Dialektika Hadis dan Budaya Jawa dalam Pandangan Orang ...e- 1 Dialektika Hadis dan Budaya Jawa dalam

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Dialektika Hadis dan Budaya Jawa dalam Pandangan Orang ...e- 1 Dialektika Hadis dan Budaya Jawa...

  • 1

    Dialektika Hadis dan Budaya Jawa dalam Pandangan Orang Jawa

    Bermanhaj Salaf di Kota Salatiga

    Oleh: Miftachurrif’ah dan Muhammad Irfan Helmy

    IAIN Salatiga Jawa Tengah

    Abstrak:

    Ajaran utama manhaj salaf adalah penerapan Al Qur’an dalam kehidupan

    dan menghidupkan sunnah Nabi (ihyaus sunnah) dalam perilaku keseharian.

    Pada sisi lain beberapa tradisi daur kehidupan khas Jawa, sudah terbudayakan

    dengan pendekatan keislaman. Bertemunya pemikiran purifikasi Islam, dengan

    tradisi Islam orang Jawa ini menarik untuk diteliti; Bagaimana pemikiran orang

    Salafi Jawa tentang implementasi hadis sebagai sumber agama Islam;

    Bagaimana pandangan orang Salafi Jawa terhadap tradisi kehidupan budaya

    masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-hari; Bagaimana cara orang Salafi

    Jawa mengompromikan pandangan Salaf-nya dengan tradisi budaya masyarakat

    di Jawa. Dengan menggunakan pendekatan living hadis, penelitian ini sampai

    kepada kesimpulan; pertama, orang Jawa bermanhaj Salaf sepakat dengan

    kedudukan hadis Nabi sebagai sumber hukum pendamping Al-Qur’an. Mereka

    sepakat menjadikan hadis sebagai tuntunan hidup, dan sebagai contoh

    pengambilan sikap terhadap apa pun, termasuk sikap terhadap masyarakat yang

    dihadapinya. Kedua, pandangan orang Jawa bermanhaj salafi terhadap budaya

    Jawa terbagi dua hal. (1) Pada umumnya ada nilai-nilai budaya Jawa yang

    luhur, dan bersesuaian dengan wahyu Ilahi serta hadis Nabi, yakni budaya-

    budaya lokal seperti sikap ramah tamah, kebiasaan silaturahim, memberi nasihat

    yang baik pada anak keturunan, suka bekerjasama, gugur gunung, menengok

    bayi lahir, dan sebagainya. (2) ada pula sebagian budaya Jawa yang

    mengandung kesyirikan, talbis, atau mencampur adukkan kebaikan dengan

    muatan kepercayaan pra Islam. Ketiga, ada peluang mengkompromikan ajaran

    keislaman yang difahami para penganut manhaj salaf dengan budaya

    masyarakat Jawa yang berkembang di sekitarnya. Mereka bersepakat

    melestarikan budaya baik yang berguna dalam muamalah kemasyarakatan,

    menjunjung tinggi adat kebiasaan masyarakat Jawa yang tidak bertentangan

    dengan ajaran Islam yang diyakini. Seperti unggah ungguh, sopan santun,

    silaturahim di hari raya, dan lain semacamnya. Tapi untuk yang bertentangan

    dengan akidah Islam, maka harus ada perubahan. Meskipun bukan dengan serta

    merta dihapuskan, tetapi masyarakat perlu edukasi mengenainya.

    Kata kunci: Hadis; budaya Jawa; Salaf;

    Pendahuluan

    Gerakan pemurnian Islam berkembang pesat di dunia Timur Tengah,

    dimulai masa akhir abad 18. Kesadaran keterpurukan Islam baik secara syariat

    dan politis dalam waktu lama, telah membangunkan para pemikir keislaman yang

    mengajak kembali kepada purifikasi Islam. Mereka berkeyakinan bahwa

    kejayaan Islam akan kembali saat umat islam kembali pada pedoman Al Qur’an

  • 2

    dan Sunnah. Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim Al Jauziyah, Jamaluddin Al Afghani,

    Rasyid Ridho adalah nama-nama yang populer sebagai penggerak purifikasi

    Islam. Kemudian kolaborasi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dengan

    pemerintahan Ibn Saud di Arab Saudi makin memperkuat percepatan

    perkembangan pemikiran gerakan salaf.

    Pada masa penjajahan Belanda, gerakan ini akhirnya masuk ke Indonesia

    lewat para pelajar Indonesia yang belajar di Makkah. Dari sana muncullah

    semangat pembaharuan Islam dan perlawanan adat, serta peperangan terhadap

    penjajah seperti yang dilakukan kaum Paderi di Sumatera. Ia juga menginspirasi

    pembentukan berbagai organisasi Islam di Indonesia.

    Periode pasca kemerdekaan, penyebaran pemikiran purifikasi Islam neo-

    wahabi atau lebih dikenal dengan manhaj salafi cukup leluasa di Indonesia.

    Pemikiran ini terus dikembangkan dengan melalui lembaga syiar keislaman

    bermanhaj salaf. Pada awalnya, dakwah manhaj salafi dikembangkan melalui

    pengajian-pengajian. Semakin lama semakin berkembang pemahaman di unit

    terkecil ini hingga peserta dan peminat pun makin banyak. Lalu muncullah

    alternatif wasilah dakwah dengan membentuk lembaga formal atau yayasan

    yang mengelola sekolah dan pesantren. (Muh Ali Chozin, 2013)

    Ketika era kertas masih berlangsung, jamaah salafi mengembangkan

    pemikiran purifikasi Islam dengan mencetak buletin-buletin dan majalah. Awal

    pertengahan tahun 1990an ada majalah Salafy, majalah As Sunnah, majalah Al

    Furqon, dan lain sebagainya. Hal ini diikuti pula dengan berdirinya percetakan

    buku-buku manhaj salafi. Media penunjang dakwah manhaj salaf semakin

    berkembang seiring kemajuan media teknologi. Akses dakwah dan informasi

    diperluas dengan menciptakan blog-blog salafi di dunia maya, hingga media

    whatsapp grup. Pendirian stasiun radio, pendirian stasiun televisi, Radio Roja

    Jakarta, Bazz FM di Salatiga, Roja TV, Yufid TV, Insan TV, dan banyak lagi

    yang lainnya.

