkanik, sedangkan tingkat terendah adalah yang

paling sedikit diancam oleh jenis bahaya. Mengingat bahwa sebagian besar jenis bahaya

vulkanik ini dapat terjadi bersamaan, dan dapat membahayakan jiwa maupun merusak

bangunan, maka jenis bahaya vulkanik ini tidak di beri bobot dalam penelitian ini atau

dianggap mempunyai bobot yang sama. Nilai scoring yang ditentukan adalah sebagai berikut.

(Tabel 5.8).

Page 70: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.18. Peta Bahaya Bencana Daerah Penelitian

Page 71: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 5.8. Nilai (scoring) Tingkat Bahaya

Tingkat Bahaya Vulkanik

Tinggi Agak Tinggi

Sedang Agak Rendah

Rendah

Berdasarkan penilaian tersebut dapat dihasilkan peta tingkat bahaya vulkanik seperti

yang disajikan pada Gambar 5.20. Dari peta tingkat bahaya vulkanik tersebut apabila

ditumpang tindihkan dengan peta administrasi daerah penelitian, maka dapat diketahui luas

penyebaran wilayah tingkat bahaya vulkanik dari masing

disajikan pada tabel 5.9 dan Gambar 5.19.

Tabel 5.9. Tingkat Bahaya Bencana Vulkanik

Kecamatan Grand

Total

RENDAH

(Ha)

Cimenyan 4.841,47 4.699,71

Cisarua 5.540,55 3.059,44

Lembang 9.849,17 3.977,55

Parongpong 4.314,73 1.138,08

Total 24.546,36 12.874,78

Gambar 5.19. Jumlah Persen Tingkat Bahaya Bencana Vulkanik

0

20

40

60

80

100

Cimenyan

(%)

. Nilai (scoring) Tingkat Bahaya Vulkanik

Score Jumlah Jenis Bahaya Yang Mengancam

5 5-7 4 4 3 3 2 2 1 0-1

Berdasarkan penilaian tersebut dapat dihasilkan peta tingkat bahaya vulkanik seperti

pada Gambar 5.20. Dari peta tingkat bahaya vulkanik tersebut apabila

ditumpang tindihkan dengan peta administrasi daerah penelitian, maka dapat diketahui luas

penyebaran wilayah tingkat bahaya vulkanik dari masing-masing kecamatan seperti yang

da tabel 5.9 dan Gambar 5.19.

. Tingkat Bahaya Bencana Vulkanik

TINGKAT BENCANA VULKANIK

RENDAH AGAK RENDAH SEDANG AGAK TINGGI

(%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%)

97,07 72,36 1,49 69,41 1,43 0 0

55,52 1.517,13 27,38 771,15 13,92 75,41 1,36

40,39 847,5 8,61 2.715,64 27,57 305,55 3,1 2.002,41

26,38 408,9 9,48 980,38 22,72 53,71 1,24 1.733,72

2.845,89 4.536,58 434,66 3.853,56

Jumlah Persen Tingkat Bahaya Bencana Vulkanik Setiap Kecamatan

Cimenyan Cisarua Lembang Parongpong

Rendah

Agak Rendah

Sedang

Agak Tinggi

Tinggi

Jumlah Jenis Bahaya Yang Mengancam

Berdasarkan penilaian tersebut dapat dihasilkan peta tingkat bahaya vulkanik seperti

pada Gambar 5.20. Dari peta tingkat bahaya vulkanik tersebut apabila

ditumpang tindihkan dengan peta administrasi daerah penelitian, maka dapat diketahui luas

masing kecamatan seperti yang

TINGGI

(Ha) (%)

0 0

117,43 2,12

2.002,41 20,33

1.733,72 40,18

3.853,56

Parongpong

Page 72: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Dari Tabel 5.9 tersebut terlihat bahwa Kecamatan Parongpong merupakan Kecamatan

yang paling terancam oleh bahaya vulkanik, karena 64,14% wilayahnya masuk ke dalam

tingkat bahaya sedang sampai tinggi sedangkan 35,86% wilayahnya masuk dalam kategori

agak rendah sampai rendah. Kecamatan lain yang masuk kedalam kategori terancam besar

adalah Kecamatan Lembang dimana 51% wilayahnya masuk ke dalam tingkat bahaya sedang

sampai tinggi dan selebihnya masuk ke dalam tingkat agak rendah sampai rendah. Adapun

Kecamatan yang paling aman di daerah penelitian adalah Kecamatan Cimenyan karena

98,56% wilayahnya masuk ke dalam kategori tingkat bahaya agak rendah sampai rendah.

