Click here to load reader

LAPORAN MAGANG KPC

  • View
    1.299

  • Download
    65

Embed Size (px)

DESCRIPTION

lap. magang di kPC

Text of LAPORAN MAGANG KPC

Universitas Indonesia

LAPORAN KERJA PRAKTIK

LAPORAN KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN DI PT. KALTIM PRIMA COAL

Gambaran Sistem Manajemen K3 (SMK3) PT. Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya) berdasarkan OHSAS 18001:2007

Oleh:

FIRMANSYAH

0906628464

DEPARTEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS INDONESIA

2013

LEMBAR PERSETUJUANLaporan kerja praktik/praktikum kesehatan masyarakat ini telah dipresentasikan, diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing Kegiatan Kerja Praktik/Praktikum kesehatan masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Pembimbing Akademik

Drs. (Psi.) Ridwan Zahdi Sjaaf MPH

Pembimbing Lapangan

Nurwahidin Hasan

KATA PENGANTARPuji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayatnya penulis dapat menyelesaikan praktik kerja lapangan dan menyelesaikan penulisan laporan kerja praktik dengan judul Gambaran Sistem Manajemen K3 (Prima Nirbhaya) PT. Kaltim Prima Coal berdasarkan OHSAS 18001:2007. Penulis berharap laporan ini dapat menambahkan referensi dan informasi tentang aspek penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi mahasiswa khususnya di bidang pertambangan batubara.

Dalam pelaksanaan praktik kerja lapangan dan penulisan laporan ini, penulis dihadapkan berbagai macam kendala. Namun berkat pertolongan Allah SWT dan dukungan dari keluarga serta teman-teman, penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat waktu. Maka dari itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua yang selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik bagi penulis dalam menjalani pendidikan selama ini dan terima kasih juga atas kasih sayangnya.

2. Drs. (Psi.) Ridwan Zahdi Sjaaf, MPH selaku pembimbing akademik sekaligus pembimbing praktikum kesehatan masyarakat yang telah memberikan arahan kepada penulis.

3. Bapak Nurwahidin Hasan selaku pembimbing lapangan yang menyempatkan waktu memberikan bimbingan dan arahan dilapangan serta koreksi pada penulis.

4. Pak Imanuel Manage selaku General Manager Divisi HSES yang memberikan kesempatan penulis untuk Kerja Praktik di Divisi HSES.

5. Pak gunawan selaku Manager HSES System dan Pak Haryadi selaku Manager OHS Operation.

6. Ibu puty selaku Superitendent Occ. Health monitoring yang selalu memberikan kesempatan penulis untuk ikut monitoring OH.

7. Pak samali selaku superitendent HSES Monitoring and commisioning yang mengijinkan penulis ikut staffnya turun kelapangan.

8. Pak johnry selaku superitendent Safety Training and Services.

9. Pak adrianus darmawan selaku superitendent HSES audit

10. Staff Section HSES Information & Management system, mas aji, mas riki, mas salman dan mbak nana sebagai partner dalam section ini.

11. Seluruh staff Divisi HSES, mas Ihsan, Pak sawarta, Pak nova, Pak widayat, Pak sadri, mas redy, mas adi, mas dias, kang wito, kang evri, Pak pram, mbak enci. Terimakasih telah memberikan penulis akan pengetahuan tentang K3 dilapangan yang tidak didapatkan dibangku kuliah.

12. Kang duki yang selalu mengajak penulis untuk melihat proses kerjanya dilapangan. Makasih banyak kang buat sharing pengalamannya.

13. Mas ulik selaku stiker men yang selalu meminjamkan sepatu futsalnya.

14. Duo speedgun, pak nasrum dan pak jibra yang memberikan kesempatan untuk melihat proses kerjanya.

15. Staff LD mbak bunga dan mbak anita yang memberikan kesempatan praktik kerja lapangan.

16. Dua ibu-ibu kuat mbak ika dan mbak sulfi yang mau berbagi tentang pengalaman mengendarai Heavy equipment.

17. Pak mus yang selalu membelikan makan siang untuk penulis

18. Mbak eris yang selalu merelakan makan siangnya untuk penulis.

19. Mas irfan yang menyempatkan waktu untuk sharing pengalaman kerjanya diberbagai perusahaan.

20. Seluruh karyawan PT Kaltim Prima Coal yang telah bersedia berbagi informasi untuk kebutuhan penulisan laporan

21. Alvira Nurul H. sebagai partner berbagi dan penyemangat dikala penulis melaksanakan kerja praktik.

22. Serta seluruh pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan praktik kerja lapangan ini masih banyak kekurangan, maka dari itu penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan ini. Penulis juga berharap laporan praktik kerja lapangan ini dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada para pembaca terutama di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Sangatta, Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISILEMBAR PERSETUJUAN2KATA PENGANTAR2DAFTAR ISI4DAFTAR TABEL5DAFTAR GAMBAR6DAFTAR LAMPIRAN7BAB I 8PENDAHULUAN81.1Latar Belakang81.2Tujuan81.2.1Tujuan Umum81.2.2Tujuan Khusus81.3Manfaat81.3.1Bagi PT Kaltim Prima Coal81.3.2Bagi Mahasiswa91.3.3Bagi Departemen K3 FKM UI91.4Ruang Lingkup91.4.1 Topik91.4.2 Lokasi dan Waktu91.4.3 Metode Penulisan92.1Lokasi Kegiatan 112.2Waktu Kegiatan112.3Pembimbing Kegiatan112.4Uraian Kegiatan Harian113.1Profil PT Kaltim Prima Coal153.2Wilayah Kerja PT Kaltim Prima Coal153.3Visi, Misi dan Tata Nilai PT Kaltim Prima Coal153.3.1Visi Perusahaan153.3.2Misi Perusahaan163.3.3Tata Nilai Perusahaan163.4Struktur Organisasi PT Kaltim Prima Coal173.5Struktur Divisi HSES (Health, Safety, Environment and Security)203.6Kebijakan Safety, Health, environment and Security233.7Tahapan Produksi PT Kaltim Prima Coal243.7.1Persiapan Penambangan243.7.2Penambangan batubara243.7.3Pasca Penambangan 263.8Potensi Bahaya dan Upaya Pengendalian di PT Kaltim Prima Coal273.8.1Bahaya Fisik273.8.2Bahaya Mekanik273.8.3Bahaya Kimia283.8.4Bahaya Ergonomi293.8.9Bahaya Psikososial dan Stress Kerja304.1Nilai Belajar Umum314.1.1Safety Induction 314.1.2Safety Talk314.1.3Kartu ID/KIMPER324.1.4Prinasa (Prima Nirbhaya Advanced Safety Auditing)324.1.5Dont Walk Past334.1.6Traffic Monitoring344.1.7On Spot Monitoring344.1.8Commisioning354.1.9Job Safety Analysis354.1.10Work Permit System354.1.11Investigasi 374.1.12Safety On Call374.1.13Audit internal384.1.14HSE Info384.1.15Pelatihan394.1.16Job Evaluation394.2Nilai Belajar Khusus404.2.1Kebijakan K3404.2.2Perencanaan404.2.2.1Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan kontrol404.2.2.2Legal and Other Requirements414.2.2.3Sasaran dan program414.2.3Penerapan dan operasi414.2.3.1Sumber daya, peranan, tanggung jawab, akuntabilitas dan kewenangan.414.2.3.2Kompetensi, pelatihan dan kesadaran424.2.3.3Komunikasi, partisipasi dan konsultasi424.2.3.4Dokumentasi434.2.3.5Pengendalian dokumen434.2.3.6Pengendalian operasional434.2.3.7Kesiapan tanggap darurat444.2.4Pengecekan444.2.4.1Pengukuran dan pemantauan kinerja444.2.4.2Evaluasi kesesuaian444.2.4.3Investigasi insiden, ketidaksesuaian, tindakan koreksi dan pencegahan444.2.4.4Pengendalian catatan 454.2.4.5Audit internal454.2.5Tinjauan manajemen465.1Gambaran Sistem Manajemen K3 PT Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya) berdasarkan OHSAS 18001:2007475.1.1Kebijakan PT Kaltim Prima Coal475.1.2Perencanaan475.1.2.1Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penetapan kontrol475.1.2.2Legal and Other Requirement485.1.2.3Objective target dan program485.1.3Penerapan485.1.3.1Sumber daya, peranan, tanggung jawab, akuntabilitas dan kewenangan485.1.3.2Dokumentasi dan Pengendalian Dokumen495.1.3.3Kompetensi, pelatihan dan kesadaran495.1.3.4Komunikasi, partisipasi dan konsultasi495.1.3.5Desain, pembelian, fabrikasi, instalasi dan commisionning505.1.3.6Work Method and Condition Control505.1.3.7Kesiapan tanggap darurat505.1.3.8Pengendalian terhadap kontraktor525.1.4Pengecekan525.1.4.1HSE Monitoring and Evaluation525.1.4.2Investigasi insiden, ketidaksesuaian, tindakan koreksi dan pencegahan525.1.4.3Prima Nirbhaya Records Management525.1.4.4HSE Management System Audit535.1.5Tindak Lanjut535.1.5.1HSE Management Review536.1Kesimpulan556.2Saran55

DAFTAR TABELTabel 2.1Kegiatan kerja praktik harian PT Kaltim Prima Coal..7

Tabel 5.1Matriks Risiko K3 PT Kaltim Prima Coal...57

Tabel 5.2Sistem Klasifikasi Ketika Terjadi Insiden..63

DAFTAR GAMBARGambar 3.1Letak Wilayah Kerja PT Kaltim Prima Coal..13

Gambar 3.2Struktur Organisasi PT Kaltim Prima Coal18

Gambar 3.3 Struktur Organisasi Health, Safety, Environment & Security Division..21

Gambar 3.4 Kebijakan K3L, Pembangunan Berkesinambungan dan Security.22

Gambar 3.5 Area yang ditandai untuk lokasi peledakan24

Gambar 3.6 Pengangkutan batubara menggunakan Heavy dump.25

Gambar 3.7 Mesin pemisah dan pencucian batubara.25Gambar 3.8 Proses produksi PT Kaltim Prima Coal27

Gambar 3.9 Alat Pelindung dari kebisingan (ear plug)28

Gambar 3.10 Pengendalian bahaya tersandung.29

Gambar 3.11 Alat Pelindung Diri untuk bahaya debu.30

Gambar 3.12Emergency eye wash diletakan diarea workshop....30

Gambar 3.13 Unit penyiraman jalan tambang...31

Gambar 4.1 Safety induction di Tanggo Delta33

Gambar 4.2 Safety talk di hari jumat pagi33

Gambar 4.3 Pelatihan Prinasa.....35

Gambar 4.4 Praktek Prinasa di workshop UT.35

Gambar 4.5 Spanduk kampanye dont walk past36

Gambar 4.6 Traffic monitoring menggunakan alat speed gun..37

Gambar 4.7 On Spot Monitoring pada area reparasi ban heavy equipment..37

Gambar 4.8 Pengukuran kandungan gas pada confined space.40

Gambar 4.9 Pengecekan lembar JSA sebagai syarat work permit..40

Gambar 4.10 Petugas On Call sedang memeriksa kondisi kendaraan.41

Gambar 4.11 Tim audit sedang memeriksa ambulance42

Gambar 4.12 Pelatihan Job Safety Analysis43

Gambar 4.13 Job evaluation pada operator oleh dokter44

Gambar 5.1 Matriks penilaian tindakan tanggap kritikal....64

DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 Formulir Prinasa

Lampiran 2 Lembar Job Safety Analysis PT Kaltim Prima Coal

Lampiran 3 Ijin Bekerja Di Tempat Berbahaya

Lampiran 3 Kartu Risk Rank PT Kaltim Prima Coal

BAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSumberdaya batubara di Indonesia merupakan salah satu penyumbang energi terbesar selain minyak dan panas bumi. Pengembangan industri pada sektor pertambangan batubara sangat diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Kebutuhan manusia terbesar yang berasal dari energi batubara adalah sebagai pembangkit listrik. Terhitung pada tahun 2013 PLN membutuhkan sekitar 49.29 juta ton batubara untuk menghidupkan generator listrik. Selain itu total keseluruhan kebutuhan sumber energi batubara pada tahun 2013 adalah mencapai 366.042.287 ton, yang berasal dari 45 perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), 1 BUMN, dan 28 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan batubara (detikfinance, 2012) . Kebutuhan ini menuntut berkembangnya tehnologi untuk lebih dapat menghasilkan batubara secara efektif dan efisien. Tentu saja pertumbuhan industri batubara dan pengembangan tehnologi ini akan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan. Hal ini tentu harus diikuti dengan pengembangan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek penting dalam suatu kegiatan industri baik kecil , menengah, maupun industri besar. Mengesampingkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sama saja dengan melanggar hak asasi manusia dan melanggar hukum. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan, kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Untuk itu perusahaan wajib menjamin keselamatan pekerjanya dalam melaksanakan tugas dilapangan. Terjaminnya keselamatan bagi tenaga kerja akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi sehingga dapat menambah pundi-pundi uang bagi perusahaan. Terjadinya kecelakaan disuatu perusahaan dapat mencoreng nama baik perusahaan tersebut. Apalagi kecelakaan tersebut menyebabkan tenaga kerja yang bersangkutan meninggal dunia. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan kerugian baik dari segi materi ataupun non materi. Kerugian materi yang ditimbulkan contohnya adalah pembiayaan obat-obatan, pembiayaan rehabilitasi, bahkan jika meninggal dunia perusahaan harus mengeluarkan dana kompensasi. Kerugian non materi misalnya jam kerja yang hilang, produksi terhenti, memburuknya nama baik perusahaan dimata publik dll.

