of 100/100
ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN BURSA EFEK JAKARTA DENGAN INDEKS BURSA SAHAM REGIONAL OLEH ANNA MUSTIKAATI H14103095 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM … · ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM ... seperti Foreign Direct Investment (FDI) ... 2.6 Teori Inflasi

  • View
    225

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM … · ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM ... seperti...

ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN BURSA EFEK JAKARTA DENGAN INDEKS

BURSA SAHAM REGIONAL

OLEH ANNA MUSTIKAATI

H14103095

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

RINGKASAN

ANNA MUSTIKAATI. Analisis Keterkaitan Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Jakarta Dengan Indeks Bursa Saham Regional (dibimbing oleh HERMANTO SIREGAR).

Pasar modal memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian

Indonesia, dimana pasar modal berperan sebagai lembaga intermediasi dana dari pihak pemilik dana kepada pihak yang membutuhkan dana. Intermediasi tersebut dapat meningkatkan produktivitas perekonomian melalui aktivitas investasi. Pasar modal merupakan bagian dari perekonomian di banyak negara. Dengan diberlakukannya kebijakan perekonomian terbuka, pasar bebas dan perkembangan teknologi yang pesat, investor akan menjadi mudah mengakses pasar modal di seluruh dunia. Fakta menunjukkan bahwa pasar modal merupakan salah satu indikasi perkembangan perekonomian suatu negara sehingga mengisyaratkan betapa pentingnya pasar modal di suatu negara (Setyastuti, 2004). Sejak dimulainya liberalisasi pasar modal pada tahun 1989 di Indonesia, pasar modal mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada saat pertengahan tahun 1997 terjadi krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia dan telah memberikan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia pada umumnya dan pasar modal pada khususnya. Krisis ekonomi juga menimbulkan contagion effect (efek penularan) terhadap kawasan lain. Adanya efek penularan tersebut menyebabkan terjadinya hubungan atau interaksi pasar modal yang akan membentuk suatu integrasi pasar modal. Pengintegrasian pasar modal menunjukkan bahwa pasar dapat berinteraksi dengan pasar di negara lain. Perkembangan pasar modal dapat dilihat dari salah satu indikator pasar modal yaitu instrumen saham. Perkembangan transaksi harga saham dari tahun ke tahun cenderung meningkat, hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menanamkan investasi di pasar modal semakin besar. Pergerakan saham di Indonesia yaitu IHSG mempunyai keterkaitan dengan pergerakan saham di negara lain. Indonesia dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Hongkong dengan Indeks Hangseng dan Singapura dengan STI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional dan menganalisis besaran faktor-faktor ekonomi tersebut dalam mempengaruhi integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional. Dalam penelitian ini variabel makroekonomi yang digunakan adalah Money Market Rate (MMR) yang merefleksikan tingkat suku bunga dan Consumer Price Index (CPI) yang merefleksikan tingkat inflasi. Untuk melihat keterkaitan bursa saham Indonesia (IHSG) dengan Indeks Bursa Saham Regional penulis hanya menggunakan bursa saham Singapura (STI) dan bursa saham Hongkong (Hangseng) sebagai variabel yang mewakili bursa saham regional. Bursa saham Singapura dan Hongkong adalah bursa saham terdekat dan berpengaruh terhadap bursa saham Indonesia (IHSG). Data penelitian dibatasi mulai Januari tahun 2000 sampai dengan Juni tahun 2006.

Untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan, maka metode yang digunakan adalah metode Vector Autoregression (VAR) yang dilanjutkan dengan metode analisis Vector Error Correction Model (VECM). Hasil estimasi VECM menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, Hangseng, STI, MMR Indonesia dan CPI Singapura signifikan mempengaruhi IHSG. Hal ini mengindikasikan relatif terintegrasinya IHSG dalam jangka pendek dengan Indeks Bursa Saham dan perekonomian Regional. Dalam jangka panjang, Hangseng, STI, MMR Indonesia dan CPI Hongkong signifikan mempengaruhi IHSG, yang mengindikasikan relatif terintegrasinya IHSG dengan Indeks Bursa Saham dan perekonomian Regional. Bursa saham terdekat yang paling besar pengaruhnya terhadap Bursa Efek Jakarta adalah bursa saham Singapura (STI) dan bursa saham Hongkong (Hangseng). Oleh karena itu faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap IHSG adalah STI dan Hangseng. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa fluktuasi IHSG sangat dipengaruhi oleh Hangseng, STI, MMR Indonesia, CPI Singapura dan CPI Hongkong. Oleh karena itu faktor yang paling mungkin dijaga oleh pemerintah Indonesia adalah MMR Indonesia atau tingkat suku bunga Indonesia agar pergerakannya tetap konstan dan tidak berfluktuatif, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor dan pemilik modal terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Untuk pemerintah Indonesia menjaga tingkat suku bunga dengan cara mengendalikan jumlah uang beredar, mengendalikan tingkat inflasi, melakukan koordinasi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter yang jauh lebih baik dengan mengurangi utang luar negeri dan mendorong masuknya FDI. Untuk penelitian lanjutan sebaiknya dimasukkan faktor lain yang dapat mempengaruhi IHSG seperti Foreign Direct Investment (FDI) dan Exchange Rate (Nilai Tukar) sehingga hasil yang didapat lebih baik.

ANALISIS KETERKAITAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN BURSA EFEK JAKARTA DENGAN INDEKS

BURSA SAHAM REGIONAL

Oleh ANNA MUSTIKAATI

H14103095

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh,

Nama Mahasiswa : Anna Mustikaati

Nomor Register Pokok : H14103095

Program Studi : Ilmu Ekonomi

Judul : Analisis Keterkaitan Indeks Harga Saham

Gabungan Bursa Efek Jakarta Dengan Indeks

Bursa Saham Regional

dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian

Bogor

Menyetujui,

Dosen Pembimbing,

Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec NIP. 131 803 656

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi,

Dr. Ir. Rina Oktaviani, M.S. NIP. 131 846 872

Tanggal Kelulusan :

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH

BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH

DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA

PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Juli 2007

Anna Mustikaati H14103095

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Anna Mustikaati lahir pada tanggal 3 Mei 1985 di Bogor,

sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Penulis anak tunggal dari

pasangan Atjeng Mukhlis Syarief dan Nanan Nurdjannah. Jenjang pendidikan

penulis dilalui tanpa hambatan, penulis menamatkan sekolah dasar pada SD Bina

Insani, kemudian melanjutkan ke SLTP Bina Insani dan lulus pada tahun 2000.

Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 2 Bogor dan lulus pada tahun

2003.

Pada tahun 2003 penulis melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih

tinggi. Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi pilihan penulis dengan harapan

besar agar dapat memperoleh ilmu dan mengembangkan pola pikir penulis.

Penulis masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan

diterima sebagai salah satu mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi pada

Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Judul

skripsi ini adalah Analisis Keterkaitan Indeks Harga Saham Gabungan

Bursa Efek Jakarta Dengan Indeks Bursa Saham Regional. Saham adalah

salah satu instrumen pasar modal yang penting bagi perekonomian Indonesia.

Pergerakan saham di Indonesia mempunyai hubungan dengan pergerakan saham

di luar negeri dilihat dari faktor-faktor ekonomi. Karena itu, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan topik ini. Adapun skripsi ini merupakan syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi,

Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah

memberikan bantuan, perhatian, dan dorongan semangat sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Untuk itu, ucapan terima kasih dan

penghargaan penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Dr.Ir. Hermanto Siregar, M.Ec selaku dosen pembimbing skripsi

yang telah memberikan ilmu dan membimbing penulis dengan sabar

dalam proses penyusunan skripsi ini sehingga dapat diselesaikan dengan

baik.

2. Bapak Dr.Ir. Noer Azam Achsani, M.S dan Bapak Syamsul H. Pasaribu,

SE, M.Si selaku dosen penguji utama dan komisi pendidikan, yang telah

memberi saran-saran dan ilmu yang bermanfaat.

3. Bapak Andriansyah, M.Sc yang telah memberikan izin pengambilan data

melalui Bloomberg di BAPEPAM Departemen Keuangan.

4. Kedua orang tua penulis yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Atjeng M. Syarief,

MSAE dan Ibunda Ir. Nanan Nurdjannah, APU atas cinta kasih, kesabaran

dan dorongan serta dukungannya. Terima kasih juga kepada Aji Setyo

Nugroho sekeluarga atas doa dan perhatian yang diberikan selama ini.

5. Sahabat-sahabat tercinta Ionk, DDj Wida, Weni, Ratih, Abah, Yogie,

Wiwit, Mimi, Kakek, temen seperjuangan PS Girie, Nur, Rico, Aga,

teman-teman Undip (Dena, Bowo, Hexos, dll), Dewi, teman-teman KPM

Tika, Tiwie, dll, Echa, Ka Fikri, Mas Suhendy, Mbill, Anita, Beby,

Onye, Amel, Abank, Heny, Bety, Ria, Dp, Lea, Maiva, Jo, Spog, Ao,

Ryan, Nie..(thanx 4 all...), Gilman, Rizal, Dio, Hilman, Gala, Meta, Budie,

dan seluruh teman-teman angkatan 40.

6. Untuk semua keluarga besar Sutakaria, keluarga besar Syarief serta

seluruh keponakanku tercinta.

