of 18/18
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 30 www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK ANALISIS FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM (Studi Pada Perusahaan Industri Semen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015) ENDANG ANJANI RIZAL R MANULLANG MEDINAL Accounting Program STIE-IBEK Bangka Belitung Pangkal Pinang, Indonesia [email protected] Abstract-This research method using purposive sampling. The sample of this research is the cement industry company listed on Bursa Efek Indonesia consisting of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. The variables used are liquidity ratio, activity ratio, profitability ratio, leverage ratio and market ratio As independent variable and Return of stock as dependent variable which calculated according to its calculation. This research uses quantitative analysis to secondary data.The results of this study indicate that: after the calculation through financial ratio analysis obtained the average value CR of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk at 139,64%. PT Holcim Indonesia is 29,31%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 52,93%. And the average value of TATO PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 0.70 times. PT Holcim Indonesia by 0.64 times. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 0.76 times. And the average value of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ROA of 3,96%. PT Holcim Indonesia by 1,94%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 4,02%. And the average ROE of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 4,57%. PT Holcim Indonesia is 2,82%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,41%. And the average value of OPM of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 6,36%. PT Holcim Indonesia by 4,46%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,97%. And the average value of NPM of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 5,18%. PT Holcim Indonesia amounted to 2,82%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 4,82%. And the average DAR value of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 2,66%. PT Holcim Indonesia is 6,25%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,13%. And the average value of DER of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 3,07%. PT Holcim Indonesia by 9,09%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 6,90%. And the average value of EPS of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 19,56%. PT Holcim Indonesia by 2,77%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 13,33%. And the average value of Return of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk equal to 0,08. PT Holcim Indonesia is - 0.09. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 0.06. Keywords: Rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio leverage,rasio pasar dan return saham I. PENDAHULUAN Ekonomi dalam era globalisasi saat ini mengalami perubahan yang signifikan. seiring dengan perkembangan teknologi pada saat ini maka dunia usahapun ikut berkembang dan makin banyak perusahaan industri semen yang muncul, terlebih lagi perusahaan yang sudah go public atau terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). TABEL 1. Daftar Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia N o Kode Saham Nama Emiten Tanggal pelaporan 1 INTP PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk 05 Desember 1989 2 SMBR PT Semen Baturaja (Persero) Tbk 28 Juni 2013 3 SMCB PT Holcim Indonesia Tbk 10 Agustus 1997 4 SMGR PT Semen Indonesia (Persero) Tbk 08 Juli 1991 5 WTON PT Wijaya Karya Beton Tbk 08 April 2014 6 WSBP PT Waskita Beton Precast Tbk 20 September 2016 Sumber www.idx.co.id Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa banyaknya perusahaan industri semen yang sudah go publik membuat persaingan antar perusahaan semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan setiap perusahaan memiliki tujuan untuk mencapai laba semaksimal mungkin atau setinggi-tingginya. Perusahaan juga harus mampu meningkatkan nilai perusahaan sehingga terjadi peningkatan penjualan sahamnya di pasar modal. Kegiatan pasar modal adalah kegiatan investasi, yaitu kegiatan menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal. Bagi para investor, melalui pasar modal mereka dapat memilih obyek investasi yang tepat dengan beragam tingkat pengembalian dan tingkat risiko yang dihadapi, sedangkan bagi para perusahaan yang menawarkan sahamnya kepada publik (emiten) melalui pasar modal mereka dapat mengumpulkan dana jangka panjang untuk menunjang kelangsungan usaha. Pada pasar modal pelaku pasar yaitu individu- individu atau badan usaha yang memiliki kelebihan dana (surplus dana) melakukan investasi dalam surat berharga yang ditawarkan oleh emiten. Dana yang didapat dari

ANALISIS FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ANALISIS FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM

JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 30
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
ANALISIS FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM
(Studi Pada Perusahaan Industri Semen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015)
ENDANG ANJANI RIZAL R MANULLANG
MEDINAL
Pangkal Pinang, Indonesia [email protected]
Abstract-This research method using purposive sampling. The sample of this research is the cement industry company listed on Bursa Efek Indonesia consisting of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. The variables used are liquidity ratio, activity ratio, profitability ratio, leverage ratio and market ratio As independent variable and Return of stock as dependent variable which calculated according to its calculation. This research uses quantitative analysis to secondary data.The results of this study indicate that: after the calculation through financial ratio analysis obtained the average value CR of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk at 139,64%. PT Holcim Indonesia is 29,31%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 52,93%. And the average value of TATO PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 0.70 times. PT Holcim Indonesia by 0.64 times. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 0.76 times. And the average value of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ROA of 3,96%. PT Holcim Indonesia by 1,94%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 4,02%. And the average ROE of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 4,57%. PT Holcim Indonesia is 2,82%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,41%. And the average value of OPM of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 6,36%.
PT Holcim Indonesia by 4,46%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,97%. And the average value of NPM of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 5,18%. PT Holcim Indonesia amounted to 2,82%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 4,82%. And the average DAR value of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 2,66%. PT Holcim Indonesia is 6,25%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,13%. And the average value of DER of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 3,07%. PT Holcim Indonesia by 9,09%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 6,90%. And the average value of EPS of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 19,56%. PT Holcim Indonesia by 2,77%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 13,33%. And the average value of Return of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk equal to 0,08. PT Holcim Indonesia is - 0.09. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 0.06.
Keywords: Rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio leverage,rasio pasar dan return saham
I. PENDAHULUAN
Ekonomi dalam era globalisasi saat ini mengalami perubahan yang signifikan. seiring dengan perkembangan teknologi pada saat ini maka dunia usahapun ikut berkembang dan makin banyak perusahaan industri
semen yang muncul, terlebih lagi perusahaan yang sudah go public atau terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
TABEL 1. Daftar Perusahaan Industri
Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia N o
Kode Saham
05 Desember 1989
28 Juni 2013
4 SMGR PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
08 Juli 1991
08 April 2014
20 September 2016
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa banyaknya perusahaan industri semen yang sudah go publik membuat persaingan antar perusahaan semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan setiap perusahaan memiliki tujuan untuk mencapai laba semaksimal mungkin atau setinggi-tingginya.
Perusahaan juga harus mampu meningkatkan nilai perusahaan sehingga terjadi peningkatan penjualan sahamnya di pasar modal. Kegiatan pasar modal adalah kegiatan investasi, yaitu kegiatan menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal. Bagi para investor, melalui pasar modal mereka dapat memilih obyek investasi yang tepat dengan beragam tingkat pengembalian dan tingkat risiko yang dihadapi, sedangkan bagi para perusahaan yang menawarkan sahamnya kepada publik (emiten) melalui pasar modal mereka dapat mengumpulkan dana jangka panjang untuk menunjang kelangsungan usaha.
Pada pasar modal pelaku pasar yaitu individu- individu atau badan usaha yang memiliki kelebihan dana (surplus dana) melakukan investasi dalam surat berharga yang ditawarkan oleh emiten. Dana yang didapat dari
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 31
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
pasar modal bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain. Selanjutnya pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvetasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksadana dan lain-lain. Dengan begitu maka masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrumen keuangan.
Pada dasarnya berbentuk dari interaksi antara penjual dan pembeli yang terjadi dilantai bursa yang bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran atas saham di bursa. Dengan demikian, semakin banyak investor yang meminati saham suatu perusahaan maka semakin tinggi pula harga saham yang ditawarkan. Perkembangan harga saham perusahaan tertentu dapat menjadi point perusahaan tersebut apakah sesuai dengan penilaian para investor atau tidak. Dalam melakukan investasi dipasar modal para analis dan investor dapat melakukan pendekatan investasi yaitu dengan menggunakan analisis fundamental.
Analisis fundamental pada dasarnya adalah bagaimana investor melakukan analisis historis atas kekuatan keuangan dari suatu perusahaan, dimana proses ini sering juga disebut sebagai analisis perusahaan (company analysis).
Analisis fundamental dapat dijadikan sebagai dasar bagi investor untuk memprediksi return, resiko atau ketidakpastian, jumlah, waktu, dan faktor lain yang berhubungan dengan aktivitas investasi dipasar modal (Husnan,2004). Jika prospek suatu perusahaan publik sangat kuat dan baik, maka harga perusahaan tersebut diperkirakan meningkat. Dengan adanya kenaikan harga saham diharapkan return (pengembalian saham) juga meningkat. Rasio-rasio keuangan dapat digunakan untuk menjelaskan kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan serta mempunyai peranan untuk memprediksi harga atau return saham di pasar modal. Rasio keuangan tersebut dikelompokkan kedalam lima jenis yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio rentabilitas (profitabilitas), rasio leverage dan rasio pasar. Dengan menggunakan perhitungan CR, TATO, ROA, ROE, OPM, NPM, DAR, DER, dan EPS.
Menurut Husnan (2002) Current Ratio (CR) merupakan salah satu rasio Likuiditas yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva lancar perusahaan dapat dipergunakan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Kemudian Total Assets Turn Over (TATO) merupakan salah satu rasio aktivitas yang digunakan untuk menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu.
Return On Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan semua aktiva yang dimilikinya. Kemudian ROE yaitu rasio yang menunjukkan tingkat pengembalian (return) yang dihasilkan manajemen atas modal yang ditanam oleh pemegang saham, sesudah dipotong kewajiban kepada kreditur.