Kejadian kecelakaan kerja dapat dicegah dengan menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja ( SMK3), Mengembangkan organisasi yang efektif, dan mengembangkan komitmen dan kepemimpinan dalam K3, khususnya manajemen tingkat atas (Ramli, 2010). Menurut UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 87, setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Diharapkan dengan penerapan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan dapat membentuk susatu tatanan perusahaan yang tidak hanya baik segi kualitas produk dan sumberdaya manusianya tetapi juga keselamatan dan kesehatan kerja yang terjamin.PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai perusahaan tambang terkemuka dan terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pertambangan batubara memiliki puluhan ribu tenaga kerja dalam menyokong produksi batubaranya. Puluhan ribu tenaga kerja ini terpajan risiko bahaya dari lingkungan kerja, alat kerja, material, metode kerja dll. Risiko bahaya tersebut jika tidak dilakukan pengendalian maka akan menyebabkan kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Maka dari itu PT Kaltim Prima Coal menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang bertujuan untuk meminimalkan risiko-risiko tersebut. Sistem manajemen K3 di PT Kaltim Prima Coal didasarkan pada OHSAS 18001:2007 dan disebut sebagai sistem manajemen Prima Nirbhaya yang terintegrasi dengan sistem manajemen lainnya.

Oleh karena itu penulis ingin melihat gambaran penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Prima Nirbhaya) di PT kaltim Prima Coal dan bagaimana cara pemenuhan klausul-klausul yang terdapat pada OHSAS 18001:2007.1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan UmumMahasiswa memperoleh pengalaman langsung (hands on experience) dalam implementasi program K3 dalam suatu kerangka sistem.1.2.2 Tujuan Khusus1. Mendapatkan informasi dan mampu menjelaskan mengenai overall line process PT Kaltim Prima Coal.

2. Mahasiswa mampu mengenali potensi bahaya dan risiko K3 pada overall line process di PT Kaltim Prima Coal.

3. Mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dan terlibat dalam kegiatan perumusan program untuk meminimalkan dan mengeliminasi risiko.

4. Mendapatkan pengalaman langsung dalam mengimplementasikan program K3 di PT Kaltim Prima Coal.

5. Mahasiswa mampu memahami proses pelaksanaan Sistem Manajemen K3 PT Kaltim Prima Coal

6. Mahasiswa mampu menganalisa implementasi K3 dibandingkan dengan materi perkuliahan yang didapat sehingga mampu memberikan masukan baik terhadap kesesuaian dan kebaharuan materi perkuliahan maupun pengimplementasiaannyadi tempat kerja1.3 Manfaat

1.3.1 Bagi PT Kaltim Prima Coal1. Memanfaatkan pengetahuan mahasiswa, baik dalam kegiatan manajemen maupun kegiatan operasional.

2. Memanfaatkan tenaga mahasiswa untuk membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas perusahaan terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

3. Memanfaatkan tenaga pembimbing akademik untuk memberikan asupan yang relevan dengan kegiatan manajemen maupun operasional di institusi tempat magang, sesuai dengan bidang keahliannya.

4. Mengembangkan kemitraan dengan FKM UI dan institusi lain yang terlibat dalam kegiatan magang baik untuk kegiatan penelitian maupun pengembangan.1.3.2 Bagi Mahasiswa1. Mahasiswa terpapar dengan berbagai masalah nyata di lapangan.

2. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang lebih aplikatif dalam bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

3. Mahasiswa mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah.

4. Mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam menggunakan metode relevan untuk melakukan analisis situasi, mengidentifikasi masalah, menetapkan alternatif pemecahan masalah, merencanakan program intervensi/pengendalian serta memonitor dan mengevaluasi keberhasilan suatu program intervensi/pengendalian.

5. Mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam merencanakan dan memobilisasi sumber daya intervensi.

6. Mahasiswa menjalin hubungan langsung dengan personal di dunia kerja dan dunia usaha sebagai bekal jejaring sosial dikemudian hari1.3.3 Bagi Departemen K3 FKM UI1. Terbinanya suatu jaringan kerja sama antara institusi tempat magang dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara subtansi akademik dengan kompetensi yang dibutuhkan ditempat kerja.

2. Tersusunnya kurikulumyang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

3. Meningkatkan kapasitasdan kualitas pendidikan dengan menghasilkan peserta didik yang terampil.1.4 Ruang Lingkup

1.4.1 TopikTopik yang diangkat oleh penulis adalah gambaran pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT Kaltim Prima Coal dalam rangka mengendalikan risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk meminimalkan kejadian kecelakaan kerja yang dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.

Penulis juga mengangkat topik khusus yaitu gambaran pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dilaksanakan di PT Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya) berdasarkan OHSAS 18001:2007. Penulis menganalisa pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja berdasarkan tahapan manajemen yaitu Plan-Do-Check-Action untuk mengetahui bagaimana implementasinya di PT Kaltim Prima Coal pada setiap tahapan tersebut.1.4.2 Lokasi dan WaktuKegiatan praktikum kesehatan masyarakat dilaksanakan di Divisi HSES (Health, Safety, Environment and Security) PT Kaltim Prima Coal pada tanggal 14 januari 2013 sampai dengan tanggal 15 maret 2013. Area kerja yang ditempati yaitu di Tanggo Delta Building D1 dan beberapa kali mengunjungi area Pit penambangan batubara serta workshop di area PT Kaltim Prima Coal.1.4.3 Metode PenulisanMetode Pengumpulan data yang dilakukan dalam penulisan laporan ini adalah observasi lapangan, wawancara pada pihak yang terkait, dan studi dokumen (data sekunder) yang berhubungan dengan implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Sistem Manajemen K3 PT Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya).

BAB II

KEGIATAN LAPANGAN2.1 Lokasi Kegiatan Kegiatan Praktik kerja lapangan dilaksanakan di Divisi HSES (Health, Safety, environment and Security) Section HSES Information & Management System, dengan alamat kantor di Building D1 Tanggo Delta, Sangatta 75611, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Lokasi kerja yang dikunjungi oleh penulis adalah beberapa lokasi penambangan batubara di area Sangatta seperti pit J, pit hatari, pit melawan dan area workshop PT Kaltim Prima Coal.2.2 Waktu KegiatanKegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan selama 9 minggu terhitung dari tanggal 14 Januari 2013 dan berakhir pada tanggal 15 Maret 2013. Waktu kegiatan disesuaikan dengan waktu kerja karyawan PT Kaltim Prima Coal yaitu pukul 07.30 WITA 16.30 WITA (8 jam kerja+ 1 jam istirahat) dengan hari kerja Senin hingga Jumat.2.3 Pembimbing KegiatanSelama kegiatan Praktik Kerja lapangan, penulis mendapatkan arahan maupun masukan dari 2 orang pembimbing yaitu:

a. Bapak Drs. (Psi.) Ridwan Z. Sjaaf, MPH selaku Pembimbing Akademik sekaligus staff pengajar Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

b. Bapak Nurwahidin Hasan selaku Pembimbing Lapangan sekaligus Superitendent section HSES Information and Management System PT Kaltim Prima Coal

2.4 Uraian Kegiatan HarianBerikut ini adalah uraian kegiatan harian ketika praktik kerja lapangan di PT kaltim Prima Coal selama 2 bulan terhitung tanggal 14 januari 2013 sampai dengan 15 maret 2013.

Tabel 2.1 Kegiatan kerja praktik harian PT Kaltim Prima CoalKegiatan minggu ke-1

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 14 Januari 2013Datang di Learning Development untuk melaporkan kesiapan magang

2.Selasa, 15 Januari 2013Briefing tentang schedule untuk hari rabu dan kamis dengan Learning Development

3.Rabu, 16 Januari 2013 Safety induction di Tanggo Delta

Foto untuk pengambilan ID Card

4.Kamis, 17 Januari 2013 Bertemu dengan Pembimbing Lapangan dan mendiskusikan tentang rencana magang.

Membuka HSE info dan membaca tentang Sistem Manajemen K3 PT Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya)

5.Jumat,18 Januari 2013 Mengikuti Safety Talk pagi dengan tema identifikasi bahaya ditempat kerja

Mengikuti meeting untuk peringatan bulan K3 (sosialisai tentang safety riding dengan cara pembagian stiker)

6.Sabtu,19 Januari 2013 Mengikuti sosialisasi safety riding ke masyarakat dengan pembagian stiker di lampu merah

Kegiatan Minggu ke-2

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 21 Januari 2013 Input data survei dont walk past

Mengikuti pemasangan informasi tentang LTI di safety board area M2, check point tanggo delta dan check point ulin

2.Selasa, 22 Januari 2013 Mengikuti pelatihan PRINASA (Prima Nirbhaya Advanced Safety Auditing)

Ikut langsung praktik PRINASA di lapangan di area workshop United Tractors

3.Rabu, 23 Januari 2013 Membaca dan memahami sistem manajemen K3 PT Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya)

Input data survey dont walk past

4.Kamis, 24 Januari 2013LIBUR NASIONAL

5.Jumat, 25 Januari 2013 Mengikuti safety talk pagi dengan tema identifikasi bahaya ditempat kerja

Mengikuti traffic monitoring dengan menggunakan alat speed gun

Kegiatan Minggu ke-3

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 28 Januari 2013Mengikuti traffic monitoring dengan menggunakan speed gun

2.Selasa, 29 Januari 2013Mengikuti program kesehatan kerja menuju sehat dengan responden mempunyai BMI >35

3.Rabu, 30 Januari 2013Mengikuti On Spot Monitoring (OSM) ke divisi Expansion Project Division (EPD) yaitu ke kontraktor Truba

4.Kamis, 31 Januari 2013Mengikuti program Kesehatan Kerja menuju sehat

5.Jumat, 1 Februari 2013 Mengikuti safety talk dengan tema ikuti aturan SOP dan JSA yang berlaku

Mengikuti monitoring pengukuran gas pada confined space di Trakindo

Prinasa pada Rentokil (kontraktor pembasmi hama nyamuk)

Kegiatan Minggu ke-4

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 4 Februari 2013Mengikuti monitoring pengukuran gas dan pemberian izin melakukan pekerjaan pada confined space yaitu pekerjaan pengangkatan pompa di dasar sebuah septic tank di Trakindo.