7. Untuk seluruh anggota tata usaha Departemen Ilmu Ekonomi.

8. Dan yang terakhir untuk anggota keluarga dirumah yang selalu setia Nyi,

Mang Enda, Passha.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih banyak

kekurangan. Dengan kerendahan hati, penulis meminta maaf dan mengharapkan

kritik dan saran yang membangun bagi perbaikan penulis. Semoga hasil dari

skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun semua pihak yang

membutuhkan.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Bogor, Juli 2007

Anna Mustikaati H14103095

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL................................................v

DAFTAR GAMBAR .....................vi

DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. ........vii

I. PENDAHULUAN.......................................................................................1

1.1 Latar Belakang.......................................................................................1

1.2 Perumusan Masalah.............................................................................. 9

1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................10

1.4 Kegunaan Penelitian............................................................................10

1.5 Ruang Lingkup Penelitian...................................................................11

II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................12

2.1 Teori Investasi.....................................................................................12

2.2 Pasar Modal.........................................................................................13

2.2.1 Definisi Pasar Modal.................................................................13

2.2.2 Instrumen Pasar Modal............................................................. 16

2.3 Bursa Efek............................................................................................18

2.4 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)..............................................19

2.5 Teori Tingkat Suku Bunga...................................................................21

2.6 Teori Inflasi..........................................................................................21

2.7 Indeks Harga Konsumen (IHK)...........................................................23

2.8 Hubungan Inflasi, Suku Bunga dengan Harga Saham.........................23

2.9 Globalisasi Ekonomi............................................................................25

2.10 Integrasi Ekonomi..............................................................................26

2.11 Hubungan IHSG dengan Indeks Regional.........................................28

2.12 Tinjauan Penelitian Terdahulu...........................................................30

2.13 Kerangka Pemikiran...........................................................................33

2.14 Hipotesis.............................................................................................35

III. METODE PENELITIAN.................................................................................36

3.1 Jenis dan Sumber Data.........................................................................36

3.2 Metode Analisis Data...........................................................................36

3.2.1 Model Umum Vector Autoregression.......................................39

3.2.2 Uji Stasioneritas........................................................................40

3.2.3 Penetapan Lag Optimum...........41

3.2.4 Uji Kointegrasi..........41

3.2.5 Model Umum Vector Error Correction............42

3.2.6 Variance Decomposition (VD) 43

3.2.7 Impulse Response Function (IRF).44

3.3 Model Penelitian..44

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN............46

4.1 Hasil Estimasi VAR.............46

4.1.1 Kestasioneran Data...46

4.1.2 Penentuan Lag Optimum Menggunakan Akaike

Information Criteria (AIC).......................................................48

4.1.3 Kointegrasi...............................................................................48

4.2 Integrasi Indeks Harga Saham Gabungan Dengan Indeks Bursa

Saham Regional.......................................... 50

4.3 Hasil Estimasi Model Vector Error Correction...................................52

V. KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................................66

5.1. Kesimpulan........................................................................................ 66

5.2. Saran....................................................................................................66

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................68

LAMPIRAN...........................................................................................................71

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Indikator Pasar Modal (Tahun 1995-2003) ........................................................ 4

2. Indeks Harga Saham (Tahun 1996-2006)... 7

3. Data, Satuan, Simbol dan Sumber Data.... 36

4. Uji Stasioneritas.................................................................................................47

5. Perhitungan Akaike Information Criteria..........................................................48

6. Johansen Cointegration Test ........................................................................... 49

7. Hasil Estimasi ECM pada variabel saham (IHSG, Hangseng, STI), tingkat

suku bunga (MMRI, MMRH, MMRS) dan tingkat inflasi (CPII, CPIH, CPIS)

dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang........................................................54

8. Hasil Variance Decomposition (VD) ............................62

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Grafik Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan Periode

Januari 2000 Januari 2006................................................................................2

2. Kerangka Pemikiran ..........................................................................................34

3. Grafik Impulse Response Function (IRF)..........................................................65

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Uji Stasioneritas pada Level ..............................................................................71

2. Uji Stasioneritas pada First Difference ............................................................ 72

3. Penentuan Lag Optimum ...................................................................................74

4. Uji Kestabilan VAR ......75

5. Johansen Cointegration Test Summary .....75

6. Johansen Cointegration Test .....76

7. Correlation Matrix ....77

8. Estimasi Model Vector Error Correction .....78

9. Variance Decomposition (VD) .....81

10. Impulse Response Function (IRF) ...83

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Indonesia cukup pesat dan telah

mengubah pola pikir masyarakat di bidang ekonomi umumnya dan bidang

investasi pada khususnya. Investasi merupakan salah satu indikator yang dapat

mempengaruhi perekonomian di suatu negara. Investasi dapat dikatakan

mempengaruhi perekonomian apabila investasi tersebut digunakan untuk

melakukan pembiayaan pada sektor riil sehingga apabila sektor riil telah

berkembang dengan baik maka output nasional akan meningkat. Pembiayaan

sektor riil dapat dilakukan melalui sektor perbankan dan sektor keuangan lainnya

seperti pasar modal.

Pasar modal memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian

Indonesia, dimana pasar modal berperan sebagai lembaga intermediasi dana dari

pihak pemilik dana kepada pihak yang membutuhkan dana. Intermediasi tersebut

dapat meningkatkan produktivitas perekonomian melalui aktivitas investasi. Pasar

modal merupakan bagian dari perekonomian di banyak negara. Dengan

diberlakukannya kebijakan perekonomian terbuka, pasar bebas dan perkembangan

teknologi yang pesat, investor akan menjadi mudah mengakses pasar modal di

seluruh dunia. Fakta menunjukkan bahwa pasar modal merupakan salah satu

indikasi perkembangan perekonomian suatu negara sehingga mengisyaratkan

betapa pentingnya pasar modal di suatu negara (Setyastuti, 2004).

Sejak dimulainya liberalisasi pasar modal pada tahun 1989 di Indonesia,

pasar modal mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan pasar

modal dapat dilihat dari salah satu indikator pasar modal yaitu instrumen saham.

Apabila harga saham meningkat maka mengindikasikan terjadinya pertumbuhan

yang positif dari pasar modal. Perkembangan positif dari pasar modal akan

meningkatkan sumber modal dalam negeri. Apabila sumber modal dalam negeri

meningkat maka diharapkan tersedia dana untuk melakukan pembangunan

ekonomi sehingga perekonomian dapat berkembang ke arah yang positif.

Perkembangan transaksi saham dari tahun ke tahun cenderung meningkat,

hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menanamkan investasi di

pasar modal semakin besar. Perkembangan IHSG menunjukkan peningkatan

jumlah pemegang saham, nilai perdagangan saham dan dana yang dihimpun dari

saham. Perkembangan IHSG dari tahun 2000 hingga tahun 2006 dapat dilihat

pada (Gambar 1).

Sumber: Bloomberg (2000-2006)

Gambar 1. Grafik Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan Periode Januari 2000 Januari 2006

Grafik Perkembangan IHSG

0200400600800

100012001400160018002000

Jan-00

Jan-01

Jan-02

Jan-03

Jan-04

Jan-05

Jan-06

Periode 2000 - 2006

IHSG IHSG

Saat ini Indonesia mempunyai berbagai hubungan kerjasama baik dalam

bidang ekonomi, politik, sosial, kebudayaan dan keamanan dengan beberapa

negara yang berada di kawasan Asia. Negara Indonesia termasuk ke dalam

anggota ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). Pada saat pertengahan

tahun 1997 terjadi krisis ekonomi mata uang yang melanda kawasan Asia dan

telah memberikan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia pada umumnya

dan pasar modal pada khususnya. Krisis ekonomi mata uang yang melanda

kawasan Asia Tenggara menimbulkan contagion effect (efek penularan) terhadap

kawasan lain.

Ketika mata uang bath Thailand jatuh pada 2 Juli 1997, tidak ada yang

menyangka bahwa peristiwa ini merupakan awal dari terjadinya krisis ekonomi

yang terhebat sejak era Great Depression. Krisis ini menyebar tidak hanya

wilayah Asia tapi juga ke Rusia dan Amerika Latin dan mengancam seluruh

dunia. Selama sepuluh tahun belakangan mata uang bath diperdagangkan di

kisaran 25 per dollar, tapi dalam satu malam merosot tajam kira-kira 25 persen.

Currency speculators pun akhirnya menyebar dan menghantam Malaysia, Korea,

Filipina dan Indonesia.

Secara teoritis karakter penyebaran krisis Asia ini dapat dijelaskan karena

adanya dampak spillover sebagai akibat dari keterkaitan perdagangan (trade

linkages), di mana devaluasi di suatu negara akan berimbas kepada partner

dagangnya. Indonesia sendiri negara yang paling parah terkena dampak krisis.

Pasar modal jatuh dari 80 persen dan nilai tukar rupiah terhadap dollar jatuh 75

persen (Hadi, 2004). Selanjutnya, gejolak di kawasan Asia ini menimbulkan

goncangan di bursa saham Wall Street, New York, AS. Jadi, memang tampak

seperti rentetan persoalan yang meledak secara berurutan dari satu kawasan

menjalar ke kawasan lain.

Di Indonesia, kondisi pasar modal yang sempat mengalami peningkatan

yang pesat juga mengalami penurunan yang diakibatkan oleh krisis tersebut.

Memburuknya kondisi perekonomian pada tahun 1997 dan 1998 telah membawa

dampak berupa penurunan kinerja pada pasar modal Indonesia. Penurunan kinerja

emiten telah membawa akibat berupa kerugian yang dialami oleh sejumlah

investor, sehingga banyak investor yang menarik kembali dananya dari pasar

modal Indonesia. Berdasarkan data pada Tabel 1., dapat dilihat kinerja pasar

modal Indonesia beserta beberapa indikator yang mempengaruhinya.

Tabel 1. Indikator Pasar Modal (Tahun 1995-2003) Tahun IHSG (poin) Nilai Kapitalisasi Pasar

Rp (Milyar) Nilai Perdagangan Saham Rp (Milyar)

1995 513.84 152246.46 32357.501996 637.43 215026.08 75729.891997 401.71 159929.86 120385.171998 398.03 175728.98 99684.701999 676.91 451814.92 147879.992000 416.32 259620.96 122774.762001 392.03 239258.73 97522.822002 424.94 268422.78 120762.782003 691.89 460365.96 125437.61

Sumber : Bursa Efek Jakarta (BEJ)

Tabel 1. menunjukkan nilai kapitalisasi pasar yang mengalami kenaikan

drastis pada tahun 1999 sebesar 157.1 persen dan menghasilkan nilai perdagangan

saham sebesar Rp 147879.99 Milyar. Nilai perdagangan saham dari hasil transaksi

di bursa mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tetapi pada tahun 1997

terjadi penurunan sebesar 9.4 persen dari nilai volume perdagangan sebelumnya.

Hal ini disebabkan pada pertengahan tahun 1997, Indonesia dilanda krisis moneter

sebagai akibat dari krisis keuangan yang terjadi di Thailand. Selain itu pula,

terjadi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 45.77 persen

atau penurunan poin dari 401.71 poin menjadi 398.03 poin. Tetapi setelah itu

aktivitas perdagangan di pasar bursa berangsur-angsur membaik, terlihat dari

tahun 1998 nilai volume perdagangan mengalami peningkatan kembali.

Di negara-negara ASEAN (Indonesia dan Singapura) dan negara Asia

(Hongkong) sistem keuangan didasarkan pada sektor perbankan, adanya krisis ini

mengakibatkan perubahan-perubahan yang cukup rumit. Para pemimpin ASEAN

menempatkan perubahan keuangan sebagai kebijakan ekonomi yang paling utama

dimana yang terjadi di Thailand dengan cepat menularkan kepada negara tetangga

(Hongkong dan Singapura) yang memiliki karakteristik dalam hal pokok

makroekonomi. Penularan tersebut menyebabkan terjadinya hubungan antar pasar

modal dan dapat mengembangkan pasar obligasi ASEAN (Indonesia dan

Singapura) dan pasar obligasi negara Asia (Hongkong). Adanya pengembangan

pasar obligasi negara-negara tersebut dalam pasar uang mengakibatkan besarnya

jumlah aliran modal yang masuk pada wilayah ini. Pasar uang dengan aliran

modal yang besar akan membiayai penanaman modal dalam negeri dalam rangka

menaikkan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut.

