Click here to load reader

Mengudara melawan kemiskinan

  • View
    226

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

Text of Mengudara melawan kemiskinan

  • MengudaraMelawanKeMisKinan

  • Lisensi

    Siapa pun bisa mengutip, menyalin, dan menyebarluaskan sebagian atau keseluruhan tulisan dengan menyebutkan sumber tulisan danmencantumkan jenis lisensi yang sama pada karya publikasi, kecuali untuk kepentingan komersil.

  • MengudaraMelawanKeMisKinan

  • Mengudara MeLawan KeMisKinan

    Tim PenulisFerdhi PutraIman AbdaKhoerudin WahyuLia Yuniar

    PenyuntingRanggoaini Jahja

    sampul dan Tata letakMS Lubis

    PenerbitCombine Resource Institution (CRI)Jl KH Ali Maksum RT 06 No 183 Pelemsewu, Panggungharjo, SewonBantul, DI Yogyakarta, Indonesia 55188Tel/Fak: 0274 411123Website: www.combine.or.id

    Cetakan pertama, November 2014

  • MeNguDARA MeLAWAN KeMISKINAN I 5

    Kata Pengantar ~ 6

    BAB 1 Radio Komunitas: Mengudara Melawan Kemiskinan ~ 11

    BAB 2 Merevitalisasi dan Memelihara Nilai-nilai Baik di Masyarakat ~ 23

    BAB 3 Pembelajaran dari Program DISKUSI III ~ 46

    BAB 4 Bercermin dan Melihat Masa Depan Radio

    Komunitas Indonesia ~ 63

    Daftar Isi

  • 6 I FeRDHI PuTRA DKK

    ejak awal berdiri pada 2001 hingga kini, Com-mu nity Based Information Network (Combine) Re source Institution bergelut di masalah swa ke-

    lola informasi oleh masyarakat. Salah satunya melalui me-dia komunitas, termasuk radio komunitas. Salah satu ujung yang diharapkan terwujud melalui radio komunitas ada-lah partisipasi.

    Partisipasi yang dimaksud tentu dalam koridor kebijak-an publik. Seperti telah diulas dalam beragam teori, parti-sipasi membutuhkan prasyarat dan tahapan. Dalam teori klasik macam A Ladder of Citizen Participation dari Sher-ry Arnstein (1969) pun sudah disebutkan delapan macam partisipasi sebelum sampai ke tahap paling ideal menurut-nya, yaitu Kontrol Warga.

    Bila menilik alasan-alasan pendirian radio komunitas, antara lain misalnya karena hobi individu dan "program bawaan" dari pihak luar seperti LSM, maka jelas butuh upa-

    Kata Pengantar

    S

  • MeNguDARA MeLAWAN KeMISKINAN I 7

    ya berkelanjutan kalau tidak bisa disebut ekstra keras untuk bisa merealisasikan partisipasi publik. Upaya ini bisa melalui banyak cara. Tentu harus hati-hati agar da-lam cara apapun yang dipilih sudah partisipatif sejak awal. Partisipasi bukan sekadar menjadi tujuan akhir melainkan sudah melebur sebagai prinsip yang menjiwai tiap akti vi-tas di radio komunitas.

    dinamika ProsesProgram Enhancing Transparancy & Accountability

    Through Community Radio tahap III atau Radio Komu-nitas untuk mendorong Akuntabilitas dan Transparansi disingkat DISKUSI III adalah Program yang dijalankan oleh Combine bekerja sama dengan Jaringan Radio Komu-nitas Indonesia (JRKI) dengan dukungan dari PNPM Sup-port Facility (PSF). Secara singkat sebenarnya program ini merupakan salah satu cara mendorong radio komunitas menapak tangga partisipasi yang lebih tinggi, dalam hal ini secara khusus terkait program PNPM.