2.Selasa, 5 Februari 2013Mengikuti On Spot Monitoring (OSM) pada area workshop PAMA, yaitu pada spot reparasi ban dump truck dan pada service point

3.Rabu, 6 Februari2013Mengikuti tim safety audit pada kontraktor international SOS yaitu penyedia jasa Klinik perusahaan

4.Kamis, 7 Februari 2013Mengerjakan laporan Praktik Kerja Lapangan BAB I

5.Jumat, 8 Februari 2013 Mengikuti safety talk dengan tema ikuti aturan SOP dan JSA yang berlaku

Melakukan pengukuran suhu pada area generator pembangkit listrik PT kaltim Prima Coal

Kegiatan Minggu ke-5

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 11 Februari 2013Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

2.Selasa, 12 Februari 2013 Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Mengikuti program kesehatan kerja Menuju Sehat dengan responden mempunyai BMI >35

3.Rabu, 13 Februari 2013Mengerjakan Laporan Praktik Kerja Lapangan

4.Kamis, 14 Februari 2013 Mengikuti pertemuan safcon membahas tentang Objektif target program tahun 2013

Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

5.Jumat, 15 Februari 2013 Mengikuti safety talk dengan tema ikuti aturan SOP dan JSA yang berlaku

Mengikuti On Spot Monitoring pada area CPP (coal Processing Plant)

Membuat laporan praktik kerja lapangan

Kegiatan Minggu ke-6

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 18 Februari 2013 Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Mengikuti kegiatan job evaluation pada operator dump truck yang telah menjalani operasi lutut

2.Selasa, 19 Februari 2013Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

3.Rabu, 20 Februari 2013 Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Mengikuti safety on call pada kejadian insiden di CPP dengan melakukan investigasi awal.

4.Kamis, 21 Februari 2013Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan.

5.Jumat, 22 Februari 2013 Mengikuti safety talk dengan tema ikuti aturan SOP dan JSA yang berlaku

Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Mengikuti prinasa ke area loading point pit Hatari

Kegiatan Minggu ke-7

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 25 Februari 2013Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

2.Selasa, 26 Februari 2013 Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Wawancara dengan mas salman tentang sistem manajemen K3 PT Kaltim Prima Coal

3.Rabu, 27 Februari 2013 Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Melihat proses pelatihan Job Safety Analysis

4.Kamis, 28 Februari 2013 Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Mengikuti proses pemberian hot work permit

5.Jumat, 1 Maret 2013Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

Kegiatan Minggu Ke-8

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 4 Maret 2013Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

2.Selasa, 5 Maret 2013 Melihat proses pelatihan basic incident investigation Mengerjakan laporan praktik kerja lapangan

3.Rabu, 6 Maret 2013Wawancara dengan mas aji terkait pelaksanaan prinasa

4.Kamis, 7 Maret 2013Mengumpulkan draft laporan kerja praktik ke pembimbing lapangan

5.Jumat, 8 Maret 2013Mengikuti safety on call pada kejadian dump truck terbalik di pit hatari

Kegiatan Minggu Ke-9

No.Hari/TanggalUraian Kegiatan

1.Senin, 11 Maret 2013Pembuatan powerpoint untuk presentasi laporan praktik kerja lapangan

2.Selasa, 12 Maret 2013LIBUR NASIONAL

3.Rabu, 13 Maret 2013Presentasi Laporan Praktik Kerja Lapangan

4.Kamis, 14 Maret 2013Revisi Laporan Praktik Kerja Lapangan

5.Jumat, 15 Maret 2013Menyerahkan laporan praktik kerja lapangan ke Learning Development

BAB III

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN3.1 Profil PT Kaltim Prima CoalPT Kaltim Prima Coal merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan batubara yang memiliki area konsesi sebesar 90.938 ha dan sampai tahun 2009 baru 40% (43.927 ha) dari total keseluruhan area telah di eksplorasi. Hingga akhir desember 2012 KPC memiliki total 21.936 karyawan dimana diantaranya 5.135 adalah karyawan KPC, 924 labour supply termasuk 7 orang expatriat dan 15.773 adalah karyawan kontraktor termasuk 31 orang expatriat (materi induksi,2013). Cara yang dilakukan PT Kaltim Prima Coal dalam menambang batubara adalah dengan metode multipit open-cutAwal mula ditemukannya kandungan batubara di area PT Kaltim Prima Coal adalah pada tahun 1930. Saat itu seorang ahli geologi berkebangsaan belanda sedang melakukan survey pemetaan yang menghasilkan informasi tentang struktur geologi dan cadangan batubara. Baru setelah tahun 1970 dilakukan percobaan produksi oleh PT. Rio Tinto Indonesia. Pada tahun 1978 pemerintah indonesia mengundang beberapa perusahaan asing untuk melakukan eksplorasi dan pengembangan sumber daya batubara di area sangatta. Hasilnya BP/CRA memenangkan tender untuk area sebesar 7.900 km di dua blok memanjang 300 km dipesisir pantai kalimantan timur. Pada tahun 1982 PT Kaltim Prima Coal baru mendapatkan izin untuk melakukan eksplorasi dan penambangan berdasarkan Coal Contract of Works (CCOW) dengan area konsesi sebesar 90.706 ha dan PT Kaltim Prima Coal harus membayar royalti sebesar 13.5% kepada PT Bukit Asam. Masa habis perjanjian kontrak penambangan batubara ini adalah pada tahun 2021.

Pada tahun 1988 PT Kaltim Prima Coal membuat keputusan untuk melanjutkan pengembangan sebuah tambang ekspor dengan kapasitas rancangan 7 juta ton per tahun berdasarkan eksplorasi lebih detail dan studi kelayakan pada area tambang sangatta. Hasilnya, studi tersebut memberikan harapan bahwa di area tersebut memiliki kuantitas dan kualitas cadangan batubara yang tinggi dan letaknya dekat dengan garis pantai yang mempunyai air laut dalam sehingga dapat memberikan prospek pertumbuhan pasar yang menjanjikan. Pada tahun 1989 PT Kaltim Prima Coal melakukan pembangunan sarana-prasarana dengan dana untuk proyek tersebut menghabiskan sekitar USD 570 M. Saran-prasarana vital tersebut baru dilakukan uji kelayakan pada akhir tahun 1991 dan PT Kaltim Prima Coal mulai melakukan penjualan batubara ke pasar ekspor tahun 1992.

Pada 16 juli 2003, PT Bumi Resources Tbk. Menandatangani perjanjian jual beli dengan BP dan CRA untuk akuisisi PT Kaltim Prima Coal dan baru pada tanggal 10 oktober 2003 perjanjian jual beli selesai. PT Bumi Resources Tbk sendiri merupakan perusahaan publik yang terdaftar di bursa efek Surabaya dan Bursa Efek Jakarta dan didirikan pada tahun 1973. PT Bumi Resources Tbk telah melakukan akuisisi pada 3 peusahaan inti yaitu PT. Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia dan Gallo Oil (Jersey) Ltd.3.2 Wilayah Kerja PT Kaltim Prima CoalWilayah kerja PT Kaltim Prima Coal terletak di Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini terletak 50 Km sebelah utara Khatulistiwa dan berada disebelah pesisir timur Kalimantan. Letak kota ini juga berada 180 Km sebelah utara dari ibukota provinsi Kaltim, yaitu Samarinda dan 310 Km dari pusat kota Balikpapan. Pada Juni 2005, PT Kaltim Prima Coal baru memulai penambangan batubara di daerah Bengalon, 25 Km sebelah utara kota Sangatta. Total luas area konsesi yang dimilik PT Kaltim Prima Coal hingga saat ini adalah sebesar 90.938 ha.Gambar 3.1 Letak wilayah kerja PT Kaltim Prima Coal3.3 Visi, Misi dan Tata Nilai PT Kaltim Prima Coal

3.3.1 Visi PerusahaanProdusen batubara terkemuka Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dunia yang memberikan nilai optimal bagi semua pemangku kepentingan3.3.2 Misi Perusahaan1. Memupuk budaya yang mengutamakan kesehatan, keselamatan dan lingkungan dalam segala tindakan.

Mematuhi peraturan perundangan kesehatan, keselamatan dan lingkungan yang berlaku

Berupaya tanpa henti mempromosikan budaya praktik terbaik dalam pengelolaan kesehatan, keselamatan dan lingkungan

2. Memelihara tatakelola perusahaan yang baik dan mempromosikan perusahaan sebagai warga yang baik

Mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip transparansi, tanggung-gugat, tanggung jawab, integritas dan keadilan

Peka terhadap falsafah bangsa dalam kehidupan sehari-hari

3. Menyediakan lingkungan belajar untuk mencapai keunggulan dan meningkatkan kesejahteraan.

Mendorong pemberdayaan karyawan

Memberikan pengakuan dan penghargaan atas kinerja yang unggul

Mendorong terciptanya hubungan yang harmonis dan dinamis

4. Mengoptimalkan nilai bagi semua pemangku kepentingan

Memaksimalkan pengembalian investasi pemegang saham

Memastikan para mitra diakui dan didorong memberikan pencapaian lebih tinggi

Mendorong terciptanya rasa saling memiliki, semangat kemitraan dan dukungan masyarakat terhadap operasi KPC

Menunjukan kepemimpinan dalam pengelolaan risiko para pemangku kepentingan

5. Menyelenggarakan praktik pengelolaan dan operasi terbaik untuk menghasilkan produk dan kinerja berkualitas tinggi secara konsisten

Terus-menerus berupaya menjadi produsen batubara yang efisien

Meminimalkan kerugian

Memupuk budaya perbaikan berkesinambungan3.3.3 Tata Nilai Perusahaan Keunggulan: memegang erat seluruh karyawan, kontraktor dan supplier serta bertanggung jawab untuk mencapai praktik terbaik dalam segala hal yang kita lakukan Integritas: mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dengan berperilaku adil, jujur dan bertanggung jawab Transparansi: berusaha untuk bersikap terbuka dan jujur Kegesitan: proaktif beradaptasi dengan situasi dinamis dengan cara merangkul ide-ide baru dan menangkap peluang Pemberdayaan : mengembangkan karyawan dan masyarakat setempat dengan mendorong mereka untuk mengambil inisiatif, inovatif dan menjadi mandiri Kerjasama tim: Mencapai keunggulan melalui kerjasama antara manajemen, karyawan dan mitra Peduli: memperhatikan kebutuhan para pemangku kepentingan dan memastikan kebutuhan tersebut dibahas secara berkelanjutan3.4 Struktur Organisasi PT Kaltim Prima CoalPT Kaltim Prima Coal dipimpin oleh seorang CEO (Chief Executive Officer) yang membawahi langsung COO (Chief Operating Officer) dan CFO (Chief Financial Officer) . CEO juga membawahi langsung 4 divisi yaitu Mining Development, Human Resources, External Affairs & Sustainable Development, dan Marketing. COO membawahi langsung 6 divisi yaitu Contract Mining, HSES, Mining Operation, Mining Support, Processing & Infrastructure, dan Expansion Project. CFO membawahi langsung 3 divisi yaitu Chain Supply Finance, dan Bussiness Performance & Inprovement Division. Setiap Divisi di PT Kaltim Prima Coal dipimpin oleh seorang General Manager dan disetiap Divisi tersebut terbagi lagi menjadi beberapa departemen yang dipimpin oleh seorang Manager.Berikut ini penjelasan singkat setiap Divisi PT Kaltim Prima Coal:1. Health, Safety, Environment and Security Menerapkan sistem pengelolaan keselamatan yang memberikan sarana untuk secara terus menerus mengidentifikasi, mengontrol dan mengurangi risiko cedera serius dan sakit dari kerja yang berhubungan dengan tugas-tugas karyawan.

Mengelola dampak lingkungan hidup antara lain pencegahan pencemaran, pengembalian semua area bekas tambang ke dalam kondisi yang produktif, stabil, dan aman serta pemeliharaan keanekaragaman hayati.

Kapasitas untuk mencegah kecelakaan fatal yang berkaitan dengan risiko tinggi di KPC2. Processing and Infrastructure Division Semua tahap Coal Preparation Plant, termasuk layanan produksi, pemeliharaan dan tehnik.

Operasi terminal batubara termasuk penyaluran/penimbunan batubara, layanan pelabuhan, peti kemas umum dan penyelanggaraan pelabuhan.