Krisis ekonomi mulai terjadi di dalam negeri dan kemudian

membentangkan ke negeri lainnya melalui keuangan dan pasar modal. Hal ini

menunjukkan bahwa telah terjadi interaksi dinamis di antara pasar modal ASEAN

(Indonesia dan Singapura) dan pasar modal negara Asia (Hongkong). Secara

operasional, pengintegrasian pasar modal mengacu pada tingkat bahwa pasar

memungkinkan dan mewajibkan untuk berinteraksi dengan pasar di negara lain

dengan menggunakan semua peluang dan informasi yang tersedia. Integrasi pasar

keuangan global yang terjadi sangat rentan dan mengandung ketidakpastian yang

tinggi. Dengan adanya suatu informasi yang tersedia dan cukup mengenai kondisi

dan pergerakan pasar maka dapat membuat suatu keputusan yang tepat untuk

pasar berintegrasi, sedangkan pengintegrasian pasar uang digambarkan dengan

kaitan dengan saling ketergantungan harga antar pasar.

Di negara-negara maju, pasar modal demikian terintegrasi sehingga para

investor dapat melakukan investasi maupun diversifikasi internasional. Pasar

modal Singapura mempunyai derajat integrasi yang tinggi. Para peneliti

menggolongkan negara tersebut sebagai pasar obligasi kelas dunia. Singapura

memiliki bank investasi, korporasi multinasional dan bank pembangunan regional

yang secara konsisten menaikkan modal dalam mata uang lokal. Beberapa

hambatan (barriers) tetap berlaku untuk meningkatkan likuiditas dalam pasar

sekunder. Sebelum pasar regional diguncang krisis, harus dilakukan penyelarasan

agar tercapai pengintegrasian atau penyatuan yang sepadan. Pasar obligasi

regional perlu dikembangkan untuk meningkatkan pasar modal. Sektor perbankan

menjadi tiang yang paling utama didalam sistem keuangan ASEAN, sehingga

perubahan perbankan sangat perlu agar tujuan kebijakan perekonomian tercapai.

Pergerakan transaksi saham dapat saling berkaitan antar negara. Terlebih

dengan adanya pasar obligasi ASEAN (Indonesia dan Singapura) dan pasar

obligasi negara Asia (Hongkong) maka pergerakan saham di Indonesia yaitu

IHSG mempunyai keterkaitan dengan pergerakan di negara lainnya. Negara

Indonesia dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta,

Hong Kong dengan Hangseng dan Singapura dengan STI.

Ada kalanya kenaikan pada bursa regional diikuti penurunan IHSG dan

pelemahan pada bursa regional justru direspons dengan penguatan IHSG.

Sementara, pada bursa regional yang tidak bergerak tetapi IHSG pergerakannya

luar biasa. Pergerakan saham tersebut akan ditunjukkan pada (Tabel 2).

Pergerakan IHSG dapat diamati melalui faktor-faktor yang

mempengaruhinya, diantaranya adalah kondisi makroekonomi, politik, keamanan

dan globalisasi. Kondisi makroekonomi semakin kondusif, dimana semakin

banyak investor yang percaya untuk investasi di Indonesia, baik melalui investasi

langsung maupun investasi portofolio.

Tabel 2. Indeks Harga Saham (Tahun 1996-2006) Tahun IHSG Hangseng STI

1996 637.43 11832.99 1982.961997 401.71 13375.79 1796.251998 398.03 9498.45 1206.491999 676.91 13542.42 2046.882000 416.32 16076.70 2023.602001 392.03 11787.77 1585.952002 424.94 10006.24 1512.392003 691.89 10504.34 1527.762004 822.11 13079.39 1936.952005 1111.11 14505.72 2251.642006 1493.34 17395.10 2630.87

Sumber : Bursa Efek Jakarta (BEJ)

Dana yang mengalir ke BEJ dapat mengakibatkan meningkatnya IHSG.

Dan jika kondisi makroekonomi mengkhawatirkan, banyak investor yang

meninggalkan pasar modal dengan menarik modalnya dari BEJ yang

mengakibatkan penurunan pada IHSG. Selain faktor ekonomi dan keuangan, ada

faktor lain yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG faktor tersebut adalah

politik dan keamanan. Pada bulan Agustus 2000 terjadi ledakan bom di BEJ dan

mengakibatkan penurunan IHSG yang sangat tajam. IHSG meningkat secara

tajam pada saat Presiden SBY dilantik pada Oktober 2004. Hal ini menandakan

bahwa faktor politik dapat mempengaruhi pergerakan IHSG (Nachrowi, 2006).

Adanya globalisasi telah mengubah dunia menjadi tanpa batas. Karena

yang terjadi di suatu tempat akan cepat diketahui di tempat lain yang jaraknya

beribu-ribu mil. Aktivitas ekonomi tentunya tidak akan terlepas dari pengaruh

globalisasi. Perubahan kondisi di Timur Tengah dapat dengan cepat mengubah

harga minyak dunia dan meledaknya bom di suatu tempat akan mengancam

pariwisata di tempat tersebut dengan cepat. Situasi ini akan terjadi dalam pasar

modal.

Pasar modal merupakan salah satu cermin kondisi perekonomian suatu

negara. Akibat globalisasi, kondisi perekonomian dunia akan mempengaruhi

perekonomian negara.

Lebih dari itu bursa saham pengintegrasian dipengaruhi oleh beberapa

faktor seperti : 1) Pengintegrasian ekonomi yang berarti semakin

mengintegrasikan ekonomi suatu negara, dimana dapat mengintegrasikan

kekayaan pasar obligasi mereka, 2) Berbagai daftar bursa saham yang

menyiratkan bahwa suatu goncangan di dalam bursa saham tertentu akan

mengakibatkan menularnya pada bursa saham negara lainnya, 3) Adanya regulasi

dan penghalang informasi, 4) Institusionalisasi, dimana memindahkan dana luar

negeri maka pengintegrasian akan dipromosikan, 5) Adanya contagion effect,

dimana harga antar bursa saham dapat bergerak bersama-sama dalam kaitan

dengan efek penularan dan efek ini menentukan hubungan yang dinamis antara

bursa saham internasional.

Sehubungan dengan adanya pengintegrasian pasar modal, dalam penelitian

ini akan dilihat faktor ekonomi apa yang mempengaruhi integrasi IHSG dengan

Indeks Bursa Saham Regional dan seberapa besar faktor tersebut mempengaruhi

integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional. Indikator yang akan

digunakan sebagai cermin kondisi perekonomian makro negara adalah indeks

harga saham, tingkat suku bunga dan tingkat inflasi.

1.2 Perumusan Masalah

Pergerakan saham pada bursa regional akan memberikan pengaruh pada

setiap negara. Penguatan indeks pada bursa regional memberikan sentimen positif

dan negatif di pasar saham PT. Bursa Efek Jakarta (BEJ). Demikian pula

sebaliknya, pergerakan bursa saham Indonesia akan memberikan pengaruh

terhadap pergerakan bursa saham regional (Singapura dan Hongkong). Naik

turunnya IHSG dan bursa saham lainnya disebabkan oleh beberapa faktor

ekonomi dan non ekonomi. Melalui analisis ini akan diketahui faktor ekonomi apa

yang berpengaruh terhadap integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional

dan seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh faktor ekonomi tersebut.

Krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia sejak pertengahan tahun 1997

telah membuat pasar modal dan perekonomian di setiap negara mengalami

goncangan khususnya di Indonesia dan kawasan Asia lainnya. Adanya krisis

ekonomi akan menimbulkan contagion effect terhadap kawasan lain. Dengan

adanya efek penularan maka negara-negara berinteraksi dan akan menciptakan

suatu integrasi pasar di kawasan Asia. Integrasi pasar akan meningkatkan kinerja

pasar modal dan meningkatkan perekonomian di masing-masing negara.

Indonesia memiliki hubungan keterkaitan pergerakan harga saham dengan negara-

negara kawasan Asia (Hongkong dan Singapura). Oleh karena itu, hal-hal yang

akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Faktor ekonomi apa yang mempengaruhi integrasi IHSG dengan Indeks

Bursa Saham Regional ?

2. Seberapa besar faktor ekonomi tersebut berpengaruh terhadap integrasi

IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menganalisis faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi integrasi IHSG

dengan Indeks Bursa Saham Regional.

2. Menganalisis besaran faktor-faktor ekonomi tersebut dalam

mempengaruhi integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian tentang analisis keterkaitan IHSG dengan Indeks Bursa Saham

Regional berguna untuk mengetahui faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi

integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional. Setelah itu mengetahui

besaran faktor-faktor ekonomi tersebut dalam mempengaruhi integrasi IHSG

dengan Indeks Bursa Saham Regional.

Hasil penelitian ini dapat memberikan suatu ilmu yang berharga

khususnya tentang bursa saham yang sangat menarik untuk dipelajari. Terakhir,

penulis mengharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi

penelitian selanjutnya sebagai salah satu literatur untuk penelitian yang

bertemakan pasar modal.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini variabel makroekonomi yang digunakan adalah

Money Market Rate (MMR) yang merefleksikan tingkat suku bunga dan

Consumer Price Index (CPI) yang merefleksikan tingkat inflasi. Untuk melihat

keterkaitan bursa saham Indonesia (IHSG) dengan Indeks Bursa Saham Regional

penulis hanya menggunakan bursa saham Singapura (STI) dan bursa saham

Hongkong (Hangseng) sebagai variabel yang mewakili bursa saham regional.

Bursa saham Singapura dan Hongkong adalah bursa saham terdekat dan

berpengaruh terhadap bursa saham Indonesia. Data penelitian dibatasi mulai

Januari tahun 2000 sampai dengan Juni tahun 2006.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Investasi

Menurut Mankiw (2003), investasi adalah barang-barang yang dibeli oleh

individu dan perusahaan untuk menambah persediaan modal mereka. Menurut

Lipsey, Courant, Purvis dan Steiner (1997) investasi adalah pengeluaran barang

yang tidak dikonsumsi saat ini dimana berdasarkan periode waktunya, investasi

dapat terbagi menjadi tiga diantaranya: investasi jangka pendek, investasi jangka

menengah dan investasi jangka panjang.

