5
156 H H H A A A S S S I I I L L L P P P E E E N N N E E E L L L I I I T T T I I I A A A N N N KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Lina Tarigan dan Kalsum Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja FKM USU Jl. Universitas No. 21 Kampus USU Medan, 20155 ABSTRACT This cross – sectional study was almed to know the effect of shift work on fatique of the department of production casting operation sub section of PT. Inalum Kuala Tanjung 2006. The number of sample was 44 labours, working by shift system that consistend of morning, noon and night shifts, the data of fatique were collected by using questionare. The results showed that labour of night shift that felt very fatique were 22 persons (50%, and that felt fatique were 17 person (31,8 %). From Anova test, it was found that there was a significant effect of shift work on working fatique. It was also found that there were significant difference of working fatique among shift work. It was suggested that labour used their break time effectively in orden to prevent fatique Keywords: Shift work, Fatique, Labour of casting operation PENDAHULUAN Manusia khususnya tenaga kerja adalah subyek dan obyek dari pembangunan, keberhasilan pembangunan sangat tergantung kepada manusia sebagai pelaksananya. Tenaga kerja adalah penduduk yang produktif dan oleh karena itu sangat besar peranannya dalam mewujudkan pertumbuhan atau memberikan nilai tambah, kesejahteraan tenaga kerja, meningkatkan kemampuan tenaga kerja, hal ini juga dinyatakan di dalam Undang–Undang Keselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970 pasal 3. Pada saat ini industrialisasi berkembang dengan pesat, untuk lebih menjamin suksesnya industrialisasi tersebut dituntut agar tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pengunaan sumber produksi, dan produktivitas tenaga kerja yang terlibat di dalamnya, oleh karena itu keberadaan tenaga kerja sangat perlu dilindungi agar tercapai tenaga kerja yang sehat dan produktif (Suma’mur, 1994). Dalam pelaksanaan kerja di perusahaan, untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan menambah jam kerja dengan memberlakukan kerja bergilir (shift work). Kerja bergilir sebagai suatu pola waktu kerja yaitu bekerja selama 24 jam terus menerus yang diterapkan perusahaan memberikan dampak yang besar terhadap tenaga kerja dan keluhan yang sifatnya subyektif di antaranya tidak dapat tidur siang, kelelahan, gangguan kesehatan. Tenaga kerja tidak sesuai untuk bekerja malam hari karena adanya perubahan irama circardian yang mempengaruhi fungsi fisiologis yang berhubungan dengan kapasitas kerja, dan bila keja malam hari tidak dapat dihindari maka perlu diterapkan kerja bergilir rotasi yang cepat. Tenaga kerja yang bekerja dengan kerja bergilir rotasi cepat, pada akhir kerja khususnya kerja bergilir malam diberikan paling sedikit libur 1 hari untuk memulihkan tenaga yang terpakai (Grandjean, 1985). Universitas Sumatera Utara

Hasil Penelitian : KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Oleh : Lina

