Inside Madura

  • View
    419

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

My first photo story about Madura, enjoy it.visit: http://www.purwoshop.com

Text of Inside Madura

Batik Pamekasan, Aroma Laut dan Roti SelaiTeks oleh Manggalani R Ukirsari, Foto oleh Purwo SubagiyoKenangan yang taK luruh oleh waKtu, mesKi seKarang sudah ada Jembatan suramadu.

102 Nat i oNa l G e o G ra p h i c t rav e l e r

juli 2010

103

B

erbincang soal Madura, sama halnya dengan menguarkan kenangan. Seperti membuka sebotol selai marmalade lalu membaui kesegaran aroma kulit jeruk, bercampur uap pa duan lekat gula dengan daging buah jeruk dilumatkan. Membangkitkan nostalgia akan selembar roti tawar dioles selai marmalade oleh ibunda saya di pagi hari, ditangkup menjadi satu dengan selembar roti lagi, lalu disusun rapi dalam kotak bekal makanan milik saya.

Memang kesukaan saya begitu. Roti berselai marmalade tanpa mentega atau butter. Berbeda dengan selera ayahanda saya yang konvensional; roti berlapis mentega tebal-tebal, bertabur muisjes. Meski begitu, ibunda saya tak pernah salah memasukkan roti-roti bercitarasa apa, ke dalam kotak bekal siapa dan meletakkan dekat tas atau daypack mana. Seperti halnya termos minum siapa yang mesti diisi teh atau kopi pekat. Padahal beliau bukannya tidak punya kesibukan sendiri. Ibunda berkantor di tempat sama dengan ayah saya. Sesudah menyiapkan bekal kami, ia mematut diri dalam bilangan menit saja, untuk bergabung bersama kami ke mobil dan bertiga akan menghabiskan waktu sekitar 45 menit menyusur pesisir pantai timur menuju dermaga Tanjung Perak, Surabaya. Diteruskan menyeberang dengan ferry yang kemudian sandar di pelabuhan Kamal, Madura. Bila tidak disibuki dengan kegiatan kuliahnya, kadang adik lelaki saya satu-satunya ikut dalam rombongan kecil kami. Tapi sepanjang ingatan, saya lebih sering turut dibanding dia. Masa-masa memerlukan ketenangan menyusun tugas akhir. Kegiatan paling saya sukai di tempat orang tua saya bekerja yang memiliki semboyan Lupakan apa yang telah Anda lihat adalah duduk di bawah kerindangan cemara laut sembari menatap kawasan Ujung, Surabaya. Kelak, patung Jalesveva Jayamahe yang menggambarkan seorang laksamana berdiri tegak menentang cakrawala berdiri di sana. Tak ada keramaian di sekitar. Hanya desau angin dan kecipak air laut. Tangan kiri saya serasa jadi memiliki energi tambahan untuk menulis lebih cepat di atas kertas. Itulah konsep, uraian dan segala macam kalimat serta angka yang disusun dalam ejaan baik dan benar, untuk kemudian sore harinya dituangkan dalam bentuk ketikan komputer di rumah. Nyaman benar rasanya berada di sana. Ide mengalir lancar. Jeda diisi dengan mengunyah roti berselai marmalade, disusul beberapa teguk teh hangat dari termos. Biasanya, ibu saya akan menghampiri saat kantornya rehat kopi pagi dan beliau membawakan nasi bungkus daun pisang. Pengganjal perut yang selalu ia beli di atas ferry dalam perjalanan dari Tanjung Perak menuju Kamal. Porsinya terlalu kecil untuk disantap serius, hingga satu orang dewasa biasanya menghabiskan dua atau tiga bungkus. Isinya teri atau pindang goreng kering, serundeng kelapa serta sambal tak kepalang pedasnya. Karena sejak dulu lebih menyukai roti lapis marmalade, saya akan menyantap nasi bungkus siang hari. Kantor tak memiliki kantin, tapi pegawainya bergantian memasak untuk di104 Nat i oNa l G e o G ra p h i c t rav e l e r

