MAKALAH CACING TAMBANG

  • Published on
    12-Oct-2015

  • View
    61

  • Download
    10

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB I</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari jasad-jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan jasad lain dengan maksud untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari jasad itu. Terdiri dari zooparasit (parasit yang beruoa hewan yaitu protozoa dan metazoa), fitoparasit (parasit berupa tumbuh-tumbuhan seperti bakteri dan jamur), dan spirochaeta serta virus.1Penyakit parasitik yang merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia adalah:</p> <p>1. Malaria2. Toksoplasmosis3. Penyakit yang disebabkan cacing yang ditularkan melalui tanah4. Filariasis5. Mikosis superfisialisSalah satu penyakit kecacingan dapat disebabkan oleh cacing tambang yang disebabkan oleh cacing Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Infeksi cacing ini biasanya berada pada daerah beriklim sedang, subtropik dan tropik. Di Indonesia, Necator americanus lebih banyak menyebabkan penyakit cacing tambang dikarenakan tanah yang baik untuk perkebangan cacing tersebut adalah tanah yang gembur dengan suhu 28C-32C (suhu daerah tropis). Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai penyakit yang disebabkan oleh cacing tambang tersebut. 1BAB II</p> <p>LAPORAN KASUSSeorang anak laki-laki usia 5 tahun diantar ibunya ke Puskesmas karena terlihat pucat, lemah,dan nafsu makan yang berkurang sejak 5 hari yang lalu. Sebelumnya pasien adalah anak yang cukup aktif dan senang bermain dikebun dekat rumahnya, tanah daerah tempat tinggalnya adalah tanah gembur dan berpasir. Rumah tempat tinggal warga banyak yang belum mempunyai jamban keluarga, warga terutama anak-anak mempergunakan lubang-lubang yang dibuat dikebun untuk buang air besar. Pasien sering pulang kerumah dengan menggaruk-garuk kaki atau tungkai bawahnya. Sebelumnya pasien juga sering batuk-batuk, akan tetapi sembuh sendiri, sehingga tidak terlalu menjadi perhatian ibunya. Kadang-kadang ada rasa mual dan diare ringan. Akhir-akhir ini pasien sering lekas lelah, lemah dan tidak nafsu makan. Ibunya melihat paras anaknya yang tampak pucat.Pemeriksaan Fisik </p> <p>Keadaan umum : Tampak sakit sedang, lesu </p> <p>Kesadaran : Compos mentis</p> <p>Tekanan darah : 100/60mmHg</p> <p>Nadi : 80x/menit</p> <p>Respiratory rate : 12x/menit</p> <p>Suhu : 36,5C</p> <p>Conjuctiva : anemia</p> <p>Cor : tidak tampak kelainan</p> <p>Pulmo : tidak tampak kelainan</p> <p>Abdomen : lemas, H/L(hati/limpa) tidak teraba</p> <p>Extermitas : pada kulit kaki tampak bekas garukan</p> <p>Laboratorium</p> <p>Hb : 5g/dL</p> <p>Leukosit : 4.500/mm3</p> <p>Eritrosit : 3,8 juta/mm3</p> <p>Trombosit : 150.000/mm3Hitung jenis : 1/7/4/57/26/5Feces </p> <p>Tampak telur cacing</p> <p>Ro foto trax </p> <p>Tidak tampak kelainan</p> <p>Gambar 1.10 Telur cacing tambang (Pembesaran 10x40)</p> <p>BAB III</p> <p>PEMBAHASAN</p> <p>A. Anamnesis</p> <p>i. Identitas Pasien</p> <p>Nama</p> <p>: -</p> <p>Jenis kelamin: laki-laki</p> <p>Usia</p> <p>: 5 tahun</p> <p>Alamat</p> <p>: -</p> <p>ii. Keluhan Utama</p> <p>Pasien terlihat pucat, lemah, dan nafsu makannya berkurang sejak 5 hari yang lalu.iii. Keluhan Tambahan</p> <p>Pasien batuk-batuk, mual, diare ringan, serta merasa gatal pada tungkai bawahnya.</p> <p>iv. Riwayat Penyakit Sekarang</p> <p> Apakah pasien memiliki masalah dengan pencernaan? Apakah pasien mendapatkan asupan gizi yang cukup?v. Riwayat Penyakit Dahulu</p> <p> Apakah ada penyakit lain yang di derita sebelumnya?</p> <p> Apakah pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya?</p> <p>vi. Riwayat Penyakit Keluarga</p> <p> Apakah ada keluarga yang menderita penyakit ini?</p> <p>vii. Riwayat Pengobatan</p> <p> Penanganan apa yang sudah dilakukan terhadap pasien ini?</p> <p>viii. Riwayat Kebiasaan</p> <p> Apakah pasien memakai alas kaki apabila bermain di luar rumah?