OTONOM KUSUS A AN PAPUA - aceh dan papua.pdf · otonomi khusus, khususnya di Aceh dan Papua, sehingga

Embed Size (px)

Text of OTONOM KUSUS A AN PAPUA - aceh dan papua.pdf · otonomi khusus, khususnya di Aceh dan Papua,...

Malahayati | Otonomi Khusus dalam Sistem Pemerintahan Indonesia | December 19, 2015

OTONOMI KHUSUS ACEH DAN PAPUA

ANTARA TEORI DAN PRAKTIK DALAM KERANGKA NEGARA

KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PAGE 1

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan

kekuatan dan kemudahan bagi Penulis dalam menyelesaikan tulisan yang berjudul

Otonomi Khusus Aceh dan Papua: Antara Teori dan Praktik dalam Kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia. Tulisan ini merupakan salah satu tugas dalam Mata Kuliah

Otonomi Khusus dalam Sistem Pemerintahan Indonesia pada Program Doktoral Ilmu

Hukum Universitas Syiah Kuala Tahun 2015.

Tulisan ini menguraikan tentang pelaksanaan otonomi khusus di Provinsi Aceh dan

Papua, dikaitkan dengan teori dan konsep dasar negara kesatuan. Tulisan terdiri dari IV

(empat) bab yang tersusun dalam sistematikan: Bab I Pendahuluan; Bab II Konsep Negara

Kesatuan, Asas Desentralisasi dan Otonomi Khusus yang menjadi dasar teori dalam

pendekatan penelitian; Bab III Otonomi Khusus Aceh dan Papua dalam Kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia; dan ditutup dengan Bab IV yang terdiri dari kesimpulan dan

saran-saran.

Tulisan ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Harapan Penulis, masukan dan

kritikan dari pembaca akan memberikan perbaikan terhadap substansi tulisan yang lebih

akurat dan reliable. Di sisi lain, semoga tulisan ini dapat memberi kontribusi dalam bidang

otonomi khusus, khususnya di Aceh dan Papua, sehingga pelaksanaan otonomi khusus ini

sesuai dengan tujuan negara Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam Paragraf

Keempat Pembukaan UUDNRI 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia

dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Salam.

Penulis,

Malahayati

PAGE 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 1

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 3

A. Latar Belakang Masalah ......................................................................................... 3

B. Perumusan Masalah ................................................................................................ 7

C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 7

D. Metode Pendekatan ................................................................................................. 8

E. Sistematika Penulisan ............................................................................................. 9

BAB II KONSEP NEGARA KESATUAN, TEORI DESENTRALISASI DAN OTONOMI KHUSUS ..................................................................................... 11

A. Konsep Negara Kesatuan ...................................................................................... 11

B. Teori Desentralisasi .............................................................................................. 15

C. Otonomi Khusus ................................................................................................... 21

BAB III OTONOMI KHUSUS ACEH DAN PAPUA DALAM KERANGKA

NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA ...................................... 24

A. Otonomi Khusus Aceh .......................................................................................... 24

B. Otonomi Khusus Papua......................................................................................... 27

C. Analisis Komprehensif.......................................................................................... 31

BAB IV PENUTUP....................................................................................................... 38

A. Kesimpulan ........................................................................................................... 38

B. Saran ..................................................................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 40

PAGE 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia disamping sebagai negara hukum, juga bersusunan atau

berbentuk negara kesatuan, sebagaimana disebutkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUDNRI 1945), yaitu Negara Indonesia

ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik. Konsep negara kesatuan (unitary state)

adalah konsep suatu negara yang tidak mempunyai kesatuan-kesatuan pemerintahan yang

mempunyai kedaulatan.1 Hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

adalah dependent dan subordinat. Abu Daud Busroh berdasarkan susunan negara,

mengatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang tidak tersusun daripada beberapa

negara seperti halnya dalam negara federasi, melainkan negara itu sifatnya tunggal, artinya

hanya ada satu negara, tidak ada negara di dalam negara. Jadi dengan demikian, di dalam

negara kesatuan itu juga hanya ada satu pemerintahan, yaitu pemerintahan pusat yang

mempunyai kekuasaan atau wewenang tertinggi dalam segala lapangan pemerintahan.

Pemerintahan pusat inilah yang pada tingkat terakhir dan tertinggi dapat memutuskan

segala sesuatu dalam negara tersebut.2

Sementara, Mahfud MD menyebutkan negara kesatuan adalah negara yang

kekuasaannya dipencar ke daerah-daerah melalui pemberian otonomi atau pemberian

wewenang kepada daerah-daerah untuk mengurus dan mengatur rumah tangga mereka

sendiri melalui desentralisasi atau melalui dekonsentrasi. Ini berarti bahwa daerah-daerah

itu mendapat hak yang datang dari, atau diberikan oleh, pemerintah pusat berdasarkan

undang-undang dan konstitusi.3 Hal ini selaras dengan hakikat politik hukum Pasal 18

1 Hanif Nurcholis, 2005, Teori dan Praktiek Pemerintahan dan Otonomi Daerah, PT. Gramedia

Widiasarana Indonesia, hlm. 6 2 Abu Daud Busroh, 1990, Ilmu Negara, PT. Bumi Aksara, Jakarta, hlm. 64-65. 3 Mahfud MD, 2006, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES Indonesia,

Jakarta, hlm. 221.

PAGE 4

UUDNRI 1945, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjamin adanya

desentralisasi dan otonomi yang luas bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia.4

Sejalan dengan konsep tersebut, Bhenyamin Hoessein mengatakan bahwa dalam

konteks negara kesatuan, penerapan asas desentralisasi dan sentralisasi dalam organisasi

negara tidak bersifat dikotomis melainkan kontinum.5 Artinya, Pemerintah Pusat tidak

mungkin menyelenggarakan semua urusan pemerintahan di tangannya secara sentralisasi,

begitu juga sebaliknya, pemerintah daerah tidak mungkin menyelenggarakan semua urusan

pemerintahan yang diserahkan. Urusan pemerintahan yang menyangkut kepentingan dan

kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara lazimnya diselenggarakan secara sentralisasi

dan dekonsentrasi, sedangkan urusan yang mengandung dan menyangkut kepentingan

masyarakat setempat diselenggarakan secara desentralisasi.

Perkembangan dan kebutuhan terhadap bentuk negara kesatuan yang berprinsip

sentralistik, juga dapat dilakukan secara desentralisasi sebagaimana yang berlaku pada

negara federasi. Negara kesatuan juga dapat dibagi dalam pola sentralistik dan

desentralistik. Negara kesatuan dengan pola sentralistik adalah sistem kenegaraan yang

menetapkan seluruh wilayah negara, tanpa kecuali, merupakan kesatuan wilayah

administrasi dan hukum. Sedangkan, pola desentralisasi adalah penyerahan wewenang dari

pemerintah pusat kepada daerah. Penyerahan wewenang tersebut tidak mengubah esensi

dasar negara kesatuan.6

Dalam Pasal 18 UUDNRI 1945, Perubahan Kedua, disebutkan:

(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,

kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan

undang-undang.

(2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas

pembantuan.

4 Jimly Asshiddiqie, 2005, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta,

hlm. 262. 5 Bhenyamin Hoessein dalam Hanif Nurcholis, 2005, Teori dan Praktek Pemerintahan dan Otonomi

Daerah, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, hlm. 13. 6 Hendarmin Ranadireksa, 2007, Arsitektur Konstitusi Demokratik, Bandung: Fokusmedia, hlm. 59-

62.

PAGE 5

(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan

umum.

(4) Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing se