Pengolahan Dan Pemanfaatan Limbah Tekstil

  • Published on
    05-Sep-2015

  • View
    53

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Tekstil

Transcript

<p>PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TEKSTIL</p> <p>LAPORAN KUNJUNGAN </p> <p>PT. ARGO PANTES,Tbk</p> <p>Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknologi Bersih TL-5111</p> <p>Oleh :</p> <p>Alfitri Yulharnida (15304027)</p> <p>Nurmayanti Nasution (15304047)</p> <p>Dewi Anggriani (15304055)</p> <p>Frieda A. Hazet (15304071)</p> <p>Hermala Nindya Hapsari (15304083)</p> <p>Karlina (15304087)</p> <p>PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN</p> <p>FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN</p> <p>INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG</p> <p>2007</p> <p>APLIKASI TEKNOLOGI BERSIH DI INDUSTRI TEKSTILLAPORAN KUNJUNGAN STUDI</p> <p>PT AGRO PANTES TANGERANG JAWA BARAT</p> <p>BAB I </p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>Peningkatan kegiatan perekonomian terutama sektor industri senantiasa menim-</p> <p>bulkan dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif tersebut antara lain adalah meningkatnya kesempatan kerja, tingkat ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi secara nasional. Sedangkan dampak negatif adalah menurun-nya kualitas lingkungan yang disebabkan oleh penanganan limbah yang tidak tepat.</p> <p>Pada dasarnya limbah adalah bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam dan atau belum mepunyai nilai ekonomi bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif. Menurut sumber-nya limbah dapat dibagai menjadi tiga yaitu : (a) limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari perumahan, perdagangan, dan rekreasi; (b) limbah industri; dan (c) limbah rembesan dan limpasan air hujan. Sesuai dengan sumbernya maka limbah mempunyai komposisi yang sangat bervariasi bergantung kepada bahan dan proses yang dialami-nya (Sugiharto, 1987).</p> <p>Limbah industri sangat beragam, sesuai dengan jenis industri. Berbagai jenis industri berpotensi mencemari lingkungan diantaranya adalah :</p> <p>1. Industri Tekstil dan kulit Sumber utama limbah B3 pada industri tekstil adalah penggunaan zat warna. Beberapa zat warna dikenal mengandung Cr, seperti senyawa Na2Cr2O7 atau senyawa Na2Cr3o7. Industri batik menggunakan senyawa Naftol yang sangat berbahaya. Senyawa lain dalam kategori B3 adalah H2O2 yang sangat reaktif dan HClO yang bersifat toksik. </p> <p>Beberapa tahap proses pada indusrti kulit yang mneghasilkan limbah B3 antara lain washing, soaking, dehairing, lisneasplatting, bathing, pickling, dan degreasing. Tahap selanjutnya meliputi tanning, shaving, dan polishing. Proses tersebut menggunakan pewarna yang mengandung Cr dan H2SO4. Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk memasukkan industrikulit dalam kategori penghasil limbah B3. </p> <p>2. Pabrik kertas dan percetakan Sumber limbah padat berbahaya di pabrik kertas berasal dari proses pengambilan kmebali (recovery) bahan kimia yang memerlukan stabilisasi sebelum ditimbun. Sumber limbah lainnya ada pada permesinan kertas, pada pembuangan (blow down) boiler dan proses pematangan kertas yang menghasilkan residu beracun. Setelah residu tersebut diolah, dihasilkan konsentrat lumpur beracun. </p> <p>Produk samping proses percetakan yang dianggap berbahaya dan beracun adalah dari limbah cair pencucian rol film, pembersihan mesin, dan pemrosesan film. Proses ini menghasilkan konsentrat lumpur sebesar 1-4 persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri persuratkabaran yang memiliki tiras jutaan eksemplar ternyata memiliki potensi sebagai penghasil limbah B3. </p> <p>3. Industri kimia besar Kelompok industri ini masuk dalam kategori penghasil limbah B3, yang antara