Operating Profit Margin yaitu rasio yang menunjukkan kontribusi penjualan terhadap laba bersih yang dihasilkan. Semakin besar rasio ini semakin baik. Kemudian Net Profit Margin yaitu rasio menunjukkan
kontribusi penjualan terhadap laba bersih yang dihasilkan. Semakin besar rasio ini semakin baik.
Debt to total asset ratio yaitu mengukur jumlah persentase dari jumlah dana yang diberikan oleh kreditur berupa utang terhadap jumlah asset perusahaan. utang (debt) tersebut termasuk utang lancar, utang bank, obligasi, dan kewajiban, jangka panjang lainnya (Hendra Raharjaputra 2011). Kemudian Debt to Equity Ratio (DER) merupakan salah satu rasio solvabilitas yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan hutang) terhadap total shareholders equity yang dimiliki perusahaan.
Menurut Desi Arista (2012), Earning Per Share (EPS) merupakan salah satu rasio pasar yang merupakan hasil atau pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dimilikinya atas ke ikutsertaan dalam perusahaan.
Rasio keuangan mencerminkan bagaimana kinerja pada suatu perusahaan semakin baik kinerja keuangan perusahaan maka harga saham perusahaan juga akan semakin tinggi. Dengan harga saham yang tinggi maka diharapkan investor akan mendapatkan return saham yang besar atas penanaman modalnya di suatu perusahaan. Tujuan dari pemegang saham atau para investor tentunya mendapatkan keuntungan atas investasi yang dilakukannya, selain deviden investor juga menginginkan return saham (Jogiyanto,2000). Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi, return dapat berupa realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi diharapkan akan terjadi dimasa yang akan datang (Jogiyanto,2000).
Return saham adalah tingkat pengembalian yang dinikmati oleh pemodal (investor) atas suatu investasi yang dilakukannya. Setiap investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang mempunyai tujuan utama mendapatkan keuntungan atau return baik langsung maupun tidak langsung.
Return saham dapat dialami oleh semua perusahaan terutama pada perusahaan industri semen, hal ini dapat terjadi jika perusahaan mampu meningkatkan jumlah permintaan saham. Pada tahun 2011 sampai dengan 2016 terdapat 6 perusahaan industri semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sampel yang diambil peneliti hanya 3 perusahaann karena 3 perusahaan yang terdiri dari perusahaan Semen Baturaja (Persero) Tbk, Wijaya Karya Beton Tbk dan Waskita Beton Precast Tbk tidak memiliki laporan keuangan yang lengkap sehingga dikeluarkan dari sampel penelitiaan.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebaga berikut untuk mengetahui analisis fundamental yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio leverage, dan rasio pasar dengan menggunakan perhitungan CR, TATO, ROA, ROE, OPM, NPM, DAR, DER, dan EPS sudah efektif dalam menjelaskan Return saham pada perusahaan industri semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 32
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
II. LANDASAN TEORI
Menurut Tjiptono (2006) Analisis Fundamental merupakan salah satu cara melakukan penilaian saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator terkait kondisi mikro ekonomi dan kondisi industri suatu perusahaan, termasuk berbagai indikator keuangan dan manajemen perusahaan. 1. Menurut Fred Weston dalam (Kasmir,2014), Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Fungsi lain rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan (likuiditas badan usaha) maupun didalam perusahaan (likuiditas perusahaan). 2. Menurut Kasmir (2008), rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya dapat dikatakan pula rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan. 3. Menurut Syafri (2008), Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. 4. Menurut Wachowicz (2005), Rasio Leverage adalah rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. 5. Menurut Hanafi (2004), rasio pasar adalah mengukur harga pasar saham perusahaan
Return saham adalah tingkat pengembalian yang dinikmati oleh pemodal (investor) atas suatu investasi yang dilakukannya.
Menurut Jogiyanto (2000), sumber return investasi terdiri dari dua komponen utama, yaitu : 1. Capital gain (loss) merupakan keuntungan (kerugian)
bagi investor yang diperoleh dari kelebihan harga jual (harga beli) diatas harga beli (harga jual) yang keduanya terjadi dipasar sekunder.
2. Yield merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik. Misalnya berupa deviden atau bunga. Yield dinyatakan dalam persentase dari modal yang ditanamkan.
GAMBAR 1. Kerangka Berpikir
III. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti, kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penelitian manusia. Sedangkan empiris berarti cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara yang digunakannya. Sistematis adalah proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah bersifat logis.
Variabel yang diteliti. Variabel operasional yang penulis teliti dalam
pembuatan skripsi ini terdiri dari 2 variabel yaitu: a. Variabel bebas (independent variable)
Adapun variabel bebas pada penelitian ini terdiri dari: 1. Rasio Likuiditas
Menurut Fred Weston dalam (Kasmir,2014) Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
2. Rasio Aktivitas Menurut Kasmir (2008), rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya dapat dikatakan pula rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 33
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
3. Rasio Profitabilitas Menurut Syafri (2008), Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya.
4. Rasio Leverage Menurut Wachowicz (2005), Rasio Leverage adalah rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang
5. Rasio Pasar Menurut Hanafi (2004), rasio pasar adalah mengukur harga pasar saham perusahaan, relatif terhadap nilai bukunya
b. Variabel terikat (dependent variable) Variabel terikat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Return saham (Y). Return saham adalah tingkat pengembalian yang dinikmati oleh pemodal (investor) atas suatu investasi yang dilakukannya
Teknik Pengumpulan Data Ada 2 jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diambil dari buku, jurnal, makalah, penelitian terdahulu dan situs internet yang berhubungan dengan tema penelitian ini. Sedangkan data kuantitatif berupa angka- angka yang terdapat pada laporan keuangan auditan pada perusahaan industri semen yang telah dipublikasikan melalui website Bursa Efek Indonesia di www.idx.co.id.
Diambilnya data di Bursa Efek Indonesia sebagai sumber pengambilan data dengan alasan bahwa data yang telah dipublikasikan tersebut sudah resmi, lengkap dengan pengauditannya dan data yang dibutuhkan lebih akurat.
Teknik Pengolahan dan Analisis Data Dalam analisis ini adalah berupa dokumentasi yang
didapat dari perusahaan industri semen dengan menggunakan Analisis Fundamental yang tediri dari : 1. Rasio Likuditas
Dalam Penelitian ini Rasio Likuiditas yang digunakan adalah Perhitungan Current Ratio.
2. Rasio Aktivitas Dalam penelitian ini rasio aktivitas yang digunakan adalah perhitungan Total Asset Turn Over.
3. Rasio Profitabilitas Dalam penelitian ini rasio profitabilitas yang digunakan adalah perhitungan Return on Asset, Return On Equity, Operating Profit Margin, dan Net Profit Margin.
4. Rasio Leverage Dalam penelitian ini Rasio Leverage yang digunakan adalah Perhitungan Debt to Total Asset Ratio dan Debt to Equity Ratio.
5. Rasio Pasar Dalam Penelitian ini rasio pasar yang digunakan adalah perhitungan Earning Per Share.
6. Return Saham Dalam penelitian ini return saham yang digunakan adalah return realisasi.
IV. PEMBAHASAN
adalah Current ratio. Current Ratio (CR): Current ratio digunakan untuk
mengetahui sejauh mana aktiva lancar perusahaan digunakan untuk melunasi hutang (kewajiban) lancar yang akan jatuh tempo atau segera dibayar.
TABEL 2. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Current Ratio (CR) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Total
Current Asset
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, Current Ratio yang dimiliki PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) pada tahun 2011 Current Ratio adalah sebesar
698,21%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh Aset lancar sebesar Rp 6,98,-
2) Tahun 2012 menurun menjadi 602,76%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh Aset lancar sebesar Rp 6,02,- Hal ini disebabkan oleh penurunan aktiva lancar. Penurunan aktiva lancar dikarenakan penurunan pada kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain dan aset lancar lainnya. Sedangkan penurunan kewajiban lancar dikarenakan menurunya hutang lain-lain dan hutang pajak.
3) Dan di tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 614,81%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh aset lancar sebesar Rp 6,14,-. Hal ini dikarenakan kenaikan total aset lancar dan total hutang lancar. Kenaikan aset lancar disebabkan meningkatnya kas dan setara kas, piutang usaha pihak ketiga, biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya dibanding tahun 2014. sedangkan kenaikan total kewajiban lancar disebabkan meningkatnya hutang usaha pihak ketiga dan hutang pajak dibandingkan tahun sebelumnya.
4) Pada Tahun 2014 Current Ratio PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., menurun menjadi 493,39%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh aset lancar sebesar Rp 4,93,-. Hal ini disebabkan oleh penurunan aktiva lancar. Penurunan aktiva lancar dikarenakan penurunan pada kas dan setara kas dan juga persediaan. Sedangkan kenaikan kewajiban lancar dikarenakan meningkatnya hutang usaha, hutang lain-lain, biaya yang masih harus dibayar, pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo.
5) Pada Tahun 2015 Current Ratio PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., juga menurun menjadi 488,65%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh aset lancar sebesar Rp 4,48,-. Hal ini disebabkan
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 34
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
oleh penurunan aktiva lancar lebih besar dibandingkan kewajiban lancar. Menurunnya aktiva lancar dikarenakan menurunnya kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, uang muka dan jaminan, pajak dibayar dimuka, dan biaya dibayar dimuka.
