of 18/18
MAKALAH MATA KULIAH IPH 331 PARASITOLOGI VETERINER: ENDOPARASIT Cryptosporidium spp. pada Sapi Kelompok Kodrat Zulfikar Bandoro B04120121 .................. Nur Hana Safitri B04120122 .................. Siti Khunaefah B04120123 .................. Jannatul Ajilah B04120124 .................. Kanti Rahmi Fauziyah B04120125 .................. Sarah Minarni Tampubolon B04120126 .................. Noor Ihsan Anzari Bakhtiar B04120127 ..................

Cryptosporidium Pada Sapi

  • View
    337

  • Download
    41

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Cyrptosporidium sp merupakan parasit protozoa koksidia yang menginfeksi sel epitel saluran pencernaan pada banyak spesies mamalia dan manusia, menyebabkan penyakit kriptosporidiosis, enteritis dan diare.

Text of Cryptosporidium Pada Sapi

MAKALAH

MATA KULIAH IPH 331

PARASITOLOGI VETERINER: ENDOPARASIT

Cryptosporidium spp. pada SapiKelompok

Kodrat Zulfikar BandoroB04120121..................

Nur Hana Safitri

B04120122..................

Siti Khunaefah

B04120123..................

Jannatul Ajilah

B04120124..................

Kanti Rahmi Fauziyah

B04120125..................Sarah Minarni TampubolonB04120126..................

Noor Ihsan Anzari BakhtiarB04120127..................

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2015

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemenuhan protein hewani di Indonesia terutama pada daging sapi yang berguna untuk kebutuhan gizi masyarakat dan pemenuhan pangan. Daging sapi merupakan salah satu jenis pangan yang memiliki kandungan gizi dan protein yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia. Namun ketersediaan daging sapi di dalam negeri cukup terbatas dikarenakan rendahnya populasi sapi yang dimiliki peternak sapi. Ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam penyakit yang dapat menurunkan produk maupun populasi sapi. Terdapat salah satu masalah penyakit yang dihadapi peternak yaitu kriptosporidiosis yang disebabkan oleh parasit Cryptosporodium sp.Cyrptosporidium, Isospora belli, dan Cyclospora merupakan parasit protozoa koksidia yang menginfeksi sel epitel saluran pencernaan pada banyak spesies mamalia dan manusia, menyebabkan enteritis dan diare. Pada mulanya, Cryptosporidium diduga pathogen secara tersendiri pada orang dengan gangguan imun, dan jarang menyebabkan penyakit pada individu imunokompeten. Cryptosporidium sekarang dikenal sebagai protozoa utama yang menyebabkan diare. Cryptosporidium parvum sebagai penyebab diare ringan sampai berat, mulai dari beberapa hari sampai dengan lebih dari satu bulan (Bazeley 2003). Protozoa C. parvum dikenal sebagai parasit obligat intraseluler dan bersifat sangat patogen, dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia (Sreter et al. 2000) dan hewan mamalia seperti sapi, kambing, domba, kuda dan lainnya. Secara klinis, infeksinya ditandai diare, dan dapat kronis pada penderita immunocompromise (Paul dan Nichols 2002).Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui morfologi dan siklus hidup Cryptosporidium sp., infeksi dan patogenesis Cryptosporidium sp pada sapi, serta cara pengendalian yang dapat diterapkan untuk menanggulangi kejadian kriptosporidiosis. TINJAUAN PUSTAKA

TaksonomiKingdom: Protista

Filum: Apicomplexa

Kelas: Conoidasida

Sub Kelas: CoccidiasinaOrdo: Eucoccidiorida

Sub Ordo: Eimeriorina

Famili: Cryptosporidiidae

Genus: Cryptosporidium

(Levine 1985)

Morfologi Dan UkuranParasit ini berbentuk bulat, kecil, tipis dan transparan. Bagian dalam nampak berkilau menyerupai mutiara, memiliki dinding dan kadang nampak adanya sporozoit. Ukuran diameternya bervariasi antara 46 m (Artama 2005).

