Click here to load reader

Be My Perfect One Love Editing

  • View
    622

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Novel

Text of Be My Perfect One Love Editing

  • 1

    Oleh : Angelina Farron

  • 2

    Satu

    Di sebuah taman yang indah. Hanya ada hamparan bunga-bunga yang bermekaran dengan

    indahnya. Langit sangat cerah dan yang terlihat selain bunga-bunga itu adalah sebuah bangku

    panjang di bawah sebuah pohon. Tidak ada siapa-siapa disana. Kecuali seorang cewek yang

    berdiri diantara bunga-bunga itu.

    Seorang cewek berada di tengah-tengah hamparan bunga tersebut. Rambutnya yang

    panjang berkibar diterpa angin yang sepoi. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan di

    sekitarnya yang sangat menawan. Dia terkagum-kagum dengan semua yang dilihatnya. Namun,

    ia bingung, mengapa dia ada di tempat seperti ini?

    Apakah aku sudah mati? tanya cewek itu dalam hatinya. Sementara matanya terus

    melahap pemandangan disekitarnya sampai seorang anak perempuan kecil menghampirinya.

    Kakak,

    Cewek itu menoleh kearah anak kecil itu. Wajah anak itu tampak sangat ceria namun

    seperti dipaksakan. Memakai baju putih berenda. Rambutnya diberi bando seperti mahkota.

    Sangat cantik.

    Kakak kenapa ada disini? tanya anak kecil tersebut, Apa kakak mau tinggal disini?

    Cewek itu mengerutkan kening, Maksud kamu?

    Riska!!!

    Sebuah suara mengalihkan perhatian cewek itu. Ada yang memanggil namanya. Cewek

    bernama Riska itu menoleh ke belakang. Benar. Ada yang memanggil namanya.

    Sesosok tubuh yang memanggilnya tadi berlari menghampirinya. Riska terdiam di

    tempatnya. Anak kecil yang tadi ada di dekatnya tahu-tahu saja menghilang saat Riska melihat

    ke sebelahnya.

    Kemana anak kecil tadi? gumamnya.

  • 3

    Makin lama sosok tubuh itu makin mendekati Riska. Dia menaungi matanya dengan

    sebelah tangan dan menyipitkan mata.

    Siapa itu?

    Riska!!!

    Suara itu seperti dikenal oleh Riska. Riska sangat mengenalnya. Tapi siapa?

    Riska!!!, suara itu memanggil lagi.

    Riska tidak bisa melihat siapa yang memanggilnya karena sinar matahari yang terlalu

    terang. Bahkan tubuhnya seperti teguncang. Atau mungkin tempatnya berdiri sekarang yang

    bergetar?

    ***

    KRIIIIING!!!!

    Riska? Kamu udah bangun, nak? panggil seorang wanita paruh baya didepan sebuah

    pintu kamar bercat biru yang berhiaskan gambar-gambar tokoh kartun anime Jepang seperti

    Inuyasha, Naruto, dan yang lain. Tidak mendapat jawaban dari dalam kamar, si ibu langsung

    memutar kenop pintu dan membukanya. Dilihatnya kasur di samping meja belajar yang tertata

    apik. Dan diatas meja tersebut, jam weker bergambar buah stroberi bergetar dan bersuara sangat

    nyaring. Tapi si pemilik kamar yang masih tergolek nyaman di kasur dan berselimutkan selimut

    putih tebal masih terpejam matanya.

    Ya ampun ini anak kok belum bangun sih??? desah si ibu. Didekatinya kasur didekat

    meja tersebut dan disibaknya selimut yang membungkus tubuh si pemilik kamar.

    Seraut wajah imut milik seorang cewek terlihat kaget karena selimutnya tiba-tiba ditarik.

    Matanya yang sipit dan berwarna coklat terbelalak kaget. Dia langsung terduduk kaget gara-gara

    tadi.

  • 4

    Mama?? ujar cewek itu sambil mengucek matanya, Mama ngapain di kamar

    Riska?

    Ngapain? Ngapain katamu? Kamu mau sekolah nggak, sih? Udah jam berapa nih

    kata Mamanya sambil berkacak pinggang.

    Mendengar ucapan Mamanya, Riska melihat jam weker di meja belajarnya, Haahhh??

    Udah jam segini?? teriaknya.

    Riska menoleh kearah Mamanya, Mama kenapa nggak bangunin Riska dari tadi?

    Kamu sih dibilangin tadi malem jangan tidur terlalu larut tadi udah Mama ketok-

    ketok pintunya. Kamunya masih molor. kata Mamanya membela diri, Udah! Cepetan kamu

    mandi, terus sarapan! Ayo cepetan!!! Nanti telat, loh

    Iya ma bentar lagi Riska udah siap. kata Riska.

    Mamanya lalu keluar dari kamar. Tapi Riska masih duduk dikasurnya. Dia masih

    memikirkan mimpi yang belakangan ini sering mampir ke kepalanya. Riska mencoba mengingat-

    ingat mimpinya. Namun semakin dia berusaha, kepalanya malah pusing.

    Akhirnya, Riska mengabaikan mimpinya dan menganggapnya hanya bunga tidur belaka.

    Riska langsung melompat dari kasurnya dan mengambil handuk. Dan hampir aja dia nyium

    tembok saking buru-burunya.

    ***

    Riska sekarang sudah siap. Dengan seragam putih abu lengkap. Rambutnya yang panjang

    sepinggang di beri jepit rambur dikedua sisinya. Dengan penampilan seperti itu, Riska terlihat

    sangat cantik. Padahal boro-boro dandan, mandi aja dia cuman mandi asal basah.

  • 5

    Nggak sarapan dulu, Ris? Mamamu bikin roti bakar coklat kesukaanmu, loh ujar

    seorang bapak yang sedang membaca Koran di meja makan. Wajahnya tampak tegas dan

    berwibawa.

    Riska melihat kearah ayahnya sambil nyengir. Diambilnya jus jeruk yang tersedia di meja

    makan dan memakan sedikit roti bakarnya, Udah telat, pa! ujarnya disela-sela mengunyah roti.

    Mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat anaknya yang sering terburu-buru,

    Makanya kalo tidur itu jangan malem-malem. Sekarang, kan jadi telat kamu berangkat

    sekolahnya.

    Riska nyengir lagi. Dihabiskannya jus jeruknya sampai tandas dan langsung melesat

    keluar, Aku berangkat dulu ya, pa, ma. Dah!

    Hati-hati di jalan.

    Riska melihat supirnya sudah ada di depan mobil merah yang biasa dia tumpangi sambil

    membersihkan kaca mobil ketika dia keluar. Tapi dia melirik kearah lain. Ada sebuah sepeda

    motor Scoopy di dekat pintu garasi. Itu hadiah ulang tahunnya beberapa bulan lalu.

    Eh, Non Riska, sapa supirnya yang disebut Mang Otong. Dilihatnya majikannya itu

    melirik kearah sepeda motor yang terparkir deket garasi. Non, mau pake mobil ato pake motor

    aja?

    Riska melihat kearah Mang Otong sambil tersenyum, Nggak, ah. Aku mo naik motor

    aja. Kuncinya sama Mang Otong kan?

    Sebagai jawaban, Mang Otong mengeluarkan kunci sepeda motor. Dilemparkannya

    kearah Riska, Nih, non!

    Riska menerima kunci yang dilempar Mang Otong. Thanks, ya Mang!. Riska lalu

    berlari pelan kearah motornya dan langsung menaikinya.

    Non! Pake helmnya! Ntar nabrak trus luka, repot! seru Mang Otong.

    Riska mengambil helm di sebelahnya dan langsung memakainya, Pergi dulu ya, Mang!

    kata Riska sambil menyalakan motornya dan berlalu kearah pintu gerbang.