Investasi merupakan komitmen sejumlah dana suatu periode untuk

mendapatkan pendapatan yang diharapkan di masa yang akan datang sebagai

kompensasi unit yang diinvestasikan, mencakup waktu yang digunakan, tingkat

inflasi yang diharapkan dan ketidakpastian masa mendatang (Sumanto, 2006).

Pada dasarnya setiap orang atau perusahaan yang melakukan investasi

akan mempunyai tujuan yang sama, yaitu memperoleh kesejahteraan bagi dirinya

atau perusahaan tersebut. Hal ini juga berlaku sama bagi perusahaan emiten yang

berinvestasi di pasar modal. Perusahaan yang berinvestasi di pasar modal

berharap dapat memperoleh keuntungan dalam bentuk capital gain yang pada

akhirnya dapat digunakan untuk meningkatkan investasi perusahaannya sehingga

pendapatan perusahaan akan meningkat.

2.2 Pasar Modal

2.2.1 Definisi Pasar Modal

Pasar modal adalah tempat bertemunya pihak yang membutuhkan dana

(borrower) dengan pihak yang kelebihan dana (lender). Dalam hal ini lenders

akan memberikan dananya pada borrower, sedangkan lenders akan memperoleh

surat bukti (sekuritas) yang memiliki klaim atas aset-aset perusahaan. Umumnya

produk-produk (sekuritas) yang ditawarkan di pasar modal adalah saham biasa,

saham preferen, dan berbagai jenis obligasi, serta produk-produk derivatif. Pasar

modal menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 tahun 1995 adalah

kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,

yaitu perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta

lembaga atau profesi yang berkaitan dengan efek. Adapun efek yang dimaksud

disini adalah surat berharga atau saham.

Sedangkan menurut Usman dalam Anoraga dan Pakarti (2006), pasar

modal adalah pelengkap sektor keuangan terhadap dua lembaga lainnya yaitu

bank dan lembaga pembiayaan. Pasar modal memberikan jasanya yaitu

menjembatani hubungan antara pemilik modal dalam hal ini disebut sebagai

pemodal (investor) dengan peminjam dana dalam hal ini disebut dengan emiten

(perusahaan yang go public).

Sebagaimana fungsinya yang menjembatani hubungan antara pemilik dana

dan pengguna dana, maka tujuan pasar modal adalah mengadakan alokasi

tabungan secara efisien dari pemilik dana (saver) kepada pemakai dana terakhir

(ultimate user). Dengan adanya pasar modal maka perusahaan yang membutuhkan

dana akan memperoleh dana yang mereka butuhkan untuk meningkatkan

investasinya sehingga kapasitas produksinya akan bertambah dan pada akhirnya

akan meningkatkan produksi barang dan jasa serta memperluas lapangan kerja

(Anwar, 2005).

Pasar modal dibedakan menjadi pasar perdana dan pasar sekunder. Pasar

perdana adalah pasar bagi sekuritas atau efek yang pertama kali diterbitkan atau

diumumkan dalam pasar modal. Sedangkan pasar sekunder adalah pasar bagi efek

yang sudah ada, dan sudah diperdagangkan dalam pasar modal. Pada pasar

sekunder harga efek ditentukan oleh mekanisme pasar.

Perkembangan pasar modal secara langsung dipengaruhi oleh banyaknya

jumlah perusahaan yang menjual saham atau obligasi melalui pasar modal, jumlah

emisi, perkembangan perusahaan-perusahaan yang telah memasyarakatkan saham,

serta kegiatan jual beli saham atau obligasi antar anggota masyarakat yang

dilakukan setiap hari di pasar sekunder. Pada pasar sekunder ini harga saham akan

terbentuk atas dasar kekuatan permintaan dan penawaran, sehingga

mencerminkan bagaimana penilaian investor atau calon investor terhadap

pendapatan dan risiko dari masing-masing saham yang diperdagangkan. Hal ini

secara tidak langsung mencerminkan penilaian investor terhadap perusahaan

emiten.

Menurut Haditomo (2005), perkembangan pasar modal juga dipengaruhi

oleh kondisi perekonomian secara umum, karena keadaan ekonomi secara

langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi perkembangan dunia usaha.

Situasi ekonomi yang lesu berakibat banyak perusahaan yang menderita rugi,

sehingga pendapatan bagi pemegang saham menurun atau bahkan perusahaan

tidak mampu membayar deviden. Kondisi yang demikian akan menurunkan minat

masyarakat untuk melakukan investasi dalam bentuk saham, karena pendapatan

saham berupa deviden sangat tergantung pada kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba. Keadaan yang sebaliknya akan terjadi apabila situasi ekonomi

akan membaik.

Suta (1996) mengatakan bahwa pasar modal di Indonesia mempunyai

jangkauan dan misi yang lebih luas. Jangkauan yang hendak dirangkum adalah

mencakup tiga aspek mendasar. Ketiga aspek tersebut adalah :

1. Mempercepat proses perluasan pengikutsertaan masyarakat dalam

pemilikan saham perusahaan,

2. Aspek pemerataan pemilikan saham perusahaan dan

3. Menggairahkan partisipasi masyarakat dalam penghimpunan dana untuk

digunakan secara produktif.

Kehadiran pasar modal di Indonesia harus dapat didayagunakan untuk

memberikan manfaat bagi pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Bagi

pemerintah dampak positifnya adalah adanya pemupukan modal dalam negeri.

Selain memperkecil pelarian modal keluar negeri, pasar modal bermanfaat dalam

hubungan dengan perbankan dengan mengendalikan ekspansi kredit yang selalu

meningkat. Dengan adanya pasar modal minimal ekspansi kredit dapat diperkecil

sehingga perusahaan yang memerlukan dana dapat mencarinya melalui penjualan

saham dan pengeluaran obligasi.

Sedang untuk masyarakat, daya tarik dan manfaat yang diperoleh adalah

upaya untuk menambah nilai uang. Oleh karenanya, pasar modal di Indonesia

merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan disamping sumber-

sumber lain seperti tabungan pemerintah, kredit perbankan, PMA, PMDN,

bantuan luar negeri dan investasi dalam perusahaan.

Dengan pemindahan modal dari pihak asing menjadi milik Indonesia,

melalui pemilikan saham diharapkan sebagian laba yang mengalir keluar negeri

dapat disedot dan dinikmati oleh Indonesia. Meskipun pasar modal di Indonesia

berbeda mekanismenya, tapi fungsinya tetap sama dengan pasar modal di luar

negeri. Ciri pasar modal di Indonesia seperti proses Indonesianisasi pemilikan

saham, tidak terdapat dalam pasar modal di luar negeri. Sebagai contoh pasar

modal di Jepang, Hongkong dan London (Inggris) tidak terdapat prinsip dan misi

demikian. Negara Jepang tidak merasa perlu adanya misi Jepangnisasi. Ini tidak

lain sebagai akibat dari ciri negara yang sudah maju, karena dalam negara maju

jarang terdapat perusahaan asing (PMA).

2.2.2 Instrumen Pasar Modal

Menurut Anoraga dan Pakarti (2006), pasar modal memperdagangkan

instrumen pasar modal, yaitu semua surat-surat berharga (securities) yang

diperdagangkan di bursa. Instrumen pasar modal tersebut antara lain saham,

obligasi dan lain-lain.

a. Saham

Menurut Anoraga dan Pakarti (2006), saham dapat didefinisikan sebagai

surat berharga bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam

suatu perusahaan. Dengan memiliki saham di suatu perusahaan maka manfaat

yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Deviden, adalah bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan

kepada pemilik saham.

2. Capital gain, adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan

harga belinya.

3. Manfaat non-finansial yaitu timbulnya kebanggaan dan kekuasaan

memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.

Dari berbagai saham yang dikenal di bursa, maka saham dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu saham biasa (common stock) dan saham

preferen (preferred stock). Saham biasa merupakan saham yang tidak memperoleh

hak istimewa. Pemegang saham biasa mempunyai hak untuk memperoleh deviden

sepanjang perseroan memperoleh keuntungan, sedangkan saham preferen

merupakan saham yang diberikan atas hak untuk mendapatkan deviden atau

bagian kekayaan pada saat perusahaan dilikuidasi terlebih dahulu dari saham

biasa, disamping itu mempunyai preferensi untuk mengajukan usul pencalonan

direksi atau komisaris (Anoraga dan Pakarti, 2006).

b. Obligasi

Obligasi merupakan bukti pengakuan utang dari perusahaan. Obligasi

mengandung suatu perjanjian atau kontrak yang melibatkan kedua belah pihak,

antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Penerbit obligasi menerima

pinjaman dari pemegang obligasi dengan ketentuan-ketentuan yang sudah diatur,

baik mengenai jatuh tempo pelunasan utang, bunga yang dibayarkan, besarnya

pelunasan dan ketentuan-ketentuan tambahan lainnya (Anoraga dan Pakarti,

2006).

2.3 Bursa Efek

Bursa efek adalah lembaga atau perusahaan yang menyelenggarakan atau

menyediakan fasilitas sistem (pasar) untuk mempertemukan penawaran jual dan

beli efek antar berbagai perusahaan atau perorangan yang terlibat dalam tujuan

perdagangan efek perusahaan-perusahaan yang telah tercatat di Bursa Efek.

Menurut Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 menjelaskan bahwa

bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan

atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek kepada pihak-

pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka (Darmadji dan

Fakhruddin, 2006).

Di Indonesia, saat ini terdapat dua Bursa Efek, yaitu Bursa Efek Jakarta

(BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Pemegang saham Bursa Efek adalah

perusahaan efek yang telah memperoleh izin usaha sebagai perantara pedagang

efek (Darmadji dan Fakhruddin, 2006).

Sebagai fasilitator, menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006), bursa efek

mempunyai tugas yang harus dilakukan kepada calon investor agar dapat

menjadikan bursa efek lebih dikenal oleh publik, yaitu :

1. Menyediakan sarana perdagangan efek,

2. Mengupayakan likuiditas instrumen yaitu mengalirnya dana secara

cepat pada efek-efek yang dijual,

3. Menyebarluaskan informasi bursa ke seluruh lapisan masyarakat,

4. Memasyarakatkan pasar modal untuk menarik investor dan perusahaan

yang go public dan

5. Menciptakan instrumen dan jasa baru.

Sedangkan sebagai Self Regulatory Organization (SRO), menurut Darmadji dan

Fakhruddin (2006), bursa efek memiliki tugas sebagai berikut:

1. Membuat peraturan yang berkaitan dengan kegiatan bursa,

2. Mencegah praktek transaksi yang dilarang melalui pelaksanaan fungsi

pengawasan dan

3. Ketentuan bursa efek mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi

pelaku pasar modal.