Layanan tehnik termasuk tehnik mekanis/elektrik

Layanan pemeliharaan infrastruktur, pekerjaan sipil serta fasilitas-fasilitas3. Mining Operation Division (MOD) Pembukaan lahan, pengambilan tanah pucuk, pengambilan tanah penutup dan batubara. Semua pit bertanggung jawab atas rehabilitasi tanah bekerja sama dengan environment departement Memberikan pelayanan pendukung untuk operasi tambang.

Mendukung kegiatan penambangan untuk jangka panjang.4. Mining Support Division Melaksanakan dan membuat rencana untuk memelihara dan overhaul alat bagi seluruh armada alat berat tambang.

Melaksanakan rencana , pengelolaan, layanan, pemeliharaan dan perbaikan armada haultruck.5. Mining Development Eksplorasi deposit batubara, studi dan dokumentasi cadangan batubara

Melakukan eksplorasi dan analisis atas peluang pengembangan bagi PT Kaltim Prima Coal6. Marketing Mencapai tujuan-tujuan strategis bisnis dan penjualan batubara.

Mengatur jadwal penjualan, merundingkan harga dan mengatur kontrak penjualan kepada konsumen, baik konsumen asing maupun dalam negeri.7. Supply Chain Bertanggung jawab pada pembelian segala kebutuhan PT Kaltim Prima Coal seperti bahan bakar, oli, suku cadang dll.8. Expansion project division Melakukan pembangunan infrastruktur baru yang dibutuhkan PT Kaltim Prima Coal untuk pengembangan usaha.9. Human Resources Bertanggung jawab pada urusan kepegawaian termasuk rekruitment tenaga kerja lokal maupun asing.10. External Affairs & Sustainable Dev.

Mengarahkan, mengelola, mengembangkan dan menerapkan program-program bagi kegiatan peningkatan perekonomian serta bagi pendidikan dan kesehatan masyarakat sangatta dan bengalon.

Mengelola pengembangan dan memastikan terpeliharanya nama baik korporasi KPC di Indonesia melalui hubungan masyarakat yang efektif.11. Contract Mining Division Bertanggung jawab untuk menangani kontraktor-kontraktor besar yang menambang di PT Kaltim Prima Coal seperti Thiess, Pama, dan Buma.12. Finance Menangani keuangan perusahaan, pembayaran rekening dan gaji.

Menangani hal-hal yang menyangkut perpajakan dan perdagangan.13. Bussiness performance & improvement divison.

Melakukan improvement terhadap kinerja yang ada.

Gambar 3.2 Struktur Organisasi PT Kaltim Prima Coal

3.5 Struktur Divisi HSES (Health, Safety, Environment and Security)Divisi Health, Safety, Environment and Security bertanggung jawab mengelola keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan hidup demi terwujudnya wilayah tambang yang bebas dari risiko celaka dan sakit, bebas dari pencemaran, dan menjaga keamanan lingkungan. Divisi Health Safety Environment and Security dipimpin oleh seorang General Manager yang dibantu oleh seorang Supervisor Admin dan seorang sekretaris. Divisi HSES dibagi menjadi 4 departemen, yaitu:1. Occupational Health & Safety

2. HSES System

3. Environment

4. SecuritySetiap departemen dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab pada setiap wilayah kerjanya masing-masing. Departemen dibagi lagi menjadi beberapa section yang dipimpin oleh seorang Superitendent. Berikut ini pembagian section pada setiap departemen:

Departemen Occupational Health & Safety dibagi menjadi beberapa section yaitu :1. Occupational healthSection ini bertanggung jawab pada Occupational Health Monitoring. Section ini melakukan pengukuran-pengukuran seperti bising, getar, cahaya, noise dan pengukuran lainnya di area kerja karyawan. Section ini juga melaksanakan program-program kesehatan lainnya seperti program diet untuk karyawan yang mempunyai BMI > 35, program Job Evaluation dll.2. Safety monitoring & commisioningSection ini bertanggung jawab untuk pelaksanaan uji kelayakan alat dan kendaraan yang akan dioperasikan diwilayah kerja PT Kaltim Prima Coal. Section ini juga melakukan kegiatan seperti inspeksi dan monitoring kelapangan untuk memberikan rekomendasi perbaikan.3. Emergency Preparedness& ResponseSection ini bertanggung jawab jika terjadi insiden diwilayah kerja PT Kaltim prima Coal. Section ini yang turun langsung ke lokasi kejadian saat terjadi situasi gawat darurat untuk melakukan pertolongan pada korban.

Departemen HSES System dibagi menjadi beberapa section, yaitu :1. HSES Audit

Section ini sebagai tim audit internal di wilayah PT Kaltim Prima Coal. Audit yang dilakukan adalah audit terhadap penerapannya langsung dilapangan apakah sesuai dengan sistem yang dibuat.2. HSES Information & Management System

Section ini yang menyediakan informasi data-data tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Data yang didapatkan dari seluruh Divisi di PT Kaltim Prima Coal diolah dan ditampilkan secara statistik untuk mempermudah penyampaian informasi keseluruh karyawan. Section ini juga memelihara sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Pemeliharaan sistem ini adalah dengan cara mereview apakah sistem manajemen K3 yang sekarang sesuai dengan kebutuhan yang telah dijabarkan pada OHSAS 18001:2007.3. Safety training and services

Section ini bertanggung jawab untuk menyediakan training bagi karyawan PT Kaltim Prima Coal. Section ini bertugas menyiapkan materi-materi training lalu menyampaikannya dan melakukan penilaian terhadap kompetensi karyawan. Karyawan yang telah melakukan pelatihan akan diberikan lembar post tes untuk menilai apakah karyawan tersebut benar-benar kompeten terhadap pelatihan yang diikutinya. Section ini juga mengurusi KIMPER atau Kartu Ijin Mengemudi Perusahaan.

Departemen environment mempunyai beberapa section, yaitu:1. Reclamation planning

2. Site support

3. Coordinator environment bengalon

4. Compliance monitoring

5. Reclamation operation

6. Environtment permit and monitoring.Departemen Security hanya memilik 1 section dan dipimpin oleh seorang superitendent. Security di PT Kaltim Prima Coal di sediakan oleh NPN, SGS dan GA.

Gambar 3.3 Struktur Organisasi Health, Safety, Environment & Security Division

3.6 Kebijakan Safety, Health, environment and SecurityBerikut ini kebijakan kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan hidup (K3L) serta pembangunan berkesinambungan, dan keamanan PT Kaltim Prima Coal.Gambar 3.4 Kebijakan K3L, Pembangunan Berkesinambungan dan Security3.7 Tahapan Produksi PT Kaltim Prima Coal

3.7.1 Persiapan Penambangan Eksplorasi

Sampai akhir tahun 2007, dari luas konsesi yang dimiliki seluas 90.938 hektar, baru sekitar 36.375 hektar atau 40% telah dieksplorasi. Kegiatan eksplorasi tersebut didukung oleh 6 unit pengebor. Selain untuk mendapatkan data keberadaan batubara, dalam kegiatan ini juga dilakukan pengambilan contoh batuan penutup, untuk mengetahui sifat keasaman dari batuan tersebut. hasil analisa laboratorium digunakan sebagai masukan bagi pembuatan peta penyebaran batuan berdasarkan sifat keasamannya, dan digunakan sebagai acuan untuk kegiatan operasional pemindahan dan penimbunan batuan penutup dikemudian hari.

Pembukaan Lahan/Land clearingPembukaan lahan dilakukan dengan alat berbobot ringan, untuk menghindari terjadinya pemadatan tanah, sebagai persiapan kegiatan pengambilan batubara dan batuan penutupnya. Sampai akhir tahun 2009, luas lahan terbuka adalah 14.125 hektar (15.53% dari daerah konsesi). Sebelum kegiatan pembukaan lahan dimulai, dilakukan kegiatan identifikasi dan dokumentasi flora dan fauna yang ada di lokasi tersebut. beberapa spesies tanaman penting dikoleksi untuk ditanam kembali pada kegiatan rehabilitasi lahan.

Pengelolaan tanah

Setiap hari sekitar 2.1 juta ton tanah dipindahkan, dengan menggunakan 27 truk yang didukung oleh 5 alat muat (back hoe) dan 7 alat dorong (dozer). Beberapa alat rental juga membantu pekerjaan ini untuk memaksimalkan pengambilan tanah. Tanah yang dipindahkan selanjutnya ditempatkan di daerah yang akan direhabilitasi atau disimpan untuk sementara agar dapat digunakan kemudian hari dalam melakukan rehabilitasi lahan.

Peledakan batuan penutup

Peledakan dilakukan dengan menggunakan ANFO (Amonium Nitrat Fuel Oil) dengan komposisi rata-rata 94% Amonium Nitrat dan 6% solar. Pemantauan terhadap getaran dan kebisingan yang ditimbulkan dari peledakan selalu dilakukan. Saat ini, PT. Kaltim Prima Coal diperkenankan menggunakan oli bekas hingga 80% berat dari total campuran bahan bakar pada peledakan.

Gambar 3.5 Area yang ditandai untuk lokasi peledakan3.7.2 Penambangan batubara Pengelolaan batuan penutupBatuan penutup dipindahkan dengan truk dengan kapasitas antara 140 sampai 320 ton. Batuan ini dimuat dalam truk dengan menggunakan alat muat (shovel) yang mempunyai kapasitas maksimal 32m. Sebelumnya, batuan tersebut diledakkan terlebih dahulu, untuk memudahkan pemindahan. Setiap hari dipindahkan hampir 2.1 juta bcm batuan penutup ke tempat penimbunan, dengan menggunakan alat angkut sekitar 500 unit. Pemindahan dilakukan dengan memperhatikan jenis batuan berdasarkan sifat keasamannya. Pengaturan pemindahan batuan dilakukan dengan menggunakan dispatch system, sebuah sistem yang memanfaatkan teknologi GPS (Global Positioning Systems), yang membantu penentuan lokasi penimbunan dari setiap truk beserta jumlah dan jenis batuan yang dibawanya.

Penambangan batubara

Penambangan batubara dibantu oleh alat pengupas yaitu shovel atau backhoe dan ditransportasikan dengan menggunakan heavy dump. Tahun 2009, berhasil ditambang sebanyak 40,268 juta ton. Kualitas batubara yang dihasilkan adalah Prima, Pinang, Melawan dan Bengalon.

Gambar 3.6 Pengangkutan batubara menggunakan Heavy dump Pengelolaan batubara

Unit pencucian batubara mempunyai kapasitas sebesar 600 tph. Sebanyak kurang lebih 10% batubara yang ditambang harus dicuci di unit pengolahan ini. Pencucian dilakukan dengan menggunakan aliran permukaan yang ditampung dalam sebuah kolam, dan air hasil pencucian juga ditampung di sebuah kolam pengendap. Setelah dilakukan pencucian, dilakukan pemotongan batubara menggunakan mesin crusher dilakukan hingga batubara mempunyai ukuran maksimal 50 mm.Gambar 3.7 Mesin pemisah dan pencucian batubara

Pengiriman batubara

Batubara dikirim ke terminal batubara atau tempat penimbunan dengan menggunakan conveyor belt sepanjang 13.1 Km dengan kapasitas angkut 4.500 tph.

Penimbunan batubara

Terminal batubara mempunyai kapasitas timbun sebesar 1.35 juta ton. Batubara kemudian dikirim ke pelabuhan untuk dimuatkan ke dalam kapal.

Pengapalan batubara

Kecepatan pemuatan batubara ke dalam kapal adalah 5400/5450 tph dan sebagian besar produksi PT. Kaltim Prima Coal saat ini dijual ke pasar internasional dan pasar domestik. Pelabuhan tanjung bara bisa memuati kapal yang memiliki bobot mati sampai dengan 200.000 ton3.7.3 Pasca Penambangan Penimbunan batuan penutupPenimbunan dilakukan dengan mengikuti tata cara yang tercantum dalam Buku Spesifikasi Rehabilitasi. Tinggi setiap timbunan adalah 10 m dengan kemiringan lereng akhir 1:4. Batuan yang berpotensi menghasilkan asam (Potential Acid Forming = PAF) ditempatkan dibagian terbawah dari timbunan. Batuan ini harus diselimuti oleh batuan yang tidak berpotensi menghasilkan asam (Non Acid Forming = NAF). Hal ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya air asam batuan. Tempat penimbunan yang telah selesai dibentuk harus segera direhabilitasi. Tanah dari kegiatan pembukaan lahan, disebarkan kembali di atas timbunan yang telah dirapikan, dan dibuat saluran pengendali aliran permukaan, yang akan mengalirkan air ke kolam pengendap sedimen. Audit kegiatan penyiapan lahan rehabilitasi ini dilakukan secara rutin, untuk memastikan terbentuknya daerah rehabilitasi yang stabil, aman dan produktif. Sampai akhir tahun 2007, telah dilakukan rehabilitasi seluas lebih dari 2.800 hektar.

