34
LAPORAN PENELITIAN EFEK KLINIS PENGGUNAAN MAHKOTA STAINLESS STEEL PADA GIGI MOLAR SULUNG TERHADAP KESEHATAN GUSI Oleh : Arlette Suzy Puspa Pertiwi, drg., Sp.KGA Meirina Gartika, drg., Sp.Ped Inne Suherna Sasmita, drg., Sp.Ped Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2006-10-06 Berdasarkan DIPA No. 0151.0/23-04.0/XII/2006 Tanggal 31 Desember 2005 LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN Nopember 2006

LAPORAN PENELITIAN EFEK KLINIS PENGGUNAAN …pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/05/efek_klinis... · dengan restorasi kelas II amalgam. Penelitian ini menyimpulkan keunggulan

Embed Size (px)

Citation preview

LAPORAN PENELITIAN

EFEK KLINIS PENGGUNAAN MAHKOTA STAINLESS STEEL PADA

GIGI MOLAR SULUNG TERHADAP KESEHATAN GUSI

Oleh :

Arlette Suzy Puspa Pertiwi, drg., Sp.KGA

Meirina Gartika, drg., Sp.Ped

Inne Suherna Sasmita, drg., Sp.Ped

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Padjadjaran

Tahun Anggaran 2006-10-06 Berdasarkan DIPA No. 0151.0/23-04.0/XII/2006

Tanggal 31 Desember 2005

LEMBAGA PENELITIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Nopember 2006

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN SUMBER DANA DIPA

TAHUN ANGGARAN 2006 1. a. Judul penelitian

b. Bidang Ilmu c. Katagori

: : :

Evaluasi Klinis Mahkota Stainless Steel pada Gigi Molar Sulung Kesehatan dan Seni I

2. Ketua peneliti a. Nama lengkap dan gelar b. Jenis kelamin c. Pangkat/Gol/NIP d. Jabatan fungsional e. Fakultas f. Bidang ilmu yang diteliti

: : : : : :

Arlette Suzy Puspa Pertiwi, drg., Sp.KGA Perempuan Penata Muda Tk I/III b/ 132 304 091 Asisten ahli Kedokteran Gigi Kesehatan dan seni

3. Jumlah Tim Peneliti a. Nama Anggota Peneliti I b. Nama Anggota Peneliti II

: : :

3 orang Meirina Gartika NIP. 132 061 759 Pangkat Lektor Inne Suherna Sasmita NIP. 131 873 124 Pangkat Lektor

4. Lokasi Penelitian : Klinik Kedokteran Gigi Anak FKG UNPAD

5. Kerja sama dengan institusi lain : - 6. Jangka Waktu Penelitian : 8 bulan 7. Biaya Penelitian : Rp. 5.000.000

Bandung, Nopember 2006

Mengetahui : Dekan Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Padjadjaran

Ketua Peneliti

Prof. DR. Eky S Soeria Soemantri, drg., Sp.Ort NIP. 130 675 653

Arlette Suzy Puspa Pertiwi, drg., Sp.KGA NIP. 132 304 091

Menyetujui : Ketua Lembaga Penelitian

Universitas Padjadjaran

Prof Dr. Johan S. Mansjhur, dr., SpPD-KE., SpKN NIP. 130 256 894

i

RINGKASAN

Stainless-steel crown (SSC) adalah restorasi ekstrakoronal siap pakai yang

terutama digunakan dalam restorasi gigi dengan kerusakan yang hebat, molar sulung

yang telah dirawat pulpa, dan gigi sulung atau gigi tetap yang mengalami hipoplasia.

Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi secara klinis penggunaan

mahkota stainless steel crown pada molar sulung terhadap kesehatan gusi. Sampel

penelitian sebanyak 30 buah gigi dengan mahkota stainless steel crown. Penelitian

dilakukan dengan mengukur indeks gingival, indices kebersihan mulut, dan adaptasi

margin mahkota

Hasil penelitian menunjukkan adanya efek penggunaan mahkota stainless

steel crown terhadap kesehatan gusi. Hal ini terlihat pada tingginya insidensi

gingivitis karena adanya adaptasi margin mahkota yang buruk dan tingkat kebersihan

mulut yang buruk.

Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan mahkota stainless steel crown

dapat menimbulkan efek pada kesehatan gusi.

ii

ABSTRACT

Stainless-steel crowns (SSCs) are preformed extracoronal restorations that

are particularly useful in the restoration of grossly broken-down teeth, primary

molars that have undergone pulp therapy, and hypoplastic primary or permanent

teeth.

The aim of this study is to evaluate clinically the use of stainless steel crown

in primary molars on the gingival health. The samples were 30 teeth with stainless

steel crown fitted on them. The study was carried out by measuring gingival index,

oral hygiene index, and marginal adaptation of the crowns.

