Bab10 Perilaku Tercela

  • View
    444

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Bab10 Perilaku Tercela

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(PAI) SEMESTER GENAP KELAS X-4 TAHUN 2010/2011

Anggota kelompok iv

1. Dini tunas kholifah 2. Maulidio agusta purnomo 3. Putri indah eka sari 4. Risandy bayu setiawan 5. Yuningtyas nely kusuma dewi

MENGHINDARI PERILAKU TERCELA

STANDAR KOMPETENSIMenghindari Perilaku Tercela

KOMPETENSI DASAR Menjelaskan pengertian hasud, aniaya, riya, dan

diskriminasi Menyebutkan contoh perilaku hasud, riya, aniaya, dan diskriminasi Menghindari hasud, riya, aniaya, dan diskriminasi dalam perilaku sehari - hari

Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzan. akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berarti:

"Telah timbul pelbagai kerusakan dan bencana alam di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleb tangan manusia. (Timbulnya yang demikian) karena Allah hendak merusakan mereka sebagai dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat)".

Kata hasud berasal dari bahasa arab Hasadun yang berarti dengki atau hasud. Hasud artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah.

HASUD

Orang yang membangkitkan hati orang lain supaya marah melawan dan memberontak, disebut penghasud

Allah berfirman :

Artinya : apakah (patut) mereka iri hati (dengki) kepada manusia (Muhammad) atas karunia yang diberikan Allah kepada mereka?(an-nisa 54 )

Ayat diatas mengajarkan kepada kita:Boleh kita iri hati bila ada orang yg mengerjakan kebaikan kebaikan, supaya kta mengerjakan kebaikan tersebut. 2. Janganlah kita saling iri hati kepada orang yg diberi kenikmatan 3. Janganlah kita suka mendengki kepada orang yg diberi kenikmatan. 4. Janganlah kita memutuskan tali silaturahmi kepada saudara kita, keluarga kita, dan tetangga kita berdekatan maupun yg agak jauh dari rumah kita.1.

Ada 2 macam hasud, yaitu :1. Hasud yang terlarang

Adalah hasud terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain, sehingga menimbulkan kedengkian, dll. Yang dapat mengakibatkan timbulnya perbuatan tercela yang lainnya misalnya : Timbul kebencian, permusuhan, mencelakakan orang lain, merampok, menghancurkan hak milik orang lain dll. 2. Hasud yang diperbolehkan Adalah hasud kepada orang lain dalam hal : jika seseorang diberi harta benda kemudian dibelanjakan dijalan Allah Swt, dan jika seseorang diberi ilmu oleh Allah kemudian diamalkannya.

Penyebab pokok hasud adalah :a. Kalah bersaing dalam merebut simpati orang atau dalam usaha. b. Sifat kikir yang berlebihan c. Cinta dunia dan sejenisnya. d. Merasa sakit jika orang lain memiliki kelebihan e. Tidak beriman kepada qadha dan qadar.

Orang hasud telah menentang Allah s.w.t. dengan lima hal yaitu:

1. Karena ia membenci nikmat Allah s.w.t. terhadap orang lain 2. Dia tidak suka pembahagian Allah s.w.t. untuk dirinya seolah-olah ia berkata: Mengapa Engkau membagi begini? 3. ia bakhil terhadap kurniaan Allah s.w.t. 4. Dia membantu kepada iblis laknatullah

Adapun kerugian atau bahaya hasud atau iri hati adalah: dapat merusak iman seseorang yang hasad dapat merusak mental atau hati pendengki menyebabkan hati tidak tenang karena selalu akan

memikirkan bagaimana keadaan itu dapat hilang dari seseorang. Menghancurkan persatuan dan kesatuan, karena biasanya orang yang hasud akan mengadu domba dan suka menfitnah Menghancurkan kebaikan yang ada padanya.

Cara menghindari hasud antara lain sebagai berikut: Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT Menyadari bahwa pemberian dari Allah kepada manusia tidaklah

sama, sesuai dengan kehendaknya Menyadari bahwa hasud dapat menghapuskan kebaikan. Menumbuhkan kesadaran bahwa permusuhan dan kemarahan akan membawa petaka dan kesengsaraan baik lahir maupun bathin Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Jadilah orang yang mempunyai pendirian tidak mudah di provokasi. Mengamalkan ajaran agama. Berusaha untuk mensyukuri nikmat yg diberikan Allah swt Berpikir positif atas segala kejdian yg menimpa kita Menyadari bahwa masing-masing orang diberi kelebihan oleh Allah swt

RIYA'Riya artinya memperlihatkan (menampakkan) diri kepada orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya, baik melalui pembicaraan, tulisan ataupun sikap perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah swt. Termasuk ke dalam riya juga yaitu sumah, yakni agar orang lain mendengar apa yg kita akukan kita pun dipuji dan kita tenar. Hakikat riya sebenarnya ada dalam hati, dan tidak selamanya ditunjukkan dalam perbuatan, karena ada orang yang menunjukkan perbuatannya dengan niat memberi contoh. Oleh karena itu hanya Allah-lah yang dapat menilai apakah perbuatan tersebut mengandung riya atau tidak ?