</p> <p> Apakah pasien menjaga kebersihan diri?ix. Riwayat Sosial Ekonomi</p> <p> Bagaimana keadaan lingkungan di sekitar pasien?B. Hipotesis</p> <p>Pada skenario pertama pada kasus ini didapatkan pasien pucat, lemah, dan tidak nafsu makan. Pasien kemungkinan menderita anemia dan malnutrisi yang menyebabkan pasien terlihat pucat dan lemah. Dan juga kemungkinan pasien mengalami suatu masalah pada saluran cernanya yang mengakibatkan pasien tidak nafsu makan.</p> <p>Dari keterangan diatas, maka kelompok kami mempunyai beberapa hipotesis tentang penyakit yang diderita pasien, yaitu :</p> <p>Ascariasis</p> <p>Necatoriasis</p> <p>Ancylostomiasis</p> <p>Strongyloidiasis</p> <p>Keempat hipotesis ini didasarkan dari gejala yang dialami oleh pasien. Untuk lebih mengerucutkan hipotesis dan mencapai diagnosis kerja pada pasien, maka kelompok kami akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lebih lanjut.</p> <p>C. Interprestasi Hasil Anamnesis </p> <p>Dari hasil anamnesis diketahui bahwa anak ini terlihat pucat, lemah dan nafsu makan berkurang. Dari hasil hipotesa yang kami buat yaitu ascariasis ataupun infeksi karena cacing tambang baik Necator americanus atupun Ancylostoma duodenale, maka anak tersebut memiliki nafsu makan yang berkurang karena toxin yang dikeluarkan oleh cacing ataupun karena malabsorpsi. Karena nafsu makan berkurang, maka makanan yang merupakan sumber energi yang masuk ke dalam tubuh akan berkurang sehingga anak akan terlihat lemah. Selain daripada itu cacing tambang yang kami curigai menginfeksi anak ini dapat menyebabkan anemia karena cacing ini akan menghisap darah melalui lapisan usus dan menyebabkan pasien terlihat pucat. Dari anamnesis tambahan didapatkan bahwa anak tersebut senang bermain pada tanah yang gembur dan berpasir, sehingga menunjang hipotesa kami karena cacing tambang hidup pada tanah yang gembur dan berpasir. Diketahui juga biasanya warga tempat tinggal anak ini mempergunakan lubang-lubang yang dibuat untuk buang air besar, dan seperti yang kita ketahui bahwa beberapa infeksi cacing terjadi melalui telur yang terbuang bersama tinja di tanah.2 </p> <p>Selain itu juga diketahui bahwa pasien sering pulang kerumah dengan menggaruk- garuk kaki atau tungkai bawahnya. Pada jenis cacing tambang, larva filariform yang merupakan bentuk infektif akan menembus kulit manusia secara aktif dan masuk ke dalam pembuluh darah, dan larva yang masuk menembus kulit akan menyebabkan rasa gatal pada anak tersebut atau yang dikenal sebagai ground itch. Pasien juga sering batuk, diduga bahwa infeksi cacing yang melewati siklus paru yang menyebabkan pasien ini menjadi batuk-batuk. Selain itu, pasien juga merasa mual dan diare. Diare yang dirasakan pasien adalah karena malabsorpsi makanan yang disebabkan sumbatan cacing, sehingga tekanan osmotik lumen meningkat dan air tertarik ke dalam lumen sehingga terjadi diare. 2D. Pemeriksaan Fisik3PemeriksaanHasilInterprestasi</p> <p>Keadaan umumTampak sakit sedang, lesuTerdapat gangguan pada tubuh pasien sehingga terlihat sakit dan lesu</p> <p>Kesadaran Compos mentisPasien sadar sepenuhnya, dan memberi respon yang adekuat terhadapa semua stimulus yang diberikan</p> <p>Tekanan darah 100/60 mmHgNormalnya 100-60 mmHg, tekanan darah pada anak ini normal.</p> <p>Nadi80x/ menitNormalnya 80-140 x/menit, nadi pada anak ini normal</p> <p>Respiratory rate12x/menitNormalnya 15-30x/menit, laju pernapasan dari anak ini mengalami penurunan, menandakan bahwa adanya gangguan pada sistem pernapasan yang menyebabkan sesak nafas dan frekuensi napasnya jadi menurun</p> <p>Suhu36,5 CNormal 36,5-37,2 C</p> <p>ConjungtivaAnemisMenandakan terjadinya penurunan Hb darah</p> <p>CorTidak tampak kelainanNormal</p> <p>PulmoTidak tampak kelainanNormal</p> <p>AbdomenLemas, H/L tidak terabaNormal</p> <p>EkstremitasPada kulit kaki terdapat bekas garukanTerdapat kelainan, bisa disebabkan karena infeksi cacing yang menembus kulit seperti pada infeksi cacing tambang.