Studi Identifikasi Daerah Irigasi Pompa Tempe

  • Published on
    22-Dec-2015

  • View
    33

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

BAB V

1.PENDAHULUAN

1.1 UmumLaporan Ringkasan ini menyajikan ringkasan hasil studi dari pekerjaan Studi Identifikasil Daerah Irigasi Pompa di Sekitar Danau Tempe (20.000 ha).1.2 Latar BelakangSalah satu rekomendasi dari studi Masterplan Pengembangan Wilayah Sungai Walanae Cenranae, adalah pemanfaatan tampungan yang ada pada Danau Tempe untuk mengairi daerah irigasi dengan sistem pompa. Untuk menjaga agar tampungan air pada danau tetap tersedia pada saat musim kemarau adalah dengan pembangunan Bendung Gerak Tempe. Saat ini bendung gerak Tempe telah selesai dibangun. Agar manfaatnya bisa segera dirasakan oleh masyarakat, maka perlu segera ditindaklanjuti dengan studi dan perencanaan awal jaringan irigasi pompa yang memanfaatkan air dari Danau Tempe.Untuk itu maka dilaksanakan pekerjaan : Studi Identifikasil Daerah Irigasi Pompa di Sekitar Danau Tempe (20.000 ha)1.3 Nama PekerjaanNama Pekerjaan adalah Studi Identifikasi Daerah Irigasi Pompa di Sekitar Danau Tempe (20.000 ha).1.4 Maksud, Tujuan dan Sasaran PekerjaanMaksud Pekerjaan :Maksud dilaksanakannya pekerjaan adalah melakukan identifikasi kelayakan Daerah Irigasi Pompa di sekitar Danau Tempe baik dari segi teknis dan ekonomi. Tujuan Pekerjaan : Tujuan dilaksanakannya pekerjaan adalah tersedianya Studi Identifikasi kelayakan daerah irigasi yang menghasilkan suatu gambaran yang jelas mengenai kelayakan (teknis dan ekonomis) pada Daerah Irigasi di Sekitar Danau Tempe yang digunakan sebagai pedoman untuk menentukan lingkup studi yang akan dilakukan selanjutnya, Sasaran pekerjaan : Sasaran dilaksanakannya pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan areal irigasi dan produksi pertanian untuk menjamin swasembada pangan nasional. 1.5 Jangka Waktu PelaksanaanJangka waktu pelaksanaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah selama 180 hari kalender (6 bulan) terhitung sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).1.6 Lingkup PekerjaanLingkup pekerjaan adalah sebagai berikut :a. Persiapan dan Pengumpulan Data Mobilisasi personil dan peralatan yang diperlukan dalam rangka kelancaran pelaksanaan konsultan Melaksanakan kunjungan ke instansi-instansi terkait di daerah agar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi wilayahstudi, dan untuk pengumpulan data sekunder. Pengumpulan dan inventarisasi data-data sekunder dan study terdahulu : Menyusun skedul (jadwal ke lapangan, persiapan perlengkapan lapangan yang diperlukan), dan rencana pekerjaan secara keseluruhan. b. Survey, Investigasi dan Laboratorium Survey Topografi Survey Pertanian dan Tes Laboratorium Survey Sedimen dan Kualitas Air Survey Geologi dan Tes Laboratorium Survey Aspek Multisektorc. Analisis Data dan Hasil Survey dan Investigasi Analisa Topografi Analisa Hidrologi Analisa Geoteknik Analisa Pertanian Analisa Kondisi Fisik, Sosial Ekonomi dan Lingkungand. Perencanaan Penyusunan Nota Perencanaan yang meliputi: Gambar-gambar desaine. Analisa Ekonomi Proyek Economic Internal Rate of Return (EIRR) Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio) Net Present Value (NPV)f. Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM)Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaring masalah, pendapat, masukan dan inspirasi dari masyarakat dan pemerintah di lokasi studi.g. Pelaporana) Rencana Mutu Kontrakb) Laporan Pendahuluanc) Laporan Bulanand) Laporan Antara/Interime) Laporan Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM)f) Laporan Akhir/Final Report Ringkasan Laporan (Summary Report) Laporan Penunjang Buku Ukur Laporan Pengukuran, Pemetaan dan Deskripsi BM Pradesain Bangunan Utama (bangunan pompa) dan Sistem irigasi Rencana O&P dan pengalokasian Air Geologi, Mekanika Tanah dan Kesesuaian Lahan Laporan Analisa Hidrologi Laporan System Perencanaan Dokumentasi Foto-Foto Gambar-gambar Laporan Sosial Ekonomi dan Evaluasi Proyek Perencanaan Konstruksi dan Estimasi Biaya Eksternal Hardisk yang berisi seluruh laporan

2.KONDISI WILAYAH STUDI

2.1 Lokasi PekerjaanSumber air utama untuk areal rencana daerah irigasi pompa adalah dari Danau Tempe, yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Sidrap, Wajo, dan Soppeng. Sedangkan rencana areal layanan daerah irigasi pompa berada di Kabupaten Wajo yang meliputi Kecamatan Tempe, Majauleng, Pamanna, Bola dan Takalala.