studydroid.comProtozoa C. parvum dikenal sebagai parasite obligat intraseluler (CDC 2005) dan bersifat sangat patogen, dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia (Sreter et al., 2000; Elon et al., 1994) dan hewan mamalia seperti sapi, kambing, domba, kuda dan lainnya. Secara klinis, infeksinya ditandai diare, dan dapat kronis pada penderita immunocompromise (Paul dan Nichols 2002). Distribusi geografis parasit ini tersebar luas (ubiquitos) dengan vertebrata sebagai inang. Parasit keluar bersama tinja dan mencemari lingkungan dalam bentuk ookista. Ookista yang bersumber dari hewan maupun manusia dapat mengkontaminasi lingkungan secara berlanjut (Grinberg et al. 2002). Ookista bertahan hidup dalam periode waktu cukup lama pada lingkungan buruk, dan air minum. Kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya infeksi secara endemis. Kejadian infeksi C. parvum cukup tinggi menginfeksi bayi, dan anak-anak di negara-negara berkembang (Clinton dan Flanigan 2003). Penularan parasit ini terutama terjadi melalui air minum dan makanan yang terkontaminasi ookista yang infektif. Infeksi terjadi secara langsung melalui tinja, dan masuk melalui oral. Kriptosporidiosis menjadi masalah serius di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa (Hannahs 2004).

Kriptosporidiosis dapat ditularkan melalui air minum ataupun makanan yang terkontaminasi oleh ookista. Air permukaan yang diminum tanpa dimasak seperti air sungai, danau, ataupun menelan air dalam jumlah sedikit ketika berenang, dan air kolam yang sudah diklorinasi juga dapat menularkan kriptosporidiosis. Air permukaan dapat tercemar ookista mencapai 97% sedangkan dengan perlakuan penyaringan mencapai 54%, serta dapat menyebabkan diare mencapai 27,30% (Barbara et al. 2004). Pengelolaan air permukaan yang dialiri kotoran ternak merupakan salah satu resiko potensial menyebarkan C. parvum (Sischo et al. 2000). Parasit juga dapat menyebar melalui makanan yang tidak dimasak, ataupun makanan lainnya yang dicuci dengan air terkontaminasi ookista. Buah-buahan segar yang tidak tercuci ataupun sayuran kemungkinan juga mengandung ookista jika lokasi panen dipergunakan menggembalakan ternaknya (Barbara et al. 2004).

Salah satu faktor penyebab kriptosporidiosis pada pedet adalah adanya kontak langsung dengan lantai yang sebelumnya sudah tercemar C. parvum yang berasal dari ternak dan lingkungan tercemar. Kualitas kolostrum yang bermutu jelek juga merupakan predisposisi terjadinya kriptosporidiosis pada pedet. Penggunaan pupuk kandang untuk tanaman baik di ladang dan sawah merupakan faktor yang dapat menyebarkan kejadian kriptosporidiosis pada pedet (Sischo et al. 2000).

Kriptosporidiosis yang terjadi pada hewan dewasa dapat disebabkan karena adanya autoinfeksi serta sebagai reservoar parasite anthropozoonosis yang berbahaya bagi manusia serta merupakan zoonotik pathogen yang potensial (Merle et al. 2004), dan memungkinkan terjadinya infeksi berlanjut. Pada hewan dewasa infeksi nampak tidak begitu menonjol dibandingkan dengan hewan muda. Hal ini disebabkan adanya peran system kekebalan yang telah terbentuk sehingga kriptosporidiosis dapat terjadi secara asimtomatis yang bisa mencapai 80% (Meloni dan Thomson 1996]).

PEMBAHASANSiklus HidupTahap infeksi dari protozoa ini adalah ookista dengan ukuran 5-7m, yang tahan terhadap kondisi lingkungan. Infeksi terjadi karena ookista masuk dan teringesti ke induk semang yang cocok. Ookista melakukan eksitasi dan mengeluarkan sporozoit infektif yang akan menjadi parasit pada sel epitel terutama dalam saluran pencernaan inang (Pazra 2004).

