Dasar Hukum Dan Teori meluruskan shaf shalat

  • View
    111

  • Download
    10

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Dasar Hukum dan TeoriHUKUM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAFA. MAKNA MELURUSKAN SHAF Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud meluruskan shaf adalah menyempurnakan shaf pertama. Kemudian shaf selanjutnya mengisi yang kosong menjadi setentang dengan orang-orang yang berdiri pada shaf dengan tidak membusungkan satu anggota badannya terhadap orang-orang yang ada disampingnya. Tidak disyariatkan meluruskan shaf kedua hingga shaf pertama sempurna, demikian pula berdiri pada shaf selanjutnya s

Text of Dasar Hukum Dan Teori meluruskan shaf shalat

Dasar Hukum dan Teori

HUKUM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAFA. MAKNA MELURUSKAN SHAF Imam Nawawi rahimahullah berkata: Yang dimaksud meluruskan shaf adalah menyempurnakan shaf pertama. Kemudian shaf selanjutnya mengisi yang kosong menjadi setentang dengan orang-orang yang berdiri pada shaf dengan tidak membusungkan satu anggota badannya terhadap orang-orang yang ada disampingnya. Tidak disyariatkan meluruskan shaf kedua hingga shaf pertama sempurna, demikian pula berdiri pada shaf selanjutnya sementara shaf sebelumnya belum sempurna. (Tanbihatul Muslim, hal 9) B. HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN MELURUSKAN SHAF 1. Dari Aisyah radliyallahu anha, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat terhadap orang-orang yang shalat pada shaf-shaf. (HR. Ahmad, Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib, no.401) Shalawat Allah terhadap hamba-Nya yaitu Allah menyebutkan hamba-Nya di hadapan malaikat-malaikat-Nya di langit tertinggi, sedangkan shalawat malaikat yaitu mendoakan dan memintakan ampun bagi si hamba. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Manawi: Para malaikat memintakan ampun baginya. (Faidlul Qadir 2/269) 2. Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskannya niscaya Allah akan memutuskannya. (HR NasaI, Hakim, Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib, no.503) Imam Manawi menerangkan hadits ini dalam kitab Faidlul Qadir fi Syarhi Jamius Shaghir, 6/236: Makna washalahullah yaitu Allah menambahkan padanya kebaikan, hubungannya semakin erat dan Allah memasukkan dia kedalam rahmat-Nya. Sedangkan makna qathaahullah yaitu Allah memutuskan darinya tambahan kebaikan. Adapun makna menyambung shaf adalah jika ada kekosongan kemudian ditutupi atau jika ada kekurangan kemudian disempurnakan. Makna memutuskan shaf yaitu duduk ditengah barisan shaf tanpa melakukan shalat atau menghalangi orang-orang yang ingin mengisi shaf yang kosong. Wallahu alam. (Syarh Sunan NasaI, 2/93) 3. Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah satu langkah yang lebih besar pahalanya dari langkah seseorang untuk mengisi kekosongan pada shaf, kemudian menutupinya. (HR al-Bazzar dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam at-Targhib wat Tarhib, no.503) 4. Diterangkan pula tentang keutamaan shaf pertama dalam beberapa hadits diantaranya dari Abdurrahman bin Auf radliyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah dan malaikatmalaikat-Nya bershalawat pada shaf pertama. (HR Ibnu Majah, Ahmad, Abu Dawud, Hakim, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Jami Ash-Shaghir, no.1839)

5.

6.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memintakan ampun bagi shaf pertama sebanyak tiga kali dan shaf kedua hanya sekali. (HR Ibnu Majah, NasaI, Ibnu Khuzaimah, Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam at-Targhib wat Tarhib, no.489) Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada an-Nida (panggilan adzan) dan shaf pertama kemudian tidak menjumpai, kecuali harus mengadakan undian niscaya mereka akan mengundinya. (Muttaqun alaihi, lafadz hadits bagi Muslim)