2.2 Aksesibilitas Lokasi Pekerjaan Lokasi pekerjaan dapat ditempuh dari Makassar melalui jalur darat, dari kota Makassar ke arah timur laut melalui jalan aspal menuju kota Sengkang dengan jarak tempuh 240 km. Lokasi studi berada di sebelah kiri Sungai Cenranae atau jalan raya dari kota Sengkang menuju Watampone. 2.3 Kondisi Fisik Wilayah Studi1).GeografiLokasi rencana daerah irigasi pompa adalah hamparan sawah tadah hujan yang terletak di sisi sebelah kiri (Utara) dari sungai Cenranae. 2).Hidroklimatologi(1) Sumber Air IrigasiSumber air untuk rencana pengembangan irigasi pompa diambil dari Danau Tempe. Berdasarkan data pencatatan AWLR yang ada, elevasi muka air danau rata-rata antara +4.40 sampai +5.70 pada musim kemarau (Oktober Maret), dan antara + 5.00 sampai + 6.70 pada musim penghujan (April September). (2) IklimKondisi iklim secara umum didominasi oleh iklim monsoon tropis dengan musim hujan mulai bulan Maret sampai Juli, sedangkan musim kemarau mulai Agustus sampai dengan Februari.

Gambar 2.1 Grafik Curah Hujan Bulanan Rata-rata Daerah Studi

(3) Debit Sungai UtamaSungai utama yang sangat berpengaruh pada ketersediaan air di danau Tempe, yaitu : Sungai Bila (Sts. Bila Hilir), Sungai Walanae (Sts. Cabenge), Sungai Cenranae (Sts. Tampangeng). Kondisi debit rata-rata bulanan dari ketiga sungai tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Grafik Debit Rata-Rata Bulanan Sungai Bila, Walanae dan Cenranae

3.PENGUKURAN TOPOGRAFI

3.1Lokasi PengukuranPengukuran topografi yang dilakukan pada studi ini hanya berupa pengukuran situasi bangunan dan trase saluran pada lokasi-lokasi rencana bangunan pompa sampai dengan lokasi rencana awal saluran induk, berdasarkan rencana tata letak jaringan irigasi pompa yang diusulkan. Dalam studi ini belum dilakukan pengukuran topografi areal daerah irigasi (20.000 ha), maupun pengukuran trase saluran induk dan sekunder (170 km).

3.2Bench Marka. Bench Mark ReferensiTitik referensi untuk pengukuran lokasi bangunan pompa dan saluran perpipaan dari lokasi pompa ke titik awal saluran gravitasi adalah titik-titik TTG dari Bakosurtanal yang terdekat dengan lokasi trase rencana dari bangunan pompa ke awal saluran pembawa, seperti disajikan pada Tabel 3.1 berikut :Tabel 3.1 BM Referensi PengukuranNoKode BMX (m)Y (m)Z (m)Keterangan

1.TTG.226171.469,009.547.408,00+66,153Tidak ditemukan

2.TTG.227169.415,009.543.714,00+13,841Tidak ditemukan

3.TTG.228170.874,009.539.912,00+10,364Ditemukan. Jarak ke lokasi Pompa Impa-Impa 7,5 km; Jarak ke Pacecang 500 m; dan jarak ke Surae 400 m

4.TTG.231180.323,009.533.151,00+ 5,935Ditemukan. Jarak ke pompa Cellue 12,3 km.

5.TTG.232183.593,009.532.333,00+4,716Ditemukan. Jarak ke Pompa Wanuwae 3,7 km.

6.TTG.233188.442,009.531.023,00+3,710Ditemukan. Jarak ke pompa Mabalena 4,6 km.