Allah telah berfirman :

Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Tanda-tanda penyakit hati ini pernah

dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.

Suatu ibadah yg tercampuri oleh riya maka tidak lepas dari 3 keadaan, yaitu :

1. Riya dalam Niat Riya dalam niat, yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginan untuk mendapat pujian, sanjungan dan penghargaan dari orang lain, bukan karena Allah. Hanya sanjungan dan itulah yang akan dia peroleh. Nabi Muhammad SAW bersabda: ) ( Artinya: sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya. (HR Muslim)

2. Riya dalam PerbuatanRiya dalam perbuatan ini, Riya tersebut muncul di tengah pelaksanaan ibadah misalnya ketika mengerjakan shalat. Orang riya ini dalam mengerjakan shalat biasanya memperlihatkan kekhusyukannya jika dia berada di tengah-tengah orang atau jamaah. shalat dengan khusyuk itu mengharapkan perhatian, sanjungan dan pujian orang lain agar dia dianggap sebagai orang yang taat beribadah. Orang yang riya dalam shalatnya akan celaka diakhirat nanti. Allah berfirman :

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An Nisa : 142)

Riya dalam perbuatan atau riya ketika melaksanakan ibadah dibagi dalam 2 kondisi, yaitu : Jika bagian akhir ibadah tersebut tidak terikat atau tidak ada hubungannya dengan bagian awal ibadah maka ibadah yg bagian awal sah, sedangkan bagian yg terakhir batal. Jika bagian akhir ibadah tersebut terikat atau berhubungan dengan bagian awalnya maka hal ini juga terbagi dalam 2 keadaan : Kalau pelakunya melawan riya tersebut dan sama sekali tidak ingin terbuai serta berusaha bersungguh-sungguh untuk tetap ikhlas sampai ibadahnya selsesai maka bisikan riya ini tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap nilai ibadah tersebut. Pelakunya tidak berusaha melawan riya yg muncul bahkan larut dan terbuai di dalamnya. Yg demikian ini maka rusak dan gugur pahala ibadahnya.

3. Riya tersebut muncul setelah ibadah atau setelah melakukan pekerjaan itu selesai dilaksanakan. Yang demikian ini maka tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap ibadahnya tadi.

Diantara jenis riya ialah sebagai berikut: 1. Riya yg berkaitan dengan badan 2. Riya dari sisi pakaian 3. Riya dengan perkataan 4. Riya dengan perbuatan 5. Riya dengan kawan kawan dan tamu tamu

Riya dapat terjadi dalam 2 hal : 1. Riya dalam segi keagamaan yaitu perilaku seseorang yg mencerminkan nilai nilai agama mereka dalam hatinya tidak ada sedikitpun ingin mendapat ridho dari Allah swt., bahwa dalam hatinya tidak yakin akan adanya kebenaran dan nilai agama yg dilakukan, tetapi mereka hanya ingin mendapatkan pujian sanjungan dan pengakuan dari masyarakat. 2. Riya dalam segi keduniawian yaitu perilaku orang yg melakukan pekerjaan yg tidak dengan keridhaan Allah swt, tetapi hanya dilandasi dengan keinginan perubahan dunia semata.

Bahaya riya Bahaya Riya terhadap diri sendiri, bahaya riya itu akan

dirasakan oleh dirinya berupa ketidak puasan, rasa hampa, sakit hati dan penyesalan. Bahaya riya terhadap orang lain akan diolok-olok dan dicaci oleh orang yang telah dibantu atau memberinya dengan riya itu. Menyia -nyiakan amal shalih, dari pengaruh baiknya dan tujuan luhurnya Riya adalah syirik khafi. Riya mewariskan kehinaan dan kekerdilan. Riya menghalangi pahala akhirat. Riya menambah kesesatan

Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan. Allah SWT berfirman,

Artinya : Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al-Furqan: 23).

Cara menghindari riyaSudah diketahui bahwa bahaya riya sangatlah besar, dan kita sebagai umat muslim sudah selayaknya untuk menghindari perbuatan riya tersebut, diantaranya adalah dengan cara : Mempersiapkan niat hanya karena Allah saja, tidak menampakkan ibadah kecuali untuk memberi contoh dan diwaktu orang banyak melakukan