of 33/33
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI KEDOKTERAN BLOK RESPIRATORY SYSTEM “PRAKTIKUM SPIROMETRI” Asisten : Novia Mantara G1A212102 Kelompok : Mirzania M F G1A011022 Reza Amorga G1A011023 Paramita Deniswara G1A011024 Rian Ainunnahqi G1A011025 Arrosy Syarifah G1A011059 Athifa Muthmainnah G1A011063 Prasthiti Dewi H G1A011067 Pratiwi Ariefianti N G1A011096 Aldera Asa Dinantara G1A011103 KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

LAPORAN FISIOLOGI SPIROMETRI

  • View
    1.670

  • Download
    240

Embed Size (px)

Text of LAPORAN FISIOLOGI SPIROMETRI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI KEDOKTERAN BLOK RESPIRATORY SYSTEM PRAKTIKUM SPIROMETRI

Asisten : Novia Mantara G1A212102

Kelompok : Mirzania M F Reza Amorga Paramita Deniswara Rian Ainunnahqi Arrosy Syarifah Athifa Muthmainnah Prasthiti Dewi H Pratiwi Ariefianti N Aldera Asa Dinantara G1A011022 G1A011023 G1A011024 G1A011025 G1A011059 G1A011063 G1A011067 G1A011096 G1A011103

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER PURWOKERTO

2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Judul Pratikum Pratikum Spirometri B. Waktu dan Tanggal Pratikum Senin, 11 Maret 2013 C. Tujuan Pratikum Menjelaskan tentang pemeriksaan spirometri Melakukan pemeriksaan spirometri Menganalisa hasil pemeriksaan spirometri D. Dasar Teori Fisiologi Respirasi Pernapasan merupakan hal yang sangat penting bagi tubuh manusia. Pernapasan dalam disebut juga dengan respirasi. Respirasi dalam Dorland (2011) adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara atmosfer dan sel tubuh, meliputi ventilasi, difusi oksigen dari alveolus ke darah dan karbon dioksida dari darah ke alveolus serta transport oksigen ke sel tubuh dan karbon dioksida dari sel tubuh. Dalam referensi lain disebutkan bahwa respirasi merupakan keseluruhan proses yang melaksanakan pemindahan pasif O2 dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pemindahan pasif terus menerus CO2 yang dihasilkan oleh metabolisme dari jaringan ke atmosfer (Sherwood, 2011). Respirasi memiliki tujuan berupa penyediaan oksigen dan

pembuangan karbon dioksida. Untuk menjalankan tujuan tersebut, maka respirasi memiliki beberapa fungsi utama. Fungsi utama respirasi ialah sebagai berikut (Guyton, 2007) : 1. Ventilasi paru. 2. Difusi oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah. 3. Pengangkutan oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh. 4. Pengaturan mekanisme ventilasi.

Selain fungsi-fungsi yang bersifat respiratorik tersebut, pernapasan (respirasi) juga memiliki fungsi yang bersifat non-respiratorik yang bermanfaat pula bagi tubuh. Fungsi-fungsi tersebut ialah sebagai berikut (Sherwood, 2011) : 1. Rute pengeluaran air dan panas. 2. Meningkatkan aliran balik vena. 3. Membantu mempertahankan keseimbangan asam basa. 4. Fonasi (pembentukan suara) seperti pada saat berbicara, bernyanyi, dan sebagainya. 5. Indera penghidu.

Respirasi terdiri dari dua proses yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua proses tersebut adalah respirasi eksternal dan respirasi internal. 1. Respirasi Eksternal Respirasi eksternal merupakan suatu proses respirasi berupa pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan (atmosfer) dan sel tubuh (Sherwood, 2011). 2. Respirasi Internal Respirasi internal disebut juga dengan respirasi seluler. Respirasi internal merupakan suatu proses metabolik intrasel dalam mitokondria. Proses metabolism tersebut menggunakan O2 dalam proses penghasilan energi dan menghasilkan CO2 sebagai hasil metabolit (Sherwood, 2011). Mekanika pernapasan dibagi ke dalam dua proses, yaitu inspirasi sebagai suatu proses masuknya udara ke dalam saluran pernapasan dan ekspirasi sebagai suatu proses keluarnya udara ke atmosfer dari saluran pernapasan. Inspirasi dan ekspirasi secara normal terjadi karena kontraksi dan relaksasi dari otot-otot utama pernapasan, yaitu diafragma dan otot-otot intercostales. Sehingga, masing-masing inspirasi dan ekspirasi dibagi menjadi abdominal dan thoracal sesuai dengan otot pernapasan yang bekerja. Inspirasi dan ekspirasi tersebut dijelaskan sebagai berikut (Sherwood, 2011).

1. Inspirasi Abdominal Semua bermula dari N.Phrenikus yang mempersarafi diafragma akan menyebabkan diafragma berkontraksi. Diafragma akan turun dan mengakibatkan rongga dada mengalami peningkatan volume. Hal tersebut berakibat pada penurunan tekanan paru. Tekanan atmosfer menjadi lebih tinggi dari tekanan paru. Perbedaan tekanan tersebut akan menyebabkan udara masuk dari luar ke dalam paru, sehingga terjadilah inspirasi. 2. Inspirasi Thoracal Otot intercostalis eksterna terdapat di antara iga. Saat otot tersebut berkontraksi, maka costae akan terelevasi dan rongga dada akan meningkat volumenya. Volumenya yang meningkat menyebabkan penurunan tekanan. Karena tekanan atmosfer lebih tinggi dari tekanan rongga dada, maka udara akan mengalir masuk ke dalam paru, sehingga terjadilah inspirasi. 3. Ekspirasi Abdominal Secara pasif, diafragma akan berelaksasi sehingga rongga dada mengecil volumenya. Tekanan paru menjadi lebih besar daripada tekanan atmosfer, sehingga udara mengalir keluar dari paru menuju atmosfer. 4. Ekspirasi Thoracal Sama halnya seperti diafragma, otot intercostalis juga akan mengalami relaksasi sehingga costae terdepresi dan rongga dada mengecil. Tekanan paru akan menjadi lebih besar daripada tekanan atmosfer, sehingga udara akan mengalir keluar.