Berdasarkan hasil tingkat bahaya vulkanik dapat diketahui bahwa untuk Kecamatan

Parongpong merupakan kecamatan yang beresiko tertinggi. Sebaliknya Kecamatan Cimenyan

merupakan kecamatan dengan tingkat bahaya terendah.

5.10. Resiko Bencana Vulkanik

Resiko adalah tingkat kemungkinan mengalami kerugian dari ancaman yang ada pada

suatu area tertentu. Dalam penelitian ini, resiko bencana diperoleh dari hasil analisis antara

peta tingkat bahaya vulkanik dengan peta penutup/penggunaan lahan tahun 2008. Berdasarkan

hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan penilaian (scoring) terhadap jenis

penutup/penggunaan lahan yang ada di daerah penelitian.

Nilai (scoring) setiap jenis penggunaan lahan ditentukan berdasarkan adanya jumlah

jiwa dan nilai ekonomi pada setiap penggunaan lahan. Jiwa manusia dianggap mempunyai

nilai yang paling tinggi sehingga penggunaan lahan permukiman diberi score paling tinggi

(Tabel 5.10), sedangkan yang lainnya diperhitungkan berdasarkan nilai ekonominya.

Perkebunan diberi nilai kedua tertinggi dikarenakan perkebunan yang ada pada wilayah

penelitian memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan sawah dan tegalan yang

bersifat pribadi. Perkebunan yang ada pada wilayah penelitian merupakan perkebunan teh

milik negara (PTPN Pangheotan). Berdasarkan hasil wawancara pegawai PTPN Pangheotan

di tempat penelitian, produksinya memiliki kualitas eksport dimana harga teh dapat mencapai

$2 / kilogram. Selain hal tersebut, disekitar kawasan perkebunan disediakan tempat wisata

alam. Hutan diberi nilai ketiga tertinggi dikarenakan banyak dari kawasan hutan yang juga

dijadikan wisata alam yaitu Taman Hutan Raya Djuanda dan Taman Hutan Raya Cikole.

Tegalan dan sawah diberi nilai yang sama dan lebih rendah daripada hutan karena lahan

Page 73: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

sawah dan tegalan masih bersifat pribadi, juga sering mengalami perubahan. Kawah diberi

nilai kedua terendah dari air, dikarenakan merupakan pusat terjadinya letusan, namun di

daerah sekitar kawah juga dijadikan wisata alam sehingga masih memiliki nilai ekonomis.

Badan air diberi nilai terendah karena jumlah badan air tidak terlalu mempengaruhi dinamika

ekonomi yang ada pada wilayah penelitian.

Resiko bencana selanjutnya dihasilkan dari perkalian antara Tingkat Bahaya x Jenis

Penggunaan Lahan, sedangkan Tingkat Resiko bencana dibagi dalam 5 kelas berdasarkan

hasil perkalian tersebut. Yang dibagi dengan interval 30 (Tabel 5.11). Berdasarkan cara

tersebut selanjutnya dapat dihasilkan Peta Resiko Bencana Vulkanik di daerah penelitian

seperti yang disajikan pada Gambar 5.22. Adapun luasan daerah tingkat resiko dari masing-

masing kecamatan disajikan pada Tabel 5.12 dan Gambar 5.21.

Tabel 5.10. Nilai (scoring) Jenis Penutupan/Penggunaan Lahan

Penutupan/Penggunaan Lahan Score

Air 1

Hutan 15

Lahan Terbuka (Kawah) 5

Perkebunan 20

Permukiman 30

Sawah 10

Tegalan 10

Tabel 5.11. Kelas Kisaran Nilai Resiko dan Tingkat Resiko Bencana

Tingkat Resiko Bencana Nilai Resiko

Rendah 1 - 29.9

Agak Rendah 30 - 59.9

Sedang 60 - 89.9

Agak Tinggi 90 - 119.9

Tinggi 120 - 150

Page 74: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel 5.12. Tingkat Resiko Bencana Vulkanik

