Buku MafaHim Islamiyah

  • View
    350

  • Download
    207

Embed Size (px)

DESCRIPTION

best book rekomended

Text of Buku MafaHim Islamiyah

Spiritual Motivation http://mastw.blogspot.com

Judul Asli Pengarang Penerjemah

: Mafaahim Islamiyyah : Muhammad Husain Abdullah : A.R Al Amien Hasanain

MUQODIMAH

BISMILLAAHIRRRAHMAANIRRAHIIM

Kepada Para Muslim yang ingin menegakkan keadilan Ilahi, walaupun di depannya menghadang batu karang yang besar dan kuat, tapi tanpa peduli diluluhlantahkan penghalang itu, lalu dibangun diatasnya jembatan penyebrangan menuju kepada-Nya. Kepada para Muslim yang ingin menerangi kegelapan dan kepekatan pemikiran saudaranya yang sudah berjalan dalam masa panjang, dengan pemikiran yang bersih dan lurus. Kepada para pemuda yang mengharapkan kebangkitan yang benar, di bawah panji perlindungan Laailaaha illallah. Kepada bintang gemilang (al-Islam) yang bersinaran di ufuk langit sebagai tanda turunya hidayah kepada umat menuju jalan lurus.

Pemikiran (Al-Fikr) berfungsi sebagai penentu atas realitas. Adapun sarana pengungkap pemikiran adalah bahasa, jadi bahasa bukan pemikiran, namun bahasa sekedar sebagai sarana pengungkapan dan ekspresi pemikiran semata. Perkataan kita Al-Insan Hayawaanun naatiq / manusia itu hewan yang berbicara dan berfikir preposisi di atas menunjukan adanya suatu argumen atau dalil dan argumen tersebut adalah pemikiran . Maka jika argumen itu merupakan waaqi khoorijiy (realitas yang nampak oleh indera), akal akan mampu memahaminya, seperti pada preposisi Al Insan Hayawaanun naatiq di atas. Maka preposisi tersebut mudah difahami oleh pemikiran siapa saja yang mendapatkan preposisi itu. Sebaliknya tidak akan bisa dimengerti oleh pemikiran pada preposisi Manusia itu terbentuk dari materi dan ruh, pemikiran tidak akan faham karena indera tidak bisa menjangkau argumen preposisi di atas yang hanya menjadi suatu yang mengendap dalam pemikiran saja, tanpa bisa memahaminya. Pemikiran Plato tentang teori Republiknya bukan sebuah mafahim, karena argumen-argumen pemikiran yang diungkapkan Plato dengan bahasanya itu, bukanlah sesuatu yang faktual dan terindera di dalam kehidupan. Al-afkaar / pemikiran-pemikiran akan bisa menjadi mafahim bagi manusia, dengan syarat hendaklah argumen pemikiran ini faktual (ada faktanya) bagi manusia. Buku dihadapan anda ini mencakup sebagian mafahim yang akal manusia mampu memahami dan mendapatkan argumen-argumennya pada realitas luar secara langsung, seperti mafahim preposisi Manusia itu terbentuk dari materi saja maka preposisi di atas bukan semata makna lafadz saja, tetapi itu adalah pengungkapan dari pemahaman dan argumen yang sifatnya faktual yang akal bisa mengetahui secara langsung. Buku ini juga mencakup sebagian mafahim yang akal tidak bisa mengetahui dan mendapatkannya secara langsung, tetapi akal bisa mendeteksi atsar / indikasinya, atau mengetahui madhohir / penampakannya, seperti mafahim di dalam diri manusia itu ada potensi sumber daya / khosiyyah yang disebut gharizah nau maka akal manusia tidak akan bisa mengetahui dan mendapatkan secara langsung pada gharizah nau , karena indera tidak bisa mencapainya, tetapi manusia bisa mengetahui dengan penampakan gharizah nau itu yaitu terindera dengan bukti manusia mencintai anaknya, dan anak cederung sayang kepada orang tuanya dan punya kecenderungan mencintai lawan jenis, dan madhohirnya yang bisa diketahui dan di dapatkan ini adalah untuk membantu penjagaan / muhafadhoh kepada keturunan manusia, maka akal manusia mampu mendapatkan dan mengetahui bahwa di dalam diri manusia ada khosiyyah yang akan bisa memenuhi muyul / kecenderungankecenderungan itu, dan ini disebut dengan gharizah nau.

Sebarkanlah ilmu seluas mungkin Sesungguhnya pahala disisi Allah, sangatlah besar balasannya.