lain meliputi pabrik pembuatan resin, pabrik pembuat bahan pengawet kayu, pabrik cat, pabrik tinta, industri gas, pupuk, pestisida, pigmen, dan sabun. </p> <p>Limbah cair pabrik resin yang sudah diolah menghasilkan lumpur beracun sebesar 3-5 persen dari volume limbah cair yang diolah. Pembuatan cat menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku (water-base) maupun zat pelarut (solvent-base). Sedangkan industri tinta menghasilkan limbah terbesar dari dari pembersihan bejana-bejana produksi, baik cairan maupun lumpur pekat. Sementara, timbulnya limbah beracun dari industri pestisida bergantung pada jenis proses pada pabrik tersebut, yaitu apakah ia benar-benar membuat bahan atau hanya memformulasikan saja. </p> <p>Limbah yang langsung dibuang ke perairan tanpa pengolahan terlebih dahulu dapat menyebabkan penurunan kualitas air sungai dengan mekanisme pertumbuhan mikro-organisme yang berlimpah. Meningkatnya jumlah mikroorganisme dapat menyebabkan berkurangnya nilai oksigen terlarut disulfed oxygen (DO), karena sebagian besar oksigen dipakai untuk respirasi mikroorganisme tersebut. Dengan menurunnya DO maka akan mempengaruhi kehidupan ikan dan biota air lainnya. Selain itu, buangan limbah ke perairan juga dapat menimbulkan bau yang tidak enak dan terjadinya eutro-fikasi (Eiger dan Smith, 2002).</p> <p>Masalah pencemaran karena buangan limbah yang tidak dikelola dengan baik seringkali tidak hanya disebabkan oleh industri besar, tetapi juga oleh industri kecil yang seringkali belum mempunyai fasilitas pengolah limbah. Mengingat jumlah industri kecil yang sangat banyak dan lokasi yang menyebar, maka hal ini perlu mendapat perhatian. Sementara untuk industri besar yang sudah dilengkapi fasilitas pengolah limbah dan adanya Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor : KEP 03/MENKLH/II/1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan yang Sudah Beroperasi, seharusnya dapat mengelola limbah yang dihasilkan dengan prosedur yang benar dan bertanggung jawab, namun dalam pelaksanaannya masih sering terjadi pelanggaran.</p> <p>Secara umum pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan cara pengurangan sumber (source reduction), penggunaan kembali (reuse), pemanfaatan (recycling), pengolahan (treatment), dan pembuangan (disposal). Untuk setiap industri pangan, alternatif pengelolaan limbah dapat disesuaikan dengan karakteristik limbah. Pada makalah ini, pendekatan yang digunakan adalah cara pemanfaatan, karena dapat meli-batkan masyarakat sebagai mitra kerja dengan mengingat bahwa dalam upaya pengelolaan lingkungan perlu adanya kerjasama yang baik antara masyarakat, perguru-an tinggi, lembaga penelitian, dan juga pemerintah.</p> <p>SEJARAH PT AGRO PANTESPada tahun 1961 oleh Bapak The Ning King dan Bapak Musa berlokasi di Salatiga Jawa Tengah didirikan PT. Daya Manunggal. Pada tanggal 29 Mei 1972 dibangun kembali pabrik Tenun di Tangerang Jawa Barat PT. Daya Manunggal dengan luas tanah 44.5 Ha dengan kantor pusat di Jl Pintu Kecil no 42 Jakarta</p> <p>Untuk memenuhi kebutuhan benang PT. Daya Manunggal pada tanggal 11 Januari 1975 didirikan / diresmikan PT. Dharma Manunggal ( Pabrik Pemintalan ) di Tangerang. Prospek Pabrik pemintalan sangat baik waktu itu, tanggal 12 Juli 1977 mendirikan pabrik Spinning 2 unit yang bernama PT. Argo Pantes dengan notaris Winanti Wiryomartini,SH Jakarta, kedua unit tersebut diberi nama Argo Pantes 1 dan Argo Pantes 2.</p> <p>Pada tahun 1980 PT. Argo Pantes membangun kembali pabrik Weaving / Pertenunan dan Dyeing Finishing / pencelupan kain ( PT. Argo Pantes 3 dan Argo Pantes 4). Pada tahun 1985 Unit Weaving Daya Manunggal melakukan rekondisi mesin dengan menggunakan mesin Air Jet Loom dan diadakan perubahan dimana PT. Daya Manunggal ( Tenun ) diambil alih oleh PT. Dharma Manunggal, sehingga PT. Dharma Manunggal 1. Produksi benang tenun dan PT Dharma Manunggal 2. Produksi kain grey.