Volume dan kapasitas paru dapat menjadi suatu ukuran adanya gangguan fungsi paru. Volume dan kapasitas paru pun terbagi menjadi beberapa macam yang akan dijelaskan sebagai berikut (Guyton, 2007): 1. Volume Tidal Volume tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi setiap kali bernapas normal. Besarnya kira-kira 500 ml. 2. Volume Cadangan Inspirasi

Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstra yang dapat diinspirasi setelah dan di atas volume tidal normal bila dilakukan inspirasi kuat. Secara umum, besarnya mencapai 3000 ml. 3. Volume Cadangan Ekspirasi Volume cadangan ekspirasi adalah volume udara ekstra maksimal yang dapat diekspirasi melalui ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi tidal normal. Besarnya mencapai 1100 ml. 4. Volume Residu Volume residu adalah volume udara yang masih tetap berada dalam paru setelah ekspirasi paling kuat. Besarnya kira-kira 1200 ml. 5. Kapasitas Inspirasi Merupakan jumlah udara yang dapat dihirup seseorang mulai pada ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimum. Kapasitas inspirasi dirumuskan sebagai penjumlahan dari volume tidal tambah volume cadangan inspirasi. 6. Kapasitas Residu Fungsional Merupakan jumlah udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal. Dirumuskan sebagai penjumlahan volume tidal ditambah volume residu. 7. Kapasitas Vital Merupakan jumlah udara maksimum yang dapat diekspirasi setelah inspirasi maksimal dan kemudian diekspirasi semaksimal mungkin. Dirumuskan sebagai penjumlahan antara volume tidal, volume cadangan inspirasi, dan volume cadangan ekspirasi. 8. Kapasitas Paru Total Merupakan jumlah udara maksimum yang dapat mengembangkan paru semaksimal mungkin dengan inspirasi sekuat mungkin. Dirumuskan sebagai penjumlahan kapasitas vital dengan volume residu.

Sistem pernapasan kita memiliki tiga aspek yang penting, yaitu aliran udara (flow), resistensi, dan gradient tekanan. Aliran (flow) selalu berbanding terbalik dengan resistensi jalan nafas dan berbanding lurus dengan perubahan

gradient tekanan (Rab, 2010). Flow (Bulk Flow) merupakan perpindahan gas atau cairan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Flow sangat memengaruhi ventilasi pernafasan (Corwin, 2009). Ketiga aspek tersebut dapat dirumuskan secara matematis sebagai berikut (Rab, 2010). R = P F

Keterangan R : Resistensi F : Flow P : Gradient Tekanan

Paru memiliki dua sifat yaitu compliance dan elastic recoil. Compliance (komplians) merupakan luasnya pengembangan paru untuk setiap unit peningkatan tekanan transpulmonal (Guyton, 2007). Dalam arti lain, komplians merupakan seberapa banyak upaya yang dibutuhkan untuk meregangkan (mengembangkan) paru (Sherwood, 2011). Komplians didukung dengan surfaktan yang dihasilkan oleh sel pneumosit tipe-2 pada permukaan alveoli sebagai faktor antiatelektasis. Surfaktan ini tersusun atas protein lesitin (Rab, 2010). Elastic recoil (recoil elastik) disebut juga dengan daya elastis paru. Merupakan suatu indikator seberapa mudah paru kembali ke bentuknya semula setelah mengalami peregangan (Sherwood, 2011). Daya ini dipengaruhi oleh dua hal yaitu daya elastis paru itu sendiri dan tegangan permukaan cairan di dinding dalam alveoli. Daya elastis paru ditentukan oleh jaringan elastin dan serabut kolagen pada parenkim paru (Guyton, 2007). Spirometri Spirometri merupakan teknik pengukuran untuk fungsi paru. Alat untuk mengukurnya disebut spirometer. Fungsinya adalah untuk menegakkan

diagnosis penyakit, menilai progresivitas penyakit, dan melihat efektivitas pengobatan yang sudah diberikan (Wijaya et al., 2012). Hasil pemeriksaan spirometri dapat diterima jika memenuhi syaratsyarat sebagai berikut: a. Acceptability yang terdiri dari: 1) Awalan yang baik 2) Tidak ragu-ragu dan cepat mencapai puncak 3) Ekspirasi minimal dilakukan dalam 6 detik 4) Pemeriksaan harus selesai 5) Minimal diulang 3 kali. b. Reproducibility, yaitu selisih data tertinggi pertama dan kedua tidak boleh melebihi 5% atau 1 cc (White, 2012). Setelah dilakukan spirometri, akan keluar hasil pengukurannya yang disebut spirogram. Spirogram hambatan jalan napas dapat dilihat dari hasil volume dinamis, yaitu volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1) dan kapasitas vital paksa (FVC). FEV1 merupakan volume udara yang dapat dihembuskan selama detik pertama ekspirasi dalam suatu penentuan VC. Biasanya FEV1 adalah sekitar 80% dari VC (Sherwood, 2012). Perbandingan FEV1 dan FVC kurang dari 70% merupakan tanda dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) (Wijaya et al., 2012). Tabel 1. Nilai Normal RESTRIKSI (FVC% atau FVC/pred. %) Normal Ringan Sedang Berat >80 % 60 79 % 30 59 % 75% 60 74% 30 59%