108782499 Makalah Pengolahan Limbah Sawit

  • Published on
    28-Dec-2015

  • View
    170

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

limbah sawit

Transcript

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Dalam beberapa tahun terakhir bisnis dan investasi pengembangan

    perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah terjadi booming. Permintaan

    atas minyak nabati dan penyediaan untuk biofuel telah mendorong

    peningkatan permintaan minyak nabati yang bersumber dari Crude Palm

    Oil (CPO). Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi

    menghasilkan minyak sekitar 7 ton / hektar bila dibandingkan dengan

    kedelai yang hanya 3 ton / hektar. Indonesia memiliki potensi

    pengembangan perkebunan kelapa sawit yang sangat besar karena

    memiliki cadangan lahan yang cukup luas, ketersediaan tenaga kerja,

    dan kesesuaian agroklimat.

    Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2007 sekitar

    6,8 juta hektar yang terdiri dari sekitar 60% diusahakan oleh perkebunan

    besar dan sisanya sekitar 40% diusahakan oleh perkebunan rakyat. Luas

    perkebunan kelapa sawit diprediksi akan meningkat menjadi 10 juta

    hektar pada 5 tahun mendatang. Mengingat pengembangan kelapa sawit

    tidak hanya dikembangkan di wilayah Indonesia bagian barat saja, tetapi

    telah menjangkau wilayah Indonesia bagian timur.

    Perkembangan industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia

    pada era pembangunan ini sangat pesat. Pada tahun 1990 di Indonesia

    dijumpai 84 unit pabrik kelapa sawit yang mengolah 10 juta ton tandan

    buah segar, dengan kapasitas yang bervariasi antara 20 - 60 ton tandan

    segar per jam.

    Selama proses pengolahan buah kelapa sawit menjadi minyak

    sawit diperoleh limbah baik berupa limbah cair maupun limbah padat.

    Limbah padat berupa jajangan, serat-serat dan cangkang dapat diolah

    menjadi bahan yang berguna. Janjangan dibakar dan abu hasil

    pembakaran dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Sedangkan serat-serat

    1

  • 2

    dan sebagian kulit dibakar dan panas yang dihasilkan digunakan

    sebagai sumber energi. Cangkang yang tersisa dapat digunakan sebagai

    bahan baku industri yang aktif maupun industri hard board.

    Limbah yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit ini

    tentunnya memiliki dampak negative bagi lingkungan jika tidak

    sesegera mungkin untuk dikelola secara berkelanjutan. Oleh karena itu

    dalam makalah ini kami memaparkan usaha mengatasi keberadaan

    limbah padat dan cair dari industri kelapa sawit yang deapat

    dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, sebagai pupuk organic,

    diogas dan sebagainya. Hasil yang didapat menunjukan bahwa dari

    pengelolaan limbah kelapa sawit ini dapat membantu mengurangi

    timbunan limbah padatnya serta menambah nilai guna dari limbah cair

    yang diperoleh dari proses pengolahan minyak kelapa sawit.

    1.2. Rumusan Masalah

    Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah,

    antara lain:

    1. Bagaimana definisi kelapa sawit.

    2. Bagaimana perkebunan kelapa sawit.

    3. Bagaimana industri minyak kelapa sawit.

    4. Apa saja komposisi kimia dalam minyak kelapa sawit.

    5. Bagaimana proses pengolahan minyak kelapa sawit.

    6. Bagaimana limbah industri kelapa sawit.

    7. Bagaimana komposisi limbah kelapa sawit dan pemanfaatannya.

    8. Bagaimana pengolahan limbah cair buangan industri kelapa sawit.

    9. Bagaimana pengolahan limbah padat industri kelapa sawit.

  • 3

    1.3. Tujuan Penulisan

    Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:

    1. Mengetahui definisi kelapa sawit.

    2. Mengetahui perkebunan kelapa sawit.

    3. Mengetahui industri minyak kelapa sawit.

    4. Mengetahui komposisi kimia dalam minyak kelapa sawit.

    5. Mengetahui proses pengolahan minyak kelapa sawit.

    6. Mengetahui limbah industri kelapa sawit.

    7. Mengetahui komposisi limbah kelapa sawit dan pemanfaatannya.

    8. Mengetahui pengolahan limbah cair buangan industri kelapa sawit.

    9. Mengetahui pengolahan limbah padat industri kelapa sawit.

    1.4. Manfaat Penulisan

    Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah:

    1. Mahasiswa(i) mengetahui bagaimana poses pengelolaan limbah

    kelapa sawit.

    2. Memahami berbagai jenis sumber dan jenis jenis limbah yang

    dihasilkan dari proses industri pengolahan kelapa sawit.

    3. Mengetahui bagaimana teknik pengolahan limbah industri kelapa

    sawit.