  • Upload
    melda89

  • View
    54

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Manusia khususnya tenaga kerja adalahsubyek dan obyek dari pembangunan,keberhasilan pembangunan sangat tergantungkepada manusia sebagai pelaksananya. Tenagakerja adalah penduduk yang produktif dan olehkarena itu sangat besar peranannya dalammewujudkan pertumbuhan atau memberikannilai tambah, kesejahteraan tenaga kerja,meningkatkan kemampuan tenaga kerja, hal inijuga dinyatakan di dalam Undang–UndangKeselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970 pasal 3.Pada saat ini industrialisasi berkembang denganpesat, untuk lebih menjamin suksesnyaindustrialisasi tersebut dituntut agar tingkatefisiensi yang tinggi terhadap pengunaansumber produksi, dan produktivitas tenagakerja yang terlibat di dalamnya, oleh karenaitu keberadaan tenaga kerja sangat perludilindungi agar tercapai tenaga kerja yangsehat dan produktif (Suma’mur, 1994).Dalam pelaksanaan kerja di perusahaan,untuk meningkatkan produktivitas adalah denganmenambah jam kerja dengan memberlakukankerja bergilir (shift work). Kerja bergilirsebagai suatu pola waktu kerja yaitu bekerjaselama 24 jam terus menerus yang diterapkanperusahaan memberikan dampak yang besarterhadap tenaga kerja dan keluhan yangsifatnya subyektif di antaranya tidak dapattidur siang, kelelahan, gangguan kesehatan.Tenaga kerja tidak sesuai untuk bekerja malamhari karena adanya perubahan irama circardianyang mempengaruhi fungsi fisiologis yangberhubungan dengan kapasitas kerja, dan bilakeja malam hari tidak dapat dihindari makaperlu diterapkan kerja bergilir rotasi yang cepat.Tenaga kerja yang bekerja dengankerja bergilir rotasi cepat, pada akhir kerjakhususnya kerja bergilir malam diberikanpaling sedikit libur 1 hari untuk memulihkantenaga yang terpakai (Grandjean, 1985).Universitas Sumatera UtaraKerja Bergilir dan Kelelahan Kerja (156 – 160)Lina Tarigan dan Kalsum157Kuswadji (1977) menyatakan pola kerjayang berubah pada kerja bergilir dapatmenyebabkan kelelahan yang meningkat akibatperubahan pada irama circardian khususnyakerja bergilir malam. Sedangkan Schultz (1982)menyatakan bahwa kerja bergilir siang danmalam paling berpengaruh terhadap tenagakerja. Tenaga kerja kurang produktif pada kerjamalam dibanding kerja bergilir siang dancenderung membuat banyak kesalahan kerja,mudah mengalami kecelakaan dan absenteism.Kelelahan kerja merupakan komponenkelelahan fisiologis dan psikologis. Kerjafisik terus menerus dan memerlukankonsentrasi dapat diukur dengan perubahanfisiologis dalam tubuh yaitu penurunanwaktu reaksi dan perubahan psikologis yaituadanya perasaan lelah, khususnya bagitenaga kerja Indonesia (Setyawati, 1985).PT Indonesia Asahan Aluminium(Inalum) merupakan pabrik peleburanaluminium yang produksinya menghasilkanaluminium batangan (ingot) yang diproduksipada seksi penuangan subseksi castingoperation, menerapkan kerja bergilir denganrotasi cepat (3 hari).Lamanya kerja bergilir adalah 3 hari, padaakhir kerja diberikan libur 1 hari, sedangkankerja bergilir pagi dan siang diberikaan libur 2hari, walaupun perusahaan sudah menerapkankerja bergilir dengan rotasi cepat masihdijumpai keluhan tenaga kerja khususnyakerja bergilir malam berup

Citation preview

Page 1: Hasil Penelitian : KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Oleh : Lina

156

HHHAAASSSIIILLL PPPEEENNNEEELLLIIITTTIIIAAANNN

KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA

TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION

PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006

Lina Tarigan dan Kalsum Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja FKM USU

Jl. Universitas No. 21 Kampus USU Medan, 20155

ABSTRACT

This cross – sectional study was almed to know the effect of shift work on fatique of the department of production casting operation sub section of PT. Inalum Kuala Tanjung 2006. The number of sample was 44 labours, working by shift system that consistend of morning, noon and night shifts, the data of fatique were collected by using questionare. The results showed that labour of night shift that felt very fatique were 22 persons (50%, and that felt fatique were 17 person (31,8 %). From Anova test, it was found that there was a significant effect of shift work on working fatique. It was also found that there were significant difference of working fatique among shift work. It was suggested that labour used their break time effectively in orden to prevent fatique

Keywords: Shift work, Fatique, Labour of casting operation

PENDAHULUAN Manusia khususnya tenaga kerja adalah subyek dan obyek dari pembangunan, keberhasilan pembangunan sangat tergantung kepada manusia sebagai pelaksananya. Tenaga kerja adalah penduduk yang produktif dan oleh karena itu sangat besar peranannya dalam mewujudkan pertumbuhan atau memberikan nilai tambah, kesejahteraan tenaga kerja, meningkatkan kemampuan tenaga kerja, hal ini juga dinyatakan di dalam Undang–Undang Keselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970 pasal 3. Pada saat ini industrialisasi berkembang dengan pesat, untuk lebih menjamin suksesnya industrialisasi tersebut dituntut agar tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pengunaan sumber produksi, dan produktivitas tenaga kerja yang terlibat di dalamnya, oleh karena itu keberadaan tenaga kerja sangat perlu dilindungi agar tercapai tenaga kerja yang sehat dan produktif (Suma’mur, 1994).