Kolam pengendap sedimen

Berfungsi untuk mengendapkan sedimen yang terbawa akibat aliran air permukaan, sehingga air yang masuk ke sungai penerima mempunyai kualitas yang sesuai dengan baku mutu lingkungan. Pengambilan contoh air di 7 titik pantau, kepatuhan dan analisa laboratorium dilakukan setiap hari untuk memastikan parameter air yang tertuang dalam baku mutu lingkungan bisa terpenuhi.

Penanaman

Penanaman diawali dengan penebaran benih tanaman penutup tanah (cover crop), untuk mencegah terjadinya erosi. Selanjutnya dilakukan penananam tanaman pelindung dan tanaman keras khas Kalimantan seperti Meranti, Kapur dan Ulin. Tanaman yang digunakan sebagian besar diproduksi oleh Nursery Environment Department dan juga melalui kemitraan dengan petani lokal melalui program pengembangan masyarakat. Perawatan tanaman di daerah rehabilitasi dilakukan secara rutin, agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pekerjaan meliputi pemberian pupuk dan pembersihan gulma. Untuk mengetahui perkembangan daerah rehabilitasi secara menyeluruh, pemantauan flora dan fauna juga dilakukan, termasuk keterkaitan antara keduanya.

Gambar 3.8 Proses produksi PT Kaltim Prima Coal3.8 Potensi Bahaya dan Upaya Pengendalian di PT Kaltim Prima CoalPotensi bahaya yang terdapat di area PT Kaltim Prima Coal harus dikendalikan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Berikut ini beberapa potensi bahaya secara umum yang terdapat di PT Kaltim Prima Coal dan cara pengendaliannya:3.8.1 Bahaya FisikBahaya fisik yang umum ditemukan di PT Kaltim Prima Coal contohnya adalah kebisingan, suhu ekstrim, getaran. Untuk kebisingan biasanya ditemukan di area generator, di kabin alat berat, alat pemroses batubara dll. Upaya pengendalian yang dilakukan untuk meredam kebisingan yang melebihi 85 dB adalah dengan menggunakan ear plug/ear muff atau juga bisa dengan engineering control (meng-cover area) sehingga suara bising yang dikeluarkan oleh alat dapat diredam.

Biasanya area yang umum terdapat suhu tinggi adalah di area generator atau di area tambang sendiri. Untuk di ruangan generator biasanya dilengkapi dengan blower untuk mendinginkan suhu yang terperangkap di dalamnya. Sedangkan untuk diarea tambang contohnya operator alat berat, biasanya kabin alat berat sudah dilengkapi dengan pendingin udara (air conditioner).

Untuk bahaya getar, tempat-tempat yang mengandung bahaya tipe ini adalah dikabin alat berat (dump truck, shovel, dozer). Upaya pengendalian yang dilakukan adalah dengan cara engineering (rekayasa) yaitu dengan mendesain tempat duduk di dalam kabin supaya dapat meredam getaran yang ditimbulkan oleh mesin.

Gambar 3.9 Alat Pelindung dari kebisingan (ear plug)3.8.2 Bahaya MekanikBahaya mekanik yang umum terdapat di area PT Kaltim Prima Coal adalah terjatuh, terjepit, tersandung, tertabrak. Untuk bahaya terjatuh, biasanya timbul dari pekerjaan-pekerjaan diketinggian. Untuk ketinggian lebih dari 1.8 meter diwajibkan menggunakan alat pelindung diri dari terjatuh yaitu safety harnesses atau menggunakan alat pencegah jatuh seperti elevated work platforms, atau scaffolding.

Untuk bahaya terjepit biasanya terdapat diarea workshop karena ditempat ini biasanya banyak pekerjaan yang menggunakan tangan dan sangat berisiko untuk terjepit. Pengendalian yang dilakukan adalah dengan cara administratif yaitu dengan penerapan SOP dan beberapa poster-poster peringatan pada bahaya tangan terjepit.

Bahaya tersandung biasanya terjadi akibat adanya perubahan ketinggian pada permukaan berpijak, maka dari itu upaya pengendalian yang dilakukan adalah dengan memberikan tanda garis berwarna hitam kuning pada setiap tempat yang terjadi perubahan ketinggian. Bahaya ini juga dapat timbul ketika kondisi workshop tidak teratur, maka dari itu upaya membuat workshop menjadi rapih adalah cara yang efektif untuk mengurangi risiko terjatuh akibat tersandung.

Biasanya bahaya tabrakan terjadi pada saat mengemudikan kendaraan, baik kendaraan ringan maupun alat berat. Untuk mengendalikan bahaya ini diberlakukan KIMPER untuk mengurangi risiko kecelakaan (tabrakan) yang disebabkan kurang kompetensinya pengemudi. Untuk mengurangi tingkat keparahan ketika terjadi kecelakaan, di PT Kaltim Prima Coal juga mewajibkan pengemudi dan penumpang memakai seatbelt. Penggunaan seatbelt termasuk ke dalam golden rule/aturan baku, karena itu jika dilakukan pelanggaran terhadap hal ini maka ada sanksi maksimal yaitu Pemutusan Hubungan Kerja.

Gambar 3.10 Pengendalian bahaya tersandung3.8.3 Bahaya KimiaBahaya kimia di PT Kaltim Prima Coal dapat timbul dari penyimpanan bahan kimia itu sendiri. Bahan-bahan kimia seperti oli, minyak, pelumas, atau bahkan bahan peledak jika penyimpanannya tidak mengikuti aturan yang berlaku maka dapat menimbulkan risiko yang signifikan untuk terjadi kecelakaan. Pengendalian yang dilakukan di PT Kaltim Prima Coal terkait dengan bahaya kimia adalah dengan cara menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS) dan memberikan pengaturan administratif terkait labeling bahan kimia. Selain itu untuk mengurangi dampak ketika terjadi kontak dengan bahan kimia, biasanya ditempat-tempat yang berisiko tersebut disediakan emergency eye shower dan body shower.

Bahaya selanjutnya adalah dari debu yang berterbangan di udara. Pertambangan batubara yang rata-rata mempunyai jalan akses dari tanah, memungkinkan untuk menambah risiko pekerja untuk terpajan oleh debu. Untuk itu dilakukan pengendalian berupa penyiraman air secara berkala setiap harinya menggunakan water tank unit. Selain itu pekerja diarea tambang juga diberikan alat pelindung diri yang berupa masker.

Gambar 3.11 Alat Pelindung Diri untuk bahaya debu

Gambar 3.12 Emergency eye wash diletakan diarea workshop

Gambar 3.13 Unit penyiraman jalan tambang3.8.4 Bahaya ErgonomiBahaya ergonomi berasal dari desain kerja yang tidak sesuai dengan anatomi tubuh manusia. Desain kerja tersebut bisa berupa peralatan kerja dengan tubuh manusia maupun metode kerja dengan tubuh manusia. Postur janggal dan statis merupakan faktor risiko ergonomi yang dapat menyebabkan gangguan pada anatomi tubuh. Faktor risiko ergonomi ini biasanya terdapat pada operator alat berat yang bekerja hingga 12 jam. Mereka harus duduk dikursi hampir 12 jam mengoperasikan alat tersebut, maka dari itu upaya pengendalian yang dilakukan adalah dengan menyediakan kursi operator yang ergonomis dan menghimbau para operator untuk secara berkala melakukan peregangan.3.8.9 Bahaya Psikososial dan Stress KerjaTambang yang beroperasi selama 24 jam dapat menimbulkan bahaya psikososial dan stress kerja. Maka dari itu pembagian shift merupakan upaya pengendalian risiko dari bahaya ini. Untuk karyawan dikantor, sistem kerjanya adalah steady day, yaitu masuk senin sampai jumat dan sabtu-minggu libur dengan jam kerja perhari adalah 8 jam. Pembagian shift kerja untuk mekanik adalah 3 hari siang 3 hari malam dan 3 hari off. Sistem roaster ini juga berlaku bagi operator alat berat di tambang.

BAB IV

NILAI BELAJARPada Bab ini, penulis menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan nilai-nilai belajar yang diperoleh selama menjalani kegiatan praktik kerja lapangan di Divisi Health, Safety, Environment, and Security (HSES). Selain itu penulis juga menuliskan tentang topik khusus yang penulis kaji selama kegiatan praktik kerja lapangan yaitu tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Kaltim Prima Coal (Prima Nirbhaya).4.1 Nilai Belajar Umum4.1.1 Safety Induction Safety Induction adalah kegiatan pengenalan awal terhadap karyawan yang akan masuk kerja dan menjadi bagian PT Kaltim Prima Coal atau terhadap tamu yang sedang melakukan kunjungan. Pada awal safety induction dijelaskan tentang informasi gedung seperti toilet, pintu darurat, jalur evakuasi, tempat berkumpul (Assembly Point), tempat istirahat, Musholla dll. Setelah itu dijelaskan tentang prosedur gawat darurat apabila terjadi situasi darurat seperti gempa bumi, kebakaran dll. Pada tahap ini dijelaskan tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap evakuasi di area tersebut jika terjadi keadaan darurat dan ditunjukan dengan penggunaan helm bewarna kuning (fire Warden). Sedangkan Chief Fire Warden menggunakan helm bewarna merah dan dia bertanggung jawab pada keseluruhan area .

Tahap selanjutnya adalah pengenalan terhadap profil perusahaan seperti proses produksi perusahaan, jumlah karyawan, nomor darurat yang bisa dihubungi, fasilitas dll. Setelah itu dijelaskan peraturan tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja yang berlaku di area PT Kaltim Prima Coal. Peraturan tersebut tertuang di dalam buku saku Golden Rule atau aturan baku di PT Kaltim Prima Coal. Aturan baku tersebut berisi tentang informasi peraturan di PT Kaltim Prima Coal yang jika dilanggar akan berbuah sanksi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Aturan baku ini harus ditaati oleh siapapun yang bekerja di wilayah PT Kaltim Prima Coal. Aturan baku tersebut beberapa berisi tentang Fatality Prevention Element (FPE) seperti bekerja di ketinggian, bekerja di Confined space dll.

Gambar 4.1 Safety induction di Tanggo Delta4.1.2 Safety TalkSafety Talk di area Tanggo Delta tempat penulis bekerja dilakukan 1x seminggu yaitu pada hari jumat pagi. Karyawan yang bertugas menyampaikan materi safety talk dipilih berdasarkan undian yang diambil pada minggu sebelumnya. Isi materi Safety talk berubah-ubah tergantung dari tema bulanan yang ditetapkan. Contohnya pada bulan februari tema safety yang diangkat adalah IKUTI SOP/JSA DEMI KESELAMATAN. Berdasarkan tema tersebut setiap minggunya juga ditetapkan beberapa topik yang berbeda. Selain itu untuk di Tanggo Delta biasanya isi materi safety talk juga ditambahi dengan isu manajemen dan isu Safety On Call. Berbeda dengan Safety Talk di area tambang, pada area ini Safety Talk dilakukan setiap hari sebelum dilakukan pekerjaan. Isi materi Safety Talk yang disampaikan biasanya terkait dengan pekerjaan yang akan dilakukan dan petugas yang menyampaikannya adalah praktisi safety.