Results showed that there was a significant effects of stainless steel crown

usage on gingival health. This was due by the high incidence of gingivitis because of

poorly adapted marginal crown and poor oral hygiene.

It was concluded that stainless steell crown usage may effects the gingival

health.

iii

iv

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ……………………………………………………………….. i

ABSTRACT ………………………………………………………………. ii

PRAKATA ……………………………………………………………...... iii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………... iv

DAFTAR TABEL ………………………………………………………... vi

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………...... xii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian ………………………………….. 1

1.2 Identifikasi Masalah Penelitian ……………………….......... 1

1.3 Kerangka Pemikiran ……………………………………….. 2

1.4 Metodologi Penelitian ………..…………………………….. 3

1.5 Waktu dan Lokasi Penelitian ………………………………. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stainless Steel Crown……………..…………………. 4

2.2 Indikasi……………………………………………………… 5

2.3 Prosedur Klinik................................................. …………… 6

2.3.1 Preparasi Gigi..................... …………………..…… 6

2.3.2 Pemilihan Mahkota……………………………………. 7

2.3.3 Adaptasi Mahkota..…………………………………. 8

2.3.4 Sementasi mahkota ………………………………… 10

2.4 Evaluasi Keberhasilan........................................................... 11

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian....................................................................... 12

v

3.2 Kegunaan Penelitian.................................................................. 12

BAB IV METODE DAN BAHAN PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian …………….……………………………….. 13

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian ……………………………. 13

4.3 Variabel yang Diteliti ………………………………………. 13

4.4 Definisi Operasional …………………………....................... 13

4.5 Bahan dan Alat Penelitian ………………………………….. 14

4.6 Prosedur Penelitian ….……………………………………... 14

4.7 Teknik Penyajian Data …………………………………….. 15

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian ……………………………………………… 16

5.2 Pembahasan ……………………………………………......... 17

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan …………………………………………………. 19

6.2 Saran ………………………………………………………… 20

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 21

LAMPIRAN ………………………………………………………………… 22

vi

DAFTAR TABEL

No. Tabel Teks Halaman

5.1 Efek adaptasi margin………………………………………… 17

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Mahkota stainless steel (SSC = stainless steel crowns) pertama kali

digunakan di bidang Kedokteran Gigi Anak pada tahun 1950 yang ditujukan

sebagai restorasi gigi sulung yang dengan kerusakan berat (Sharaf, 2004). Selain

itu, ssc juga digunakan sebagai restorasi pilihan pada anak-anak dengan resiko

tinggi karies (Cameron, 2003).

Keunggulan dan durabilitas ssc bila dibandingkan dengan amalgam dan

restorasi lainnya telah banyak diteliti. Braff pada tahun 1974 membandingkan ssc

dengan restorasi kelas II amalgam. Penelitian ini menyimpulkan keunggulan ssc.

Penelitian Dawson pada tahun 1981, juga mendukung pendapat Braff

(Mathewson, 1995).

Keunggulan-keunggulan ini menyebabkan ssc banyak digunakan. Namun,

penelitian yang ditujukan untuk mengevaluasi secara klinis penggunaan ssc masih

belum banyak dilakukan. Penempatan ssc yang tidak tepat dapat menimbulkan

gangguan pada kesehatan gusi.

Bedasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin melakukan penelitian

tentang evaluasi klinis pada kesehatan gusi penggunaan ssc pada gigi molar

sulung.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

2

Bagaimanakah efek klinis penggunaan mahkota stainless steel pada gigi molar

sulung terhadap kesehatan gusi ?

1.3 Kerangka Pemikiran

Stainless-steel crown (SSC) adalah restorasi ekstrakoronal siap pakai yang

terutama digunakan dalam restorasi gigi dengan kerusakan yang hebat, molar

sulung yang telah dirawat pulpa, dan gigi sulung atau gigi tetap yang mengalami

hipoplasia. Selain itu juga diindikasikan dalam restorasi pada anak-anak dengan

resiko tinggi mengalami karies terutama pada anak-anak yang menjalani

perawatan di bawah anestesi umum. SSC merupakan restorasi yang dapat

bertahan lama dan restorasi pilihan pada mulut dengan resiko tinggi karies

(Cameron, 2003).

Indikasi penggunaan ssc di bidang Kedokteran Gigi Anak adalah untuk

restorasi molar sulung dengan kerusakan besar pada mahkota dan molar pertama

permanen dengan defek perkembangan yang parah (Koch, 2001).