</p> <p>E. Pemeriksaan Laboratorium3,4Darah lengkapNilai normalInterprestasi hasil</p> <p>Hemoglobin 5 g/dL12,5 g/dL ( anak 2 - 6 tahun )Anemia </p> <p>Hal ini terjadi karena sifat dari cacing tambang yang melekat pada mukosa dan mengisap serta mencerna darah .</p> <p>Menurut WHO, Hb kurang dari 6 g/dL adalah termasuk dalam anemia derajat berat.</p> <p>Leukosit 4500 /mm35700 18.000 /mm3Leukopenia</p> <p>Eritrosit3,8 juta/mm33,6 4,4 juta/mm3 Dalam batas normal</p> <p>Trombosit150.000/mm3150.000 300.000 /mm3Dalam batas normal</p> <p>Hitung jenis Basofil10 1 %Dalam batas normal</p> <p>Eosinofil71 3 %Eosinofilia </p> <p>Hal ini terjadi sebagai reaksi alergi dalam tubuh.</p> <p>Netrofil batang42 6 %Dalam batas normal</p> <p>Netrofil segmen5750 70 %Dalam batas normal</p> <p>Limfosit2620 40 %Dalam batas normal</p> <p>Monosit52 8 % Dalam batas normal</p> <p>Pemeriksaan feses : Tampak telur cacing= menandakan bahwa pasien terinfeksi cacingRo foto thorax</p> <p>: tidak tampak kelainan = dalam batas normalGambar hasil pemeriksaan feses:</p> <p>Yang terlihat pada hasil pemeriksaan feses adalah telur cacing tambang. Telur didapatkan dari tinja segar yang dibuat dengan cara sediaan langsung. Telur cacing tambang besarnya 60 x 40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Pada stadium telur, cacing tambang belum dapat diidentifikasi baik spesies maupun genusnya secara mikroskopis. Untuk membedakan spesies, telur perlu dibiakkan dengan metode Harada-Mori.</p> <p>F. Diagnosis KerjaAnemia ec infeksi cacing tambang</p> <p>Data yang mendukung:</p> <p>1. Pasien senang bermain di kebun dekat rumah serta tanah daerah tempat tinggal adalah tanah gembur dan berpasir yang merupakan habitat cacing tambang Necator americanus dan Acylostoma duodenale.2. Dari gejala pasien yang menggaruk-garuk kaki atau tungkai bawahnya, sebelumnya mengalami batuk-batuk tetapi sembuh dengan sendirinya yang kemungkinan disebabkan migrasi larva filariform cacing tambang dari alveol paru menuju laring. Adanya rasa mual dan diare ringan serta pasien mengalami lelah, lemah, dan tidak nafsu makan.</p> <p>3. Dari pemeriksaan fisik diperoleh konjungtiva yang anemi serta pada extremitas kulit kaki tampak bekas garukan yang mungkin disebabkan ground itch dimana larva filariform melakukan penetrasi ke dalam kulit pasien dan masuk sirkulasi darah.</p> <p>4. Dari hasil laboratorium diperoleh data yang mendukung adanya anemia pada pasien yaitu Hb: 5 g/dl dan eritrosit 3,8 juta/mm3, serta terjadi peningkatan kadar eosinofil pada hitung jenis yang mengarah ke diagnosis infeksi oleh cacing.</p> <p>5. Pada pemeriksaan feses ditemukan telur cacing yang kemungkinan adalah telur cacing tambang dilihat dari morfologi telur serta keadaan lingkungan dan gejala yang ditimbulkan pasien.G. Diagnosis Banding Strongylodiasis. Data yang mendukung: eosinofilia, adanya siklus paru yang dapat menimbulkan batuk </p> <p> Trichostrongyliasis. Data yang mendukung: adanya anemiaH. Patofisiologi6Cara penularan cacing tambang bisa secara aktif maupun pasif. Aktif yaitu dengan kemampuan larva cacing menembus kulit manusia atau pasif dengan cara tertelan atau terminum (foodborne). Telur dikeluarkan bersama tinja pada orang yang terinfeksi, telur yang sudah matang yang di namakan morula pertama-tama akan tumbuh menjadi larva Rabditiform dalam waktu 1-1,5 hari. Bentuk ini tidak infektif. Dalam satu minggu larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform. Bentuk inilah yang bersifat infektif dan banyak pada tanah yang gembur, berhumus dan berpasir. Larva filariform memiliki daya tigmotaksis kuat untuk masuk ke kulit hospes. Larva filariform tidak dapat mencari makanan bebas di tanah maka itu larva filariform mencari hospes untuk kelangsungan hidupnya. Larva masuk melalui folikel rambut, pori-pori atau kulit utuh. Larva filariform inilah