Rasio Aktivitas Dalam penelitian ini rasio aktivitas yang digunakan
adalah Total Asset Turn Over. Total Asset Turn Over (TATO): Total Asset Turn
Over digunakan untuk membandingkan antara penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam suatu periode tertentu.
TABEL 3. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Total Asset Turn Over (TATO) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Penjualan Total Asset Total Asset Turn Over
(kali) 2011 13.887.892 18.151.331 0,76 2012 17.290.337 22.755.160 0,75 2013 18.691.286 26.607.241 0,70 2014 19.996.264 28.884.635 0,69 2015 17.798.055 27.638.360 0,64
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, Total Asset Turn Over PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Tahun 2011 perputaran Total aset perusahaan dalam
setahun sebesar 0,76 kali (76%). Ini menunjukkan banyaknya penjualan yang diperoleh perusahaan untuk tiap Rp 1,- yang ditanamkan pada aset perusahaan adalah sebesar Rp 0,76 jadi dengan total aset Rp 1.000.000,- dapat memperoleh penjualan sebesar Rp 7.600,-
2) Pada tahun 2012, dalam 1 tahun perputaran aset total sebesar 0,75 kali (75%). yang berarti untuk Rp 1,- total aset perusahaan dapat menghasilkan penjualan sebesar 75%. Hal ini menunjukkan penurunan 1% karena kenaikan penjualan lebih rendah daripada kenaikan aset pada tahun tersebut.
3) Pada tahun 2013, perputaran aset total sebesar 0,70 kali (70%). yang berarti untuk Rp 1,- total aset perusahaan dapat menghasilkan penjualan sebesar 70%. Hal ini menunjukkan penurunan 5% karena kenaikan penjualan lebih rendah daripada kenaikan aset pada tahun tersebut.
4) Ditahun 2014 perputaran total aset menurun menjadi 0,69 kali (69%) karena adanya peningkatan nilai aset lancar dan tidak lancar yang disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain serta pajak yang dibayar dimuka. kenaikan total asset tersebut lebih tinggi daripada kenaikan nilai penjualan sehingga untuk Rp 1,- total aset perusahaan hanya mampu memperoleh penjualan sebesar Rp 69,-
5) Pada tahun 2015 perputaran aset juga menurun sebesar 5% yakni sebesar 0,64 kali (64%), sehingga untuk Rp 1,- total aset perusahaan hanya mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 64,-. Penurunan perputaran disebabkan peningkatan total aset.
Kenaikan total aset ini dikarenakan adanya kenaikan pendapatan.
Rasio Profitabilitas Dalam penelitian ini rasio profitabilitas yang
digunakan adalah Return On Asset, Return on Equity, Operating Profit Margin dan Net Profit Margin.
Return On Asset (ROA): Return On Asset digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih dengan menggunakan seluruh total asset yang dimilikinya.
TABEL 4. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Perkembangan Return On Asset (ROA)
Dalam Jutaan Rupiah
2011 3.601.516 18.151.331 19,84 2012 4.763.388 22.755.160 20,93 2013 5.012.294 26.607.241 18,83 2014 5.293.416 28.884.635 18,32 2015 4.356.661 27.638.360 15,76
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, tingkat pengembalian dari aset yang dimiliki PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 tingkat pengembalian aset (ROA)
adalah sebesar 19,84%. Hal ini menunjukkan setiap Rupiah aktiva (aset) yang dipergunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bersih bagi perusahaan sebesar Rp 0,19,-.
2) Di tahun 2012 tingkat pengembalian aset meningkat sebesar 1,09% yakni nilai ROA menjadi 20,93% sehingga dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,20,-. Kenaikan ini terjadi karena peningkatan laba bersih pada tahun 2012 lebih tinggi daripada peningkatan total aset.
3) Dan tahun 2013 tingkat pengembalian aset (ROA) menurun menjadi 18,83%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,18,- penurunan 2,1% ini diakibatkan terjadinya kenaikan total asset yang lebih tinggi daripada kenaikan laba bersih pada tahun tersebut.
4) Dan tahun 2014 tingkat pengembalian aset (ROA) menurun menjadi 18,32%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,18,- penurunan 0,51% ini diakibatkan terjadinya kenaikan total asset yang lebih tinggi daripada kenaikan laba bersih pada tahun tersebut.
5) Namun di tahun 2015 terjadi penurunan yang cukup signifikan terhadap ROA menjadi 15,76%. sehingga dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan hanya dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,15,-. Penurunan 2,56% ini terjadi karena nilai total asset PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., yang timbul tahun 2015 menurun lebih kecil dibanding total aset.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 35
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
Return On Equity (ROE): Return On Equity digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntunganbagi seluruh pemegang saham.
TABEL 5. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Return On Equity (ROE) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net Income
2011 3.601.516 15.733.951 22,89 2012 4.763.388 19.518.738 24,40 2013 5.012.294 22.977.687 21,81 2014 5.293.416 24.577.013 21,53 2015 4.356.661 23.865.950 18,25
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 PT Indocement Tunggal Prakarsa,
Tbk., memiliki persentase Return on Equity sebesar 22,89%. Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri perusahaan menghasilkan laba bersih Rp 0,22,-.
2) Pada tahun 2012 return on equity meningkat menjadi 24,40%. Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,24,-. Terjadinya peningkatan karena perusahaan mengalami kenaikan laba bersih lebih tinggi daripada kenaikan nilai ekuitas.
3) Pada tahun 2013 return on equity menurun sebesar 21,81%. Yang artinya Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba bersih Rp 0,21,-. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan kenaikan laba bersih yang terjadi lebih kecil daripada kenaikan ekuitas.
4) Di Tahun 2014 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., hanya mampu menghasilkan laba dari modal yang dimiliki sebesar 21,53%. Dapat dilihat bahwa sebenarnya perusahaan mengalami laba bersih yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, namun kenaikan laba bersih ini diikuti juga dengan kenaikan nilai ekuitas yang cukup tinggi sehingga Return On Equity PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 0,28%.
5) Dan ditahun 2015 terus mengalami penurunan sebesar 18,25%. Menurunnya ROE disebabkan laba bersih dan ekuitas mengalami penurunan tetapi persentase penurunan laba bersih lebih besar. Dalam hal ini berarti perusahaan tersebut tidak mampu memaksimalkan sumber dayanya (ekuitas) untuk mencetak profit yang besar.
Operating Profit Margin (OPM): Operating Profit Margin digunakan untuk menunjukkan kontribusi penjualan terhadap laba bersih yang dihasilkan. Semakin besar rasio ini semakin baik.
TABEL 6. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Operating Profit Margin (OPM) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Laba
Operasi Penjualan
(%) 2011 4.418.025 13.887.892 31,81 2012 5.876.742 17.290.337 33,98 2013 6.064.100 18.691.286 32,44 2014 6.000.869 19.996.264 30,00 2015 5.056.930 17.798.055 28,41
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, Operating Profit Margin (OPM) PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 Operating Profit Margin PT
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., sebesar 31,81%. Berarti dengan Rp 1,- penjualan menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,31,-.
2) Pada tahun 2012 terjadi peningkatan penjualan sebesar 2,17%. Sehingga dapat menghasilkan laba operasi sebesar 33,98%. ini menunjukkan pada tahun tersebut kenaikan laba operasi perusahaan lebih tinggi daripada kenaikan nilai penjualan dengan demikian penjualan senilai Rp 1,- dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 0,33,-.
3) Pada tahun 2013 OPM menurun sebesar 1,54% menjadi 32,44% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi lebih tinggi dari pada penurunan nilai penjualan. Hal ini terjadi karena meningkatnya jumlah laba operasi dan penjualan. Meningkatnya laba operasi disebabkan karena meningkatnya beban operasi lain.
4) Pada tahun 2014 Operating profit margin menurun 2,44% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi dan meningkatnya penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 30,00% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,30. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
5) Pada tahun 2015 Operating profit margin menurun 1,59% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi dan menurunnya penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 28,41% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,28. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
Net Profit Margin (NPM): Net Profit Margin digunakan untuk menunjukkan kontribusi penjualan terhadap laba bersih yang dihasilkan. Semakin besar rasio ini semakin baik.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 36
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
TABEL 7. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Net Profit Margin (NPM) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net
Income Penjualan
2011 3.601.516 13.887.892 25,93 2012 4.763.388 17.290.337 27,54 2013 5.012.294 18.691.286 26,81 2014 5.293.416 19.996.264 26,47 2015 4.356.661 17.798.055 24,47
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan di atas, Net Profit Margin (NPM) PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 Net Profit Margin (NPM) PT
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., memperoleh laba bersih sebesar 25,93%. Berarti dengan Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,25.
2) Pada 2012 Laba bersih meningkat menjadi 27,54%. Peningkatan sebesar 1,61% Hal ini menunjukkan pada tahun tersebut kenaikan laba bersih perusahaan lebih tinggi daripada kenaikan nilai penjualan, sehingga dengan penjualan Rp 1,- dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 0,27. Kenaikan laba bersih disebabkan karena meningkatnya penjualan.
3) Pada tahun 2013 menurun 0,73% hal ini terjadi karena penurunan laba bersih dan meningkatnya penjualan. Peningkatan laba bersih lebih kecil daripada peningkatan penjualan. Meningkatnya laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. Sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 26,81% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,26.