SSC dibuat dari alloy yang mengandung 77% nikel, 15% kromium, dan

7% besi. Campuran bahan-bahan ini menyebabkan ssc dapat beradaptasi dengan

baik pada permukaan gigi (Mathewson, 1995).

Adaptasi marginal merupakan bagian yang penting dari prosedur restorasi

ssc. Ekstensi aksial ssc harus menyerupai dimensi dan kontur bentuk gigi aslinya.

Margin ssc yang kurang beradaptasi dapat mempengaruhi kesehatan jaringan

periodontal (Croll, 2003).

Hubungan antara ssc dengan gingivitis belum banyak dijelaskan di

literatur. Penelitian yang dilakukan Sharaf tahun 2003 menunjukkan bahwa

3

margin ssc yang kurang beradaptasi menunjukkan tanda-tanda gingivitis (Sharaf,

2004).

Menurut Durr (1982), plak subgingiva yang tidak terdeteksi dapat

berakumulasi dalam rongga antara margin mahkota dan gigi yang dapat mengarah

pada inflamasi gingival.

1.4 Metode Penelitian

Jenis Penelitian adalah uji klinis evaluasi perawatan restorasi stainless

steel crown terhadap kesehatan gusi.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Klinik Kedokteran Gigi Anak FKG/RSGM

Universitas Padjadjaran April sampai bulan September 2006.

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stainless Steel Crown

Stainless-steel crown (SSC) adalah restorasi ekstrakoronal siap pakai yang

sering juga disebut sebagai chrome steel crown (Matthewson, 1995). Pertama kali

digunakan dalam kedokteran gigi anak oleh Humphrey pada tahun 1950 (Sharaf,

2005; Welburry, 2001). Sejak saat itu, SSC menjadi teknik restoratif pilihan untuk

perawatan gigi sulung dengan kerusakan yang hebat (Sharaf, 2005).

Bahan yang digunakan pada SSC adalah alloy yang mengandung 18%

kromium dan 8% nikel (disebut juga 18-8 alloy) dengan kandungan karbon

sebesar 0,8 % sampai 20%. Kandungan kromium yang tinggi ini mengurangi

korosi (Matthewson, 1995).

SSC biasanya dipertimbangkan bila gigi sulung posterior, terutama molar

pertama memerlukan restorasi karena mahkota ini jauh lebih baik dari pada

restorasi lainnya dan hampir tidak perlu diganti hingga gigi tersebut tanggal

(Welburry, 1995). Keunggulan dan durabilitas SSC bila dibandingkan dengan

amalgam dan restorasi lainnya telah banyak diteliti. Braff pada tahun 1974

membandingkan SSC dengan restorasi kelas II amalgam. Penelitian ini

menyimpulkan keunggulan SSC. Penelitian Dawson pada tahun 1981, juga

mendukung pendapat Braff (Matthewson, 1995).

5

Keunggulan-keunggulan ini menyebabkan SSC banyak digunakan.

Namun, disamping keunggulan, terdapat pula kekurangan SSC yang berkaitan

dengan kesalahan prosedur klinik. Penempatan SSC yang tidak tepat dapat

menimbulkan beberapa gangguan antara lain pada kesehatan gusi dan tulang

pendukung (Sharaf, 1995).

2.2 Indikasi

Terdapat dua indikasi utama penggunaan SSC dalam kedokteran gigi anak,

yaitu untuk molar sulung dengan kerusakan yang hebat dan molar pertama

permanen dengan defek perkembangan yang parah (Raadal, 2001). Pada kasus

pertama, SSC digunakan sebagai restorasi alternatif dibandingkan dengan

restorasi yang diketahui memiliki prognosis buruk dan memerlukan perbaikan

secara berkala. Jika digunakan dengan tepat, SSC memberikan resiko komplikasi

yang rendah hingga molar sulung tersebut tanggal. Pada molar permanen dengan

kerusakan pada seluruh permukaan mahkota karena defek perkembangan, SSC

digunakan sebagai retorasi sementara hingga mahkota yang lebih permanent dapat

dibuat (Raadal, 2001)

Secara terperinci, indikasi penggunaan SSC adalah gigi sulung atau

permanen dengan lesi karies yang luas atau gigi sulung dengan karies di tiga

permukaan, molar sulung yang telah dirawat pulpa, gigi sulung atau permanen

dengan defek pada email atau dentin (seperti hipoplasia email, amelogenesis

imperfekta, atau dentinogenesis imperfekta), gigi-gigi pada anak dengan resiko

6

tinggi karies atau rampan karies, gigi yang digunakan sebagai pejangkar space

maintainer, serta pasien handicapped dengan kebersihan mulut yang buruk

(Matthewson, 1995; Drummond, 2003; Sim,1991).