Ookista yang telah mengalami sporulasi terdiri dari 4 sporozoit dikeluarkan melalui feses organisme yang terinfeksi dan mengalami rute yang lain seperti sekresi lewat pernafasan. Transmisi dari Cryptosporidium parvum dan Cryptosporidium hominis umumnya terjadi melalui kontak dengan air yang telah terkontaminasi. Empat sporozoit dikeluarkan dari tiap ookista, menembus sel sepitel usus dan jaringan yang lain seperti saluran pernafasan. Sporozoit akan berkembang menjadi trophozoit. Kemudian mengalami multiplikasi aseksual (schizogoni atau merogoni) yang menghasilkan meront tipe I. Merozoit yang dihasilkan dari meront tipe I dapat menginfeksi sel dan mengulang kembali siklus aseksual atau menginfeksi sel dan berkembang menjadi meront tipe II. Tiap meront II akan membebaskan 4 buah merozoit. Merozoit tipe II akan berkembang dan mengalami multiplikasi seksual (gametogoni) menghasilkan mikrogamont dan makrogamont. Mikrogamet yang keluar dari mikrogamont akan membuahi makrogamont yang matang dan menghasilkan zigot yang akan berkembang menjadi ookista berdinding tebal dan ookista berdinding tipis. Ookista ini akan bersporulasi (berkembang menjadi sporozoit yang infektif). Keluarnya sporozoit dari ookista berdinding tipis akan menyebabkan autoinfeksi. Sementara ookista yang berdinding tebal akan dikeluarkan melalui feses dan apabila tertelan segera akan menginfeksi inang lainnya (Pazra 2004).Dosis infektif kasus kriptosporidiosis pada manusia adalah kurang dari atau sama dengan 1.000 ookista. Sedangkan pada hewan 1-10 ookista sudah dapat menimbulkan infeksi (Pazra 2004). Mekanisme kriptosporidiosis menyebabkan diare pada manusia karena kegagalan absorbsi dan peningkatan sekresi usus halus. Adhesi/invasi dari sporozoit/merozoit Cryptosporodium parvum ke membran apikal dari sel epitel usus merangsang aktivitas dari beberapa seluler kinase. Invasi seluler juga merangsang sel epitel usus halus untuk memproduksi prostaglanding synthase, IL-8 dan TNF-. Adanya sel polimorfonuklear (oleh IL-8), aktivasi makrofag (oleh TNF-), diproduksinya prostaglandin (oleh prostaglanding synthase) dan perubahan fungsi pertukaran ion (oleh seluler kinase) diperkirakan merangsang sekresi usus untuk merespon infeksi seluler terhadap C. parvum. Invasi seluler juga menghasilkan pendataran dan bersatunya vili usus, merupakan kemungkinan kedua yang terjadi pada infeksi sel di dalam respon immunoseluler. Adanya proses apoptosis sel-sel yang mati pada enteric nervous system juga memberi peranan terhadap patofisiologi diare ini (Pazra 2004).