4) Di tahun 2014 menurun 0,34% Hal ini terjadi karena penurunan laba bersih dan meningkatnya penjualan. peningkatan laba bersih dan penjualan. Meningkatnya laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 26,47% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,26.
5) Dan di tahun 2015 terus menurun 2% Hal ini terjadi karena penurunan laba bersih dan penjualan. Penurunan laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 24,47% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,24.
Rasio Leverage Dalam penelitian ini rasio Leverage yang digunakan
adalah Debt to Total Asset Ratio dan Debt to Equity Ratio.
Debt to Total Asset Ratio (DAR): Debt to Total Asset Ratio digunakan untuk mengukur jumlah persentase dari Jumlah hutang terhadap jumlah asset perusahaan.
TABEL 8. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Debt to Total Asset Ratio (DAR) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Total
Asset Ratio (%) 2011 2.417.380 18.151.331 13,31 2012 3.336.422 22.755.160 14,66 2013 3.629.554 26.607.241 13,64 2014 4.307.622 28.884.635 14,91 2015 3.772.410 27.638.360 13,64
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, Debt to total Asset Ratio PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 Debt To Total Asset Ratio sebesar
13,31%. Berarti setiap Rp 1,- Aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,13.
2) Pada tahun 2012 Meningkat 1,35 menjadi 14,66%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,14,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah total aktiva lebih besar dibanding peningkatan total hutang. meningkatnya total hutang disebabkan karena meningkatnya hutang usaha pihak ketiga dan hutang lain-lain.
3) Pada tahun 2013 menurun 1,02% menjadi 13,64%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,13,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total aktiva disebabkan meningkatnya jumlah piutang dan aset tetap.
4) Pada tahun 2014 meningkat 1,27% menjadi 14,91%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,14,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih besar dibanding total hutang, meningkatnya total Aktiva disebabkan meningkatnya jumlah piutang dan aset tetap.
5) Dan ditahun 2015 menurun 1,27% menjadi 13,64%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,13,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total aktiva disebabkan meningkatnya jumlah kas dan setara kas, piutang usaha pihak ketiga dan jumlah tagihan pengembalian pajak.
Debt to Equity Ratio (DER): Debt to Equity Ratio digunakan untuk mengukur jumlah persentase dari Jumlah hutang terhadap jumlah modal perusahaan.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 37
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
TABEL 9. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Debt to Equity Ratio (DER) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Total
2011 2.417.380 15.733.951 15,36 2012 3.336.422 19.418.738 17,18 2013 3.629.554 22.977.687 15,79 2014 4.307.622 24.577.013 17,52 2015 3.772.410 23.865.950 15,80
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, debt to equity ratio PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 debt to equity ratio sebesar 15,36%.
Berarti setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,15,-
2) Pada tahun 2012 meningkat 1,82% menjadi 17,18%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,17,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih besar dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha, hutang lain-lain, biaya masih harus dibayar, pinjaman jangka pendek, hutang sewa dan pinjaman jangka panjang.
3) Tahun 2013 menurun 1,39% menjadi 15,79%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,15,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah ekuitas lebih besar dibanding total hutang. Meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya jumlah saldo laba.
4) Di tahun 2014 meningkat 1,73% menjadi 17,52%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,17,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih kecil dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha pihak ketiga, hutang lain- lain, biaya masih harus dibayar, pinjaman bank dan pinjaman jangka panjang.
5) Dan ditahun 2015 Debt to equity ratio menurun 1,72% menjadi 15,80%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,15,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih besar dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha pihak ketiga, hutang pajak.
Rasio Pasar Dalam penelitian ini rasio Pasar yang digunakan
adalah Earning Per Share. Earning Per Share (EPS): Earning Per Share
digunakan untuk menunjukkan berapa besar kemampuan perlembar saham dalam menghasilkan laba.
TABEL 10. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Earning Per Share (EPS) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net
2011 3.601.516 3.681.231 97,83 2012 4.763.388 3.681.231 129,39 2013 5.012.294 3.681.231 136,15 2014 5.293.416 3.681.231 143,79 2015 4.356.661 3.681.231 118,34
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Earning Per Share PT Indocement
Tunggal Prakarsa, Tbk., sebesar 97,83%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh laba bersih senilai Rp 0,97,-.
2) Pada tahun 2012 meningkat menjadi 129,39%. Ha ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih Rp 1,29,-. Meningkatnya nilai EPS disebabkan meningkatnya nilai laba bersih tetapi nilai jumlah saham beredar tetap.
3) Pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi 136,15%. Hal ini disebabkan meningkatnya laba bersih tetapi nilai jumlah saham beredar tetap, dengan demikian setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih sebesar Rp 1,36,-
4) Di tahun 2014 juga mengalami kenaikan menjadi 143,79%. Hal ini terjadi karena meningkatnya laba bersih dan jumlah saham beredar tetap. Kenaikan laba bersih disebabkan meningkatnya penjualan dan pendapatan keuangan serta menurunnya biaya keuangan. Sehingga setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih senilai Rp 1,43,-
5) Dan ditahun 2015 Earning Per Share mengalami penurunan menjadi 118,34%. Yang berarti setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh jumlah laba bersih sebesar Rp 1,18,-. Hal ini terjadi karena pada tahun 2014 ke tahun 2015 jumlah laba bersih mengalami penurunan sedangkan nilai jumlah saham beredar tetap. Dalam hal ini berarti perusahaan tidak mampu menghasilkan kenaikan laba bersih, sehingga investor memperoleh keuntungan laba perlembar saham yang menurun.
Return Saham Retur yang digunakan dalam penelitian ini adalah
return realisasi atau sering disebut dengan actual return. Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 38
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
TABEL 11. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Perkembangan Return Saham
Return Saham
2011 17.050 15.950 0,06 2012 22.450 17.050 0,31 2013 20.000 22.450 -0,10 2014 25.000 20.000 0,25 2015 22.325 25.000 -0,10
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 return saham PT Indocement
Tunggal Prakarsa, Tbk., sebesar 0,06. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu
2) Di tahun 2012 meningkat menjadi 0,31. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu.
3) Pada tahun 2013 return saham mengalami penurunan menjadi -0,10. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih kecil dibanding periode lalu.
4) Di tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 0,25. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu.
5) Dan ditahun 2015 mengalami penurunan sebesar - 0,10. Hal ini terjadi karena besarnya harga saham periode lalu dibandingkan periode sekarang. Semakin besar return saham (tingkat pengembalian) maka akan menarik perhatian investor untuk berinvestasi.
TABEL 12. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Current Ratio (CR) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Total Asset
2011 2.468.172 1.683.799 146,58 2012 2.186.797 1.556.875 140,46 2013 2.085.055 3.262.054 63,91 2014 2.290.696 3.807.545 60,16 2015 2.581.774 3.957.441 65,23
Sumber : Diolah peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, Current ratio PT Holcim Indonesia, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada Tahun 2011 Current Ratio PT Holcim Indonesia,
Tbk., sebesar 146,58%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh Aset lancar sebesar Rp 1,46,-.
2) Pada Tahun 2012 Current Ratio PT Holcim Indonesia, Tbk., menurun menjadi 140,46% Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh Aset lancar sebesar Rp1,40,-. Hal ini disebabkan oleh penurunan aktiva lancar. Penurunan aktiva lancar dikarenakan penurunan pada kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain dan aset lancar lainnya. Sedangkan penurunan kewajiban lancar dikarenakan menurunya hutang lain-lain dan hutang pajak.
3) Pada Tahun 2013 Current Ratio PT Holcim Indonesia, Tbk., menurun menjadi 63,91%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh aset lancar sebesar Rp0,63,- . menjadi 63,91% hal ini disebabkan oleh penurunan aktiva lancar. Penurunan aktiva lancar dikarenakan penurunan pada kas dan setara kas dan juga persediaan. Sedangkan kenaikan kewajiban lancar dikarenakan meningkatnya hutang usaha, hutang lain- lain, biaya yang masih harus dibayar, pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo.
4) Pada Tahun 2014 Current Ratio PT Holcim Indonesia, Tbk., juga menurun menjadi 60,16%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh aset lancar sebesar Rp 0,60,-. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktiva lancar lebih kecil dibandingkan kewajiban lancar. Meningkatnya aktiva lancar dikarenakan meningkatnya jumlah piutang pihak ketiga, piutang lain-lain, persedian, pajak dibayar dimuka dan aset lancar lainnya. Sedangkan kenaikan kewajiban lancar dikarenakan meningkatnya hutang usaha, hutang lain-lain, hutang pajak, biaya yang masih harus dibayar, pinjaman bank, dan hutang sewa pembiayaan jatuh tempo dalam satu tahun.
5) Dan di tahun 2015 mengalami kenaikan menjadi 65,23%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh aset lancar sebesar Rp 0,65,-. Hal ini dikarenakan kenaikan total aset lancar dan total hutang lancar. Kenaikan aset lancar disebabkan meningkatnya kas dan setara kas, piutang usaha pihak ketiga, biaya dibayar dimuka dan aset lancar lainnya dibanding tahun 2014. Sedangkan kenaikan total kewajiban lancar disebabkan meningkatnya hutang usaha pihak ketiga dan hutang pajak dibandingkan tahun sebelumnya.