    4. Mengetahui pemanfaatan dari limbah industri kelapa sawit.

    3

  • 4

    BAB II

    ISI

    2.1. Definisi Kelapa Sawit

    Kelapa Sawit adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak

    masak, minyak industry, maupun bahan bakar (biodiesel). Tinggi kelapa

    sawit dapat mencapai 24 meter. Bunga dan buahnya berupa tandan, serta

    bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak, berwarna merah

    kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandungi

    minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun,

    dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya

    sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya

    digunakan sebagai bahan bakar dan arang.

    Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia

    Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor,

    sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias

    di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan

    meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi

    Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat

    perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli,

    maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

    Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan

    secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien

    Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa

  • 5

    sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas

    areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran

    kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera

    Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di

    Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran,

    Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di

    Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai

    tahun 1910.

    Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan

    pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang,

    produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.

    Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program

    Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok

    utama kemudian diambil alih Malaya (laluMalaysia).

    Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan,

    dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan

    kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi

    sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

    Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor

    hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan

    merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

    2.2. Perkebunan Kelapa Sawit

    Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan yang terkenal

    di Indonesia, dan sebagai tanaman penghasil minyak paling tinggi persatuan

    luas. Pemanenan sawit dapat dimulai pada umur 3,5 sampai 4 tahun sejak

    pembibitan.

    Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mayoritas dikelola oleh

    perusahaan Negara (BUMN) dan perkebunan besar swasta yang berlokasi

    diluar pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera Utara, Aceh dan Riau.

    Khususnya di Riau dari tahun ketahun perkebunan kelapa sawit selalu

  • 6

    mengalami peningkatan yang signifikan, terbukti dalam 20 tahun terakhir

    (1985-2005) pertumbuhan perkebunan kelapa sawit baik milik negara,

    swasta maupun perkebunan rakyat mencapai lima juta hektare atau

    meningkat sampai 83 persen.

    2.3. Industri Minyak Kelapa Sawit

    Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit

    merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber

    penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi

    minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah

    mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal

    perkebunan kelapa sawit.

    Berkembangnya subsektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia

    tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai

    insentif, terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi

    investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIRBun dan

    dalam pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta.

    Gambar 1. Peta Wilayah Penyebaran Ketersediaan Lahan Produksi

    Kelapa Sawit

    2.4. Komposisi Kimia Minyak Kelapa Sawit

    Minyak kelapa sawit dan inti minyak kelapa sawit merupakan susunan

    dari fatty acids, esterified, serta glycerol yang masih banyak lemaknya.

  • 7

    Didalam keduanya tinggi serta penuh akan fatty acids, antara 50% dan 80%

    dari masingmasingnya. Minyak kelapa sawit mempunyai 16 nama carbon

    yang penuh asam lemak palmitic acid berdasarkan dalam minyak kelapa

    minyak kelapa sawit sebagian besar berisikan lauric acid. Minyak kelapa

    sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian

    dari vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung

    vitamin K dan magnesium. Napalm namanya berasal dari naphthenic acid,

    palmitic acid dan pyrotechnics atau hanya dari cara pemakaian nafta dan

    minyak kelapa sawit.

    Ukuran dari asam lemak (Fas) dalam minyak kelapa sawit sebagai

    acuan:

    2.5. Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit

    Proses pengolahan minyak kelapa sawit menghasilkan dua produk,

    yaitu minyak mentah (Crude Palm Oil) dan Inti Sawit yang dihasilkan

    melalui proses dan tahapan-tahapan sebagai berikut :

    1. Perebusan

    Perebusan buan tandan segar (TBS) kelapa sawit dengan metode

    diberikan tekanan uap panas 2,4 sampai 3,4 kg/cm, dengan temperatur

  • 8

    13500

    C 14500

    C selama 60 90 menit. Tujuan perebusan adalah untuk

    sterilisasi bakteri, menonaktifkan enzim yang dapat mengubah minyak

    menjadi asam lemak, dan melumatkan daging buah segar mudah dalam

    proses selanjutnya. Pada proses perebusan ini dihasilkan air buangan yang

    banyak mengandung minyak dan kotoran yang bersifat asam.

    2. Pengeperasan

    Proses pengeperasan merupakan tahap pemurnian minyak dengan

    memisahkan minyak dari kotoran air. Alat yang digunakan adalah decanter,

    pada proses ini banyak memerlukan air panas sebagai media pemisah antara

    CPO dengan Sludge. Limbah cair yang paling potensial sebagai sumber

    pencemar adalah air limbah (sludge) dari proses pengeperasan.

    3. Kernel

    Inti sawit dan cangkang dipisahkan dengan menggunakan separator,

    selanjutnya inti sawit masuk dalam alat pengering. Inti sawit yang sudah

    kering dipecah dan menghasilkan cangkang. Untuk memisahkan cangkah

    dari inti sawit diperlukan alat hidrocyclone, alat ini banyak memerlukan air

    untuk memisahkan dua komponen yang berbeda berat jenisnya, sehingga

    banyak dihasilkan sisa air kotor.