Dalam pelaksanaan kerja di perusahaan, untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan menambah jam kerja dengan memberlakukan kerja bergilir (shift work). Kerja bergilir sebagai suatu pola waktu kerja yaitu bekerja selama 24 jam terus menerus yang diterapkan perusahaan memberikan dampak yang besar terhadap tenaga kerja dan keluhan yang sifatnya subyektif di antaranya tidak dapat tidur siang, kelelahan, gangguan kesehatan. Tenaga kerja tidak sesuai untuk bekerja malam hari karena adanya perubahan irama circardian yang mempengaruhi fungsi fisiologis yang berhubungan dengan kapasitas kerja, dan bila keja malam hari tidak dapat dihindari maka perlu diterapkan kerja bergilir rotasi yang cepat. Tenaga kerja yang bekerja dengan kerja bergilir rotasi cepat, pada akhir kerja khususnya kerja bergilir malam diberikan paling sedikit libur 1 hari untuk memulihkan tenaga yang terpakai (Grandjean, 1985).

Universitas Sumatera Utara

Page 2: Hasil Penelitian : KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Oleh : Lina

Kerja Bergilir dan Kelelahan Kerja (156 – 160) Lina Tarigan dan Kalsum

157

Kuswadji (1977) menyatakan pola kerja yang berubah pada kerja bergilir dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat akibat perubahan pada irama circardian khususnya kerja bergilir malam. Sedangkan Schultz (1982) menyatakan bahwa kerja bergilir siang dan malam paling berpengaruh terhadap tenaga kerja. Tenaga kerja kurang produktif pada kerja malam dibanding kerja bergilir siang dan cenderung membuat banyak kesalahan kerja, mudah mengalami kecelakaan dan absenteism. Kelelahan kerja merupakan komponen kelelahan fisiologis dan psikologis. Kerja fisik terus menerus dan memerlukan konsentrasi dapat diukur dengan perubahan fisiologis dalam tubuh yaitu penurunan waktu reaksi dan perubahan psikologis yaitu adanya perasaan lelah, khususnya bagi tenaga kerja Indonesia (Setyawati, 1985). PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) merupakan pabrik peleburan aluminium yang produksinya menghasilkan aluminium batangan (ingot) yang diproduksi pada seksi penuangan subseksi casting operation, menerapkan kerja bergilir dengan rotasi cepat (3 hari). Lamanya kerja bergilir adalah 3 hari, pada akhir kerja diberikan libur 1 hari, sedangkan kerja bergilir pagi dan siang diberikaan libur 2 hari, walaupun perusahaan sudah menerapkan kerja bergilir dengan rotasi cepat masih dijumpai keluhan tenaga kerja khususnya kerja bergilir malam berupa gangguan tidur, pencernaan, dan kelelahan. Perumusan Masalah Kerja bergilir merupakan pembagian waktu kerja yang diterapkan di berbagai perusahaan, dengan tujuan untuk meningkatkan kebutuhan bidang pelayanan dan produksi barang dan jasa. Untuk tujuan tersebut tenaga kerja diharuskan bekerja selama 24 jam. Efek dari kerja bergilir banyak tenaga kerja yang mengeluh terhadap gangguan fisiologis gangguan kesehatan, gangguan pencernaan, kelelahan, gangguan tidur, khususnya kerja malam. PT Inalum Kuala Tanjung juga menerapkan kerja bergilir dengan sistem kerja bergilir cepat, walaupun bergitu masih ada tenaga kerja yang mengeluh, mengantuk pada saat bekerja, kelelahan dari gangguan selera makan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk melihat pengaruh kerja bergilir terhadap kelelahan tenaga kerja di PT Inalum Kuala Tanjung.

Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui tingkat kelelahan tenaga

kerja bagian produksi seksi penuangan subseksi casting operation di PT Inalum Kuala Tanjung tahun 2006.

2. Untuk mengetahui pengaruh kerja bergilir terhadap terjadinya kelelahan kerja pada tenaga kerja bagian produksi seksi penuangan subseksi casting operation di PT Inalum Kuala Tanjung tahun 2006.

Manfaat Penelitian 1. Sebagai masukkan bagi pihak perusahaan

mengenai pengaruh kerja bergilir terhadap kelelahan tenaga kerja.

2. Menambah bahan informasi untuk referensi bagi pengembangan ilmu.

METODE PENELITIAN Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif desain studi cross sectional.

Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kerja berjumlah 80 orang di bagian produksi seksi penuangan subseksi casting operation PT Inalum Kuala Tanjung, bekerja dengan sistem kerja bergilir, sedangkan yang menjadi sampel dengan menggunakan simple random sampling, jumlah sampel sebanyak 44 orang (Rumus Vincent Gasperz). Pengumpulan Data Data primer adalah kelelahan tenaga kerja dengan menggunakan kuesioner alat ukur perasaan kelelahan kerja (KUPK2). Data sekunder adalah profil perusahaan mengenai data tenaga kerja di seksi penuangan subseksi casting operation. Pengolahan Data Hasil penelitiaan dianalisis dengan menggunakan uji Oneway Anova untuk melihat pengaruh kerja bergilir terhadap kelelahan tenaga kerja. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Perusahaan

PT Inalum terdiri dari PLTA Sungai Asahan/IPP (Inalum Power Plant) di Paritohan, Kabupaten Toba Samosir dan

Universitas Sumatera Utara

Page 3: Hasil Penelitian : KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Oleh : Lina

Kerja Bergilir dan Kelelahan Kerja (156 – 160) Lina Tarigan dan Kalsum

158

pabrik peleburan aluminium/ISP (Inalum Smeltng Plant) di Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Asahan, Propinsi Sumatera Utara. Pabrik peleburan aluminium merupakan bagian utama dari PT Inalum yang dibangun di atas areal seluas 200 ha. Distribusi Tenaga Kerja Bagian Penuangan Jumlah tenaga kerja yang bekerja di bagian penuangan sebanyak 188 orang terdiri dari: subseksi casting operation 80 orang, 4 orang foreman, Subseksi transportation and bundling 72 orang, 4 orang foreman, subseksi service 24 orang. Setiap subseksi masing masing dengan 1 orang manager staff. Dengan menerapkan kerja bergilir rotasi cepat dengan empat kelompok kerja pada seksi penuangan subseksi casting operation, sedangkan subseksi service menerapkan kerja bergilir tetap.

Perputaran kerja bergilir rotasi cepat yang diterapkan meliputi: kerja bergilir malam, pagi dan siang dengan lama kerja masing–masing selama 3 hari dan pada akhir kerja bergilir diberikan libur 1 hari untuk kerja malam sedangkan kerja pagi dan siang diberikan libur 2 hari. Adapun waktu kerja bergilir pagi dimulai pukul 08.00–16.30 WIB, siang 16.30–24.00 WIB, dan malam 24.00–08.00 WIB. Tenaga kerja sebanyak 11 orang (25%) yang berumur 42–46 tahun sedangkan 1 orang (2,28%) yang berumur 52–56 tahun. Tingkat pendidikan SMU sebanyak 36 orang (81,82%) sedangkan pendidikan SMP 8 orang (18,18%). Pada umumnya tenaga kerja dengan status sudah kawin sebanyak 36 orang (81,82%) dan yang belum kawin sebanyak 8 orang (18,18%). Tenaga kerja dengan masa kerja 22–25 tahun sebanyak 19 orang (43,81%) dan hanya 1 orang (2,28%) dengan masa kerja 14 – 17 tahun. Semua tenaga kerja mengalami kelelahan dengan tingkat kelelahan sangat lelah, lelah, dan kurang lelah.

Tabel 1. Karakteristik tenaga kerja berdasarkan umur, pendidikan, status perkawinan, dan masa kerja

Umur (Tahun) Jumlah (Orang) % 22 – 26 27 – 31 32 – 36 37 – 41 42 – 46 47 – 51 52 - 56

9 9 3 2

11 9 1

20,43 20,45 6,83 4,55

25,00 20,45 2,28

Pendidikan SMP SMU

8 36

18,18 81,82

Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin

36 8

81,82 18,18

Masa Kerja 2 – 5 6 – 9 10 – 13 14 – 17 18 – 21 22 - 25

14 3 3 1 4

19

31,81 6,82 6,82 2,28 9,09

43,81 Tabel 2. Kelelahan kerja tenaga kerja pada

kerja bergilir pagi Kelelahan Kerja Jumlah Persentase (%) Kurang lelah Lelah Sangat Lelah

13 14 17

29,55 31,81 38,64

Total 44 100,00

Tenaga kerja yang bekerja pada shift pagi merasa sangat lelah sebanyak 17 orang (38,64%), lelah 14 orang (31,81%) dan kurang lelah 13 orang (29,55%). Kelelahan kerja untuk setiap tingkat kelelahan terdistribusi secara merata. Tabel 3. Kelelahan kerja tenaga kerja pada

kerja bergilir siang Kelelahan Kerja Jumlah Persentase (%)