TABEL 13. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Total Asset Turn Over (TATO) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Penjualan Total Aktiva Total Asset Turn Over
(Kali) 2011 7.523.964 10.950.501 0,68 2012 9.011.076 12.168.517 0,74 2013 9.686.262 14.894.990 0,65 2014 10.528.723 17.528.723 0,61 2015 9.239.022 17.321.565 0,53
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, Total Asset Turn Over PT Holcim Indonesia, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada Tahun 2011 perputaran Total aset perusahaan
dalam setahun sebesar 0,68 kali (68%). Ini menunjukkan banyaknya penjualan yang diperoleh perusahaan untuk setiap Rp 1,- yang ditanamkan pada aset perusahaan adalah sebesar Rp 0,68. jadi dengan total aset Rp 1.000.000,- dapat memperoleh penjualan sebesar Rp 6.800,-
2) Pada tahun 2012, dalam 1 tahun perputaran aset total sebesar 0,74 kali (74%). yang berarti untuk Rp 1,- total aset perusahaan dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp74,-. Hal ini menunjukkan peningkatan 6%
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 39
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
karena kenaikan penjualan lebih besar daripada kenaikan aset pada tahun tersebut.
3) Pada tahun 2013, perputaran aset total sebesar 0,65 kali (65%). yang berarti untuk Rp 1,- total aset perusahaan dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp 65,. Hal ini menunjukkan penurunan 9% karena kenaikan penjualan lebih rendah daripada kenaikan aset pada tahun tersebut.
4) Ditahun 2014 perputaran total aset menurun menjadi 0,61 kali (61%) karena adanya peningkatan nilai aset lancar dan tidak lancar yang disebabkan oleh kenaikan piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan dan pajak yang dibayar dimuka serta aset tetap. Kenaikan total asset tersebut lebih tinggi daripada kenaikan nilai penjualan sehingga untuk Rp 1,- total aset perusahaan hanya mampu memperoleh penjualan sebesar Rp 61,-
5) Pada tahun 2015 perputaran aset juga menurun sebesar 8% yakni sebesar 0,53 kali (53%), sehingga untuk Rp 1,- total aset perusahaan hanya mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 53,-. Penurunan perputaran disebabkan penurunan total aset lebih rendah dibanding penurunan penjualan.
TABEL 14. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Return On Asset (ROA) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net Income Total
Aktiva Return On Asset (%)
2011 1.063.560 10.950.501 9,71 2012 1.350.791 12.168.517 11,10 2013 952.305 14.894.990 6,39 2014 668.869 17.195.352 3,88
2015 199.488 17.321.565 1,15 Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, tingkat pengembalian dari aset yang dimiliki PT Holcim Indonesia, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 tingkat pengembalian aset (ROA)
adalah sebesar 9,71%. Hal ini menunjukkan dari setiap rupiah aktiva (aset) yang dipergunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bersih bagi perusahaan sebesar 0,09.
2) Pada tahun 2012 kemampuan PT Holcim Indonesia, Tbk., menghasilkan laba bersih mengalami kenaikan 1,39% yakni nilai ROA menjadi 11,10%. Sehingga dengan Rp 1,- aset yang dipergunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,11,- . Kenaikan ini terjadi karena peningkatan laba bersih pada tahun 2012 lebih tinggi dari pada peningkatan total asset
3) Di tahun 2013 tingkat pengembalian aset (ROA) menurun menjadi 6,39%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,06. Penurunan 4,71% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset dan menurunnya laba bersih. Menurunnya laba bersih disebabkan besarnya beban pokok penjualan dan beban usaha seperti beban penjualan, beban distribusi serta beban keuangan dibanding tahun sebelumnya.
4) Pada tahun 2014 tingkat pengembalian aset (ROA) juga menurun menjadi 3,88%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,03. penurunan 2,51% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset dan menurunnya laba bersih. Menurunnya laba bersih disebabkan besarnya beban pokok penjualan, beban usaha seperti beban distribusi, beban penjualan serta beban keuangan dibanding tahun 2013.
5) Dan di tahun 2015 tingkat pengembalian aset (ROA) terus menurun menjadi 1,15%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,01. penurunan 2,73% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset dan menurunnya laba bersih. Menurunnya laba bersih disebabkan besarnya beban pokok penjualan, beban usaha seperti beban distribusi, beban penjualan serta beban keuangan dibanding tahun sebelumnya.
TABEL 15. PT Holcim indonesia Tbk
Perkembangan Return On Equity (ROE) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net
Income Ekuitas
2011 1.063.560 7.527.260 14,12 2012 1.350.791 8.418.056 16,04 2013 952.305 8.772.947 10,85 2014 668.869 8.758.592 7,63 2015 199.488 8.449.857 2,36
Sumber : Diolah peneliti
Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 PT Holcim Indonesia, Tbk.,
memiliki persentase return on equity (ROE) sebesar 14,12%. Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri perusahaan menghasilkan laba usaha Rp 0,14,-.
2) Pada tahun 2012 Return On Equity Meningkat menjadi 16,04%. Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,16,-. Terjadi peningkatan oleh karena perusahaan mengalami kenaikan laba bersih lebih tinggi daripada kenaikan nilai ekuitas.
3) Tahun 2013 Return On Equity menurun menjadi 10,85%. Yang Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,10. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan penurunan laba bersih dan kenaikan nilai ekuitas, meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya pendapatan komprehensif.
4) Tahun 2014 return on equity menurun menjadi 7,63%. Yang Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,07. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan penurunan laba bersih lebih besar dibanding penurunan nilai ekuitas.
5) Dan ditahun 2015 return on equity terus menurun menjadi 2,36%. Yang Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,02. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan penurunan laba bersih lebih besar dibanding penurunan nilai ekuitas.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 40
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
TABEL 16. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Operating Profit Margin (OPM) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Laba
Operasi Penjualan
2011 1.680.045 7.523.964 22,32 2012 2.038.457 9.011.076 22,62 2013 1.848.668 9.686.262 19,08 2014 1.291.965 10.528.723 12,27 2015 909.489 9.239.022 9,84
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Operating Profit Margin (OPM) PT
Holcim Indonesia, Tbk., memperoleh laba operasi sebesar 22,32%. Berarti dengan Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,22,-.
2) Pada tahun 2012 terjadi peningkatan penjualan 0,30% sehingga dapat menghasilkan laba operasi sebesar 22,62%. Ini menunjukkan pada tahun tersebut laba operasi dan penjualan mengalami kenaikan dengan demikian penjualan senilai Rp 1,- dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 0,22.
3) Pada tahun 2013 Operating profit margin menurun 3,56% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi dan meningkatnya penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 19,08% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,19. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
4) Di tahun 2014 Operating profit margin menurun 6,81% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi dan meningkatnya penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 12,27% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,12. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
5) Dan di tahun 2015 Operating profit margin menurun 2,43% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi lebih tinggi dibanding nilai penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 9,84% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,09. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
TABEL 17. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Net Profit Margin (NPM) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net Income Penjualan Net Profit Margin
(%) 2011 1.063.560 7.523.964 14,13 2012 1.350.791 9.011.076 14,99 2013 952.305 9.686.262 9,83 2014 668.869 10.528.723 6,35
2015 199.488 9.239.022 2,15
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Net Profit Margin (NPM) PT Holcim
Indonesia, Tbk., memperoleh laba bersih sebesar 14,13%. Berarti dengan Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,14.
2) Pada 2012 Laba bersih meningkat menjadi 14,99%. peningkatan sebesar 0,86% Hal ini menunjukkan pada tahun tersebut kenaikan laba bersih perusahaan lebih tinggi daripada kenaikan nilai penjualan, sehingga dengan penjualan Rp 1,- dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 0,14. Kenaikan laba bersih disebabkan karena meningkatnya penjualan.
3) Pada tahun 2013 menurun 5,16% hal ini terjadi karena penurunan laba bersih dan meningkatnya penjualan. Penurunan laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. Sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 9,83% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,09.
4) Di tahun 2014 menurun 3,48% Hal ini terjadi karena penurunan laba bersih dan meningkatnya penjualan. Penurunan laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 6,35% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,06.
5) Dan di tahun 2015 terus menurun 4,20% hal ini terjadi karena penurunan laba bersih dan meningkatnya penjualan. Penurunan laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 2,15% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,02.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 41
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
TABEL 18. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Debt to Total Asset Ratio (DAR) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Total
2011 3.423.241 10.950.501 31,26 2012 3.750.461 12.168.517 30,82 2013 6.122.043 14.894.990 41,10 2014 8.436.760 17.195.352 49,06
2015 8.871.708 17.321.565 51,21 Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat dilihat Debt to Total Asset Ratio PT Holcim Indonesia, Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 Debt To Total Asset Ratio sebesar
31,26%. Berarti setiap Rp 1,- Aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,31.
2) Pada tahun 2012 Menurun 0,44 menjadi 30,82%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp0,30,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah total aktiva lebih besar dibanding peningkatan total hutang. Meningkatnya total hutang disebabkan karena meningkatnya hutang usaha pihak ketiga dan hutang lain-lain.
3) Pada tahun 2013 meningkat 10,28% menjadi 41,10%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,41,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total aktiva disebabkan meningkatnya jumlah piutang dan aset tetap.
4) Pada tahun 2014 meningkat 7,95% menjadi 49,06%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,49,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total Aktiva disebabkan meningkatnya jumlah piutang dan aset tetap.
5) Dan ditahun 2015 terus meningkat 2,15% menjadi 51,21%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,51,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total aktiva disebabkan meningkatnya jumlah kas dan setara kas, piutang usaha pihak ketiga dan jumlah tagihan pengembalian pajak.