yang akan menimbulkan ground itch yaitu rasa sangat gatal, berwarna kemerahan dan tampak berbentuk seperti pergerakan larva tersebut. Setelah itu larva akan masuk vena kecil atau saluran limfe dan akan masuk ke peredaran darah, jantung, dan paru (lung migration), kemudian ke bronkus dan trakea sehingga biasanya akan menimbulkan reaksi batuk. Saat itulah larva tertelan kembali dan masuk kembali menuju usus. Tempat yang paling disukai adalah usus halus. Di usus larva sudah berubah bentuk menjadi cacing dewasa, bentuk ini dapat menghisap darah dan zat mukosa dengan 4 gigi besar pada A.duodenale dan benda kitin pada N.americanus, juga Esophagus pada cacing ini memiliki daya penghisap. Esophagus akan berkontraksi dan melebar. Cacing juga mensekresi suatu zat yang mencegah pembekuaan darah sehingga mempermudah penghisapan darah. Satu ekor cacing N.Americanus dapat menghisap darah 0,005-0,1 cc/hari, sedangkan A.duodenale dapat menghisap darah 0,08-0,34 cc/hari. Cacing dewasa betina akan bertelur 5-6 minggu setelah terinfeksi. </p> <p>I. Tatalaksana5Non medikamentosa</p> <p>1. Memutuskan daur hidup dengan cara:a. Defekasi di jambanb. Menjaga kebersihan, cukup air bersih di jamban, mandi dan cuci tangan secara teraturc. Menganjurkan penggunaan sandal saat bermain untuk mencegah infeksi2. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai sanitasi lingkungan yang baik dan cara menghindari infeksi cacingMedikamentosa71. Pengobatan pada cacing dewasa: Pemberian gabungan pirantel-pamoat dengan mebendazol, dengan cara pirantel-pamoat dosis tunggal 10 mg/kgBB diberikan pada pagi hari diikuti dengan pemberian mebendazol 100 mg dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut. 2. Albendazole juga efektif untuk infeksi A. duodenale dan N. Americanus. Pemberian Albendazole 400 mg (2 tablet) dosis tunggal rata rata dapat memberikan tingkat kesembuhan sebesar 80 % dan 200 mg 3 kali sehari dapat memberikan tingkat kesembuhan sebesar 100 %. 3. Untuk anemia: Pemberian suplemen zat besi secara oral dalam bentuk ferrous sulphate atau gluconate 200 mg 3 kali sehari yang sebaiknya tetap diberikan selama 3 bulan setelah hemogobin mecapai kadar normalnya. Setelah dimulai pemberian terapi zat besi respons retikulosit akan tampak sekitar 1 minggu setelahnya. Pemberian terapi ini dapat meningkatkan kadar hemoglobin 1 mg setiap minggu.J. Komplikasi </p> <p>Kerusakan pada kulit (Ground itch ) akan menyebabkan dermatitis yang berat terutama pada pasien yang sensitif. Anemia berat yang terjadi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, perkembangan mental, dan payah jantung.K. Prognosis8 Ad vitam</p> <p>: Ad bonam </p> <p> Ad fungsionam: Ad bonam Ad sanationam: Dubia ad malamBAB IV</p> <p>TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>1. Infeksi Cacing Tambang (Ankilostomiasis dan Necatoriasis)5DefinisiInfeksi cacing tambang adalah penyakit yang disebabkan cacing Ancylostoma duodenale dan atau Necator americanus. Cacing tambang menghisap darah sehingga menimbulkan keluhan yang berhubungandengan anemia, gangguan pertumbuhan terutama pada anak.PenyebabAncylostoma duodenale dan atau Necator americanus.Hospes</p> <p>Manusia Distribusi Geografik</p> <p>Daerah khatulistiwa, pertambangan, dan perkebunan. Prevalensi di Indonesia tinggi, terutama di daerah pedesaan sekitar 40%.</p> <p>Bentuk infektifLarva filariformMorfologiAnkylostomaduodenale : Panjang badan cacing betina 1 cm, cacing jantan 0,8 cm.</p> <p> Bentuk menyerupai huruf C</p> <p> Dibagian mulut terdapat dua pasang gigi Cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks di dalam giginya Cacing betina ekornya runcing, mengeluarkan telur 10.000-25.000 butir</p> <p>Necatoramericanus : Panjang badan cacing betina 1 cm, cacing jantan 0,8 cm Bentuk menyerupai huruf S</p> <p> Bagian mulut menyerupai benda kitin</p> <p> Cacing jantan mempunya bursa kopulatriks pada ekornya</p> <p> Caci...</p>