Spiritual Motivation http://mastw.blogspot.com

Juga dari mafahim ini dipaparkan pemahaman tentang ruh sirru al-hayah sungguh manusia mampu mengetahui eksistensi ruh dari eksistensi madhohirnya (penampakan / indikasinya), yaitu kesanggupan dan kecenderungan menjadi banyak, berkembang dan bergerak, dan telah datang ayat karimah yang menjelaskan tentang ketidakmampuan manusia untuk mengetahui dzat dari ruh itu sendiri. Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sekdikit.(QS. Al Israa 85). Sebagai pengecualian dalam buku ini tidak mencakup mafahim Islamiyyah, mengenai mafahim yang berhubungan dengan hal-hal yang ghaib, seperti surga, neraka dan malaikat. Hal tersebut adalah mafahim yang akal tidak akan bisa mendapatkan dan mengetahui secara langsung, dan juga tidak akan bisa menjangkau dan menemui secara langsung baik itu indikasi ataupun penampakannya. Sesungguhnya akal hanya bisa mengetahui dan mendapatkan dari informasi naqli / wahyu yang pasti dan shahih yaitu dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits nabawiyyah yang mutawatir, yang menunjukan secara dilalah qotiyyah (petunjuk yang pasti) atas bukti-buktinya, maka petunjuk itu tidak difahami dari lafadznya kecuali arti satu saja (yakni surga dan neraka itu ada). Maka bagi seorang Muslim, neraka dengan siksanya serta surga dengan nimatnya adalah mafahim aqidah dan sungguh dalil realitas neraka telah didapatkan dari wahyu, Allah SWT berfirman: Sesungguhnya orang-orang kafir pada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke dalam tempat yang teduh lagi nyaman.(QS. An Nisaa 56-57). Adapun wujud Malaikat bisa difahami bagi kaum muslimin dari firman Allah SWT: Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusanutusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua, tiga dan empat., Allah menambahkan pula ciptaan-Nya apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.(QS. Faathir 1). Sedang suluk (tingkah laku manusia) terikat mafahim dari kehidupannya (pandangan hidup), sebab mafahim adalah standar bagi suluk. Sehingga bila kita mengingkan merombak suluk manusia , dari suluk yang rendah menuju suluk yang tinggi maka kita harus merombak mafahim yang benar, luas dan tinggi. Dan sesungguhnya mafahim islamiyyah adalah mafahim tertinggi tentang kehidupan, maka menjadi keharusan bagi kita untuk menerangkan mafaahim ini kepada kaum muslimin agar di jadikan sebagai standar gerak hidupnya dan agar mereka bangkit menuju kebangkitan yang benar berasaskan mafahim Islamiyyah.

Buku ini kami ibaratkan sebagai sebuah batu bata yang rendah di dalam membangun sebuah istana yang tinggi yakni tsaqofah islamiyyah yang tinggi yang telah memperkuat bangunan itu oleh para pendahulu kita, dan hanya kepada Allah SWT Saya memohon semoga hal ini bisa menjadikan kembalinya api yang bisa menerangi dengan penerangan yang terang benderang untuk kembali cemerlangnya mafaahim Islamiyyah dan untuk mencucikan dari noda-noda yang melekat padanya, dan sungguh Allah beserta orangorang yang baik. RUH Dan mereka bertanya tentang ruh (QS. AL Israa 85) Manusia adalah makhluk yang ada, hidup terbentuk dari maddah / materi, dan Allah menciptakan alam dari tanah, firman Allah SWT: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. (QS. Shaad 71-72) Manusia saling bertanya tentang substansi ruh kepada Rasul Muhammad, maka datanglah waktu untuk menjawab pertanyaan mereka langsung dari Allah Rabbil Alamin: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Tuhanku, kamu tidak tiberi pengetahuan kecuali hanya sedikit. (QS. Al Israa 85). Ruh adalah sirru al-hayah / rahasia kehidupan, mutlak urusan Allah SWT, diletakan di dalam diri manusia dan disandarkan pada dirinya. Firman Allah: Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku., yakni ruh buatan-Ku , hal ini bukan maksud ruh bagian dari Allah SWT, sebab firman selanjutnya: Katakanlah: ruh itu adalah urusan Tuhanku., yakni tercipta dari perintah Allah SWT. Manusia tidak akan bisa menjumpai dan mengetahui ruh ini secara realistis substansial langsung, akan tetapi manusia bisa mengetahui bahwa ruh itu ada dari mengetahui madhohir-nya (penampakan / indikasi), hanya kemampuan untuk berkembang, bergerak dan menjadi banyak, hal ini menunjukan keberadaan ruh, jadi selama didapatkannya kapabilitas menjadi banyak, berkembang dan bergerak ada pada diri manusia, maka dikatakan manusia itu hidup dan di dalamnya ada ruh, dan jika hilang madhohirnya ini, manusia dikatakan mati berarti tiada ruh di dalamnya. Allah meletakkan ruh pada diri Adam AS. Ruh adalah fenomena yang berhubungan dengan kehidupan, ruh selalu ada pada diri manusia dari zaman Adam AS sampai zaman manusia sekarang, sedang berakhirnya ruh, bila telah lenyap kehidupan manusia dari muka bumi.

Sebarkanlah ilmu seluas mungkin Sesungguhnya pahala disisi Allah, sangatlah besar balasannya.

Spiritual Motivation http://mastw.blogspot.com

Ruh menyebar dari manusia ke manusia lain dengan jalan perkawinan antara sperma pria dengan ovum wanita, hal ini dimulai dengan perkembangan tubuh (jasad bayi) yang baru yang akan terus berkembang hingga menjadi manusia yang sempurna setelah melalui tahap-tahap tertentu, firman Allah SWT: Hai manusia jika kamu ada dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami je