HAND OUT PRAKTEK

Embed Size (px)

Text of HAND OUT PRAKTEK

MATA KULIAH SEMESTER SKS POKOK BAHASAN WAKTU DOSEN

: ASKEB II (PERSALINAN) : III (BD.302) : 4 SKS (T : 1 SKS; P : 3 SKS) : PEMERIKSAAN DALAM DAN AMNIOTOMI : 50 MENIT : RIZKI AMALIA, AM.KEB

OBJEKTIF PERILAKU SISWA Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan tentang PD dan Amniotomi pada ibu bersalin dengan kemajuan persalinan dengan membaca dan berlatih setiap langkah yang terdapat dalam job sheet dan dengan menggunakan alat, bahan dan perlengkapan yang terdapat di laboraturium. BUKU SUMBER 1. JNPK-KR (2009), Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi menyusu dini, Jakarta : JHPIEGO-Dep Kes RI, Hal : 43-57. 2. JNPK-KR (2009), Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal, Jakarta : JHPIEGO-Dep Kes RI, Hal 43-57. 3. Johnson, Ruth (2005). Buku Ajar Praktik Kebidanan, Jakarta : Buku Kedokteran, Hal 201-209.

1

4.

Wiknjosastro, Hanifa (2006). Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Hal 180-193. PENDAHULUAN Periksa Dalam (PD) merupakan pemeriksaan rutin dalam ilmu kebidanan dan

kandungan selain inspeksi (pemeriksaan dari luar). Pada dasarnya pemeriksaan ini dilakukan untuk memantau kehamilan dan kelainan lain pada organ reproduksi, sehingga berbagai risiko atau dampak negatif pada kehamilan yang muncul bisa ditangani. Untuk memantau kehamilan, PD umumnya dilakukan pertama kali pada usia kandungan sekitar 34-36 minggu. Pemeriksaan Dalam dilakukan kembali pada usia kehamilan 38-40 minggu, dan menjelang persalinan. Saat itu, Anda biasanya mulai mengalami mulas secara teratur. Kali ini PD bertujuan untuk memantau atau menilai kemajuan persalinan, besarnya pembukaan mulut rahim, sudah mencapai pembukaan berapa, atau sejauh mana pembukaannya. PD juga dilakukan untuk memantau bagaimana turunnya bagian tubuh janin ke dalam rongga panggul. Bidan juga akan memeriksa kondisi air ketuban, bagaimana selaput ketuban, apakah masih utuh atau sudah pecah. The UK Amniotomy Group (1994) menemukan bahwa persalinan dapat dipercepat dengan melakukan amniotomi. Tetapi tidak boleh dilakukan secara rutin. Amniotomi dilakukan untuk memperbesar pembukaan dan induksi persalinan. Banyak bidan yang tidak melakukan amniotomi kecuali jika ada indikasi khusus; banyak bidan yang menyakini bahwa pecahnya selaput ketuban secara spontan merupakan bagian dari proses persalinan alami.

2

MATERI A. Pemeriksaan per Vaginam/ PD Prinsip-prinsip pemeriksaan per vaginam selama persalinan, yang biasanya disebut sebagai pemeriksaan vagina atau periksa dalam (PD). Hal ini merupakan keterampilan yang penting bagi bidan untuk merawat ibu bersalin. Prosedur ini bersifat intim dan oleh karena itu hanya dilakukan secara sensitif dan hati-hati, tidak hanya itu informasi yang diperoleh dari pemeriksaan ini dapat membantu secara efektif pengkajian perkembangan dan informasi asuhan. Prosedur untuk melakukan amniotomi dan pemasangan elekrode janin. 1. Indikasi Selama persalinan bidan dapat melakukan PD untuk : Memastikan awitan persalinan Mengkaji perkembangan persalinan Menetapkan presentasi dan posisi janin Melakukan pemecahan selaput ketuban Memasang elekrode janin Mengeluarkan prolaps tali pusat setelah ruptur spontan membran pada ibu yang bagian terendah janinnya belum turun ke dasar panggul Memastikan awitan kala II terutama untuk kasus dengan presentasi bokong. 2. Kontraindikasi Bidan tidak boleh melakukan PD pada keadaan :

3

Perdarahan Plasenta previa Ketuban pecah dini Persalinan preterm (PD pertama harus dilakukan oleh dokter kebidanan; bidan dapat melakukan PD berikutnya).

3.

Informasi yang diperoleh melalui PD Genetalia Eksternal Berbagai abnormalitas seperti varices, edema, kutil atau tanda-tanda infeksi harus diperhatikan dengan baik, terutama jaringan perut, terutama jika mengindikasikan riwayat trauma perineum atau mutilasi genetalia wanita. Warna, konsistensi, jumlah dan bau rabas atau perdarahan dari vagina harus dicatat. Cairan amnion akan terlihat jika selaput ketuban sudah pecah.

(gambar 1 : Genetalia Eksterna)

4

Vagina Vagina harus tersa hangat dan lembab, dengan dinding yang lembut. Vagina yang panas dan kering mengindikasikan adanya dehidrasi, infeksi atau obstruksi persalinan. Vagina yang terasa tegang dapat berkaitan dengan rasa takut atau jaringan parut. Adanya varices, sistokel atau rektokel juga harus dicatat. Rektum penuh akan teraba dari dinding vagina bagian belakang.

Serviks Pemeriksaan serviks meliputi posisi, konsistensi, penipisan, dilatasi dan hubungannya dengan presentasi janin. Sebelum persalinan serviks biasanya berada pada posisi sentral atau posterior, keras, belum menipis dengan ostium masih menutup (belum matang). Pada mingguminggu terakhir kehamilan dan awal persalinan, struktur, dan posisi serviks berubah akibat pematangan, teraba tidak keras dan berada pada posisi anterior. Serviks yang terasa lunak dan dapat meregang berkaitan dengan dilatasi yang baik pada ostium uteri, sedangkan serviks yang belum matang pada akhir kehamilan biasanya dapat diikuti dengan persalinan yang lama. Serviks yang tidak matang memerlukan kekuatan uterus tiga sampai empat kali besar daripada serviks yang matang (Burnhill et al, 1962).