2.4 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Berbicara tentang kegiatan pasar modal saat ini tidak terlepas dari apa

yang disebut Indeks Harga Saham. Untuk mengetahui bagaimana kegiatan

ekonomi bergerak, naik dan turun, banyak orang akan melihatnya dari sisi indeks

yang dicapai pada saat itu.

Secara sederhana, indeks harga adalah suatu angka yang digunakan untuk

membandingkan suatu peristiwa dengan suatu peristiwa lainnya (Anoraga dan

Pakarti, 2006). Demikian juga dengan indeks harga saham, indeks di sini akan

membandingkan perubahan harga saham dari waktu ke waktu. Apakah suatu

harga saham mengalami penurunan atau kenaikan dibandingkan dengan suatu

waktu tertentu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan harga

saham secara umum yang tercatat di bursa efek. Indeks inilah yang paling banyak

digunakan dan dipakai sebagai acuan tentang perkembangan kegiatan di pasar

modal. IHSG bisa dipakai untuk menilai situasi pasar secara umum atau

mengukur apakah harga saham mengalami kenaikan atau penurunan. IHSG

melibatkan seluruh harga saham yang tercatat di bursa (Anoraga dan Pakarti,

2006).

Untuk perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan ini kita harus

menjumlahkan seluruh harga saham yang tercatat. Rumus untuk menghitung

Indeks Harga Saham Gabungan adalah sebagai berikut:

IHSG = 0H

H t

X 100% (1)

dimana:

Ht = Total harga semua saham pada waktu yang berlaku

H0 = Total harga semua saham pada waktu dasar

Dari angka indeks inilah kita bisa melihat apakah kondisi pasar sedang

ramai, lesu atau dalam keadaan stabil. Jika angka IHSG menunjukkan diatas 100

berarti kondisi pasar sedang ramai, sedangkan pada saat IHSG menunjukkan

dibawah 100 berarti pasar sedang lesu. Dan jika IHSG menunjukkan angka 100

maka pasar dikatakan stabil (Anoraga dan Pakarti, 2006).

2.5 Teori Tingkat Suku Bunga

Para ekonom menyebutkan tingkat suku bunga yang dibayar bank sebagai

tingkat suku bunga nominal (nominal interest rate) dan kenaikan dalam daya beli

masyarakat sebagai tingkat suku bunga riil (real interest rate) (Mankiw, 2003).

Jika i menyatakan tingkat suku bunga nominal, r tingkat suku bunga riil dan e

tingkat inflasi harapan, maka hubungan di antara ketiga variabel ini dapat ditulis

sebagai berikut :

r = i e (2)

Tingkat suku bunga riil adalah perbedaan di antara tingkat suku bunga nominal

dan tingkat inflasi harapan.

Tingkat suku bunga adalah tingkat bunga deposito bank-bank pemerintah

bulanan. Dimana hubungan negatif antara tingkat suku bunga dan harga saham

adalah semakin tinggi tingkat suku bunga maka semakin rendah investasi (biaya

modal yang semakin tinggi) yang pada akhirnya berdampak semakin turunnya

harga-harga saham.

2.6 Teori Inflasi

Definisi inflasi banyak ragamnya. Keanekaragaman definisi (pengertian)

tersebut terjadi karena luasnya pengaruh inflasi terhadap berbagai sektor

perekonomian. Hubungan yang erat dan luas antara inflasi dan berbagai sektor

perekonomian tersebut melahirkan berbagai perbedaan pengertian dan persepsi

kita tentang inflasi. Demikian pula dalam memformulasikan kebijakan-kebijakan

untuk solusinya. Inflasi adalah suatu keadaan yang mengindikasikan semakin

melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil

(intrinsik) mata uang suatu negara (Permana, 2004).

Menurut Friedman dalam Mankiw (2003) inflasi selalu dan dimanapun

merupakan suatu fenomena moneter dan terjadi apabila kenaikan jumlah uang

yang beredar lebih cepat daripada output. Menurut Lipsey et al., (1997) inflasi

adalah kenaikan rata-rata semua tingkat harga. Kadang-kadang, kenaikannya

terus-menerus dan berkepanjangan sehingga harus dibatasi. Naiknya harga-harga

secara umum ini mengakibatkan nilai riil dari suatu mata uang terhadap barang

dan jasa atau yang lebih dikenal dengan istilah daya beli menurun.

Inflasi adalah kecenderungan barang-barang naik secara umum dan dalam

jangka waktu yang tertentu. Hubungan positif antara inflasi dan harga saham

adalah semakin tinggi inflasi maka semakin tinggi barang dan jasa yang pada

akhirnya meningkatkan profit perusahaan dan harga sahamnya (Marciano, 2004).

Sementara tingkat harga merupakan rata-rata tertimbang harga barang dan

jasa di perekonomian yang diperoleh dengan bantuan indeks harga. Indeks harga

yang banyak digunakan adalah indeks harga konsumen (IHK) atau Consumer

Price Index (CPI), PDB deflator dan Whole Price Index (WPI). Namun hampir

semua negara dalam perhitungan inflasi menggunakan IHK.

Inflasi dapat dibedakan antara inflasi yang dipengaruhi oleh kebijakan

moneter, yaitu inflasi inti (core inflation) dan inflasi yang tidak dipengaruhi oleh

kebijakan moneter, yaitu inflasi sesaat (noise). Adapun indikator inflasi yaitu:

1. Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang umum

digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan IHK

dari waktu ke waktu menunjukkan harga dari paket barang dan jasa

yang dikonsumsi masyarakat.

2. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) merupakan indikator yang

menggambarkan pergerakan harga dari suatu komoditi yang

diperdagangkan di suatu daerah.

2.7 Indeks Harga Konsumen (IHK)

Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI), sering

digunakan untuk menentukan biaya hidup dan dahulu disebut cost-of-living index,

mengukur perubahan harga untuk suatu kombinasi belanja barang dan jasa. Jika

GDP mengubah jumlah berbagai barang dan jasa menjadi sebuah angka tunggal

yang mengukur nilai produksi, maka IHK mengubah harga berbagai barang dan

jasa menjadi sebuah indeks tunggal yang mengukur seluruh tingkat harga. IHK

juga dapat didefinisikan sebagai harga sekelompok barang dan jasa relatif

terhadap harga sekelompok barang dan jasa yang sama pada tahun dasar

(Mankiw, 2003).

2.8 Hubungan Inflasi, Suku Bunga dengan Harga Saham

Variabel yang berhubungan dengan harga saham adalah tingkat inflasi.

Besar kecilnya laju inflasi akan mempengaruhi suku bunga riil. Hal ini cukup

berpengaruh bagi instrumen-instrumen pasar modal. Bila inflasi mengalami

kenaikan maka pemerintah akan berusaha untuk menurunkannya dengan cara

mengendalikan jumlah uang beredar. Hal ini menyebabkan meningkatnya tingkat

suku bunga riil. Dengan meningkatnya tingkat suku bunga riil maka akan

menyebabkan investor cenderung untuk mengurangi kegiatan investasinya. Dana

investasi akan cenderung untuk diendapkan dalam bentuk deposito karena return

yang ditawarkan deposito lebih besar dibandingkan dengan return yang

ditawarkan pasar saham. Dengan berkurangnya transaksi di pasar saham tersebut

maka akan menyebabkan turunnya harga saham (Vimala, 2005).

Inflasi pemerintah mengendalikan JUB tingkat suku bunga

riil IHSGinvestasi

Hubungan antara suku bunga dengan harga saham dapat dilihat dari

hubungan antara suku bunga dengan investasi. Investasi sangatlah dipengaruhi

oleh tingkat suku bunga. Bila suku bunga mengalami kenaikan maka masyarakat

cenderung untuk tidak berinvestasi karena memilih untuk menanamkan modalnya

dalam tabungan atau deposito. Hal ini dikarenakan dengan tingkat suku bunga

yang tinggi maka return yang akan diterima akan lebih tinggi dibandingkan

dengan berinvestasi dalam pasar modal. Ini menyebabkan berkurangnya transaksi

di pasar modal terutama pasar saham sehingga akan menyebabkan penurunan

harga saham.

Bila hal sebaliknya yang terjadi, dengan menurunnya tingkat suku bunga

maka akan menyebabkan masyarakat tidak menanamkan modalnya dalam

tabungan atau deposito. Masyarakat akan menginvestasikan modalnya pada

instrumen investasi dengan imbalan hasil yang lebih tinggi dan salah satu pilihan

adalah dengan berinvestasi dalam pasar modal. Hal ini menyebabkan transaksi

pasar modal akan meningkat dan menyebabkan harga saham ikut mengalami

peningkatan.

2.9 Globalisasi Ekonomi

Globalisasi secara sederhana diartikan sebagai integrasi perekonomian

suatu negara ke dalam perekonomian dunia (global). Proses integrasi

perekonomian global itu sendiri, antara lain dicerminkan oleh adanya liberalisasi

perdagangan dan investasi (ekonomi) (Darwin, 2005).

Gejala globalisasi terjadi dalam kegiatan finansial, produksi, investasi dan

perdagangan yang kemudian mempengaruhi tata hubungan ekonomi antarbangsa.

Proses globalisasi itu telah meningkatkan kadar hubungan saling ketergantungan

antarnegara, bahkan menimbulkan proses menyatunya ekonomi dunia, sehingga

batas-batas antarnegara dalam berbagai praktik dunia usaha atau bisnis seakan-

akan dianggap tidak berlaku lagi (Halwani, 2005).

Lebih lanjut Halwani (2005) menjelaskan bahwa globalisasi ekonomi

ditandai dengan makin menipisnya batas-batas investasi atau pasar secara

nasional, regional ataupun internasional. Hal itu disebabkan oleh adanya hal-hal

berikut ini:

1. Komunikasi dan transportasi yang semakin canggih.

2. Lalu lintas devisa yang semakin bebas.

3. Ekonomi negara yang makin terbuka.

4. Penggunaan secara penuh keunggulan komparatif dan keunggulan

kompetitif tiap-tiap negara.

5. Metode produksi dan perakitan dengan organisasi manajemen yang makin

efisien.

6. Semakin pesatnya perkembangan perusahaan multinasional di hampir

seluruh dunia.