sarat nilai humoris. Rasanya Mbak Annisa juga tidak dapat memahami, mengapa saya berpikir begitu. Ini spontanitas saya ketika mendengarkan nama-nama unik masakan itu. Rasa keingintahuan saya langsung mengirim sinyal, This is it! Sejak itu pula, saya membangun rasa iri bernilai konstruktif terhadap ayahanda yang cukup fasih berbahasa Madura. Sangat indah dalam pandangan saya, ketika kami sekeluarga berlibur ke Sumenep dan beliau menggunakan bahasa setempat yang dilafalkan dalam intonasi lembutsangat berbeda dibanding nada-nada yang biasa saya dengar dari para penumpang di atas ferry KamalTanjung Perak. Sembari menikmati hidangan kare rajungan di sebuah resto, ayahanda saya sesekali bertutur kepada pembeli lainnya. Tak jarang disambut tawa berderai dari lawan bicaranya. Ibunda saya berbisik, Begitulah cara menjadi dekat dengan masyarakat setempat. Bahasa lokal adalah jembatan agar bisa mengenal dan memahami sebuah daerah lebih baik. Itu pelajaran yang saya terapkan di kemudian hari ketika saya menjadi pejalan solo. Saya banyak memaknai tempat lewat bahasa yang dituturkan masyarakat lokal, meski harus bersusah payah memahami arti perkataan dibalik keelokan artikulasinya. Bagi saya yang lahir dari suku Jawa, belajar berbagai ragam bahasa disamping menekuni bahasa ibu adalah

hal menyenangkan. Sama dengan pandangan ayah saya. Jadi, ketika untuk pertama kalinya saya berani menyapa be liau dalam bahasa Madura, Da remma kabare? beliau mengacungkan jempolnya dan menjawab, Coba lebih halus sedikit, katakan; kadhi penapa kabare? Pelan-pelan saya mengucapkan, sesuai pengucapan beliau. Pada akhir kata, saya tambahkan kalimat, Mattor sakalangkong, Pa. Beliau memeluk lalu mengacak-acak rambut sayaseperti biasa ia lakukan ketika putra-putrinya masih kanak-kanak.

SAYA TERKENANG SAAT-SAAT ITU, ketika kembali menjejakkan kaki ke Pulau Madura, limabelas tahun kemudian. Inilah kali pertama saya datang tanpa melalui laut, tapi lewat darat dan melintas Jembatan Suramadu, diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Pandangan tertuju pada konstruksi perpaduan cable-stayed bridge dan box girder bridge. Sebuah jembatan dengan beberapa pilar penyangga dan kabel untuk memperkuat bagian dek. Lantas di bagian bawah jembatan, terdapat penopang balok berstruktur tulangan baja. Lebar jembatan 30 m, terdiri dari 4 lajur mobil untuk dua arah serta 2 lajur motor yang ditempatkan pada sisi terluar jembatan.

hidangkan bagi seluruh jajaran pekerja di sana. Ke sanalah saya menuju dan menikmati nasi bungkus pemberian ibunda, sembari menelisik lauk dari rantang-rantang yang berjajar di atas meja panjang. Seorang pegawai asal Madura, antusias menyendokkan ati-ampela ayam tumis kecap ke nasi bungkus saya. Nama masakan ini musawaroh, jelasnya ramah. Melihat saya menyunggingkan senyumagaknya ia me mahami kegelian saya atas nama itu, terdengar seperti lafal bahasa Jawa untuk kata musyawarahia malah menambahkan beberapa contoh. Memang masakan kami unik didengar, Dek. Ada juga yang namanya potre nyelem dan manto keponakan. Saya terpikat cara perempuan itu berbicara. Ia menyebut adik gaya khas Madura. Mengganti i dengan e. Dua hari kemudian, Mbak Annisasaya selalu memanggilnya nama lengkap, beda dari rekan-rekan kerjanya yang tega memangkas nama itu menjadi Nesah, sangat kurang merdu di telinga membawakan saya potre nyelem atau si gadis penyelam. Ternyata wujudnya mirip klepon; kue berbahan dasar tepung ketan, berisi sirup gula Jawa di tengah. Cara menghidangkannya tidak digulingkan ke parutan kelapa, namun disiram kuah santan cair. Mungkin itulah saat pertama kali saya menyadari; betapa pulau yang letaknya ada dalam batas pandangan mata dari kota tempat saya dibesarkan ini memiliki potensi untuk dieksplorasi. Maafkan bila saya menyebutnya sebagai tempat yangJembatan Suramadu di saat petang. Bertabur cahaya lampu aneka warna (atas). Pak Ebes, dipagut kekinian tapi terus bersemangat melestarikan kelangsungan Irama Theatre di kota Pamekasan (samping).juli 2010

