PEDOMAN ORGANISASI DAN TANFIDZ 2020-01-04آ  PEDOMAN ORGANISASI DAN TANFIDZ MUKTAMAR XVII PEMUDA MUHAMMADIYAH

  • View
    113

  • Download
    73

Embed Size (px)

Text of PEDOMAN ORGANISASI DAN TANFIDZ 2020-01-04آ  PEDOMAN ORGANISASI DAN TANFIDZ MUKTAMAR XVII PEMUDA...

  • PEDOMAN ORGANISASI DAN TANFIDZ MUKTAMAR XVII

    PEMUDA MUHAMMADIYAH

    Jogjakarta : 24-28 November 2018 16-20 Robiul Awal 1440

    “Mengembirakan Dakwah Islam Memajukan Indonesia “

    PIMPINAN PUSAT PEMUDA MUHAMMADIYAH PERIODE : 2018-2022

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyahii |

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyahiii |

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyahiv |

    Tim Penyusun

    Dzulfikar Ahmad Tawalla

    Mukayat Al Amin

    Sandro Andriawan

    Maman Lukmanul Hakim

    Supala

    Anderyan Noor

    Yudhi Najibullah

    Desain Cover & Lay Out

    Gusman Fahrizal

    Muhammad Fakhrudin

    Iwan Setiawan

    Penerbit

    Pimpinan Pusat Pemuda

    Muhammadiyah Jl.Menteng

    Raya No.62 Jakarta Pusat

    10340 Telp, (021) 3149016,

    3903021

    Fax,(021) 3149016

    Email :pppemudamuhammadiyah@gmail.com Web://www.pp- pemudamuhammadiyah.org

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah5 |

    KATA PENGANTAR

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah segala puji hanyalah milik Allah Swt, karena atas rahmat dan kasih sayang-Nya jua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dapat mentanfidzkan hasil keputusan Muktamar ke XVII Pemuda Muhammadiyah yang diselenggarakan pada tanggal 25 s/d 28 November 2018 di Kota Yogyakarta.

    Kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang telah mengamanahkan kepada bidang organisasi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah untuk menyusun Tanfidz dan pedoman organisasi hasil Muktamar Pemuda Muhammadiyah Ke XVII semoga tanfidz ini bermanfaat sebagai pedoman kita dam berorgansiasi

    Serta kami ucapkan terima kasih kepada tim perumus tanfidz yang telah berkerjasama dengan baik bersama kami untuk menyusun tanfidz ini, semoga bermanfaat dan barokah bagi organisasi

    Kami selaku perumus tanfidz Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah hasil muktamar Ke XVII di Jogjakarta mohon maaf yang sebesar besarnya apabila ada kesalahan dan kekhilafan yang kami lakukan. Wallahu a’lam bialassowaf

    Jakarta, 5 Januari 2019 Bidang Organisasi & Keanggotaan

    Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Mukayat Al Amin

    Andreyan Noor

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah6 |

    Pengantar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

    Periode 2018-2022

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah segala puji hanyalah milik Allah Swt, karena atas rahmat dan kasih sayang-Nya jua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dapat mentanfidzkan hasil keputusan Muktamar ke XVII Pemuda Muhammadiyah yang diselenggarakan pada tanggal 25 s/d 28 November 2018 di Kota Yogyakarta.

    Mengawali pengantar ini, saya ingin mengajak saudara-saudara sekalian untuk sejenak berefleksi sembari memutar ingatan kita ke masa lalu ketika organisasi kita ini mula-mula didirikan. Saya tidak ingin mengajak Anda “set back” ke masa silam sambil meratapi sejarah. Tetapi saya mengajak Anda semua untuk kita mencoba merenungkan bagaimana K.H. Ahmad Dahlan mendorong Siswa Proyo Priyo yang merupakan cikal bakal organisasi ini berdiri sebagai ruang bagi pemuda Islam mengorganisir diri dan entitasnya.

    Kiai Dahlan menyadari betul bagaimana pentingnya Pemuda dalam konstruksi gerakan Islam yang memerlukan kader bagi kelangsungan perjuangan dan cita-cita Islam wa bil khusus Persyarikatan Muhammadiyah. Tanpa kehadiran Pemuda, masa depan perjuangan Muhammadiyah akan mengalami stagnasi. Bahkan, meski pun ada kader, tetapi tidak mumpuni, gerak Persyarikatan akan tertatih mengarungi dinamika zaman yang penuh ketidak pastian. Disini visionernya pendiri Muhammadiyah yang mampu memandang jauh ke depan. Oleh karena itu eksistensi Pemuda Muhammadiyah pastilah berangkat dalam satu tarikan nafas dengan Persyarikatan sebagai organisasi induknya. Sebagai organisasi otonom, Pemuda Muhammadiyah menyadari mandatnya untuk melakukan pengorganisasian terhadap pemuda Islam dalam mewujudkan tujuan Muhammadiyah.