2.3 Prosedur Klinik

Tanpa melihat apakah gigi yang akan direstorasi vital atau non vital,

anestesi lokal harus digunakan ketika menempatkan SSC karena manipulasi pada

jaringan lunak (Drummond, 2003).

Adaptasi marginal merupakan bagian penting dari prosedur restoratif SSC.

Ekstensi aksial dari SSC harus mereplikasi semirip mungkin dimensi dan kontur

bentuk gigi asli. Margin SSC yang beradaptasi buruk dapat mempengaruhi

kesehatan jaringan periodontal dan mengganggu erupsi gigi yang berdekatan

(Croll , 2003).

2.3.1 Preparasi Gigi

Prosedur klinik diawali dengan penumpatan restorasi gigi dengan

menggunakan semen ionomer kaca tipe restoratif sebelum preparasi untuk SSC

(Gambar 1 A dan B). Setelah itu permukaan oklusal yang pertama dikurangi

sekitar 1,5 mm dengan menggunakan bor diamond tapered. Reduksi oklusal yang

merata akan mengurangi resiko prematur kontak pada saat penempatan SSC

(Gambar 2). Dengan menggunakan bor diamond tapered yang panjang,

permukaan interproksimal mesial dan distal dipotong. Pengurangan dilakukan

7

hingga sonde dapat dilewatkan melalui daerah kontak (Gambar 2). Pengurangan

daerah bukolingual hanya dilakukan seminimal mungkin karena daerah ini

merupakan daerah retensi (Gambar 1 C) (Matthewson, 1995; Drummond, 2003).

Gambar 1. A Gigi setelah pulpotomi. B. Sebelum preparasi untuk SSC, gigi dibentuk kembali dengan GIC. C. Gigi telah dipreparasi bagian interproksimal untuk menghilangkan daerah kontak dan ketinggian oklusal telah dikurang 1,5 mm. D. SSC yang telah selesai ditempatkan. (Drummond, 2003)

2.3.2 Pemilihan Mahkota

Tiga pertimbangan utama dalam memilih SSC yang tepat adalah diameter

mesiodistal yang tepat, ketinggian oklusal yang tepat, dan resistensi yang ringan

saat penempatan mahkota (Matthewson, 1995). Ukuran SSC dipilih dengan

mengukur lebar mesiodistal. Mahkota yang terlalu besar akan rotasi pada

8

preparasi gigi dan akan memakan waktu lama pada saat adaptasi mahkota

(Matthewson, 1995; Drummond, 2003).

Gambar 2. Preparasi koronal dan proksimal yang diperlukan untuk penempatan SSC. (Drummond, 2003)

2.3.3 Adaptasi Mahkota

Mahkota yang telah dipilih diuji coba pada gigi. Mahkota harus sedikit

longgar dengan kelebihan 2 hingga 3 mm pada daerah gingival. Kemudian dengan

scaler, dibuat goresan sekeliling margin gingival mahkota. Garis goresan ini

menunjukkan garis gingival dan kontur gingival. Lepaskan mahkota dari gigi yang

telah dipreparasi. Mahkota dipotong 1 mm di bawah garis goresan dengan

menggunakan gunting crown and bridge. (Gambar 3 A). Mahkota diuji coba

kembali sebelum sementasi. Penting untuk diperhatikan bahwa tepi mahkota harus

berada tidak lebih dari 1 mm subgingival. Jika terdapat daerah pucat pada gingiva

akibat tekanan tepi mahkota, maka harus dilakukan pengurangan kembali

(Matthewson, 1995; Drummond, 2003).

9

Dengan crimping plier tepi SSC dibengkokkan sedikit ke dalam sekeliling

tepi mahkota. (Gambar 3B dan C). Mahkota dipasang kembali pada gigi. Adaptasi

dapat diperiksa dengan menggunakan sonde pada semua tepi mahkota. Jika

terdapat daerah tepi yang terbuka, maka daerah tersebut harus dibentuk kembali

dengan plier (Gambar 3 D). Penyelesaian terakhir dilakukan dengan

menghaluskan tepi SSC dengan batu putih dan dipoles dengan rubber wheel.

Selanjutnya sementasi SSC dengan semen ionomer kaca, semen seng-fosfat, atau

polikarboksilat (Matthewson, 1995; Drummond, 2003).

Gambar 3. A. Pengurangan 1 mm di bawah garis goresan. B. Pembentukan kontur mahkota dengan plier no. 114. C. Pembentukan tepi mahkota dengan crown crimping plier. D. Pemeriksaan tepi mahkota untuk adaptasi. (Matthewson, 1995)

A B

C D

10

2.3.4 Sementasi Mahkota

Sebelum sementasi mahkota daerah kontak diaplikasikan vaselin untuk

memudahkan pembuangan kelebihan semen setelah sementasi. Kuadran gigi yang

akan direstorasi diisolasi dengan cotton roll. Semen yang telah dimanipulasi

sesuai dengan jenis yang digunakan, diaplikasikan pada mahkota (Gambar 4A).