TABEL 19. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Debt to Equity Ratio (DER) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Total Liabilitas Total
(%) 2011 3.423.241 7.527.260 45,47 2012 3.750.461 8.418.056 44,55 2013 6.122.043 8.772.947 69,78 2014 8.436.760 8.758.592 96,32 2015 8.871.708 8.449.857 104,99
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat dilihat debt to equity ratio PT Holcim Indonesia, Tbk., adalah sebagai berikut :
1) Pada tahun 2011 debt to equity ratio sebesar 45,47%. Berarti setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,45,-
2) Tahun 2012 menurun 0,92% menjadi 44,55%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,44,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah ekuitas lebih besar dibanding total hutang. Meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya jumlah saldo laba.
3) Pada tahun 2013 meningkat 25,23% menjadi 69,78%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,69,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih kecil dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha, hutang lain-lain, biaya masih harus dibayar, pinjaman jangka pendek, hutang sewa dan pinjaman jangka panjang.
4) Di tahun 2014 meningkat 26,54% menjadi 96,32%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,96,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih kecil dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha pihak ketiga, hutang lain- lain, biaya masih harus dibayar, pinjaman bank dan pinjaman jangka panjang.
5) Dan ditahun 2015 Debt to equity ratio terus meningkat 8,67% menjadi 104,99%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 1,04,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih kecil dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha pihak ketiga, hutang pajak.
TABEL 20. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Earning Per Share (EPS) Dalam Jutaan Rupiah
Tahun Net Income Jumlah Saham
Beredar
2011 1.063.560 7.662.900 13,87 2012 1.350.791 7.662.900 17,62 2013 952.305 7.662.900 12,42 2014 668.869 7.662.900 8,72 2015 199.488 7.662.900 2,60
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Earning Per Share PT Holcim
Indonesia, Tbk., sebesar 13,87%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh laba bersih senilai Rp 0,13,-.
2) Pada tahun 2012 meningkat menjadi 17,62%. Ha ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih Rp 0,17,-. Meningkatnya nilai EPS disebabkan meningkatnya nilai laba bersih tetapi nilai jumlah saham beredar tetap.
3) Di tahun 2013 Earning Per Share mengalami penurunan menjadi 12,42%. Yang berarti setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh jumlah laba bersih sebesar Rp 0,12,-. Hal ini terjadi karena pada tahun 2012 ke tahun 2013 jumlah laba bersih mengalami penurunan sedangkan nilai jumlah saham beredar
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 42
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
tetap. Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah beban pokok penjualan, beban usaha, dan menurunnya pendapatan keuangan.
4) Di tahun 2014 juga mengalami penurunan menjadi 8,72%. Hal ini terjadi karena pada tahun 2013 ke tahun 2014 jumlah laba bersih mengalami penurunan sedangkan nilai jumlah saham beredar tetap. Hal ini disebabkan karena menurunnya penjualan dan meningkatnya jumlah beban pokok penjualan, beban usaha. Yang berarti setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh laba bersih sebesar Rp 0,08,-.
5) Dan ditahun 2015 Earning Per Share terus mengalami penurunan menjadi 2,60%. Yang berarti setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh laba bersih sebesar Rp 0,02,-. Hal ini terjadi karena jumlah laba bersih mengalami penurunan sedangkan nilai jumlah saham beredar tetap. Hal ini disebabkan meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha, beban keuangan, dan menurunnya pendapatan keuangan.
TABEL 21. PT Holcim Indonesia Tbk
Perkembangan Return Saham
Return Saham
2011 2.175 2.250 -0,03 2012 2.900 2.175 0,33 2013 2.275 2.900 -0,21 2014 2.185 2.275 -0,03 2015 995 2.185 -0,54
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 return saham PT Holcim Indonesia,
Tbk., sebesar -0,03. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih kecil dibanding periode lalu.
2) Di tahun 2012 meningkat menjadi 0,33. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu.
3) Pada tahun 2013 return saham mengalami penurunan menjadi -0,21. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih kecil dibanding periode lalu.
4) Pada tahun 2014 return saham mengalami penurunan menjadi -0,03. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih kecil dibanding periode lalu.
5) Di tahun 2015 mengalami penurunan sebesar -0,54. Hal ini terjadi karena besarnya harga saham periode lalu dibandingkan periode sekarang. Semakin besar return saham (tingkat pengembalian) maka akan menarik perhatian investor untuk berinvestasi.
TABEL 22. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Perkembangan Current Ratio (CR)
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Total Current
Asset Total Current
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas diketahui Current Ratio PT semen Indonesia (Persero), Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada Tahun 2011 Current Ratio PT Semen Indonesia
(Persero), Tbk., sebesar 264,65%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh Aset tetap sebesar Rp 2,64,-.
2) Pada Tahun 2012 Current Ratio PT Semen Indonesia (Persero), Tbk., menurun menjadi 170,58% Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh Aset tetap sebesar Rp 1,70,-. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktiva lancar lebih kecil dibanding peningkatan kewajiban lancar. Peningkatan aktiva lancar dikarenakan peningkatan pada kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan dan aset lancar lainnya. Sedangkan peningkatan kewajiban lancar dikarenakan meningkatnya hutang Usaha, beban akrual dan hutang pajak.
3) Di tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 220,95%. hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh total aktiva sebesar Rp 2,20,-. Hal ini dikarenakan kenaikan total aset lancar dan total hutang lancar. kenaikan aset lancar disebabkan meningkatnya kas dan setara kas, piutang usaha pihak ketiga, piutang lain-lain, persediaan, uang muka, beban dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka dibanding tahun 2012. Sedangkan kenaikan total kewajiban lancar disebabkan meningkatnya hutang usaha, beban akrual dan pinjaman dibandingkan tahun sebelumnya.
4) Di tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi 32,72%. hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh total aktiva sebesar Rp 1,88,-. Hal ini dikarenakan kenaikan total aset lancar dan total hutang lancar. kenaikan aset lancar disebabkan meningkatnya kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, uang muka, beban dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka dibanding tahun 2012. Sedangkan kenaikan total kewajiban lancar disebabkan meningkatnya hutang usaha, hutang lain-lain, beban yang masih harus dibayar, dan hutang sewa pembiayaan.
5) Pada Tahun 2015 Current Ratio PT Holcim Indonesia, Tbk. menurun menjadi 159,69%. hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- dijamin oleh total aktiva sebesar Rp 1,59,-. hal ini disebabkan oleh peningkatan aktiva lancar lebih kecil daripada hutang lancar. Peningkatan aktiva lancar dikarenakan peningkatan piutang usaha, dan pajak dibayar dimuka. Sedangkan kenaikan kewajiban lancar dikarenakan meningkatnya pinjaman
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 43
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
jangka pendek, hutang usaha, biaya yang masih harus dibayar, utang pajak dan pinjaman bank.
TABEL 23. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Total Asset Turn Over (TATO) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Penjualan Total Asset Total Asset Turn Over
(Kali) 2011 16.378.793.758 19.661.602.767 0,83 2012 19.598.247.884 26.579.083.786 0,73 2013 24.501.240.780 30.792.884.092 0,79 2014 26.987.035.135 34.331.674.737 0,78 2015 26.948.004.471 38.153.118.932 0,70
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas dapat dilihat PT Semen Indonesia (Persero), Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada Tahun 2011 perputaran Total aset perusahaan
dalam setahun sebesar 0,83 kali (83%). ini menunjukkan banyaknya penjualan yang diperoleh perusahaan untuk setiap Rp 1,- yang ditanamkan pada aset perusahaan adalah sebesar Rp0,68. jadi dengan total aset Rp 1.000.,- dapat memperoleh penjualan sebesar Rp 8.300,-
2) Pada tahun 2012, dalam 1 tahun perputaran aset total sebesar 0,73 kali (73%). yang berarti untuk Rp 1,- total aset perusahaan dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp73,-. Hal ini menunjukkan penurunan 10% karena kenaikan penjualan lebih besar daripada kenaikan aset pada tahun tersebut.
3) Pada tahun 2013, perputaran aset total sebesar 0,79 kali (79%). yang berarti untuk Rp 1,- total aset perusahaan dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp 79,. Hal ini menunjukkan peningkatan 6% karena kenaikan penjualan lebih besar daripada kenaikan aset pada tahun tersebut.
4) Ditahun 2014 perputaran total aset menurun menjadi 0,78 kali (78%) karena adanya peningkatan nilai aset lancar dan hutang lancar. Kenaikan aset lancar disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, uang muka investasi, beban yang dibayar dimuka serta aset tetap. Kenaikan total asset tersebut lebih tinggi daripada kenaikan nilai penjualan sehingga untuk Rp 1,- total aset perusahaan hanya mampu memperoleh penjualan sebesar Rp 61,-
5) Pada tahun 2015 perputaran aset juga menurun sebesar 8% yakni sebesar 0,70 kali (70%), sehingga untuk Rp 1,- total aset perusahaan hanya mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 70,-. Penurunan penjualan dan peningkatan total aset.