Kurang lelah Lelah Sangat Lelah

8 16 20

18,18 36,36 45,46

Total 44 100,00 Tenaga kerja bekerja dengan sangat lelah sebanyak 20 orang (45,46%) sedangkan 8 orang (18,18%) merasakan kurang lelah pada saat bekerja. Tabel 4. Kelelahan kerja tenaga kerja pada

kerja bergilir malam Kelelahan Kerja Jumlah Persentase (%)

Kurang lelah Lelah Sangat Lelah

5 17 22

11,36 38,64 50,00

T o t a l 44 100,00

Universitas Sumatera Utara

Page 4: Hasil Penelitian : KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Oleh : Lina

Kerja Bergilir dan Kelelahan Kerja (156 – 160) Lina Tarigan dan Kalsum

159

Tabel 5. Kelelahan kerja tenaga pada kerja bergilir pagi, siang, dan malam Kelelahan Kerja

Kurang lelah Lelah Sangat Lelah Kerja Bergilir Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Pagi Siang Malam

13 8 5

29,55 18,18 11,36

14 16 17

38,64 36,36 31,81

17 20 22

38,64 45,46 50,00

Total 44 100 44 100 44 100 Pada kerja bergilir malam, tenaga kerja sangat lelah sebanyak 22 orang (50%), lelah 17 orang (38,64%) dan kurang lelah 5 orang (11,36%). Terlihat bahwa tenaga kerja yang bekerja sebagian besar merasakan kelelahan.

Tenaga kerja merasa sangat lelah paling banyak pada bergilir malam yaitu 22 orang (50%) , pada siang 20 orang (45,46%) dan pagi 17 orang (38,64%), sedangkan tenaga kerja dengan tingkat kelelahan kurang lelah paling banyak pada kerja bergilir pagi 13 orang (29,55%), siang 8 orang (18,18%) dan malam 5 orang (11,36%).

Kelelahan kerja adalah merupakan komponen fisik dan psikis. Kerja fisik dengan menggunakan kecepatan tangan dan fungsi mata serta memerlukan konsentrasi terus menerus mengakibatkan kelelahan fisiologis dan psikologis (Nasution, 1998).

Schult (1982) menyatakan bahwa: bekerja dengan rotasi kerja bergilir menimbulkan kelelahan yang berbeda untuk tiap kerja bergilir siang dan malam paling berpengaruh terhadap tenaga kerja.

Tenaga kerja merasa sangat lelah bekerja pada kerja bergilir malam karena terganggunya circadian rhytm tubuh seperti denyut jantung oksigen yang dikonsumsi, suhu tubuh, tekanan darah, produksi adrenalin, dan sebagainya.

Pada umumnya fungsi tubuh meningkat pada pagi hari, mulai melemah pada siang hari dan menurun pada malam hari untuk pemulihan dan pembaharuan (Mc Cormick dan Ilgen, 1985).

Secara alamiah manusia bekerja pada pagi hari dan tidur pada malam hari dengan perubahan pola kerja di malam hari dan tidur disiang hari menimbulkan perasaan lelah lebih cepat. Sedangkan bekerja pada kerja bergilir siang lebih lelah dari bekerja pada kerja bergilir pagi. Hal ini disebabkan karena kemungkinan tenaga kerja mengerjakan aktivitas lain sebelum bekerja pada siang dan malam harinya yang mengakibatkan sebelum bekerja perasaan lelah sudah dirasakan oleh