Pemasangan mahkota biasanya pertama dilakukan pada sisi lingual kemudian sisi

bukal. Mahkota harus dipastikan masuk dengan tepat (Gambar 4B). Jika gigi

diisolasi dengan cotton roll, tutupi mahkota dengan foil kering agar mahkota gigi

tetap bebas kelembaban sampai semen mengeras (Gambar 4C). Setelah semen

mengeras, kelebihan semen dibuang dengan scaler atau sonde (Gambar 4D)

Gambar 4. A. Pengisian mahkota dengan semen. B. Penempatan mahkota dari sisi lingual ke sisi bukal. C. Mahkota dibiarkan dalam keadaan kering. D. Pembuangan kelebihan semen dengan scaler. (Matthewson, 1995)

A B

C D

11

2.4 Evaluasi Keberhasilan

Keberhasilan penggunaan SSC ditentukan oleh pembuangan karies serta

perawatan pulpa yang tepat bila diperlukan, reduksi optimal dari struktur gigi

untuk mendapatkan retensi mahkota yang adekuat, tidak adanya kerusakan pada

gigi yang bersebelahan setelah pembebasan kontak interproksimal, pemilihan

ukuran mahkota yang tepat untuk mempertahankan panjang lengkung rahang,

adaptasi marginal dan kesehatan gingiva yang akurat, oklusi fungsional yang baik,

dan prosedur sementasi yang optimal (Matthewson, 1995).

12

BAB III

TUJUAN PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi secara klinis penggunaan

mahkota stainless steel pada molar sulung terhadap kesehatan gusi.

3.2 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efek

klinis terhadap kesehatan gusi penggunaan mahkota stainless steel pada molar

sulung.

13

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah uji klinis.

4.2 Populasi dan Sampel

Populasi adalah anak-anak yang datang ke klinik Kedokteran Gigi Anak FKG

UNPAD. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposif sampling dengan kriteria

sebagai berikut :

1. Usia 3 – 12 tahun

2. Tidak memiliki penyakit sistemik

3. Tidak sedang minum antibiotik

4. Paling sedikit memiliki satu gigi molar sulung yang direstorasi dengan ssc

3.3 Variabel penelitian

1. Mahkota stainless steel

2. Kesehatan gusi

14

4.4 Definisi Operasional

1. Mahkota stainless steel adalah bahan restorasi gigi siap pakai yang terbuat

dari logam dengan ukuran yang dapat disesuaikan dengan gigi yang akan

direstorasi.

2. Efek klinis adalah hasil yang diharapkan terlihat karena pemakaian mahkota

stainless steel terhadap kesehatan gusi yang dilihat dari indeks oral hygiene

dan gingival indeks.

4.5 Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan adalah kaca mulut, sonde, pinset, gelas

kumur, disclosing gel, kartu status, mahkota stainless steel, semen glass ionomer.

4.6 Prosedur Penelitian

1. Gigi yang akan direstorasi dengan ssc dipreparasi.

2. SSC disemen dengan menggunakan semen glass ionomer.

3. Setiap subjek diberi instruksi pemeliharaan gigi

4. Setiap subjek diperiksa kembali indeks oral hygiene dan indeks gingival

setelah pemakaian 1 bulan

15

4.7 Teknik Analisis Data

Data yang didapat akan dimasukkan ke dalam tabel dan dianalisis dengan

menggunakan uji Chi square dengan taraf signifikansi 0,05.

16

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

Sample penelitian ini terdiri dari 30 buah SSC. Grafik 1 menunjukkan

distribusi sampel berdasarkan jenis gigi. Tabel 1 menunjukkan efek adaptasi

margin dan tingkat kebersihan mulut terhadap kesehatan gusi. Adaptasi margin

dan tingkat kebersihan mulut menunjukkan efek yang signifikan terhadap

indeks gingival.