    Bila dibandingkan dengan tahap I dan II, DISKUSI III ada tambahan beberapa aktivitas seperti kompetisi inovasi dan pelibatan dalam gerakan antikorupsi. Salah satu titik tekannya adalah upaya radio komunitas mengeskalasi isu yang diangkat ke level yang lebih tinggi (kabupaten, pro-vinsi dan nasional ) melalui produksi informasi.

    Skema sederhananya, radio komunitas berpartisipasi dalam proses implementasi PNPM baik berupa sosialisasi maupun pengawasan. Informasi yang dikumpulkan kemu-dian dikemas dan disebarkan. Tidak saja secara on air di

  • 8 I FeRDHI PuTRA DKK

    radio masing-masing, melainkan diperluas melalui bera-gam media lain seperti media daring (www.suarakomunitas.net, radio streaming dsb). Tujuannya agar pihak pengambil keputusan dapat cepat mendapat pasokan informasi ter-se but dan lantas lebih cepat mengambil langkah konkret.

    Tentu proses pelaksanaannya tidak sesederhana itu. Buku ini berusaha secara utuh menggambarkan dinamika proses tersebut. Bila melihat ada 142 radio komunitas se-ba gai mitra program DISKUSI III yang tersebar di 14 pro-vinsi, tentu menarik mengetahui betapa variatifnya adap-tasi yang dilakukan tergantung karakter sosiologis hingga geografis.

    Pada Bab 2 misalnya, akan ditemui cerita tentang Man-tehage, salah satu pulau terpencil yang minim infrastruk-tur dan akses komunikasi. Padahal letaknya hanya sekitar 13 km dari Kota Manado, tepatnya di wilayah Taman La-ut Nasional Bunaken. Warga di pulau ini harus puas dengan menikmati penggunaan listrik selama 7 jam per hari. Di si nilah hidup Radio Komunitas Gelora Mantehage. Dalam kondisi itu para pengelolanya mesti berpikir sekian lang-kah ke depan tentang menggalang partisipasi warga me-ne ropong PNPM.

    Pengawasan Program Terbesar di duniaSebenarnya partisipasi tidak hanya penting bagi warga

    tapi juga negara. Pembangunan yang lebih tepat sasaran, bebas korupsi dengan pembiayaan efektif adalah contoh dampak yang didapat bila tingkat partisipasi dibangun ber-sama oleh kedua belah pihak. Dalam soal PNPM, perma-

  • MeNguDARA MeLAWAN KeMISKINAN I 9

    salahan korupsi, inefisiensi, tidak sesuai kebutuhan rakyat dsb adalah cerita yang seakan selalu membayangi. Prinsip partisipasi yang disyaratkan pada kenyataannya dapat di-reduksi sedemikian rupa menjadi sekedar lembar absensi pertemuan warga misalnya. Di titik inilah kenapa prog-ram PNPM, yang sudah dianggap sebagai program pem-ber dayaan terbesar di dunia, amat membutuhkan dukung-an elemen masyarakat seperti radio komunitas.

    Setelah membaca buku ini tentu diharapkan tidak ha-nya didapat pengetahuan tentang proses perjalanan prog-ram. Lebih dari itu yang dinanti adalah semangat untuk terus mewujudkan partisipasi publik yang ideal melalui ra-dio komunitas. Program DISKUSI pada akhirnya hanya sa-lah satu dari sekian banyak jalan untuk memacu semangat itu. Makin banyak tercipta kolaborasi dan inovasi, maka makin besar pula peluang mewujudkan keterlibatan pub-lik dalam program-program pembangunan, seperti hal-nya PNPM.

    Akhir kata, terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah menjadikan DISKUSI III ini terlaksana. Kepada PSF, JRKI baik di pusat maupun wilayah, rekan-rekan ra-dio komunitas yang menjadi mitra, dan terutama warga ma syarakat tempat program ini diimplementasikan. Ten-tu ini bukan akhir, karena kolaborasi adalah syarat yang tak mungkin ditinggalkan untuk penguatan jejaring ma-sya rakat sipil.