    Bagan 1. Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit

  • 9

    2.6. Limbah Kelapa Sawit

    Limbah kelapa sawit adalah sisa hasil tanaman kelapa sawit yang

    tidak termasuk dalam product utama yang merupakan hasil ikutan pada

    proses pengolahan kelapa sawit.

    Berdasarkan tempat pembentukannya, limbah kelapa sawit dapat

    digolongkan menjadi dua jenis, yaitu limbah perkebunan kelapa sawit dan

    limbah industri kelapa sawit.

    1. Limbah Perkebunan Kelapa Sawit

    Limbah perkebunan kelapa sawit adalah limbah yang berasal

    dari sisa tanaman yang tertinggal pada saat pembukaan areal

    perkebunan serta peremajaansaat panen kelapa sawit. Jenis limbah ini

    antara lain kayu, pelepah daun, dan gulma. Dalam satu tahun setiap

    satu hektar perkebunan kelapa sawit rata-rata menghasilkan limbah

    pelepah daun sebanyak 10,4 ton bobot kering.

    2. Limbah Industri Kelapa Sawit

    Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan

    pada saat proses pengolahan kelapa sawit. Limbah dari industri dapat

    membahayakan kesehatan manusia karena dapat merupakan pembawa

    suatu penyakit (sebagai vehicle), merugikan segi ekonomi karena

    dapat menimbulkan kerusakan pada benda/bangunan maupun tanam

    tanaman dan peternakan, dapat merusak atau membunuh kehidupan

    yang ada di dalam air seperti ikan dan binatang peliharaan lainnya,

    dan dapat merusak keindahan (aestetika), karena bau busuk dan

    pemandangan yang tidak sedap dipandang terutama di daerah hilir

    sungai yang merupakan daerah rekreasi (Sugiharto, 1987)

    Sebagian besar senyawa kimia dalam air termasuk dalam

    kategori kimia organik maupun anorganik. Parameter kimia paling

    dominan dalam mengukur kondisi badan air akibat buangan industri.

    Barangkali parameter ini yang paling banyak menciptakan kecemaran

    dan bahaya terhadap lingkungan. Oksigen mempunyai peranan

    penting dalam air. Kekurangan oksigen dalam air mengakibatkan

  • 10

    tumbuhnya mikroorganisme dan bakteri. Bakteri berfungsi untuk

    merugikan zat organik dalam air. Dalam air terjadi reaksi oksigen

    dengan zat organik oleh adanya bakteri aerobik. Atas dasar reaksi ini

    dapat diperkirakan bahan pencemar oleh zat organik (Perdana

    Gintings, 1992). Limbah ini digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah

    padat, limbah cair, dan gas.

    a. Limbah padat

    Salah satu jenis limbah padat industri kelapa sawit adalah

    tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Limbah padat mempunyai

    ciri khas pada komposisinya. Komponen terbesar dalam limbah

    padat tersebut adalah selulosa, disamping komponen lain

    meskipun lebih kecil seperti abu, hemiselulosa dan liqnin. Selain

    itu limbah padat lainnya adalah serat sisa perasan buah sawit

    dan tempurung/cangkang kelapa sawit.

    b. Limbah cair

    Limbah cair pabrik kelapa sawit merupakan salat satu produk

    samping berupa buangan dari pabrik pengolahan kelapa sawit yang

    berasal dari :

    1. Hasil kondensasi uap air pada unit pelumatan ( digester) dan

    unit pengempaan (pressure). Injeksi uap air pada unit pelumatan

    bertujuan mempermudah pengupasan daging buah, sedangkan

    injeksi uap bertujuan mempermudah pemerasan minyak. Hasil

    kondensasi uap air pada kedua unit tersebut dikeluarkan dari

    unit pengempaan.

    2. Kondensat dari depericarper, yaitu untuk memisahkan sisa

    minyak yang terikut bersama batok/cangkang.

    3. Hasil kondensasi uap air pada unit penampung biji/inti. Injeksi

    uap kedalam unit penampung biji bertujuan memisahkan sisa

    minyak dan mempermudah pemecahan batok maupun inti pada

    unit pemecah biji.

  • 11

    4. Kondensasi uap air yang berada pada unit penampung atau

    penyimpan inti.

    5. Penambahan air pada hydrocyclone (claybath) yang bertujuan

    mempermudah pemisahan serat dari cangkang.

    6. Penambahan air panas dari saringan getar, yaitu untuk

    memisahkan sisa minyak dari ampas.

    Apabila limbah tersebut langsung dibuang ke sungai maka

    sebagian akan mengendap, terurai secara perlahan, mengonsumsi

    oksigen terlarut, menimbulkan kekeruhan, mengeluarkan bau yang

    sangat tajam, dan dapat merusak daerah pembiakan ikan. Oleh karena

    itu industri kelapa sawit melakukan suatu perlakuan terhadap limbah

    cairnya sebelum dibuang kebadan air sehingga mengurangi

    pencemaran limbah cair PKS pada badan air. Limbah cair PKS

    mengandung padatan melayang dan...