Gambar 4.2 Safety talk di hari jumat pagi4.1.3 Kartu ID/KIMPERKartu ID/KIMPER dibuat dengan tujuan untuk mengontrol akses ke dalam area KPC. Identity card biasanya berisi tentang Nama, Jabatan, Badge Number (BN), dan tanggal berlaku. Untuk membedakan antara karyawan KPC dan kontraktor biasanya nomor Badge number kontraktor diawali dengan huruf Z dan ada tulisan kontraktor dibelakangnya. Untuk Kartu ID/KIMPER, selain berisi tentang informasi diatas, di dalamnya juga berisi tentang kendaraan yang di izinkan untuk dikendarai olehnya.

Selain itu di dalam Kartu ID/KIMPER dibedakan juga area kerja yang boleh dimasuki biasanya ditandai dengan garis bewarna. Warna-warna tersebut adalah sebagai berikut :

1. Warna putih berarti orang tersebut hanya dibolehkan bekerja di area Non-Pit.

2. Warna pink berarti orang tersebut mendapat ijin bekerja di di area pit.

3. Warna hijau muda untuk KPC dan kuning untuk kontraktor berarti pemegang ID/Kimper mendapat ijin untuk bekerja di area Pit dan mengemudi LV di area Pit.

4. Warna biru tua berarti pemegang ID/Kimper mendapat ijin untuk bekerja di area Pit dan mengemudi kendaraan atau alat berat di area pit saja.4.1.4 Prinasa (Prima Nirbhaya Advanced Safety Auditing)Prinasa adalah salah satu tools PT Kaltim Prima Coal yang di diadaptasi dari Safety Management Consultants (UK) Ltd dalam mencegah kejadian kecelakaan akibat perilaku tidak aman (BBS= Behaviour Based Safety). Prinasa dilakukan oleh praktisi safety atau yang mempunyai wewenang seperti supervisor atau manajer di area pekerjaannya (disebut dengan auditor prinasa) dengan tujuan objek yang di prinasa akan merasa lebih diperhatikan. Prinasa tidak bertujuan memberikan hukuman terhadap objek prinasa, akan tetapi lebih ke merubah perilaku atas dasar kesepakatan kedua belah pihak (auditor prinasa dan objek prinasa).

Prinasa dilakukan secara sistematis atau secara berkala dan dilakukan biasanya oleh 2-3 orang auditor. Prinasa dilakukan dengan cara mengamati karyawan yang menjadi objek dengan menggunakan seluruh indra dan perhatikan perilaku karyawan tersebut saat bekerja. Setelah itu minta karyawan untuk menghentikan sementara pekerjaan 15 menit dan ajak untuk mendiskusikan tentang pekerjaan yang dilakukan. Gunakan pertanyaan terbuka sehingga porsi bicara adalah 30 % untuk auditor dan 70% untuk objek prinasa. Pahami pekerjaan yang dilakukannya, jika perilaku pekerja sudah aman maka berikan pujian dengan tujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku aman tersebut. Sebaliknya, jika perilaku pekerja tidak aman maka diskusikan lebih lanjut sehingga terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak dan si pekerja sepakat akan mengubah perilaku tidak amannya menjadi perilaku yang aman.

Gambar 4.3 Pelatihan Prinasa

Gambar 4.4 Praktek Prinasa di workshop UT

4.1.5 Dont Walk PastDont walk past merupakan program terbaru dari PT Kaltim Prima Coal. Program ini hasil rekomendasi dari tim audit external yang menemukan bahwa banyak karyawan yang mengabaikan tindakan dan kondisi tidak aman di area PT Kaltim Prima Coal. Program ini bertujuan merubah sikap mengabaikan bahaya tersebut dengan cara mengkomunikasikan atau mengampanyekan melalui media-media seperti poster, majalah, spanduk dll. Selain itu dilakukan pembagian kuesioner untuk mendapatkan data awal mengenai tingkat kesadaran karyawan akan kepedulian terhadap keselamatan lalu setelah itu dilakukan survey yang sama untuk melihat keefektifan program ini.

Gambar 4.5 Spanduk kampanye dont walk past4.1.6 Traffic MonitoringTraffic Monitoring dilakukan bertujuan untuk mengawasi lalu lintas tambang agar terbentuk suatu tatanan lalu lintas yang teratur dan aman sehingga mengurangi tingkat kecelakaan tambang yang disebabkan oleh pelanggaran rambu-rambu. Traffic monitoring dilakukan dengan bantuan alat yang disebut speed gun. Alat tersebut mampu memberikan informasi tentang kecepatan kendaraan yang dibidiknya. Jika pengemudi melebihi batas kecepatan yang ditentukan maka ada sanksi dari pihak PT Kaltim Prima Coal seperti penarikan Kimper atau bahkan Pemutusan Hubungan Kerja.

Selain itu Traffic monitoring juga melihat aspek-aspek lain yang berhubungan dengan risiko berkendara. Aspek-aspek tersebut antara lain pelanggaran terhadap rambu Stop, tidak memakai sabuk pengaman, mengemudi tanpa Kimper/ Kartu Ijin Mengemudi Pertambangan, menggunakan Handphone saat berkendara, mengemudikan kendaraan yang rusak (Rem, Kemudi, Sabuk Pengaman) dll. Pelanggaran-pelanggaran tersebut mempunyai sanksi yang berbeda-beda tergantung tingkat keparahan yang dapat diakibatkannya.

Gambar 4.6 Traffic monitoring menggunakan alat speed gun4.1.7 On Spot MonitoringAdalah pemantauan keselamatan yang difokuskan pada pemenuhan standar dan persyaratan Prima Nirbhaya. On Spot Monitoring dilakukan oleh pihak HSE tanggo delta dan ada juga yang dilakukan cross division. On spot monitoring bertujuan untuk menangani praktik yang tidak sesuai standard dan memberikan penghargaan pada praktik yang sesuai dengan standard. Aspek keselamatan yang diamati adalah secara keseluruhan dan tidak boleh dibatasi.Hasil temuan pada on spot monitoring didokumentasikan dan diberikan saran untuk perbaikan. Lalu saran perbaikan ini disampaikan kepada Divisi atau departemen yang terkait untuk segera diambil tindakan perbaikan.

Gambar 4.7 On Spot Monitoring pada area reparasi ban heavy equipment4.1.8 CommisioningAdalah sebuah uji kelayakan pada setiap alat yang bermaksud dioperasikan diwilayah kerja PT Kaltim Prima Coal. Tujuan dari commisioning ini adalah kontrol pada penyebab kecelakaan yang disebabkan oleh kendaraan atau alat yang tidak layak untuk dioperasikan. Commisioning ini dilakukan oleh orang yang ditunjuk dan mempunyai kompetensi dalam uji kelayakan alat maupun kendaraan. Kendaraan atau alat yang telah di commisioning dan dinyatakan lulus akan diberikan stiker lulus uji dan diperbolehkan memasuki area kerja PT Kaltim Prima Coal. Area kerja yang boleh dimasuki oleh kendaraan tergantung stiker lulus uji yang diberikan. 4.1.9 Job Safety AnalysisJob Safety Analysis dilakukan pada setiap pekerjaan yang berisiko dan sebelumnya tidak ada SOP atau SOP yang sudah ada belum seluruhnya meliputi pekerjaan yang dilakukan. Job Safety Analysis yang efektif untuk mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya/risiko pekerjaan, penyusunannya harus dilakukan oleh pengawas yang terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut. Berikut ini langkah-langkah dalam penyusunan Job Safety Analysis:

Pertama, kenali dan pahami pekerjaan. Hanya pekerjaan yang mempunyai potensi bahaya yang memerlukan Job Safety Anaysis.

Kedua, bagi pekerjaan dalam beberapa langkah logis.

Ketiga, kenali potensi bahaya atau risiko pada setiap langkah pekerjaan.

Keempat, buatlah solusi untuk mengendalikan risiko.

Potensi bahaya pekerjaan dapat berasal dari peralatan kerja yang digunakan, cara atau metode kerja yang diterapkan, material yang digunakan, lingkungan kerja dimana pekerjaan dilakukan atau bahkan bersumber dari pekerjanya itu sendiri. 4.1.10 Work Permit SystemBerdasarkan Penilaian Risiko di PT Kaltim Prima Coal didapatkan bahwa ada sejumlah pekerjaan yang berisiko tinggi untuk terjadi kecelakaan. Jenis pekerjaan ini harus mendapatkan perhatian lebih lanjut dan dilakukan pengendalian. Upaya pengendalian yang dilakukan adalah penetapan persyaratan-persyaratan sebelum, selama dan setelah pekerjaan itu dilaksanakan. Salah satu bentuk persyaratan tersebut adalah sistem ijin kerja. Sistem ijin kerja ini diberikan oleh seorang permit issuer yang telah kompeten dalam pekerjaan yang dilakukan. Permit issuer bisa menyerahkan wewenang terhadap permit holder untuk bertugas mengawasi langsung pekerjaan. Berikut ini adalah pekerjaan yang diwajibkan memiliki ijin kerja:

1. Pekerjaan panas (Hot Work)

Semua kegiatan yang berpotensi menghasilkan sumber percikan api seperti bunga api listrik, bunga api, dan aliran listrik. Pemotongan dengan oxygen, pengelasan dan pemanasan, penyoderan, menggerinda adalah merupakan contoh-contoh pekerjaan panas. Ijin pekerjaan panas diperlukan pada daerah-daerah berikut ini :

Pekerjaan panas didekat bahan yang mudah terbakar; diruang terbatas yang berpotensi meledak

Di daerah dimana terdapat uap, gas, fiber, cairan yang mudah terbakar atau bahan peledak.

Ijin pekerjaan panas tidak diperlukan pada area pengelasan pada workshop2. Masuk ruang terbatas (Confined Space)

Adalah ruang yang tidak dimaksudkan atau didesain untuk tempat bekerja. Selain itu ruang terbatas adalah ruang yang mempunyai akses pintu masuk dan pintu keluar yang terbatas serta mengandung:

Gas yang berpotensi menyebabkan keracunan

Oksigen yang kurang

Selain itu ijin kerja ruang terbatas juga diperlukan jika ruang kerja tersebut berpotensi mengakibatkan heat stress atau potensi untuk terperangkap.

3. High Voltage Acces /vicinity permit Ijin kerja atau melintas bagi setiap kendaraan atau alat berat di dalam radius 10 meter dari jaringan kabel listrik tegangan tinggi.

4. Ijin penggalian (excavation permit)

Ijin kerja penggalian dilakukan jika:

Penggalian pekerjaan infrastruktur yang kedalamnya lebih dari 30 cm

Penghancuran pondasi atau dinding bangunan infrastruktur yang kedalaman dan ketebalannya lebih dari 30 cm. ijin ini diperlukan jika ada potensi untuk merusak fasilitas lainnya seperti kabel listrik, kabel telefon, pipa bahan bakar, pipa hydrant dll.

Gambar 4.8 Pengukuran kandungan gas pada confined space

Gambar 4.9 Pengecekan lembar JSA sebagai syarat work permit4.1.11 Investigasi Investigasi pada PT Kaltim Prima Coal bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dasar dan mengembangkan tindakan perbaikan dan pencegahan. Investigasi dilakukan pada setiap insiden yang dilaporkan. Investigasi dilakukan oleh tim yang dibentuk berdasarkan tingkat risiko insiden, jika terjadi fatality maka Kepala Tehnik Tambang dan Inspektur Tambang harus terlibat sebagai tim Investigasi.

Investigasi di PT Kaltim Prima Coal harus selesai dalam waktu 14 hari kerja dan segera dibuat laporannya. Hasil investigasi harus dikomunikasikan keseluruh karyawan atau kontraktor jika insiden tersebut:1. Fatality2. Potensial fatality3. Signifikan (tingkat risiko 1-5)

4. Serius dan cedera kehilangan waktu kerja

5. Dilaporkan ke inspektur tambang4.1.12 Safety On CallSafety on call bertujuan untuk merespon langsung jika ada insiden yang terjadi di wilayah kerja PT Kaltim Prima Coal. Karyawan HSES yang bertanggung jawab sebagai safety on call dilakukan secara bergantian berdasarkan absen yang telah ditentukan dan karyawan yang bertugas on call tersebut dilarang meninggalkan area KPC sejauh 10 Km. Karyawan yang bertanggung jawab atas safety On call harus menyediakan waktu 24 jam walaupun diluar waktu kerja (sabtu dan minggu). Safety on call harus segera mendatangi tempat kejadian untuk segera mendapatkan informasi lebih lanjut untuk kebutuhan investigasi. Safety on call spesialist harus menggali informasi antara lain waktu kejadian, deskripsi kejadian, lokasi, kondisi dari korban atau peralatan.Gambar 4.10 Petugas On Call sedang memeriksa kondisi kendaraan

4.1.13 Audit internalAudit internal adalah audit yang dilakukan sendiri di dalam perusahaan. Audit ini dilakukan guna memenuhi requirement dari OHSAS 18001:2007. Audit ini dilakukan oleh section SAS (Safety Audit System) yang berada dibawah departemen HSES System. Audit dilakukan secara berkala untuk melihat kesesuaian antara system K3 yang direncanakan dengan proses implementasinya dilapangan.