4 4

2

5

4

5

4

2

0

1

2

3

4

5

6

1 2 3 4 5 6 7 8

gigi

frekuensi

Grafik 1. Distribusi stainless steel crown

55 54 64 65 74 84 85 75

17

Tabel 1. Efek adaptasi margin dan tingkat kebersihan mulut terhadap indeks gingiva. N = 30

Gingival indeks Parameter

N 0, n (%) 1, n (%) 2, n(%) 3, n(%)

Nilai p

Adaptasi margin Baik Buruk

25 5

1(4)

-

12(48) 1(20)

9(36) 3(60)

3(12) 1(20)

0,027*

OH Baik Sedang Buruk

10 9 11

-

1(11,1) -

4(40)

3(33,3) 3(27,3)

2(20)

5(55,6) 2(18,2)

4(40)

- 6(54,5)

0,00*

Waktu 1 bulan 3 bulan 6 bulan

30

1(3,3)

1(3,3)

15(50)

10(33,3) 10(33,3)

10(33,3) 15(50) 9(30)

4(13,3) 5(16,7)

10(33,3)

0,448

* signifikan

5.1 Pembahasan

Hubungan antara penggunaan SSC dengan gingivitis belum pernah

diteliti, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa SSC yang tidak beradaptasi

dengan baik menunjukkan adanya tanda-tanda gingivitis. Hal tersebut diperkuat

dengan hasil penelitian Sharaf yang menunjukkan bahwa sekitar 45% SSC yang

beradaptasi baik tidak menunjukkan adanya gingivitis (Sharaf, 2004).

Akumulasi plak dapat menimbulkan gingivitis. Hal tersebut terlihat dari

hasil penelitian bahwa anak-anak yang mempunyai oral hygiene yang buruk

seluruhnya menunjukkan tanda-tanda gingivitis. Plak dianggap sebagai faktor

etiologi terpenting penyakit jaringan periodontal, termasuk gingivitis, karena

18

plak mengandung sejumlah bakteri patogen dengan produk-produk

metabolisme yang melekat erat pada permukaan gigi dan gusi (Manson, 1995).

Perlekatan plak pada permukaan gigi dapat lebih terbantu dengan

adanya adaptasi margin SSC yang buruk. Hal tersebut dapat memperparah

gingivitis yang timbul. Penelitian yang dilakukan oleh Webber, Durr, dan

Machen pada tahun 2001, menunjukkan tidak adanya hubungan antara

peningkatan akumulasi plak supragingival dengan pemakaian SSC. Namun

mahkota dengan tepi yang kurang baik atau mahkota dengan semen berlebih

dapat menimbulkan peningkatan akumulasi plak (Sharaf, 2004).

Henderson, Myers, dan Checcio melaporkan tingginya insidensi

gingivitis sekitar mahkota yang tidak beradaptasi dengan baik. Hal tersebut

disebabkan karena kegagalan untuk mempertahankan daerah yang bersih

sekeliling mahkota. Selain itu, Durr juga melaporkan bahwa plak subgingival

yang tidak terdeteksi dapat berakumulasi dalam ruangan antara margin mahkota

dan gigi yang selanjutnya dapat menimbulkan inflamasi gingiva (Sharaf, 2004).

Individu dengan kebersihan mulut yang buruk menunjukkan degenerasi

jaringan yang mencolok. Hal tersebut membuat gingiva sangat rentan terhadap

iritasi yang berasal dari mahkota yang kurang baik beradaptasi. Inflkamasi

inisial karena iritasi lokal dapat terjadi setelah penempatan SSC. Inflamasi

tersbut dapat mereda seiring dengan waktu saat jaringan dapat beradaptasi

dengan iritasi lokal (Sharaf, 2004). Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya

efek signifikan antara waktu dengan kejadian gingivitis.

19

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Penggunaan restorasi ssc dapat menimbulkan efek pada kesehatan gusi

2. Adaptasi margin ssc yang buruk memberikan efek berupa gingivitis

3. Tingkat kebersihan mulut juga memberikan efek pada kesehatan gusi. Makin

rendah tingkat kebersihan mulut, makin besar kemungkinan timbulnya

gingivitis

6.2 Saran

1. Perawatan restorasi ssc sebaiknya mengikuti prosedur kerja yang baik

2. Diperlukan keterampilan klinis yang baik dari dokter gigi dalam hal

penempatan restorasi SSC.

3. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai parameter lain dari restorasi ssc

terhadap kesehatan gusi

20

DAFTAR PUSTAKA

Croll, TP, dkk. Marginal Adaptation of Stainless Steel Crowns. Journal of Pediatric Dentistry. 200; 25 : 3 ; 249 -252

Drummond, B. Dental Caries and restorative Paediatric Dentistry. Dalam :

Handbook of Pediatric Dentistry. Editor Cameron, AC. Sydney : Mosby. 2003. hal 51, 59 – 60.

Mathewson, RJ. Fundamentals of Pediatric Dentistry. Edisi ke-3. Missouri :

Quintessence Publishing Co, Inc. 1995. hal 233 – 256. Raadal, M. The caries Lesion and Its Management in Children and Adolescents.

Dalam : Pediatric Dentistry, a Clinical Approach. Editor Koch, G. Coppenhagen : Munksgaard. 2001. h 195 – 197.

