Suku Madura

  • View
    2.436

  • Download
    29

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tugas Sosiologi !

Text of Suku Madura

  • 1. SUKU MADURA ANGGOTA KELOMPOK : Dany Dwi ngastiawan ((09)) Elvira rosalina (( (12)) Ismi meidy novtya (( (15))) Yoge candra irawan (((27)) Guru Pembimbing : Drs. Sumartono

2. Sejarah SUKU MADURA Asal-usul suku Madura, tidak diketahui secara pasti, hanya ada beberapa cerita rakyat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Menurut sebuah pendapat, bahwa orang Madura dahulunya adalah penduduk asli pulau Jawa yang menghindar dari tekanan para imigran baru yang semakin memenuhi pulau Jawa. Dari cerita lain mengatakan bahwa orang Madura adalah keturunan orang Jawa yang sengaja memisahkan diri dan tidak mau tunduk terhadap kekuasaan raja dan sultan di pulau Jawa. Apabila dilihat dari struktur fisik orang Madura, pada umumnya orang Madura berkulit coklat matang dan gelap, rambut bergelombang, ikal dan ukuran tubuh sedang, sepertinya mereka memiliki ras mirip ke india-indiaan dari ras tamil, atau mungkin mendekati ras weddoid. Clurit, alat pertanian dan senjata dan logat bahasa orang Madura juga mirip dengan orang India terutama Tamil. Kemungkinan mereka adalah bangsa-bangsa yang bermigrasi dari daratan India ke tanah Jawa, dengan membawa kebudayaan Hindu, sebelum masa Kerajaan Majapahit hadir di tanah Jawa. 3. Persebaran SUKU MADURA Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 7.179.356 juta jiwa (sensus 2010). Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau- pulau sekitarnya. Seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Lumajang. Orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, Bekasi, dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi, suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang perantauan asal Madura umumnya berprofesi sebagai pedagang, misalnya: berjual-beli besi tua, pedagang asongan, dan pedagang pasar. 4. Agama SUKU MADURA Mayoritas masyarakat suku Madura adalah penganut Islam Sunni ortodoks. Suku Madura terkenal sangat taat dalam beragama islam. Kepala keluarga yang sudah berhasil melaksanakan kewajiban Rukun Islam ibadah haji, akan memperoleh kedudukan terhormat di mata masyarakat. Namun demikian, ada banyak di antara mereka yang mencari perlindungan kepada kekuatan gaib yang mengontrol roh yang jahat dan yang baik. Stratifikasi di lingkungan masyarakat agama / pesantren yang kita kenal ada 4 Tingkatan, Yaitu ( Dari yang ter-atas ) : KEYAE Adalah seseorang yang dikenal sebagai pemuka Agama (Ulama) karena menguasai banyak Ilmu Agama Islam. Selain berfungsi sebagai pembina ummat juga sebagai penerus / pengajar ajaran para Nabi pada santri santrinya. BINDARAH Adalah orang orang yang telah mendapatkan / men-tamatkan pendidikannya di Pondok Pesantren, dan mereka telah memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup banyak tetapi belum setara dengan pengetahuan Keyae. Ada Pula Bindarah yang sudah banyak didatangi orang untuk NYABIS terutama di Desa / Dusun yang agak jauh dari seorang Keyae. SANTRE Adalah orang orang yang masih sedang menuntut Ilmu keagamaan di sebuah Pondok Pesantren. BANNE SANTRE Seseorang yang tidak pernah Mondok / tidak pernah menuntut Ilmu keagamaan di sebuah Pondok Pesantren. 5. Bahasa SUKU MADURA Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan. Juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat. Suku Madura memiliki aturan dan tatakrama yang sangat kuat. Orang Madura sangat menghormati orang tua, guru, dan sebagainya. Apalagi Madura Timur (Pamekasan dan Sumenep) yang dikenal halus gaya bicaranya dan sangat sopan santun. Dalam Bahasa Madura dikenal 5 tinggkatan Bahasa : 1. Bahasa Kraton = Abdi Dalem Junan Dalem (Biasa digunakan di lingkungan keluarga Kraton) 2. Bahasa Tinggi = Abdina Panjennengan (Biasa digunakan oleh ponggawa / bawahan pada atasan, baik di Lingkungan Kraton maupun di Lingkungan Pemerintahan, atau Santre pada Keyae.) 3. Bahasa Halus = Kaula Sampeyan (Biasa digunakan oleh yang lebih muda pada yang lebih tua / pada yang dihormati. 4. Bahasa Menengah = Bula Dika (Biasa digunakan oleh yang lebih tua pada yang lebih muda tetapi di hormati. Misal : Mertua pada menantunya.) 