Kecamatan Grand Total

RENDAH

Ha

Cimenyan 4.841,91 3.802,42

Cisarua 5.540,55 3.778,75

Lembang 9.849,17 4.085,80

Parongpong 4.314,73 970,83

Total 2.4546,36 1.2637,80

Gambar 5.21. Jumlah Persen Tingkat Resiko Bencana Vulkanik

0

10

20

30

40

50

60

70

80

Cimenyan

(%)

. Tingkat Resiko Bencana Vulkanik

TINGKAT RESIKO BENCANA VULKANIK

RENDAH AGAK RENDAH SEDANG AGAK TINGGI

% Ha % Ha % Ha

3.802,42 78,53 1.034,91 21,37 3,58 0,07 1,00

3.778,75 68,20 1.432,44 25,85 169,03 3,05 103,76

4.085,80 41,48 3.287,02 33,37 1639,08 16,64 695,44

22,50 1.583,46 36,70 1.327,51 30,77 395,73

1.2637,80 7.337,83 3.139,20 1.195,93

Gambar 5.21. Jumlah Persen Tingkat Resiko Bencana Vulkanik

Cisarua Lembang Parongpong

Rendah

Agak Rendah

Sedang

Agak Tinggi

Tinggi

AGAK TINGGI TINGGI

% Ha %

0,02 0,00 0,00

1,87 56,57 1,02

7,06 141,82 1,44

9,17 37,20 0,86

235,59

Parongpong

Agak Rendah

Page 75: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.20. Peta Tingkat Bahaya Vulkanik Daerah Penelitian

Page 76: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar 5.22. Peta Tingkat Resiko Bencana Daerah Penelitian

Page 77: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Berdasarkan hasil Tingkat Resiko Vulkanik, Kecamatan Parongpong merupakan

kecamatan dengan tingkat resiko bencana vulkanik tertinggi. Hal ini dikarenakan 40.80%

wilayahnya masuk ke dalam tingkat resiko sedang sampai tinggi. Hal ini diikuti oleh

Kecamatan Lembang yang memiliki 25.14% wilayahnya masuk ke dalam tingkat resiko

sedang sampai tinggi. Sebaliknya Kecamatan Cimenyan merupakan kecamatan dengan

tingkat resiko bencana vulkanik yang rendah. Hal ini dikarenakan Kecamatan Cimenyan

mempunyai 99.91% wilayahnya masuk ke dalam tingkat resiko agak rendah hingga rendah.

Tingkat Resiko Bencana Vulkanik tertinggi ditentukan berdasarkan hasil penjumlahan dari

tingkat sedang hingga tinggi dikarenakan tingkat resiko sedang dan agak tinggi dianggap

termasuk perlu dalam pertimbangan karena cukup mempengaruhi dalam resiko. Sedangkan

Tingkat Resiko Bencana Vulkanik terendah juga dipertimbangkan melalui penjumlahan agak

rendah hingga rendah dikarenakan yang tergolong agak rendah dianggap sudah termasuk

dalam tingkat yang rendah dalam perhitungan resiko.

Page 78: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Penggunaan lahan permukiman dan tegalan merupakan 2 jenis penggunaan lahan yang

paling besar mengalami pertambahan luas, berturut-turut sebesar 6.52 % (1601.45 Ha) dan

20.70% (5080.86 Ha).

Hal ini menunjukkan bahwa lokasi wisata di Bandung bagian Utara ini mengalami

banyak pertumbuhan khususnya pembangunan prasarana wisata seperti hotel, villa, cafe,

restoran dan yang lainnya dan juga permukiman baru. Disamping itu, banyak lahan sawah

yang berubah menjadi tegalan untuk sayuran, bunga hias, dan tanaman buah yang menjadi

komoditi pariwisata. Dengan demikian, aspek pariwisata merupakan sektor yang memicu

perubahan penutup/penggunaan lahan di daerah penelitian.