http://bvetlampung.com/diare-ganas-pada-pedet-sangat-mematikan/PatogenesaFaktor lingkungan yang endemis dapat mendorong terjadinya infeksi pada berbagai tingkat umur. Keadaan lingkungan daerah dataran rendah dan dataran tinggi menyebabkan perkembangan C. parvum berbeda. Prevalensi kriptosporidiosis lebih tinggi di daerah dataran tinggi dibandingkan dataran rendah. Kejadian kriptosporidiosis sangat erat hubungannya dengan kondisi daerah. Kriptosporidiosis lebih tinggi pada periode musim dingin daripada musim panas (Chai et al. 1996 dalam Ran Yu et al. 2004). Ookista C. parvum penyebarannya dipengaruhi pula oleh sifat biologi yang dimiliki. Ookista cukup tahan pada kondisi lembab. Ookista tahan di lingkungan akibat morfologi dindingnya cukup tebal, yang menyebabkan tetap tahan di alam sehingga dikenal dengan hidden spore atau underground spore (Upton 2004). Ookista sangat tahan terhadap disinfektan termasuk pengapuran, tetapi dapat mati pada tempertur 160oF (71oC) melalui pengeringan atau suhu -200C (Barbara et al. 2004). InangHewan yang peka terhadap infeksi Cryptosporidium sp. yaitu sapi, kambing, ayam, tikus, babi, anjing dan kucing, sedangkan hewan yang sangat rentan terhadap infeksi Cryptosporidium sp. yaitu sapi, domba, babi dan kuda. Cryptosporidium sp. juga ditemukan pada spesies primata dan herbivore. Infeksi Cryptosporidium sp. pada sapi dan domba dapat menyebabkan diare (Artama 2015).TransmisiDistribusi geografis parasit ini tersebar luas (ubiquitos) dengan vertebrata sebagai inang. Parasit keluar bersama tinja dan mencemari lingkungan dalam bentuk ookista. Ookista yang bersumber dari hewan maupun manusia dapat mengkontaminasi lingkungan secara berlanjut (Grinberg et al., 2002). Ookista bertahan hidup dalam periode waktu cukup lama pada lingkungan buruk, dan air minum. Kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya infeksi secara endemis. Penularan parasit ini terutama terjadi melalui air minum dan makanan yang terkontaminasi ookista yang infektif. Infeksi terjadi secara langsung melalui tinja, dan masuk melalui oral (Artama, 2005).PenyakitCryptosporidium sp merupakan parasit yang menyebabkan kriptosporidiosis pada sapi. Kriptosporidiosis dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya (zoonosis) (Manalu 2014). Kriptosporidiosis pada pedet kejadiannya mencapai 92% (Faubert dan Litvinsky 2000) dengan menggunakan metode kit komersial immunoflorescent dan acid fast assay untuk pewarnaan ookista. C. parvum umumnya lebih dominan sebagai parasit ternak sapi yang masih muda. Pada hewan yang lebih dewasa dapat menyebabkan infeksi dengan perkembangan yang lambat. Kriptosporidiosis pada sapi setelah melahirkan mencapai 47,50%. Hal ini karena sapi dewasa dianggap sebagai reservoar dan dapat terinfeksi bersifat asimtomatik (Mizic et al. 2002). Daerah peternakan dapat mencapai 55% (Fonseca et al. 2001). Kejadian pada ternak biri-biri umur lebih dari 1 tahun prevalensinya 7,80% (Causape et al. 2002).Kriptosporidiosis yang terjadi pada hewan dewasa dapat disebabkan karena adanya autoinfeksi serta sebagai reservoar parasit anthropozoonosis yang berbahaya bagi manusia serta merupakan zoonotik patogen yang potensial (Merle et al. 2004), dan memungkinkan terjadinya infeksi berlanjut. Pada hewan dewasa infeksi nampak tidak begitu menonjol dibandingkan dengan hewan muda. Hal ini disebabkan adanya peran sistem kekebalan yang telah terbentuk sehingga kriptosporidiosis dapat terjadi secara asimtomatis yang bisa mencapai 80% (Nizeyi et al. 2002).PenularanKriptosporidiosis dapat ditularkan melalui air minum ataupun makanan yang terkontaminasi oleh ookista. Air permukaan yang diminum tanpa dimasak seperti air sungai, danau, ataupun menelan air dalam jumlah sedikit ketika berenang, dan air kolam yang sudah diklorinasi juga dapat menularkan kriptosporidiosis. Air permukaan dapat tercemar ookista mencapai 97% sedangkan dengan perlakuan penyaringan mencapai 54%, serta dapat menyebabkan diare mencapai 27,30% (Barbara et al. 2004). Pengelolaan air permukaan yang dialiri kotoran ternak merupakan salah satu resiko potensial menyebarkan C. parvum (Sischo et al. 2000). Parasit juga dapat menyebar melalui makanan yang tidak dimasak, ataupun makanan lainnya yang dicuci dengan air terkontaminasi ookista. Buah-buahan segar yang tidak tercuci ataupun sayuran kemungkinan juga mengandung ookista jika lokasi panen dipergunakan menggembalakan ternaknya (Barbara et al. 2004).Salah satu faktor penyebab kriptosporidiosis pada pedet adalah adanya kontak langsung dengan lantai yang sebelumnya sudah tercemar C. parvum yang berasal dari ternak dan lingkungan tercemar. Kualitas kolostrum yang bermutu jelek juga merupakan predisposisi terjadinya kriptosporidiosis pada pedet. Penggunaan pupuk kandang untuk tanaman baik di ladang dan sawah merupakan factor yang dapat menyebarkan kejadian kriptosporidiosis pada pedet (Sischo et al. 2000).Kriptosporidiosis mencapai 93,30% terjadi pada sapi di daerah endemik positif ookista C. parvum, dan 91% terjadi pada peternakan (Sischo et al. 2000). Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi C. parvum pada semua tingkat umur adalah akibat tatalaksana peternakan. Perilaku peternak umumnya menggabungkan ternak mereka pada satu kandang. Selain itu belum tertanganinya limbah kotoran ternak secara baik, dan belum adanya bak penampungan untuk menampung kotoran ternak. Penanganan tali pusat setelah kelahiran juga penting untuk pencegahan kriptosporidiosis dengan cara menjaga agar selalu kering dengan pemberian iodine tincture. Jika tali pusat dalam kondisi lembab maka agen infeksius akan masuk ke tubuh. Ketiga, pemberian air susu yang kurang higienis yaitu susu basi, susu mastitis, susu tercemar dari tangan yang kotor, tempat susu kotor, atau tercemar dari lingkungan kandang akan sangat mudah menyebabkan diare. Faktor lainya adalah adaptasi pedet terhadap milk replacer pada masa awal substitusi susu dengan milk replacer (Susilo 2014).Gejala KlinisGejala klinis yang terjadi karena infeksi Cryptosporodium parvum pada pedet dengan periode inkubasi anak sapi 1-4 hari (rata-rata 4 hari), anoreksia (tidak mau makan) , diare , demam , tenesmus (mulas), kejang perut , dan kehilangan berat badan serta dehidrasi. Diagnosa banding penyakit ini adalah Eschericia coli, Salmonella, dan Giardiasis. Umur pedet paling rentan infeksi umur 1 30 hari, dengan mengeluarkan ookista berjumlah 106-107/gram feses. Diare akibat kriptosporidiosis cenderung lebih lama beberapa hari dibandingkan dengan diare yang disebabkan oleh rotavirus, coronavirus, atau enterotoksigenik Escherichia coli. Tinja/feses pada hewan yang menderita kriptosporidiosis berwarna kuning atau lebih pucat dengan konsistensi berair dan berlendir (Susilo 2014).Penderita kriptosporidiosis manifestasi klinisnya dapat bervariasi sesuai dengan status kekebalan inang. Gejala infeksi umumnya ditemukan pada wilayah endemik dan dapat diidentifikasi melalui survey serologis yang dilakukan terhadap suatu populasi. Pada hewan muda kemungkinan peran sistem kekebalan yang masih belum sempurna, jika dibandingkan dengan hewan dewasa. Sehingga infeksi Cryptosporidium pada hewan muda lebih tinggi dibandingkan dengan hewan dewasa (Pazra 2004).