Sharaf, AA. A Clinical and Radiographic Evaluation of Stainless Steel Crowns for

Primary Molars. Pada www.sciencedirect.com. Diakses 13 Mei 2005. Sim, JM. Operative Dentistry for Children. Dalam : Clinical Pedodontics. Editor

Finn, SB. Edisi ke-4. Philadelphia : WB Saunders Co. 1991. h 163 – 164 Welbury, RR. Operative Treatment of Dental Caries. Dalam: Paediatric

Dentistry. Editor Welbury, RR. Edisi ke-2. New York : Oxford University Press, Inc. 2001. hal 140, 146-147.

21

RIWAYAT HIDUP

Nama : Arlette Suzy Puspa Pertiwi, drg., Sp.KGA

NIP : 132 304 091

Pangkat/Golongan : Penata Muda Tk. I / IIIb

Jabatan Fungsional : Asisten Ahli

Jabatan Struktural : -

Unit Kerja : Bag. Kedokteran Gigi Anak FKG Unpad

Alamat : Kopo Permai II 27 A – 8 Bandung

Telp. 5405129, HP. 08122092334

Alamat Kantor : Jl. Sekeloa Selatan No. 1 Bandung

Riwayat Pendidikan : 1997 lulus Dokter Gigi FKG Unpad

2005 Lulus Sp.KGA FKG Unpad

Riwayat Pekerjaan : 1997 – 2000 Pegawai Tidak Tetap di Sumatera Barat

2003 – sekarang staf pengajar di Bagian IKGA FKG

Unpad

Pengalaman Penelitian :

1. Pengaruh Konsentrasi Penetap pada Waktu Penjernihan Film Rontgen Gigi

(1995).

2. Perbandingan Efek Obat Kumur Chlorhexidine dengan Povidone Iodine

Terhadap Mukositis Oral Penderita Leukemia pada Anak (2005)

3. Evaluasi Keberhasilan Perawatan Pulpektomi Non Vital pada Gigi Anterior

Sulung dengan Bahan Pengisi Kalsium Hidroksida (Penelitian DIKS TA

2005).

4. Gambaran Elektromyogram otot Maseter pada Pengunyahan Satu Sisi

(Penelitian DIKS 2005)

22

5. Pola Erupsi Gigi Permanen Ditinjau dari Usia Kronologis pada ANak usia 6

sampai 12 Tahun di Kabupaten Sumedang (Penelitian DIPA PNBP 2006)

Bandung, Nopember 2006

(Arlette Suzy Puspa Pertiwi, drg., Sp.KGA)

23

RIWAYAT HIDUP

Nama : Meirina Gartika, drg., Sp.Ped

NIP : 132 061 759

Pangkat/Golongan : Penata / IIIc

Jabatan Fungsional : Lektor

Jabatan Struktural : -

Unit Kerja : Bag. Kedokteran Gigi Anak FKG Unpad

Alamat : Jl. Ters. Babakan Jeruk I No. 175 B Bandung

Telp. 2018463

Alamat Kantor : Jl. Sekeloa Selatan No. 1 Bandung

Riwayat Pendidikan : 1991 lulus Dokter Gigi FKG Unpad

2000 Lulus Sp.KGA FKG Unpad

Riwayat Pekerjaan : 1992 – sekarang staf pengajar di Bagian IKGA FKG

Unpad

Pengalaman Penelitian :

1. Pola Persistensi Gigi Anterior Sulung pada Periode Geligi Campuran Anak

Sekolah Dasar di Kecamatan Coblong Kotamadya bandung (1994/1995)

2. Daya Antibakteri Cresophene dan Oxpara Cair terhadap Streptococcus

viridans (Isolat Nekrosis Gigi Sulung) ( 1997/1998).

3. Efektivitas Gel Acidulated Phosphate Fluoride sebagai Bahan Anti Karies

terhadap Streptococcus viridans (1997/1998).

4. Evaluasi Penambalan Kelas I Glass Ionomer dibandingkan dengan Amalgam

pada Anak Tunagrahita (Penelitian DIKS 2000/2001).

5. Perbedaan Gambaran Maloklusi Gigi pada Anak Tunagrahita di SLB-C

dengan Murid-murid SDN Umur 7 – 12 tahun di Kota Bandung (Penelitian

Dosen Muda 2001/2002).

24

6. Daya Anti Bakteri Bahan Pengisi Saluran Akar Formokresol dan Calcyl

terhadap Streptococcus viridans (Penelitian Dosen Muda 2001/2002).

7. Perbedaan Tingkah Laku Anak Kelas I Sekolah Dasar Bandung Terhadap

Perawatan Gigi dengan Penggunaan Bor dan Atraumatic Restorative

Treatment (Penelitian DIKS 2001/2002).