Penggunaan lahan tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling banyak tersebar di

berbagai bentuklahan antara lain bentuklahan plateau ignimbritik, lereng tengah kompleks

Sunda, lereng talus tebing kaldera, lembah ignimbritik denudasional, Kerucut Vulkanik

Denudasional, Kerucut Lava Denudasional, Dinding Kaldera Gunung Sunda, Dataran Dasar

Kaldera, dan dataran lakustrin. Sebaliknya permukiman dominan tersebar hanya pada 2

bentuklahan yaitu bentuklahan plateau ignimbritik dan dataran lakustrin. Hal ini dikarenakan

pemakaian lahan untuk tegalan dapat di lakukan di berbagai kemiringan lereng ( tidak ada

kendala morfologi), sedangkan untuk permukiman mempunyai kendala morfologi, yaitu pada

morfologi yang datar. Dengan demikian, daerah penelitian sebenarnya terancam oleh bahaya

erosi yang berasal dari lahan-lahan tegalan, khususnya pada bentuklahan yang mempunyai

kemiringan tinggi, sedangkan bentuklahan yang mempunyai morfologi dataran terancam oleh

konversi lahan menuju ke ruang terbangun.

Kecamatan Cimenyan memiliki ancaman tingkat bencana vulkanik dan tingkat resiko

bahaya bencana vulkanik yang paling rendah. Sebaliknya Kecamatan Parongpong memiliki

ancaman tingkat bencana dan tingkat resiko paling tinggi diikuti oleh Kecamatan Lembang.

Dengan demikian Penataan Ruang di kedua kecamatan tersebut sangat perlu memperhatikan

aspek mitigasi agar tidak terjadi bencana yang sangat besar dikemudian hari.

Page 79: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

6.2. Saran

• Sehubungan dengan adanya perubahan penggunan lahan sawah yang besar menjadi

penggunaan lahan permukiman dan tegalan, maka dikhawatirkan bila ini berlanjut terus akan

mengakibatkan berkurangnya daerah resapan di daerah penelitian. Selain itu, ancaman bahaya

erosi tanah juga cukup besar jika melihat bahwa di lapangan banyak lahan tegalan menempati

pada lereng-lereng yang sangat miring. Untuk itu disarankan adanya penelitian tersendiri

mengenai ke dua hal tersebut.

• Sehubungan dengan tingkat bahaya bencana dan resiko yang tinggi mengancam pada 2

kecamatan yaitu Parongpong dan Lembang, maka disarankan untuk kedua kecamatan tersebut

tidak menambah ruang terbangun (permukiman) di wilayahnya.

Page 80: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

VII. DAFTAR PUSTAKA

A. Murni dan S. Setiawan, Pengantar Pengolahan Citra, PT. Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta.

Aryad, S. 1r.989, Konservasi Tanah dan Air.Institut Pertanian Bogor Press, Bogor

Bemmelen, R.W. Van 1949. The Geology of Indonesia no IA General Geology of Indonesia, Government Printing Office, The Habuc.

BPS Kabupaten Bandung. 2007, Kabupaten Bandung Dalam Angka, Kabupaten Bandung.

Chanlett, E.T. 1974. Enviromental Protection. McGraw-Hill Book Company, Inc. NewYork.

Demek J., 1972 Manual of Detailed Geomorphological Mapping. International Geomorphological Union, Commision on Geomorphological Survey and Mapping.Academic. Prague.

ER Mapper, 2006. ER Mapper Professional Tutorial Ver 7.1. Earth Resource Mapping Ltd.

Estes. J.E. and D.S. Simonett. 1975. Fundamentals Of Image Interpretation, In: Manual of

Remote Sensing Vol. 1. Second Edition. R.N. Colwell: ed-in-chief. American Society of Photogrammetry. Falls Church. Virginia.

Fakultas Geografi UGM – Bakosurtanal, 2000. Pembakuan Spek Metodologi Kontrol Kualitas

Pemetaan Tematik Dasar Dalam Mendukung Perencanaan Tata Ruang, Yogyakarta. Kerjasama Fakultas Geografi UGM dan Proyek Inventarisasi Evaluasi Sumberdaya Nasional Matra Laut – Bakosurtanal.

Goudie, A. 1993, The Nature of The Environment 3rd Ed. Blackwell Publisher Ltd.

Harintaka dan Christine N. Kartini, 2001. Penggabungan Citra Satelite SPOT XS Dengan Foto Udara Pankromatik (Studi Kasus Kodya Bandung). Penelitian. Fakultas Teknik-UGM, Yogya.