http://ilmuveteriner.com/gejala-klinis-kriptosporidiosis-pada-hewan/PengobatanPengobatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan penggantian cairan yang hilang yaitu dengan pemberian elektrolit hangat. Selanjutnya pengobatan causatif dengan obat anti infeksius berdasar agen infeksinya. Pemberian obat supportif juga sangat membantu cepatnya kesembuhan pada pedet. Lepas dari semua treatment yang dilakukan, kondisi kekebalan tubuh dan faktor pendukungnya (lingkungan, ketersediaan pakan, dan lainnya) menjadi faktor yang paling utama dalam kesembuhan. Hal ini mengingat bahwa pedet dengan immunitas baik akan mampu melawan dari agen infeksi dengan cara self cure (Susilo 2014).KESIMPULANCyrptosporidium sp merupakan parasit protozoa koksidia yang menginfeksi sel epitel saluran pencernaan pada banyak spesies mamalia dan manusia, menyebabkan penyakit kriptosporidiosis, enteritis dan diare. Tahap infeksi dari protozoa ini adalah ookista. Infeksi terjadi karena ookista masuk dan teringesti ke induk semang. Ookista melakukan eksitasi dan mengeluarkan sporozoit infektif yang akan menjadi parasit pada sel epitel terutama dalam saluran pencernaan inang. Pencegahan dan pengendalian penyakit yang terinfeksi oleh Cryptosporidium sp. dapat dilakukan dengan manajemen ternak yang benar terutama pada sanitasi kandang, pemberian pakan dan air minum yang bebas kontaminan serta pembuangan feses yang baik.