8. Prevalensi Karies dan Indeks def-t/DMF-T pada Anak Autis di Agca Center

Bandung (Penelitian DIKS 2001/2002)

9. Evaluasi Keberhasilan Perawatan Pulpotomi Formokresol Satu Kali

Kunjungan pada Pulpa Vital Gigi Molar Sulung (Penelitian DIKS TA 2003).

10. Perbedaan Kondisi Gusi dan Tingkat Kebersihan Mulut pada Anak-anak

Sekolah Dasar dengan Program UKGS dan tanpa Program UKGS di kota

Bandung (Penelitian DIKS TA 2003).

11. Perbedaan Keberhasilan secara Klinis Perawatan Pulpotomi Formokresol

dibandingkan dengan Okspara pada Pulpa Non Vital Gigi Molar Sulung

(Penelitian DIKS TA 2004).

12. Perbedaan Prevalensi Karies pada Anak Sekolah Dasar dengan Program

UKGS dan tanpa UKGS di Kota Bandung (Penelitian DIKS TA 2004).

13. Evaluasi Keberhasilan Perawatan Pulpektomi Non Vital pada Gigi Anterior

Sulung dengan Bahan Pengisi Kalsium Hidroksida (Penelitian DIKS TA

2005).

Bandung, Nopember 2006

(Meirina Gartika, drg. Sp.Ped).

25

RIWAYAT HIDUP

Nama : Inne Suherna Sasmita, drg., Sp.Ped

NIP : 131 873 124

Pangkat/Golongan : Penata / IIIc

Jabatan Fungsional : Lektor

Jabatan Struktural : -

Unit Kerja : Bag. Kedokteran Gigi Anak FKG Unpad

Alamat : Jl. Terasana 136

Telp. 4266647, HP. 0811227991

Alamat Kantor : Jl. Sekeloa Selatan No. 1 Bandung

Riwayat Pendidikan : 1988 lulus Dokter Gigi FKG Unpad

2000 Lulus Sp.KGA FKG Unpad

Riwayat Pekerjaan : 1990 – sekarang staf pengajar di Bagian IKGA FKG

Unpad

Pengalaman Penelitian :

1. Pola Bentuk Wajah selama periode Geligi Campuran pada Anak di Kabupaten

Bandung (1991/1992)

2. Frekuensi Premature Loss Gigi Molar Sulung ke Dua pada Anak-anak

Sekolah dasar usia 6 tahun sampai 8 tahun di Kodya Bandung (1992/1993)

3. Gambaran Pola Oklusi selama Periode Gigi Sulung pada Anak-anak usia 30 –

84 bulan di kabupaten Bandung (1992 – 1993)

4. Erupsi Gigi Molar Pertama tetap pada Murid Taman Kanak-kanak ditinjau

dari Umur Kornologis di Kecamatan Ujung Berung (1994-1995)

5. Daya Antibakteri Cresophene dan Oxpara Cair terhadap Streptococcus

viridans (Isolat Nekrosis Gigi Sulung) ( 1997/1998).

26

6. Efektivitas Gel Acidulated Phosphate Fluoride sebagai Bahan Anti Karies

terhadap Streptococcus viridans (1997/1998).

7. Daya Anti Bakteri Bahan Pengisi Saluran Akar Formokresol dan Calcyl

terhadap Streptococcus viridans (Penelitian Dosen Muda 2001/2002).

8. Perbedaan Gambaran Maloklusi Gigi pada Anak Tunagrahita di SLB-C

dengan Murid-murid SDN Umur 7 – 12 tahun di Kota Bandung (Penelitian

Dosen Muda 2001/2002).

9. Pengaruh Pola Menyusui Air Susu Ibu (ASI) terhadap Frekuensi Nursing

Mouth Caries pada Anak-anak Usia 24 – 60 bulan di Posyandu Kecamatan

Cicendo Kota bandung (2002-2003)

10. Perbandingan Uji Daya Antibakteri Chlorhexidine, Povidone Iodine, dan

Cetylpyridium Chloride sebagai Obat Kumur Terhadap Streptococcus mutans

Isolat Plak Supragingiva (2003)

11. Evaluasi Keberhasilan Pendidikan Penyikatan Gigi Murid Taman Kanak-

kanak di Kecamatan Ujung berung Kota Bandung (2004)

12. Keberhasilan Aplikasi Opikal Dental Varnish pada Pasie Anak usia 6 – 9

tahun yang datang Ke klinik Pedodontia FKG UNPAD

Bandung, Nopember 2006

(Inne Suherna Sasmita, drg., Sp.Ped)