7.TTG.234192.420,009.530.794,00+3,730Tidak ditemukan

Sumber : Bakosurtanal dan hasil surveyTotal jarak pengikatan yang diperlukan adalah 29 km.

b. Bench Mark yang dipasangDalam rangka melaksanakan kegitan Studi Identifikasi Daerah Irigasi Pompa Di Sekitar Danau Tempe (20.000 ha) tahun 2014, Penyedia Jasa telah memasang Bench Mark tambahan sebagai berikut :Tabel 3.2 BM Baru Yang DipasangNoKode BMX (m)Y (m)Z (m)Lokasi

1.BM.01169.371,009.546.103,00+7,849Impa-Impa awal

2.BM.02173.166,009.545.777,00+25,592Impa-Impa akhir

3.BM.03170.478,009.540.407,00+8,049Pacecang awal

4.BM.04171.170,009.540.221,00+4,581Pacecang akhir

5.BM.05170.306,009.540.235,00+9,938Surae awal

6.BM.06170.329,009.539.980,00+7,818Surae akhir

7.BM.07170.306,009.540.235,00+15,550Cellue awal

8.BM.08185.853,009.540.574,00+22,325Cellue Akhir

9.BM.09192.169,009.531.750,00+5,316Wanuwae awal

10.BM.10187.060,009.531.400,00+3,586Wanuwae akhir

11.BM.11192.136,009.531.547,00+5,227Mabalena awal

12.BM.12192.478,009.532.016,00+18,742Mabalena akhir

4.KONDISI GEOLOGI

4.1Kondisi Geologi RegionalDaerah rencana areal irigasi pompa didominasi oleh kondisi geologi berupa endapan aluvium dan pantai, yang terdiri dari : kerikil, pasir, lempung, lumpur, dan batu gamping koral. Daerah ini merupakan daerah Depresi Tempe yang merupakan dataran rata lempung lunak alluvial dan pasir lepas dengan tanggul dan rawa-rawa sekitar sungai.

4.2Penyelidikan Mekanika Tanah1).Pekerjaan SondirDari hasil pekerjaan sondir pada lokasi-lokasi rencana bangunan pompa dan talang menunjukkan bahwa, kedalaman tanah keras untuk mencapai daya dukung yang tinggi bervariasi antara 3.80 m sampai lebih dari 20 m (lihat Tabel 4.2). Terutama pada lokasi pompa Surae, yang berada di sisi sebelah kanan bendung Gerak Tempe, sampai dengan kedalaman 20 m belum mencapai tanah keras. Sehingga untuk lokasi bangunan pompa memerlukan perencanaan pondasi dalam, seperti dengan tiang pancang. Demikian juga dengan lokasi-lokasi lainnya. Selengkapnya hasil pembacaan sondir disajikan pada bagian lampiran.

Tabel 4.1 Ringkasan Hasil Pekerjaan Sondir

2).Pekerjaan Tes PitTabel 4.3 Ringkasan Hasil Tes Pit

5.KONDISI PERTANIAN

5.1UmumKajian mengenai pertanian ini dimaksudkan untuk merumuskan pengembangan pertanian diwaktu yang akan datang setelah adanya jaringan irigasi melalui identifikasi kondisi pertanian yang ada sekarang, hambatan, potensi dan kebutuhan pengembangan.5.2Kondisi Dasar Pertanian1).Kondisi IklimKarakteristik iklim di lokasi studi ialah monsoon tropic yang terdiri dari musim hujan dan musim kemarau, musim hujan mulai dari bulan Maret/April sampai Juli dan musim kemarau pada bulan Agustus sampai Oktober, dan antara Nopember sampai Pebruari/Maret biasanya agak basah, dan kondisi ini cocok untuk tanaman palawija.2)Kependudukan dan Kepemilikan LahanKondisi kependudukan di wilayah studi yang meliputi 5 kecamatan yaitu Tempe, Pammana, Majauleng, Bola dan Takallala, disajikan pada Tabel 5.1. Jumlah penduduk yang berusia antara 15 59 tahun dan merupakan angkatan tenaga kerja ditunjukkan pada Tabel 5.2. Jumlah angkatan tenaga kerja sebanyak 106.932 jiwa atau 64,43% yang terdiri dari laki-laki sebanyak 56.601 jiwa dan perempuan 56.601 jiwa.Tabel 5.1 Kondisi Kependudukan di Wilayah StudiNoNama KecamatanJumlah (jiwa)Luas (Km2)Kepadatan Penduduk / Km2Jumlah RTAnggota Rumah Tangga

1.2.3.4.5.TempeMajaulengPamannaBolaTakalala61.58132.06231.64019.64021.03438,27225,92162,10220,13179,761.609,12141,92195,1989,22117,0113.6848.4318.7944.6765.18154444

TOTAL165.957826,18200,8740.7664

Sumber : BPS Kab. Wajo Dalam Angka, 2014

Tabel 5.2 Jumlah Angkatan Kerja di Wilayah StudiNoNama KecamatanLaki LakiPerempuanTotal

1.2.3.4.5.TempePamannaBolaTakalalaMajauleng19.5119.3675.9056.3869.16221.40210.6036.6397.12310.83440.91319.97012.54413.50919.996