    Dalam konteks mandat itulah, maka Pemuda Muhammadiyah --dalam Muktamar ke XVII di Yogyakarta tahun 2018-- memandang pentingnya dakwah Islam yang sejuk dalam konteks ke Indonesia-an yang majemuk. Sebagai organisasi kepemudaan, Pemuda Muhammadiyah tidak hanya menyandang identitas kepemudaan semata, tetapi menyatu di dalamnya identitas ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Hal ini saya sampaikan untuk memberikan konteks bagaimana peran-peran kepemudaan digerakkan oleh

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah7 |

    seluruh civitas Pemuda Muhammadiyah di berbagai jenjang kepemimpinan. Pertama, dalam konteks kepemudaan, saya setuju dengan Juliette

    Koning (1997) bahwa pemuda itu tidak sekedar hal-hal demografis yang berkaitan dengan kelompok umur, tetapi pemuda berkaitan dengan bentuk- bentuk struktur, relasional dan perannya pada suatu konteks tertentu. Saya kemukakan ini karena bagi saya, apalah maknanya kelompok umur yang besar secara statistik, tetapi tidak punya peran apa-apa dalam konteks gerakan pemuda. Bagi saya, pemuda itu harus diletakkan dalam suatu setting sosial dan historis. Dengan demikian, peran-peran kepemudaan dapat dilakukan oleh elemen-elemen gerakan yang hidup dan berinteraksi dalam dinamika perkembangan sosial, ekonomi dan politik di suatu wilayah. Hal ini saya sampaikan karena, organisasi kepemudaan tidak hidup dalam ruang hampa. Ia hidup dalam suatu setting sosial yang dipengaruhi oleh pengalaman sejarah tiap-tiap organisasi kepemudaan, identitas, dan globalisasi yang semakin menyempitkan dunia dengan kecanggihan teknologi informasi. Dan bahkan membuat kita semua tercerabut dari akar-akar budaya bangsa, yang dalam konteks sebagai gerakan pemuda,tidak menutup kemungkinan kita akan mengalami krisis identitas dan split personality. Saya tidak ingin kader-kader Pemuda Muhammadiyah mengalami itu semua. Pemuda Muhammadiyah harus menampilkan identitasnya sebagai gerakan pemuda, gerakan Islam dan ke Indonesia-an yang --meminjam istilahnya Buya Syafii Ma’arif-- menyatu dalam satu tarikan nafas.

    Kedua, ke-Islam-an. Sebagai organisasi otonom Persyarikatan, Pemuda Muhammadiyah tidak bisa melepas dari ke-Islam-an sebagai identitasnya. Identitas ke-Islaman yang merujuk kepada paradigma Islam yang dianut oleh Persyarikatan. Ada dua terminologi penting kaitannya dengan paradigma ke-Islaman Muhammadiyah yaitu Islam berkemajuan dan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kedua terminologi itu tertuang dalam anggaran dasar Muhammadiyah dan Zhawahir Al-Afkar Al-Muhammadiyah. Berikut saya kutipkan bagaimana pengertian terhadap masyarakat Islam yang sebenar-benarnya:

    “Muhammadiyah memahami bahwa Islam memiliki pandangan tentang masyarakat yang dicita-citakan, yakni masyarakat Islam yang sebenar- benarnya. Dalam pesan Al- Quran (QS. Ali Imran ayat 110; Al Baqarah ayat 143), masyarakat Islam yang diidealisasikan merupakan perwujudan khaira ummah (umat terbaik) yang memiliki posisi dan peran ummatan wasatha (umat tengahan), dan syuhada ‘ala al-nas (pelaku sejarah) dalam kehidupan manusia. Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang di dalamnya ajaran Islam berlaku dan menjiwai seluruh bidang kehidupan yang dicirikan oleh ber-Tuhan dan beragama, berpersaudaraan, berakhlak dan beradab, berhukum syar’i, berkesejahteraan, bermusyawarah,

  • Pedoman Organisasi & Tanfidz Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah8 |

    berihsan, berkemajuan, berkepemimpinan, dan berketertiban. Dengan demikian masyarakat Islam menampilkan corak yang bersifat tengahan, yang melahirkan format kebudayaan dan peradaban yang berkeseimbangan (Tanfidz Keputusan Muktamar ke-46 di Yogyakarta, tahun 2010).”

    Cita-cita masyarakat Islam yang diidealkan oleh Muhammadiyah juga secara otomatis menjadi idealisme perjuangan Pemuda Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah, masyarakat Islam itu adalah sebuah corak keberislaman yang wasathiyah -tengahan- dengan format kebudayaan dan peradaban yang berkesinambungan. Muhammadiyah memandang perlunya sebuah masyarakat Islam yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan. Kemajuan dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang serba utama, yang melahirkan keunggulan hidup lahiriah dan ruhaniah (Tanfidz Keputusan Muktamar ke- 46 di Yogyakarta, tahun 2010).

    Dari kerangka pikir rumusan Muhammadiyah itulah, saya merenung bahwa Pemuda Muhammadiyah dalam periode ini memandang pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai ke-Islaman yang menjadi falsafah Muhammadiyah kepada kader Pemuda Muhammadiyah di berbagai jenjang dalam berbagai forum dan perkaderan di Pemuda Muhammadiyah. Perenungan ini dilatar belakangi oleh adanya perkembangan varian ke- Islaman yang dipraktikkan oleh banyak anak muda yang coraknya cenderung ke kanan. Oleh karena itu menghadirkan kembali pikiran-pikiran otentik Muhammadiyah mengenai ke-Islaman adalah sebuah keharusan dalam mengukir kerja-kerja Pemuda Muhammadiyah. Pemuda Muhammadiyah harus tetap menjaga bandul pikiran ke-Islaman Muhammadiyah yang bercorak wasatiyah itu di tengah tarikan kepentingan-kepentingan jangka pendek.

    Ketiga, dimensi ke-Indonesiaan. Artinya Pemuda Muhammadiyah berada dalam lokus perjuangan di sebuah negara bernama Indonesia. Dalam lintasan kesejarahan, Pemuda Muhammadiyah mengukirkan jejak- jejak gemilang dalam menyumbangkan pikiran dan kader-kader terbaiknya dalam peran-peran kebangsaan di ranah Negara. Jenderal Sudirman dan Ir. Ju