TABEL 24. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Return On Asset (ROA) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Net Income Total Aktiva Return On Asset (%)
2011 3.955.272.512 19.661.602.767 20,11 2012 4.926.639.847 26.579.083.786 18,53 2013 5.354.298.521 30.792.884.092 17,38 2014 5.567.659.837 34.331.674.737 16,21 2015 4.525.441.038 38.158.118.932 11,85
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, tingkat pengembalian dari aset yang dimiliki PT Semen Indonesia (Persero), Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 tingkat pengembalian aset (ROA)
adalah sebesar 20,11%. Hal ini menunjukkan dari setiap rupiah aktiva (aset) yang dipergunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bersih bagi perusahaan sebesar Rp 0,20.
2) Pada tahun 2012 tingkat pengembalian aset (ROA) menurun menjadi 18,53%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,18. Penurunan 1,58% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset lebih besar dibanding laba bersih. Meningkatnya total aset disebabkan meningkatnya piutang usaha, piutang lain lain persediaan, uang muka, beban dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka.
3) Pada tahun 2013 tingkat pengembalian aset (ROA) juga menurun menjadi 17,38%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp0,17%. Penurunan 1,15% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset lebih besar dibanding laba bersih. Meningkatnya total aset disebabkan meningkatnya kas dan setara kas persediaan, uang muka, beban dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka.
4) Dan di tahun 2014 tingkat pengembalian aset (ROA) menurun menjadi 16,21%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,16. Penurunan 1,17% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset lebih tinggi daripada laba bersih. Meningkatnya total aset disebabkan meningkatnya kas dan setara kas, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, uang muka, beban dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka.
5) Dan di tahun 2015 tingkat pengembalian aset (ROA) terus menurun menjadi 11,85%. Yang berarti dengan Rp 1,- aset yang digunakan untuk operasi perusahaan menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,11. Penurunan 4,36% ini diakibatkan terjadinya peningkatan total aset dan menurunnya laba bersih. Menurunnya laba bersih disebabkan meningkatnya beban pokok penjualan dan beban umum dan administrasi.
TABEL 25. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Return On Equity (ROE) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Net Income Ekuitas Saham
Return On Equity (%)
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 PT Semen Indonesia (Persero), Tbk.,
memiliki persentase return on equity (ROE) sebesar 27,06%. Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri perusahaan menghasilkan laba usaha Rp 0,70,-.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 44
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
2) Pada tahun 2012 Return On Equity Meningkat menjadi 27,12%. Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,27,-. Terjadi peningkatan oleh karena perusahaan mengalami kenaikan laba bersih lebih tinggi daripada kenaikan nilai ekuitas.
3) Tahun 2013 return on equity menurun menjadi 24,55%. Yang Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,24. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan kenaikan laba bersih lebih kecil kenaikan nilai ekuitas, meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya saldo laba.
4) Tahun 2014 return on equity menurun menjadi 22,26%. Yang Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,22. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan kenaikan laba bersih lebih kecil kenaikan nilai ekuitas, meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya saldo laba.
5) Dan ditahun 2015 return on equity terus menurun menjadi 16,49%. Yang Artinya setiap Rp 1,- modal sendiri dapat menghasilkan laba usaha sebesar Rp 0,16. Hal ini menunjukkan penurunan disebabkan penurunan laba bersih dan peningkatan nilai ekuitas. Menurunnya laba bersih disebabkan besarnya beban pokok penjualan, beban umum dan administrasi.
TABEL 26. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Operating Profit Margin (OPM) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Laba Operasi Penjualan
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Operating Profit Margin (OPM) PT
Semen Indonesia (Persero), Tbk., memperoleh laba operasi sebesar 29,86%. Berarti dengan Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,29,-.
2) Pada tahun 2012 terjadi peningkatan penjualan 1,68% sehingga dapat menghasilkan laba operasi sebesar 31,54%. Ini menunjukkan pada tahun tersebut laba operasi dan penjualan mengalami kenaikan dengan demikian penjualan senilai Rp 1,- dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 0,31.
3) Pada tahun 2013 Operating profit margin menurun 3,30% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi dan meningkatnya penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 28,24% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,28. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN
tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
4) Di tahun 2014 Operating profit margin menurun 2,02% dikarenakan meningkatnya laba operasi lebih kecil daripada meningkatnya penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 26,22% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,26. penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
5) Dan di tahun 2015 Operating profit margin menurun 4,51% dikarenakan terjadi penurunan laba operasi lebih tinggi dibanding nilai penjualan sehingga persentase operating profit margin menjadi 21,71% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,21. Penyebab penurunan ini karena beberapa proyek yang berasal dari APBN tertunda pelaksanaannya sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan usaha.
TABEL 27. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Net Profit Margin (NPM) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Net Income Penjualan Net Profit Margin
(%) 2011 3.955.272.512 16.378.793.758 24,14 2012 4.926.639.847 19.598.247.884 25,13 2013 5.354.298.521 24.501.240.780 21,85 2014 5.567.659.837 26.987.035.135 20,63 2015 4.525.441.038 26.948.004.471 16,79
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Net Profit Margin (NPM) PT Semen
Indonesia (Persero), Tbk., memperoleh laba bersih sebesar 24,14%. Berarti dengan Rp 1,- penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,24.
2) Pada 2012 Laba bersih meningkat menjadi 25,13%. peningkatan sebesar 0,99% Hal ini menunjukkan pada tahun tersebut kenaikan laba bersih perusahaan lebih kecil daripada kenaikan nilai penjualan, sehingga dengan penjualan Rp 1,- dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 0,25. Kenaikan laba bersih disebabkan karena meningkatnya penjualan.
3) Pada tahun 2013 menurun 3,28% hal ini terjadi karena peningkatan laba bersih dan penjualan. Peningkatan laba bersih disebabkan karena menurunnya beban pokok penjualan, beban keuangan. Sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 21,85% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,21.
4) Di tahun 2014 menurun 1,22% hal ini terjadi karena peningkatan laba bersih dan meningkatnya penjualan. Meningkatnya laba bersih disebabkan karena menurunnya biaya keuangan dan meningkatnya pendapatan operasi lain. Sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 20,63% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,20.
5) Dan di tahun 2015 terus menurun 3,84% hal ini terjadi karena penurunan laba bersih lebih besar
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 45
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
daripada nilai penjualan. Penurunan laba bersih disebabkan karena meningkatnya beban pokok penjualan, beban usaha distribusi dan penjuala, serta meningkatnya beban keuangan. Sehingga persentase Net Profit Margin Menjadi 16,79% yang berarti dengan Rp 1,- penjualan hanya mampu menghasilkan laba bersih senilai Rp 0,16.
TABEL 28. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Debt to Total Asset Ratio (DAR) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Total Liabilitas Total Asset Debt to Total
Asset Ratio (%) 2011 5.046.505.788 19.661.602.767 25,66 2012 8.414.229.138 26.579.083.786 31,65 2013 8.988.908.217 30.792.884.092 29,19 2014 9.326.744.733 34.331.674.737 27,16 2015 10.712.320.531 38.153.118.932 28,07
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat dilihat Debt to Total Asset Ratio PT Semen Indonesia (Persero), Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 Debt To Total Asset Ratio sebesar
25,66%. Berarti setiap Rp 1,- Aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,25.
2) Pada tahun 2012 meningkat 5,99% menjadi 0,31%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,31,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total aktiva disebabkan meningkatnya jumlah piutang dan aset tetap.
3) Pada tahun 2013 Menurun 2,46 menjadi 29,19%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,29,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah total aktiva lebih besar dibanding peningkatan total hutang. Meningkatnya total hutang disebabkan karena meningkatnya hutang usaha pihak ketiga dan hutang lain-lain.
4) Pada tahun 2014 Menurun 2,03 menjadi 27,16%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,27,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah total aktiva lebih besar dibanding peningkatan total hutang. Meningkatnya total hutang disebabkan karena meningkatnya hutang usaha pihak ketiga dan hutang lain-lain.
5) Dan ditahun 2015 meningkat 0,91% menjadi 28,07%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- aktiva dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,28,-. Ini terjadi karena meningkatnya total aktiva lebih kecil dibanding total hutang, meningkatnya total aktiva disebabkan meningkatnya piutang usaha, dan pajak dibayar dimuka.
TABEL 29. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Debt to Equity Ratio (DER) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Total Liabilitas Total Ekuitas
Debt to Equity Ratio (%)
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat dilihat debt to equity ratio PT Semen Indonesia (Persero), Tbk., adalah sebagai berikut : 1) Pada tahun 2011 debt to equity ratio sebesar 34,52%.
Berarti setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,34,-
2) Pada tahun 2012 meningkat 11,80% menjadi 46,32%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,46,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih kecil dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha, biaya masih harus dibayar, dan hutang pajak.
3) Tahun 2013 menurun 5,10% menjadi 41,22%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,41,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah ekuitas lebih besar dibanding total hutang. Meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya jumlah saldo laba.
4) Pada tahun 2014 menurun 3,93% menjadi 37,29%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,41,-. Ini terjadi karena meningkatnya jumlah ekuitas lebih besar dibanding total hutang. Meningkatnya nilai ekuitas disebabkan meningkatnya jumlah saldo laba.
5) Pada tahun 2015 meningkat 1,74% menjadi 39,03%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- Modal dijamin oleh hutang sebesar Rp 0,39,-. Ini terjadi karena meningkatnya total modal lebih kecil dibandingkan total hutang. Meningkatnya hutang disebabkan meningkatnya hutang usaha, biaya masih harus dibayar, pinjaman jangka pendek, dan hutang pajak.
