3
Museum Subak di Bali, Sistem Irigasi Bali Museum Subak berlokasi di desa Sanggulan, Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, tepatnya 20 Km dari arah barat kota Denpasar. Dipilihnya desa ini sebagai tempat museum subak adalah atas pertimbangan bahwa Subak Rijasa di kabupaten Tabanan pada tahun 1979 pernah meraih juara nasional dalam program intensifikasi yang mengangkat nama Bali di tingkat Nasional. Kedua, Kabupaten Tabanan adalah kabupaten yang memiliki lahan sawah yang paling luas di Bali, sehingga dijuluki Lumbung Beras pulau Bali. Pertimbangan ketiga, kabupaten Tabanan memiliki jumlah subak paling banyak dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Maksud lainnya adalah mengembangkan wilayah tersebut sebagai kawasan kunjungan yang dapat dipadukan dengan objek wisata Tanah Lot. Luas lahan seluruhnya setelah ditambah 6 hektar lagi adalah 8 hektar yang dipergunakan oleh tiga lembaga yang mempunyai kaitan erat satu sama lain. Lembaga tersebut adalah Sasana Budaya, Museum Subak, dan Pusat Latihan Pengolahan Air atau Water Management Training Center. Ketiga lembaga tersebut di atas bergabung pada satu areal yang luasnya 8 hektar, yang diberi nama “Mandala Mathika Subak”. Sistem ini sangat terkenal di mancanegara karena memiliki sistem pengairan serupa seperti Fai di Thailand dan Zangera di Filipina dengan gaung dan spesifikasinya tidak seperti subak yang ada di Bali. Dengan semakin berkembangnya teknologi sekarang, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan manusia dan sistem subak sendiri. Bila ini terjadi pada suatu saat, subak yang merupakan aset budaya yang telah mengidentifikasikan masyarakat Bali akan sulit dilacak. Kekhawatiran para pencipta budaya ini pertama kali dicetuskan oleh I Gusti Ketut Kaler yang pada awalnya mengusulkan untuk melestarikan sebuah subak guna dijadikan Cagar Budaya. Usulan ini terus berkembang menjadi Museum Subak. Berbagai batasan tentang subak telah dikemukakan, tetapi sebagai pegangan kita pilih salah satu yang paling lengkap, di antaranya batasan sebagai hasil kajian yang dilakukan di lapangan oleh Prof. Dr. Nyoman Sutawan dan kawan-kawan tahun 1966, sebagai berikut: Subak adalah organisasi petani lahan basah yang mendapatkan air irigasi dari suatu sumber bersama, memiliki satu atau lebih Pura Dugul (untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan), serta mempunyai kebebasan di dalam mengatur rumah tangganya sendiri maupun di dalam berhubungan dengan pihak luar. Museum Subak terdiri dari bangunan tertutup dan bangunan terbuka. Bangunan tertutup terdiri dari Gedung Pameran, yang memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan pekerjaan petani, Gedung Audio-visual yang menceritakan kegiatan subak dalam kaitannya dengan pengolahan air, Gedung Perpustakaan dan Kantor. Sedangkan bangunan terbuka merupakan visualisasi peragaan subak dalam bentuk mini terdiri dari; sebuah kolam berfungsi untuk penampungan air, telabah berfungsi untuk mengalirkan air dari kolam ke saluran primer, telabah Gede, ke saluran sekunder tersier (telabah Pemaron), saluran kuarter (telabah Penyacah), ke tembuku dan akhirnya ke petakan sawah. Dan juga dibangun sebuah rumah petani tradisional yang terbagi menjadi 3 yaitu: utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Benda-benda yang dipakai oleh petani yang dipamerkan di Gedung pameran meliputi; kapak,

Museum Subak Di Bali

Embed Size (px)