C. BEBERAPA SEBAB DIPERINTAHKAN MELURUSKAN SHAF D. HUKUM MELURUSKAN SHAF Imam Bukhari dalam Shahihnya mengemukakan bahwa dosa bagi orang yang tidak menyempurnakan shaf. Dari sini Imam Bukhari rahimahullah beristimbath bahwa menyempurnakan shaf adalah wajib dan orang yang meninggalkan adalah berdosa. Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari pendapat Imam Bukhari diatas dengan berkata: Bukhari berpendapat wajib, karena bunyi haditsnya dalam bentuk perintah yaitu sawwuu shufuufakum dan keumuman sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam: Shalatlah kalian sebagaimana ketika melihat aku shalat. dan juga adanya ancaman bagi orang yang meninggalkannya. (Fathul Bari, 2/210) Ibnu Hajar juga berkata ketika menerangkan hadits Benar-benarlah kalian meluruskan shafshaf atau Allah akan membuat berselisih diantara wajah-wajah kalian: Dalam hadits ini terdapat isyarat yang halus berupa ancaman Allah sesuai dengan pelanggaran yang diperbuat, ancaman itu adalah berupa perselisihan. Dengan dasar inilah, maka meluruskan shaf adalah wajib dan melalaikannya adalah haram. (Fathul Bari, 2/207) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika membantah orang yang mengatakan bahwa meluruskan shaf adalah sunnah, beliau berkata: Bahkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk meluruskan shaf, mengisi yang kosong dan menutup shaf pertama kemudian shaf selanjutnya. Semua itu adalah anjuran yang keras agar mereka berkumpul dengan sesempurna mungkin. Seandainya menyempurnakan shaf tidak wajib, maka dibolehkan salah seorang berdiri sendirian dibelakang kawannya dan seterusnya. Hal ini diketahui secara umum bahwa shalat semacam ini bukanlah shalat kaum muslimin. Seandainya hal ini boleh, maka akan dilakukan oleh kaum muslimin meskipun sekali. Demikian pula bila shaf tidak teratur, yang satu kedepan dan yang lainnya mundur, maka keadaan ini termasuk yang dilarang oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Sedangkan larangan menunjukkan pengharaman. Bahkan jika seandainya mereka shalat melebihi tempat berdirinya imam (agak kedepan), itu lebih baik disbanding hal semacam tadi. (Majmu Fatawa, 23/394) E. CARA MELURUSKAN SHAF Berikut ini akan kami paparkan beberapa hadits yang menerangkan cara meluruskan dan merapatakan shaf. 1. Dari Anas radliyallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku. Maka salah seorang diantara kami menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan kakinya dengan kaki kawannya. (HR Bukhari 725 dan Ahmad 3/182, 263) 2. Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Luruskanlah shaf-shaf, jadikan setentang diantara bahu-bahu, tutuplah celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan janganlah kalian meninggalkan celah-celah bagi syetan. Barangsiapa menyambung shaf, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutusnya maka Allah akan memutuskannya. (HR Bukhari 725, Abu Dawud 666; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no.602)

Dari Abu Qasim al-Jadali dia berkata: Saya mendengar Numan bin Basyir berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada manusia dan bersabda: Luruskan shaf-shaf kalian tiga kali Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih. Numan berkata: Maka aku melihat seseorang melekatkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, mata kaki dengan mata kaki kawannya. (HR Abu Dawud 662, Ibnu Hibban 396, Ahmad 4/272; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah, no.32) Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa meluruskan shaf yaitu: a. Membuat shaf menjadi lurus, tidak lebih maju atau mundur. b. Bahu dalam keadaan sejajar. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: Yaitu setiap orang menjadikan bahunya setentang dengan bahu lainnya. Hingga bahu-bahu, leher-leher, dan kaki-kaki dalam keadaan sejajar. (Aunul Mabud, 2/356) c. Menutup celah yang kosong dengan menempelkan kaki dengan kaki. d. Bersikap lunak terhadap tangan saudara-saudaranya. Abu Dawud berkata yang maknanya Lembutlah terhadap tangan saudara-saudaranya kalian yaitu: apabila datang seorang lakilaki menuju shaf dan hendak masuk pada shaf, maka sepantasnya setiap orang melunakkan bahunya sehingga dia (yang datang) masuk pada shaf. (Aunul Mabud, 2/366) e. Menempelkan bahu dengan bahu, lutut dengan lutut dan mata kaki dengan mata kaki, sebagaimana hadits Numan bin Basyir.

3.

Bentuk Shaf dalam Sholat yang BenarDi bawah ini adalah gambar-gambar tata cara membentuk shaf dalam sholat yang benar. Saya mendapatkannya dari seorang teman. Yang Insya Allah gambar yang singkat ini bisa menjawab segala hal yang terjadi di masyarakat. Karena kekeliruan yang terus-menurus dilakukan oleh masyarakat. Kita juga wajib memperingatkannya karena ini berhubungan

dengan sholat, sedangkan sholat adalah ibadah inti dari umat Islam ini. Maka kita harus menjaga agar sholat kita sempurna. Wallahualam bishawab.

Tata Cara Sujud yang Benar

Syaikh Ibnu Ustaimin mengatakan, (Dalam sujud) Seorang yang shalat hendaknya menjauhkan perutnya dari dua pahanya. Demikian juga meninggikan dua paha sehingga jauh dari betis. Lengkapnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam sujud : 1. Merenggangkan lengan dari lambung 2. Menjauhkan perut dari paha 3. Menjauhkan paha dari dua betis Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Hendaklah kalian bersikap pertengahan ketika bersujud. (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Artinya hendaknya posisi sujud itu pertengahan tidak terlalu pendek sehingga perut sampai bersentuhan dengan paha dan paha bisa bersentuhan dengan betis. Tidak pula terlalu panjang sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Kita temukan sebagian orang yang sujud dengan terlalu memanjang sampai-sampai seperti orang yang hampir telungkup. Tidak diragukan lagi bahwasanya hal ini termasuk bidah, karena hal tersebut bukanlah sunnah Nabi. Sepengetahuan kami, Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat tidaklah melakukan demikian, yaitu memanjangkan punggung saat bersujud.

Yang benar memanjangkan sujud itu dilakukan pada saat ruku. Sedangkan pada saat sujud cukuplah perut itu ditinggikan sehingga tidak menempel paha, namun punggung tidak perlu dipanjangkan. (Lihat Shifat as-Sholah karya Ibn Utsaimin hal 114-115 cetakan Darul Kutub al-Ilmiah)

TATA C