tenaga kerja. Kuswadji (1997) menyatakan bekerja pada kerja bergilir siang menimbulkan sedikit lebih lelah dibandingkan bekerja pada kerja bergilir pagi. Bekerja pada kerja bergilir malam dan kerja bergilir siang waktu istirahatnya lebih sedikit dari pada bekerja pada kerja bergilir pagi. Hasil Analisis Anova menunjukkan bahwa kerja bergilir malam berpengaruh nyata terhadap kelelahan kerja (p < 0,05) dan bekerja pada kerja bergilir malam menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kerja bergilir pagi dan siang (p < 0,05). Dalam hal ini menujukkan bahwa ada pengaruh kerja bergilir terhadap terjadinya kelelahan kerja. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Suma’mur, 1994) bahwa bekerja pada kerja bergilir malam paling potensial menyebabkan terjadinya kelelahan, waktu istirahat yang diberikan setelah bekerja dengan rotasi kerja bergilir khususnya untuk kerja malam belum cukup untuk memulihkan tenaga, karena setelah bekerja pada kerja bergilir malam tenaga kerja masuk kerja pada kerja bergilir pagi. Monk dan Folkard (1988) menyatakan bahwa konsekuensi kerja bergilir akan menimbulkan efek terhadap kesehatan, kesejahteraan, keselamatan dan efisiensi kerja. Efek kerja bergilir lebih nyata berpengaruh terhadap tenaga kerja adalah timbulnya kelelahan kerja dan kurang tidur.

Tiga faktor penting yang pelu diperhatikan untuk mengatasi kerja bergilir yaitu waktu tidur, kehidupan keluarga dan sosial, serta circadian rhytm. Waktu tidur yang kurang menurunkan kesiapan mental bekerja penurunan kinerja, keterlambatan bekerja, dan penurunan kesiagaan dan perasaan lelah. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Kelelahan kerja pada tenaga kerja

dengan tingkat kelelahan sangat lelah di bagian produksi seksi penuangan subseksi casting operation PT Inalum

Universitas Sumatera Utara

Page 5: Hasil Penelitian : KERJA BERGILIR DAN KELELAHAN KERJA PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI SEKSI PENUANGAN SUBSEKSI CASTING OPERATION PT INALUM KUALA TANJUNG TAHUN 2006 Oleh : Lina

Kerja Bergilir dan Kelelahan Kerja (156 – 160) Lina Tarigan dan Kalsum

160

Kuala Tanjung dijumpai pada kerja bergilir pagi, siang, malam

2. Kerja bergilir kerja berpengaruh nyata (significan) terhadap kelelahan kerja pada tenaga kerja seksi penuangan subseksi casting operation PT Inalum Kuala Tanjung.

3. Kerja bergilir malam berpengaruh secara nyata dengan kerja bergilir pagi dan siang.

Saran 1. Tenaga kerja diseksi penuangan subseksi

casting operation PT Inalum Kuala Tanjung mempergunakan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya untuk tetap memperhatikan kesehatan.

2. Perusahaan agar memperhatikan dan melaksanakan pengaturan seperti rotasi kerja bergilir khususnya kerja bergilir malam dengan memberikan waktu libur 2–3 hari pada akhir kerja bergilir malam dan memberikan makanan tambahan untuk menambah energi bagi tenaga kerja.

DAFTAR PUSTAKA Barnes. R.M. 1980. Motion and Time Study

Design and Measurement of Work, Seventh Edition, Jhon Willey and Sons, New York.

Grandjean, E. 1985. Fitting The Task to The Man, Taylor & Francis Ltd. London.

ILO, Encyclopedia of Occupational Health and Safety, International New York Labour Office, Geneva, 1983, Vol II.

Kuswadji S., Pengaturan Tidur Pekerja Shift, Cermin Dunia Kedokteran No. 116/1997, 48 – 52.

Mahyastuti M. Circardian Rhythm dan Pengaruhnya pada Pola Tidur Awak Pesawat. Majalah Kesehatan Masyarakat. IAKMI, Tahun XXI No. 5, Juni 1993, 283 – 289.

Mc. Cormick, E.J and D.R. Ilgen. 1985. Fundamental Industrial and Organizational Psychology.

Monk T and S Folkard. 1988. Circadian Rhytim and Shift Work, in R. Hockey, Stress and Fatigue Human Performance, Jhon Willey and sons, New York.

Nasution, H.R. 1998. Kelelahan Tenaga Kerja Wanita dan Pemberian Musik Pengiring di Andiyanto Batik Yogyakarta. Tesis UGM, Yogyakarta.

Schultz, D. P. 1982. Psychology and Industry Today. An Introdduction to Industrial and Organizaationaal Pssychology, Third Edition, Mc. Milan Publishing co Inc. New York.

Setyawaati, L. 1985. Pengaruh Suhu Tinggi di Ruang Kerja Dapur terhadap Tingkat Kelelahan Kerja Karyawan Hotel Ambarukmo Palace Yokyakarta. Tesis Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta.

Suma’mur P.K. 1994. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung, Jakarta.

Universitas Sumatera Utara