Dua kata kunci di dalam globalisasi adalah interaksi dan integrasi, yakni

interaksi ekonomi antar negara dan tingkat integrasinya. Interaksi ekonomi antar

negara mencakup arus perdagangan, produksi dan keuangan, sedangkan integrasi

berarti bahwa perekonomian lokal atau nasional setiap negara secara efektif

merupakan bagian yang tidak otonom dari satu perekonomian tunggal dunia. Jadi

pengertian integrasi lebih keras atau tegas dibandingkan interaksi. Berdasarkan

kedua kata kunci tersebut pengertian globalisasi ekonomi adalah bahwa suatu

kondisi dimana perekonomian nasional dan lokal terintegrasi kedalam satu

perekonomian tunggal yang bersifat global (Thoha, 2001).

2.10 Integrasi Ekonomi

Integrasi ekonomi adalah kebijakan komersial atau perdagangan yang

secara diskriminatif mengurangi atau menghapuskan hambatan-hambatan

perdagangan hanya di antara pihak tertentu saja, yakni di negara-negara yang

memutuskan untuk bersatu membentuk integrasi ekonomi tersebut.

Menurut Djamalius dalam Hanie (2006), integrasi ekonomi merupakan

penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan

menghapuskan semua pembatasan-pembatasan (barriers) yang dibuat terhadap

bekerjanya perdagangan bebas dan dengan jalan memasukkan semua bentuk-

bentuk kerja sama dan unifikasi. Integrasi dapat dipakai sebagai alat untuk

mengakses pasar yang lebih besar, menstimulasi pertumbuhan ekonomi sebagai

upaya untuk meningkatkan kesejahteraan nasional.

Menurut Zarwin dalam Hanie (2006), integrasi ekonomi internasional

didefinisikan sebagai proses dan alat yang dipakai oleh sebuah kelompok negara

untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Integrasi ini dapat terwujud apabila

kerja sama antar negara, baik itu negara lemah maupun kuat, dapat mencapai

tujuan yang dikehendaki dengan lebih efisien dibandingkan dengan kebijakan

lainnya. Integrasi membutuhkan pembagian buruh dan kebebasan pergerakan

barang dan jasa antar negara anggota, lebih lanjut integrasi memerlukan

kebebasan mobilitas faktor-faktor produksi antar negara anggota dan penerapan

proteksi terhadap faktor-faktor ini dengan negara di luar negara anggota.

Dalam penelitian ini integrasi IHSG dengan indeks bursa saham regional

mempunyai arti sebagai penyatuan bursa-bursa saham dengan menganalisis

keterkaitan atau hubungannya dilihat dari harga saham, suku bunga dan tingkat

inflasi. Adapun negara-negara yang akan diteliti adalah Indonesia, Hongkong dan

Singapura.

Suku bunga, tingkat inflasi dan harga saham Indonesia memiliki

keterkaitan dengan suku bunga, tingkat inflasi, harga saham Hongkong dan

Singapura. Indeks Bursa Saham (IHSG) berkorelasi positif dan negatif dengan

Indeks Bursa Regional (Hangseng dan STI). Adanya penyatuan atau integrasi ini

dapat mempengaruhi pertumbuhan pasar modal di masing-masing negara.

Saham di bursa-bursa Asia melemah terpengaruh anjloknya saham Wall

Street. Di Hong Kong, indeks Hangseng turun dan indeks STI mengalami

penurunan terendah dalam dua tahun terakhir mengikuti penurunan indeks Dow

Jones. Menurut para investor, penurunan tingkat suku bunga bisa mengangkat

ekonomi karena bisa menurunkan harga barang konsumen (Hariyanto, 2001).

Contoh lain, menjelang akhir tahun 2006 lalu, dapat dilihat bahwa Bursa

Efek Jakarta bersama dengan bursa Shanghai China dan Mumbai India merupakan

trio bursa di Asia dengan kinerja paling baik. Ketiganya bersama-sama

memecahkan rekor indeksnya masing-masing. Diketahui bahwa pertumbuhan

indeks sebesar 57.25 persen dicapai bursa Jakarta, 65.05 persen oleh bursa

Shanghai dan 48.64 persen oleh bursa Mumbai.

Memasuki masa peralihan semester pertama dan kedua sempat terjadi

penurunan indeks akibat ketidakpastian tingkat suku bunga global. Tetapi, setelah

itu indeks di BEJ terus melaju dan sempat mencapai level 1.800. Inflasi yang

terkendali dan tingkat suku bunga yang terus menurun membuat optimisme ke

lantai bursa. Dimana para investor tertarik untuk membeli saham di bursa.

2.11 Hubungan IHSG dengan Indeks Regional

Globalisasi adalah salah satu penyebab dari korelasi antara IHSG dengan

berbagai indeks yang ada di berbagai belahan dunia. Investor, baik perseorangan

maupun yang tergabung dalam sebuah fund yang dikelola oleh seorang fund

manager, bisa dengan bebas melakukan alokasi aset tanpa melihat batas-batas

negara. Secara khusus, fund manager ini membuat IHSG berhubungan dengan

bursa yang lain. Maraknya pembentukan fund regional yang menggunakan indeks

yang terdiri dari saham-saham yang ada dalam satu regional sebagai benchmark,

adalah penyebab dari semakin besarnya korelasi antara IHSG dengan berbagai

indeks regional.

Fund manager regional bisa dengan bebas memasukkan portofolio

regionalnya dari satu negara ke negara yang lain. Fund manager bisa saja keluar

dari suatu negara untuk menginvestasikan dana yang dimilikinya selama kedua

bursa tersebut masih berada dalam satu regional. Sebagai contoh, untuk 2006, arus

dana asing memang cenderung untuk keluar dari bursa Korea dan Taiwan, tapi

masih masuk untuk bursa Indonesia dan India.

Beberapa fund manager menggunakan indeks regional sebagai benchmark

dari prestasinya dalam melakukan investasi. Indeks regional ini adalah indeks

yang komponennya terdiri dari saham-saham yang listed di beberapa negara.

Fund manager yang menggunakan indeks regional sebagai benchmark bisa jadi

cenderung untuk keluar dari seluruh region apabila terjadi guncangan di satu

negara yang menjadi tujuan investasinya (Utomo, 2007).

Contoh indeks regional ini adalah MSCI Asia Ex Japan yang berisi saham-

saham yang diperdagangkan di bursa-bursa utama Asia di luar Jepang, atau FTSE

atau ASEAN 40 Index yang berisi saham-saham yang ada di bursa ASEAN.

Selain itu Nikkei 225 Bursa Saham Jepang, Hangseng Bursa Saham Hongkong,

Strait Times Bursa Saham Singapura, SET Bursa Saham Thailand dan lain-lain.

2.12 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian yang telah dilakukan oleh Atmadja (2005) tentang Are The

Five ASEAN Stock Price Indices Dynamically Interacted ?, bertujuan meneliti

interaksi dinamis antara indeks harga saham yang terdapat di lima negara

ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand yang terjadi

selama masa krisis finansial Asia tahun 1997 dan periode sesudahnya. Dengan

menggunakan data time series bulanan indeks harga saham dari kelima negara

tersebut selama periode penelitian, suatu Vector Error Correction Model (VECM)

diaplikasikan untuk meneliti secara empiris interaksi dinamis yang terjadi diantara

berbagai variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini.

Dari hasil penelitian ditemukan dua vektor kointegrasi selama masa

penelitian, dan analisa inovasi akuntansi menunjukkan adanya interaksi dinamis

jangka pendek diantara pasar saham tersebut. Implikasi penting yang mungkin

perlu diperhatikan dari penemuan ini adalah bahwa diversifikasi portofolio saham

pada lima pasar saham tersebut agaknya tidak akan signifikan mengurangi tingkat

resiko investasi. Hal ini dikarenakan oleh tingginya tingkat integrasi diantara

pasar saham tersebut.

Selain itu, Vimala (2005) menganalisis hubungan antara pasar modal

dengan variabel makroekonomi yang terdiri dari Indeks Harga Saham Gabungan

(IHSG), uang beredar, inflasi, suku bunga deposito, suku bunga SBI dan nilai

tukar. Dalam penelitian ini, digunakan model ekonometrika yang dianalisis

dengan menggunakan alat analisis Vector Autoregression (VAR).

Setelah dilakukan pengolahan diperoleh adanya hubungan antara pasar

modal yang diasumsikan dengan menggunakan IHSG dengan variabel

makroekonomi yang terdiri dari jumlah uang beredar, inflasi, suku bunga

deposito, nilai tukar dan suku bunga SBI. Hubungan yang signifikan terjadi antara

IHSG dengan jumlah uang beredar, inflasi dan nilai tukar.

Penelitian yang menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks

Harga Saham Gabungan (IHSG) periode setelah krisis antara tahun 2000-2004

dilakukan oleh Goerdie (2005). Penelitian ini menggunakan variabel IHSG dan

variabel-variabel ekonomi seperti jumlah uang beredar, nilai tukar, suku bunga

SBI dan GDP.

Penelitian ini diolah dengan menggunakan software E-views dengan alat

analisis Ordinary Least Square (OLS). Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa

jumlah uang beredar dan GDP mempunyai hubungan positif terhadap IHSG.

Sedangkan nilai tukar dan suku bunga SBI mempunyai hubungan yang negatif

terhadap IHSG.

Eprianti (2005), melakukan penelitian tentang Integrasi Pasar Modal

dengan Perbankan Dalam Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia.

Metode yang digunakan adalah metode Vector Autoregression (VAR) dan

dilanjutkan dengan metode Vector Error Correction Model (VECM) , dengan

menggunakan variabel nilai volume perdagangan saham, Gross Domestic Product

(GDP), suku bunga deposito, IHSG dan NPL. Penelitian ini menganalisis integrasi

pasar modal dan perbankan di Indonesia dilihat dari sudut pandang sebagai

lembaga pembiayaan sektor riil, kemudian akan mempengaruhi pertumbuhan

ekonomi. Hasil penelitian bahwa berdasarkan hasil uji kointegrasi, terdapat satu

persamaan kointegrasi. Mengindikasikan adanya hubungan jangka panjang dalam

model. Dari hasil estimasi VECM, indikator pasar modal signifikan terhadap

indikator perbankan. Pengujian estimasi VECM juga memperlihatkan signifikansi

dari indikator perbankan dalam mempengaruhi nilai indikator pasar modal. Hasil

uji kausalitas multivariat menunjukkan bahwa semua variabel dalam model

mempunyai hubungan dengan pertumbuhan ekonomi pada taraf satu persen.

Adanya hubungan kausalitas tersebut mengindikasikan bahwa terintegrasinya

pasar modal dengan perbankan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Penelitian ini dapat dibedakan dengan penelitian sebelumnya dalam

pembuktian tentang integrasi pasar modal dengan perbankan dalam

mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dapat dilihat dari variabel

yang digunakan.