  • MeNguDARA MeLAWAN KeMISKINAN I 11

    emiskinan kerap dikaitkan dengan kesenjangan si miskin dengan si kaya dalam mengakses in-formasi. Kondisi minus akses informasi yang di-

    alami suatu masyarakat kerap merujuk pada situasi yang di sebut sebagai lingkar ketidakberdayaan.

    Pandangan yang memeriksa adanya hubungan kausa-litas antara kesenjangan informasi dan pengetahuan de-ngan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat telah lama dirujuk oleh mereka yang mempelajari ilmu komunikasi. Di mulai sejak pertumbuhan media massa pertama kali, pa ra ahli komunikasi meyakini bahwa pengetahuan didis-tribusikan mengikuti sistem sosial masyarakat1. Sehingga

    1 Tichenor, P.A.; Donohue, G.A. & Olien, C.N. Mass media flow and differen tial growth in knowledge. In Public Opinion Quarterly, 34 (2), 159 170. Ox ford: Oxford university Press.

    K

    Dengan adanya radio komunitas desa saya, desa Cisewu, sekarang mudah mengakses informasi dan mendapatan banyak jejaring pertemanan. (Latief Rochyana, pengelola Radio Komunitas Rasi FM, Cisewu, garut)

    Radio Komunitas: Mengudara Melawan Kemiskinan

    BaB 1

  • 12 I FeRDHI PuTRA DKK

    mereka yang lebih sejahtera akan mencari informasi lebih cepat dari mereka yang memiliki status sosial ekonomi le-bih rendah. Referensi pengetahuan akan menentukan se-jauh mana kemampuan dan kesempatan yang dimiliki oleh seseorang. Sebagai ilustrasi, orang yang tidak tahu adanya lowongan pekerjaan akan kehilangan kesempatan untuk bekerja.

    Mengikuti perkembangan internet dan Teknologi In-formasi dan Komunikasi, kesenjangan pengetahuan sering dikaitkan dengan kesenjangan digital (digital divide). Ak-se sibilitas suatu masyarakat terhadap informasi kemudi an diukur dari frekuensi dan kemudahan mereka dalam meng-akses internet. Terpaparnya suatu masyarakat terhadap informasi digital menjadi tolak ukur untuk membuktikan adanya kesenjangan pengetahuan diantara orang miskin dan orang kaya2.

    Kecenderungan yang terbentuk itu alhasil kian mem-perlebar kesenjangan antara si kaya dan si mis kin. Sehing-ga disebut sebagai lingkar ketidakberdayaan.

    Informasi sesungguhnya tidak selalu berkorelasi de-ngan penggunaan media baru, seperti internet. Penyedia-an akses dan infrastruktur internet tidak menjadi jawaban bagi masyarakat yang menghadapi kemiskinan absolut, dalam pengertian kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.

    2 Kenneth e Himma, The Information gap, the digital divide, and the obligations of affluent nations. International Review of Information Ethics (IRIE). Vol. 7 (09/2007). http://www.irie.net/inhalt/007/07himma.pdf. Diun duh pada tanggal 20 Agustus 2014

  • MeNguDARA MeLAWAN KeMISKINAN I 13

    Selain itu, kondisi masyarakat yang cenderung tak mem-baca dan menulis dalam kehidupan sehari-harinya juga akan menghambat seseorang untuk memperoleh informa-si dan pengetahuan.

    Perkembangan industri siaran radio dalam sejarah mo-dern pertumbuhan media massa sudah diperhitungkan, ka rena dapat menjawab hambatan kemiskinan dan ilite-rasi yang dihadapi oleh suatu masyarakat3. Harapan atas pe ran radio untuk menjadi tools dalam mengedukasi ma-syarakat telah diperhitungkan sejak awal sejarah jurna lis-me penyiaran. Namun demikian, perkembangan radio se-bagai alat edukasi masyarakat tak selalu dapat ditemukan di semua negara. Sebaliknya, radio menjadi bagian dari in dustri komersial yang menempatkan masya

Search related