Gambar 4.11 Tim audit sedang memeriksa ambulance4.1.14 HSE InfoHSE Info adalah gerbang menuju semua dokumen informasi mengenai pengelolan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) di PT Kaltim Prima Coal. Semua dokumen dan data disatukan dalam sebuah server yang dapat di akses melalui HSE Info dalam jaringan Intranet oleh semua pengguna komputer KPC dengan cara memasukan Badge Number. Berikut ini manfaat HSE Info:

1. Sebagai sarana publikasi dokumen sitem manajemen K3L Prima Nirbhaya yang berbasis OHSAS 18001:2007 dan ISO 14001:2004

2. Sebagai sarana untuk mengintegrasikan semua dokumen , database, folder, file, software dan data atau rekaman yang berhubungan dengan pengelolaan K3L di PT kaltim Prima Coal.

3. Untuk menampilkan keterkaitan antar dokumen sebagai penjelasan pemenuhan persyaratan OHSAS 18001:2007 dan ISO 14001:2004

4. Untuk memudahkan pengguna mengakses software dan database lain yang terkait dengan pengelolaan K3L, misalnya Prinutama (intelex), CMS, Chemical Alert, Prinasa, database legal dll.

5. Sebagai sarana komunikasi diantara praktisi K3L KPC maupun kontraktornya.4.1.15 PelatihanPT Kaltim Prima Coal telah mengembangkan beberapa pelatihan guna memenuhi persyaratan SMK3 Prima Nirbhaya dan juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi karyawannya. Ada beberapa pelatihan yang diselenggarakan di PT Kaltim Prima Coal. total keseluruhan dari pelatihan yang dilakukan adalah berjumlah 49 pelatihan. Berikut ini beberapa contoh dari pelatihan-pelatihan tersebut: Working near water awareness

Electrical safety awareness

Confined space awareness

Hearing conservation

Light vehicle safe driving

Safety escorting

Accident investigation

Gambar 4.12 Pelatihan Job Safety Analysis

4.1.16 Job EvaluationJob Evaluation adalah salah satu program PT Kaltim Prima Coal dan bekerja sama dengan dokter dari International SOS untuk melihat kesesuaian antara pekerjaan dengan kondisi tubuh sipekerja. Sebagai contoh ada seorang operator dump truck mempunyai penyakit yang menyebabkan dia harus mengoperasi lutut kanannya dan dipasangi pen. Pekerjaannya sebagai operator dump truck harus dinilai oleh dokter untuk menyatakan apakah kondisi operator tersebut fit untuk pekerjaannya atau fit tetapi dengan batasan atau bahkan tidak sama sekali. Jika tidak sama sekali, pihak KPC akan mencari solusi dengan menempatkan dia dibagian yang mampu dia lakukan tanpa menyebabkan sakit yang lebih serius.

Gambar 4.13 Job evaluation pada operator oleh dokter4.2 Nilai Belajar KhususOHSAS 18001:2007 adalah sebuah sistem manajemen K3 yang dibuat dari kerjasama antara organisasi-organisasi dunia. OHSAS 18001:2007 memiliki struktur yang mirip dengan ISO 14001:2004 . Maka dari itu implementasinya terkadang di integrasikan dengan ISO 14001:2004. Berikut ini langkah-langkah penerapan sistem manajemen K3 berdasarkan requirement OHSAS 18001:2007:4.2.1 Kebijakan K3Manajemen puncak harus menetapkan dan mengesahkan kebijakan K3 serta menjamin dalam menetapkan ruang lingkup kebijakan harus:

a. Sesuai dengan sifat dan skala risiko K3 dari organisasi.

b. Mencakup komitmen untuk mencegah kecelakaan dan penyakit dan secara berkelanjutan meningkatkan sistem manajemen K3 dan kinerja K3

c. Mencakup komitmen untuk paling tidak sesuai dengan persyaratan legal yang berlaku dan dengan persyaratan lain yang sesuai dengan bahaya K3.

d. Memberi kerangka untuk penetapan dan peninjauan sasaran K3

e. Terdokumentasi, diterapkan , dan dipelihara

f. Dikomunikasikan pada seluruh personel dengan menekankan karyawan untuk peduli dengan kewajiban K3nya.

g. Tersedia bagi pihak-pihak yang berkepentingan

h. Ditinjau secara periodik untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut masih relevan sesuai dengan organisasi4.2.2 Perencanaan4.2.2.1 Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan kontrolOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian yang dibutuhkan, yang mencakup :

a. Kegiatan rutin dan non rutin

b. Aktifitas personel yang memiliki akses ke tempat kerja (mencakup kontraktor dan pengunjung)

c. Perilaku manusia, kemampuan dan faktor manusia lainnya.d. Bahaya yang telah teridentifikasi yang berasal dari luar lokasi kerja yang dapat merugikan kesehatan dan keselamatan orang-orang di lokasi kerja.e. Bahaya disekitar lokasi kerja yang dihasilkan oleh aktifitas-aktifitas dari lokasi kerja.f. Infrastruktur, peralatan dan material di lokasi kerja, baik yang dihasilkan oleh organisasi maupun oleh pihak lain;

g. Perubahan-perubahan atau rencana perubahan dalam organisasi, aktifitas atau material.

h. Perubahan dari sistem manajemen K3, termasuk perubahan sementara dan akibat dari perubahan tersebut bagi operasi, proses dan aktifitas;

i. Semua persyaratan legal terkait dengan penilaian resiko dan penerapan pengendalian yang dibutuhkan

j. Rancangan area kerja, proses, instalasi, peralatan, prosedur operasional dan pengaturan kerja, termasuk penyesuaiannya dengan kemampuan manusia.Metodologi untuk identifikasi bahaya dan penilaian resiko harus:

a. Ditentukan lingkupnya, sifatnya, waktunya untuk menjamin agar identifikasi bahaya dan penilaian resiko dilakukan secara pro-aktif, bukan reaktif; dan

b. Memberi panduan untuk identifikasi, prioritasisasi dan dokumentasi resiko, dan penerapan kontrol dengan layak.

Untuk manajemen perubahan, organisasi harus mengidentifikasi bahaya K3 dan resiko K3 yang berhubungan dangan perubahan-perubahan dalam organisasi, sistem manajemen K3 atau aktifitasnya sebelum perubahan-perubahan tersebut diberlakukan. Organisasi harus menjamin bahwa hasil dari penilaian dipertimbangkan dalam menentukan pengendalian. Ketika menentukan pengendalian, atau ingin merubah pengendalian yang sudah ada, harus dipertimbangkan untuk menurunkan resiko menurut hirarki sebagai berikut:a. Penghilangan

b. Penggantian

c. Kontrol secara teknis /rekayasad. Pemberian tanda dan/atau kontrol administatif

e. Pemakaian peralatan pelindung

Organisasi harus mendokumentasikan hasil dari identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian yang ditentukan dan menjaga dokumentasi tersebut tetap up-to-date. Organisasi harus menjamin agar resiko K3 dan pengendalian yang telah ditentukan dipertimbangkan dalam mengembangkan, menerapkan dan memelihara sistem manajemen K3.4.2.2.2 Legal and Other RequirementsOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu prosedur untuk mengidentifikasi dan mengakses persyaratan hukum dan persyaratan K3 lainnya yang diaplikasikan untuk K3. Organisasi harus menjamin agar persyaratan-persyaratan tersebut dipertimbangkan dalam menetapkan, menerapkan dan memelihara sistem manajemen K3-nya. Organisasi harus menjaga agar informasi tersebut (persyaratan-persyaratan K3) tetap up-to-date. Organisasi harus mengkomunikasikan informasi yang relevan terkait persyaratan-persyaratan K3 tersebut kepada personil-personil yang bekerja dalam kontrol organisasi dan kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan.4.2.2.3 Sasaran dan programOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara sasaran K3 yang terdokumentasi, pada fungsi-fungsi dan tingkatan yang relevan dalam organisasi. Sasaran harus terukur, sejauh memungkinkan, dan konsisten dengan kebijakan K3, termasuk komitmen untuk mencegah terjadinya cedera atau masalah kesehatan, untuk menyesuaikan dengan persyaratan legal dan persyaratan lainnya yang berlaku dan untuk peningkatan berkelanjutan. Saat menentukan dan meninjau sasaran, organisasi harus mempertimbangkan persyaratan-persyaratan legal dan persyaratan lainnya serta resiko-resiko K3. Organisasi juga harus mempertimbangkan pilihan-pilihan teknologi yang tersedia, masalah finansial, operasional dan persyaratan-persyaratan bisnis, dan pandangan-pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara program-program untuk mencapai sasaran. Minimal, program harus mencakup:a. Penentuan tanggung jawab dan wewenang untuk mencapai sasaran pada fungsi-fungsi dan tingkatan yang relevan dalam organisasi, dan

b. Cara dan kerangka waktu sasaran tersebut akan dicapai.

Program-program harus ditinjau secara berkala pada interval yang terencana, harus disesuaikan bila diperlukan untuk menjamin sasaran-sasaran tersebut dapat tercapai.4.2.3 Penerapan dan operasi4.2.3.1 Sumber daya, peranan, tanggung jawab, akuntabilitas dan kewenangan.Manajemen puncak harus mengambil tanggung jawab tertinggi untuk K3 dan sistem manajemen K3. Manajemen puncak harus menunjukkan komitmennya dengan cara:

a. Menjamin tersedianya sumber daya yang penting untuk menetapkan, menerapkan, memelihara dan meningkatkan sistem manajemen K3.

b. Menentukan peranan, mengalokasikan penanggung jawab dan akuntabilitas, dan mendelegasikan kewenangan untuk memfasilitasi manajemen K3; Peranan, tanggung jawab dan akuntabilitas, dan kewenangan harus didokumentasikan dan dikomunikasikan.

Organisasi harus menunjuk anggota manajemen puncak dengan tanggung jawab khusus untuk K3, yang mempunyai peranan dan tangung jawab untuk:

a. Menjamin bahwa sistem manajemen K3 ditetapkan, diterapkan dan dipelihara sesuai dengan standar OHSAS ini.

b. Menjamin agar laporan-laporan terkait kinerja sistem manajemen K3 di berikan kepada manajemen puncak untuk ditinjau dan digunakan sebagai dasar peningkatan sistem manajemen K3.

Identitas dari manajemen puncak yang ditunjuk harus dapat diketahui oleh semua orang yang bekerja di bawah kontrol organisasi. Semua yang mempunyai tanggung jawab manajemen harus menunjukan komitmen mereka untuk peningkatan secara berkelanjutan kinerja K3. Organisasi harus menjamin agar orang-orang di lokasi kerja mengambil tanggung jawab terhadap aspek-aspek K3 yang berada dalam kontrol mereka dan taat kepada persyaratan-persyaratan K3 yang berlaku.4.2.3.2 Kompetensi, pelatihan dan kesadaranOrganisasi harus menjamin agar semua orang yang bekerja di bawah kontrol organisasi, yang melakukan pekerjaan yang dapat berdampak kepada K3 adalah orang-orang yang berkompeten dilihat dari pendidikan, pelatihan atau pengalaman. Organisasi harus menyimpan catatan-catatan terkait kompetensi tersebut. Organisasi harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan terkait dengan resiko K3 dan terkait sistem manajemen K3. Organisasi harus memberikan pelatihan atau tindakan lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mengevaluasi efektifitasnya dan menyimpan catatan-catatan terkait. Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk membuat orang-orang yang bekerja di bawah kontrol organisasi sadar akan:

a. Konsekuensi K3, baik aktual maupun potensial dari aktifitas dan perilaku mereka dan keuntungan yang diperoleh dari peningkatan kinerja personal.

b. Peranan dan tanggung jawab serta pentingnya mencapai kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur-prosedur K3 dan dengan persyaratan-persyaratan sistem manajemen K3, termasuk persyaratan mengenai kesiapan dan tanggap darurat.

c. Konsekuensi potensial bila mengabaikan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.