Karson, M. J. 1982. Multivariate statistical Methods. The Iowa State University

Press. Iowa

Kusumadinata K., 1979, Data Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi Bandung

Kusumadinata K., 1972 MS, Tujuh Buah Terjemahan Mengenai Masalah Kegunungapian Di Hindia Belanda Dan Jepang, Direktorat Geologi Bandung.

Lillesand, T.M dan R.W. Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.

Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Monkhouse, F.J., 1974, A Dictionary of Geography, Second edition, Edward Arnold,

London.

Noviar, H. 2004. Interpretasi Citra Satelit Landsat-7 ETM+ untuk Mengidentifikasi

Areal Tanaman Semangka. Tesis. Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor.

PERKA, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, 2008. PERKA No. 2 Tentang Evaluasi Tapak Reaktor Daya Untuk Aspek Kegunungapian.

Page 81: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Purwadhi, F.S.H. 2001. Interpretasi Citra Digital. PT. Gramedia Widia Sarana

Indonesia. Jakarta.

Putra, E.H. 2003. Deteksi Kondisi Hutan Tanaman Menggunakan Citra Satelit Landsat ETM+

di PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan. Skripsi. Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Reksowirogo, 1990, Berita Berkala Vulkanologi, edisi khusus : Gunung Tangkubanparahu. Direktorat Vulkanologi Bandung

Sabin, F.F.Jr. 1978. Remote Sensing, Principle and Interpretation. W.H. Freeman and Co. San Francisco

Samsuri, 2004. Aplikasi Penginderaan Jauh Dalam Pengelolaan sumberdaya Hutan. Penelitian. Universitas Sumatera Utara (USU). Sumatera Utara.

Spot Asia, 2006. www.spotimage.com. Februari 8, 2009.

Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh. Jilid 1. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.or.

Sutanto. 1987. Penginderaan Jauh. Jilid 2. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.or.

Tejo, R.K. 2003. Interpretasi Kenampakan Hasil Fusi Citra Landsat TM dengan Landsat

Pankromatik (Studi Kasus Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat). Skripsi. Fakultas Pertanian IPB, Bogor

Tjahjono B., 1998. Etude Geomorphologique du Volcan Sunda-Tangkuban Parahu et Des Aleas Volcanique. Desertasi. Universitas Blaise Pascal, Clermont-Ferrand II, Perancis

Van Bemmelen, R.W., 1949. The Geology of Indonesia. The Hague. Government Printing Office.

Wilkey, D.S. and Finn, J.T. 1996. Remote Sensing Imagery for Natural Resources Monitoring: Guide for First Time Users. Columbia University Press. New York

Wiradisastra U.S., Tjahjono, B., Munibah, K., Gandasasmita K., 1999, Lecture Note: Geomorfologi dan Analisis Lanskap, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian, IPB Bogor

Zakiah., 2007. Pemilihan Saluran Panjang Gelombang (Band) dan Fusi Citra Landsat ETM+

Untuk Interpretasi Penutup Lahan/Penggunaan Lahan. Laporan Praktek Lapang. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Page 82: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

LAMPIRAN

Page 83: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Gambar Lampiran 1: Contoh Gambar Morfogenesis

1. Bentuklahan Vulkanik Aktif (Gunungapi Tangkubanparahu)

2. Bentuklahan Vulkanik Denudasional (Gunung Burangrang)

Page 84: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

3. Bentuklahan Tektonik (Patahan Lembang)

4. Bentuklahan Denudasional (longsor lahan)

Page 85: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN … · perkembangan areal permukiman. Dari empat kecamatan yang ada di daerah penelitian, Kecamatan Cimenyan memiliki ... Staf Laboratorium

Tabel Lampiran 1: Kemiringan Lereng Setiap Kecamatan

Kemiringan Lereng

Setiap Kecamatan Luas (Ha)

Cimenyan 4841.914

>55 62.04

13-22 757.79

22-55 3825.22

6-13 196.86

Cisarua 5540.55

>55 579.88

0-2 97.89

13-22 798.72

22-55 1890.79

2-6 40.31

6-13 2132.97

Lembang 9849.166

>55 712.50

0-2 332.94

13-22 1021.93

22-55 5439.85

2-6 331.35

6-13 2010.59

Parongpong 4314.731

>55 298.07

0-2 202.964

13-22 744.21

22-55 1196.39

2-6 271.22

6-13 1601.87

Total 24546.361