Click here to load reader

Perang Melawan Resistensi Antibiotik

  • View
    218

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Article on Radar Jogja 7 April 2011 page 6 Ruang Publik: Note on World Health Day 2011

Text of Perang Melawan Resistensi Antibiotik

  • If you try to eradicate nature, she will in time rise up silently and confound your foolish arrogance.

    Quintus Horatius Flaccus

    PENEMUAN penisilin oleh Alexander Flemming pada 1929 merupakan keaja-iban dunia kedokteran yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Pe-nyakit infeksi, yang dulunya merupakan permasalahan kesehatan yang sering berakibat fatal, berangsur-angsur mulai bisa diatasi. Bahkan ketika kemudian terjadi Perang Dunia II pada 1940-an, penisilin menjadi obat dewa bagi prajurit yang terluka dan mengalami infeksi dalam medan peperangan.

    Dalam empat dasawarsa kemudian, be-ragam obat antibiotik telah dikembangkan berbagai produsen obat yang membawa harapan besar bahwa perang terhadap penyakit infeksi segera usai. Optimisme itu membawa pada penggunaan antibio-tik yang berlebihan dan tidak tepat yang kelak harus dibayar mahal. Pada 2000-an, diperkirakan tidak kurang dari 50.000 ton antibiotik digunakan di dunia per tahun dan akan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya.

    Resistensi terhadap AntibiotikBakteri pertama yang mampu menak-

    lukkan penisilin adalah Staphylococcus Aureus yang sebenarnya merupakan bak-teri yang tidak berbahaya yang umumnya mangkal di dalam tubuh kita. Namun, bila jumlahnya menjadi berlipat-lipat dan memproduksi toksin, bakteri itu akan mengakibatkan penyakit. Saat ini bakteri yang dikenal dengan Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) tersebut menjadi masalah kesehatan karena di-perkirakan 53 juta orang di dunia menjadi carrier bakteri itu.

    Satu-satunya antibiotik yang bisa mem-bunuhnya adalah Vancomycin. Celakanya, pada 1987, ditemukan bakteri Enterococ-cus yang kebal terhadap Vancomycin

    (VRE), yang kemudian bakteri Staphylo-coccus Aureus juga menjadi kebal. Saat ini MRSA dan VRE menjadi masalah pelik di banyak rumah sakit di dunia.

    Bakteri lain kemudian mulai menam-pakkan kebandelannya juga terhadap penisilin. Misalnya, Streptococcus Pneu-moniae. Bakteri yang juga disebut Pneu-mococcus itu ditemukan pada 1967 di pedesaan Papua Nugini. Pada saat bersa-maan, ditemukan bakteri Gonorrhoe yang tahan penisilin pada prajurit Amerika di Asia Tenggara, yang kemudian dijuluki Vietnam Rose ketika penyakit itu dibawa pulang ke Amerika.

    Pada 1980, sebanyak 15 persen pen-duduk Brazil yang dirawat di rumah sakit (1,7 juta pasien) menderita penyakit infeksi bakteri yang kebal terhadap an-tibiotik. Biaya yang harus dikeluarkan pemerintah tidak kurang dari USD 1,2 miliar dan mengakibatkan kematian pada 30.000 pasien karena penyakit infeksi tersebut. Satu dasawarsa kemudian, Th e Centres for Disease Control and Preven-tion melaporkan bahwa 3.300 pasien di Amerika meninggal karena infeksi bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Bahkan pada 1994 angka itu melonjak menjadi sekitar 65.000.

    Bagaimana resistensi terjadi? Pertama, seleksi alam. Sebagaimana makhluk hidup lainnya, ada bakteri yang sejak dilahirkan sudah memiliki kekebalan terhadap antibiotik. Ketika seseorang minum suatu jenis antibiotik, bakteri yang lemah akan mati, sedangkan bakteri yang kebal akan bertahan dan berangsur-ang-sur berkembang biak menciptakan lebih banyak bakteri kebal terhadap antibiotik tersebut. Dengan demikian, pasien dapat menderita penyakit infeksi karena sejak awal terpapar bakteri yang kebal terhadap antibiotik atau setelah minum antibiotik

    baru di tubuhnya terbentuk bakteri yang kebal terhadap antibiotik yang diminum tersebut.