Prosedur pelatihan harus mempertimbangkan perbedaan-perbedaan dalam hal:

a. Tanggung jawab, kemampuan, kemampuan bahasa dan tulisan

b. Risiko4.2.3.3 Komunikasi, partisipasi dan konsultasiOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk:

a. Komunikasi internal antara berbagai tingkatan dan fungsi dalam organisasi

b. Komunikasi dengan kontraktor dan pengunjung lokasi kerja.

c. Menerima, mendokumentasi dan menanggapi komunikasi yang relevan dari pihak-pihak luar yang berkepentingan

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk:

a. Partisipasi para pekerja melalui:

Keterlibatan yang cukup dalam identifikasi bahaya, penilaian resiko dan dalam penetapan kontrol

Keterlibatan yang cukup dalam investigasi kecelakaan

Keterlibatan dalam pengembangan dan peninjauan kebijakan dan sasaran K3.

Konsultasi bila ada perubahan-perubahan yang mempengaruhi K3 mereka

Keterwakilan dalam urusan-urusan menyangkut K3

b. Konsultasi dengan kontraktor bila ada perubahan - perubahan yang mempengaruhi K3 mereka

Organisasi harus menjamin bahwa, bila dianggap perlu, pihak-pihak luar yang berkepentingan dan relevan dikonsultasikan mengenai hal-hal terkait K3.4.2.3.4 DokumentasiDokumentasi sistem manajemen K3 harus mencakup:

a. Kebijakan dan sasaran K3

b. Penjelasan tentang lingkup sistem manajemen K3

c. Elemen-elemen utama sistem manajemen K3 dan interaksinya, dan acuan-acuan dengan dokumen terkait.

d. Dokumen, termasuk catatan, yang diperlukan oleh standar K3 ini.

e. Dokumen, termasuk catatan, yang dianggap perlu oleh organisasi untuk menjamin perencanaan, operasi dan kontrol proses yang efektif terkait dengan manajemen dan resiko K3. 4.2.3.5 Pengendalian dokumenDokumen yang diperlukan oleh sistem manajemen K3 dan oleh standar OHSAS ini harus dikontrol. Catatan adalah tipe khusus dokumen dan harus dikontrol sesuai dengan klausul 4.2.4.4

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk:

a. Penyetujuan kelayakan dokumen sebelum diterbitkan

b. Peninjauan dan pembaharuan bila diperlukan dan penyetujuan ulang

c. Menjamin bahwa perubahan dan status revisi terbaru dokumen teridentifikasi (diketahui)

d. Menjamin bahwa versi yang relevan dari dokumen yang berlaku tersedia di lokasi penggunaan

e. Menjamin bahwa dokumen tetap dapat terbaca dan dikenali dengan mudah

f. Menjamin bahwa dokumen yang berasal dari luar, yang ditentukan oleh organisasi perlu untuk perencanaan dan operasi sistem manajemen K3-nya, diidentifikasi dan distribusinya dikontrol

g. Mencegah penggunaan tidak diinginkan dokumen yang kadaluarsa dan melakukan penandaan dengan cara yang tepat bila dokumen kadaluarsa tersebut di simpan untuk tujuan tertentu. 4.2.3.6 Pengendalian operasionalOrganisasi harus menentukan bahwa operasi dan aktifitas yang terkait dengan bahaya-bahaya yang telah teridentifikasi dimana implementasi pengendalian cukup dalam mengatur risiko. Perubahan-perubahan terhadap aktifitas dan operasi tersebut juga harus diatur. Untuk operasi dan aktifitas tersebut, organisasi harus menerapkan dan memelihara:

a. Kontrol operasional yang dapat diterapkan. Organisasi harus mengintegrasikan kontrol operasional dalam sistem manajemen K3 secara keseluruhan.

b. Kontrol terkait dengan barang-barang, peralatan dan jasa yang dibeli,

c. Kontrol terkait kontraktor dan pengunjung lain ke lokasi kerja

d. Prosedur terdokumentasi, diperlukan bila dianggap bahwa ketiadaan prosedur dapat membuat penyimpangan terhadap kebijakan dan sasaran K3,

e. Kriteria operasi, bila dianggap bahwa ketiadaan kriteria dapat membuat penyimpangan terhadap kebijakan dan sasaran K3. 4.2.3.7 Kesiapan tanggap daruratOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur

a. Untuk mengidentifikasi situasi darurat yang potensial

b. Untuk menanggapi situasi darurat tersebut

Organisasi harus tanggap terhadap situasi darurat aktual dan mencegah atau mengurangi konsekwensi K3 yang merugikan. Dalam merencanakan tanggap darurat organisasi harus mempertimbangkan pihak-pihak terkait yang relevan, seperti layanan darurat dari luar. Organisasi juga harus menguji prosedur tanggap darurat secara berkala, bila memungkinkan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Organisasi harus meninjau prosedur tersebut secara berkala dan melakukan perubahan-perubahan bila diperlukan, khususnya setelah pengujian prosedur dan setelah terjadinya situasi darurat 4.2.4 Pengecekan4.2.4.1 Pengukuran dan pemantauan kinerjaOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk memantau dan mengukur kinerja K3 secara teratur. Prosedur tersebut harus memberi aturan tentang:

a. Ukuran kualitatif dan kuantitatif yang sesuai dengan kebutuhan organisasi

b. Pemantauan tingkat pencapaian sasaran K3

c. Pemantauan efektifitas dari kontrol (baik untuk kesehatan maupun keselamatan)

d. Ukuran kinerja yang bersifat proaktif yang memantau kesesuaian dengan program-program K3, kontrol dan kriteria operasional

e. Ukuran kinerja yang bersifat reaktif yang memantau kondisi kesehatan yang buruk, insiden (termasuk kecelakaan dan nyaris celaka, dll.) dan bukti-bukti historis lain tentang kurang baiknya kinerja K3

f. Pencatatan data dan hasil dari pemantauan dan pengukuran yang cukup untuk dijadikan bahan analisa tindakan koreksi dan pencegahan selanjutnya. Jika diperlukan peralatan untuk melakukan pemantauan atau pengukuran kinerja, organisasi harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengkalibrasi dan memelihara peralatan tersebut dengan layak. Catatan kalibrasi dan pemeliharaan dan hasilnya harus disimpan4.2.4.2 Evaluasi kesesuaianKonsisten dengan komitmen organisasi untuk sesuai dengan persyaratan legal dan persyaratan lain terkait K3, organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk mengevaluasi kesesuaian dengan persyaratan legal K3 secara berkala. Organisasi harus menyimpan catatan-catatan hasil dari evaluasi berkala tersebut.Organisasi harus mengevaluasi kesesuaian dengan persyaratan K3 lain yang berlaku bagi organisasi. Organisasi dapat menggabungkan evaluasi ini dengan evaluasi kesesuaian terhadap persyaratan legal yang disebutkan dalam klausul diatas atau membuat prosedur terpisah. Organisasi harus menyimpan catatan hasil evaluasi.4.2.4.3 Investigasi insiden, ketidaksesuaian, tindakan koreksi dan pencegahanOrganisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk mencatat, menginvestigasi dan menganalisa insiden untuk:

a. Menentukan ketidaklayakan K3 yang menjadi penyebab dan faktor lain yang dapat menyebabkan atau memberi kontribusi terjadinya insiden.

b. Mengidentifikasi kebutuhan tindakan koreksi

c. Mengidentifikasi peluang untuk tindakan pencegahan

d. Mengkomunikasikan hasil dari investigasi.

e. Investigasi harus dilakukan tepat waktu. Setiap kebutuhan tindakan koreksi atau peluang untuk tindakan pencegahan harus ditangani sesuai dengan klausul 4.2.4.3. Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk menangani ketidaksesuaian aktual dan potensial dan untuk melakukan tindakan koreksi dan tindakan pencegahan. Prosedur harus menetapkan aturan untuk: a. Mengidentifikasi dan mengkoreksi ketidaksesuaian dan melakukan tindakan untuk meminimalkan konsekwensi K3.

b. Menginvestigasi ketidaksesuaian, menentukan penyebab-penyebabnya dan melakukan tindakan untuk menghindari terulangnya kejadian.

c. Mengevaluasi kebutuhan tindakan untuk mencegah ketidaksesuaian dan menerapkan tindakan yang layak untuk menghindari kejadian.

d. Mencatat dan mengkomunikasikan hasil tindaka koreksi dan tindakan pencegahan.

e. Meninjau efektifitas tindakan koreksi dan tindakan pencegahan yang diambil.

Bila dalam tindakan koreksi dan tindakan pencegahan teridentifikasi adanya bahaya baru atau bahaya yang berubah atau dibutuhkan kontrol baru atau perubahan kontrol, prosedur harus mensyaratkan agar penilaian resiko dilakukan sebelum tindakan diterapkan. Tindakan koreksi dan tindakan pencegahan yang diambil untuk menghilangkan penyebab dari ketidaksesuaian aktual dan potensial harus layak sesuai dengan tingkat permasalahan dan sepadan dengan resiko K3 yang dihadapi. Organisasi harus menjamin agar setiap perubahan yang terjadi karena dilakukannya tindakan koreksi dan tindakan pencegahan dibuat untuk dokumentasi sitem manajemen K3.4.2.4.4 Pengendalian catatan

Organisasi harus menetapkan dan memelihara catatan-catatan yang diperlukan untuk menunjukkan kesesuaian terhadap persyaratan-persyaratan sistem manajemen K3 organisasi dan terhadap standar OHSAS ini, dan untuk menunjukkan hasil-hasil yang dicapai. Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk mengidentifikasi, menyimpan, melindungi, mengakses dan membuang catatan. Catatan harus dijaga agar tetap dapat terbaca, dapat diidentifikasi dan ditelusuri.4.2.4.5 Audit internalOrganisasi harus menjamin agar audit internal terhadap sistem manajemen K3 dilakukan berkala dan terencana untuk:

a. Menentukan apakan sistem manajemen K3:

Sesuai dengan pengaturan sistem K3 yang telah direncanakan dan dengan persyaratan standar OHSAS ini.

Telah diterapkan dengan tepat dan dipelihara, dan

Efektif memenuhi sasaran dan kebijakan organisasi.

b. Memberikan informasi hasil audit kepada manajemen.

Program audit harus direncanakan, ditetapkan, diterapkan dan dipelihara oleh organisasi, didasarkan pada hasil penilaian resiko dari aktifitas-aktifitas organisasi dan pada hasil audit sebelumnya.

Prosedur audit harus ditetapkan, diterapkan dan dipelihara, mencakup:

a. Tanggung jawab, kompetensi dan syarat-syarat dalam perencanaan dan pelaksanaan audit, pelaporan hasil audit dan penyimpanan catatan terkait.

b. Penentuan kriteria audit, lingkup, frekuensi dan metoda. Pemilihan auditor dan pelaksanaan audit harus menjamin objektifitas dan impartiality (tidak berat sebelah) proses audit.4.2.5 Tinjauan manajemenManajemen puncak harus meninjau sistem manajemen K3 pada interval yang terencana, untuk menjamin kecocokan sistem, kelayakan dan efektifitas. Peninjauan harus mencakup penilaian peluang untuk peningkatan dan kebutuhan perubahan sistem manajemenK3, termasuk kebijakan K3 dan sasaran K3. Catatan tinjauan manajemen harus dipelihara.

Masukan tinjauan manajemen harus mencakup:

a. Hasil audit internal dan hasil dari evaluasi kesesuaian dengan persyarat