DAFTAR PUSTAKAArtama, I Ketut, U. Cahyaningsih dan E. Sudarnika. 2005. Prevalensi Infeksi Cryptosporidium parvum pada Sapi Bali di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi di Kabupaten Karangasem Bali. [terhubung] http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1632%3Asemnas&catid=300%3Asemnas2005&Itemid=1#sthash.0sKWfRvq.dpuf (14 Maret 2015).Barbara, K., dkk. 2004. Cryptosporidium; a Waterborne Pathogen. USDA Water Quality Program, Cornell University Cooperative Extension.Bazeley, K. 2003. Investigation of Diarrhoea in The Neonatal Calf. In Practice.Causape, A.C., dkk. 2002. Prevalence and analisis of potential risk factors for Cryptosporidium parvum infection in lambs in Zagaroza (northeastern Spain). Vet. Parasitol. 104(4): 287298.Centres for Disease Control and Prevention. 2005. Cryptosporidium parvum. Foodborn Pathogenic Microorganism and Natural Toxins Handbook. http://vm.cfsan.fda. gov/mow/chap24.html (14/3/2015).Clinton W and TP Flanigan. 2003. Cryptosporidiosis. Current Treatment Options in Infectious Diseases. 5: 301306.El-On, J.,dkk . 1994. Detection of Cryptosporidium and Giardia intestinalis in Bedouin Children from Southern Israel. International J. Parasitol. 24(3): 409411.Faubert, G.M. and Litvinsky. 2000. Natural Transmission of Cryptosporidium parvum between dams and calves on a dairy farm. J. Parasitol. 86(3): 495500.Fonseca, I.P.D.A., dkk. 2002. Genetic characterizations of Cryptosporidium parvum isolates from cattle in Portugal: animal and human implications. J. Eukaryotic Microbiol. Portugal.Grinberg, A. Marcovics, dkk. 2002. Controlling The Onset of Natural Cryptosporidiosis in Calves with Paromomycin sulphate. Veterinary Record. 151: 606608.Hannahs G. 2004. Cryptosporidium parvum: An Emerging pathogen. Kenyon College. Manalu, Sarah Friska. 2014. Prevalensi infeksi Cryptosporidium sp pada Sapi Potong di Kecamatan Cijulang dan Cimerak, Ciamis, Jawa Barat. [terhubung] URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/66799 (14 Maret 2015).Meloni, B.P. and Thomson R.C.A. 1996. Simplified Method for Obtaining Purified Oocysts from Mice and for Growing Cryptosporidium parvum in vitro. J. Parasitol. 82(5): 757762.Merle, E.O., dkk. 2004. Update on Cryptosporidium and Giardia infections in cattle. Trends in Parasitology. 20(4): 188191.Misic, Z., dkk. 2002. Cryptosporidium infection in weaners, bull calves and postparturient cows in the Belgrade area. Acta Veterinaria (Beograd). 52(1): 3441.Nizeyi, J.B., dkk. 2002. Cattle near the Bwindi Impenetrable National Park, Uganda, as a reservoir of Cryptosporidium parvum and Giardia duodenalis for local Community and freeranging gorillas. Parasitol. Res. 88(4): 380385.Paul, R.H. and G. Nichols. 2002. Epidemiology and Clinical Features of Cryptosporidium Infection in Immunocom-promised Patiens. American Society for Microbiology. Clinical Microbiology Reviews. 15(1): 145154.Ran Yu, J.,dkk. 2004. Prevalence of Cryptosporidiosis among the villagers and domestic animals in several rural areas of Korea. The Korean J. Parasitol. 42(1): 16.Sischo, W.M, dkk. 2000. Cryptosporidia on dairy farms and the role these farms may have in contaminating surface water supplies in th northeastern United States. Preventive Vet. Med. 43: 253267.Sreter, T, dkk. 2000. Morphologic, Host Specificity, and Molecular Characterization of a Hungarian Cryptosporidium meleagridis Isolate. Applied and Environmental Microbiol. 66(2): 735738.Susilo, Joko. 2014. Diare Ganas Pada Pedet Sangat Mematikan. [terhubung] http://bvetlampung.com/diare-ganas-pada-pedet-sangat-mematikan/ (14 Maret).Upton, R.C.A., dkk. 2004. Basic Biology of Cryptosporidium. Division of Biology, Kansas State University. http://www.ksu.edu/parasitology/basicbio. (14 Maret 2015)..