    Kedua, pertahanan bakteri. Penisilin biasanya akan menempel pada dinding bakteri dan kemudian menghancurkan bagian dinding tersebut sehingga bakteri mati. Akhirnya, bakteri mampu memper-senjatai diri melalui perkembangbiakan dengan mengurangi bagian dinding yang bisa ditempel penisilin. Atau, bakteri akan membuat semacam enzyme yang mampu merusak penisilin yang menempel di dindingnya. Pertahanan lain ditunjukkan bakteri yang diserang ribosome-nya oleh antibiotik. Bakteri akan mengembangkan diri dengan cara mengurangi jumlah ribosome-nya sehingga tahan terhadap serangan antibiotik.

    Penggunaan Antibiotik yang BerlebihWHO telah mengadakan survei terhadap

    penggunaan dan penyalahgunaan anti-biotik di New Delhi. Hasilnya, 68 persen penduduk yang disurvei menyatakan minum antibiotik sampai habis sesuai petunjuk dokter, 47 persen pasien akan pindah dokter bila tidak diberi antibiotik, dan 53 persen menyatakan akan membeli sendiri antibiotik bila sakit. Sementara itu, di Th ailand, 53 persen penduduk yang disurvei menyatakan menghentikan an-tibiotik sebelum waktunya.

    WHO prihatin atas semakin berkurang-nya antibiotik yang bisa melawan penyakit infeksi yang semakin resistan terhadap antibiotik. Untuk itu, dalam kesempatan Hari Kesehatan Sedunia 2011 yang diper-ingati pada 7 April ini, tema yang diambil adalah Gunakan Antibiotik secara Tepat untuk Mencegah Kekebalan Kuman.

    Bagaimana dengan masyarakat kita? Ketika ditanya dokter sudah minum obat apa, pada umumnya pasien menjawab an-tibiotik. Sakit tenggorokan, panas, pusing, keseleo, gatal, cukup beli sebiji antibiotik, sembuh! Bahkan luka apa pun, taburi dengan antibiotik, juga sembuh! Anti-biotik menjadi obat yang manjur untuk

    semua penyakit dan diminum tidak sesuai dosis yang benar. Tingkat ketergantungan masyarakat kita terhadap antibiotik juga sudah sangat mendalam.

    Karena itu, beberapa hal yang patut diberi perhatian pemerintah dalam kesempatan Hari Kesehatan Sedunia ini adalah, pertama (untuk masyara-kat), antibiotik seyogianya tidak dijual bebas dan bukan untuk pengobatan diri sendiri. Antibiotik harus diresepkan oleh dokter. Antibiotik harus diresepkan dan diminum pasien sejumlah satu seri kecuali timbul efek samping. Broad-spectrum antibiotik tidak digunakan di luar rumah sakit. Penggunaan antibiotik untuk hewan harus dikontrol agar tidak membawa resistansi bakteri yang mem-bahayakan manusia.

    Kedua (di rumah sakit), penggunaan antibiotik harus didahului tes kepekaan atau resistensi kuman. Prosedur higienis rumah sakit harus bisa bebas dari bakteri resistan antibiotik. Rata-rata lama pe-rawatan pasien harus dibatasi seminimal mungkin agar bakteri tidak mempunyai waktu untuk membentuk koloni. Peng-gunaan antibiotik profi laksis prabedah harus diminimalkan.

    Selain itu, pemerintah harus menentu-kan jenis-jenis antibiotik yang terdapat di puskesmas, rumah sakit semua tipe, dan harus ditentukan cadangan-antibiotik yang hanya boleh diresepkan spesialis tertentu untuk kondisi tertentu saja.

    Kita harus mendidik masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik secara sembarangan dan sekaligus menertibkan peresepan antibiotik agar tidak terjebak kembali pada era sebelum ditemukannya penisilin oleh Flemming. Yakni, saat pe-nyakit infeksi merajalela, mengakibatkan kematian, penderitaan, kecacatan, dan menghabiskan anggaran yang akhirnya akan meningkatkan angka kemiskinan.

    *) Stefanus Lawuyan, dokter peraih Endeavour Executive

    Award 2009.

    6 RADAR JOGJA Kamis Kliwon 7 April 2011

    Anda juga bisa mengirim komentar di Suara Rakyat lewat SMS ke 0818461545 (tarif normal)

    NGEJAMAN

    SUDUT PANDANG

    RUANG PUBLIK

    Direktur: Ariyono Lestari.General Manager/Pemimpin Umum: Agung C Nugroho; Pemimpin Redaksi: Amin Surachmad; Redaktur Pelaksana: Abdi D Noor; Koordinator Liputan: Iwa Ikhwanudin; Redak-tur: Erwan Widyarto, Berchman Heroe, Joko Suhendro, Adib Lazwar Irkhami, Kalis Dain N, Syukron AM; Sekretaris Redaksi: Venny Maya D; Staf Redaksi: Kusno S Utomo, Heru Setiyaka, Heri Susanto (Kota), Ahmad Riyadi (Bantul), Yogi Isti P (Sleman), Miftahudin, Reren Indranila (Kulonprogo), Frietqi Suryawan (Magelang), Hendri Utomo (Purworejo), Annisa An-driani; Fotografer: M. Syukron, Guntur Aga T Manager Iklan: Azam Sauki A; Asisten Manager Iklan: Sri Joko Supraptomo; Manager Pemasaran: Agung C Nugroho; Keuangan/Iklan/Umum: Usman A, Dian S, Luluk, Joko Wibowo, Ari Rheno, Bambang Sugiarto, Endik Widodo ; Grafi s: Jihad Rokhadi-Ji Ong Boy; Desain Iklan: Endah Iswanti Layout: Abdullah Fuadi, Wahyu Heri Widodo, Muhammad Suprobo, Budhi Se tiawan, Nanang Febriyanto, Tri Yulianto, Alaik Azizi; Kartunis: Herpri Yanto; Pemasaran: Nurkhamsiyah, Suprihatin, Setyabudi, Warso, Nursalim, Angga Widiastama; Divisi Off Print: Indriyo Adi Prasetyo; IT: Irsan Muhammad Syafi ri; Penerbit: PT Yo-gyakarta Intermedia Pers NPWP: 02.205.725.1-542.000, Per-cetakan: PT Nyata Grafi ka Surakarta, Alamat: Jl. Ring-Road Utara No. 88 (Barat Mapolda DIJ), Depok, Sleman, Jogja, Telp/Faks Redaksi: (0274) 4477785, Iklan: (0274) 4477780, Pema-saran: (0274) 4477783, Indikasi: (0274) 4477782, Fax/Iklan:Pemasaran: (0274) 4477781. Perwakilan Jakarta: Jl. Palm-erah Barat No. 353 Komp. Widuri Blok A3 Jakarta 12210. Telp (021) 5333321, 5330976, 5327294, Fax. (021) 5322629, Iklan: Imam Taufan Nugroho (0817722387) e-mail redaksi: [email protected], dan [email protected] e-mail iklan: [email protected], dan [email protected] website: www.radarjogja.co.id

    TARIF IKLAN: Display BW: Rp.18.000,-; Display FC: Rp. 30.000,-; Hal 1: Rp. 55.000,-; Hal 1. BW: Rp.35.000,-; adv BW: Rp.11.000,-; Adv FC: Rp.13.500,-; Kolom: Rp.12.500,-; Dukacita Rp. 7.000,-; Baris: Rp.10.000,-

    Wartawan Radar Jogja dilarang menerima uang maupun barang dari sumber berita.Wartawan Radar Jogja dibekali kartu pers selama bertugas.

    O l e h

    STEFANUS LAWUYAN*

    Peringatan Hari Kesehatan Sedunia

    Perang Melawan Resistensi Antibiotik

    Tolong Pertigaan Boplaz Dikasih Pos PolisiPAK polisi tlng d pertigaan banjo borobudur plasa

    ksh pos polisi,sy dah brulang kali liat pngendr mtr nro-bos trus pdhl msh merah.DeMI kenyamanan semua.trim+6281904121327

    Atasi Ulat dengan Semburan ApiInfo: serangan ulat bulu di jawa timur bisa diatasi

    dengan semburan api, menggunakan fl ame gun dan tdk perlu dg obat: dari pak W. +628122969595

    Batalkan Rencana PLTNRencana pemerintah untuk me

Search related