Pengertian integrasi indeks harga saham gabungan dengan indeks bursa

saham regional dalam penelitian ini adalah penyatuan IHSG tersebut dengan

Indeks Bursa Saham Regional. Sedangkan bursa saham regional yang dimaksud

adalah bursa saham Hangseng (Hongkong) dan bursa saham Strait Times

(Singapura).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vector Autoregression

(VAR) dilanjutkan dengan estimasi Vector Error Corection Model (VECM).

Analisis data menggunakan software eviews versi 4.1.

2.13 Kerangka Pemikiran

Pada saat terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia pada

pertengahan tahun 1997, perekonomian Indonesia benar-benar mengalami

keterpurukan. Krisis moneter tersebut ditandai dengan adanya depresiasi mata

uang rupiah yang berlangsung secara terus-menerus. Depresiasi mata uang rupiah

tersebut mengakibatkan tingkat inflasi mengalami kenaikan dan semakin

memperburuk perekonomian Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah

melakukan pengetatan uang beredar dengan mengurangi jumlah uang beredar di

masyarakat. Untuk mengurangi jumlah uang yang beredar, salah satu langkah

yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan tingkat suku bunga

Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dengan meningkatnya tingkat suku bunga SBI

menyebabkan tingkat suku bunga deposito juga mengalami kenaikan. Selain

faktor ekonomi makro juga ada beberapa faktor lainnya yang mempengaruhi

saham yaitu faktor politik, faktor keamanan dan arus globalisasi.

Adanya krisis moneter dapat menimbulkan contagion effect (efek

penularan), pada saat kondisi perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan,

kondisi pasar modal juga mengalami penurunan yang ditandai dengan

melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan. Begitu juga dengan pergerakan

saham di negara lain (Hongkong dan Singapura) yang akan terpengaruh karena

adanya krisis moneter tersebut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis integrasi Indeks Harga

Saham Gabungan dengan Indeks Bursa Saham Regional. Dengan menggunakan

faktor-faktor ekonomi akan diketahui faktor ekonomi apa yang mempengaruhi

integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Regional dan seberapa besar faktor

ekonomi tersebut mempengaruhi integrasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham

Regional.

Dari penjelasan di atas, dapat dibuat skema secara sistematis kerangka

pemikiran pada (Gambar 2).

Gambar 2. Kerangka Pemikiran

Integrasi

Bursa Saham Regional (Hangseng dan STI)

Metode VAR/ VECM

Deskriptif

Pasar Modal

IHSG

Indeks Saham

1. Inflasi (CPI) 2. Suku Bunga

(MMR)

3. Faktor politik 4. Faktor keamanan 5. Globalisasi

2.14 Hipotesis

Penelitian mengenai Analisis Keterkaitan Indeks Harga Saham Gabungan

Bursa Efek Jakarta Dengan Indeks Bursa Saham Regional ini memiliki empat

hipotesis, yaitu :

1a. Tingkat inflasi (consumer price index) memiliki hubungan negatif

dengan harga saham.

1b. Tingkat suku bunga (money market rate) memiliki hubungan negatif

dengan harga saham.

1c. Pergerakan bursa saham IHSG dipengaruhi oleh pergerakan bursa

saham regional (Bursa saham Singapura dan bursa saham Hongkong).

2. Diduga bahwa besaran faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi

integrasi IHSG dengan bursa regional berbeda-beda.

III. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang

merupakan data time series dari bulan Januari 2000 sampai Juni 2006. Data yang

digunakan adalah data Indeks Harga Saham (IHSG, Hangseng dan STI), data

consumer price index (CPI Indonesia, CPI Hongkong dan CPI Singapura) yang

merefleksikan tingkat inflasi dan data money market rate ( MMR Indonesia,

MMR Hongkong dan MMR Singapura) yang merefleksikan tingkat suku bunga.

Data-data tersebut diperoleh dari Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar

Modal (BAPEPAM).

Tabel 3. Data, Satuan, Simbol dan Sumber Data No Jenis Data Satuan Simbol Sumber 1. Indeks harga saham - IHSG, Hangseng,STI BAPEPAM 2. Consumer price index - CPII, CPIH, CPIS BI 3. Money market rate persen MMRI, MMRH, MMRS BI

Sumber: BI dan BAPEPAM (2007)

3.2 Metode Analisis Data

Penelitian ini akan menggunakan alat analisis Vector Autoregression

(VAR). Jika data yang digunakan stasioner dan tidak terkointegrasi atau dengan

menggunakan alat analisis Vector Error Correction Model (VECM) jika data

yang digunakan tidak stasioner namun terkointegrasi.

Vector Autoregression (VAR) adalah salah satu bentuk model

ekonometrika yang menjadikan suatu peubah sebagai fungsi linear dari konstanta

dan lag dari peubah itu sendiri serta nilai lag dari peubah lain yang terdapat dalam

suatu sistem persamaan tertentu.

Keunggulan metode VAR dibandingkan dengan metode ekonometri

konvensional adalah :

1. Mengembangkan model secara bersamaan di dalam suatu sistem yang

kompleks (multivariat), sehingga dapat menangkap hubungan

keseluruhan variabel di dalam persamaan itu.

2. Uji VAR yang multivariat bisa menghindari parameter yang bias

akibat tidak dimasukkannya variabel yang relevan.

3. Uji VAR dapat mendeteksi hubungan antar variabel di dalam sistem

persamaan, dengan menjadikan seluruh variabel sebagai endogenous.

4. Karena bekerja berdasarkan data, metode VAR terbebas dari berbagai

batasan teori ekonomi yang sering muncul termasuk gejala perbedaan

palsu (spurious variable endogenty and exogenty) di dalam model

ekonometri konvensional terutama pada persamaan simultan, sehingga

menghindari penafsiran yang salah.

Namun model VAR juga memiliki banyak kritik sehingga terdapat banyak

beberapa kelemahan. Menurut Gujarati (1978), kelemahan VAR antara lain:

1. Model VAR lebih bersifat teori karena tidak memanfaatkan informasi

dari teori-teori terdahulu;

2. Karena lebih menitikberatkan pada peramalan (forecasting), maka

model VAR dianggap tidak sesuai untuk implikasi kebijakan;

3. Tantangan terberat dalam VAR adalah pemilihan panjang lag yang

tepat;

4. Semua variabel yang digunakan dalam model VAR harus stasioner;

5. Koefisien dalam estimasi VAR sulit untuk diinterpretasikan.

Secara keseluruhan, metode yang akan digunakan dalam penelitian ini

terbagi dalam empat tahap:

1. Pengujian nonstasioneritas data dengan menggunakan uji Augmented

Dickey Fuller (ADF).

2. Apabila hasil uji ADF mengandung akar unit, maka dilakukan

penarikan differensial sampai data stasioner. Jika variabel dalam

analisis tidak stasioner pada level, maka pendekatan VAR harus

dikombinasikan dengan VECM.

3. Menentukan lag optimal dengan menggunakan kriteria Akaike

Information Criteria (AIC). Kemudian digunakan pendekatan

Johansen untuk memperoleh rank kointegrasi dengan tujuan

mendapatkan persamaan kointegrasi jangka panjang. Setelah jumlah

rank ditentukan maka dapat dilakukan pendekatan VECM untuk

memperoleh persamaan jangka pendek dan jangka panjang.

4. Perilaku guncangan suatu variabel dan peran masing-masing

guncangan terhadap variabel tertentu dengan menggunakan Impulse

Response Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD).

3.2.1 Model Umum Vector Autoregression

Hubungan kausalitas antar variabel di dalam sistem persamaan multivariat

lebih rumit dibandingkan dengan bivariat. Persamaan VAR yang dapat dibentuk

adalah sebagai berikut:

ZtXtYt

=

)()()()()()()()()(

333231

232221

131211

LaLaLaLaLaLaLaLaLa

ZtXtYt

+

wtvtut

(3)

Hsiao dalam Natassyari (2006) secara terperinci telah membuat teorema

pola hubungan antara variabel dalam sistem variabel berdasarkan nilai dalam aij

sebagai berikut :

1. Bila variabel X tidak mempengaruhi Z, syaratnya adalah :

a32(L) = 0

2. Bila variabel X mempengaruhi Z, syaratnya adalah :

a32(L) 0

3. Hubungan timbal balik antara variabel X dan Z, bila :

a32(L) 0 dan a23 (L) 0

4. Hubungan tidak langsung dari variabel X dan Z melalui Y, syaratnya :

a32 (L) = 0 ; a31 (L) 0 ; a12 (L) 0

Hubungan palsu jenis I dari variabel X terhadap Z jika dan hanya jika

terdapat kondisi :

a21 (L) = 0 ; a32 (L) 0, untuk semua panjang lag

5. Hubungan palsu jenis II dari variabel X terhadap Z jika dan hanya jika

terdapat kondisi :

a32 (L) = 0 ; a12 (L) = 0, untuk semua panjang lag k dan

a31 (L) 0 ; a21 (L) 0, untuk semua panjang lag k

3.2.2 Uji Stasioneritas

Banyak studi empiris yang menunjukkan bahwa variabel time series tidak

stasioner. Sehingga salah satu hal penting yang berkaitan dengan studi atau

penelitian yang menggunakan data time series adalah uji stasioneritas. Data time

series dikatakan stasioner jika secara stokastik data menunjukkan pola yang

konstan dari waktu ke waktu, atau dengan kata lain, tidak terdapat pertumbuhan

atau penurunan pada data, secara kasarnya data harus horizontal sepanjang sumbu

waktu. Data time series yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham

dan dua variabel makroekonomi yaitu tingkat inflasi dan tingkat suku bunga.

Uji stasioneritas dapat dilakukan dalam beberapa metode. Metode yang

paling banyak digunakan adalah menggunakan Augmented Dickey Fuller (ADF)

Test. Berdasarkan ADF test, jika didapat nilai ADF statistik lebih kecil daripada

nilai kritis McKinnon maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut stasioner.

Namun jika uji ADF dilakukan dan data time series tersebut diketahui tidak

stasioner maka perlu dilakukan difference non stasionary processes atau uji

stasioneritas pada tingkat difference.

3.2.3 Penetapan Lag Optimum

Penetapan lag optimum merupakan bagian penting dalam VAR. Untuk

memperoleh lag optimum yang tepat dapat dilakukan dalam beberapa bentuk

pengujian. Pada tahap pertama dapat dilihat selang maksimal dari model VAR

yang stabil. Untuk memperoleh selang maksimal dapat dilakukan dengan

mengestimasi model VAR pada tingkat lag yang berbeda-beda sampai ditemukan

selang maksimum yang stabil.

