Kasus 2 - CA Colon

  • Published on
    28-Dec-2015

  • View
    65

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kasus 2 - CA Colon

Transcript

<p>KARSINOMA KOLOREKTALJuan Rollin Manu - NIM 10.2008.017</p> <p>Mahasiswa semester 6 FK UKRIDA angkatan 2008</p> <p>th3rollin@yahoo.co.id/ + 62 85641 090 716</p> <p>BAB IPENDAHULUAN Pada zaman sekarang ini, perubahan gaya hidup perlu di kaitkan dengan masalah kesehatan yang terjadi. Salah satu masalah kesehatan yang patut diperhatikan adalah karsinoma kolorektal. Penderita dengan karsinoma kolorektal biasanya datang ke dokter dalam stadium lanjut. Hal ini disebabkan karena penderita dengan ker kolon-rektum stadium dini kebanyakan hampir tidak mempunyai keluhan.1Karsinoma kolorektal adalah penyebab kematian kedua terbanyak dari seluruh pasien kanker di Amerika Serikat. lebih dari 150.000 kasus baru, terdiagnosis setiap tahunnya di AS dengan angka kematian per tahun mendekati angka 60.000. Usia rata-rata pasien kolorektal adalah 67 tahun dan lebih dari 50% kematian adalah usia di atas 55 tahun. Di Indonesia, didapatkan angka yang agak berbeda. Hal yang menarik di sini adalah kecenderungan untuk umur yang lebih muda dibandingkan dengan laporan dari negara barat. Untuk usia di bawah 40 tahun data dari Bagian Patologi Anatomik FKU1 didapatkan angka 35,265%. 2Walaupun hingga kini telah banyak dicapai kemajuan didalam penatalalaksanaan, namun prognosis kanker kolon-rektum stadium lanjut tetap tidak memuaskan (Cancer gov, 2003). Oleh karena itu tindakan untuk usaha deteksi dini menjadi sangat penting.Pada makalah ini akan membahas mengenai karsinoma kolorektal mulai dari anamnesa, pemeriksaan, etiologi, patofisiologi, epidemologi, manifestasi klinik, komplikasi, penatalaksanaan, pencegahan, dan prognosis yang di pakai dalam menangani kasus karsinoma kolorektal. </p> <p>BAB IIISI</p> <p>Skenario:</p> <p>Seorang laki-laki usia 71 tahun datang ke klinik dengan keluhan BAB bercampur sedikit darah sejak 3 minggu yang lalu. Darah berwarna merah segar. Tidak ada kesulitan BAB, frekuensi BAB 1-2x/ hari. Pasien sering merasa nyeri di daerah ulu hati sehingga pasien tidak nafsu makan. Berat badan pasien turun drastis. Pasien juga menambahkan teraba benjolan sebesar kelereng di lipat paha kanannya. tidak ada riwayat wasir sebelumnya. Pemeriksaan fisik: TD: 120/80 mmHg, N: 80x/menit, RR: 20x/ menit, Suhu tubuh : 36,7 0 C. 1. ANAMNESA</p> <p>Merupakan suatu wawancara antara pasien dengan dokter untuk mengetahui riwayat kondisi pasien, riwayat penyakit pasien dahulu, riwayat penyakit keluarga, gejala-gejala yang dialami pasien. Berdasarkan kasus di atas, anamnesis yang dilakukan secara auto-anamnesis yaitu anamnesis dimana pasien yang menderita penyakit langsung menjawab pertanyaan dokter. Anamensis mencakup identitas penderita, keluhan utama dan perjalanan penyakit. Berdasarkian kasus, yang harus ditanyakan pada anamnesis:</p> <p> Identitas mencakup :</p> <p> Nama</p> <p> Umur</p> <p> Pekerjaan</p> <p> Agama</p> <p> Alamat</p> <p> Pendidikan terakhir dll 3 Keluhan utama pasien</p> <p>BAB bercampur sedikit darah sejak 3 minggu yang lalu dengan darah berwarna merah segar. Keluhan tambahan pasien Nyeri di daerah ulu hati sehingga tidak nafsu makan, berat badan pasien turun drastis, dan ada benjolan teraba di lipat paha kanan pasien. Riwayat Penyakit Terdahulu dan Perjalanan penyakitTidak ada riwayat wasir sebelumnya. Pada perjalanan penyakit, perlu juga tanyakan beberapa hal berikut mengenai keluhan pasien antara lain:- Perubahan pola kebiasaan buang air besar baik berupa diare atau konstipasi. - Perasaan buang air besar tidak tuntas- Adanya darah dalam feses, bisa berwarna merah segar atau hitam.</p> <p>- Bentuk feses yang lebih kecil dari biasanya</p> <p>- Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya</p> <p>- Rasa tidak enak di perut atau rasa nyeri di perut (kolik, kembung, rasa penuh,buang gas sering dan nyeri, tenesmus).</p> <p>- Rasa capai yang menetap</p> <p>- Muntah </p> <p>- Riwayat kanker dalam keluarga</p> <p>- Riwayat polip usus</p> <p>- Riwayat kolitis ulserosa</p> <p>- Riwayat kanker payudara/ ovarium</p> <p>- Kebiasaan makan (rendah serat, banyak lemak) 1,22. PEMERIKSAAN a. Fisik</p> <p>Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan status gizi, anemia, adanya benjolan di abdomen, nyeri tekan abdomen, pembesaran hati maupun kelenjar limfe. pada stadium lanjut didapatkan tanda-tanda obstruksi maupun perforasi. pemeriksaan digital (colok dubur) untuk mendeteksi adanya benjolan, darah dalam feses atau adanya kelainan lain. 1 b. Penunjang Laboratorium</p> <p>- Pemeriksaan feses untuk darah tersamar (occult body) Penunjang: </p> <p> CEA (Carcinoma Embryonic Antigen) </p> <p>CEA sering memberi hasil positif palsu atau negatif palsu, maka CEA tidak dapat dipakai untuk diagnosis dini, terutama pada orang yang asimtomatis. </p> <p>Peranan penting dari CEA ialah bila diagnosis karsinoma kolon sudah ditegakan dan ternyata CEA meninggi yang kemudian menurun setelah operasi. Maka CEA penting untuk tindak lanjut. Bila kemudian hari CEA meninggi lagi maka kemungkinan residif dan metastasis besar sekali. CEA (+) 6-10 bulan lebih dahulu sebelum timbulnya gejala residif dan metastasis. </p> <p> Radiologi</p> <p>Pemeriksaan barium enema dengan menggunakan kontras ganda (double contrast) untuk mendeteksi lesi kolon kecil.</p> <p>Gambar 1: Double kontras barium enema</p> <p>di kutip dari: ( http://usebrains.wordpress.com/2008/09/14/kanker-kolorektal/ ) Kolonoskopi </p> <p>Merupakan cara pemeriksaan mukosa kolon yang sangat akurat dan dapat sel melakukan biopsi pada lesi yang mencurigakan. Pemeriksaan kolon yang lengkap dapat mencapai 95% pasien. Rasa tidak nyaman yang timbul sangat bergantung pada operator. Untuk itu sedikit obat penenang intravena at membantu meskipun ada risiko perforasi dan perdarahan, tetapi kejadian seperti ini </p>