  • 6

    Dua

    Cuaca kota Palangka Raya hari ini cukup sejuk. Nggak hujan dan nggak panas. Riska emang

    tinggal di kota itu karena ayahnya ditugaskan untuk mengelola perusahaan cabangnya yang dari

    Bandung. Karena Riska males tinggal sendiri alias nge-kos, dia ikut kedua orangtuanya pindah

    ke Palangka Raya. Awalnya dia tidak menyukai suasana kota tersebut. Tapi lama-kelamaan,

    Riska mulai betah tinggal disana karena selain udaranya yang masih belum terlalu tercemar

    polusi, disini banyak tempat-tempat wisata menarik.

    Riska sampai di depan gerbang sekolahnya yang sudah hampir ditutup sama penjaga

    gerbang. Buru-buru Riska berteriak kearah si penjaga gerbang.

    Pak!!! Jangan ditutup dulu!!! kata Riska, mengagetkan si penjaga gerbang yang sudah

    berusia lima puluh tahun itu.

    Haduuhh bapak kira tadi siapa ujar si bapak sambil mengelus dada.

    Riska cuman tersenyum sambil memarkir motornya di parkiran motor khusus siswa-

    siswa disana. SMA 2 atau yang biasa disingkat dengan nama SMADA memang salah satu SMA

    favorit di kota itu. Sewaktu Riska ikut ujian masuk ke SMA itu, banyak juga yang mendaftar.

    Jelas saja, karena itu adalah salah satu SMA favorit selain sekolah-sekolah yang lain.

    Di sekitar SMA tersebut juga ada beberapa SMA dan SMP, juga SD. Bisa dibilang

    sekolah-sekolah tersebut dibilang komplek sekolah. Kadang, di komplek sekolah tersebut juga

    terjadi tawuran walau hanya sesekali. Di dekat SMADA juga ada sebuah lapangan yang bernama

    Sanaman Mantikei yang sebesar lapangan sepak bola. Sekolah-sekolah di sekitar lapangan

    tersebut kadang melakukan jam olahraga disana. Lapangan itu juga sering digunakan untuk

    konser artis atau yang lainnya. Jadi, tidak heran kawasan sekolah tersebut lumayan terkenal.

    Sori, pak nggak sengaja telat. kata Riska.

  • 7

    Makanya kamu jangan suka terlambat bangun pagi ujar si bapak. Riska cuma

    tersenyum singkat. Riska melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

    Udah hampir jam masuk kelas.

    Waduh?! Udah jam segini?. Buru-buru Riska berlari ke dalam dan semoga saja dia

    tidak dihukum karena terlambat.

  • 8

    Tiga

    Saat jam istirahat, Riska diajak oleh teman-temannya (yang sudah akrab) ke kantin.

    Ris, ke kantin nggak? Kita-kita mo ke kantin. ujar salah satu temannya yang berambut

    pendek sebahu. Namanya Sasha.

    Iya bentar dulu dong! Gue masih beres-beres nih kata Riska sambil memasukkan

    buku pelajarannya ke tas.

    Udah, kan? Cepetan sahut temannya yang lain yang berambut panjang berponi.

    Namanya Desi.

    Iya

    Riska lalu berdiri dan langsung menyusul teman-temannya.

    ***

    Eh, lo-lo pada udah dengar gosip kalo si Intan, anak kelas 3IPS2 pacaran ama si Fajar dari kelas

    2IPA3? tanya Sasha sambil menyedot es tehnya dengan sedotan.

    Belom tuh. Emang bener ya? Mereka berdua pacaran? tanya Desi. Riska dan teman-

    temannya udah biasa ngumpul di kantin sekolah. Selain anak-anak laen tentunya.

    Iya kali ya, gue nggak terlalu percaya, ya. Si Intan tuh anaknya alim banget.

    Kayaknya nggak mungkin pacaran ama si Fajar yang jelas-jelas mirip Trouble Maker itu. kata

    ya

Search related