TOTAL50.33156.601106.932

Sumber : BPS Kab. Wajo Dalam Angka, 2014

Kepemilikan lahan pertanian di wilayah studi pada 5 kecamatan terkait disajikan pada Tabel 5.3 berikut, dan pada tabel tersebut kelihatan bahwa sebagian besar lahan sawah yang ada pada saat ini berupa sawah tadah hujan, terutama pada kecamatan Bola, Takallala dan Majauleng. Tabel 5.3 Kepemilikan Lahan di Wilayah StudiNoNama KecamatanKepemilikan Lahan (ha)

Lahan PadiLahan Non PadiTotal Lahan Pertanian

IrigasiTadah HujanTotalPekaranganTegal/ KebunPerkebunan

1.2.3.4.5.TempePamannaBolaTakalalaMajauleng0.180.300.210.210.420.050.762.322.322.040.231.062.532.532.460.350.130.230.230.110.571.280.420.420.57000.090.0901,152.473.263.263.13

Sumber : Master Plan Study on Integrated Development and Management of Walanae-Cenranae River Basin

5.3Pertanian Sekarang1)Tata Tanam dan Pola TanamMusim tanam di lokasi studi pada dasarnya dibagi menjadi dua musim, yaitu musim tanam pertama atau musim hujan (musim rendengan) mulai dari April sampai September dan musim tanam kedua pada musim kemarau (musim gadu) dari bulan Oktober sampai Maret, namun biasanya petani mulai penyiapan lahan pada saat mulai turun hujan. Pola tanam di lokasi studi pada umumnya adalah padi palawija atau padi bera, karena lahan sawah tadah hujan.

2)Luas Panen, Produksi dan Produktivitas TanamLuas panen, produksi dan produktivitas tanaman pada wilayah studi yang terletak di 5 kecamatan disajikan pada Tabel 5.4.Tabel 5.4 Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman

Sumber : BPS Kabupaten Wajo 2013

5.4Sistem PemasaranSistem pemasaran komoditas pertanian tergantung dari beberapa aspek, seperti lembaga pemasaran, jalur pemasaraan, penetapan harga dan kebutuhan pasar. Pada umumnya ada dua tipe lembaga pemasaran di lapangan yaitu, koperasi (KUD) dan lembaga perseorangan atau pedagang, kenyataanya pedagang lebih dominan dibandingkan dengan KUD, hal ini karena KUD kurang berperan aktif. Jalur pemasaran utama adalah dari petani ke pedagang pengumpul kemudian ke pedagang besar di Sengkang.

5.5Kelembagaan PertanianLembaga pertanian pemerintah di tingkat kabupaten ialah Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan di tingkat kecamatan ada BPP, PPK dan PPL. Lembaga BUMN yang beroperasi di wilayah studi ialah PT. Pertani dan PT SHS dengan kegiatan utama distribusi dan suplai sarana produksi pertanian, produksi dan suplai bibit padi, palawija dan sayuran dan pembiayan sarana prouksi, sedangkan PT PUSRI mempunyai kegiatan utama distribusi pupuk.Organisasi petani yang ada di wilayah studi ialah Kelompok Tani, Koperasi Unit Desa, Unit Pelayanan Jasa Alsintan, dan Koperasi Tani.

5.6Hambatan dan Arah Pengembangan1)Hambatan PengembanganHambatan teknis meliputi : belum tersedianya jaringan irigasi yang dapat memberikan air sesuai kebutuhan, dan adanya beberapa lahan yang rawan terhadap banjir. Selain itu juga adanya peralatan mesin untuk penyiapan lahan yang masih kurang, serta ketersedian sarana produksi yang masih belum stabil.Hambatan social-ekonomi berupa system pemasaran yang masih di dominasi oleh pedagang/tengkulak sehingga harga pasar sangat bervariasi, serta kemampuan keuangan petani pada saat mulai masuk musim tanam yang masih belum memadai.Hambatan dibidang kelembagaan berupa masih kurangnya bimbingan dari tenaga penyuluh pertanian di tingkat lapangan, hal ini disebabkan karena kurangnya dana untuk penyuluhan dan monitoring dari pemerintah.Hambatan di bidang layanan dukungan pertanian berupa kurangnya ketersediaan bibit padi dan palawija pada saat dibutuhkan oleh petani.2)Arah dan Kebijakan Pengembangan Pertanian Regional dan NasionalKebijakan pemerintah pusat dalam hal pengembangan pertanian dan keamanan pangan yaitu pengembangan pertanian yang berorientasi pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani khususnya petani kecil.Kebijakan pengembangan pertanian regional berupa pencanangan kabupaten Sidrap, Wajo, Soppeng dan Bone sebagai produser tanaman pangan khususnya padi.

5.7Kesesuaian LahanBerdasarkan peta topografi, peta satelit dan peninjauan lapangan maka seb...

Recommended

View more >