TABEL 30. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Earning Per Share (EPS) Dalam Ribuan Rupiah
Tahun Net Income Jumlah Saham
Beredar Earning Per Share (%)
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan Perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 Earning Per Share PT Semen
Indonesia (Persero), Tbk., sebesar 66,68%. Hal ini
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 46
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh laba bersih senilai Rp 0,66,-.
2) Pada tahun 2012 meningkat menjadi 83,05%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih Rp 0,83,-. Meningkatnya nilai EPS disebabkan meningkatnya nilai laba bersih tetapi nilai jumlah saham beredar tetap.
3) Pada tahun 2013 meningkat menjadi 90,26%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih Rp 0,90,-. Meningkatnya nilai EPS disebabkan meningkatnya nilai laba bersih tetapi nilai jumlah saham beredar tetap.
4) Pada tahun 2014 meningkat menjadi 93,86%. Hal ini menunjukkan setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin laba bersih Rp 0,93,-. Meningkatnya nilai EPS disebabkan meningkatnya nilai laba bersih tetapi nilai jumlah saham beredar tetap.
5) Di tahun 2015 Earning Per Share mengalami penurunan menjadi 76,29%. Yang berarti setiap Rp 1,- jumlah saham beredar dijamin oleh jumlah laba bersih sebesar Rp 0,76,-. Hal ini terjadi karena pada tahun 2014 ke tahun 2015 jumlah laba bersih mengalami penurunan sedangkan nilai jumlah saham beredar tetap. Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah beban pokok penjualan, beban usaha, dan menurunnya pendapatan keuangan.
TABEL 31. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
Perkembangan Return Saham
Return Saham
2011 11.450 9.450 0,21 2012 15.850 11.450 0,38 2013 14.250 15.850 -0,10 2014 16.200 14.150 0,14 2015 11.400 16.200 -0,29
Sumber : Diolah Peneliti
Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa : 1) Pada tahun 2011 return saham PT Semen Indonesia
(Persero), Tbk., sebesar 0,21. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu.
2) Di tahun 2012 meningkat menjadi 0,38. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu.
3) Pada tahun 2013 return saham mengalami penurunan menjadi -0,10. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih kecil dibanding periode lalu.
4) Pada tahun 2014 return saham mengalami peningkatan menjadi 0,14. Hal ini terjadi karena harga penutupan saham periode sekarang lebih besar dibanding periode lalu.
5) Di tahun 2015 mengalami penurunan sebesar -0,29. Hal ini terjadi karena besarnya harga saham periode lalu dibandingkan periode sekarang. Semakin besar return saham (tingkat pengembalian) maka akan menarik perhatian investor untuk berinvestasi.
V. PENUTUP
mengenai Analisis Fundamental Terhadap Return saham pada perusahaan industri semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015. Maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Berdasarkan analisis fundamental yang terdiri dari
rasio likuiditas dapat diketahui rata-rata Current Ratio adalah sebesar 73,93% Dengan return saham sebesar 0,01
2. Berdasarkan analisis fundamental yang terdiri dari rasio Aktivitas dapat diketahui Rata-rata Total Asset turn over adalah sebesar 0,70 kali. Dengan return saham sebesar 0,01
3. Berdasarkan analisis fundamental yang terdiri dari rasio Profitabilitas dapat diketahui Rata-rata ROA adalah sebesar 3,30%. Dan rata-rata ROE adalah sebesar 4,26%. Dan Rata-rata OPM adalah sebesar 5,59%. dan Rata-rata NPM adalah sebesar 4,27%. Dengan return saham sebesar 0,01
4. Berdasarkan analisis fundamental yang terdiri dari rasio Leverage dapat diketahui rata-rata DAR adalah 4,68%. Dan rata-rata DER adalah sebesar 6,35%. Dengan return saham sebesar 0,01
5. Berdasarkan analisis fundamental yang terdiri dari rasio pasar dapat diketahui rata-rata EPS adalah sebesar 11,88%. Dengan return saham sebesar 0,01
Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas,
penulis ingin mengajukan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Bagi Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar Di
Bursa Efek Indonesia diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan positif terkait dengan permasalahan Analisis Fundamental Terhadap Return saham sehingga mempublikasikan laporan keuangan yang lebih lengkap kepada publik agar peneliti lebih lanjut lebih mudah dalam penelitian.
2. Bagi peneliti selanjutnya diusahakan dengan menggunakan semua perhitungan yang menyangkut analisis fundamental sehingga hasil penelitian lebih akurat.
3. Menambah objek penelitian lebih dari tiga perusahaan sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
1] Arista, Desi. 2012. Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di BEI periode tahun 2005–2009). Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan. Vol. 3, No. 1, Mei 2012.
2] Fandy Tjiptono. Manajemen Jasa. Edisi pertama: Andi: Yogyakarta. 2006.
3] Hanafi, Manajemen Keuangan. BPFE UGM : Yogyakarta. 2004.
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017 ISSN 2354-5682 47
www.stie-ibek.ac.id ©2017, Jurnal Akuntansi Bisnis dan Keuangan STIE-IBEK
4] Harahap, Sofyan Syafri. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. PT Raja Grafindo Persada:Jakarta. 2008.
5] Hartono, Jogiyanto, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, edisi 6, BPFE, Yogyakarta. 2000.
6] Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enny. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Edisi ke tiga. AMP YKPN: Yogyakarta. 2002.
7] Husnan, Suad. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. UPP AMP YKPN: Yogyakarta.2004.
8] Kasmir. Analisis Laporan Keuangan. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.2008.
9] Kasmir. Analisis Laporan Keuangan, Cetakan ketujuh: PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2014.
10] Raharjaputra, Hendra. Manajemen Keuangan dan Akuntansi, Cetakan Pertama: Salemba Empat: Jakarta,2011.
11] Van Horne, James C. and John M. Wachowicz. Fundamentals of Financial: Management Prinsip- Prinsip Manajemen Keuangan. Penerjemah: Dewi Fitriasari dan Deny Arnos Kwary. Penerbit Salemba Empat: Jakarta. 2005.
12] www.idx.co.id
Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015)
JURNAL ILMIAH AKUNTANSI BISNIS DAN KEUANGAN (JIABK), Volume 10, Nomor 2, November 2017
ISSN 2354-5682 47
ENDANG ANJANI
Abstract-This research method using purposive sampling. The sample of this research is the cement industry company listed on Bursa Efek Indonesia consisting of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. The variables used are liquidity ratio, activity ratio, profitability ratio, leverage ratio and market ratio As independent variable and Return of stock as dependent variable which calculated according to its calculation. This research uses quantitative analysis to secondary data.The results of this study indicate that: after the calculation through financial ratio analysis obtained the average value CR of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk at 139,64%. PT Holcim Indonesia is 29,31%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 52,93%. And the average value of TATO PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 0.70 times. PT Holcim Indonesia by 0.64 times. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 0.76 times. And the average value of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ROA of 3,96%. PT Holcim Indonesia by 1,94%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 4,02%. And the average ROE of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 4,57%. PT Holcim Indonesia is 2,82%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,41%. And the average value of OPM of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 6,36%.
PT Holcim Indonesia by 4,46%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,97%. And the average value of NPM of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 5,18%. PT Holcim Indonesia amounted to 2,82%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 4,82%. And the average DAR value of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 2,66%. PT Holcim Indonesia is 6,25%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 5,13%. And the average value of DER of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 3,07%. PT Holcim Indonesia by 9,09%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 6,90%. And the average value of EPS of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk is 19,56%. PT Holcim Indonesia by 2,77%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 13,33%. And the average value of Return of PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk equal to 0,08. PT Holcim Indonesia is -0.09. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk of 0.06.
Keywords: Rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio leverage,rasio pasar dan return saham
I. PENDAHULUAN
Ekonomi dalam era globalisasi saat ini mengalami perubahan yang signifikan. seiring dengan perkembangan teknologi pada saat ini maka dunia usahapun ikut berkembang dan makin banyak perusahaan industri semen yang muncul, terlebih lagi perusahaan yang sudah go public atau terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
TABEL 1.
No
05 Desember 1989
28 Juni 2013
08 Juli 1991
08 April 2014
20 September 2016
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa banyaknya perusahaan industri semen yang sudah go publik membuat persaingan antar perusahaan semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan setiap perusahaan memiliki tujuan untuk mencapai laba semaksimal mungkin atau setinggi-tingginya.
Perusahaan juga harus mampu meningkatkan nilai perusahaan sehingga terjadi peningkatan penjualan sahamnya di pasar modal. Kegiatan pasar modal adalah kegiatan investasi, yaitu kegiatan menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal. Bagi para investor, melalui pasar modal mereka dapat memilih obyek investasi yang tepat dengan beragam tingkat pengembalian dan tingkat risiko yang dihadapi, sedangkan bagi para perusahaan yang menawarkan sahamnya kepada publik (emiten) melalui pasar modal mereka dapat mengumpulkan dana jangka panjang untuk menunjang kelangsungan usaha.
Pada pasar modal pelaku pasar yaitu individu-individu atau badan usaha yang memiliki kelebihan dana (surplus dana) melakukan investasi dalam surat berharga yang ditawarkan oleh emiten. Dana yang didapat dari pasar modal bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain. Selanjutnya pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvetasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksadana dan lain-lain. Dengan begitu maka masyarakat dapat menempatkan dana