Citation preview

Museum Subak di Bali, Sistem Irigasi Bali

Museum Subakberlokasi di desa Sanggulan, Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, tepatnya 20 Km dari arah barat kota Denpasar. Dipilihnya desa ini sebagai tempat museum subak adalah atas pertimbangan bahwa Subak Rijasa di kabupaten Tabanan pada tahun 1979 pernah meraih juara nasional dalam program intensifikasi yang mengangkat nama Bali di tingkat Nasional. Kedua, Kabupaten Tabanan adalah kabupaten yang memiliki lahan sawah yang paling luas di Bali, sehingga dijuluki Lumbung Beras pulau Bali. Pertimbangan ketiga, kabupaten Tabanan memiliki jumlah subak paling banyak dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Maksud lainnya adalah mengembangkan wilayah tersebut sebagai kawasan kunjungan yang dapat dipadukan dengan objek wisata Tanah Lot. Luas lahan seluruhnya setelah ditambah 6 hektar lagi adalah 8 hektar yang dipergunakan oleh tiga lembaga yang mempunyai kaitan erat satu sama lain. Lembaga tersebut adalah Sasana Budaya, Museum Subak, dan Pusat Latihan Pengolahan Air atau Water Management Training Center. Ketiga lembaga tersebut di atas bergabung pada satu areal yang luasnya 8 hektar, yang diberi nama Mandala Mathika Subak. Sistem ini sangat terkenal di mancanegara karena memiliki sistem pengairan serupa seperti Fai di Thailand dan Zangera di Filipina dengan gaung dan spesifikasinya tidak seperti subak yang ada di Bali. Dengan semakin berkembangnya teknologi sekarang, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan manusia dan sistem subak sendiri. Bila ini terjadi pada suatu saat, subak yang merupakan aset budaya yang telah mengidentifikasikan masyarakat Bali akan sulit dilacak. Kekhawatiran para pencipta budaya ini pertama kali dicetuskan oleh I Gusti Ketut Kaler yang pada awalnya mengusulkan untuk melestarikan sebuah subak guna dijadikan Cagar Budaya. Usulan ini terus berkembang menjadi Museum Subak. Berbagai batasan tentang subak telah dikemukakan, tetapi sebagai pegangan kita pilih salah satu yang paling lengkap, di antaranya batasan sebagai hasil kajian yang dilakukan di lapangan oleh Prof. Dr. Nyoman Sutawan dan kawan-kawan tahun 1966, sebagai berikut: Subak adalah organisasi petani lahan basah yang mendapatkan air irigasi dari suatu sumber bersama, memiliki satu atau lebih Pura Dugul (untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan), serta mempunyai kebebasan di dalam mengatur rumah tangganya sendiri maupun di dalam berhubungan dengan pihak luar. Museum Subak terdiri dari bangunan tertutup dan bangunan terbuka. Bangunan tertutup terdiri dari Gedung Pameran, yang memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan pekerjaan petani, Gedung Audio-visual yang menceritakan kegiatan subak dalam kaitannya dengan pengolahan air, Gedung Perpustakaan dan Kantor. Sedangkan bangunan terbuka merupakan visualisasi peragaan subak dalam bentuk mini terdiri dari; sebuah kolam berfungsi untuk penampungan air, telabah berfungsi untuk mengalirkan air dari kolam ke saluran primer, telabah Gede, ke saluran sekunder tersier (telabah Pemaron), saluran kuarter (telabah Penyacah), ke tembuku dan akhirnya ke petakan sawah. Dan juga dibangun sebuah rumah petani tradisional yang terbagi menjadi 3 yaitu: utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Benda-benda yang dipakai oleh petani yang dipamerkan di Gedung pameran meliputi; kapak, gergaji, linggis, pacung tunggal, panyong, penampad, patuk, geganjing, tenggala atau bajak, pemelasah, anggapan atau ani, arit, ketungan, lesung, luu, sidi adalah alat untuk mengolah padi menjadi beras, pengedangan, payuk, kuskusan, paso, jeding, pengorengan, cagag, dan sok nasi. Disamping itu petani juga melakukan upacara, diantaranya: Upacara Ngawiwit; upacara yang dilaksanakan pada waktu petani mulai menabur benih, Upacara Mamula merupakan upacara yang dilaksanakan pada saat menanam, Upacara Neduh; upacara yang dilakukan pada waktu padi berumur 1 bulan dengan maksud agar tidak diserang hama, Upacara Biukukung adalah upacara yang dilakukan pada saat padi sedang bunting, Nyangket; upacara dilakukan pada saat panen, Mantenin; upacara yang dilakukan pada saat padi sudah dilumbung, Upacara Mapag Toya; upacara yang dilakukan di dekat bendungan menjelang pengolahan tanah, Nayeb adalah upacara yang dilakukan dengan maksud agar padi tidak diserang hama penyakit, dan Upacara Ngusaba merupakan upacara yang dilakukan menjelang panen.A. Selayang PandangSubakadalah sistem pengelolaan distribusi aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktifitas pertanian di Bali. Melalui sistemSubak, para petani memperoleh jatah air sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh musyawarah warga. Secara filosofis, keberadaanSubakmerupakan manifestasi dari konsep Tri Hita Karana, yaitu relasi harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan alam, serta relasi antar sesama manusia. Oleh sebab itu, kegiatan dalam perkumpulanSubaktak hanya meliputi masalah pertanian semata, melainkan juga meliputi masalah ritual dan peribadatan untuk memohon rejeki yang belimpah.Potensi kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali inilah yang kemudian diawetkan menjadi MuseumSubak.MuseumSubakdiresmikan oleh Gubernur Bali pada tanggal 13 Oktober 1981. Museum ini merupakan Museum Khusus karena memamerkan satu tema, yaitu sistem pertanian di Bali.MuseumSubakdapat dikunjungi pada hari SeninSabtu jam 08.0016.30, dan hari Jumat jam 08.0013.00. Adapun hari Minggu dan hari libur nasional tutup.B. KeistimewaanMuseumSubakmerupakan satu-satunya museum yang mengetengahkan segala hal ihwal pertanian di Bali. Museum ini memamerkan miniaturSubaklengkap dengan gambar-gambar proses pembuatannya, seperti tahapan menemukan sumber mata air, membuat terowongan air dan membangun bendungan, serta membuat saluran penghubung untuk mengalirkan air ke sawah-sawah penduduk. MuseumSubakjuga memiliki data audio-visual yang menerangkan tentang proses budidaya padi, mulai dari musyawarah anggotaSubak,kesepakatan pengaturan air, serta ritual memohon hasil panen yang melimpah.Selain itu, museum ini juga memamerkan alat-alat pertanian tradisional Bali, seperti alat pemotong dan penumbuk padi, alat untuk membajak sawah, alat untuk membetulkan saluran irigasi, serta miniatur dapur tradisonal lengkap dengan tata ruang dan perabot untuk memasak nasi. Pengunjung MuseumSubakjuga dapat menambah pengetahuan tentang pertanian dengan mengunjungi fasilitas pepustakaan di komplek museum ini. Koleksi buku dalam perpustakaan cukup lengkap, mulai dari berbagai kajian lintas disiplin mengenai sistemSubakhingga masalah-masalah pertanian secara umum.C. LokasiJalan Gatot Subroto,Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, Indonesia.D. AksesKabupaten Tabanan berjarak sekitar 20 km dari kota Denpasar, Ibukota Provinsi Bali. Dari kota Denpasar, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum (bus) menuju terminal bus kota Tabanan. Dari terminal ini, wisatawan dapat naik angkutan umum (bemo) sejauh 2 km untuk sampai di lokasi Museum.E. Harga Tiket