105

Saya merindukan bau laut dan selai marmalade dalam setangkup roti tawar secara bersamaan.Lepas dari area causeway, mengarah ke tengah jembatan, saya mendapati sekian banyak mobil dan motor berhenti. Penumpangnya berloncatan ke luar untuk mengabadikan diri sejenak di samping si perkasa Suramadu. Dalam situs sarana penghubung kota Surabaya dengan Pulau Madura ini, saya membaca bahwa aparat yang berwajib memberlakukan surat bukti pelanggaran (tilang) kepada siapa saja yang berhenti di ruas jembatan, karena merupakan tindak berbahaya. Namun agaknya para pejalan bandel itu tiada menghiraukan. Mobil melaju, seakan menyibak Selat Madura dari atas jembatan. Saya merindukan bau laut dan selai marmalade dalam setangkup roti tawar secara bersamaan. Udara beraroma asin biasanya langsung tercium ketika mobil ayahanda memasuki dek ferry berjuluk Dharma Ferry atau Potre Koneng. Kini, indera penciuman saya terbatasi oleh kaca jendela mobil. Kembali saya teringat, hari-hari terakhir kunjungan saya di Madura dulu, berlangsung ketika para pakar konstruksi sibuk menghitung debit arus Selat Ma dura serta kemungkinan lokasi Jembatan Suramadu. Di hari itu juga, saya berbagi roti tawar berlapis selai marmalade kepada dua orang petugas yang menaksir jarak di lokasi, antara tempat ayah saya berkantor di Madura, dan daerah Nambangan di pesisir timur Surabaya. Nantinya, bangunan fisik itu tidak berdiri dekat tempat ayah saya berkarya. Mereka sebatas mengumpulkan alternatif terbaik. Ada beberapa titik kemungkinan lokasi di sisi Pulau Madura. Sementara di sisi Surabaya juga dilakukan penghitungan serupa. Titik terpilih di Kota Pahlawan adalah dekat pantai Kenjeran dan kediaman kami sekeluarga. Setelah lebih dari 10 tahun, kini saya tengah berada di atas buktinya. Pada sebuah jembatan masif sepanjang 5 km lebih. Sejak tahun 2009, cuma perlu 10 menit untuk mencapai Pulau Madura dari kawasan Kedung Cowek di Surabaya, di mana Jembatan Suramadu berada. Sekali masuk, satu mobil dikenai retribusi Rp 30.000 dan sepeda motor sebesar Rp 3.000. Akhmat Hariyadi, seorang sopir bus layanan wisata ziarah Madura Surabaya mengungkap, dengan dibukanya Jembatan Suramadu, travel di mana ia bekerja makin diminati masyarakat Madura. Pasalnya, hanya butuh waktu sebentar dan murni lewat darat. Dulu, bus mesti lewat Selat Madura pakai ferry. Di hari-hari besar dan perayaan, saya mesti bersaing dengan busbus yang membawa orang-orang Madura kembali ke kampung halamannya, cerita bapak tiga anak itu. Tapi sekarang, akses jauh lebih mudah dan bus bisa langsung masuk tengah kota. Tidak perlu berebut di tempat penyeberangan ferry.106 Nat i oNa l G e o G ra p h i c t rav e l e r

MoBIL MELA