5. Bahasa Mapas / Kasar = Sengko Bana Kakeh Sedeh ( Biasa digunakan oleh yang lebih tua pada yang lebih muda, orang yang mempunyai posisi yang lebih tinggi pada bawahannya, dan orang yang seumur / sebaya (teman). 6. Karakter dan Mata Pencaharian SUKU MADURA Sebagian besar orang Madura yang tinggal di pulau Madura berkelompok membentuk perkampungan pertanian, tetapi sangat sedikit orang Madura yang tinggal di pulau ini yang bermata pencaharian semata-mata hanya sebagai petani; iklim di sana sangat kering dan tanahnya tidak subur. Dua musim menuai yang paling besar adalah padi dan tembakau. Tanah dapat dimiliki secara individu atau seluruh komunitas. Banyak orang Madura yang menjadi nelayan. Selain itu, ada juga yang menjadi petani garam dan berlayar antar pulau dengan kapal barang. Sebagian besar orang Madura yang tinggal di pulau Jawa tidak mempunyai tanah dan mereka menjadi nelayan, pelaut dan buruh harian. Orang Madura juga terkenal di seluruh Indonesia sebagai penjual makanan, khususnya sate. Harga diri, paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura. Ada perbedaan antara Madura Timur (Sumenep dan Pamekasan)dengan Madura Barat (Sampang dan Bangkalan). Orang Madura Timur dikenal lebih halus baik dari sikap, bahasa, dan tatakrama dari pada orang Madura Barat. Orang Madura Barat lebih banyak merantau dari pada Madura Timur. Hal ini, dikarenakan Madura Barat lebih gersang dari pada Madura Timur yang dikenal lebih subur. 7. Budaya Hukum SUKU MADURA Hukum adat yang paling kontroversial adalah carok. carok ini berasal dari suku madura. carok merupakan kebiasaan adat mereka untuk meneyelesaikan sengketa yang terlalu memakan emosi mereka. Carok ini dapat kita samakan dengan hutang nyawa dibayar nyawa. jika salah satu dari mereka (orang madura) yang sudah mengucap atau menantang carok dengan yang lain, maka harus dilakukan secepatnya. Carok merupakan tradisi bertarung satu lawan satu dengan menggunakan senjata (biasanya celurit). Tidak ada peraturan resmi dalam pertarungan ini karena carok merupakan tindakan yang dianggap negatif dan kriminal serta melanggar hukum. Ini merupakan cara suku Madura dalam mempertahankan harga diri dan "keluar" dari masalah yang pelik. Banyak yang menganggap carok adalah tindakan keji dan bertentangan dengan ajaran agama meski suku Madura sendiri kental dengan agama Islam pada umumnya tetapi, secara individual banyak yang masih memegang tradisi Carok. Sekarang Ini Budaya carok dikembangkan dalam suku bela diri. 8. Kesenian SUKU MADURA Pelaksanaan Karapan Sapi dibagi dalam empat babak, yaitu : babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya. Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi di kelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang memempati kemenangan urutan teratas di masing- masing kelompok. Babak Ketiga atau semifinal, pada babak ini masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan juara I, II, dan III dari kelompok kalah. Awal mula kerapan sapi dilatar belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan mata pencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang. Suatu Ketika seorang ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik dengan dua ekor sapi. Maksud awal diadakannya Karapan Sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Orang Madura memelihara sapi dan menggarapnyadisawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi segera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen. KARAPAN SAPI 9. Kesenian SUKU MADURA TARIAN TOPENG GETHAKTarian Topeng Gethak mengandung nilai fisolofis perjuangan warga Pamekasan saat berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa, Gerakan Tarian Topeng Gethak ini mengandung makna mengumpulkan masa dimainkan oleh satu hingga tiga orang penari. Asal muasal sebelumnya nama tarian ini bernama Tari Klonoan kata klonoan ini berasal dari kata kelana atau berkelana, bermakna Bolodewo berkelana, dan pada akhirnya Tari Klonoan ini Berubah nama menjadi Tari Topeng Gethak. 10. Kesenian SUKU MADURA TARIAN RONDHING Tarian Rondhing ini berasal dari rot artinya mundur, dan kot - k