    Ajaran utama manhaj salaf adalah penerapan Al Qur’an dalam kehidupan

    dan menghidupkan sunnah Nabi (ihyaus sunnah/living hadis) dalam perilaku

    keseharian. Perilaku dan tampilan fisik ditekankan sebagai bagian dari kesadaran

    pemurnian Islam. Berjenggot, bergamis, isbal (celana di atas mata kaki), bercadar

    bagi perempuan, adalah salah satunya. Meluruskan akidah dan menjauhi perkara

    baru yang dianggap bid’ah adalah hal lainnya.

  • 3

    Sebagaimana diketahui, pulau Jawa adalah pulau terpadat di Indonesia, dan

    suku Jawa adalah suku terbesar di nusantara. Islam di Jawa sudah berkembang

    sekian abad berselang oleh Walisongo, dimana dalam penyebaran Islam di pulau

    Jawa ini banyak menggunakan pendekatan budaya. Akulturasi budaya Jawa pada

    khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya dengan syariat Islam

    sedemikian rupa sehingga memunculkan term Islam Nusantara.

    Beberapa tradisi daur kehidupan khas Jawa, sudah terbudayakan dengan

    pendekatan keislaman. Slametan (dari kata salam atau selamat), brokohan (dari

    kata barokah atau berkah), klubanan (dari kata qulub atau hati) misalnya menjadi

    keseharian masyarakat Jawa berkait dengan kelahiran. Begitu juga daur kematian

    yang sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Islam Jawa. Bentuknya antara

    lain yasinan, pengajian tahlilan, baik tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, dan

    sebagainya. Pada dasarnya, lantunan Al Qur’an dan ajaran keislaman menyatu

    dengan budaya Jawa, sehingga pada titik tertentu ada persinggungan Islam dan

    Jawa

    Bertemunya pemikiran purifikasi Islam, dengan tradisi Islam orang Jawa

    ini menarik untuk diteliti. Faktanya, meskipun banyak benturan di sana-sini,

    tetapi manhaj Salafi berhasil berkembang, diterima dan menarik minat orang

    Jawa. Dari latar belakang tersebut, maka peneliti mengajukan beberapa rumusan

    masalah; 1). Bagaimana pemikiran orang Salafi Jawa tentang implementasi hadis

    sebagai sumber agama Islam?; 2). Bagaimana pandangan orang Salafi Jawa

    terhadap tradisi kehidupan budaya masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-

    hari?; 3). Bagaimana cara orang Salafi Jawa mengompromikan pandangan Salaf-

    nya dengan tradisi budaya masyarakat di Jawa?

    Berbagai penelitian tentang jamaah salafi telah dilakukan oleh para peneliti

    dan penulis buku. Baik dengan kata salafi, wahabi, maupun Islam murni. Bahkan

    beberapa memakai istilah Islam radikal yang ujungnya pun tak jauh dari

    pemikiran manhaj salaf yang khas.

    Yudian Wahyudi (ed) pada tahun 2009 telah menerbitkan buku yang

    berupa kumpulan penelitian berbagai gerakan keislaman yang terangkum dalam

    judul Gerakan Wahabi di Indonesia (Dialog dan Kritik). Buku ini menyorot

    secara umum analisis fenomenologis sekaligus telaah genealogi sejarah tentang

    bagaimana gerakan Wahabi termanifestasi ke dalam berbagai bentuk institusi

    pergerakan (harakah) yang bermain di wilayah publik umum di Indonesia.

  • 4

    Dimulai dari masa Padri hingga pelebarannya saat ini di dalam institusi-institusi

    pendidikan, dari pesantren-pesantren di tanah Jawa sampai universitas-universitas

    tertentu di berbagai belahan Indonesia.

    Nur Khalik Ridwan (2004) menyusun karya Agama Borjuis: Kritik atas

    Nalar Islam Murni. Buku ini membahas tentang Islam Murni, satu julukan yang

    disematkan kepada mereka yang memegang jargon kembali kepada Al Qur’an

    dan Hadis secara rigid dan konsekuen. Ia menulis tentang sejarah pemahaman

    keagamaan gerakan pemurnian Islam di Indonesia dengan memakai pisau bedah

    struktur borjuis dan proletar, dimana penulis mengkritisi aliran pemurnian Islam

    sebagai gerakan yang melapangkan jalan bagi kalangan borjuis.

    Islam dan Radikalisme di Indonesia,(2004), adalah buku yang merupakan

    bunga rampai penelitian keagamaan Islam yang mengususng banyak ragam

    gerakan radikal yang merujuk pada gerakan Islam politis yng berkonotasi negatif:

    ekstrim, militan dan non toleran. Termasuk dalam pembahasan buku ini adalah

    Jamaah Salafi yang mana menmbil sampel khusus wilayah Bandung.

    Penelitian tantang jaringan lembaga pendidikan Salafi telah dilakukan oleh

    Suhanah (2012) dengan judul Manhaj Salafi di Indonesia. Sebuah penelitian

    yang berfokus pada