Selanjutnya lag optimum dapat dicari dengan menggunakan kriteria

informasi yang tersedia. Kriteria informasi yang biasa digunakan dalam penentuan

lag optimum adalah Akaike Information Criteria (AIC) dan Schwarz Information

Criteria (SIC). Lag optimum dapat diperoleh dengan membandingkan nilai AIC

dan SIC. Nilai AIC dan SIC yang terkecil yang dipakai sebagai patokan nilai lag

optimum karena AIC dan SIC minimum menggambarkan residual (error) yang

paling kecil.

3.2.4 Uji Kointegrasi

Dalam VAR semua variabel yang digunakan harus stasioner. Apabila

variabel tidak stasioner, maka perlu dilakukan uji kointegrasi. Kointegrasi

menggambarkan kombinasi linier dari variabel-variabel yang tidak stasioner. Jika

variabel yang tidak stasioner terkointegrasi, maka kombinasi linier antar variabel

dalam sistem akan bersifat stasioner, sehingga dapat diperoleh persamaan yang

stabil (Enders, 2004).

Pengujian hubungan kointegrasi dilakukan dengan menggunakan lag

optimum sesuai dengan pengujian sebelumnya. Sementara penentuan asumsi

deterministik yang melandasi pembentukan persamaan kointegrasi didasarkan

pada nilai kriteria informasi AIC dan SIC. Berdasarkan asumsi deterministik

tersebut akan diperoleh informasi mengenai banyaknya hubungan kointegrasi

antar variabel sesuai metode Trace dan Max.

Dari uji Johansen akan didapat rank kointegrasi (r). Rank kointegrasi dari

vektor yt adalah banyaknya vektor kointegrasi yang saling bebas. Untuk itu akan

diuji hipotesis sebagai berikut:

rrankHrrankH

>

::

1

0

Jika rank kointegrasi yang didapat lebih besar dari nol, maka model yang

digunakan adalah Vector Error Correction Model (VECM). Jika rank kointegrasi

sama dengan nol maka model yang digunakan adalah VAR dengan

pendifferensian sampai lag ke-d.

3.2.5 Model Umum Vector Error Correction

Model VECM dapat dilakukan apabila rank kointegrasi yang didapat lebih

besar dari nol. Model VECM ordo p dan rank kointegrasi r ditulis sebagai:

tt

p

iitt yyAy +++=

=

1

1

110 (4)

dimana:

=

= vektor kointegrasi berukuran r x 1

= vektor kointegrasi berukuran r x 2

=i - +=

p

ijjA

1

3.2.6 Variance Decomposition (VD)

Metode Variance Decomposition (VD) dapat menjelaskan seberapa jauh

peranan suatu variabel ekonomi dalam menjelaskan guncangan variabel ekonomi

lainnya. Metode ini dapat pula digunakan untuk melihat kekuatan dan kelemahan

dari masing-masing variabel dalam mempengaruhi variabel lainnya dalam kurun

waktu yang panjang.

Dekomposisi varians merinci varians dari error peramalan menjadi

komponen-komponen yang dapat dihubungkan dengan setiap variabel endogen

dalam model. Dengan menghitung persentase squared prediction error dari

sebuah variabel akibat guncangan dalam variabel-variabel lain, dapat dilihat

seberapa besar error peramalan variabel tersebut disebabkan oleh variabel itu

sendiri dan variabel-variabel lainnya.

3.2.7 Impulse Response Function (IRF)

Pengaruh dinamis dari adanya suatu guncangan dapat dianalisis melalui

Impulse Response Function (IRF) secara ortogonal. Analisis ini menunjukkan

respon dinamis jangka panjang setiap variabel apabila ada suatu guncangan

(shock) tertentu sebesar satu standar deviasi pada setiap persamaan. Respon

dinamis yang dihasilkan tidak hanya dalam jangka pendek tetapi dapat juga

melihat respon beberapa bulan ke depan sebagai informasi jangka panjang.

3.3 Model Penelitian

Dalam penelitian ini, analisis hubungan antara bursa saham Indonesia

dengan bursa saham regional (Hongkong dan Singapura) dilihat dengan

menggunakan indeks harga saham, tingkat inflasi (consumer price index) dan

tingkat suku bunga (money market rate). Berdasarkan hal tersebut model

penelitian dapat ditulis sebagai berikut:

mmricpih

mmrhmmrshangseng

sticpiicpisihsg

ln_

ln_ln_

ln_ln_ln_

=

0

0

0

0

0

0

0

0

0

ihgfedcba

+

999897969594939291

898887868584838281

797877767574737271

696867666564636261

595857565554535251

494847464544434241

393837363534333231

292827262524232221

191817161514131211

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

it

it

it

it

it

it

it

it

it

mmricpih

mmrhmmrshangseng

sticpiicpisihsg

ln_

ln_ln_

ln_ln_ln_

+

t

t

t

t

t

t

t

t

t

eeeeeeeee

9

8

7

6

5

4

3

2

1

(5)

dimana:

ln_ihsg : indeks harga saham gabungan Indonesia

ln_cpis : consumer price index Singapura

ln_cpii : consumer price index Indonesia

ln_sti : indeks strait times Singapura

ln_hangseng : indeks hangseng Hongkong

mmrs : money market rate Singapura(%)

mmrh : money market rate Hongkong (%)

ln_cpih : consumer price index Hongkong

mmri : money maket rate Indonesia (%)

Dalam metode yang digunakan pada penelitian ini, semua data yang

diestimasi adalah dalam bentuk logaritma natural kecuali variabel-variabel yang

sudah dalam persen. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam menganalisis

Variance Decomposition maupun Impulse Respon Function. Dengan demikian

semua data dalam penelitian ini diubah dalam bentuk logaritma natural.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Estimasi VAR

4.1.1 Kestasioneran Data

Uji kestasioneran data merupakan tahap yang penting dalam menganalisis

data time series untuk melihat ada tidaknya unit root yang terkandung diantara

variabel sehingga hubungan antara variabel dalam persamaan menjadi valid dan

tidak spurious atau menghasilkan regresi palsu. Dalam banyak kasus ditemukan

jika data time series yang tidak stasioner dapat menghasilkan pola hubungan

regresi palsu (Gujarati, 1978). Menurut Irawan dalam Natassyari (2006), regresi

palsu (Spurious Regression) adalah regresi yang menggambarkan hubungan dua

variabel atau lebih yang nampaknya signifikan secara statistik, padahal

kenyataannya tidak atau tidak sebesar sebagaimana yang nampak dari regresi

yang dihasilkan tersebut, sehingga dapat mengakibatkan misleading dalam

penelitian terhadap suatu fenomena ekonomi yang sedang terjadi.

Salah satu cara untuk menghindari regresi palsu pada variabel adalah

dengan memastikan bahwa variabel tersebut stasioner, dengan melakukan uji unit

root pada tingkat first difference. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk

mengukur keberadaan stasioneritas, salah satunya adalah dengan menggunakan

Augmented Dickey Fuller (ADF). Berdasarkan uji tersebut, jika nilai ADF statistik

dari masing-masing variabel lebih kecil daripada nilai kritis MacKinnon maka

dapat disimpulkan bahwa data tersebut stasioner.

Tabel 4. Uji Stasioneritas Level First Difference Variabel

Nilai ADF Keterangan Nilai ADF Keterangan Ln_IHSG -2.991245 Tidak

stasioner -7.464644 Stasioner

Ln_CPIS -2.317714 Tidak stasioner

-11.50991 Stasioner

Ln_CPII -1.761000 Tidak stasioner

-5.479503 Stasioner

Ln_STI -1.901858 Tidak stasioner

-9.128501 Stasioner

Ln_HANGSENG -1.317138 Tidak stasioner

-7.627125 Stasioner

MMRS -0.186148 Tidak stasioner

-7.736863 Stasioner

MMRH -0.407040 Tidak stasioner

-4.069578 Stasioner

Ln_CPIH 0.111940 Tidak stasioner

-7.408636 Stasioner

MMRI -2.009372 Tidak stasioner

-14.68338 Stasioner

Sumber: Lampiran 1 dan Lampiran 2 Keterangan: Uji akar unit dilakukan dengan menggunakan E-views 4.1, nilai kritis MacKinnon pada level adalah 1%, 5%, 10% adalah -4.081666;-3.469235;-3.161518, nilai kritis Mackinnon pada first difference adalah 1%, 5%, 10% adalah -2.595745;-1.945139;-1.613983. Berdasarkan hasil pengujian, semua variabel mengandung unit root (tidak

stasioner pada level). Hal ini dapat dilihat dari nilai statistik ADF kesembilan

variabel tersebut lebih besar daripada nilai kritis MacKinnon. Sehingga untuk

mencegah adanya regresi palsu perlu dilakukan uji unit root pada tingkat first

difference.

Berdasarkan hasil pengujian pada tingkat first difference diperoleh hasil

bahwa semua variabel stasioner pada tingkat ini. Hal ini karena nilai statistik ADF

semua variabel lebih kecil daripada nilai kritis MacKinnon (lampiran 2). Sehingga

diketahui bahwa semua variabel stasioner pada hasil uji derajat integrasi satu I(1).

4.1.2 Penentuan Lag Optimum Menggunakan Akaike Information Criteria

(AIC)

Penentuan lag optimum sangat diperlukan karena variabel eksogen yang

digunakan tidak lain adalah lag dari variabel endogen dan juga variabel

eksogennya. Untuk menetapkan lag optimum digunakan nilai Akaike Information

Criteria (AIC). Hasil dari perhitungan Akaike Information Criteria (AIC) pada

Tabel 5. diperoleh lag optimum adalah lag 2. Hal ini terjadi karena pada

perhitungan nilai AIC yang didapat memperlihatkan nilai minimum AIC berada

pada saat lag 2 yaitu pada saat nilai AIC sebesar -26.02879. Maka dapat

disimpulkan bahwa lag optimum yang digunakan pada model VECM adalah lag

2.

Tabel 5. Perhitungan Akaike Information Criteria lag AIC

0 -25.981791 -26.025672 -26.02879*3 -25.348814 -25.50490

Sumber: Lampiran 3 * merupakan lag optimum

4.1.3 Kointegrasi

Keberadaan variabel yang tidak stasioner meningkatkan kemungkinan

adanya hubungan kointegrasi antar variabel. Untuk itu perlu dilakukan uji

kointegrasi untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kointegrasi tersebut dan

memperoleh hubungan jangka panjang antar variabel harga saham, tingkat suku

bunga dan tingkat inflasi.

Semua variabel stasioner pada derajat yang sama, yaitu derajat satu

(lampiran 2). Oleh karena itu uji kointegrasi dapat dilakukan melalui uji Johansen

C