</p> <p>Untuk tidak adanya ketergantungan pihak lain, PT. Argo Pantes pada tahun 1987 mendirikan pabrik pencelupan benang di Tangerang. Pada tanggal 31 Mei 1990 PT. Argo Pantes berekspansi dengan mendirikan pabrik baru di Bekasi Jawa Barat di daerah Industrial Town MM 2100 Kavling B II Desa Ganda Mekar Cibitung Bekasi dengan produksi dibidang spinning / pemintalan sebanyak 2 unit produksi, yang saat ini biasa kita sebut Spinning 4 dan Spinning 5.</p> <p>Atas kesepakatan Dewan Komisaris pada tanggal 1 Juni 1990 seluruh aset PT. Dharma Manunggal dipindahkan ke dalam PT. Argo Pantes. PT. Argo Pantes saat ini berkantor pusat di Wisma Argo Manunggal, Jl. Gatot Subroto No 59 Kav 22 Jakarta Selatan.</p> <p>BAB II PEMBAHASAN</p> <p>LIMBAH INDUSTRI TEKSTILAPAKAH LIMBAH TEKSTIL ITU ?Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasil kan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sistesis. </p> <p>Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan. </p> <p>PROSES PEMBUATAN TEKSTIL DI PT AGRO PANTESPABRIK PT. ARGO PANTES Tbk.</p> <p>Proses produksi yang dilakukan PT. Argo Pantes Tbk. meliputi:</p> <p>1. Spinning / Pemintalan 5 pabrik ( Tangerang 3 pabrik &amp; Bekasi 2 pabrik ).</p> <p>2. Weaving / Pertenunan</p> <p>3. Yarn Dyeing / Pencelupan benang.</p> <p>4. Dyeing Finishing / Pencelupan kain</p> <p>5. Encupsulation / Pelapisan serat kain dengan silicon</p> <p>Kapasitas Produksi.</p> <p>A : Spinning/PemintalanTangerang Bekasi</p> <p>1. Spinning jumlah mata spindle 139.680</p> <p>115.770</p> <p>2. Double Twister </p> <p>600</p> <p> 3.000Produksi / bulan ( bale )</p> <p>10.030</p> <p>9.500</p> <p>Tangerang 7.500 bale ( 2006 ).job order.</p> <p>All Cotton 80 %, Blended 20 %</p> <p>B. Weaving / Pertenunan.</p> <p>Jumlah mesin 452 mesin tenun.</p> <p>Kapasitas / bulan 3.8 juta Yards ( 3.5 juta yards ) job order</p> <p>C. Yarn Dyeing / Pencelupan benang.</p> <p>Kapasitas produksi / bulan 200.925 ton.( job order )</p> <p>D. Dyeing Finishing / Pencelupan kain.</p> <p>Kapasitas produksi 4. juta yards.( job order )</p> <p>E. Encupsulation</p> <p>Kapasitas produksi 675.000 yards ( job order )</p> <p>PROSES PEMBUATAN BENANG/PROSES SPINNING</p> <p>PROSES PENCELUPAN BENANG</p> <p>PROSES PENENUNAN SHAPE \* MERGEFORMAT </p> <p>PROSES PENCELUPAN KAIN</p> <p>PENANGANAN LIMBAH DAN APLIKASI TEKNOLOGI BERSIH DI PT AGRO PANTES1. Pada proses penguraian gumpalan saat pembuatan benang menggunakan mesin blowing :</p> <p>Terjadi proses reuse.</p> <p>Kapas-kapas yang berterbangan dikumpulkan dengan alat penyedot (vacuum) yang berada di bagian atap dan lantai serta kapas-kapas yang jatuh ke lantai dikumpulkan dengan cara disapu, kemudian dikembalikan ke dalam proses. Sedangkan, untuk kapas-kapas yang sudah tidak dapat dijadikan bahan baku kembali (terlalu kotor) dimanfaatkan dengan cara dijadikan media tanam jamur.</p> <p>2. Pada mesin free drawing terjadi pengoptimalan proses berupa perangkapan &amp; peregangan. Pada saat terjadi proses tersebut, mesin free drawing menyejajarkan serat dalam sliver sehingga dapat memperbaiki kerataan sliver. Dengan demikian, hasil produksi dapat meningkat dan mengurangi resiko kegagalan pada proses berikutnya.</p> <p>Gambar mesin free drawing</p> <p> Benang-benang hasil produksi yang tidak sesuai standar, dimanfaatkan kembali dengan cara dikembalikan ke proses sebelumnya untuk diperbaiki atau dijadikan kain dengan grade rendah.</p> <p> Kain hasil produksi yang tidak sesuai standar eksport, dimanfaatkan kembali dengan cara dijual ke pasaran dalam negeri contohnya ke pasar tanah abang atau diperbaiki apabila masih memungkinkan.