5

Serviks yang sesuai dengan bagian terendah janin berkaitan dengan aktivitas uterus yang baik. Sebaliknya, serviks yang belum sesuai dengan bagian terendah janin berkaitan dengan aktivitas uterus yang kurang efisien dan kemajuan persalinan yang lamban. Misalnya, pada Posisi janin oksipito posterior, kepala janin tidak terdorong langsung ke serviks, melainkan ke arah bawah dan depan bagian belakang simfisis pubis yang mengakibatkan menurunya efektifitas kontraksi uterus, dilatasi serviks yang lebih lambat dan persalinan yang lama. Hubungan bagian terendah janin dengan serviks dapat dikaji dengan meraba bagian tersebut. Pada primigravida penipisan biasanya mendahului pembukaan; pada multigravida hal ini terjadi secara simultan. Penipisan dikaji dengan mengukur panjang serviks dan derajat penonjolannya ke dalam vagina. Serviks yang belum menipis teraba panjang dan berbentuk tubuler, dengan ostium tertutup atau dilatasi sebagian. Bila telah terjadi penipisan, serviks menipis, dan teraba lebih pendek, karena segmen uterus bagian bawah mendorongnya ke atas. Penipisan serviks yang sempurna akan teraba menyatu dengan segmen uterus bagian dan tidak menonjol ke dalam vagina. Dilatasi (pembulan) ostium uteri diukur dalam sentimeter, dan dikaji dengan memasukkan satu atau dua jari ke dalam ostium uteri eksternal dan membentangkan kedua jari tersebut untuk mengkaji diameternya. Di awal persalinan, bila pembukaan serviks kurang dari 2

6

cm, biasanya hanya satu jari saja yang dapat dimasukkan. Pada akhir kala I akan lebih mudah memperkirakan pembukaan melalui perabaan terhadap tepi serviks.

(gambar 2 : Pembukaan Serviks)

Selaput janin. Selaput janin yang masih utuh akan teraba sebagai permukaan licin yang menutupi bagian terendah janin. Hal ini mungkin sulit untuk dirasakan, terutama pada awal persalinan, atau bila air ketuban sedikit dan selaput janin melekat pada bagian terndah janin. Bila selaput janin sulit untuk diraba, dapat disalahartikan dengan selaput janin yang sudah pecah. Bila bagian terendah janin tidak pas dengan serviks, selaput janin akan berisi banyak cairan amnion dan menonjol di serviks. Selama kontraksi, tekanan air ketuban akan meningkat dan menyebabkan selaput janin menegang dan akhirnya pecah secara spontan. Hal ini biasanya terjadi lebih cepat jika bagian terendah janin tidak pas dengan serviks. Bila selaput janin teraba utuh

7

tetapi air ketubanya sudah bocor, kemungkinan terjadi robekan selaput janin yang tersembunyi.

(Gambar 3 : Pecahnya Selaput Ketuban)

Presentasi Dalam hubungannya dengan informasi yang diperoleh melalui pemeriksaan abdomen, identifikasi petunjuk bagian terendah janin dapat membantu dalam konfirmasi presentasi janin : Untuk Presentasi kepala teraba rata, bulat dank eras, dan sutura atau fontanel dapat juga teraba. Moulding dapat dikaji berdasarkan derajat tumpang tindih antara tulang-tulang tersebut di ubun-ubun. Untuk presentasi bokong dan wajah akan teraba lembek dan tidak rata. Sekrum dapat teraba sebagai tulang yang keras, dengan anus tertutup. Bila jari pemeriksa masuk ke dalam anus,

8

akan terasa seperti dicengkram. Mekonium segar juga cenderung terdapat di dalam anus. Pada presntasi wajah, tulang dahi dapat teraba, dan jari yang masuk ke dalam mulut akan diisap oleh janin. Bila dicurigai atau dikonfirmasi terjadi presentasi wajah, berhati-hatilah agar tidak mencederai mata janin; pemakaian elektrade janin dank rim obstetric tidak diperbolehkan karena dapat menyebabkan konjugtivis Bila tali pusat teraba, akan teraba juga adanya pulsasi di balik selaput janin, pada keadaan ini selaput janin tidak boleh dirobek karena adanya bahaya prolaps uteri. Tinggi bagian presentasi ditentukan dengan mengkaji jarak antara bagian terendah dengan spina iskiadikus dalam ukuran cm. spina iskiadikus disebut sebagai tingkat 0, dengan bagian yang terendah berada di atasnya (-cm) atau di bawahnya (+cm). spina iskiadikus mungkin sulit untuk diraba; hal ini menyebabkannya menjadi pengukuran yang subjektif. Penting bagi bidan untuk memastikan bahwa titik tersebut merupakan bagian terendah janin yang sedang dikaji dan bukan suksedaneum. Penurunan bagian terendah janin merupakan indicator kemajuan persalinan.

9

(Gambar 4 : Bagian terbawah janin dalam hubungannya dengan spina iskiadika)

Posisi Pada presentasi kepala, identifikasi sutura dan fontanel dapat memastikan posisi dan sikap janin. Sutura sagitalis mudah

diidentifikasi sebagai sutura yang panjang dan lurus; posisinya ditentukan dengan kaitannya dengan panggul ibu, kanan akan teraba bergerak fari kuadran kanan belakang dari panggul ibu menyerong ke ku