</p> <p> Penggunaan kanji untuk mengoptimalkan proses, agar benang-benang penyusun kain tidak mudah patah. Menghindari atau meminimalkan keperluan untuk melakukan pelunturan (stripping) dan pencelupan ulang (redyeing) karena hal ini akan menambah kebutuhan zat warna, energi, air dan bahan kimia, serta akan menghasilkan limbah dengan volume dan konsentrasi yang lebih besar. </p> <p> Menghindari penambahan shade yang akan menambah kebutuhan biaya zat warna dan energi. </p> <p> PT. Argo Pantes telah melakukan penghematan air serta modifikasi proses dengan cara : selama proses pencelupan kain (Dyeing Finishing) mereka melakukan proses pemasakan (scouring) yang langsung dilanjutkan dengan proses kostisasi atau pemutihan (bleaching) sehingga tidak diperlukan penghilangan NaOH dengan sempurna karena kain diproses lagi dengan NaOH. Alam proses pewarnaan PT. Argo Pantes menggunakan air panas yang mengakibatkan proses berjalan lebih otimal</p> <p>PEMANFAATAN LIMBAHIndustri tekstil tidak banyak menghasilkan banyak limbah padat. Lumpur yang dihasilkan pengolahan limbah secara kimia adalah sumber utama limbah pada pabrik tekstil. Limbah lain yang mungkin perlu ditangani adalah sisa kain, sisa minyak dan lateks. Alternatif pemanfaatan sisa kain adalah dapat digunakan sebagai bahan tas kain yang terdiri dari potongan kain-kain yang tidak terpakai, dapat juga digunakan sebagai isi bantal dan boneka sebagai pengganti dakron.Parameter yang harus diperhatikan dalam pengolahan limbah Tekstil :</p> <p>Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 1998 Tentang : Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri BOD</p> <p> COD</p> <p> TSS</p> <p> Logam Berat</p> <p> pH</p> <p> Warna</p> <p> Temperatur</p> <p>BAB III KESIMPULAN </p> <p>Dari kunjungan yang dilakukan ke PT. Argo Pantes dapat disimpulkan bahwa :</p> <p> PT. Argo Pantes merupakan perusahaan tekstil yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001 dan ISO 14000</p> <p> Sebagai implementasi dari sertifikasi ISO 14000 maka PT. Argo Pantes melakukan beberapa penerapan teknologi bersih dalam proses produksinya Teknologi bersih yang dilakukan adalah proses : reuse, Good House Keeping (tetapi belum menyeluruh), recycle, dan penyimpanan bahan kimia</p> <p> Pelaksanaan teknologi bersih di PT. Argo Pantes belum menyeluruh karena mereka masih menerapkan system end of pipe yaitu dengan adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)</p> <p>Daftar Pustaka:</p> <p> Teknologi Pengendalian Dampak Lingkungan Industri Tekstil. Buku Panduan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1996. Pemanfaatan Limbah Cair dan Padat dari Penyamakan Kulit. Disampaikan pada Raker Pengendalian Pencemaran Air Akibat Limbah Usaha Kecil oleh Dr. Ir. Johny Wahyuadi S., DEA</p> <p> www.harianumumkompas.com Sulistijorini </p> <p>Makalah Falsafah Sains (PPS 702) </p> <p>Program Pasca Sarjana / S3</p> <p>Institut Pertanian Bogor</p> <p>Desember 2003</p> <p>Dosen:</p> <p>Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)</p> <p>Prof Dr Ir Zahrial Coto</p> <p>Vacuum yang diletakkan di lantai</p> <p>++++++++</p> <p>Pemeriksaan kain untuk menentukan grade kain klasifikasi : grade A oke kirim ke pelanggan sedangkan grade B &amp; C ex stock ( tunggu kelanjutan ).</p> <p>Pengepakan kain untuk dikirim ke gudang sesuai kebutuhan permintaan pelanggan.</p> <p>Proses penyempurnaan dengan obat Resin &amp; Softener, setting arah lebar kain. Proses pemampatan kain untuk untuk mendapatkan shrinkage yang diingikan pelanggan.</p> <p>Packing</p> <p>Inspecting</p> <p>Sanforize</p> <p>Resin &amp; Soft</p> <p>VERPACKING</p> <p>FINISHING</p> <p>++++++++</p> <p>Menyususn kain diatas palet dan mendata sesuai dengan jenis maupun grade dari kain tersebut.</p> <p>Melipat dan mendata kain yang sudah selesai di inspecting</p>...

Recommended

View more >